Queridísima by Hayi Yuki
Naruto by MK
Inspired by Dr. Romantic by SBS and Hospital Playlist by tvN
Warning : may contain typo(s), grammar error(s), wrong medical term(s), etc
Happy reading ^^
Bangun pagi di hari libur mungkin bukanlah kebiasaan yang diminati oleh tiap orang, terlebih orang-orang dengan rutinitas padat di hari kerja. Sebisa mungkin memaksimalkan waktu tidurmu terlebih jika kau memilij dokter sebagai mata pencaharianmu, begitu prinsip yang dianut oleh seorang dokter berambut pirang lebat yang memang susah sekali untuk dibangunkan dari lelapnya.
Namun Haruno Sakura bukanlah tipe wanita yang hobi beranjak dari tempat tidur ketika matahari sudah berada diatas kepala. Dokter bedah umum itu tidak serta merta mengubah jadwal istirahatnya hanya karena ia tidak perlu datang ke rumah sakit di hari itu. Sakura punya kebiasaan membaca jurnal-jurnal kesehatan terbaru sembari menghirup darjeeling tea dan menikmati setangkup roti bakar.
Akan tetapi, pengecualian untuk hari ini. Alih-alih menyiapkan printer untuk mencetak jurnal terbaru, Sakura justru tengah berdiri mematut diri di hadapan cermin, sesekali mengerucutkan bibir kala tampilan yang dipantulkan kaca ternyata tidak sesuai ekspektasinya.
Mau kemanakah dia?
"Astaga, ini bukan kencan, Bego. Refreshing bersama rekan kerja! Kenapa kau sebegitu bingungnya sih memilih pakaian?" Sakura menegur diri sendiri.
Di meja riasnya―diantara peralatan makeup yang entah sejak kapan sudah tersebar di permukaan meja―terdapat selembar tiket VIP dari taman hiburan baru Konoha World.
Sakura mengerang. Kenapa juga ia mengiyakan ajakan Itama-sensei tanpa pikir panjang?
Bagaikan bisa mendeteksi keluhan Sakura, objek yang dipikirkan mendadak mengirimkan pesan singkat.
Kujemput jam 9 ya, Haruno-sensei.
Sakura kembali mengerang.
Oke, Itama-sensei.
.
.
.
Tak jauh berbeda dari Sakura yang tengah frustrasi memilih baju apa yang hendak ia kenakan untuk acara jalan-jalan dengan Senju Itama, keluh kesah juga terdengar di apartemen simple nan aesthetic milik dokter kardiovaskular kesayangan kita semua.
Matahari baru saja menunjukkan senyumnya namun Sasuke seolah tak punya tenaga untuk sekadar melakukan pemanasan pagi seperti kebiasaannya sehari-hari.
"Dasar Naruto bego," umpatnya.
Sehari sebelumnya, usai ia dan Naruto melakukan gencatan senjata karena sudah terlalu lelah―dan kesakitan, meski baik Sasuke maupun Naruto tak mengakui kalau kulit kepala mereka seolah mau copot akibat adegan jambak-menjambak yang digeluti nyaris satu jam lamanya―keduanya lanjut meminum beer kalengan yang dibawa Naruto. Sasuke tak begitu ingat apa yang terjadi setelahnya, namun ia terbangun di pagi buta dengan kepala yang cenat-cenut dan punggung kaku akibat berbaring semalaman di ruang tengah.
Naruto? Pria berambut jabrik itu malah enak-enakan berbaring di tempat tidur Sasuke lengkap dengan bantal, guling, dan selimut tebal hitam kesayangan sahabatnya. Sasuke tak habis pikir bagaimana tamunya enak-enakan tidur lelap di kamar sementara ia sebagai tuan rumah justru menghabiskan malam diatas lantai yang dingin.
Si Uchiha lalu beranjak ke dapur dan mengambil segelas air putih. Sekilas matanya melirik kalender dinding yang tergantung di dekat kulkas.
"Holy shit, I forgot to review my paper for the conference!" Sasuke menyemburkan air yang sudah nyaris mencapai tenggorokan. Pening yang semula ia rasakan seketika hilang, diganti oleh rasa panik.
Peduli amat dengan Naruto yang masih melanglang buana di dunia mimpi, Sasuke buru-buru membersihkan diri dan berganti pakaian secepat yang ia bisa.
Puas dengan kemeja marun dan celana bahan hitam yang ia gunakan, Sasuke menyempatkan sedikit waktu untuk mencoba membangunkan Naruto.
"Wake up, you idiot," ia mengguncang kasar bahu Naruto.
Tapi, Naruto yang sudah melewati puluhan kali guncangan yang sama kali ini sudah kebal. Ia malah menggulung diri di bawah selimut Sasuke.
Sasuke memutar bola mata kesal.
"Dobe, aku pergi dulu ke rumah sakit. Jangan lupa menutup pintu rapat-rapat saat kau pergi nanti."
Dengan harapan agar sahabat bodohnya sanggup mendengarnya dan tidak meninggalkan apartemen dengan pintu terbuka lebar, Sasuke beranjak pergi ke rumah sakit.
.
.
.
Sesuai janjinya, Senju Itama sudah datang menjemput Sakura saat jarum jam membentuk sudut siku-siku sempurna.
Sakura bergegas turun ke lobi, tak ingin membuat si dokter gigi menunggu lama.
"Maaf membuatmu menunggu, Itama-sensei," Sakura buru-buru mendekat.
Itama mengibaskan tangan. "Nggak, kok," ia nyengir, memamerkan sederet gigi putih bersih nan sehat. Wajar, mengingat bidang apa yang digeluti oleh pria berambut unik ini.
Keduanya lekas menuju lahan parkir apartemen Sakura.
"Omong-omong, bagaimana caranya Itama-sensei mendapatkan tiket Konoha World? Kudengar, akhir-akhir ini cukup sulit untuk mendapatkan tiket saat weekend karena mereka membatasi pengunjungnya?" sebenarnya ini pertanyaan yang sudah menggantung di benak Sakura sejak pertama kali Itama menyodorkan tiket. Terlebih, tiket yang kini ia simpan di tasnya itu adalah tiket dengan jenis VIP.
Beberapa waktu lalu saat arena permainan tersebut baru saja buka, ia dengar Konohamaru―si residen pediatri―sudah ancang-ancang duduk di depan komputer nyaris dua jam lamanya untuk mendapatkan tiket masuk ke Konoha World. Nahas, tiga menit sebelum pembukaan loket online, Naruto memanggilnya ke ruang operasi untuk menangani pasien intestinal atresia yang baru saja dirujuk dari sebuah klinik.
Seharian itu Konohamaru mengalami perang batin, antara kesal karena gagal mendapatkan tiket ke taman hiburan yang katanya nyaris mengalahkan Universal Studio di Osaka dan bersyukur karena selain bisa menyelamatkan nyawa si bayi yang baru saja dioperasi, iapun juga mendapat case study baru.
Kekehan Itama menyambangi indra pendengaran Sakura.
"Kau lupa siapa kakak-kakakku?" ia mengajukan pertanyaan retoris. Sakura jadi ingin menepuk dahi lebarnya. Benar juga, ia lupa kalau pria yang detik ini tengah memegang kemudi adalah anak bungsu salah satu keluarga paling berpengaruh di Jepang.
Itama seolah sadar ia tidak sengaja sudah membuat Sakura malu, karenanya ia balas bertanya, "Memang sesusah itu ya mendapatkan tiket masuk ke Konoha World?"
"Well, kind of. Itama-sensei kenal Sarutobi-sensei yang jadi residen di bagian pediatrik?" Sakura menceritakan pengalaman buruk Konohamaru yang gagal mendapatkan tiket idamannya.
"That hard?"
"Yeah, so I was stunned when you managed to get those tickets without problem. And for VIP category, above all."
Itama mengangguk.
Lalu, "And, does the ticket makes you happy, Sakura-san?"
Secepat Tsunade dapat melayangkan tonjokan maut ke orang yang berani menyinggung usianya yang tak lagi muda di hadapannya langsung, secepat itu juga Sakura menolehkan kepala ke dokter gigi yang masih memfokuskan pandangan pada jalan di hadapannya.
Bukan karena pertanyaan Itama, melainkan karena―
"Itama-sensei memanggilku apa?"
―dia tidak salah dengar, kan?
"'Sakura-san'? Kan memang namamu?" Itama menyempatkan diri untuk melirik heran bercampur geli.
Oh, rupanya telinga Sakura masih berfungsi dengan baik.
Yah, tapi ia kan tidak menyangka kalau akan dipanggil dengan nama kecil oleh seorang rekan kerja yang belum kenal dekat dengannya.
Memorinya sekelabat kembali di hari sebelumnya, momen dimana ia memberitahu Naruto dan Sasuke perihal tidak bisanya mereka makan siang bersama karena Sakura sudah terlebih dahulu membuat janji dengan seseorang. Sasuke tidak begitu menentang, tentu saja. Pria itu tidak pernah melarang atau mengiyakan apapun yang Sakura akan perbuat.
Yang membahayakan adalah Naruto. Si pirang jabrik selalu mencak-mencak tidak jelas tiapkali Sakura bilang ia memiliki agenda bersama pria diluar zona pertemanan mereka. Sakura tak pernah menganggap serius sikap Naruto, karena toh ia menganggap reaksi Naruto murni karena pria itu khawatir akan keselamatan sang sahabat sejak masa kecil―seolah-olah Sakura mau pergi berperang saja.
Namun kemarin, bukannya ngambek seperti yang biasa ia lakukan, Naruto malah diam begitu saja. Tidak membalas pesannya sama sekali di group chat, tidak pula meneleponnya untuk mengomel.
"Sakura-san, wahana apa yang mau kau coba pertama kali nanti?" suara Itama lekas membawa Sakura ke dunia nyata.
And, God knew why, she didn't feel like this was the right thing to do.
.
.
.
"Lho, kemana Ayame-san?"
Teuchi berbalik badan ketika ia merasa seseorang bertanya padanya. Sedikit heran juga dirinya ketika melihat siapa yang berdiri di seberang counter kasir, lantaran tak biasanya Hyuuga-sensei sudah tiba di rumah sakit sepagi ini, ketika dirinya masih sibuk berbenah dan kafetaria belum memasuki jam operasional.
"Aku menyuruhnya mengambil istirahat sehari dan pergi ke rumah bibinya yang sedang sakit," sahutnya.
"Kalau begitu, apa ada sesuatu yang bisa aku pesan untuk sarapan, Teuchi-ojiisan?"
Tentu saja ada. Bukan Teuchi namanya kalau ia tidak mampu menyajikan hidangan enak nan sehat pada tiap pelanggannya, terlebih wanita satu ini adalah salah satu dokter yang sikapnya patut dijadikan sebagai panutan bagi yang lain.
Setelah memastikan si paman pemilik kafetaria menyanggupi permintaannya untuk membuatkan Hinata sarapan―tamagoyaki dengan miso dan nasi putih, tak lupa segelas ocha hangat―wanita bermarga Hyuuga itu duduk manis di salah satu pojok kafetaria dengan tablet yang menampilkan jurnal bertemakan studi tentang pengaruh fraktur femur terhadap keadaan psikis seseorang.
A doctor must always prepared his or her brain to learn, for one might ecounter a case in which they have no experience to deal with it.
Kelar sarapan, Hinata tak segera kembali ke ruangannya. Ia menyempatkan diri melakukan hal yang biasa ia lakukan tiap pagi, menyambangi kamar-kamar pasien rawat inapnya. Beberapa sudah terbangun dan menyapa hangat orang yang sudah berjuang menyembuhkan mereka. Beberapa masih tenggelam dalam dunia bawah sadar dan Hinata hanya tersenyum sembari membetulkan letak selimut pasiennya.
Yah, memang masih terlalu pagi untuknya sudah berkeliaran di rumah sakit.
Semua ini karena telepon dari sang ayah yang ia terima sehari yang lalu.
Kau memang aib keluarga, Hinata.
Ucapan Hiashi terngiang kembali di kepalanya, memaksa Hinata untuk duduk menenangkan hati di salah satu koridor sepi yang jarang dilewati.
Percuma kau bersekolah hingga menjadi spesialis jika kau masih saja membangkang.
Tawa miris menguar dari sepasang bibir. Percuma? Sia-sia? Hinata teringat pada pasien-pasien yang baru lima menit lalu ia jumpai dan kaki, tangan, ataupun bagian tubuh lain dari mereka yang ia operasi dan jangan lupa juga orang-orang yang datang untuk berkonsultasi padanya mengenai kesehatan mereka dan mendadak ia menangis―lagi.
Sudah berapa kali ia mencucurkan air mata sejak siang kemarin?
Sejak kecil Hinata selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di mata ayahnya. Ketika Hanabi mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia jauh lebih cerdas dan tanggap dibanding kakaknya, Hinata menurunkan ekspektasinya. Setidaknya, ia harus selalu terlihat baik di mata Hiashi.
Dan lihatlah dirinya sekarang, seorang dokter spesialis orthopedi dengan puluhan atau bahkan ratusan pasien yang sudah berhasil diselamatkan dan dibantu dan tetap saja ia adalah seorang yang gagal di hadapan sang ayah.
Hinata iri dengan Haruno-sensei yang orangtuanya―damn, those two might had a weird relationship but still, they loved their daughter dearly―mendukung sepenuhnya keputusan anaknya apapun itu, iri dengan Senju-sensei yang meski berasal dari keluarga konglomerat layaknya Hinata namun tetap memiliki kebebasan untuk menentukan sesuatu tanpa merasa takut dan bersalah, bahkan iri dengan Namikaze-sensei yang meski seorang yatim piatu namun tetap yakin bahwa ayah dan ibunya akan bangga dengan anak mereka jika keduanya tahu apa yang telah Naruto capai hingga saat ini.
Satu lagi.
Hinata sangat amat iri dengan Uchiha-sensei yang memiliki latar belakang sama seperti dirinya, namun tidak terpengaruh oleh ucapan dan tindakan keluarganya. Uchiha Sasuke tidak akan pernah membiarkan dirinya jatuh ke dalam kesengsaraan karena keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari seseorang.
She did really want to have the audacity to do so, except she didn't.
Ketika sepasang kaki berbalut sneakers putih keluaran terbaru memasuki zona penglihatan, Hinata yang menunduk perlahan mengangkat wajahnya, dan sepasang bola mata hitam legam bertembung dengan iris pucat si nona Hyuuga.
"Uchiha-sensei?"
Suaranya tak lebih dari sekadar bisikan lemah, memaksa Sasuke untuk menajamkan pendengaran.
Hinata tidak paham kenapa dari sekian orang di dunia ini, harus Sasuke yang menemukannya dalam kondisi seperti ini.
Dan Hinata juga tidak mengerti, mengapa ia kini berakhir dalam dekapan Uchiha Sasuke.
.
.
.
Konoha World di hari libur bagaikan pasar swalayan sehari sebelum perayaan Natal, ramainya tak terkira! Sakura yang sudah beberapa lama tak menginjakkan kaki di amusement park seperti ini membulatkan mulut ketika melihat antrian di salah satu wahana terfavorit di sana, roller coaster.
"Untung saja kita masuk dengan tiket VIP, jadi nggak perlu mengantri lama," Itama seolah membaca pikiran Sakura.
Lagipula, tidak mungkin juga pria sekelas Senju Itama mengajak seorang perempuan ke taman hiburan yang ramai dan tetap membiarkan si wanita mengantri demi menjelajah tiap wahana yang ada.
Keduanya saat ini tengah duduk manis di balkon salah satu coffee shop di dalam area food court. Dengan kekuatan free pass yang mereka miliki, Sakura dan Itama sudah berhasil menaiki sekitar lima wahana. Mengingat ramainya pengunjung yang datang di hari Minggu ini, lima wahana merupakan sebuah pencapaian besar.
Sembari mengunyah crème brûlée yang ia beli sebagai snack siang ini, Sakura melihat-lihat foto yang berhasil ia dapatkan beberapa jam terakhir.
"Wah, Itama-sensei bagus juga ya kalau mengambil foto," sebagai seseorang yang biasanya memotret sahabat-sahabatnya dengan usaha maksimal namun mendapatkan balasan yang minimal, Sakura mau tak mau kagum dengan kelihaian si dokter gigi dalam mengabadikan setiap momen.
Di layar handphone-nya kini, terpampang foto-foto Sakura yang sudah diambil Itama sejak tadi. Sakura di depan gerbang Konoha World, Sakura di samping kuchisake onna saat mereka memasuki rumah hantu, Sakura diantara hamparan blue hill salvia sewaktu mereka mengunjungi rumah kaca, dan Sakura-Sakura lainnya.
"Ah, yang ini aku suka!"
Yang ia maksud adalah fotonya ketika Sakura memegang gulali merah muda yang dibelikan Itama ketika mereka keluar dari rumah hantu. Awalnya ia menolak, namun luluh ketika si pria Senju bersikeras tidak akan beranjak selangkah pun kecuali jika Sakura menerima si gulali.
Kembali ke detik ini, begitu Sakura menjulurkan ponsel agar Itama dapat melihat foto manakah yang ia bicarakan, saat itulah Sakura sadar jika perhatian pria itu sejak awal tidak pernah beralih darinya. Segelas es kopi yang dipesan Itama sudah mulai kehilangan dinginnya dan Sakura, terlalu sibuk dengan foto di ponsel, tidak sadar akan tatapan yang ia terima.
She choked up when she realized what was the hiding behind his gaze.
Itama, berdasarkan amatan Sakura sejak awal mereka bertemu, memiliki fisik yang sangat unik. Alih-alih berambut hitam bak si kakak sulung Hashirama ataupun putih salju seperti Tobirama, bungsu Senju ini memiliki perpaduan keduanya. Hitam di salah satu sisi dan putih di sisi lainnya. Mungkin karena itulah, seantero Rumah Sakit Konoha membicarakan dokter gigi mereka yang baru saat Itama pertama kali bekerja di sana.
Dan layaknya rambut Itama yang terbelah menjadi dua warna, sebagian pikiran Sakura pun juga terbagi. Yang duduk di hadapannya ini adalah Itama dengan surai hitam dan putih, namun otaknya menciptakan visualisasi seseorang dengan rambut pirang jabrik.
Sakura tidak suka ini.
Karena sepasang iris Senju Itama jelas-jelas memancarkan pesona warna coklat terang―layaknya sang kerabat Tsunade―dan dalam kepala Sakura yang terpatri adalah sepasang bola mata safir yang tak kalah terangnya.
Kelopak matanya terpejam erat. Agenda yang awalnya ia yakini hanyalah sebuah pelepasan penat biasa dengan rekan sejawat seketika berubah total. Karena ia paham apa yang ingin Itama bilang dari sorot matanya, dan karena Sakura pun sadar mengapa otaknya seolah mengkhianati matanya.
Ia tak ubahnya orang tolol yang tak tahu apa isi hatinya yang sejujurnya. Dan karena itulah, ia penyebab hati seseorang tertoreh oleh kejamnya jarum penolakan. Sakura mendadak benar-benar merasa ia bagaikan air tuba dan Itama adalah si air susu.
Karena hanya dalam satuan detik perubahan ekspresi Sakura, Itama paham ia telah kalah telak. Peribahasa yang tepat dengan situasinya detik ini mungkinlah kalah sebelum berperang.
"Haruno-sensei?"
It wasn't 'Sakura-san' anymore, he brought the formal way of calling her back. Her guilty burned her down to ashes but somehow it also created relief in her heart.
Sakura memberanikan diri mengangkat iris hijau menuju tatapan lawan bicaranya, membayangkan pancaran kekecewaan nan penyesalan di mata hazel Itama, namun diluar dugaan pria itu malah memandangnya ramah.
"It's okay, I'm fine! Just like what Oscar Wilde has said, a heart was made to be broken," kalau dibilang baik-baik saja, rasanya tidak juga. Namun Itama tidak akan mengungkit itu tepat di depan hidung Haruno-sensei.
Karena Itama paham, tidak semua hal positif―termasuk diantaranya rasa untuk mencintai―yang manusia lakukan dan harapkan akan dibalas pula dengan ganjaran yang setimpal―atau untuk kasusnya, dicintai balik. Terkadang, kita memang ditakdirkan untuk jatuh terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan apa yang selama ini dicari.
A heartbreak was God's way of letting you realize that He actually saved you from the wrong one.
"Kejar dia, Haruno-sensei. Don't let him slip off your finger again and again, okay?"
Sakura tidak perlu disuruh dua kali.
.
.
.
Tiga minggu terakhir, Naruto menghabiskan akhir pekan di rumah sakit akibat meningkatnya pasien yang membutuhkan penanganan seorang dokter spesialis pediatrik. Alhasil, begitu minggu ini Kakashi menyimpulkan bahwa semua kasus yang ada dapat ditangani oleh dokter lain, pria itu kontan melarang Naruto―dengan alasan apapun―untuk menginjakkan kaki di rumah sakit.
Dan akibat dari perintah Kakashi yang sebenarnya dilandasi oleh kebaikan itulah Sakura kini pontang-panting mencari sahabat berambut pirangnya.
Apartemen Naruto adalah tempat yang pertama kali ia datangi, dan begitu yakin bahwa di tempat itu nihil ditemukan objek yang tengah dicari, Sakura menghubungi rekan-rekan yang mungkin mengetahui keberadaan Naruto.
"Ah, Namikaze-sensei tidak bilang padaku apa rencananya hari ini. Dia juga tidak datang ke rumah sakit, kok."
Konohamaru.
"Naruto? Entahlah, aku tidak melihatnya seharian ini. Antara ia pergi saat dini hari sebelum aku terbangun, atau malah tidak pulang sama sekali."
Jiraiya.
"Bocah itu hilang? Sudahlah, mungkin ia sedang berkunjung ke rumah temannya atau siapapun yang ia kenal. Kau tahu, Naruto punya banyak kenalan dari berbagai kalangan. Oh ya, bagaimana kencanmu dengan Itama?"
Tsunade―dan juga, Sakura harus mengelak dengan tawa kikuk pada pertanyaan si dokter senior yang rasanya membuat perutnya mulas mendadak.
"Dobe? Ya, dia menginap di tempatku semalam. Kau tidak menemukan si bodoh itu di apartemennya? Tidak, sewaktu aku pergi, ia masih ngorok di tempat tidurku. Hei, kenapa kau menyalahkanku?"
Sasuke, disertai dengusan serta gerutuan khas seorang Uchiha. Ngomong-ngomong….
"Need to go off-topic for a minute, but, Sasuke, kau sedang bersama siapa?" wajar jika Sakura bertanya seperti itu dengan kerutan tipis di kening. Sudah jadi rahasia umum bahwa sedikit sekali lawan jenis yang mampu ditolerir oleh Sasuke, dan suara samar-samar seorang wanita yang Sakura dengar dari teleponnya membuatnya bertanya-tanya siapa gerangan wanita yang berada di ujung sana.
Sasuke menggumamkan sesuatu seperti 'Bukan urusanmu' dan 'Aku sibuk' sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Baiklah, abaikan saja Sasuke dan wanita misteriusnya. Sakura merasa mencari tahu dimana Naruto saat ini jauh lebih penting dibandingkan mengulik kegiatan terkini si Uchiha bungsu.
Otak cemerlangnya berputar, berpikir dimana kira-kira Naruto dapat ditemukan.
Sejenak kemudian, si pinkette menjentikkan jari. Rasanya, ia tahu dimana Namikaze Naruto berada.
.
.
.
Sekuntum krisan putih bertengger manis di hadapan makam pasangan Namikaze. Keberadaan bunga itu tentulah disebabkan oleh sosok pria berkulit tan yang kini berjongkok sembari memainkan kelopak krisan yang tergapai oleh jarinya.
"Aku kangen Tou-chan dan Kaa-chan," gumamnya.
Jika ia diberi kesempatan untuk mewujudkan satu saja dari sekian impian absurd yang ia miliki, Naruto takkan ragu untuk meminta agar ia dapat dipertemukan kembali dengan orangtuanya. Ada banyak sekali yang ingin ia sampaikan pada keduanya. Mulai dari hal remeh seperti kenapa Jiraiya selalu merinding acapkali Naruto menyinggung nama sang ibu hingga sesuatu yang berat seperti mengapa dari sekian banyak spesialis yang dapat diambil, Minato mengambil bedah umum untuk dipelajari.
Naruto menatap surat pemberian Kakashi yang ia genggam erat saat ini.
"Ah, aku ingin sekali curhat ke Kaa-chan―"
―tentang wanita yang ia sukai.
Haruno Sakura did match her mother's preference, wasn't it?
Desahan napas lelah menguar dari mulutnya. Ia mendadak merasa seperti bocah remaja yang patah hati ditinggal oleh sang cinta pertama. Hal itu tidak sepenuhnya salah, sih, tapi Naruto merasa malu di usianya yang sudah matang sekarang, dirinya masih saja terpengaruh oleh masalah hati yang seharusnya tak lebih penting dari beberapa aspek kehidupan lainnya.
Tapi, bagaimana ia bisa bertingkah laku seolah si cinta pertama bukanlah dorongan terbesarnya untuk bangun setiap harinya jika wanita itu ada dimanapun ia berpaling? Sakura adalah sahabat, rekan kerja, partner belajar, penasehat finansial, supervisor kebersihan apartemen, dan entah apa lagi jabatan yang wanita itu pegang dalam kehidupan Naruto. Sejauh apapun Naruto berlari, selalu ada Sakura dimanapun ia berlabuh.
Dan yang mampu ia lakukan hanyalah menerima fakta bahwa Haruno Sakura adalah poros kehidupan dari seorang Namikaze Naruto. Sakura adalah matahari untuk dirinya yang merupakan bumi. Atau, seperti yang Sasuke pernah ucapkan padanya di masa lampau, Sakura adalah tanah tempat Naruto berpijak, menarik pria itu dengan gravitasinya hingga Naruto takkan mungkin menemukan pijakan lain.
"Naruto!"
Naruto menggeleng lemah sembari tertawa pelan. Tuh kan, baru juga dipikirkan. Saking terpakunya ia pada Sakura, suara wanita itu sampai terngiang di dalam kepalanya.
"Naruto, kau tidak mendengarku?"
Aneh, suara itu terasa semakin mendekat. Naruto mengangkat kepala dan menoleh ke gerbang pekuburan dan melongo kala objek yang memenuhi kepalanya kini ada di sana, melambaikan tangan padanya dengan sepasang tungkai yang bergerak membawanya ke pria pirang yang berlutut kaku di tengah makam.
Sekilas terlihat seperti sepasang kekasih hati yang hendak melakukan pertemuan kembali setelah sekian lama, Naruto meneguk ludah gugup ketika ia sadari bahwa air muka Sakura sekarang sangat tidak mencerminkan skenario itu. Rasanya, ia mau mencari tempat sembunyi dari si dokter bedah umum.
"Sakura-chan?" niatnya ingin berujar normal, Naruto malah berbisik begitu Sakura tiba di hadapannya.
Si wanita berambut merah muda berkacak pinggang. "Heran, perlu berapa panggilan untukmu bisa mendengarku tadi, hah?" bukan Sakura namanya jika tidak mengomeli Naruto tiap setengah jam sekali.
Belum sempat Naruto membuka mulut, Sakura kembali melontarkan kata demi kata untuk mengomeli sahabat pirangnya.
"Dan juga, berani sekali kau mematikan handphone-mu meski sedang memiliki waktu kosong? Naruto, kau tahu kan kalau akhir minggu begini biasanya selalu ada pasien yang butuh penanganan dokter pediatrik? Bagaimana jika ada seseorang yang butuh pertolonganmu namun kau tidak kunjung datang karena tidak bisa dihubungi? Atau bagaimana jika ada seorang wanita yang membatalkan kencannya demi orang bodoh sepertimu? Kau tahu, percuma rumah sakit memberikanmu gaji berlimpah tiap bulannya jika kau bahkan tak tahu apa fungsi smartphone yang kau beli itu!"
Percaya atau tidak, Sakura tidak mengambil napas ditengah-tengah omelannya. Naruto rasanya ingin memberikan tepuk tangan atas kemampuan mengatur napas milik Sakura, andai bukan ia yang jadi tersangka utama dibalik omelan tersebut.
Tapi tunggu, ada satu kalimat yang mengganjal dan menarik perhatian.
"Sakura-chan?"
Sakura mengerutkan alis. Apakah Naruto masih punya nyali untuk membantahnya?
"Kau membatalkan kencanmu dengan Senju-sensei? Untukku?"
Shit, Sakura keceplosan. Wanita itu lantas menutup wajah dengan kedua tangan, frustrasi sendiri mengapa hari ini ia melakukan berbagai tindakan yang sangat tidak mencerminkan Haruno Sakura.
Melihat Sakura yang gelagapan sendiri sontak membuat Naruto tersenyum lebar. Ia tidak salah dengar ternyata.
Iris biru safir berpaling pada dua nisan yang selalu menjadi tempatnya mengadu jika terjadi sesuatu.
"Kaa-chan, kau lihat ini? Your son has finally got his dream girl!" kekehan pelan terdengar dari mulut Naruto, mengundang Sakura untuk pelan-pelan menurunkan kedua belah tangan dari wajah dan menatap sosok yang memenuhi kepalanya siang ini.
Sasuke memang tampan, namun Sakura juga sadar dengan fakta bahwa sahabat pirangnya ini pun juga dianugerahi tampang yang diatas rata-rata. Rambut pirang acak-acakan yang justru terlihat cocok dengannya, kulit tan yang sering dibicarakan oleh para perawat, tiga pasang tanda lahir yang kerap kali mengundang perhatian pasiennya, dan yang menjadi favorit Sakura; iris biru yang seolah mampu memenjarakannya tiap kali Sakura beradu pandang dengan Naruto.
Dan jika ditanya momen apakah yang menonjolkan daya tarik Naruto, Sakura akan menjawab momen dimana Naruto tertawa kecil dengan bibir membentuk segaris senyuman tipis dan sepasang mata sebiru samudra diantara helaian poni pirangnya.
"I know I am a fine-looking person, too fine in which it makes you concentrate on."
Contohnya, detik ini juga, dimana Sakura merasa ia tak ubahnya maling yang tertangkap basah sedang mencuri sesuatu. Namun, untuk kasusnya, ia tak mencuri barang, hanya mencuri pandang pada si Namikaze disertai tatapan yang, uh, cukup intens. Kata-kata Naruto bagaikan minyak tanah pada bara rasa malunya. Sakura mendadak merasa ia ingin berteleportasi dari pijakannya sekarang dan bersembunyi entah di mana.
"A flustered Sakura-chan will be one of my favourite version of you," ucap Naruto pelan.
Kalau saja Sakura tidak sedang dilanda rasa malu yang hebat mungkin kepalan tangan sudah mendarat di kepala jabrik Naruto. "Jangan menggodaku, Bodoh!" ia hanya mampu berseru kosong, tidak mengandung kemarahan seperti yang biasa ia lontarkan pada si pirang.
Naruto tertawa lagi. Tangan yang semula terbenam dalam kedua kantong celana dikeluarkan salah satunya, lalu diulurkan pada Sakura.
Kening Sakura berkerut bingung.
"Ayo, Sakura-chan."
Kemana?
"Well, now that we've come to accept our feelings for each other, shall we go on a date to celebrate it?"
Dasar Naruto, membuatnya seperti orang kurang ajar saja, membatalkan satu kencan untuk kencan lainnya.
A/N : Chapter pertama yang nggak ada footnotes untuk medical terms-nya hahaha. Chapter ini sebenarnya adalah bagian dari chapter sebelunya, tapi Hayi kemarin buntu banget dan memutuskan untuk membagi dua chapternya biar nggak kelamaan ga update wkwk.
Buat yang bertanya kenapa dari sekian karakter, Hayi milih Itama? Soalnya Hayi seneng aja sama Senju Brothers hehe. Kenapa banyak dialog/narasi pakai English? Soalnya Hayi―meski kemampuan bahasa Inggrisnya amat sangat pas-pasan―kadang susah nemu kata yang pas dalam Indo jadi akhirnya pakai Inggris aja hehe.
Chapter ini juga memperingati mulainya Hospital Playlist S2 yang baru aja rilis episode 1 nya, tapi tolong jangan bandingkan fic ini sama dramanya ya soalnya dijamin langsung kebanting.
Buat penggambaran Naruto di chapter ini, Hayi terinspirasi dari salah satu fanart yang Hayi temuin di pint*rest, kalo berminat bisa PM aja buat liat yang mana hehe. Last, don't forget to leave a review on your way out. See you next chapter ^^
