Beneran, aku sudah tidak ingat lagi bagaimana plot KHR berjalan... Awalnya fanfic ini ingin mengikuti alur di anime, tapi ... karena file anime-nya kehapus, jadi aku hanya bisa melalui manga dan info dari wiki fandom *sigh*
Oke, selamat membaca~
Tsuna mengemas barang-barangnya ke dalam tas. Ia telah sembuh dari demamnya yang luar biasa sehingga diperbolehkan pulang oleh dokter. Ibunya, Sawada Nana di sampingnya membantu dengan senang hati.
(Arbi: 40 derajat Celcius, waduh gak takut korona ni? :v)
Setelah memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal, Tsuna menyadari bahwa tidak ada kehadiran adiknya. " Kaa-san , di mana Hide?"
"Ah? Hi- kun di rumah karena Kyoko- chan sedang berkunjung."
Mendengar itu membuat Tsuna mengangkat alis dengan keheranan, namun dengan cepat menyadarinya. Oh, adiknya benar-benar seperti dirinya terlebih dahulu ... .
Kedua ibu dan anak itu pulang berjalan beriringan sembari mengaitkan harga diskon di supermarket ... yah, hanya Nana yang berbicara tentang itu dan Tsuna mendengarkan dengan tenang sepanjang perjalanan.
Mereka tiba di rumah dan hendak menuju ke dapur, namun demikian muncul Sasagawa Kyoko di depan mereka ... hanya mengenakan pakaian dalam.
Nana ternganga melihatnya, sementara Tsuna tersandung kakinya sendiri.
Oh, tidak sengaja ingatan lama melintas di pikirannya.
... Cukup memalukan.
Kyoko mulai menghancurkan barang-barang di dapur, tentu saja itu tidak sengaja. Ini semua karena efek Dying Will Bullet yang digunakan Reborn untuk bermain Russian Roulette .
Tsuna menepuk dahinya.
Benar-benar kacau.
Peringatan : tidak sesuai dengan EYD, semi-AU, tata bahasa kurang tepat, typo(s)-mungkin, OOC-mungkin, OC, dan lain-lain.
Usia Karakter :
~Tsuna : 16 tahun ~Lambo: 5 tahun
~Hide: 14 tahun
~Takeshi : 14 tahun
~Kyoya : 16 tahun
~Hayato : 14 tahun
Katekyo Hitman Reborn!
Amano Akira
.
Different Sky
Arbiter Rowell
#Bullet 7th : Moo dan Marshmallow
" Aku dengar kau jatuh sakit, adikku yang manis?"
Tsuna mengabaikan pertanyaannya dan dengan nikmat memakan cemilan yang dibeli Nana tadi pagi.
" Hei, hei, kau tahu? Pekerjaanku di sini sudah hampir selesai! Ah~ Akhirnya aku merasakan udara segar bunga sakura lagi!" Suara Dino Cavallone yang terdengar terdengar dari laptop.
"Oh. Tapi aku tidak akan menyambutmu," balas Tsuna datar. Tentu saja ia tidak bermaksud dengan sungguh-sungguh, Dino paham betul itu, walau pun sang Bos Cavallone Famiglia memasang muka menyedihkan. "Ah~ Betapa rapuhnya hatiku ini~"
Tsuna hanya mendengus atas ucapannya.
Tiba-tiba...
Bang!
... suara ledakan keras terdengar dari seberang kamar.
Bahkan Dino yang berada di balik layar bisa mendengar suaranya. "Itu ... perbuatan Reborn-san lagi, 'kan?"
"Ya." Tsuna menyelesaikan cemilannya dan bersiap untuk membawa piring kosong ke dapur. "Hide sedang dilatih olehnya sekarang."
"Oho! Jadi merindukan masa-masa itu, huh?" Dino bertanya dengan seringai jahil yang segera dibalas dengan nada datar Tsuna. "Jika kau hanya ingin menggodaku, lain kali saja. Sampai jumpa lagi."
"Eh? Eh? Tunggu du—"
Tanpa menunggu lagi, Tsuna langsung mematikan laptopnya. Ia mengambil piring bekas cemilan dan keluar dari kamar.
Bang!
Suara ledakan terdengar sekali lagi dari kamar Hide. Tsuna bersikap selayaknya ia tidak mendengar apapun dan berjalan menuruni tangga menuju dapur.
"Kaa-san."
Nana menoleh setelah mendengar panggilan anak sulungnya. "Oh, Tsu-kun! Bagaimana kuenya?"
Tsuna mengangguk sebagai tanggapan. "Ini enak, tapi berbeda dari yang sebelumnya."
"Yah, Kaa-san membelinya di tempat lain." Nana menerima piring kosong dan meletakkannya di cucian piring. Kemudian, ia teringat sesuatu dan berkata dengan khawatir. "Uh ... tapi, kita memiliki teman baru hari ini dan kuenya tidak cukup."
Si Sawada sulung itu mengangkat alisnya heran. Teman baru? Otaknya mengingat kembali apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya, kemudian menyamakannya dengan hari ini, dan akhirnya ia mendapat jawaban; hari ini kedatangan Lambo.
"Tsu-kun, bisakah kau pergi untuk membelinya lagi?"
Menerima uang dan kertas yang bertuliskan alamat toko kue, Tsuna menyanggupinya. Lagipula, sekarang adalah hari kedatangan keluarganya yang termuda.
Oh, anak sapi itu bukan lagi keluarganya.
Tsuna tersenyum sedih memikirkannya. Ia berjalan keluar rumah dan hendak menutup pintu sebelum terdengar ledakan di atas kepalanya. Tanpa sadar, ia melihat ke atas dan mendapati sosok kecil jatuh dari kepulan asap. Tsuna merentangkan tangannya, menangkap sosok kecil itu.
Rambut hitam tebal, tanduk di samping kepalanya, serta pakaian berpola sapi.
Ini adalah Lambo Bovino, sang Penjaga Petir.
Pikiran mantan Decimo itu berhenti sejenak, namun reflek tubuhnya bertindak cepat. Ketika ia sadar, dirinya telah memeluk sosok kecil itu. Masih hangat, juga lebih kecil dari yang ia ingat sebelumnya. Ini adalah Lambo Bovino saat berusia lima tahun, dengan berani datang ke Jepang sendirian untuk mengalahkan Reborn, dan berakhir menjadi salah satu Guardian dari Vongola Decimo.
Orang di pelukannya masih hidup.
Dalam hati, Tsuna menghela nafas pasrah dan tetap mempertahankan posisinya, mencoba menahan air mata yang hendak keluar.
Setelah beberapa saat, ia meletakkan anak sapi yang pingsan itu di depan pintu.
Tsuna melihat alamat yang tertulis di kertas, meyakinkan bahwa lokasi itu tidak terlalu jauh dari pasar. Ia berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Masa lalu adalah masa lalu. Kenyataannya, ia adalah orang yang sudah mati, namun 'dihidupkan' kembali semata-mata untuk menyelesaikan misi. Memang benar sekarang ia berdiri, bernafas di muka bumi, dan bertemu kembali dengan orang-orang yang dulu ia temui di kehidupan sebelumnya. Tapi, fakta tidak bisa dipungkiri, ia sudah mati.
Di masa ini, ia bukan lagi 'tokoh utama'. Ada keberadaan yang kini menggantikan posisinya. Orang itu akan menjalani semua kehidupan yang pernah ia alami sebelumnya.
Decimo terdahulu ini tidak iri. Ia hanya menerima fakta yang jelas terpampang di depan wajahnya. Jika ia ingin merebut semua itu kembali, itu artinya ia masih terjebak masa lalu.
Masa lalu yang menyenangkan ... sekaligus menyedihkan.
Memikirkan itu, Tsuna menyunggingkan senyum miris.
Yang perlu ia pastikan dalam kehidupan ini hanyalah membantu adiknya membuka jalan dan tidak membiarkannya melakukan kesalahan yang pernah ia lakukan dahulu.
Ya, ia tidak akan membiarkan Hide melakukan 'itu' seperti dirinya.
Waktu terasa begitu cepat ketika Tsuna berjalan sambil berpikir. Tanpa sadar, ia tiba di toko kue yang dimaksud.
Manik hazel-nya menangkap figur seseorang yang akrab. Rambut merah dengan kacamata di wajahnya, kaos polos putih, dan hanya memakai sandal jepit ke mana-mana.
Siapa lagi kalau bukan Irie Shoichi?
Tsuna menyerahkan masalah Irie Shoichi pada Hibari Kyoya sejak kembalinya ia ke Jepang. Jadi, Tsuna tidak lagi melihat sosoknya selain laporan yang diberikan Kusakabe Tetsuya.
Seakan menyadari kehadirannya, Shoichi mengangkat tangannya dan melambai. "Tsunayoshi-kun!"
Tentu saja, Tsuna berjalan mendekat dan ikut melambaikan tangannya. "Shoichi-san, lama tidak berte—"
"Ciao, Tsunayoshi-kun~"
Tiba-tiba, sosok putih muncul dari belakang Shoichi, membuat Tsuna hampir menggigit lidahnya sendiri.
Different Sky
Hide melangkah keluar dari kamar dengan asap mengepul dari rambutnya yang setengah terbakar.
Benar-benar tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang bayi seperti mereka berdua menggunakan granat seakan-akan itu hanyalah mainan anak kecil? Hide tidak ingin terlibat, namun justru ia terseret dalam pertengkaran satu pihak itu.
Dengan langkah gontai, Hide menuju dapur dan melihat ibunya sedang memasak untuk makan malam nanti. "Kaa-san."
"Ara, Hi-kun? Ada apa dengan wajahmu?"
Anak bungsunya itu tampak tidak mengerti sejenak sebelum meraba wajahnya. Melihat telapak tangannya yang memiliki abu hitam, ia langsung menyadari bagaimana kondisi wajahnya sekarang. Dengan cepat ia melangkah ke kamar mandi dan melihat pantulan dirinya di cermin wastafel.
Oh, sial!
Bahkan, wajahnya seperti emak-emak negara +62 yang mau jadi populer dengan pakai bedak arang!
Segera Hide mencuci wajahnya dengan air, menggosoknya berulang kali, dan memastikan ia membersihkan bagian di tempat-tempat yang seringkali terlewatkan.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, sudah hadir dua anak penyebab masalah yang menimpanya hari ini, dengan saling menatap tajam (hanya Lambo) di meja makan. Hide menepuk dahinya, merasa dirinya sangat sial akhir-akhir ini.
Kenapa pula ia harus terjerat dengan anak kecil? Masih lima tahun lagi!
"Oi, Baka-Hide, cepat duduk dan ambilkan aku makan."
Juga seenaknya memerintah orang!
Hide mengambil mangkuk untuk si bayi yang kini menjadi tutornya dan bersiap mengisinya dengan nasi, namun anak sapi yang tak tahu diuntung lainnya menarik lengan bajunya.
"Hahaha, Baka-Hide! Ambilkan makan untuk Lambo-sama juga!"
Perempatan imajiner berkedut di pelipis Hide. Ia mengambil nafas perlahan dan membuangnya, mencoba untuk bersabar. Tenang saja, suatu saat nanti ... ia pasti akan membalasnya! Suatu saat nanti!
Setelah menyiapkan nasi untuk kedua bocah tak masuk akal, Hide menyadari ketidakhadiran kakaknya. "Kaa-san, di mana Onii-san?"
"Ah, aku menyuruhnya untuk pergi membeli kue ... Oh, benar juga. Seharusnya Tsu-kun sudah kembali sejak tadi." Nana ingat lokasi toko kue itu tidak jauh, jadi seharusnya Tsuna tidak pergi terlalu lama. Mengapa anak sulungnya belum pulang?
Naluri seorang ibu tiba-tiba mengisi tubuhnya. Pikirannya mulai cemas dan hatinya menjadi panik. Kejadian beberapa tahun lalu membuatnya khawatir akan terulang lagi. Ia hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi anak tertuanya sebelum pintu depan terbuka dan suara yang tidak lagi asing terdengar.
"Aku pulang."
Nana bergegas ke pintu depan, melihat Sawada Tsunayoshi berdiri di sana dengan sangat baik-baik saja. Ia menghela nafas lega dan bertanya, "Mengapa kau terlambat, Tsu-kun?"
Hide yang melihat kepanikan ibunya sedikit heran dan mengikuti di belakang, mengintip kakaknya dan ... ada orang lain di belakangnya?
"Ah, itu ... " Tsuna menggaruk belakang kepalanya dengan malu. Ia sedikit menyingkir, memperlihatkan siapa orang yang mengikutinya pulang. Rambutnya putih hampir seperti salju dengan mata ungu yang terlihat misterius. Hide merasa sedikit tidak nyaman ketika pandangan mereka bertemu.
Rasanya seperti ... tercekik.
"Ini temanku dari luar negeri, Byakuran Gesso. Kami tidak sengaja bertemu di toko dan mengobrol."
"Salam kenal, Sawada-san."
Sawada Nana menyambut dengan riang. "Ara, temannya Tsu-kun? Masuklah ... Oh, apa kau sudah makan?"
Byakuran menunjukkan senyum sejuta watt-nya. "Ah, kebetulan saya belum makan."
"Wah, kami akan makan malam sebentar lagi. Ikutlah di meja makan."
"Jika Anda tidak keberatan."
Dengan mudahnya, mantan dari Millefiore Famiglia itu bercakap-cakap dengan ibu dari kedua Sawada bersaudara. Tsuna hanya bisa menyaksikan dengan sweatdrop mantan musuhnya itu memasuki ruang makan bersama ibunya.
Menyaksikan kepergian dua orang, Hide berjalan mendekati kakaknya. "Onii-san, bagaimana kau bisa mengenalnya?"
Tsuna menuju dapur dan meletakkan bingkisan kue yang ia beli. Mendengar pertanyaan Hide, mantan dari Vongola Famiglia itu hanya bisa tertawa kering. Apakah ia harus menjawab, kami bertarung di masa depan? Tidak mungkin tentu saja. Untungnya, ia telah menyiapkan jawabannya sebelum tiba di rumah.
"Kami teman online."
Seperti yang diharapkan, Hide tidak meneruskannya lebih jauh. Namun, ia hanya menanyakan hal lain, "Mengapa dia ada di Jepang?"
"Keluarganya memiliki perusahaan di Jepang dan dia datang untuk melakukan kunjungan singkat. Itu benar-benar suatu kebetulan untuk bertemu dengannya di toko kue."
Hide mengangguk paham. Ia membantu kakaknya yang telah menyajikan kue di piring dan membawanya ke meja makan, di mana dua bocah aneh, ibunya, serta tamu tak diundang telah duduk bersanding ria.
Hei, tidakkah kalian melupakan dua saudara dari anak pemilik rumah ini?
Hide mendengus masam, namun Tsuna menepuk bahunya lembut untuk menenangkannya. Keduanya duduk di kursi kosong tersisa.
Jika bisa, Hide ingin menghindar untuk duduk di dekat teman kakaknya itu. Dari jauh saja sudah terasa lehernya tercekik, apalagi jika dari dekat? Mungkin ia akan kejang-kejang karena kekurangan oksigen.
Seakan memahami batin adiknya, Tsuna duduk di samping Byakuran, membiarkan Hide untuk duduk di depannya—dan di samping Reborn yang tatapannya fokus menatap pemuda berambut putih yang tiba-tiba muncul di rumah.
Seakan tak kenal takut (tidak ada kata 'takut' dalam kamusnya), pemuda berambut putih itu tersenyum manis pada bayi berjiwa orang dewasa di depannya. "Halo, senang bertemu denganmu."
Reborn tidak membalas dan hanya menurunkan topinya, menutupi ekspresinya yang sulit ditebak.
Byakuran tidak mempermasalahkannya. Ia melihat Lambo yang memiliki air liur di mulutnya sejak kue tiba di meja, kemudian membantunya memotong kue untuk anak berpakaian sapi itu. Tanpa mengucapkan terima kasih, bocah Bovino itu langsung melahap kuenya.
Senyum sejuta watt-nya tidak pernah luntur. Ia masih bisa membalas percakapan Sawada Nana walaupun percakapan itu hanya hal-hal sepele seperti ayam atau telur yang ada lebih dulu?
Hide merasa aneh mendengarnya.
Ia melirik orang di seberangnya. Kakaknya makan dengan tenang, mengabaikan percakapan unfaedah antara ibunya dan temannya. Ketika ia menoleh sedikit, pemuda putih itu juga melihatnya. Tubuhnya merinding dan segera ia mengalihkan pandangannya.
Perasaan tidak nyaman itu masih ada. Tapi ... ia mencoba untuk melupakan perasaan itu. Orang ini adalah teman kakaknya, seharusnya baik-baik saja. Orang-orang yang berteman dengan kakaknya bukanlah orang jahat, karena kakaknya sendiri bisa membedakan mana orang yang diizinkan untuk berada di sekitarnya.
Namun, tetap saja, Hide tidak bisa mengabaikan perasaan yang terus menjerit di hatinya, seakan mengatakan untuk menjauh dari orang ini.
Melihat tingkah Hide, Tsuna langsung memahami apa yang sedang terjadi pada adiknya. Ia dengan tenang menyikut kaki orang di sampingnya, membuat mantan musuhnya itu mengangkat alisnya heran. Tetapi sedetik kemudian, senyum kembali tersungging di bibirnya.
Hide menghela nafas tanpa sadar. Entah mengapa, perasaan tidak nyaman tadi menghilang secara tiba-tiba.
To Be Continued
Hellow~ Lama tak berjoempa pemirsah~ Merindoekankoe?
Reader bi lek: Merindukanku dengkulmu!
Nyahaha… Kali ini berapa lama tidak update? Setahun? Ehe :v
/Arbi dihajar reader
Paimon: Ehe te nandayo! (Salah server oy!)
Uhuk, aku update ini karena ... yah, aku gabud mastah :") /plak
Plus, aku berhasil menemukan buku catatan penuh coretan cinta(?) ketika aku mulai menulis fanfic ini ... di mana buku itu mencakup garis besar alur fanfic ini. Hufft, tapi untuk aku yang sekarang melihat bagaimana cerita buriq yang kubuat di masa lalu ... rasanya ingin menangis tapi tidak bisa, hiks. Bener deh, udah banyak kekurangan sana-sini, plot hole yang sebesar jambul Kusakabe, bahkan aku sangat ingin me-revisi segera. Tapi, oh biarlah ... Biarkan itu jadi pelajaranku sekaligus kenanganku ketika menulis untuk pertama kalinya~~
Awalnya, aku ingin menulis chapter ini penuh dengan Lambo ... Namun pas aku liat list judul chapter ... ada "Irie Shoichi", langsung tiba-tiba keinget ... "Eh, iya, sejak itu Shoichi belum muncul lagi, ya?" Akhirnya, jadilah seperti ini :v Bukan Shoichi yang muncul, malah myhusbu Byakuran~~
Oh, dan Byakuran di sini belum punya tato(?) di bawah matanya ya...
Oke, next balas komentar :
Yu-qis : Haha, glad you enjoyed it :) Takeshi will appear in the next chapter... I want to bring up Lambo for now, oh of course with myhusbu Byakuran~~ Okay, for that question, i will give a little flashback's Takeshi and Kyoya!
Guest (May) : Ini sudah update... Untuk mendapat info dariku tentang fanfic ini, bisa cek akun ku di lapak jingga~
Ngomong-ngomong, aku kepikiran buat Penjaga Awan si Hide nanti... 'Kan Hibari juga reinkarnasi... Eh? Penjaga Hujan? Itu sih sudah aku tentukan, tinggal Penjaga Awan yang aku masih ragu, mau buat salah satu karaker KHR jadi Penjaga Awan atau buat OC sendiri?
Terima kasih sudah membaca~
Jaga kesehatan dan tetap sehat selalu~~
Sampai jumpa lagi desu!
