Queridísima by Hayi Yuki

Naruto by MK

Inspired by Dr. Romantic by SBS and Hospital Playlist by tvN

Warning : may contain typo(s), grammar error(s), wrong medical term(s), etc

Happy reading ^^


Hari Sabtu, harinya para pekerja kantoran untuk refreshing melepas penat. Meski Konoha tidak sebesar Tokyo, jangan berprasangka buruk terlebih dahulu. Kota itu sudah menyiapkan banyak kawasan yang dapat didatangi ketika kau sedang ingin melupakan masalah hidup dan bersantai sejenak.

Konoha Mall salah satunya. Merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, tak heran jika di hari Sabtu yang cerah ini, tempat itu penuh sesak oleh pengunjung. Mulai dari anak kecil yang ingin mencoba berbagai macam permainan di area arcade games hingga para wanita yang memenuhi butik-butik yang menawarkan fashion terbaru, nampaknya mall baru akan sepi jika jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Hyuuga Hinata merupakan satu diantara ratusan orang yang hari itu mengunjungi Konoha Mall. Ia datang bukan untuk butik yang sedang sale ataupun permainan dance battle yang digemari para remaja, tentu saja. Hinata hanya ingin membeli kebutuhan sehari-hari di supermarket kemudian segera angkat kaki dari sana. Bukannya ia anti belanja, hanya saja Hinata lebih senang mengunjungi toko-toko ketika sedang tidak banyak pengunjung. Kalau saja kulkasnya tidak kosong melompong, mana mau wanita itu berbelanja ketika banyak orang juga datang ke pusat perbelanjaan.

"Susu, sudah. Tofu, sudah. Yoghurt, sudah," Hinata mengecek daftar belanja yang sudah ia catat pagi ini. Sebagai seorang wanita yang hidup sendirian di apartemen, Hinata selalu memastikan agar belanjaannya tidak kurang dan juga tidak lebih, tak peduli jika ia ditawari diskon menggiurkan. Sayang 'kan makanan dan minuman yang ia beli karena tergoda harga murah jika ujung-ujungnya malah tidak dikonsumsi karena Hinata membeli terlalu banyak.

Begitu melewati bagian buah, Hinata segera mengambil plastik dan memilah-milah apel dengan teliti. Ia sampai tidak sadar jika seseorang mendekatinya dengan cengiran lebar nan cerah.

"Hyuuga-sensei! Sedang belanja bulanan juga, ya?"

Hinata nyaris menjatuhkan semua apel yang sudah ia pilih. Andai Naruto tak gesit menangkap plastik yang meluncur dari tangan Hinata, tentulah keduanya sudah jadi bahan perhatian di swalayan ini jika apel-apel itu jatuh berhamburan di lantai.

Bagaimana ia tidak terkejut, kalau yang menghampirinya adalah salah satu dokter favoritnya―serta orang yang pernah ia sukai.

"Naru, ah, Namikaze-sensei!" Hinata terkejut, nyaris saja kelepasan memanggil si pirang dengan nama kecilnya. Tidak apa, sih. Hinata yakin Naruto takkan keberatan, hanya saja ia merasa perlu untuk memulai mengambil batasan diantara dirinya dan Naruto.

Or she would break her own heart again.

Memori tentang seseorang mencuat di otaknya, begitu tiba-tiba hingga Hinata yakin ekspresinya saat ini pastilah terlihat begitu aneh.

Or no?

"Hyuuga-sensei tidak apa-apa?" Naruto bertanya khawatir. Apa Hinata sedang tidak enak badan? Apa perlu ia memanggil dokter? Ah, tapi kan Naruto sendiri adalah seorang dokter―ia lupa.

Sepasang kelopak berkejap. Hinata tertarik kembali ke kenyataan.

"Ah, aku tidak apa-apa," jawab Hinata kikuk.

Naruto masih memandangnya tak percaya. Kedua iris safir itu seakan menginterogasi Hinata, meski tatapan Naruto jelas tak setajam Uchiha-sensei.

Duh, kenapa jadi kepikiran pria itu lagi, sih?

"Kayaknya Hyuuga-sensei kurang asupan gizi," tahu-tahu Naruto membuat diagnosis dadakan. "Bagaimana kalau sehabis belanja kita makan siang bareng?" usulan Naruto kontan membuat Hinata menggeleng kencang.

Tapi, jika seorang Hatake-sensei yang merupakan direktur rumah sakit itu saja nyaris tak pernah bisa menolak keingan Naruto, bagaimana Hinata bisa membantah?

Maka selepas membayar belanjaan di kasir, Hinata harus rela ditarik ke restoran ramen terdekat.

.

.

.

Shio ramen yang Naruto pesankan untuknya masih mengebulkan asap, hingga Hinata memilih untuk menunggu sejenak ketimbang merusak indra perasanya. Kalau Naruto beda lagi, lima detik berselang pelayan menaruh mangkuk di meja, tangannya sudah gesit mengambil sumpit dan mulai memakan ramen seolah ia tidak makan dari kemarin.

Begitu ia yakin mie-nya sudah tidak sepanas sebelumnya, Hinata mulai menyumpitkan ramen ke dalam mulut. Naruto sudah menghabiskan bagiannya, dan saat ini tengah menerima porsi keduanya dari tangan si pelayan.

Melihat Hinata menatapnya tanpa kedip, Naruto tertawa tidak enak. "Maaf ya, porsi makanku memang besar sekali. Sasuke dan Sakura-chan saja sampai kesal sendiri tiap kami makan bareng," meski begitu, Naruto tak segan untuk kembali memenuhi mulutnya dengan mie.

Mungkin Naruto mengira Hinata tak akrab dengan kebiasaanya ini, tapi ia salah. Menjadi unofficial stalker Naruto selama masa SMA tentu membuat Hinata hapal luar kepala dengan perut karet Naruto.

"Nggak juga, rasanya semua orang di angkatan kita tahu kalau Namikaze-sensei memang doyan makan. Namikaze-sensei pernah berlomba menghabiskan okonomiyaki kan dengan Akimichi-san?" Hinata mencoba mengorek informasi lama yang masih tersimpan di otaknya.

Wajah Naruto bersinar cerah. "Wah, ternyata ingatanmu tajam juga, ya! Padahal kita juga tidak begitu sering mengobrol bareng," timpal Naruto.

Benar juga, Hinata pun mengetahui informasi tentang si pirang dari hasil menguntit diam-diam. Terdengar seperti pengecut, tapi Hinata yang dulu memang bukan tipe orang yang harus selalu berinteraksi dengan manusia lainnya layaknya Naruto.

Tapi, dari obrolan dan interaksi yang tak begitu sering itu, Hinata tahu kalau Naruto itu orang yang mengagumkan.

"Aku pernah menyukaimu, sebenarnya," dan tahu-tahu kalimat itu meluncur dari bibir Hinata.

Tangan Naruto yang sedang giat-giatnya mengambil mie dengan sumpit mendadak membeku di udara. "Hah?" matanya membulat, menatap Hinata dengan tatapan tak percaya bercampur takjub.

Otaknya mendadak kacau. Naruto sangat amat tak terbiasa menghadapi situasi percintaan rumit seperti ini. Selama ini kan pikirannya hanya dipenuhi oleh Sakura-chan, Sakura-chan, dan Sakura-chan sehingga pernyataan cinta dadakan dari Hinata tak pelak membuat kepalanya mendadak pusing sendiri.

Hinata rupanya menyadari raut wajah Naruto yang mendadak nampak seperti orang tengah dilanda depresi berat. Ia buru-buru mengibaskan tangan seraya berkata, "Sekarang sudah tidak, kok. Tenang saja, tidak perlu khawatir."

Si Hyuuga lupa kalau Naruto tidak sehebat Uchiha-sensei dalam menangani perkara menghadapi seseorang yang menyatakan perasaan padanya―meski yang selama ini Sasuke lakukan hanyalah menolak segala macam confession dengan ganas.

"Hyuuga-sensei… pernah menyukaiku?" Naruto akhirnya menemukan kembali suaranya. Pria itu menunjuk dirinya sendiri, masih tak percaya kalau di umurnya yang sudah tidak muda-muda amat ini ternyata ada perempuan yang pernah menaksirnya.

Ditanya begitu, Hinata jadi agak malu. Ia mengangguk samar. Dapat dirasakannya pipinya memerah. Kenapa ia jadi malu-malu kucing seperti siswi SMA, sih?

"Sejak kapan?"

"Sejak Namikaze-sensei menolongku sewaktu aku terjatuh di pinggir jalan dulu," perkenalan pertama mereka.

Perlu beberapa detik bagi Naruto untuk mengingat momen yang tak pernah dilupakan oleh Hinata.

"Ah, saat sore hari, bukan?" gumamnya pelan. "Karena itu awal-awal di rumah sakit kau memanggilku dengan nama kecilku, ya?"

Pendengaran Hinata cukup tajam. Ia mengangguk mengiyakan.

"Tapi, aku tahu Namikaze-sensei sudah menyukai orang lain sejak masa SMA, bahkan mungkin lebih lama dari itu. Jadi, aku tidak berminat untuk menyatakan perasaanku padamu, meski kau tetap salah satu orang yang paling aku kagumi di hidupku," tutur Hinata.

Jika ia berkaca lagi, Hinata yang dulu mungkin tidak akan bisa berucap seluwes dan sejujur ini di hadapan Naruto―atau siapapun itu. Namun ia sudah mengalami naik turun dalam kehidupannya hingga detik ini, hingga perkara mengungkapkan perasaannya yang dulu pernah ada pada Naruto pastinya terasa tak lebih sulit dari mempresentasikan hasil kerjanya di hadapan para dokter senior.

"Dan juga, aku rasa Namikaze-sensei dan Haruno-sensei akan menjadi pasangan yang sangat cocok jika bersama," lanjut Hinata.

Lagi, Hinata di masa sekolah mungkin takkan mau mengucapkan kalimat itu, namun Hinata yang sekarang justru merasa lebih plong setelah berucap demikian di hadapan Naruto sendiri.

Naruto langsung tertawa saat mendengar ucapan Hinata. "Begitu, ya, menurut kalian," setelah tawanya reda, ia melanjutkan dengan suara pelan.

Hening kembali berlangsung di meja. Hinata memilih untuk segera menghabiskan makanannya, sementara Naruto yang ramen-nya sisa sedikit bertopang dagu di meja sembari menimbang-nimbang apakah ia perlu mengatakan suatu fakta pada Hinata.

"Hyuuga-sensei?" dipanggil tiba-tiba seperti itu membuat Hinata nyaris tersedak mie. Wanita itu mengangkat wajah.

"Ya?"

"Kapan pertama kali kau, ngg, menyukaiku?" Naruto bertanya segan sekaligus penasaran.

Di luar dugaan, Hinata tidak terlihat terlalu terkejut dengan pertanyaan itu

"Hm, kapan ya? Mungkin ketika Namikaze-sensei menolongku saat terjatuh saat pertemuan pertama kita?" soalnya bagi Hinata, peristiwa itu adalah salah satu dari sedikit momen dengan Naruto yang tertanam begitu jelas di kepalanya.

Kerutan muncul di dahi Naruto. Ia takut jika ucapannya setelah ini akan membuat segala anggapan Hinata tentang dirinya musnah seketika. Yah, tidak semuanya, sih.

"Yang pertama kali menyadari kalau Hyuuga-sensei terjatuh itu bukan aku aslinya."

Hinata menelengkan kepala. "Lalu?" ia bertanya.

Dan sedikit banyak Hinata tahu apa yang akan Naruto ucapkan berikutnya.

"Sasuke, dia yang pertama kali melihatmu terjatuh," tuh, kan.

Naruto, meski sangat tidak peka dengan lingkungan sekitar, tidak sebodoh itu. Ia juga tahu tentang desas-desus hubungan Sasuke dan Hinata yang tidak jelas itu. Soalnya, beberapa hari belakangan Konohamaru kerap berbisik tidak jelas acapkali berkumpul dengan rekan sesame residen. Makanya, memori tentang kejadian di masa SMA selalu menguar di kepala tiap kali Naruto berhadapan dengan Hinata.

"Oi, ayo cepat pilih obatnya," Sasuke berkata kesal sembari melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah tertekuk. Tak jauh darinya, Naruto sedang membandingkan dua botol obat yang sebenarnya memiliki fungsi yang sama meski berbeda merk.

"Tunggu sebentar lagi, Teme! Kakek mesum itu tidak mau mengganti uangku kalau aku salah membeli obat untuknya," tetangga Naruto yang bernama Jiraiya itu rupanya sedang terserang flu ringan sehingga pagi ini berhasil membujuk―memaksa―Naruto untuk mampir ke apotek dan membelikannya obat sepulang sekolah.

Sasuke mendengus kesal. Kalau saja besok tidak diadakan ujian fisika dadakan, mungkin ia takkan sudi ikut ke apartemen kecil nan kotor Naruto demi mengambil buku catatan yang hanya dipinjam namun tak pernah dibaca oleh si peminjam. Menyesal rasanya Sasuke meminjamkan bukunya tempo hari.

Pemuda berambut hitam itu mengelilingi seisi apotek demi membunuh waktu. Saat melewati jendela, irisnya tak sengaja menangkap bayangan seorang gadis yang terserempet motor.

Sasuke tanpa sadar menganga, terkejut. Ia menajamkan penglihatan, dan kaget saat mengenali rambut indigo panjang dan seragam sekolah yang kebesaran itu.

"Hyuuga?" gumamnya. Sejak kapan putri Hyuuga yang dijaga ketat oleh sepupu dan ayah galaknya itu berjalan pulang sendirian? Lagipula, setahu Sasuke yang ayahnya kenal dekat dengan Hyuuga senior, anak-anak keluarga itu tak pernah dibiarkan pulang atau berangkat sekolah tanpa supir dan mobil pribadi.

Aduh, lutut Hinata berdarah.

Sasuke serasa terpaku di tempat. Ia ingin lari keluar untuk menolong, namun sifat antisosialnya seolah menahannya untuk tidak bergerak dari tempatnya berpijak.

Selain itu, yang duduk terjatuh disana itu Hyuuga Hinata.

"Sasuke, sudah nih. Ayo pulang," Naruto muncul dengan kresek berisi obat.

Sasuke buru-buru mendorong Naruto ke pintu apotek.

"Kau ngapain?!"

"Lihat, ada anak terserempet motor. Cepat bantu!"

Plester yang selalu dibawa Sasuke di dompet cepat berpindah ke tangan Naruto.

"Sana, bantu dia!"

Setelah acara membantu Hinata selesai dan Sasuke memastikan gadis itu bisa berjalan pulang sendiri―meski ia hanya menatap Hinata dengan tatapan tajam khas Uchiha―pemuda itu mengekori Naruto sembari memikirkan akan seperti apa reaksi Hinata jika Sasuke yang berlari dan mengobati lututnya.

Makanan sudah habis. Naruto sebagai gentleman membayar tagihan Hinata meski si Hyuuga menolak keras. Begitu mereka keluar dari restoran dengan belanjaan masing-masing, Naruto menoleh.

"Kamu tidak apa-apa, kan, Hyuuga-sensei?" tanya Naruto.

Hinata mengangguk pelan. Masih agak shock. "Iya, tidak apa-apa. Namikaze-sensei duluan saja."

Naruto ingin mengantar Hinata, namun kembali ditolak. Wanita itu memilih untuk menaiki kendaraan umum. Maka pria itu mengantarkan Hinata hingga ke halte bus terdekat.

Bus tiba tepat pada waktunya. Hinata buru-buru naik setelah membungkuk singkat pada Naruto. Sepanjang perjalanan pulang wanita itu menyandarkan kepala ke jendela, sibuk berpikir.

Jadi, dulu Sasuke yang sebetulnya berinisiatif menolongnya? Tapi, kenapa pula si Uchiha itu tidak berlari keluar dan menolongnya, malah menyuruh Naruto yang takt ahu apa-apa untuk membantu Hinata.

Oh God, and to think that she had been demonizing him for so many years.

Insiden dengan Karin di masa SMA juga setelah dipikir-pikir menggunakan akal sehat, bukan salah Sasuke. Memang sih ia cukup kasar ketika mendorong Karin, tapi perempuan berambut merah itu juga rasanya kurang ajar sekali karena seenaknya melakukan tindakan tak senonoh pada orang lain.

Lalu, kejadian beberapa waktu lalu di rooftop rumah sakit. Hinata tak perlu melihat cermin untuk tahu kalua wajahnya saat ini memerah total. Ah, sudahlah, jika dipikirkan lebih lanjut, bisa gila dia!

Getaran pada tas selempang Hinata mengalihkan perhatiannya. Wanita itu meraih handphone dan melihat siapa yang meneleponnya. Sontak, wajahnya memucat saat melihat nama siapa yang tertera di layar.

Tou-sama.

Hinata menelan ludah, gugup. Ia memandang sekeliling. Bus sedang tak terlalu ramai, dan sebentar lagi ia akan mencapai halte di depan apartemennya.

Jika Hiashi punya bahan baru untuk memarahi anak sulungnya, biarlah dilakukan ketika Hinata sudah tiba di apartemen. Karena ia tidak yakin bisa menghadapi ucapan tajam sang ayah tanpa menitikkan air mata.

.

.

.

Sabtu siang ini rumah sakit tak ada bedanya dengan pusat perbelanjaan. Ramai! Moegi menghela napas lelah. Hari ini waktunya Uchiha-sensei libur, dan sebagai gantinya Shimura-sensei yang galak itulah yang memegang departemennya untuk sementara.

Danzo sebenarnya adalah salah satu dokter jantung terbaik yang ada di Konoha. Ia pun merupakan lulusan terbaik sarjana kedokteran di Universitas Konoha, setidaknya hingga Uchiha-sensei datang dan memecahkan rekor puluhan tahun itu. Makanya, Shimura-sensei kesal sekali pada Sasuke dan mengernyit tidak suka tiap kali keduanya bertatap muka.

Sasuke juga tidak segan untuk menebarkan aura kebencian kapanpun ia bertemu Danzo, hingga kadang Naruto yang malang harus memisahkan keduanya. Kalau tidak, bisa-bisa ada pertumpahan darah diantara dua dokter jantung itu. Konohamaru suka diam-diam menyebarkan gosip kalau Sasuke dan Danzo pastilah juga musuh di kehidupan sebelumnya. Entahlah, mungkin Sasuke sudah membunuh si pria tua di kehidupan lampau hingga Danzo kesal setengah mati pada si Uchiha muda.

Sebelas dua belas dengan sang profesor, Moegi juga tidak suka dengan Shimura-sensei.

"Kau ini dokter atau bukan, masa tidak tahu kalau pasienmu mengonsumsi ticagrelor bersamaan dengan phenobarbital, hah?" Danzo membentak Suigetsu yang baru saja masuk ke ruang praktik untuk memberikan chart pasien yang diminta. "Dasar tolol," tambahnya kejam.

Moegi merasa ia jantungan tiap kali Danzo berteriak. Kasihan Suigetsu, anak itu pasti gemetar sekarang. Seketika Uchiha-sensei terasa seperti malaikat jika dibandingkan dengan Shimura-sensei.

Hah, untung saja ia aslinya berada di bawah naungan Sasuke, dan hari ini kebetulan harus membantu Danzo praktik sebab residennya berhalangan hadir.

"Kau lihat, Pak Tua Onoki itu mungkin akan baik-baik saja jika kau melarangnya meminum obat penenang itu! Dan juga, semua ini tak akan terjadi seandainya Uchiha bodoh itu memasang stent dengan benar!"

Moegi menahan diri untuk tak mendesah lelah. Apapun yang terjadi, Danzo selalu ada akal untuk menyalahkan Uchiha-sensei. Padahal profesornya sudah mengikuti prosedur yang ada, dan bukanlah pertama kalinya bagi seorang pasien untuk mengeluhkan sakit di bagian dada dan sesak napas beberapa hari setelah ia dipulangkan dari rumah sakit. Hasil ECG menunjukkan bahwa si pasien mengalami AWMI dan karena Sasuke sedang menghadiri seminar di Yokohama, maka Danzo pun turun tangan melakukan CAG. Sejak saat itu, ia berkoar bahwa dirinya sudah menyelamatkan pasien yang Sasuke nyaris gagal untuk selamatkan.

"Apanya, memang ia pikir aku tidak memperkirakan kemungkinan serangan jantung?" timpal Sasuke acuh tak acuh saat Hanare melaporkan omongan Danzo di kafetaria pada rekan sesama dokternya yang kebetulan ia dengar.

Dan sekarang, Onoki kembali mengeluhkan sakit di dada seminggu setelah ia keluar dari rumah sakit. Sementara ia menunggu di kamar inap sebelum dioperasi, Danzo meluapkan peningnya ke Suigetsu yang malang.

Begitu Danzo keluar dari ruangan, Moegi serta merta meraih Suigetsu dan menuntun pria berambut sebahu itu untuk duduk di bangku terdekat.

"Dia sangat menyeramkan," bisik Suigetsu lemah. Moegi mengangguk setuju. Sejahat-jahatnya Uchiha-sensei, pria itu takkan menggunakan kata-kata umpatan tak peduli betapa bodoh residennya bertindak. Satu-satunya yang berani Sasuke caci maki di rumah sakit ini mungkin hanyalah Namikaze-sensei.

Moegi mengucapkan beberapa patah kata menghibur, meski tampaknya tak terlalu berpengaruh di diri Suigetsu. Dari ekor matanya ia melihat ada seseorang yang melewati koridor dimana ia dan Suigetsu duduk dan Moegi segera mengangkat wajah―takut jika ternyata yang lewat adalah Danzo.

Tapi bukan Danzo yang berjalan di depannya, melainkan Hyuuga-sensei.

"Lho, Hyuuga-sensei? Bukannya sedang libur? Kok masuk?" dan Moegi tak tahan untuk tidak bertanya, meski sedetik kemudian ia menutup mulut dengan kedua tangan.

Hinata yang sudah melewati si residen beberapa langkah menghentikan tungkainya bergerak, dan menoleh ke belakang. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengerjakan beberapa laporan yang belum selesai," ia tersenyum tipis, lalu angkat kaki dari koridor.

Moegi terkesima. Ia tidak salah lihat, kan? Dokter ortopedi yang selalu berpenampilan rapi itu kini tak ubahnya orang yang baru bangun tidur. Rambut berantakan, pakaian lusuh, wajah tanpa make up, dan… bekas air mata di kedua pipi?

"Ia habis menangis, ya," tahu-tahu Suigetsu berucap, mengonfirmasi dugaan kuat Moegi.

Moegi mengeluarkan helaan napas lelah yang sempat ia tahan. Hah, rasanya Sabtu ini hari yang berat bagi mereka semua.

.

.

.

Aku tidak bisa makan siang bersama besok, Itama-sensei mengajakku pergi.

Sebaris kalimat yang ditulis Sakura di group chat The Golden Trio menjadi perhatian Sasuke sejak beberapa menit terakhir. Seketika kepalanya pening.

Semua ini bermula dari Naruto yang tahu-tahu mengajak dua sahabatnya untuk makan siang bersama di restoran Prancis yang baru saja buka bulan ini. Mumpung ia kenal dengan kokinya, tukas Naruto saat Sasuke bertanya mengapa si pecinta ramen malah ingin makan siang di restoran yang kalau kata Naruto dulu tidak sanggup memuaskan rasa laparnya.

Bayangkan betapa kagetnya ia ketika Sakura mengirimkan pesan bahwa wanita itu akan menghabiskan hari Minggu bersama Senju Itama.

Sasuke tidak begitu khawatir dengan Sakura. Toh, nona Haruno itu juga sudah dewasa sekarang, bisa memilah mana yang baik mana yang tidak. Yang ia pusingkan adalah reaksi orang itu.

TING TONG!

Firasat Sasuke benar. Tanpa membuka pintu pun ia sudah tahu siapa yang saat ini tengah memencet bel apartemennya dengan tidak berperikemanusiaan.

"Teme, buka pintunya!" suara lantang Naruto memecah keheningan gedung apartemen. Sial, bisa-bisa ada tetangga yang melaporkannya ke security karena polusi suara.

Dengan tampang kesal Sasuke membuka pintu dan langsung menghadapi wajah memelas Naruto. Tangan kanannya menenteng plastik yang isinya sudah Sasuke hapal luar kepala―bir kalengan. Naruto pasti selalu mengajaknya minum tiap kali dilanda kegalauan.

"Teme!" jerit Naruto. Sasuke buru-buru mendorong temannya masuk ke apartemen, takut ada tetangga yang keluar dan melabraknya karena memiliki tamu yang terlalu berisik.

Naruto melangkahkan kaki ke ruang tengah dan duduk bersila di sofa. With his damn dirty shoes, Naruto gracefully sat right on Sasuke's white couch.

"Kau lihat kan rencana Sakura-chan besok? Aku bisa gila!"

Sasuke juga bisa gila kalau sofa putih yang selama ini ia jaga ternodai oleh kotornya sol sepatu Naruto.

"Menyingkir dari sofaku sekarang, usuratonkachi," tukas Sasuke.

Untungnya Naruto menurut. Pria itu menurunkan kaki dan mulai membuka dua buah kaleng bir. "Ayo minum, Sasuke. Aku lelah," ia menyodorkan salah satu kaleng pada Sasuke yang langsung menyambut meski ogah. Sejahat apapun seorang Uchiha Sasuke, ia tidak akan meninggalkan sahabatnya ketika sedang dilanda kalut.

Sasuke duduk di sebelah Naruto, membuka kaleng bir sembari berdoa agar Tuhan masih memberinya pendengaran yang baik selepas Naruto selesai mencurahkan isi hatinya.

"Hik, bagaimana kalau Sakura-chan tahu-tahu jadi tertarik dengan Senju-sensei?" tiga kaleng bir kemudian dan Naruto sudah mulai tepar, namun masih meracau tak jelas.

Di sebelahnya, Sasuke yang baru mengonsumsi seperempat kaleng dan tentunya masih sepenuhnya sadar hanya bisa pasrah. Ia teringat dulu saat sang sepupu Shisui mengajak Sakura makan malam berdua pun Naruto galau bukan kepalang.

"Sudahlah, lagipula Sakura kan pasti menerima ajakan si Senju itu karena tidak ingin dicap kurang sopan. Kenapa kau khawatir sekali, sih?"

"Tentu saja aku khawatir! Kalau terjadi sesuatu pada Sakura-chan bagaimana?" rajuk Naruto.

Sasuke memijat kening, frustrasi karena menghibur seseorang yang sedang patah hati bukanlah keahliannya.

"Sakura dan Itama itu dokter, Tolol. Mereka juga sudah bukan bocah lagi, pasti bisa menjaga diri sendiri. Selain itu, memang kau kira mereka mau pergi kemana sampai bisa terjadi sesuatu? Hutan belantara?"

"AH, KAU MEMANG MENYEBALKAN!"

Naruto bangkit dari duduk dan menghentakkan kaki, lalu pergi ke dapur apartemen Sasuke. Si empunya apartemen sendiri memilih untuk tidak menghentikan tamunya dan lanjut meneguk alkoholnya. Bayangkan betapa kagetnya dia ketika sesuatu dilemparkan ke kepala hitamnya.

Tangan Sasuke meraih barang yang dicampakkan Naruto. Sebungkus ramen.

Sasuke ikut berdiri dan berbalik menghadap Naruto.

"You fuc―"

"Shut the fuck up, you bollock!"

Bak anak kecil, mereka berguling di lantai dan saling menjambak rambut satu sama lain. Pengaruh alkohol dalam sistem peredaran darah rupanya sanggup membuat dua pria dewasa berkelakuan layaknya bocah ingusan yang belum diajari sopan santun oleh orangtua mereka.

"You're imbecile person, Teme!" geram Naruto, tangan kirinya menarik surai kelam Sasuke sementara tangan kanannya sibuk mendorong wajah tampan si dokter jenius.

Sasuke tak kalah beringas. Disambarnya mahkota pirang sahabatnya dengan sekuat tenaga―sebuah hal yang tentunya tak akan sudi ia lakukan dalam keadaan sadar. Maklum, meski tidak sejalan dengan keluarganya, lelaki itu merasa image dingin khas Uchiha harus selalu ia jaga. Ia balas menggeram, "And it seems you're missing a few buttons on your empty head!"

Pertengkaran tak bermutu itu pun berlanjut.

Sayang, Sakura tak ada di sini untuk menyaksikan betapa kacaunya kedua pria itu tanpa dirinya.


Keterangan :

Ticagrelor : obat pengencer darah dan juga untuk menurunkan resiko terjadinya serangan jantung.

Phenobarbital : obat untuk meredakan kejang. Jika digunakan bersamaan dengan ticagrelor, dapat menurunkan efektivitas ticagrelor

Stent : ring jantung, alat berbentuk tabung yang ditempatkan dalam sebuah pembuluh yang tersumbat

ECG : electrocardiogram, tes untuk melihat kesehatan jantung dengan mengukur aktivitas listrik jantung

AWMI : anterior wall myocardial infarction, merupakan serangan jantung yang terjadi ketika otot jantung anterior terkena dampak kekurangan darah

CAG : coronary angiography atau angiografi jantung, pemeriksaan untuk melihat kondisi pembuluh darah koroner pada jantung

A/N : Halo semua. Setelah berbulan-bulan menghilang akhirnya aku kembali lagi dengan chapter 10 yang belum kelar-kelar dari September 2020 hahaha. Sebelumnya mau minta maaf udah hilang lama banget. Kuliah bener-bener hectic and I didn't think it would be that chaotic to the point I forgot about this fic and even when I had the time to continue my writing, I had hadn't the energy and ideas to do it so I ended up abandoned this fic lmao sorry.

Sekarang juga masih kacau sih tapi saking kacaunya aku milih buat lanjut nulis aja wkwk jangan ditiru :") makasih banget buat kalian yang masih nungguin atau kembali ke fic ini dan semoga aku bisa menyelesaikannya secepat mungkin.

Buat istilah medis dan grammar, aku pasti ada salah. Jangan ragu buat naro pendapat kalian di kolom komentar ya.

Thank you and don't forget to leave your review ^^