Queridísima by Hayi Yuki
Naruto by MK
Inspired by Dr. Romantic by SBS and Hospital Playlist by tvN
Warning : may contain typo(s), grammar error(s), wrong medical term(s), etc
Chap ini mengandung 90% SASUHINA
Happy reading ^^
Summer. Musim panas.
Suasana di Konoha tak ubahnya Gurun Sahara di bulan Agustus. Panas tak terkira! Meski baru memasuki beberapa minggu di musim panas, warga Konoha yang telah terbiasa dengan suasana hangat nan menenangkan khas musim semi sudah tak kuat jika tak berada dalam ruangan ber-AC lebih dari dua puluh menit. Seketika, semua pusat perbelanjaan dan restoran menjadi ramai dengan orang-orang yang memesan hidangan termurah yang disajikan namun menetap di kursinya selama lima jam penuh.
Dan jika ada yang mengatakan kalau rumah sakit tidak akan penuh hanya karena orang malas menerpa panasnya cuaca, mereka salah besar.
Lihat sekarang, lobi Rumah Sakit Konoha sama saja dengan factory outlet di dekat pusat perbelanjaan itu. Sama-sama ramai oleh kumpulan manusia. Yang membedakan adalah tujuannya. Factory outlet saat ini dipenuhi karena sedang menebar diskon besar-besaran, Rumah Sakit Konoha dipenuhi oleh orang-orang yang merasa perlu untuk memeriksakan diri akibat keringat berlebih dan tidak bisa membedakan mana kepanasan akibat pancaran sinar matahari dan mana demam sungguhan yang memang membutuhkan paracetamol.
Moegi menghela napas panjang melihat jejeran pria maupun wanita yang sedang mengantri di kafetaria, membuat Teuchi dan Ayame kewalahan dengan banyaknya pesanan ice coffee latte atau ice lemon tea yang harus dilayani.
"Kalian harus tahu, es krim batangan yang ada di freezer minimarket ludes dalam sekejap," Udon datang dengan sekantung es krim yang langsung disambar oleh Konohamaru.
Benar-benar, kalau rumah sakit saja penuh, apa kabar café dan mall di luar sana?
"Aku heran. Padahal orang-orang ini bisa saja ngadem di tempat lain, ngapain ke sini, sih?" keluh Konohamaru sambal menggigit es krim semangkanya. Sebenarnya, ia benci pada es krim buah-buahan, namun apa boleh buat. Hanya itu yang tersisa ketika Udon mampir ke minimarket tadi. Mau mencari es krim vanilla di minimarket luar pun ia tak punya tenaga untuk berjalan di bawah teriknya matahari. Selain itu…
"Sarutobi-sensei, sedang apa? Namikaze-sensei sudah menunggumu di ruang praktik!"
Konohamaru nyengir. Bungkus es krim dibuangnya ke tempat sampah terdekat dan ia segera berlari menuju ruang praktik departemen pediatrik.
Dua pasang mata mengikuti bayangan Konohamaru.
Moegi dan Udon bertukar pandangan. Dalam benak mereka timbul pikiran yang sama.
Hari ini akan menjadi hari yang berat.
.
.
.
Hayate membaca chart pasien yang saat ini duduk di depan meja Hyuuga-sensei. Ia bukan tipe perawat yang hobi menelisik kehidupan pribadi seorang pasien―ia bisa kena sanksi kalau menyalahgunahi kepercayaan yang sudah diberikan padanya sebagai seorang tenaga medis―namun semua orang di rumah sakit juga tahu kalau si pendiam Hayate ini adalah penggemar berat olahraga baseball, terlebih klub asal prefektur Hyougo, Hanshin Tigers.
Dan yang saat ini duduk sebagai pasien dari Hyuuga-sensei adalah salah satu pemain termuda klub favoritnya, Morino Idate.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan monoton sebagai asisten medis dokter ortopedi di Rumah Sakit Konoha, keberuntungan datang padanya.
Hinata mempelajari rekam medis si pasien yang tertera di layar komputernya. Sebagian kecil dari otaknya bertanya-tanya mengapa hari ini Hayate terlihat sumringah meski cuaca seolah hendak mematahkan semangat seluruh penduduk Konoha.
"Jadi, Morino-san, sudah berapa lama Anda merasa ada yang aneh dengan tangan kanan Anda?"
Si pemain baseball mengusap lengannya sembari menjawab pertanyaan Hinata, "Sebenarnya baru sehari kemarin. Saat ini saya sedang berkunjung ke rumah kerabat saya dan mungkin terlalu memforsir diri saya sendiri ketika seharusnya saya menggunakan waktu luang untuk beristirahat."
"Kelihatannya Anda melakukan beberapa pekerjaan berat di rumah kerabat Anda."
Idate tertawa kikuk. "Tidak juga, sensei. Kerabat saya dulu juga atlet, lebih tepatnya atlet tenis sebelum memutuskan untuk pensiun dini. Saya rasa, jiwa kompetitif saya masih membara dan akibatnya saya melukai diri sendiri demi mengalahkan kerabat saya," ia kembali memijit pelan lengan kanan yang menjadi alasannya datang ke rumah sakit di masa liburan.
Hinata mengabaikan gumaman samar Hayate dan memutuskan untuk menjelaskan hasil MRI kepada sang pasien.
"Anda bisa lihat bagian yang ada di dekat siku ini? Ini namanya tendon, yang berfungsi untuk menghubungkan otot dan tulang dan bertugas untuk memindahkan kekuatan dari otot ke tulang kita. Karena itulah, tangan kita bisa menghasilkan gerakan. Dalam kasus Morino-san, tendon Anda rupanya mengalami peradangan sehingga Anda mengalami sakit di bagian lengan tiap Anda menggerakkan pergelangan tangan Anda," Hinata menunjuk bagian yang dimaksud, yang segera disambut anggukan oleh Morino Idate.
Dalam hati Hinata tersenyum geli. Ada-ada saja, pitcher andalan klub baseball ternama mendapatkan cidera dari permainan tenis pada waktu luangnya.
"Apa itu parah, Hyuuga-sensei?" Morino bertanya dengan raut wajah khawatir. Jelas saja ia berwalang hati, perawat yang berdiri di belakang Hyuuga-sensei itu memasang ekspresi aneh sejak awal ia menginjakkan kaki ke dalam ruangan.
Hinata menggeleng lembut. "Untungnya tidak, karena Anda cepat tanggap dan langsung pergi ke rumah sakit. Morino-san hanya perlu berhenti melakukan pekerjaan berat untuk seminggu ke depan. Kalau sakitnya kembali, bisa menggunakan ice packs untuk meredakannya. Akan saya berikan resep untuk obatnya."
Sementara si Hyuuga menuliskan resep obat untuk pasiennya, Hayate berkutat dengan pikirannya. Ia sedang memikirkan kata-kata yang cocok untuk meminta tanda tangan idolanya kala Hinata tiba-tiba menyodorkan secarik kertas karton―entah didapatkan dari mana―pada Idate yang melongo bingung.
"Hyuuga-sensei?" heran Idate.
"Boleh minta tanda tangan Morino-san? Untuk perawatku," si nona Hyuuga berbalik ke arah Hayate dan mengedipkan sebelah mata.
Rasanya, Hayate mau menangis terharu.
Usai Morino selesai dengan tanda tangan dan Hinata merampungkan resepnya, atlet baseball itu mohon diri.
"Haah, Hayate-san ternyata benar-benar penggemar baseball, ya?" Hinta meregangkan tangan diatas kepala. Maklum, hari ini jumlah pasien yang harus ia tangani rasanya sedikit lebih banyak dari biasanya.
Hayate tersenyum kikuk. Di tangannya kini tergenggam tanda tangan Morino Idate. Ia benar-benar merasa terenyuh dengan perhatian yang Hyuuga-sensei berikan.
"Medial epicondylitis… Aku bukannya senang karena dia mengalami cidera, tapi kalau bukan karena itu, kau tidak bisa bertemu dengan Morino-san, bukan?"
Iya sih.
"Semoga Morino-san cepat sembuh," sahut Hayate dengan senyum sumringah yang jarang-jarang ia tampilkan.
"Semoga," setuju Hinata.
Keduanya serentak menoleh pada dinding di bagian kiri mereka―atau lebih tepatnya, pada jam dinding yang terpasang di sana.
"Waktunya makan siang," Hayate ternyata berpikiran sama dengan dokternya.
Hinata mengangguk. "Kalau begitu, aku duluan, ya."
"Hyuuga-sensei tidak ingin ke kafetaria?" tanya Hayate saat Hinata malah berbelok ke arah yang berlawanan dari kafetaria.
Kali ini Hinata menggeleng, menolak ajakan halus asistennya untuk makan bersama. Ia lebih memilih memakan ebi furai yang sudah ia bawa sebagai bekal di ruangannya saja. Ah, mungkin juga dengan sebotol es kopi dari vending machine.
Sebenarnya, ada alasan khusus mengapa belakangan ini Hinata mengurangi frekuensinya berada di lokasi dengan banyak orang berseliweran. Sembari mengunyah udangnya, memori pada weekend yang lalu kembali menguar.
.
.
.
[Flashback]
Hinata masih tidak mengerti, mengapa ia kini berakhir dalam dekapan Uchiha Sasuke.
Baginya, Uchiha Sasuke masihlah menjadi momok yang menakutkan. Ingat bagaimana pria itu dengan beringasnya mendorong Karin hingga terjatuh saat mereka masih sekolah dulu? Hinata tidak begitu paham apa yang sebenarnya terjadi, namun sejak saat itu ia bertekad untuk selalu menghindari Sasuke. Ingat juga pada momen dimana si dokter Uchiha mem-fitnah-nya sebagai pacarnya, hingga ia dihadang Karin bak maling yang baru saja mencuri.
Dan, yang paling membekas di otak cerdas Hinata, adalah saat dimana Sasuke tidak sengaja memeluknya di rooftop rumah sakit demi menghindari kecurigaan dari duo hijau Rumah Sakit Konoha. Jika ia diminta untuk berbohong, Hinata akan dengan mantap mengatakan bahwa ia tidak merasakan getaran apapun akibat kejadian tersebut. Namun, jika ia harus berucap jujur, Hinata mungkin akan menyatakan bahwa ia nyaris tidak bisa tidur malam itu karena punggungnya seolah masih mengecap rasa hangat dari seorang Uchiha Sasuke.
"Hinata?"
Sasuke membelai rambut Hinata dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya berlabuh pada punggung Hinata, memberi wanita itu tepukan lembut beberapa kali sebagai penenang.
Diberi perlakuan seperti itu, Hinata makin mewek. Ia menenggelamkan wajah di dada Sasuke―seriously, this man is too tall for her!
Iris kelam Sasuke tak lepas dari sosok Hinata. Kedua tangan perlahan melingkari tubuh si nona Hyuuga, merasa Hinata sedikit menegang sebelum akhirnya kembali melemaskan otot dan menyandarkan diri pada Sasuke.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara diantara keduanya. Hinata tetap menangis―ralat, ia berusaha sekuat mungkin untuk meredakan isakannya―di dada Sasuke dan pria itu tetap mendekap erat Hinata, sesekali mengelus kepala indigo wanita itu.
Dengan Hinata yang masih berupaya agar air matanya semakin reda, Sasuke jadi punya waktu untuk berpikir. Pagi ini ia datang tanpa tujuan yang jelas selain untuk mengecek ulang paper untuk symposium yang akan diadakan beberapa hari mendatang. Hari ini ia tidak ada jadwal praktik dan operasi sehingga Sasuke merasa tak ada salahnya untuk mengembara sejenak ke beberapa pelosok rumah sakit sebelum mendekam di ruangannya.
Asam di darat, ikan di laut bertemunya di melanga. Apabila sudah jodohnya, laki-laki dan perempuan akan bertemu juga meski berjauhan.
Bagaikan sepucuk peribahasa di atas, sewaktu Sasuke hendak memutar arah saat dirinya tiba di satu sayap yang jarang dilalui penghuni rumah sakit, mata tajamnya menangkap bayangan familiar tengah duduk membungkuk di salah satu kursi tunggu. Hyuuga Hinata.
Sudah beberapa waktu ia tidak pernah melihat atau mendengar kabar tentang si ahli tulang, dan meski ia akui nona bangsawan satu ini sejak dulu tak pernah gagal menarik perhatiannya, Sasuke merasa ia bukan seseorang yang Hinata harap akan menghampirinya.
Hingga desak tangis wanita itu menyusup ke dalam indra pendengaran Sasuke. Lelaki itu bergeming, lalu perlahan menggerakkan kedua tungkai hingga ia sampai tepat di depan Hinata.
Long story short, that's how she ended up bawling her eyes out right in Sasuke's arms.
.
Tak ingin menimbulkan kecurigaan jika salah satu petugas medis atau pasien melewati koridor tempat Hinata kini menumpahkan air mata, Sasuke membimbing wanita itu ke rooftop. Hinata merasa pipinya merona kala sepasang mata pucatnya menangkap lokasi dimana keduanya sempat 'berpelukan' beberapa waktu lalu, namun Sasuke kelihatannya terlalu masa bodoh untuk hal seperti itu.
Yang Hinata lihat saat ini belum tentu apa yang sebenarnya jadi kenyataan.
Sasuke mengikuti arah pandang Hinata dan seketika reminisensi tentang apa yang pernah terjadi di dalam tempat itu kembali mengambil bagian dalam ingatan. Kalau pengendalian dirinya tidak tinggi, mungkin sudah muncul rona kemerahan di sepasang pipi.
Masih menuntun Hinata seolah si Hyuuga adalah pasien fisioterapi dan Sasuke adalah dokternya yang mengabdi dengan segenap hati, Sasuke membawa Hinata duduk di salah satu sisi rooftop yang belum terkena panasnya sinar matahari pagi.
Now, how to break the awkwardness between us?
Sasuke mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena kurang berpengalaman dalam hibur menghibur lawan jenis. Coba kalau si Dobe yang ada di sini, ia pasti tidak akan kesulitan memutar otak mencari cara bagaimana ia tidak akan semakin menghancurkan mood Hinata.
Ah ya, benar juga.
Hinata masih berusaha untuk memperbaiki sedikit penampilannya―bareface dengan rambut acak-acakan dan baju kusut akibat merebahkan diri di sofa kecil ruangannya―saat Sasuke bergumam tidak jelas.
"Uchiha-sensei mengatakan sesuatu?" ia bertanya dengan suara parau.
Si Uchiha muda menengok, dan dengan raut wajah ragu bercampur kesal―Hinata tidak mengerti mengapa Sasuke terlihat kesal―pria itu balik bertanya, "…. Naruto?"
Perlu beberapa detik bagi Hinata untuk paham apa maksud Sasuke.
"Bukan, kok."
"Oh, baguslah."
Dan keheningan kembali menyelimuti rooftop rumah sakit.
Sasuke merasa ia memang benar-benar tolol jika sudah menyangkut masalah hati, sehingga yang ia lakukan saat ini hanyalah duduk terdiam dan menyandarkan kepala ke dinding rooftop, lalu menutup kelopak mata.
Dasar Sasuke, ia kira diam saja mampu menyelesaikan perkara, hah?
Sisi positif dari kepasrahan Sasuke dalam menghadapi situasi ini adalah Hinata sekarang mampu untuk mengamati si dokter jantung dengan lebih bebas.
Contrary to her own belief, Hinata actually feels she doesn't mind with Sasuke's presence.
Wajahnya akan menjadi semerah stroberi jika ia mengucapkannya secara verbal, namun Hinata akui, pelukan Sasuke di koridor tadi mungkin adalah pelukan ternyaman yang ia rasakan sepanjang hidupnya. Ia terlalu muda untuk mengingat pelukan sang ibu dan Hiashi tak pernah memberinya kehangatan yang sudah sepantasnya menjadi hak seorang anak. Hinata tidak pernah menyangka rasa hangat yang selama ini ia dambakan ternyata datang dari seorang Uchiha Sasuke.
Berkaca pada sikap ketusnya pada Sasuke selama ini, Hinata merasa ia tak layak untuk diberikan perhatian sebegitu besar.
Sasuke dingin dan menyebalkan, namun ia tidak jahat. Pria itu peka terhadap sekeliling―meski seringkali terjebak dalam suasana canggung akibat ketidakbiasaannya dalam mengekspresikan isi hati―dan dibalik sikap judesnya, Hinata sadar Sasuke menaruh banyak afeksi pada rekan-rekan kerjanya.
So, this is why Naruto and Sakura hold Sasuke like he's the most precious being in the world. And, for Hinata who have been watching Naruto since the first time they met, Sasuke is clearly Naruto's most prized best friend.
Fakta bahwa Sasuke-lah yang pertama kali menyadari keberadaannya juga turut andil dalam analisisnya kali ini. Bertahun-tahun ia menyukai Naruto dengan anggapan bahwa si Namikaze-lah yang pertama kali mengambil inisiatif menghampiri dan mengobatinya, lalu semua itu sirna saat ia tahu bahwa Sasuke adalah orang di balik tindakan Naruto bertahun-tahun lampau.
Ia tidak jatuh hati pada Sasuke, Hinata tahu itu.
Belum, mungkin.
Kedua bola mata pucatnya kembali menelusuri sosok Sasuke yang masih betah dengan kepala tersandar dan mata tertutup sempurna―ia lupa kalau tujuan utamanya ke rumah sakit adalah untuk meneliti ulang paper yang akan ia tampilkan pada symposium mendatang.
Kerongkongan Hinata terasa kering.
Not to mention his looks. God, Sasuke is a sculpture made by His Almighty himself. To think that a human is capable to have a face so many people would kill for it.
"Puas memandangiku, Hyuuga?"
Sebelah kelopak mata Sasuke terangkat, menampilkan mata hitam yang menusuk hingga kalbu Hinata.
Wanita itu mendadak keki.
"Tidak, kok!"
Wrong answer, Hinata.
Sasuke menyeringai tipis. "Kalau begitu, lanjutkan saja. Aku mau tidur dulu," ia kembali menutup mata dengan seringai yang masih terpasang. Dalam hati ia tertawa melihat wajah malu nan kesal Hinata.
Lebih baik seperti itu, dibandingkan wajahnya beberapa menit yang lalu. Ketika ia menemukan Hinata dalam kondisi berantakan dan air mata membanjiri wajahnya.
Berbagai kemungkinan sudah ia pikirkan, namun Sasuke tak sampai hati untuk menyinggung kenapa Hinata berakhir tersedu seperti itu. Namun, melihat kondisi Hinata saat ini yang sudah bisa melempar tatapan dongkol padanya, Sasuke merasa tak ada salahnya mengambil resiko.
"Naruto?"
"Hm?"
Kepala Hinata terteleng, jelas tak menangkap maksud Sasuke.
Si Uchiha menghela napas lelah.
"Maksudku… karena Naruto?" dengan nada yang sudah ia usahakan selembut mungkin―and as we all know, Uchiha Sasuke is not meant to be a good comforter―Sasuke kembali membuka mata dan menghunuskan pandangan tajamnya pada Hinata.
Sekonyong-konyong Hinata merasa pusing. Ia tak pernah meluapkan perasaannya, bahkan tidak kepada Hanabi, sehingga sosok Sasuke yang kini duduk di sampingnya, menunggunya untuk bercerita tak pelak membuat Hinata merasa… diperhatikan?
Diamnya Hinata dianggap Sasuke sebagai penolakan. Ia tidak heran.
This woman, much to his displeasure, is already got herself in a few of tight situations thanks to Sasuke. So, why would she wants to have a talk with him?
"Baiklah, kurasa aku sudah melanggar―"
"―bukan, kok. Bukan Namikaze-sensei."
Sasuke hendak beranjak, bersamaan dengan Hinata yang membuka mulut.
Wow, ternyata derajatnya tidak serendah itu di mata Hinata. Ia kembali mendudukkan diri di samping Hinata.
"Uchiha-sensei mau ke mana?"
"Ah, tidak. Lanjutkan saja."
Senyum tipis bertengger di bibir Hinata.
"Aku boleh…. curhat?" ia memastikan.
"Kenapa tidak?"
Ya, Hinata. Kenapa tidak?
Maka Hinata pun mulai bercerita. Dimulai dari masa kecilnya sebagai putri sulung keluarga utama Hyuuga. Ibunya meninggal sewaktu melahirkan Hanabi―yang hanya beberapa tahun lebih muda darinya―sehingga Hinata tak pernah mengingat hangatnya pelukan seorang ibu. Hiashi, sang ayah, bukan tipe orangtua yang akan menghujani anaknya dengan kasih sayang.
Hinata kecil sudah dibiasakan harus hidup layaknya seorang bangsawan. Mulai dari bangun hingga kembali tidur, ia harus selalu mengikuti jadwal yang sudah disiapkan oleh pengasuhnya. Bangun, membersihkan diri, sarapan, sekolah, makan siang, les privat, makan malam, tidur. Begitulah rutinitas sehari-hari Hinata. Jika ia nekat melanggar, hukuman sudah menanti. Hinata pernah terlambat datang ke les karena tidak berhasil menyelesaikan tugas dari gurunya tepat waktu, dan Hiashi langsung menyita ponselnya sebulan lamanya.
Sampai sini, Sasuke tanpa sadar bergidik. Fugaku juga keras padanya dan Itachi, namun beruntunglah ia yang masih memiliki Mikoto sebagai tameng tiapkali Sasuke membuat ulah.
Hinata melanjutkan cerita masa lalunya. Tak hanya rutinitas, tingkah lakunya pun juga dijaga betul. Kalau ia kedapatan berbicara kasar, atau bahkan mengeluarkan kalimat yang dinilai Hiashi tak mencerminkan sikap seorang putri, ia bisa diserang dengan kata-kata yang sanggup membuat Gai-sensei kehilangan semangat hidupnya.
"Kau juga pasti harus selalu jadi anak pintar, ya," celetuk Sasuke tanpa sadar.
Benar, ujar Hinata. Bagi Hiashi yang memang semasa muda pernah mengikuti olimpiade hingga ke kancah internasional, anak-anaknya pun harus mengikuti jejaknya. Kalau tidak , mereka hanya akan mencoreng nama Hyuuga. Hanabi nampaknya mewarisi otak encer ayahnya, anak itu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar sudah pernah ikut olimpiade matematika tingkat nasional dan menyabet medali perak. Prestasinya di bidang non akademik pun tak kalah menakjubkan. Hanabi suka sekali judo, dan dia sudah sering mewakili sekolahnya untuk mengikuti kompetisi.
Meanwhile, Hinata si sulung yang pemalu dan tak suka menonjolkan diri, membuat Hiashi tidak sabaran. Hinata pintar, ia tak pernah keluar dari ranking tiga besar di kelas setiap tahunnya, namun bagi Hiashi itu hanyalah prestasi cetek. Ia seringkali gagal dalam seleksi perlombaan dan Hiashi menjadikan ini sebagai alasan untuk menambah jam les privat Hinata. Alhasil, si sulung Hyuuga pun nyaris tak punya waktu untuk mengistirahatkan diri disela-sela jadwalnya yang selalu sibuk.
Lagi, Sasuke merasa jadi seorang Uchiha sepertinya tidak buruk-buruk amat. Dirinya juga kerap kali berselisih paham dengan Fugaku. Yang membedakannya dengan Hinata adalah satu, Sasuke dan Fugaku bertengkar karena si ayah ingin agar anaknya mengikuti lomba fisika namun si anak sudah mendaftarkan dirinya sendiri di lomba biologi, dan dua, Sasuke juga turut andil menyumbang keributan di kediaman Uchiha. Mana mau dia melewatkan kesempatan untuk menjadi anak rebel.
Karena itu, Hinata muda nyaris tak punya teman untuk berbagi keluh kesah. Semua orang mendekatinya hanya karena dia seorang Hyuuga. Habis manis sepah dibuang, begitu tahu kalau Hinata tidaklah sama dengan kebanyakan Hyuuga, ia pun kembali menjalani segalanya sendirian. Karena itu, bagi Hinata, Naruto adalah the light of her life. Naruto bahkan tidak tahu siapa dirinya saat keduanya pertama kali bertemu, dan bagi Hinata yang seumur hidup selalu dipandang berdasarkan nama keluarganya, hal itu adalah sesuatu yang baru.
Hinata tidak pernah kenal dekat dengan Naruto. Ia pun hanya sesekali bertukar kata dengan si blond. Namun, beberapa patah kata penyemangat yang keluar dari mulut Naruto sudah cukup bagi Hinata untuk menjalani hidup. Ia memperoleh semangatnya dari Naruto, ia mendapatkan cita-citanya dari Naruto, dan… ia tahu apa rasanya memberikan hatimu pada seseorang karena Naruto.
Sampai sini, wanita itu berhenti.
Sasuke menunduk. Kedua sudut bibir tertarik sedikit ke atas. Ia tahu ia tidak pantas berucap seperti ini, namun Sasuke merasa ia turut andil dalam kebahagiaan kecil Hinata. Mungkin kalau ia tidak bersikeras menyuruh Naruto untuk menghampiri Hinata yang terluka semasa sekolah dulu…
"Maaf, Uchiha-sensei."
Secepat Naruto mendekat saat mencium bau ramen, secepat itu jugalah Sasuke menoleh pada Hinata. Kata maaf bukanlah sesuatu yang ia bayangkan akan diucapkan Hinata padanya.
Kayaknya semestinya aku yang harus meminta maaf.
Melihat tanda tangan menggantung di dahi Sasuke, Hinata menjelaskan, "Untuk sikapku selama ini. Well, you're kind of annoyed me sometimes but now that I got to think about it, you definitely don't deserve anything I've done and said to you."
Speechless. Itulah keadaan Sasuke saat ini. Sejujurnya, ia tidak pernah merasa Hinata bersikap kelewatan padanya.
Melihat Hinata yang nampaknya hendak membuka mulut lagi untuk meminta maaf, Sasuke buru-buru memotong.
"Aku juga boleh cerita?"
Kali ini Hinata yang memasang wajah bingung. Meski begitu, ia manut saja. Tak baik menolak permintaan orang yang telah mendedikasikan sebagian waktunya untuk mendengarkan curhatanmu. Maka Sasuke pun memulai kisahnya.
Bagi Sasuke, masa kecilnya bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan. Sejak kecil, Sasuke sudah harus menghadapi kenyataan bahwa di dunia yang kejam ini kau harus selalu bersaing untuk mendapatkan posisi yang kau inginkan. Bagi Sasuke kecil, Uchiha Fugaku―sang ayah―adalah sosok yang paling ia inginkan untuk memberikannya pujian.
Karena itu, si Uchiha muda selalu berusaha untuk menyenangkan hati ayahnya. Cuci piring setelah makan, mandi tepat waktu, belajar berhitung perkalian ketika sekolah masih mengajarkan muridnya untuk menghitung dua ayam ditambah dua ayam sama dengan berapa, semuanya Sasuke lakukan demi pengakuan Fugaku.
Sayang seribu sayang, saingan datang dari pihak keluarga sendiri. Siapa lagi kalau bukan kakaknya, Itachi. Ia memang lima tahun diatas Sasuke, namun Fugaku tak pernah bosan membandingkan tumbuh kembang Itachi dengan anak bungsunya.
"Berapa tiga ayam dikali tiga ayam, Sasuke?" tanya Fugaku suatu hari.
"Sembilan ayam!" Sasuke kecil―berusia lima tahun―menjawab dengan semangat. Di sebelahnya, Mikoto bertepuk tangan riang.
Dahi Fugaku berkerut. "Salah!" teriaknya, mengagetkan dua sosok lain yang ada di ruang keluarga. "Kau bisa menambah jumlah ayam di dalam kandang, tapi secara logika, ayam-ayam itu tidak bisa dikalikan satu sama lain! Dasar, Itachi saja tahu hal itu saat ia seusiamu."
Sejak saat itu, apapun yang Sasuke lakukan selalu berakhir dengan kata-kata Itachi begini, Itachi begitu. Kalau ia berbuat salah, rentetan prestasi Itachi tiga tahun terakhir akan keluar dari mulut Fugaku. Orang lain mungkin akan membenci Itachi jika berada di posisi Sasuke saat ini, namun untungnya si bungsu juga dibekali emotional quotient yang baik. Meski Sasuke pemarah, ia masih bisa mengenali mana orang yang perlu dibenci dan mana yang tidak.
Ketika ia hendak mengambil jurusan kedokteran selepas sekolah menengah atas dulu, pertengkaran meledak di kediaman Uchiha. Fugaku bersikeras agar anaknya kuliah di jurusan yang berkaitan dengan ekonomi dan manajemen, sementara Sasuke sudah keukeuh dengan pendiriannya.
"Kau selalu saja mengikuti si bocah Namikaze itu!" seru Fugaku, tangan gemas ingin melempar mangkuk waterzooi menu makan malamnya ke wajah anak keduanya.
"Enak saja! Aku memang ingin jadi dokter!" tukas Sasuke tak kalah sengit, gelas berisikan dolcetto wine siap dilontarkan kapan saja ke arah Fugaku.
Itachi dan Mikoto melanjutkan dinner tanpa berpaling sama sekali. Keduanya sudah terbiasa dengan kegalakan Fugaku dan sikap memberontak Sasuke. Pertengkaran selesai dua jam kemudian saat Itachi mengatakan bukankah akan lebih baik jika keluarga Uchiha memiliki seseorang yang bergerak di bidang medis? Siapa tahu beberapa tahun kemudian mereka akan mendirikan bisnis di ranah tersebut dan pastinya akan sangat berguna untuk memiliki seseorang yang sudah berpengalaman di bidang itu.
Kepala sudah mumet, Fugaku setuju saja pada akhirnya. Ia lupa kalau Uchiha Shisui sudah lebih dulu mengambil jurusan kedokteran dibanding Sasuke. Ketika sepupunya datang berkunjung beberapa minggu setelah si kepala Uchiha membayar segala keperluan perkuliahan Sasuke, barulah Fugaku sadar ia telah diperdaya oleh anak-anaknya. Ia hanya bisa merengut.
Masih banyak yang ingin Sasuke ceritakan sebenarnya, namun melihat wajah sendu Hinata yang kini sudah kembali dihiasi oleh senyum tipis, ia urungkan saja niatnya.
Jauh di lubuk hatinya Sasuke bersyukur Hinata sudah menunjukkan tanda-tanda bangkit dari kesedihan. Bisa kering bibirnya jika harus terus-menerus bercerita. Maklum, ia bukan Naruto yang tak kuat jika tidak berceloteh lebih dari dua menit.
"Ayah Uchiha-sensei lucu sekali," komentar Hinata.
Darah Sasuke berdesir. "Lucu? Menurutku dia memuakkan," bahkan Mikoto sekalipun tidak akan mengucapkan kata lucu untuk menggambarkan seorang Fugaku.
Mungkin bagi Hinata hanya mengetahui Fugaku dari mulut Sasuke, si kepala Uchiha terdengar seperti ayah yang diam-diam mendukung passion putranya. Namun bagi Sasuke si pemeran utama dalam kisahnya sendiri, Fugaku yang pernah berpura-pura terlibat dalam kecelakaan agar Sasuke batal mengikuti ujian sungguh bukanlah contoh ayah yang mendukung minat anaknya dalam diam.
Kali ini Hinata tertawa melihat raut wajah Sasuke yang bersungut-sungut. Sedikit banyak ia paham kenapa Sasuke mengatur kata-katanya sedemikian rupa hingga sifat asli Fugaku tidak begitu menonjol hingga ceritanya tak terdengar begitu pelik. Tentu saja agar Hinata tidak semakin murung.
Aku iri pada Namikaze-sensei dan Haruno-sensei karena memiliki teman seperti Uchiha-sensei.
"Kau bilang apa?"
"Huh?"
Hinata menegang. Did she said it out loud?
Sasuke tidak tuli, indra pendengarannya masih berfungsi dengan baik meski sudah ditempa kerasnya suara Naruto dan Sakura selama puluhan tahun. Ia menangkap kata-kata Hinata yang jelas tidak dimaksudkan untuk disuarakan, namun Sasuke tidak yakin ia mendengarnya dengan benar.
Hinata bak maling ketahuan mencuri, namun tetap berpendirian ia tidak melakukan apapun yang mencurigakan.
"Tidak, kok. Aku tidak mengatakan apapun," disertai tawa canggung yang bagi siapapun jelas-jelas tidak terdengar dapat dipercaya. Akan tetapi, Sasuke tak ingin atmosfer yang sudah ia bangun kembali runtuh hanya karena memaksa Hinata untuk mengulang kembali ucapannya.
Biarlah semesta menelan kata-kata Hinata untuk selamanya, karena Sasuke sudah menyimpannya erat-erat dalam sanubari.
.
"Uchiha-sensei mau apa ke rumah sakit di akhir minggu begini?"
Barulah ketika Hinata menyinggung topik itu setengah jam kemudian, Sasuke bangkit dari duduknya dengan panik. Bayang-bayang symposium dan paper yang dirasanya masih kurang segera menghampiri benak Sasuke.
"Oh, conference minggu depan itu, ya?" Hinata ingat Moegi pernah menyinggung hal ini sewaktu para residen mengajaknya makan siang bersama.
Maunya sih buru-buru turun ke ruangannya dan menyalakan komputer, tapi Sasuke tidak mungkin meninggalkan Hinata diatas atap rumah sakit. Jadilah saat ini keduanya berdiri berdampingan, menunggu elevator yang tak kunjung naik.
"Terima kasih, Uchiha-sensei," ujar Hinata tiba-tiba.
Sasuke menghela napas, pura-pura bosan. "Sudah kubilang tidak perlu mengucapkan terima kasih untuk maaf, aku kan tidak membantu apapun," balasnya santai.
Hinata menggeleng. "Bukan, kali ini aku mengucapkannya untuk sore itu."
Sore? Sasuke memutar otak.
Oh.
Hari dimana ia memaksa Naruto untuk membantu si Hyuuga yang jatuh akibat terserempet motor, ya?
Seketika ia merasa wajahnya memanas, dan ditinjau dari kekehan geli Hinata, Sasuke merasa topeng dingin yang biasa ia kenakan pasti sudah runtuh.
Beberapa hari setelahnya, sewaktu Sasuke hendak berkemas sebelum berangkat menuju kota sebelah untuk menghadiri simposium, sekaleng tortilla chips dengan rasa tomat duduk manis di meja kerjanya.
Tidak ada identitas pemberi yang dituliskan secara eksplisit, namun selembar kecil sticky note berwarna violet dengan ucapan semangat dan gambar yang Sasuke simpulkan adalah femur di pojok kertas sudah cukup untuknya tahu siapa si pemberi misterius.
Ia tidak mengerti dari mana Hinata mendapatkan info bahwa tomat adalah buah kesukaannya, namun Sasuke mengikutsertakan si kaleng ke dalam tas kerjanya dengan senyum tipis menghiasi wajah.
.
.
.
Kembali ke masa sekarang. Uchiha-sensei belum kembali dari konferensinya, dan Hinata berterima kasih pada fakta itu sebab jika ia bertatap muka dengan Sasuke saat ini juga, mungkin Hinata yang pemalu akan membuat comeback.
Ngomong-ngomong, hari ini panas sekali. Setelah memastikan ia masih memiliki waktu sebelum harus kembali memulai prakteknya, Hinata beranjak dari kursi dan pergi mencari vending machine terdekat.
Sedang asyik-asyiknya memilih kopi mana yang sebaiknya ia beli, Hinata dikagetkan oleh tepukan ringan di pundak kanan.
"Hyuuga-sensei!" oh, ternyata Namikaze-sensei dan Haruno-sensei.
Sembari bertukar sapaan, mata Hinata menyelidiki keduanya dengan tatapan penasaran. Ada yang berbeda. Biasanya Sakura takkan segan untuk memukul kepala Naruto jika si pirang melakukan sesuatu yang konyol, atau Naruto yang tidak akan sungkan untuk memprotes segala ucapan Sakura, namun kali ini pemandangan itu nihil didapat.
Aneh. Naruto dan Sakura berdiri berdampingan, namun keduanya nampak seperti menghindari kontak satu sama lain. Tiapkali Naruto melirik, Sakura dengan cepat membuang muka. Namun ketika Naruto mencoba mengajak Hinata bercengkrama, iris emerald Sakura terpaku seutuhnya pada sosok Namikaze-sensei.
Jangan bilang…. keduanya bertengkar?
Hinata jadi khawatir sendiri, masalahnya Uchiha-sensei sedang pergi ke luar kota untuk konferensinya. Jika ada yang terjadi diantara Naruto dan Sakura, kan, hanya Sasuke yang bisa mengatasinya.
"Hyuuga-sensei?" Sakura melambaikan tangan di depan wajah Hinata ketika ia menangkap bahwa rekan sesama dokternya sedang melamun.
"E-eh?"
"Kopimu, Hyuuga-sensei?" kali ini Naruto yang menunjuk vending machine, dimana es kopi kaleng Hinata dibiarkan menganggur begitu saja oleh si pemilik kopi.
"Sedang banyak pikiran, ya?" senyum Sakura. Hinata cuma bisa mengangguk kikuk. Tidak mungkin juga ia bilang kalau otaknya sedang memikirkan apakah duo di depannya ini sedang bertengkar atau tidak, kan?
Naruto hendak memasuki percakapan sebelum dering telepon mengalihkan perhatiannya.
"Oh, si Teme!" ia berseru girang tatkala nama sahabatnya terpampang di layar handphone.
Seketika, di musim panas yang rasanya sanggup untuk melelehkan seisi benua Antartika itu, Hinata berkeringat dingin.
Dengan semangat, Naruto menerima panggilan telepon dari Sasuke.
Hinata buru-buru mengambil kopinya dan mengambil langkah seribu. Ia tidak peduli dengan tatapan heran Naruto dan Sakura yang mengekorinya.
"Hyuuga-sensei kenapa, ya?"
"Entahlah."
Keterangan :
Chart : informasi mengenai riwayat kesehatan pasien
MRI (Magnetic Resonance Imaging) : pemeriksaan struktur dan organ tubuh menggunakan teknologi pencitraan resonansi magnetik
Medial epicondylitis : peradangan tendon, terjadi karena tekanan berlebih yang digunakan saat membengkokkan pergelangan tangan kea rah telapak tangan
Emotional quotient (EQ) : kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengendalikan emosi serta perasaan, baik perasaannya sendiri maupun orang lain
Simposium : konferensi atau meeting untuk mendiskusikan sesuatu
Waterzooi : hidangan rebus dari Belgia, biasa berisi ikan atau ayam
A/N : Ternyata lebih lama dari perkiraan karena ada aja gangguan di rumah untuk menyelesaikan ini :") Hayi mau ngucapin makasih buat semua yang udah ngikutin fic ini dari awal hingga sekarang, endingnya udah ga jauh kok wkwk ditunggu aja.
Makasih teman-teman yang udah meninggalkan review, fav, atau follow. I really appreciate it and I wish I could thank you properly.
Review sudah aku balas di PM masing-masing ya, untuk yang Guest terima kasih banyak untuk reviewnya ^^
Sampai jumpa di chap berikutnya ^^
