[ONESHOT]
Judul : Peri Hujan
Genre : fantasy, horror, misteri, psychologic, BL
Rate : M
Words : 7800k
.
.
.
.
.
Peri Hujan.
"Memangnya yang seperti itu benar-benar ada?"
Suara kekanakan yang terdengar begitu riang muncul dalam kenangan masa lalu Jeongguk. Di atas sebuah alas merah muda yang tidak asing. Sepasang Ibu dan anak itu saling bercerita.
"Tentu saja." Ibunya menjawab lalu tersenyum. Rambutnya yang panjang dan hitam tersapu angin dengan lembut.
Mata besar di depannya menyipit setengah percaya. "Seperti apa dia, Ibu pernah melihatnya?"
"Pernah," katanya sambil mengusap puncak kepala sang anak. "Sesekali, saat hujan, dia memakai pakaian putih, bahkan rambut dan kulitnya juga putih bersinar. Dan wajahnya, sangat indah."
Mata yang semula setengah percaya itu seketika berbinar antusias. "Apa, apa ibu bicara dengannya? Apa aku juga bisa melihatnya? Kenapa dia hanya datang padamu?"
Sang ibu terkekeh dengan tingkah anaknya yang lucu. "Jeonggukie begitu penasaran, ya?"
"Habisnya aku juga ingin melihatnya," ujarnya murung. Dia kemudian mengeluarkan sebuah buku berjilid tebal dan penuh warna dari dalam ranselnya. Membuka-buka halamannya sampai menemukan sebuah halaman yang ingin dia perlihatkan.
"Ini." Jeongguk menunjuk sebuah gambar malaikat bersayap putih yang melayang di atas awan, di bawah kakinya terdapat empat baris kalimat dengan huruf besar-besar. "Ibu bilang dia memakai pakaian putih dan bersinar, dia pasti seorang malaikat."
Ibu mengusap kepala Jeongguk sekali lagi. Senyumannya tidak memudar. "Oh, dari buku dongeng kesukaanmu, ya. Memang mirip, tapi Peri Hujan tidak memiliki sayap."
Jeongguk kecil memanyunkan bibirnya dengan kecewa.
"Suatu hari, jika kau sudah merasa sangat menderita dan putus asa dalam hidupmu, dia pasti akan datang menawarkanmu sebuah harapan."
Jeongguk kecil yang tidak sepenuhnya mengerti dengan ucapan sang ibu mengangguk ceria. Lalu kembali melahap biskuit dalam kotak bekal yang mereka bawa.
Saat itu adalah piknik pertamanya tanpa kehadiran sang ayah, juga piknik terakhirnya bersama sang ibu.
Lain bagi dirinya di masa lalu, di masa kini dalam sisa ingatannya yang kabur, Jeongguk menyadari nada kegetiran dari ucapan ibunya. Wajah muda yang letih itu telah menyembunyikan banyak hal darinya bahkan di hadapan Jeongguk dia diam-diam berpaling, kemudian berbisik sangat pelan.
"Tapi ibu harap kau tidak akan pernah bertemu dengannya. Cukup ibu saja."
Tepat saat rasa sakit itu mengaliri dadanya Jeongguk membuka mata. Air matanya berjatuhan di atas lantai kamar yang dingin. Buku dongeng didekapnya erat-erat. Belum genap lima hari sejak kematian sang ibu, Jeongguk sudah sangat tersiksa merindukannya.
Bagaimana bisa ... Bagaimana bisa ... Kata-kata itu terus terucap setiap kali Jeongguk teringat dengan senyum kaku sang ibu, yang dengan sepenuh hati melompat dari lantai dua puluh rumah sakit secara diam-diam selama masa perawatan alzheimer-nya. Meninggalkannya seorang diri.
Setelah kehilangan sang ayah sepuluh tahun silam. Jeongguk memang sudah merasa sikap ibunya berubah drastis.
Apalagi setelah surat wasiat sang ayah dibacakan oleh pengacara. Dengan disaksikan seluruh anggota keluarga Jeon, dia melihat jemari ibu gemetar di lututnya. Kursi kepemimpinan Sena Group telah berpindah ke pangkuannya, namun ibu sama sekali tidak bahagia.
Jeongguk merasa semua itu memang terlalu jahat. Bagaimana mungkin seorang wanita rapuh yang telah kehilangan sosok suami diberi tanggungjawab sebesar itu? Pikiran bahwa ayahnya sengaja ingin menyiksa ibu telah bertahan selama masa remajanya.
Seiring beranjak dewasa Jeongguk mulai paham. Tentang arti dibalik menyandang nama Jeon sebagai marganya. Nama keluarga paling terpandang di seluruh Korea Selatan, pada kenyataannya berisi manusia-manusia liar yang tidak segan akan saling membunuh demi menempati puncak rantai kedudukan keluarga.
Kematian ibu telah membuka mata Jeongguk lebar-lebar. Memberikan gambaran kilas balik penderitaan sang ibu, dan seharusnya Jeongguk tau sejak awal. Bahwa sejak ibu berhenti mengajaknya piknik di musim semi dia telah kehilangan ibu selamanya. Jiwa ibu sudah tiada, dan kini raganya pun ikut lenyap.
Ketukan dari balik pintu kamar Jeongguk abaikan. Dia semakin meringkuk di atas lantai dan menangis hingga kacamatanya berembun.
Jeongguk baru melepas kacamatanya setelah mendengar suara ketukan pintu berubah menjadi ketukan langkah kaki.
Dari matanya yang buram dia bisa melihat bayangan seorang perempuan dewasa dengan pakain serba hitam dan anting-anting permata yang berkelip.
"Jeongguk," panggilnya lembut. Dia berjongkok untuk menyentuh sisi wajah Jeongguk dengan tangannya yang halus dan wangi. Menatap Jeongguk penuh iba.
Sementara Jeongguk berusaha sekuat tenaga mengendalikan rasa takutnya yang menggebu.
"Bibi dengar kau belum makan seharian. Mandilah, setelah itu makan. Bibi sudah menyuruh pelayan membuatkan makanan kesukaanmu."
Memuakkan dan penuh kepalsuan. Jeongguk tidak sanggup mendengar seluruh omong kosongnya lagi. Jeongguk bahkan nyaris tidak percaya jika orang di hadapannya adalah sosok baik hati yang selama ini ia kenal. Belasan tahun, segala hal yang ditunjukan padanya hanya sebuah ilusi. Menyesakkan, Jeongguk ingin berlari darinya dan bersembunyi.
Shin Hyuna memiringkan kepala saat melihat Jeongguk gemetar ketakutan di bawah jemarinya.
"Jeongguk kau ..." Shin Hyuna tertegun. Tangannya yang semula mengusap wajah Jeongguk terangkat. Sudut mulutnya tertarik geli. Kemudian dia tertawa tebahak-bahak. Menutupi wajahnya dengan tangan yang sempat digunakan untuk mengusap wajah Jeongguk.
Jeongguk memundurkan wajahnya saat wanita itu menghentikan tawa. Shin Hyuna menatapnya tajam dengan ekspresi mencela.
"Kau sudah tau?" Tidak merasa perlu menunggu jawaban Jeongguk dia melanjutkan, "sayang sekali. Padahal aku berharap bisa berpura-pura menyayangimu sedikit lebih lama lagi. Maap sudah membunuh ayahmu, ya, kami tidak punya pilihan. Aku ingin suamiku secepatnya memimpin Sena."
Tangan Jeongguk mengepal erat-erat, alisnya menukik tajam, amarahnya memuncak. Shin Hyuna menyadarinya.
"Kau mau memukulku?" katanya menantang. "Tidak masalah, pukulanmu pasti hanya terasa seperti gigitan semut."
Wanita itu menampilkan senyum yang tidak menyenangkan. Sengaja memprovokasi Jeongguk. Meski pemuda itu belum mengatakan sepatah kata pun untuk membalasnya, hanya dengan melihat bagaimana ekspresi Jeongguk susah payah menahan beribu kekesalan, Shin Hyuna sudah memasang tampang terhibur.
"Nyonya." Cho Sanghyun, asisten kepercayaan Shin Hyuna datang menginterupsi. "Dua puluh menit lagi rapat akan segera dimulai, kita harus bergegas."
Hyuna melirik Jeongguk sekali lagi. "Nah, kita bicara lagi nanti. Tidak perlu takut, kau hanya perlu menjadi anak baik untuk saat ini."
Setelah itu sosoknya pergi dan kian mengabur. Jeongguk membersihkan kacamatanya, memakai kembali dan bangkit dari sana.
Halaman buku dongeng bergambar malaikat terbuka lebar. Jeongguk mengusapnya hati-hati.
Perempuan itu, dan Jeon Junghyun, sang paman. Sepuluh tahun mereka bersembunyi dibalik topeng kekeluargaan. Mereka bahkan berani mengungkit dosa-dosa di hadapan makam ibunya tanpa rasa malu, kalau saja Jeongguk tidak kebetulan datang dan menguping pembicaraan mereka, mungkin sampai mati pun dia hanya tetap menjadi pria naif yang bodoh dan manja.
Sungguh, kemana saja dia selama ini? dibutakan oleh kepalsuan sejak dilahirkan. Jeongguk merasa sangat berdosa karena terlambat menyadari penderitaan ibunya. Saat ibu gemetar setelah surat wasiat menyatakan kursi kepemimpinan Sena Group berpindah ke tangannya mungkin ibu sudah tahu dia akan secepatnya menyusul ayah.
Bersama seluruh rasa frsutrasinya Jeongguk berteriak hingga gema memenuhi seisi kamarnya yang luas dan sepi. Ia tau bahkan para pelayan pun tidak akan peduli, meski dia berteriak sampai pita suaranya hancur, tidak akan ada yang berani menghentikannya.
Jeongguk terisak sepenuh hati, nyaris muntah andai saja suara sambaran petir di atas langit tidak segera menghentikannya. Siang itu hujan deras mengguyur seperti ikut mengamuk bersamanya.
Juni sudah mencapai batas akhir.
Jeongguk berjalan terseok mendekati jendela kamarnya.
Angin dan hujan bersahutan satu sama lain. Jendela yang sedikit demi sedikit berembun menampilkan samar-samar sosoknya yang berantakan, kacamata tebal menggantung miring di hidungnya dengan cara yang jelek. Kerah Hoodie hitamnya ikut miring ke satu sisi. Wajah lemah dan kusam yang kekurangan tidur dan makan seolah mengejeknya. Tidak ada satupun jejak wibawa dan ketegasan dari ayahnya di sana. Jeongguk mendadak benci dirinya sendiri.
Embun di jendela ia gosok dengan kesal. Membentuk pola bulat-bulat tidak teratur. Dari luar kilat petir menyilaukan matanya.
Baru setelah kilat itu berhenti, gemuruh menyusul. Cahaya putih berputar-putar dengan gembira di halaman samping rumahnya yang luas. Seperti cahaya petir yang tertinggal, seperti, kunang-kunang yang terjebak di malam berhujan...
Jeongguk menggosok matanya, kemudian mengamati sekali lagi. Lalu terperanjat. Ia melangkah mundur selangkah dari jendela, tidak percaya. Darahnya terasa membeku beberapa saat selagi otaknya berusaha memproses segala sesuatu yang ditangkap penglihatannya.
Itu bukan cahaya. Tapi seorang pemuda, yang menari-nari di bawah guyuran hujan sambil bertelanjang kaki. Pemuda itu menengadah ke atas langit, menikmati derasnya air yang menghantam wajah. Kedua tangannya terbuka lebar menyambut hujan.
Dia kemudian membuka mata. Berkilau hitam memandang langsung ke arah Jeongguk berada, seakan dapat mendengar gemuruh jantungnya, menyambutnya. Dia tersenyum.
Senyuman itu seperti riak air, menenangkan. Seolah segala sesuatu yang ada dalam dirinya adalah bagian dari alam.
Nyaman sekali. Indah.
"Suatu hari, jika kau sudah merasa sangat menderita dan putus asa dalam hidupmu, dia pasti akan datang, menawarkanmu sebuah harapan."
Peri Hujan....
Sepasang pupil Jeongguk melebar. Jantungnya berpacu antusias.
Tanpa berpikir panjang dia berlari keluar kamar. Menuruni deretan anak tangga secara terburu, menembus kesibukan para pelayan yang berlalu-lalang dan terheran-heran melihatnya.
Jeongguk keluar melalui pintu belakang. Menerobos derasnya hujan hari itu, Bibi Lee sudah berteriak-teriak mencoba menghentikannya, tapi Jeongguk menulikan telinga. Dia ingin bertemu dengannya. Peri Hujan yang akan mengabulkan harapannya.
Napas Jeongguk terengah saat dia sudah memutari seperempat rumahnya. Berdiri terpana di bawah jendela kamarnya. Memandang hamparan rumput luas, halaman yang dipagari pohon pinus. Di sana pemuda itu berdiri, masih dengan senyuman yang sama. Rambutnya yang panjang dan putih berkilau basah kuyup, begitu pula pakaiannya.
"Tuan muda!" panggilan Bibi Lee dari jauh menyadarkan Jeongguk.
Jeongguk berkedip, menoleh pada Bibi Lee yang berada di sudut lain rumah lalu kembali pada sosok pemuda yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri kaku. Jeongguk hendak mengambil ancang-ancang, bersiap menyerbu ke hadapan pemuda itu, namun apa yang dilihatnya saat ini hanya berupa sosok kabur, sedikit demi sedikit mulai menghilang tersamar oleh pemandangan pohon pinus.
"Tidak. Tidak!"
"Tuan Muda!" Kali ini bukan hanya suara Bibi Lee, tapi beberapa pelayan mulai berlarian ke arahnya.
Seiring langkah kaki dan teriakan para pelayan mendekat, sosok yang masih memberinya senyum itu menjadi semakin bias. Jeongguk berlari kalap, ingin meraih bayangannya.
"Tidak, jangan pergi! Jangan pergiii!" teriaknya putus asa.
Guyuran hujan, gemuruh petir, terjangan angin, dia abaikan sepenuh hati. Jeongguk tak henti memanggil-manggil sosoknya. Berlari kesana-kemari secara serampangan. Menguras habis seluruh tenaga yang tersisa.
Angin menghantam ranting-ranting pohon. Menggoyangkannya, mematahkannya.
Dari tubuh lelah yang nyaris mati rasa, dan dari pikirannya yang kalang kabut berharap menemukan tempat berlindung. Jeongguk pada akhirnya menyerah setelah sesuatu yang berat menghantam kepalanya.
Para pelayan berlari mendekat sambil meneriakan namanya. Tapi Jeongguk sudah lebih dulu terjatuh di atas rumput basah yang kotor.
"Kim Taehyung. Namaku Kim Taehyung."
Bisikan yang sangat indah itu menenggelamkan Jeongguk ke dalam tidur panjang.
Samgyetang*, udara penghangat ruangan, derap langkah berisik. Berhasil mengusik Jeongguk dari tidurnya. Dia membuka mata pelan, menemukan langit-langit kamarnya yang tinggi.
Ketika hendak mengusap wajah, gerakannya terhenti begitu menyadari jarum infus terpasang rapi di tangannya. Jeongguk menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang kering, kemudian menoleh pada semangkuk beraroma Samgyetang di samping tempat tidur.
Bibi Lee, pelayan setianya, berderap menghampiri. "Tuan Muda sudah bangun? Bagaimana perasaan anda?"
"Lumayan," jawab Jeongguk malas. Suaranya parau.
Pelayan setengah baya itu memberinya senyum lega. "Apa anda bisa bangun? Seharian kemarin anda tidak tidur dan makan. Ditambah lagi anda berlarian ditengah hujan sampai tidak menyadari ranting besar jatuh di atas kepala anda. Kali ini tolong makanlah."
Jeongguk menatap wanita itu, menilainya. Semenjak mengetahui kebusukan paman dan bibi dia menjadi lebih berhati-hati pada semua orang, termasuk pada pelayan yang sudah mengurus segala keperluannya sejak ia masih kecil. Tidak ada jaminan dia akan selamat di tangan seorang pelayan sekalipun, rumah yang dia tinggali saat ini bahkan sudah dikuasai oleh Shin Hyuna.
Sejak masih ada kakek dan nenek mereka sekeluarga memang tinggal dalam satu atap. Kemudian saat kakek, nenek dan ayahnya meninggal. Ibu tidak pernah diberi kesempatan mengatur rumah ini. Perempuan itulah yang melakukan segalanya sesuka hati.
Jeongguk mengernyit, tiba-tiba teringat kakak tertua ayahnya yang selama bertahun-tahun terbaring koma di bangsal rumah sakit. Tepat sehari setelah kepulangannya dari menempuh pendidikan di Jepang. Mungkinkah mereka yang telah melakukannya?
Jeongguk meringis saat kepalanya berdenyut sakit.
"Tuan Muda, apa perlu saya panggilkan dokter?"
"Tidak perlu." Jeongguk bangkit dan bersandar ke kepala ranjang.
Bibi Lee menyerahkan kacamata yang langsung Jeongguk pakai. Dia kemudian memindahkan mangkuk Samgyetang yang masih mengepul hangat dari troli ke overbed table*, mendorong dan menyesuaikan mejanya di depan dada Jeongguk.
"Makanlah, Tuan. Setelah itu akan saya siapkan obat. Dokter bilang anda perlu banyak istirahat."
"Dia tidak akan istirahat." Suara Shin Hyuna menggema tak jauh dari sekat ruang tempat tidur. Perempuan itu berjalan mendekati Jeongguk. memperhatikan penampilannya yang pucat.
"Segera bersiap dan turun ke ruang keluarga. Pengacara akan datang dalam lima belas menit," imbuhnya penuh nada perintah.
Tanpa perlu bertanya lebih lanjut, tentu Jeongguk sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sendok sup ia genggam erat, membalas tatapan Shin Hyuna tak kalah tajam seolah mereka sedang berkompetisi untuk tidak berpaling lebih dulu.
Menit-menit berlalu dalam kebisuan.
Hari itu kembali mendung. Udara yang bercampur bersama hawa penghangat ruangan terasa begitu memuakan. Jeongguk menarik napas, sosok Shin Hyuna digantikan sosoknya sendiri. Dalam pantulan cermin, merefleksikan wajahnya yang lesu. Jeongguk merapikan dasinya sekali lagi. Menatap dirinya sekali lagi. Sampai bayangan Bibi Lee akhirnya muncul dari dalam cermin.
"Tuan Muda, semua orang sudah menunggu."
Jeongguk berbalik. Mencoba mengeraskan hatinya. Langkahnya tegas. Ya, dia tau, Shin Hyuna dan Jeon Junghyun tidak akan merasa perlu repot-repot menunggu sampai kondisi Jeongguk kembali pulih. Bagi mereka nyawa orang lain tidak jauh lebih berharga dari kepentingannya. Tidak akan ada yang sanggup menghentikan orang-orang gila itu, bahkan tidak dengan kuburan ibunya yang masih basah, atau ocehan penyiar berita yang tak henti membicarakan kematian tragis ibunya dalam satu atau dua sesi.
Kim Namjoon, pengacara pribadi Jeon, menjadi orang pertama dan satu-satunya yang berdiri ketika Jeongguk menghampiri mereka di ruang keluarga. Shin Hyuna tampak tidak peduli dan lebih memilih menyuruput teh inggrisnya.
Sementara Jeon Junghyun meliriknya sekilas. Enggan berlama-lama. Mereka selalu terlihat sibuk karena harus memimpin anak perusahaan Sena Group. "Duduklah, Jeongguk."
Jeongguk duduk pada sofa yang berlawanan dengan Jeon Junghyun dan Shin Hyuna. Bagian tengah di tempati Kim Namjoon, sebagai pengacara muda kepercayaan keluarga Jeon yang akan bertugas membacakan surat wasiat sang ibu.
Anggota keluarga Jeon memang hanya tersisa mereka bertiga saat ini, serta paman sekaligus kakak tertua dari ayahnya yang masih terbaring di rumah sakit. Sementara anak paman dan bibi sedang menempuh pendidikannya di Amerika. Usianya dua tahun lebih muda dari Jeongguk.
Kekacauan keluarganya sekali lagi memukul dada Jeongguk. Andai saja ayahnya tidak dibunuh, ibu tidak memilih menyerah pada hidupnya. Itu akan memberi Jeongguk setidaknya satu atau dua pijakan untuk tetap bertahan. Di rumah yang besar ini Jeongguk merasa sendirian.
Kim Namjoon berdeham. Membetulkan kacamata, lalu nengeluarkan sebuah map biru dari dalam tas kerjanya. "Baiklah, bisa kita mulai?"
"Langsung saja bacakan bagian intinya. Aku tidak punya banyak waktu," ujar Junhyung sedikit tergesa.
Kim Namjoon mengangguk pasrah. Sama sekali tidak terkejut dengan sifat Jeon Junghyun. Sesuai permintaan lelaki itu dia akan melewatkan baris-baris awal surat.
"1. Bahwa, saya adalah pemilik yang sah atas harta kekayaan dibawah ini:
10,17% Sena Electronics Co Ltd. atas nama Baek Sohwa, 8,5% Sena Life Insurance atas nama Baek Sohwa, 4,2% Sena CT Corp. atas nama Baek Sohwa."
Namjoon menegakan kepalanya sejenak meminta persetujuan. "Haruskah langsung kubacakan poin ketiga?"
Jeongguk menoleh pada paman dan bibinya yang sudah menunjukan keserakahan masing-masing.
"Kau tidak perlu meminta pendapatku untuk itu, lebih cepat lebih baik," jawab Junghyun.
Namjoon mengangguk lagi. Matanya kembali fokus pada selembar kertas di tangannya.
"3. Bahwa, saya bermaksud untuk menghibah wasiatkan harta kekayaan saya tersebut sebagaimana dimaksud angka 1 di atas kepada Jeon Jeongguk anak kandung saya. Berdasarkan surat wasiat ini, yang nama serta bagian-"
"Cukup." Shin Hyuna menghentikan Namjoon. Meletakan cangkir tehnya pelan-pelan.
Wajahnya sama sekali tidak menunjukan ekspresi keterkejutan, Jeongguk tau jika mereka sudah mengantisipasi hal ini akan terjadi. Karena itu, pastilah mereka akan berencana mengambil setiap kesempatan yang ada.
"Jeongguk belum dewasa dan masih harus menyelesaikan sekolahnya lebih dulu, dan juga, dia bahkan belum mengerti apa pun soal membayar pajak warisan."
"Untuk itu, sementara menunggu Tuan Jeongguk siap dia bisa diwakili terlebih dahulu oleh walinya. Tapi, ini semua berdasarkan keputusan Tuan Jeongguk. Bagaimana menurutmu?" Namjoon menoleh pada Jeongguk yang sejak tadi tetap bungkam.
Jeongguk baru berusia tujuh belas tahun, dia bahkan belum lulus SMA. Jika dia memaksakan diri untuk memimpin Sena Group bukan hanya orang luar yang sekadar menonton berita akan mempertanyakan integritasnya. Tetapi juga seluruh pegawai di perusahaan.
Jeongguk memang tidak pernah tertarik dengan segala embel-embel Jeon 'Putra Mahkota' Sena, terlebih lagi setelah melihat penderitaan ibunya yang sampai didiagnosa menderita Alzheimer setelah terlibat dengan perusahaan selama beberapa tahun terakhir.
Sebenarnya, Jeongguk telah memikirkan ini jauh-jauh hari. Tapi di sisi lain dia tidak ingin dengan mudah memuaskan ego paman dan bibinya.
Kesepuluh jemari Jeongguk saling mencengkeram satu sama lain. Gelisah dan bimbang dibawah tekanan nasibnya.
"Kau bisa mempercayakan Sena untuk sementara pada pamanmu, Jeongguk. Jangan memaksakan dirimu."
Kalimat itu bukanlah bentuk tawaran bantuan penuh kasih sayang, tetapi berupa ancaman secara tidak langsung.
Jeongguk menciut ditempatnya. Menunduk memperhatikan sepuluh jemarinya. Setiap detik dan menit terlewati dalam kebingungan menyiksa. Tidak bisa, sekuat apapun mencoba dia tidak akan sanggup melawan titah sang paman.
Lalu, anggukan ragu-ragu ia berikan. "Baiklah."
Kim Namjoon menatapnya iba tapi enggan berkomentar lebih lanjut. Sebaliknya, dia mengambil bolpoin dari saku jasnya. Kemudian membubuhkan tanda tangan. "Baiklah, kalau begitu aku akan segera mengurus semua surat-suratnya."
Udara dingin mulai merangkak mengiringi langkah Kim Namjoon meninggalkan kediaman Jeon. Sepuluh pelayan dari setiap sisi dalam dan luar rumah menunduk bergantian. Layaknya barisan pengawal kerajaan menuntun kepergian tamu kehormatan.
Kim Namjoon menghentikan langkah sebentar saat kakinya berpijak pada anak tangga terakhir, menengadah ke arah langit yang mulai gerimis. Deru mobil datang setelahnya. Dia mengangguk pada sopir dan secepatnya memasuki mobil.
"Anda selalu terlihat murung setiap keluar dari rumah keluarga Jeon." Sang sopir membuka percakapan. Sesekali menatap Kim Namjoon dari spion kecil di dalam mobil.
"Benarkah?" Namjoon tertawa kering. Melepas kacamatanya dengan lelah. "Entahlah, terkadang aku sangat kasihan pada keluarga itu."
"Ayahku pernah berkata uang tidak selalu menjamin kebahagiaan." Sopir itu menimpali. Dalam hati secara munafik mengagumi betapa luasnya kediaman keluarga Jeon. Bahkan butuh waktu sekitar enam sampai tujuh menit agar mobil yang mereka tumpangi melewati gerbang rumahnya, itupun belum termasuk menunggu petugas keamanan memeriksa identitas mereka.
Namjoon tidak menanggapi, dia lebih peduli pada rintik hujan dari luar jendela mobil yang sedikit demi sedikit menantang ketidakberdayaan manusia.
Petir menyambar sekali di atas langit. Tidak sekeras hari kemarin, namun cukup membuat Jeongguk tertegun di tempatnya. Dia baru akan beranjak sebelum Jeon Junghyun menginterupsinya.
"Kita belum selesai, Jeongguk."
Jeongguk memberinya tatapan membangkang. "Apa lagi yang kau inginkan?"
Cho Sanghyun mendekat patuh setelah mendapat lirikan perintah. Menyerahkan lembaran-lembaran kertas yang tidak Jeongguk pahami.
"Pergilah ke Amerika, lanjutkan sekolahmu di sana," kata Junhyung menjawab wajah penuh tanya Jeongguk. "Aku sudah menyiapkan semua keperluanmu di sana. Dan jangan pulang sebelum aku menyuruhmu."
Jeongguk nyarus menyunggingkan seringai. Lelaki tua itu sangat jelas ingin menyingkirkannya.
"Tidak akan," balas Jeongguk tanpa pikir panjang. "Kesepakatannya hanya sampai kau menjadi waliku sementara waktu. Aku sudah cukup baik membiarkanmu melakukan sesukamu selama ini, bahkan-"
Tenggorokan Jeongguk tercekat, ia mengepalkan tangan erat-erat di kedua lututnya. "Aku membiarkanmu membunuh ayahku. Aku bisa saja membawa ini ke ranah hukum, dan membuat banyak pemberitaan tentang kebusukanmu jika kau terus memaksa untuk menyingkirkanku."
Junhyung terkekeh. Tidak terpengaruh sedikit pun oleh ancaman Jeongguk.
"Kau berani mengancamku?" katanya sambil mencondongkan tubuh, berusaha mengintimidasi Jeongguk. "Memangnya kau pikir orang-orang akan mempercayai bocah ingusan sepertimu? Dengar, Jeongguk. Jika kau merasa kau lebih pintar dariku mungkin sudah sejak dulu aku berada di penjara."
Itu memang benar. Bahkan tanpa pria itu mengatakannya Jeongguk sudah menyadari hal itu sejak lama, segala ketidakberdayaan ibu, ayah, serta dirinya menghadapi Jeon Junghyun dan Shin Hyuna. Mungkin yang bisa ia lakukan sekarang hanya menipu diri dan berpura-pura kuat. "Aku tidak peduli apa yang akan kau katakan. Aku tetap menolak."
"Sebenarnya aku tidak akan menyingkirkanmu, Jeongguk. Asalkan kau jadi anak yang baik aku akan melanjutkan peranku sebagai seorang paman, bagaimana?" tawarnya penuh muslihat.
"Aku tau kau hanya takut orang-orang mencurigaimu jika aku mati dengan cepat setelah kepergian ibuku."
Jeon Junghyun menegakkan bahunya, melirik ke arah Shin Hyuna setengah kesal.
"Baiklah, kau yang memaksa, Jeongguk." Shin Hyuna menepuk tangan dua kali.
Jeongguk terkejut saat kedua lengannya sudah berada dalam pitingan Cho Sanghyun.
"Kunci dia di kamar belakang." Shin Hyuna memberi perintah.
Tubuh tinggi itu menyeretnya tanpa belas kasihan. Membawa Jeongguk yang terus berontak berusaha melepaskan diri.
Itu adalah perjalanan panjang penuh siksaan dan melelahkan. Sepanjang menyusuri lorong para pelayan hanya memperhatikannya tanpa berbuat apapun. Jeongguk bahkan belum sempat mengisi tenaganya setelah sadarkan diri. Kini dia justru ditarik paksa oleh asisten rendahan seperti Cho Sanghyun. Kenyataan ini melukai hatinya.
Tubuhnya di dorong masuk ke sebuah kamar kecil yang berada di ujung belakang rumah. Kalau Jeongguk tidak salah ingat tempat itu dulunya adalah sebuah gudang tempat menyimpan koleksi guci-guci antik milik ayahnya yang telah rusak.
Pintu bercat hitam keabuan ditutup secara kasar. Jeongguk memperhatikan sekelilingnya.
Di sana hanya ada sebuah tempat tidur kecil dan meja. Tidak ada gemerlap hiasan rumah mewah, tidak ada lampu gantung yang terbuat dari kepingan kristal. Tidak ada jendela, sebagai gantinya adalah sebuah ventilasi berbentuk persegi yang berada tak jauh di dekat tempat tidur.
Jeongguk merosot, menyembunyikan kepalanya di antara lutut dan lengan. Punggungnya bersandar pada meja kecil di samping tempat tidur. Meringkuk menahan getar pada sekujur tubuh. Aroma hujan dan tanah basah mengalir melalui ventilasi, melingkupi Jeongguk.
Dalam ruangan sempit itu Jeongguk teringat akan dirinya, kilauan pesona riak air yang menyatu bersama alam, Jeongguk ingin melihatnya sekali lagi dan meminta bantuannya.
Dia yang disebut... Peri Hujan.
"Apa kau lapar?"
Jeongguk membeku di tempat. Tidak berani mengangkat kepala saat suara menenangkan itu mengalir di telinganya. Untuk sesaat dia mengira suara itu berasal dari khayalannya semata.
"Jangan takut," katanya lagi. Menyentuh lengan Jeongguk dengan lembut.
Pada akhirnya Jeongguk memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Mata hitam berkilau berhasil membuatnya tergagap. Rasa dingin yang diberikan oleh tangan pemuda itu mengalir menembus kulitnya. Menyemai ke aliran darahnya bagaikan udara surga.
"Kim Taehyung," panggil Jeongguk pelan.
Pemuda itu memberinya senyum menyenangkan. Bahkan dari dekat Jeongguk bisa melihat dengan jelas alis serta bulu matanya yang juga berwarna putih seperti rambut panjangnya. Bukan putih karena termakan usia, itu adalah putih alami yang membingkai wajah muda nan rupawan. Putih yang membuatnya bersinar cantik.
"Kau masih mengingatku rupanya," katanya ceria.
Dia menyodorkan buah apel yang semerah bibirnya di hadapan wajah Jeongguk. "Makanlah, aku tau kau lapar."
Jeongguk mengambil apel itu ragu-ragu. Kim Taehyung memundurkan wajahnya setelah buah apel berpindah ke tangan Jeongguk.
Pemuda itu tidak mengucapkan apa-apa selama Jeongguk melahap apelnya sampai habis.
"Kau ini ternyata lemah sekali, ya." Taehyung berujar, sama sekali tidak menunjukan raut penyesalan. "Untuk makan sebuah apel saja kau membutuhkan waktu lama."
Dia bangkit menghampiri tempat tidur, merebahkan diri di sana tanpa pikir panjang. Kemudian mendesah lega. Baju putihnya berkelebat di hidung Jeongguk, mengantarkan aroma seperti bunga lavender yang terkena hujan. Sementara sebagian rambutnya menjuntai melewati ranjang. Jeongguk meliriknya. Helaian itu terlihat halus dan bersih. Mengundangnya untuk menyapukan jemari di sana.
"Hei, Jeongguk."
Jeongguk terperanjat saat lelaki itu tiba-tiba menunduk ke bawah ranjang. Membuat poninya jatuh membayangi bulu matanya yang lentik. Sementara matanya yang hitam alami menuding Jeongguk lekat-lekat. Jeongguk mundur hingga kepalanya membentur sudut meja.
Kim Taehyung menertawakannya usil.
"Kasihan sekali, Jeon Jeongguk. Manusia yang malang," katanya sambil mengusap-usap kepala Jeongguk.
"Kalau begini terus aku khawatir tidak akan ada perempuan yang menyukaimu."
Jeongguk gelagapan, berusaha menghindari paras Taehyung yang selalu terasa mencuri setiap tarikan napasnya. Pipinya bersemu.
"Oh, atau kau suka laki-laki? Kebetulan sekali aku juga laki-laki. Kalau kau mau aku bisa jadi pacarmu, aku akan bekerja keras-"
"Tidak, tidak, tunggu." Jeongguk mengangkat tangannya di depan Taehyung. "Kau, maksudku, tunggu. Bukan seperti itu."
Taehyung memiringkan kepala. Semakin menggoda Jeongguk. "Aneh sekali, padahal kemarin kau memanggil aku untuk tidak pergi dan menatapku terus menerus. Bukankah artinya kau menyikaiku? Hati manusia sangat sulit ditebak, ya."
Jeongguk mengernyit bingung. Hal pertama yang harus ia perhatikan tentu saja keberadaan tiba-tiba lelaki itu, manusia tidak mungkin melakukan semua itu. Bahkan orang iseng sekali pun. Sudah jelas dia benar-benar seorang peri. Kedua...
"Kau, dari mana kau tau namaku?"
"Aku? hanya tau saja."
Itu bukan jenis jawaban yang diinginkan Jeongguk. Tapi senyuman kotaknya mengalihkan pikiran Jeongguk lebih dulu. Segala pesona yang dimiliki orang ini sangat berbahaya, entah kenapa Jeongguk tidak ingin kehilangannya lagi. Sejak pertama kali melihatnya Jeongguk selalu percaya bahwa keberadaan lelaki itu akan membuatnya merasa aman.
"Apa kau pernah bertemu ibuku? Kenapa kau tiba-tiba muncul di hadapanku?" Pertanyaan beruntun itu membuat Taehyung terkikik geli. Dia kembali merebahkan punggungnya di atas tempat tidur, menerawang ke langit-langit.
"Wanita itu, ya? Aku bertemu dengannya. Dia sudah tiada jadi sekarang giliranmu."
"Apa maksudmu?" tanya Jeongguk tak mengerti.
"Sekarang waktu yang tepat untuk aku menemuimu. Kau terlihat menderita jadi aku ingin menghiburmu."
Jeongguk termenung. Menopangkan dagu di lututnya sambil menatap retakan dinding bercat putih yang sudah kotor. "Kupikir juga begitu. Kau pasti sudah melihat semuanya, kan. Keluargaku ... Maaf sudah membuatmu menyaksikan kehidupan keluargaku yang menjijikan."
"Kupikir walau ayah pergi, selama ini aku sudah cukup beruntung memiliki keluarga yang menyayangiku, dan melihat orang-orang memperlakukanku dengan baik. Bahkan saat ibuku melawan penyakitnya selama setahun lebih aku tetap percaya dia akan sembuh. Naif sekali. Tapi-" ucapan Jeongguk terpotong saat ia menoleh ke tempat tidur.
Sosok Taehyung telah menghilang dari sana. Aroma hujan dan tanah basah tidak tercium lagi. Gemuruh dari luar menyisakan suara tetesan air dari dedaunan.
Hujan telah berhenti.
Jeongguk menyunggingkan senyum tanpa makna. Mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur yang semula ditempati Taehyung. Wangi lavender dibasahi hujan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Mata Jeongguk terpejam lelah.
"Bahkan kau juga meninggalkanku."
"Tuan Muda." Panggilan yang tak asing itu membangunkan Jeongguk. Ia berkedip mengumpulkan nyawa.
Bibi Lee berdiri di sampingnya. Memeluk seragam sekolah Jeongguk yang dilipat rapi. "Sudah pagi. Waktunya ke sekolah, anda sudah bolos selama lima hari 'kan."
"Bibi?" Jeongguk bangkit.
"Nyonya memperbolehkan anda keluar. Beliau bilang anda bisa memikirkan tawarannya lebih dulu, paling tidak sampai anda lulus."
Jeongguk berdecih mencibir, lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Tidak bisa menahan diri untuk melampiaskan kebencian pada pelayannya yang satu itu. Lagi pula Jeongguk tidak peduli lagi, baginya semua makhluk yang berhubungan dengan rumah ini bukanlah manusia.
Memiliki sudut pandang seperti itu bukan berarti Jeongguk tidak menyertakan diri. Dia akan dengan senang hati memasukan namanya dalam daftar iblis tidak bermoral selama menyandang nama Jeon di depan namanya. Ironi sekali. Nama yang dulu selalu ia banggakan kini berubah menjadi kenyataan pahit kedua yang dia benci selain dirinya sendiri.
Jeongguk merasa ingin menyalahkan dunia atas segala hal yang terjadi padanya. Atas hidup sebagai seorang pengecut, atas kepergian ayah dan ibu. Tapi di sisi lain dia sendiri tidak yakin seperti apa bentuk kehidupan ideal sebagai seorang manusia beradab. Beberapa orang bertahan hidup dengan cara seperti pamannya, beberapa orang hidup dengan menjadi pengecut, beberapa orang hidup seperti Kim Mingyu-bentuk kehidupan asing yang masih tidak mampu Jeongguk pahami hingga sekarang.
"Yo, Jeongguk."
Dia Kim Mingyu, satu-satunya orang yang Jeongguk anggap sebagai temannya hingga kini. Jeongguk bisa menyebutnya sebagai seseorang yang paling dekat dengannya. Tapi setiap hari, Kim Mingyu selalu terasa begitu jauh.
Keluar dari kerumunan para siswa perempuan, Mingyu merangkul Jeongguk. Berjalan beriringan memasuki kelas sambil berceloteh.
"Aku sudah mendengar tentang ibumu. Beritanya ada dimana-mana. Maaf tidak sempat menghadiri pemakamannya, ya. Akhir-akhir ini bar sedang ramai."
"Ya, tak apa," balas Jeongguk.
"Oh, ya, malam ini aku mengadakan pesta ulang tahunku di bar tempatku bekerja. Jangan sampai tidak datang, oke? Undangannya akan kuberikan nanti."
"Kau ulang tahun?"
Mingyu menatap Jeongguk geli. "Tentu saja. Jangan bilang kau lupa? Ya, ampun, kau melukai hatiku," katanya diiringi tawa. "Sudah dulu, ya. Jangan lupa siapkan kadomu yang paling mahal."
Mingyu meninggalkan Jeongguk di bangkunya. Sementara di satu sudut lain dia kembali bergabung dengan sekumpulan teman sekelasnya.
Pemuda itu sangat jauh berbeda dengan Jeongguk. Baik dari sifat maupun cara dia menjalani hidupnya. Mingyu tampan dan menarik, dia selalu tersenyum pada semua orang. Tidak pernah merasa canggung untuk memulai obrolan. Di usianya yang masih muda Mingyu sudah membantu bekerja di bar milik keluarganya, tidak pernah pamrih, semua orang menyukainya.
Sementara dirinya hanya pemuda berpenampilan biasa, tidak pandai berinteraksi. Seperti versi terburuk Kim Mingyu. Tidak, dia bahkan tidak dapat dikatakan sebagai perbandingan Kim Mingyu. Jika orang tidak menanyakan nama lengkapnya siapa pun tidak akan menyangka Jeongguk adalah putra tunggal keluarga konglomerat dan ahli waris Sena Group. Kenyataan itu pun tidak berpengaruh apa-apa. Orang-orang tidak pernah menatapnya seperti mereka menatap Mingyu.
Alasan ia berpikir seperti itu sudah tidak perlu dipungkiri lagi. Selama menjalani pendidikan Jeongguk sangat jarang bertemu banyak orang. Teman-teman di sekolahnya tidak ada yang mau mendekatinya. Selain itu, wajah bodoh berkacamata tebal sudah lebih dari apa yang patut mereka jauhi.
Jeongguk menatap pemandangan kendaraan di luar kaca mobil. Malam itu adalah malam yang tampak kelabu. Seharian tadi tidak ada hujan, jadi selama itu pula Jeongguk tidak henti-henti berharap awan di langit akan menjatuhkan hujan.
"Sudah sampai, Tuan. Kami akan menunggu anda."
Jeongguk melirik satu sopir dan satu asisten yang duduk di bagian depan. Meski pun Shin Hyuna menyebutnya begitu. Sebenarnya, mereka tidak lebih dari dua orang yang mengawal Jeongguk agar dia tidak bisa lari kemana pun.
Jeongguk menghembuskan napas lelah untuk yang terakhir kalinya sebelum keluar dari mobil. Pihak keamanan yang bertugas di depan pintu menilainya, seolah mencoba mengingat apakah Kim Mingyu benar-benar memiliki tipe teman seperti dirinya atau tidak. Tatapannya membuat Jeongguk risi, bahkan setelah dia menyerahkan kartu undangan dan memasuki bar lelaki itu masih belum melepaskan perhatiannya.
"Jeongguk!" Mingyu berseru dari sudut ruangan. Mau tak mau membuat Jeongguk menghampiri kerumunan teman-temannya yang tengah sibuk bercengkrama.
Ketika dia mendekati sofa melingkar yang di duduki Kim Mingyu, Jeongguk melihat dua orang diantaranya adalah pria dewasa. Yang satu menatapnya tidak peduli, satunya lagi memberikan tatapan ganjil seakan begitu berminat padanya.
Jeongguk mengusap belakang lehernya tak nyaman. Lampu bar tidak begitu gelap. Musik yang dimainkan tidak begitu menusuk gendang telinga. Sebaliknya suasana ulang tahun Kim Mingyu di dalam sana justru terasa sangat santai, bahkan sampai bisa dihadiri oleh segala usia.
"Nah, duduklah." Mingyu menarik Jeongguk ke tengah sofa.
Di sebelah kirinya ada dua orang gadis yang jika Jeongguk ingat merupakan teman sekelasnya. masing-masing dari mereka mengenakan gaun terbuka yang provokatif. Dua orang dewasa tadi duduk bersebelahan dengan gadis-gadis itu, sementara Mingyu duduk di sebelah kanannya.
"Jeongguk, kau kenal para wanita ini, kan?" Sebelum Jeongguk dapat merespons, Mingyu lebih dulu melanjutkan ucapannya. "Ah, tunggu-tunggu, kau pasti tidak mengenal mereka, biar kuberitahu. Yang di sebelahmu namanya Kim Yura, di sebelahnya Oh Seunghee. Mereka teman sekelas kita."
Jeongguk mengangguk, "aku tau."
"Meski pun kau mengatakannya, aku yakin besok Jeongguk akan segera melupakannya." Gadis bernama Oh Seunghee menimpali sambil menyampirkan helaian rambut pendeknya ke belakang telinga.
Kim Yura mengangguk setuju. "Jeongguk bukan tipe orang yang akan mengingat hal-hal tidak berguna, benar kan, Jeongguk. Kehidupanmu pasti sudah cukup melelahkan. Tidak mudah menjadi orang kaya."
Jeongguk tertegun. Jeda yang cukup panjang menciptakan suasana canggung di sekeliling mereka
"Kalian ini bicara apa, aku mengenalkan kalian karena penampilan kalian malam ini sangat berbeda dengan di sekolah. Malam ini kalian terlihat sangat cantik dan seksi." Mingyu menengahi, mengerling nakal penuh godaan.
Kemampuan bersosial Kim Mingyu memang tidak bisa diragukan lagi, untuk beberapa alasan Jeongguk merasa beruntung karenanya.
"Apa maksudmu, apa aku tidak cantik saat di sekolah?" gerutu Oh Seunghee.
"Ayolah, aku tau kau mengatakan itu karena ingin terus kupuji," canda Mingyu. Berhasil membuat dua gadis di depannya tertawa genit.
"Oh, aku hampir lupa." Mingyu melanjutkan. "Jeongguk, ini kakak iparku. Lee Minhyuk. Dia seorang wartawan dari perusahaan majalah gosip, jadi kau harus berhati-hati dengannya."
Lee Minhyuk mengangguk ke arah Jeongguk. Tidak menanggapi candaan Mingyu. Wajahnya tampak malas dan kurang tidur. Jeongguk pikir mungkin karena stres dengan pekerjaannya dia sampai terlihat seperti orang yang siap mati kapan saja.
"Dan si tua di sebelahnya."
Jeongguk meliriknya. Pria itu menunjukan seringai dengan kilatan rahasia di sudut matanya dan berhasil membuat Jeongguk menciut.
"Song Dohyun. Pelanggan setia bar ini, jadi aku mengundangnya. Dan kalian tolong kenalkan, dia temanku Jeon Jeongguk."
"Jeon Jeongguk? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu." Song Dohyun memiringkan kepala. Tampak makin tertarik.
"Dia anak dari Jeon Junghwa dan Baek Sohwa, pemilik Sena Group sebelumnya," jawab Mingyu.
Song Dohyun membulatkan mata tidak percaya. "Ya, ampun, pantas saja. Ngomong-ngomong aku turut berduka atas ibumu."
Jeongguk membalasnya dengan sebuah anggukan lemah.
"Hei, Kim Mingyu, kau sangat beruntung." Lee Minhyuk meledek, kemudian menyesap Tequilanya perlahan-lahan.
Mingyu tertawa. "Mulai sekarang kalian harus menghormatiku, aku punya kekuasaan," ujarnya penuh kebanggaan.
Song Dohyun memicing terganggu. "Bocah sial ini." Dia meraup beberapa biji kacang dari atas meja kemudian melemparnya ke arah Mingyu. Sebagai yang paling tua diantara mereka, dia jelas menjadi satu-satunya yang tidak terima.
Para gadis tertawa- tawa melihatnya, merasa terhibur.
Sisa malam pesta Jeongguk habiskan dengan meminum beberapa gelas soju. Dia memang bukan orang yang akan mematuhi aturan usia dalam meminum alkohol, tapi Jeongguk cukup bisa menempatkan diri. Beer atau Tequila sudah melampui batasannya jadi dia hanya bisa membiarkan yang lain menikmatinya.
Jeongguk bersandar pada sofa. Ia yakin sekali wajahnya kini sudah melebihi warna merah sofa. Kepalanya terasa dibebani berkilo-kilo beban, berdenyut berat sekali.
Tidak begitu mabuk jadi ia masih sanggup berusaha mempertahankan kesadaran.
Mingyu dan kedua gadisnya sudah menghilang entah kemana.
Sesaat kemudian Lee Minhyuk menepuk pundaknya untuk izin pergi merokok.
Tanpa Jeongguk sadari. Dalam waktu singkat dia sudah duduk berdampingan dengan Song Dohyun.
"Hei, Jeongguk, bagaimana kabar ayahmu di alam baka, apa dia baik-baik saja?" katanya melantur. Berbotol-botol alkohol agaknya sudah menguasai sebagian akal sehat pria itu.
Jeongguk memicing. Menarik kerah kemeja pria dewasa itu dengan kasar. "Jaga bicaramu, Pak Tua. Ayahku bukan sesuatu yang pantas kau jadikan lelucon."
Song Dohyun mengangkat tangannya menyerah, dia sama sekali tidak menunjukan gelagat bersalah atau takut pada ancaman Jeongguk. Hanya menggelengkan kepala dengan mata setengah terpejam.
"Baiklah, baiklah." Dohyun memundurkan wajahnya setelah Jeongguk melepas cengkraman di kerahnya. "kau tau, Jeongguk. Kau terlihat sangat manis ketika sedang marah."
Dia menuang sebotol Tequila ke gelasnya. Kemudian menenggaknya lagi seperti kecanduan. Jeongguk menatap pria itu waspada.
"Aku penasaran apa kau pernah tidur dengan laki-laki? Jika belum kau bisa mencobanya denganku," katanya. Meremas lutut Jeongguk hingga pemuda itu bangkit oleh rasa terkejut dan amarah yang bercampur.
Jeongguk berdiri dengan kaki sempoyongan. "Kau sudah sinting!"
Seumur hidup tidak pernah ada yang berani merendahkan Jeongguk sebanyak ini. Jeongguk anak ibu dan ayah, Jeongguk yang selama hidupnya diberi kehormatan tak berujung. Harga dirinya telah dijatuhkan berturut-turut sejak ia ditinggalkan ibunya. Jeongguk tidak sanggup menahan rasa terhina itu lebih banyak lagi.
Sebelum Jeongguk melangkah pergi, pria dewasa yang terlihat seumuran ayahnya itu menariknya keras hingga Jeongguk terpaksa duduk di pangkuannya.
Jeongguk tersentak tapi terlambat baginya untuk menghindar. Song Dohyun membawa Jeongguk dalam pelukan. Dia meremat pinggangnya.
"Jeongguk, kau terlalu kasar," bisiknya di telinga Jeongguk.
Alkohol mendorong keberanian Jeongguk, mengangkat naik setumpuk dendam dan rasa terhina di hatinya, membuatnya meledak-ledak.
Dia melepaskan diri dari lelaki itu, kemudian menamparnya dengan botol Soju sampai terhempas. Pecah berantakan. Suara musik bar yang mulai berisik bahkan tidak sanggup meredam keributan.
Begitu singkat. Dibalik naluri kemanusiaan yang menguasai kembali jiwanya, Jeongguk mematung. Terkejut oleh tindakan yang dilakukannya. Tangannya gemetaran ketika menyaksikan darah di kepala Song Dohyun terus mengalir mengotori sofa. Pria itu sudah tidak sadarkan diri.
"Apa yang kau lakukan?" Seorang perempuan yang berada tidak jauh dari sana memekik kaget.
Dalam beberapa detik yang membingungkan kericuhan merambat seperti sapuan ombak. Ada yang menanyakan siapa dirinya, ada yang menghakiminya, ada yang sibuk berteriak meminta seseorang menelpon Ambulance.
Jeongguk kalut. Jalinan napasnya terasa disumbat seketika. Dia tidak melihat Kim Mingyu di mana pun. Otaknya tidak sempat berpikir, tapi kakinya dengan sigap berlari menerobos kerumunan. Orang-orang di sekitarnya mencoba menghentikan Jeongguk, lagi-lagi berkat efek alkohol yang meningkatkan adrenalin Jeongguk bisa melarikan diri.
Di luar suara petir menyambutnya. Dua pengawal suruhan Shin Hyuna telah berdiri di dekat pintu, menunggu Jeongguk dengan tak sabar.
Jeongguk memberi mereka pandangan terluka meski dia tau tidak akan ada gunanya meminta belas kasihan. Semua orang di dunia ini egois dan tamak. Jeongguk sudah berkali-kali membuktikannya.
Hujan datang dengan berani tanpa menunggu gerimis. Dua pengawal menyaksikan sang Tuan menerobos derasnya air. Meninggalkan mereka.
Dalam pelariannya Jeongguk terus menangis tanpa henti. Sesekali menabrak beberapa pejalan kaki yang sibuk mencari tempat berteduh, sumpah serapah memenuhi kepalanya sampai Jeongguk merasa tidak ada hal yang jauh lebih menakutkan di dunia selain mulut manusia. Dari sudut hati kecilnya yang tersembunyi sangat jauh dia tak lelah berharap pada sebuah keajaiban.
Bahwa sedikit saja tanda kebaikan dari Tuhan dirasakannya, maka Jeongguk tidak akan meminta apa pun lagi. Karena sedikit baginya sudah lebih dari luasnya semesta. Jeongguk ingin seseorang melindunginya dari rasa takut yang terus menjadi mimpi buruknya.
Peri Hujan.
Jeongguk memasuki sebuah gang gelap dan berbau busuk. Meringkuk di samping tempat sampah yang lembap.
Di detik-detik yang menyiksa dan hawa dingin yang nyaris membekukan sekujur aliran darahnya, hujan tiba-tiba berhenti di sekitar Jeongguk. Sepasang kaki telanjang dan aroma campuran hujan-bunga laveder merebak. Berdiri di hadapannya Kim Taehyung, memayungi tubuh menggigilnya dengan suka cita.
"Kau selalu saja menggigil setiap aku menemuimu."
"T-Taehyung ..." Jeongguk terisak, kacamata berembun tidak menyurutkan pandangannya dari sosok Kim Taehyung yang bercahaya.
Dia menggenggam masing-masing pergelangan kaki Taehyung, bersujud di bawahnya. "T-Tolong ... Tolong jangan pergi."
Dada Jeongguk sesak bukan main, sebagai pelampiasan ia pukul berulang-ulang sambil terus membisikan nama Kim Taehyung dan kalimat serupa. Berharap segenap lukanya segera menghilang.
"Jangan pergi ... "
Pukul.
"Jangan tinggalkan aku ..."
Pukul lagi.
"Aku sendirian ... Aku kesepian. Jangan tinggalkan aku-"
Jeongguk meracau dan memukul dadanya bergantian, bagai merapal sebuah do'a. Tenggorokannya tercekat sampai sulit menarik napas.
Taehyung berjongkok membantunya bangkit. Ekspresi keramahan tidak luput dari wajahnya.
"Nanti, pasti ada waktunya. Jeongguk, kau seharusnya tidak melakukan ini padaku."
Jeongguk beralih menatap Taehyung tak paham. Mulutnya gagap dan gemetar basah.
"Nah, ambil ini. Besok hujannya pasti akan semakin deras."
Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, Kim Taehyung menyunggingkan senyum, sekali lagi menghilang. Menyisakan sebuah payung merah yang meneduhi Jeongguk.
Besok hujannya akan semakin deras.
Taehyung benar. Karena setelah dia kembali diseret ke rumahnya. Jeongguk menerima sepuluh tamparan yang nyaris merontokan gigi-giginya. Perutnya ditendang sampai Jeongguk muntah darah, ia meringkuk di atas lantai marmer yang dingin. Memandangi sepatu pantofel Jeon Junghyun dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak mengerti," katanya menatap Jeongguk dengan matanya yang gelap. Di sebelahnya Shin Hyuna berdiri angkuh melipat tangannya di depan dada.
"Apa kau berniat menghancurkan Sena perlahan-lahan, Jeongguk?" Dia membanting sebuah surat kabar pagi.
Beritanya sudah menyebar kemana-mana. Tentang Jeon Jeongguk putra konglomerat terpandang yang memukul seorang bos perusahaan asuransi. Mereka menyebut itu sebagai penganiayaan di bawah pengaruh alkohol, tanpa tahu sebab, tanpa bertanya pada Jeongguk hal keji seperti apa yang dia alami malam itu hingga berlaku di luar kendali.
"Apa kau tau aku harus bersusah payah membungkam banyak orang agar mereka segera menghapus beritanya? kau beruntung karena dia tidak mati!" Suaranya menggelegar memenuhi ruangan kamar yang sunyi.
"Bukan, itu bukan aku." Jeongguk menanggapi dengan terbata. Pipinya menempel erat dengan lantai yang dingin.
"Tidak ada yang peduli siapa yang memulainya, manusia hanya percaya pada apa yang ingin mereka percayai. Kau mengerti? Begitulah kehidupan ini berjalan. Seperti kotoran, seperti sampah. Tidak ada tempat untuk orang naif sepertimu, Jeongguk."
Jeongguk gemetar di tempatnya. Tidak bisa membalas. Setiap ucapan yang keluar dari mulut pria itu serasa melunakan tulang-tulangnya.
Jeon Junghyun menyerahkan sebuah kertas bermatrai di hadapan Jeongguk.
"Aku akan memaafkanmu, tapi tanda tangani ini."
Jeongguk tau, sangat tau. Surat yang ditunggu-tunggu Jeon Junghyun sejak lama. Yang membuat ayah dan ibu menderita, yang akan menjungkir-balikan nasibnya. Dia mungkin cukup lama menanti kesempatan ini dan segala kebodohan Jeongguk justru mempercepat ambisi pria itu.
Jeongguk menggeleng berkeras diri. Ibunya telah menitipkan Sena di tangannya. Mana mungkin Jeongguk sudi menyerahkan perjuangan ayah dan ibunya ke tangan iblis seperti Jeon Junghyun.
"Kau tidak mau?" Junghyun menyeringai. "Baiklah, kau boleh memilih tanda tangan atau tidur selamanya seperti Jeon Jungshin."
Jeongguk membelalak tak percaya. Jadi, semua itu benar? Orang yang telah membuat pamannya koma selama belasan tahun, menua di bangsal rumah sakit... orang yang telah membunuh ayahnya...
Jeongguk merasakan darahnya mendidih. Tapi di saat yang sama tekanan di perutnya menolak untuk pergi bagaimana pun ia berusaha menenangkan diri. Takut dan marah bercampur aduk menguasai hatinya.
"Tapi, tidak mudah merawat dua benalu sekaligus, Sayang. Akan ada banyak biaya tambahan." Shin Hyuna menyahut tidak setuju.
"Kau benar." Junghyun merenung. "Bawa kemari." Dia memberi perintah pada asistennya. Yang dengan sigap dipatuhi.
Kotak yang dibawanya berisi sebilah pisau yang siap dipakai untuk memotong apa saja.
Jeongguk menelan ludah. Bangkit berdiri dengan segenap tekadnya. Nyeri di perut dan wajah yang babak belur ia tahan sekuat tenaga.
"Jeon Junghyun," panggil Jeongguk lirih. Sepasang matanya yang sembab kembali menjatuhkan air mata yang menganak sungai di pipinya. Itu adalah suaranya yang paling menyedihkan, yang bahkan tidak Jeongguk kenali, dan sama sekali tidak menggoyahkan ekspresi gelap sang paman.
"Paman." Jeongguk berbisik lagi.
"Berhenti merengek dan tanda tangan jika kau masih ingin hidup-" bilah tajam pisau menukik ke arahnya. Jeongguk menahan dengan tangannya hingga kedua bagian tajam pisau itu mengiris dalam telapak tangan Jeongguk. Memutus jalinan urat-urat tipis dalam kulitnya.
Napas Jeongguk memburu. sisi-sisi tajam pisau telah mengiris dagingnya dalam-dalam. Darahnya menetes-netes di atas lantai. Berjatuhan tak kalah deras dengan hujan di luar.
Jeon Junghyun menekan pisaunya lebih kuat. Jeongguk bisa merasakan pisau itu telah menembus jauh mendekati tulang-tulang kecil di tangannya.
"Sudah cukup."
Jeongguk menyerah.
"Aku akan tanda tangan," katanya pelan dan tercekat.
Jeon Junghyun menatapnya tanpa belas kasihan. Hatinya sepenuhnya mati.
Pisau terlempar di atas lantai, memantul menimbulkan suara kematian.
Dia mengambil surat yang sudah ditandatangani Jeongguk dengan susah payah.
Setelah itu mereka pergi meninggalkannya.
Jeongguk bersimpuh memegangi tangannya yang terluka. Gemetar menahan rasa sakit. Dia butuh pertolongan.
Di luar hujan belum berhenti. Justru bertambah deras dan deras. Jeongguk melangkah keluar dari rumah mengabaikan luka di tangan yang berdenyut perih terkena hujan. Tapi Jeongguk belum menyerah. Dia harus menemui Kim Mingyu.
Berjalan tertatih seolah kapan saja tubuhnya akan ambruk. Jeongguk melewati gerbang rumahnya tanpa siapa pun peduli. Tidak ada sopir yang mau mengantarnya, tidak ada Bibi Lee.
Bahkan sopir dari taxi yang ia tumpangi lebih peduli pada jumlah uang di sakunya. Jeongguk tidak bisa marah padanya. Dunia ini memang seperti itu, tepat seperti yang dikatakan Jeon Junghyun. Kotor dan sampah.
Maka tanpa ragu ia lempar semua isi dompetnya. Berjalan pergi menauju apartemen Kim Mingyu kemudian memencet bel pintunya.
Ada kejutan di mata pria itu yang bertahan sekilas sebelum digantikan oleh kernyitan terganggu di sudut alisnya.
"Tolong aku ... Pamanku mengambil semuanya, Mingyu."
Kernyitan di dahi Mingyu semakin dalam. Sama sekali tidak menaruh simpatik pada semua luka Jeongguk.
"Mereka mengancamku." Bibir Jeongguk gemetar.
"Baiklah, lalu aku harus bagaimana? Itu masalahmu, Jeongguk."
Tidak butuh waktu lama bagi Jeongguk untuk mengerti makna dibalik sikap Kim Mingyu.
Jeongguk dibuat membeku, kakinya terasa di pasung ke bawah lantai. Jeongguk ingin mengabaikan ekspresi terganggunya, tapi waktu berlalu lebih lambat, memaksanya menyaksikan Kim Mingyu, lagi dan lagi menjadi terasa semakin jauh.
"T-tapi, kau temanku." Tangan Jeongguk mengepal. Sayatan menganga di telapak tangannya masih belum mau berhenti mengalirkan darah.
"Tolong jangan salah paham, Jeongguk. Ini bukan karena kau sudah menghancurkan pesta ulang tahunku atau apa. Tapi sejak awal, aku tidak benar-benar berniat menjadi temanmu. Sudah, ya."
Mingyu menutup pintu tanpa membiarkan Jeongguk bicara lebih lanjut.
Meninggalkannya mematung di depan pintu.
Sendirian.
Jeongguk sendirian.
Dia tergagap beberapa saat. Kemudian jatuh merosot.
Kilas balik semua keramahan Kim Mingyu menyerbu dalam ingatan. Dengan cepat menusuk akal sehatnya. Harusnya Jeongguk tau sejak awal, bahwa setiap senyuman yang terlontar kepadanya tidak lebih dari kepalsuan belaka. Semua orang menipunya, semua orang tidak pernah berdiri bersamanya.
Jeongguk merangkak, seberkas cahaya menyilaukan akrab berkelebat di hadapannya. Cahaya Kim Taehyung...
Dia yang disebut ... Peri Hujan.
Senyuman Kim Taehyung kali ini terlihat sangat asing, memancar dengan aura ganjil.
Dia mengusap pipi Jeongguk. Tidak bicara, tidak bersuara. Lalu berjalan pergi.
"Tunggu!" Jeongguk bergegas mengikutinya. Sepasang kaki yang terasa remuk dan hancur dia paksa menopang tubuh lemasnya yang nyaris beku.
Terus berlari mengikuti aroma hujan yang ditinggalkan Taehyung. Menyusuri lorong, berbelok, menaiki tangga darurat satu-persatu, sendi-sendi Jeongguk berteriak.
Ketika ia nyaris ambruk, ketika darah dalam tubuhnya sudah akan surut. Kim Taehyung muncul lagi. Kembali membimbing langkahnya, menguatkannya.
Sepenuh hati Jeongguk menerima ajakan itu. Jeongguk sendirian, tapi jika ia pergi bersama Kim Taehyung dia yakin tidak akan kesepian lagi. Biarkan lelaki itu membawa tubuh dan segenap hatinya pergi.
Pada saat Jeongguk menyadari aroma hujan telah berada di ujung hidungnya. Kim Taehyung berhenti.
Dia berada di ujung atap. Lantai paling atas apartemen, menari-nari di bawah guyuran hujan deras dengan tawa kekanak-kanakan yang merenggut sebagian napas kepayahan Jeongguk.
Perasaan ini memberinya deja'vu. Tapi kali ini Jeongguk tidak meneriakinya untuk tidak pergi.
Jeongguk tau apa yang harus dia lakukan. Bergabung bersama keindahan itu, akan jauh lebih menyenangkan dari apa pun di dunia ini.
Jeongguk memeluk Taehyung dari belakang. Menghentikan pergerakan Taehyung. Noda darah yang mengotori pakaiannya tidak Taehyung pedulikan, pemuda itu menerima pelukannya dengan sukarela, melingkupi lengan Jeongguk yang melingkari pinggangnya.
Senyumannya tidak memudar. Jantung Jeongguk berdetak kencang di belakang punggungnya. Dagunya beristirahat nyaman di bahu Taehyung.
Mereka berdiri seperti itu cukup lama. Di bawah curahan hujan dan angin yang menusuk hingga ke tulang. Melawan hempasan badai yang menarik-narik pakaiannya.
Sama seperti Jeongguk yang mendadak diberi secercah keberanian memeluk sosoknya kali itu. Taehyung pun tau jika waktunya akan segera tiba. Waktu untuk menikmati kehangatan jiwa Jeon Jeongguk.
"Hujannya akan semakin lebat." Taehyung berbisik. Kemudian melepas pelukan Jeongguk.
Sambil terus menatap mata lelah Jeongguk dia melangkah ke luar dari batas pijakan atap.
Jeongguk terperanjat panik, tapi sedetik kemudian diselimuti rasa lega dan tak percaya. Kim Taehyung dapat melayang di udara. Tanpa perlu sepasang sayap seperti malaikat dalam buku dongeng.
Dia mengulurkan tangan ke arah Jeongguk. "Kau mau ikut denganku, Jeongguk?"
Ujung mata Jeongguk yang tersembunyi dibalik kacamata melengkung tak yakin.
"Mari tinggalkan kesedihan ini." Kim Taehyung sekali lagi membujuknya.
Langkah Jeongguk pelan dan tertatih. Di iringi senyum lebar Kim Taehyung Jeongguk meraih tangannya yang halus dan basah.
Petir menyambar di atas langit. Hujan tidak memberi jeda baginya untuk berpikir. Dalam setiap tetes mengalir ke kulitnya, perasaan bahagia memuncak bagai ekstasi.
Jeongguk terlambat menyadari, pada detik setelah kakinya meninggalkan lantai atap yang basah. Langit menggelap murka. Sepasang mata berpayung alis kelabu Kim Taehyung berkilat merah bagaikan pancaran lidah api matahari.
Hujan hari itu lebih berdarah dari biasanya. Menenggelamkan Jeon Jeongguk dalam kegelapan yang tak berujung. Hiruk-pikuk, suara lolongan manusia.
Kemudian sunyi.
.
.
.
.
.
[BREAKING NEWS]
"Putra Mahkota" Sena Group Tewas Bunuh Diri Dengan Melompat Dari Atap Gedung Sebuah Apartemen.
.
.
.
.
-SELESAI-
*Samgyetang/Sam gae tang : sup ayam utuh yang dimasak dengan api kecil 1-2 jam. Biasanya makanan buat orang sakit.*Overbed table : meja makan pasien yang bisa di dorong dan disesuaikan. (Agak bingung mau pake bahasa indonya tapi berasa kurang pas jadinya pake yg bahasa enggresnya)
Catatan :
sebelumnya aku udh posting ff ini di wattpad tapi karena di wattpad jadi berantakan aku publish juga di ffn
aku masih gaptek sama ffn ini ff pertamaku.
makasih buat yg udh nyempetin baca/ itupun kalo ada yg mau baca wkwk
