PERTOLONGAN
Summary: Pertolongan Allah akan selalu datang bagi mereka yang berserah diri kepada-Nya [islamic fic] [drabble]
Disclaimer: BoBoiBoy (c) Monsta Studio. Tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi ini. Based on True Story.
Warning: islamic-contect, OOC akut, Typo(s), sedikit supranatural, dll.
SELAMAT MEMBACA!
.
.
.
"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan..."
[QS An-Nasr (110): 1]
.
.
.
"Aduh, sudah jam segini..."
Yaya melangkah keluar dari kereta bawah tanah dengan langkah cepat. Dia tak menyangka pekerjaannya hari ini yang biasa dia selesaikan sebelum jam 8 malam, baru bisa dia selesaikan lewat tengah malam.
Yaya mengamati sekelilingnya dengan was-was. Berada di luar saat tengah malam, apalagi bagi seorang perempuan berhijab di negeri asing seperti Inggris, sangat berbahaya. Selain menjadi target kejahatan, dia juga beresiko terkena serangan karena dasar kebencian.
Yaya berusaha menenangkan diri sambil melangkah ke luar stasiun. Sejauh ini dia aman. Tinggal keluar dari stasiun lalu berjalan lurus saja maka dia akan sampai ke apartemennya.
Langkah Yaya terhenti tepat di luar stasiun. Seorang pria berpenampilan berantakan duduk di pinggir jalan yang hendak dia lalui. Yaya bukannya mau berprasangka buruk, tapi Yaya punya firasat dia bukan orang baik-baik dan bisa mencelakainya.
Masalahnya, jalan tercepat untuk mencapai apartemennya hanyalah jalan itu. Jika dia melewati jalan lain, dia harus memutar dan tentunya resikonya lebih tinggi.
Cukuplah Allah sebagai pelindungmu, Yaya.
Nasihat gurunya sebelum merantau ke negeri orang tiba-tiba terngiang di benaknya. Kalimat yang menguatkan hati Yaya. Dia akhirnya memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Tuhan pemilik alam ini.
Yaya lalu berjalan. Tidak cepat tapi tidak lambat. Bibirnya tidak henti membisikkan segala doa perlindungan yang dia tahu.
Ketika Yaya melewati pria itu, dia menatap Yaya, tapi tidak melakukan apapun.
Malam itu, Yaya akhirnya bisa tidur dengan tenang di apartemennya.
.
.
.
Yaya terbelalak saat melihat berita yang terpampang di koran pagi ini.
Semalam, terjadi kasus perampokan dan penganiayaan yang menimpa seorang wanita yang kini terbaring di rumah sakut karena luka tikaman. Pelakunya rupanya adalah pria yang Yaya lihat semalam. Dri waktu penyerangannya, sepertinya wanita itu lewat di jalan yang sama tak lama setelah Yaya melewati jalan itu.
Dalam hati Yaya merasa lega karena selamat dari peristiwa itu. Tapi ada satu hal yang mengusik pikirannya.
"Kenapa waktu itu pria itu tidak menyerangku?"
Didorong oleh rasa penasaran itu, Yaya akhirnya pergi ke kantor polisi lalu minta izin untuk bertemu dengan pria itu.
Kini dengan dihalangi jeruji besi, Yaya dan pria itu saling bertatap muka. Atau lebih tepatnya Yaya yang menatap pria itu, karena pria itu hanya memalingkan muka. Dia tampak tak peduli dengannya.
"Halo... aku wanita berjilbab yang lewat di depanmu semalam..." sapa Yaya pelan.
Pria itu diam. Dia masih tak menunjukkan ekspresi apapun padanya.
Yaya lalu menarik napas dan bertanya, "Kenapa... kenapa malam itu kau tidak menyerangku?"
Pria itu tiba-tiba mengangkat wajahnya, tampak heran dengan pertanyaan Yaya.
"Kenapa kau bertanya begitu? Bukannya jelas-jelas semalam di kanan-kirimu ada dua pengawal yang bertubuh besar?"
.
.
"INI SEMUA SALAHMU GOPAAAAALLL!"
"HEI, INI BUKAN SALAHKU, TAPI SALAH KAKIKU YANG GAMPANG CAPEK!"
"BERHENTI MEMBUAT ALASAAAANN!"
"KALIAN BERDUA, BERHENTI BERTENGKAR!"
Fang berteriak, menyuruh BoBoiBoy dan Gopal berhenti bertengkar.
Bukan tanpa alasan mereka berteriak-teriak. Saat ini mereka terjebak di dalam badai saat mendaki gunung. Angin berhembus kencang dam air hujan turun dengan deras. Membuat pepohonan menari-nari tak terkendali. Jalan setapak menjadi licin, sehingga sulit dilewati. Itu belum menghitung kabut yang mulai turun.
Padahal rencana mendaki gunung ini seharusnya menyenangkan. Sayang fisik mereka (terutama Gopal) belum terlatih dengan medan gunung sehingga waktu pendakian lebih lama dari yang direncanakan. Jadilah mereka terjebak dalam badai yang sudah diramalkan.
"Uh, Abang Kaizo, Yaya, dan Ying pasti sudah sampai di bawah..." gumam BoBoiBoy.
"Huhuhu... habislah! Kita akan mati kedinginan dan kelaparan!" isak Gopal.
"Sudah! Sekarang ayo bantu aku pasang tenda ini!" seru Fang sambil mengeluarkan tenda dari tasnya.
"Apa?! Fang, di samping kita ada jurang–!"
"Tidak ada cara lain! Badai, kabut, kalau melanjutkan perjalanan kita bisa celaka! Kita bertahan di sini sampai badainya reda! Atau kau mau mati kedinginan?!"
Akhirnya Gopal dan BoBoiBoy membantu Fang mendirikan tenda tersebut.
"Fang, pakunya–"
"Tidak ada waktu! Ayo!"
Mereka bergegas memasuki tenda. Basah kuyup dan kedinginan, Fang lalu mengeluarkan alat penghangat.
"Fang..." kata Gopal. "Kita ini di pinggir jurang kan? Dan tenda ini tidak dipaku. Bagaimana... jika nanti tenda ini tertiup angin dan kita masuk ke jurang–"
"Jangan berkata begitu!" potong Fang. "Di alam liar, kita harus terus berpikir untuk bertahan hidup!" lanjutnya dengan suara agak bergetar.
Gopal akhirnya diam. Tapi dia tampak bergumam memanggil ibunya sambil terisak kecil.
BoBoiBoy menunduk. Dalam hati merasa cemas apa dia bisa bertahan dari semua ini. Yang hanya bisa lakukan hanya berdoa, berharap semua akan baik-baik saja.
"Ya Allah, tapi jika memang takdirku berakhir di sini, aku ikhlas..."
.
.
.
Tok... Tok... Tok...
.
.
.
BoBoiBoy yang pertama bangun dilihatnya Fang dan Gopal masih terlelap. Kelihatannya badai sudah berhenti, jadi dia memutuskan keluar. Matahari bersinar terang. Begitu melihat ke tanah, matanya terbelalak.
"GOPAL! FANG! BANGUN!"
"Uh, kenapa kau berteriak, BoBoiBoy?" ujar Gopal sambil mengucek matanya.
"I-itu..."
BoBoiBoy menunjuk pinggir tenda. Terlihat semua paku tenda yang mulanya bertebaran, kini terikat dengan tali tenda dan menancap kuat di tanah.
"Hah?! Bagaimana... harusnya paku itu belum terpasang sama sekali!" seru Fang terkejut.
"Oh iya! Waktu badai tadi, rasanya aku samar-samar mendengar seseorang memaku tenda. Kukira cuma mimpi!" seru BoBoiBoy takjub.
"Hei, orang gila mana yang bisa memaku saat badai?! Atau jangan-jangan... yang melakukannya hantu?! Hiiii!" seru Gopal ngeri.
BoBoiBoy terdiam. Dalam hati teringat pesan Atoknya untuk tetap sopan dan menjaga sikap saat di gunung, dan tidak mengambil dan merusak apapun. Karena ada tata krama yang harus dipatuhi. Jika kita bersikap baik, alam akan menolong kita. Kalau kita bersikap buruk, alam yang akan mencelakakan kita.
BoBoiBoy tersenyum lalu menepuk bahu Gopal.
"Sudahlah, Gopal..." ujarnya. "Orang atau bukan, dia jelas sudah menolong kita..."
.
.
.
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, dia Maha Penerima Tobat."
[QS An-Nasr (110): 3]
TAMAT
Trivia:
-Kisah pertama diambil dari kisah nyata seorang muslimah yang tinggal di Inggris.
-Sementara kisah yang kedua diambil dari cerita kakak saya sewaktu mendaki Gunung Semeru.
Halo! Ada yang merindukan saya? Readers: gak /me: pundung
Saya kembali membawa satu lagi cerita islami! Semoga kalian menikmatinya! XD
Merinding? Saya juga. Walau begitu, kisah-kisah tersebut selalu membuat saya takjub dengan segala keajaiban-Nya OwO
Terima kasih sudah membaca fanfic ini!
REVIEW! REVIEW! REVIEW!
