Disklaimer: Jujutsu Kaisen belongs to Akutami Gege. No profit gained from this fanwork. Filled with symbolic things—and, yeah, surreal. Please enjoy.
yang fana, yang abadi
Jejak kakinya tertinggal di antara padang pasir yang panas itu; betapa menggelora, membuat telapaknya melepuh dan mengelupas. Tetapi Sukuna tetap melangkah sebagaimana seharusnya, terus saja, menuju ujung dunia—apabila dunia memang memiliki suatu ujung. Singkat kata, ia menempuh jalan kemurnian; untuk memurnikan segala bentuk keburukan dalam sepanjang hidupnya, sampai ajal bersedia datang menjemput (dengan segenap kebaikan, menawarkan pintu keindahan tempat sarwa kesucian, tak bernoda tak berdosa—meski sebelum ini ia menjelma pendosa).
Pada hakikatnya, semua makhluk adalah pendosa. Jalan hidup yang ia tempuh sudah membunuh ratusan, bahkan ribuan manusia. Mereka menggelepar, lenyap menjadi abu, tulang-belulang mengeropos dimakan waktu namun tidak dosa-dosanya. Berada di tengah-tengah keramaian dunia menyempitkan akalnya; ia menjadi sedemikian kejam, sedemikian tolol. Konsep surga dan neraka amat ia benci dan di saat yang sama juga mengontrol setiap perbuatannya.
Tatkala nyawa lenyap dalam genggaman, Sukuna menghitung mereka, satu demi satu, mengkalkulasi kira-kira berapa banyak dosa yang bakal ia tanggung kelak—dan, ya, tentu saja, ia tak sanggup menghitung itu semua. Terlalu banyak, menumpuk, lebih dari gunung-gunung. Sebab itulah ia memilih jalan ini, jalan kemurnian dengan harapan dapat memurnikan seluruh dosa-dosanya. Namun, apakah Tuhan memiliki kemurahan hati? Ia masih saja berjalan, perlahan, berjalan terus. Jejak kakinya lenyap sedikit demi sedikit, terbawa angin kencang. Badai pasir di depan mata, siap menghantamnya.
Tidakkah kau merasa bahwa hidup ini merupakan suatu kesia-siaan yang panjang, yang amat sangat panjang, sepanjang waktu yang berjalan di sisi tempat tidurmu, Sukuna? Sebab kau abadi, sementara aku mati.
Seakan dapat ia dengar, bunyi waktu. Detik melaju, menjadi menit, menjadi jam, lalu hari, dan tahun-tahun melesat tanpa terasa, tanpa terkira, meninggalkan kenangan segar dalam pikiran. Tetapi, tetap, ia masih berjalan di antara tahun-tahun yang berlalu. Jubahnya berkibar-kibar dimainkan angin. Langkah mulai tertatih. Di hadapannya, sosok itu muncul menjelma badai. Sosok itu tersenyum tipis, walau sepasang mata masih sendu. Tangannya terentang, lalu bagaikan berlari, dia menghantamnya. Menghujamkan beribu-ribu pasir, menusuk tubuh, menusuk hati, menusuk pikiran.
Apakah waktuku telah habis di sini, dengan datangnya dirimu di antara badai pasir itu? Betapa baik sekali Tuhan, membawamu sebagai malaikat kematianku.
Tetapi lantas ia terbangun, di antara genangan darah, ribuan mayat-mayat, dan mereka semua bangkit. Sepotong tangan merayap-rayap, sebongkah kaki berlari, kepala berguling-guling menggelinding—kesemua itu mengejarnya. Menggigitnya. Menghabisinya. Membunuh. Tetapi, lagi-lagi, ia terbangun, kali ini di hamparan bintang-bintang—dan bintang-bintang menyerbu jatuh menimpanya, menggencet tubuhnya yang tidak seberapa besar. Ia remuk. Mati lagi. Hidup lagi, dalam pangkuan seorang laki-laki; sosok yang semula datang bersama badai. Sosok itu masih saja indah, masih saja sendu—masih saja amat dikasihinya.
"Maafkan aku, karena kau harus melalui ini semua."
Ia menggeleng, merasakan kehangatan tangan di pipinya. Mengusap, mengelus lembut. "Aku bisa menempuh jalan panjang tak bertepi, tetapi tanpamu, Megumi, rasanya lebih baik kalau semua ini mati. Aku, manusia, dunia."
Lalu laki-laki itu menancapkan pisau di dadanya. "Seperti ini?"
Sukuna tersenyum sesak. "Ya, seperti ini."
Ia mati, dan, seperti yang sudah diduga, ia hidup lagi—di atas hamparan padang pasir. Tuhan tidak bermurah hati membiarkannya mati dengan mudah. Ia dipaksa melanjutkan perjalanan, bertahun-tahun, puluhan, ribuan. Kedua kaki masih berdiri tegak, mencari tempat di mana ia dapat moksa—tetapi di mana, Tuhan? Betapa tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang amat mendambakan kematian sepertinya. Barangkali sebanding dengan dosa-dosa yang menggunung, ia harus menanggung itu semua sepanjang hidup—sepanjang mana, entah, entah sampai kapan. Berkali-kali ia memenggal kepalanya, berkali-kali itu pula kepalanya kembali. Hidup abadi dalam lumpur nestapa sama sekali tidak diinginkannya.
Beri aku jalan, ke mana saja, seperti apa saja. Izinkan aku moksa. Aku ingin tiada.
Tuhan tak pernah menjawab doa, namun Dia memberi tanda; berupa sosok bayi, suci, murni, menangis sendirian dengan tali ari-ari masih menempel pada tubuhnya.
Tuhan, keabadianku ini apakah sengaja Kau berikan agar bayi itu selamat?
Bayi itu adalah reinkarnasi Megumi, sosok yang amat dikasihinya sepanjang hidup, yang juga mati di tangannya sekian ribu tahun lalu. Sosok yang membawa ia pada jalan kemurnian; untuk melahirkannya kembali, menebus kesalahan-kesalahan pada abad-abad yang lampau. Bayi dalam genggamannya merupakan jawaban dari setiap kematian-kematian yang ia alami, serta membuktikan bahwa jalan panjang yang ia tempuh berakhir di sini. Sukuna abadi untuk menantikan momen berharga ini.
"Aku akan menempuh jalan panjang tak bertepi, untukmu, denganmu, rasanya semua ini lebih baik abadi. Kau, aku, dunia."
Kemudian, seolah Tuhan mengabulkan doa-doanya, nyawa Sukuna lenyap begitu saja dibawa angin sepoi-sepoi. Betapa kematian yang lembut. Tanpa tubuh, tanpa tulang-belulang. Hanya jubah panjang, menghangatkan sosok bayi di antara padang pasir nan gersang.[]
2:50 AM – June 4, 2021
A/N:
Saya menulis ini seraya membayangkan kawan saya, dia memilih jalan kemurnian (bisa dibilang) dan meninggalkan semua hal berkenaan duniawi. Semoga dia menemukan kebahagiaan dan ketenangan yang didambakannya.
