taekook one-shoot.

( taehyung dan jungkook yang menjadi definisi bahagia satu sama lain )

taekook as boyfriend, kisses, lil bit angst.

because you are all what i need.

MALAM INI, udara terasa lebih kejam menusuk kulit menembus rusuk. Membuat Jungkook yang berdiri di atas balkon dengan hanya mengenakan baju kemeja tipis dan celana pendek selutut itu menggigil.

Kepalanya menengadah ke atas, menelisik langit malam yang terlihat bersih dengan taburan kejora yang berpijar terang menemani bulan. Terlihat berkelap-kelip, seperti sedang menyapa dan mengucapkan selamat malam pada Jungkook. Pemuda Jeon itu memulas senyum hangat walau bibirnya yang memucat nampak gemetar. Rupanya temperatur suhu di sekitarnya mulai tidak bersahabat.

"Andai aku bisa jadi kalian," ia bergumam. Jemarinya mengetuk pelan jeruji pagar besi di hadapannya. "Aku bisa ada di langit dan bersinar menerangi bumi."

Lalu ia menarik napas dalam sebelum menghembusnya berat. Ia tertawa pelan. Tawanya terdengar sumbang, begitu janggal, bukan representasi rasa senang namun malah kekosongan.

Semesta suka bermain dengannya, takdir suka berbohong padanya, semua hal yang ada di sekitarnya selalu meninggalkannya. Jungkook tidak tahu dosa apa yang dilakukan dirinya yang terdahulu hingga kehidupannya di masa sekarang bisa seburuk ini. Jungkook tertawa getir, terdengar begitu mengiris hati. Senyap yang melingkupi sekitar membuat Jungkook semakin merasa sepi.

"Jungkook bodoh," Ia mulai mencela dirinya sendiri. "Pengandaianmu buruk, imajinasimu mengerikan, bisa-bisanya kau mengandai sesuatu yang mustahil." Mencerca sadis dirinya sendiri dengan kalimat pedas. Intonasinya sumbang. Nadanya bergelombang. "Ibu tidak akan bangun hanya karena tangisanmu, bodoh." Ia menyeka gusar wajahnya yang basah karena air mata. Walau nyatanya tangisannya malah makin kencang. Matanya mengkilat-kilat di bawah pendaran sinar rembulan. Kristal bening yang menumpuk di pelupuk nata itu luruh perlahan lalu semakin deras. "Ibu tidak akan kembali."

Kuncup hidungnya memerah. Sekarang hidungnya jadi lembab dan terasa begitu penuh oleh cairan. Salivanya ditegak begitu saja begitu ia rasa kerongkongannya begitu tandus. Tangisnya kian jadi, isakannya tipis membumbung di udara. Hingga mengganggu tidur seorang pria lainnya yang tengah asik meniti bunga tidur di dalam kamar dekat balkon tempat Jungkook berada.

"Sayang?" Sebuah suara menginterupsi. "Jungkookie? Sayang? Kenapa?"

Itu Kim Taehyung. Yang menyahut tangisan Jungkook dengan panggilan lembut dan pertanyaan dengan penuh nada khawatir itu juga Kim Taehyung. Lalu yang sekarang merengkuh tubuh Jungkook ke dalam sebuah pelukan hangat yangs arat akan afeksi itu juga Kim Taehyung.

Ibu jarinya bergerak menghapus jejak telaga yang menggenang di pipi Jungkook. Taehyung masih dengan raut khawatirnya, namun tak ingin memaksa pemuda Jeon untuk membuka suara. Mempersilakan pada pemuda bermata bulat itu untuk melanjutkan tangisan atau keluhannya. Ia akan siap mendengar atau merengkuhnya. Kalau perlu juga meminjamkan bahu untuk tempat sandaran dan bajunya untuk jadi kain penghapus air mata Jungkook. Taehyung benar-benar tak ingin memaksa pemuda itu. Ia hanya membawa tubuh yang agak lebih besar darinya itu untuk masuk ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan suara isakan kecil dari bilah ranum Jungkook yang mengambil alih kuasa ditemani senyap yang terasa sangat menusuk.

"Hyung," panggil Jungkook, akhirnya. Dengan tanggap Taehyung menyahut dengan dehaman halus. Senantiasa sabar menunggu kelanjutan kalimat Jungkook.

"A, aku tidak tahu mengapa aku menangis," adunya. Taehyung masih diam, mengamati raut menggemaskan Jungkook yang masih merangkai kalimat dengan terbata-bata.

"Aku tiba-tiba teringat Ibu." Lalu setetes air mata kembali lolos begitu saja begitu nama Ibu terucap dari bibirnya. Ada sembilu tak kasat mata yang kini tengah mencabik-cabik kejam hatinya. "Orang yang melahirkanku itu, hyung. Kau tahu, 'kan?" Ia melempar pertanyaan retorik itu pada Taehyung, yang dengan sabar Taehyung jawab dengan anggukan pelan. "Iya, hyung tahu. Ibu Jungkookie yang manis ini, 'kan?" godanya sembari mencolek dagu Jungkook.

Mata bulat itu masih betah menatap ke arah lantai keramik juga jalanan aspal di bawah sana. Ia menarik napas terputus-putus, sebelum kembali berbicara,

"Apa Ibu akan menyesal jika melihat aku yang sekarang, hyung? Apa Ibu akan menyesal melahirkan Jungkookie ke dunia kalau melihatku yang sekarang? Apa Ibu masih bangga dengan anaknya ini?" Pertanyaannya meracau bebas tak terkendali. Mengatur respirasi yang tersengal-sengal, Jungkook mengambil jeda. Di dalam hati kecil Taehyung, ia ingin sekali membungkam atau menyela perkataan Jungkook kalau ia tak melanjutkan lagi kalimatnya.

"Apa Ibu akan malu ... Dengan hubungan kita?"

Taehyung dibuat bungkam. Tak punya sepatah kata pun yang pantas diucapkan. Tak punya sanggahan untuk mematahkan pernyataan Jungkook barusan. Tak punya nyali untuk mengatakan Tidak, Jungkook, tidak, karena nyatanya ia malah mematung dengan seribu bahasa.

Jungkook kali ini mendongakkan wajahnya untuk menatap Taehyung. Netranya berembun, nampak seperti kaca yang rapuh, kristal yang menumpuk itu total membuat Taehyung makin kacau. Jiwanya menyerpih menjadi debu bahkan abu ketika mendengar racauan Jungkook yang menyayat hatinya, apalagi jika itu perihal hubungan mereka. Seolah kehilangan kemampuan berbahasa, ia bergeming tak bersuara. Seolah lidah dan bibirnya kaku, ia diam membatu, tulang dan sendinya melunak seperti jeli, poros dunia seperti hilang, bahkan ia hampir kehilangan kemampuan menopang tubuh dengan kedua kaki.

Jemari Jungkook naik ke kaus tipis yang Taehyung, lalu menggamitnya erat. Kepalanya masih setia menunduk dengan tatapan sendu ke arah lantai di bawah sana. "Hyung." Suaranya bergetar hebat. Terdengar seperti desauan yang lemah. "Jawab aku," Jungkook melirih lagi. Saat kepalanya mendongak, ia dapat melihat jelas Taehyung yang menatapnya juga dengan tatapan kosong. Jungkook menggigit bibir bawahnya ragu, "Hyung?" Tangannya berusaha mengguncang pelan lengan atas Taehyung. Yang lalu dibalas helaan napas tipis. "Hyung mendengarkanku?"

Taehyung tak langsung menjawab, kepalanya diarahkan ke lain tempat menjauhi kontak mata dengan Jungkook sebisa mungkin. Pangkal tenggorokannya panas, kering, bagai dicekat sesuatu yang tak kasat mata. Hening mencekik keduanya yang masih sama-sama bungkam. Sampai akhirnya Taehyung terkekeh pelan, menarik lembut tangan Jungkook untuk mengikutinya duduk di kursi yang berada di dekat mereka. Ia merentangkan tangan lebar; mengindikasikan Jungkook agar duduk di pangkuannya lewat ekor matanya. Jungkook menurut, mendudukkan bokongnya di atas paha Taehyung yang jauh lebih kecil dari miliknya sendiri. Namun Taehyung tak mengeluh merasa berat atau apapun, ia malah tertawa geli begitu Jungkook memperbaiki posisinya dengan gerakan-gerakan kecil yang menggemaskan.

Tangannya melingkar di sekitar perut Jungkook. Hidung Taehyung menghidu aroma menenangkan yang menguar lembut dari tubuh kekasihnya itu. Namun perlahan, sesuatu yang menyesakkan merasuk dalam raganya dan memeluk rusuknya. Seolah ada sulur berduri yang memeluk paru-parunya hingga tajamnya pucuk daunnya menusuk keji sistem respirasinya. Lambat, lambat, semakin lambat, pelukan itu mengendur seiring isakan kecil keluar dari bilah bibir Taehyung. Jungkook yang kaget langsung membalikkan tubuhnya. Bertanya pada si pemuda Kim mengapa ia menangis? Mengapa ia menitikan air mata mengikuti Jungkook? Dan dapat respon berupa ulasan senyum pedih dan gelengan pelan dari Taehyung.

"Hyung..."

"Maafkan, hyung, Gguk," ujar Taehyung halus sembari meraih telapak tangan Jungkook. Dingin, telapak tangan yang harusnya Taehyung jaga terus agar tetap hangat itu sekarang uratnya mengeras dan suhunya tinggi rendah sekali. "Hyung minta maaf."

Jungkook bodoh dalam memberikan reaksi untuk saat ini. Seketika menjadi tak reaktif dan terkesan pasif. Ia bergeming statis, tak menunjukkan tanda-tanda ingin bergerak atau mengeluarkan barang sepatah dua patah kata. Selayaknya Taehyung tadi saat Jungkook meracau, ia membatu dan memasung mata pada wajah Taehyung yang kacau. Hanya luruhan air yang masih aktif turun dari sudut matanya.

"Hyung belum jadi hyung yang baik untukmu. Belum jadi seutuhnya kekasih yang baik pula untukmu," Taehyung melanjutkan dengan lirihan terengahnya. "Kalau saja aku tidak ada, kita tak saling kenal, kita tak saling jatuh cinta..." Ia memejam mata erat begitu setitik air mata lagi-lagi menembus pertahanannya. "Ibu pasti masih di sini dan berdiri bangga untukmu, sayang."

Sukmanya terasa dicabik kuku setajam sembilu. Bibirnya kian memucat dilahap dinginnya angin malam. Secara tak langsung ikut menon-aktifkan kerja sendi motoriknya yang lain. Tangannya masih merasakan genggaman hangat dari Taehyung. Bagaimana jemari panjang itu mengelus lembut setiap jengkal jemarinya dan meremas-remasnya pelan separuh gemas. Jungkook tahu, Taehyung tak sekuat itu untuk selalu menangkup tangannya, maka, dengan perlahan jemarinya merambat pelan dan membalas tautan hangat di bawah sana.

Jungkook balik menggenggam tangannya hangat sembari mengulas senyum lembut. Indah, Taehyung yang melihatnya terpana akan paras cantik Jungkook yang diterpa sinar rembulan tengah menyungging senyum padanya.

"Kau tahu, hyung? Kadang aku menyalahkan dan memaki kesal pada diriku sendiri ketika datang ke makam ibu," Jungkook membuka suara. "Aku akan merasa seperti orang yang paling berdosa di sana. Berdosa pada Ibu. Aku bukan anak yang baik, aku belum pernah menjadi anak yang membanggakan untuknya."

Ia terkekeh pelan, sarkastis, "Ya, itu Jeon Jungkook. Yang semasa Ibunya hidup malah sibuk mencari seribu cara untuk membuatnya menangis. Orang yang gencar sekali mencari kesalahan baru setiap hari hanya agar mendapat perhatian Ibunya sendiri. Dan pada akhirnya, si bodoh ini menyesal karena saat Ibunya meninggal, ia baru sadar kalau ia tak pernah sekalipun memperlihatkan baktinya pada sang Ibu."

Kepalanya menengadah saat air mata kembali berusaha meloloskan diri dari pelupuk matanya. Jungkook tertawa pelan sembari menghapusnya. Taehyung yang menyaksikan ikut menyapu halus jejak kecil itu dari pipi kekasihnya. Sesaat mereka bertatapan, dalam lingkup hening nan sepi. Dentaman jantung yang bertalu-talu terdengar begitu nyaring di situasi ini. Bahkan mungkin kalau bisa lebih senyap lagi, desir darah di nadi juga bisa menyaingi suara degup jantung.

"Aku selalu memikirkan tentang hubungan kita, hyung," Jungkook terkekeh manis. "Hubungan yang tak direstui oleh Ibu sampai di akhir hayatnya ini."

Jungkook menoleh ke arah Taehyung, masih dengan senyum pedihnya, "Walaupun aku salah menentang Ibu dengan tetap mencintaimu, aku rasa ini tak salab karena kau memang sumber kebahagiaan yang bahkan aku tak bisa dapatkan dari Ibu sendiri," ujarnya. Ia tersenyum kasual, seperti pernyataannya barusan bukan berarti apa-apa. "Aku yang selalu mengais perhatian Ibu ini, tak pernah sebahagia ini saat bersamamu, hyung. Rasanya senang sekali, sangat," katanya, penuh implikasi yang tersirat. "Ironi, di saat aku malah merasa lebih hidup saat bersama seorang lelaki asing ketimbang Ibuku sendiri. Orang yang melahirkan dan membesarkanku," ia terkekeh pelan. "Kau pakai pelet apa, hyung?"

Pertanyaannya menggugah tawa kecil keluar dari bibir yang lebih tua. Sembari mengeratkan pelukannya, Taehyung menumpukan dagunya di lengan kekasihnya.

"Tidak ada. Aku hanya suka melakukan seperti ini," katanya lalu memeluk erat tubuh Jungkook sembari memejam mata gemas. "Kau suka sekali dipeluk, makanya kau merasa nyaman denganku. Bukan begitu, manis?"

Jungkook terkikik geli begitu perutnya dipeluk sebegitu erat oleh Taehyung. Ada rasa gemas dan posesif di saat bersamaan. Melodi tawanya menggema manis di rungu Taehyung, bagai madu manis yang keluar dari sarang lebah, menggiurkan namun berbahaya, karena dapat membuatnya hilang akal akan betapa gemasnya bayi besarnya itu.

"Pelukan yang bagaimana, hyung?"

"Begini?"

Dan selanjutnya Jungkook terpekik kaget begitu tubuhnya jatuh jauh dalam tubuh Taehyung yang menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya. Dilanjut tawa yang lumayan nyaring begitu jemari-jemari Taehyung dengan jahil menggelitiki sekitar perutnya. Penuh afeksi dan sarat sayang, Taehyung dengan segala perlakuan lembutnya dapat menghapus tangis Jungkook dan melenyapkan atmosfir beku yang mencekik tadi.

Keduanya tertawa lepas setelahnya. Seperti lupa total dengan hal yang membuat mereka barusan menangis seperti bayi dan saling berpelukan. Keduanya sekarang saling bertukar tawa dan menyahut lembut. Bersenda gurau di balkon rumah ditemani rembulan beserta bintangnya di atas sana yang menjadi saksi bisu manisnya hubungan keduanya. Juga angin yang sedari tadi menggoda keduanya dengan belai halus yang menggelitik kulit.

Jungkook merebahkan kepalanya di atas bahu Taehyung. Merebah pasrah sambil melihat ke arah langit gelap. Tangan keduanya masih bertaut di sekitaran perut yang lebih muda. Kali ini atmosfirnya hangat walau tetap saja hening. Seperti ada selimut yang menggelung keduanya dalam balutan hangat. Walau angin malam tak main kejamnya, mereka malah merasa hangat karena saling menjaga satu sama lain.

"Hyung," Jungkook menoleh ke arah Taehyung. Dijawab dehaman sederhana. "Apa?"

"Cium." Ia menunjuk pipi kanannya.

Taehyung tertawa gemas. Tak pikir dua kali untuk menghadiahkan beribu kecupan manis di pipi itu. Bahkan merembet hingga hidung, pipi kiri, kening, dagu, dan kini berakhir bibir tipis milik Jeon.

Jungkook mencicit tertahan ketika Taehyung mulai meninggalkan tanda di atas permukaan kulitnya. Lidahnya bergerak seduktif di atas lehernya, mencecap sekali dan memeta titik sensitif pemuda Jeon. Jungkook menahan suaranya di pangkal tenggorokkan manakala Taehyung meremat pinggangnya sugestif. Seolah menyuruhnya meredam suara sekecil mungkin agar angin yang lewat tak mendengar bisik-bisik halus mereka.

Lalu kecupan itu naik ke rahang tegas Jungkook. Taehyung hisap kuat bagian itu sebelum ia tutup dengan kecupan ringan. Salivanya sudah bercecer membuat jalan setapak dari tulang selangka hingga dagu. Namun persetan dengan itu, ia tak menyia-nyiakan waktu ketika bibir tipis milik Jungkook tepat di hadapan matanya.

Maniknya berserobok sesaat dengan manik Jungkook yang cemerlang dihiasi binar terang. Taehyung mengecup hidungnya gemas. Kedua tangan Jungkook naik ke atas bahu Taehyung dan saling mengalung di belakang sana. Sedangkan Taehyung yang melihatnya membawa Jungkook membalikkan tubuh sepenuhnya menghadapnya sembari kedua tangan yang memegang dua bongkahan sintal miliknya.

Jungkook mengerang secara impulsif begitu sengatan-sengatan kecil menggelitik tubuh bagian bawahnya. Taehyung tangkup wajah pemuda yang berada di pangkuannya itu untuk didekatkan dengan wajahnya hingga napas keduanya saling menerpa dari arah berlawanan. Manik mereka bersirobok, berlawanan, bertatapan tanpa mengeluarkan kalimat. Seakan sunyi dapat berbahasa tanpa aksara, Taehyung hanya diam sembari menatap mata doe di hadapannya itu dengan dalam. Seakan bola mata sekelam jelaga itu mampu menghisapnya dalam pusaran ke alam bawah sadar, Jungkook merasa kecil ditatap seintens ini, dicumbu selembut ini, rasanya ia hanyalah filamen rapuh yang dapat goyah maupun putus jika saja Taehyung tak memperlakukannya lembut. Ia diperlakukan seperti raja, dimanja sekali oleh kekasihnya itu.

Maka, Taehyung tersenyum ringan ke arahnya, "Jungkookie?" panggilnya lembut. Jemarinya mengetuk halus bilah bibirnya, "May I?"

Merasakan sesuatu menyemburat tak tahu malu di sekitar tulang pipinya, Jungkook mengulum senyumnya. Akalnya menjerit padanya agar menggeleng agar tak ada sesuatu yang lebih jauh setelah ini, namun sepertinya logikanya sudah lenyap dilahap oleh birahi, menjadikannya mengangguk ragu.

"Huum."

Jungkook melengguh tertahan begitu bibir mereka bertemu dan mulai saling memagut satu sama lain. Ada gelenyar aneh yang menghantam sarafnya secara abnormal. Degup jantungnya menggila di dalam rusuknya. Meraung-raung seperti ingin melompat dari posisinya. Jungkook merasa tulangnya melunak seperti jeli saat lidah Taehyung perlahan masuk dan menginvasi mulutnya. Logikanya terbang dengan liar meluruhkan benteng pertahanannya. Cumbuan halus dengan lumatan lembut ini meruntuhkan sesuatu di dalam rongga dadanya. Sebisa mungkin ia menata respirasinya yang kacau, isi kepalanya berantakan, napasnya amburadul. Semuanya yang ada di sekitarnya seketika semrawut begitu ia mencecap lidah milik Kim Taehyung.

Taehyung dibuat merinding dengan suara gemetar Jungkook di atasnya. Rasanya candu. Membuatnya secara tak langsung merasa ketagihan untuk mendengarnya lebih dan lebih. Maka tangannya pun tak diam begitu saja, masuk ke dalam kaus yang lebih muda untuk mulai bergerilya mencari kehangatan.

"Angh, hyung," Jungkook yang kalap terpasung oleh kenikmatan yang Taehyung berikan. Mata cantik itu memejam erat menikmati setiap jengkal bagian tubuhnya yang diraba Taehyung. Pasrah, seperti memberikan semua kuasa pada sang kekasih, Taehyung yang mendapat kepercayaan itu pun tersenyum teduh, menenangkan, lalu kepalanya miring beberapa derajat agar ciumannya semakin dalam.

Namun, Taehyung mencegah semuanya agar tak semakin jauh. Cepat-cepat ia tutup cumbuan dalam tadi dengan kecupan ringkas di bibir ranum kekasihnya itu. Kening mereka menyatu, tak ada penghalang lagi antara wajah mereka, hanya mengikis jarak beberapa jengkal saja, mereka bisa kembali bercumbu.

"Jungkook," panggil Taehyung. Jemarinya merambat halus mengusap lembut daun telinga yang lebih muda. "Kau tahu, hyung ini sangat sayang padamu, 'kan?"

Jungkook mengangguk pelan, "Sangat tahu."

"Kalau begitu," ia menggantung kalimatnya, menarik tangan Jungkook untuk digenggam sebelum menaruhnya di depan dadanya. "Berjanji pada hyung, mau? Kau akan selalu bahagia demi hyung, Ibu, dan semua orang yang kau sayang." Taehyung memberikan tatapan sayangnya. Yang saat itu juga membuat Jungkook luruh. "Karena kau bilang kau sayang padaku, kau juga pasti mau menuruti hyung, 'kan?"

Taehyung lagi-lagi sukses merangkap Jungkook dalam pesonanya yang tak main. Dengan parasnya, dengan sifatnya, dengan tutur katanya, dengan suara beratnya.

Dan sekarang, dengan kalimat menagih janji yang seharusnya menuntut, tapi dengan Taehyung dijadikan selembut mungkin.

Jungkook merasa seringan kapas, yang kapan saja bisa terbang karena tertiup angin. Setitik rasa senang menghinggapi sudut hatinya yang berkedut hampa. Yang dulunya petak kosong itu hanya sebuah ruangan gulita tanpa penerangan, namun hanya dengan secuil afeksi dari seorang Kim Taehyung, Jeon Jungkook dapat merasakan bagian itu menjadi hidup kembali.

Kim Taehyung adalah definisi semesta bagi Jeon Jungkook.

Dan Jeon Jungkook adalah refleksi dari wadah curahan segala afeksi yang Taehyung berikan. Keduanya saling membutuhkan dan akhirnya saling melengkapi. Seperti puzzle yang membutuhkan puzzle lainnya untuk mengisi kekosongan dari bagian tubuhnya sendiri. Begitulah Jeon Jungkook dan Kim Taehyung.

Maka, di akhir paragraf ini, mereka yang saling dimabuk gelombang asmara itu saling menyatu. Saling memuji dan merapalkan nama satu sama lain dengan nada lirih. Sekelumit rasa yang tak dapat mereka sampaikan tersampirkan lewat aksara dalam doa yang disampaikan kepada Yang Maha Kuasa. Malam ini, esok pagi nanti, dan sampai kapanpun, mereka akan selalu menautkan jari dan saling berjanji, untuk senantiasa bersama sampai akhir hayat nanti.


—END—


happy taekook day for all taekookers!!! 3

–nara.