Spoiler bertebaran

Rivetra Oneshot-by. Ruihchanw

Characters Attack on Titan-by. Hajime Isayama

Published on July 20, 2021

•=•

Oneshot kali ini kubuat dengan penuh perhatian, untuk mengobati luka kalian akan ending Rivetra yang tidak tersampaikan."Karena aku hanya ingin, berada disisinya. Menjadi pelindung baginya."

Putriku adalah regumu kan?Aku ayahnya Petra.Sebelum bertemu dia aku ingin berbicara padamu...Dia mengirimkan surat ini padaku,Di suratnya tertulis bahwa kau merekrut putriku karena tahu kemampuannya.Dan katanya...Dia akan mengabdikan dirinya padamu.

Hening merekrut sesosok lelaki untuk larut dalam benaknya. Menangkis kepedihan yang menggores tiap lukanya. Lagi, kini Levi kembali kehilangan seseorang yang sangat penting baginya. Menyusun logika agar tetap waras untuk bertindak. Mencari kebenaran di antara puing-puing kenyataan. Juga mengindahkan panggilan yang sedari tadi memaksanya untuk menenggelamkan mata.

Di meja yang ada di hadapan Levi, ada teh hambar dan juga dingin yang menjadi pengantar malamnya, kertas lusuh dengan beberapa aksara cinta tersusun rapi bagai sang perasaan si penulis. Tangannya bergetar kecil, menahan perasaan yang meluap-luap bagai api.

Padahal baru kemarin, mereka berdua berbincang-bincang di malam hari, dengan teh hangat yang menemani mereka. Saling bertukar cerita, layaknya pendongeng yang tak bosan berbicara dan anak kecil yang tak bosan mendengarnya. Impian sederhana mengikat mereka dalam perasaan yang sama-sama kebingungan.

Awalnya Levi tidak mengerti, kenapa ketika dia berbicara, berdua, dengan gadis bersurai karamel itu- hatinya merasa tenang. Tak hanya itu, rasa menggelitik selalu mentertawakan perihal hubungan mereka yang samar-samar. Semuanya benar-benar membingungkan, hingga sekarang ia sadar, kalau dirinya merasakan kehilangan akan gadis itu.

Kehilangan yah? Kenapa baru sekarang terpikirkan oleh Levi?

Selama ini ia selalu menolak untuk percaya, percaya bahwa perasaannya kepada Petra lebih dari sekedar Kapten dan seorang bawahan. Vokal palsu yang menutupi semburat pada wajahnya, perhatian kecil yang ia berikan pada sang terkasih, mengikat sumpah untuk saling menguatkan.

"Tch sialan, kenapa baru sekarang? Apa yang selama ini aku pikirkan dasar bodoh."

Dengan pikiran gusar, serta mulutnya yang sesekali meracau kesal. Levi sekarang duduk tidak berdaya, andai ia bisa diberi kesempatan, setidaknya biarkan dia mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya.

Tangan kekarnya meraih cangkir di depannya, ditatapnya sendu teh dingin tersebut. Entah kenapa, minum teh di malam hari, selalu mengingatkan dirinya akan senyum manis yang tak pernah luput dari penglihatannya selama ini. Namun sekarang, itu hanya tinggal kenangan bukan?

"Levi!"

Mendengar teriakan tersebut membuat Levi tersentak. Tubuhnya seketika membeku, menyadari apa yang sekarang terjadi padanya. Pertanyaan demi pertanyaan menerobos masuk, memaksa dirinya untuk sadar. Tunggu, kemana cangkir berisi tehnya? Kenapa dia memakai seragamnya? Dan lagi, kenapa dia sedang bergelantungan di pohon menggunakan peralatan 3D manuver?

"Levi! Apa kau mendengarku?!"

Iris kelabu itu membulat, ia menoleh dan mendapati Erwin yang sedang memanggilnya beberapa kali. Tubuhnya sedikit bergetar, mencoba mencerna apa yang terjadi. Ini terlihat sangat nyata baginya.

Ada apa ini? Kenapa tubuhku merasa sangat tidak asing dengan situasi ini?

"Erwin, kenapa kita bisa disini?"tanya Levi pelan. Erwin mengkerutkan keningnya, menatap bingung Levi yang menurutnya sedikit aneh.

"Apa yang kau katakan? Kita sedang berada di luar dinding Levi! Jangan main-main!"tegas Erwin membuat Levi semakin berpikir tidak masuk akal.

"Di luar dinding? Ekspedisi keberapa?!"teriak Levi sedikit serak. Semua orang yang mendengar teriakkan Levi hanya bisa kebingungan, melihat Kapten dengan sebutan manusia terkuat itu seperti ketakutan akan sesuatu. Hey itu bukanlah hal wajar bagi Levi, ekspresinya selalu datar- namun saat ini hanya tersirat kekhawatiran di dalam matanya.

"Levi kau ini kenapa sih? Ini ekspedisi ke 57, apa kau tidak ingat dengan Eren?"ujar Erwin menerangkan. Disaat yang bersamaan itu pula Levi mengingat segalanya. Dia harus cepat- tidak, hatinya sudah bertekad untuk melindungi seorang gadis bersurai karamel yang sudah memperkeruh hatinya.

Levi tidak peduli jika ini hanyalah mimpi, atau apa yang terjadi sebelumnyalah yang mimpi. Levi hanya ingin percaya, bahwa semua pasukannya akan selamat. Ia bertanggung jawab, atas nyawa mereka semua.

Levi menegakkan kepalanya, dia harus bergegas menuju tempat dimana semuanya akan berakhir. "Aku akan memanggil pasukanku, kuharap mereka masih-"

"Tunggu Levi..."sela Erwin dengan nada serius. Levi tahu apa yang akan dikatakan oleh Erwin, namun ia berusaha untuk mendengarkannya sebentar.

"Apa maumu Erwin? Aku sedang terburu-buru!"

"Kau pergilah untuk mengisi gasmu, dan gantilah pedangmu,"titah Erwin membuat Levi tertegun. Saat ini hatinya gundah, lagi-lagi Levi tahu bahwa ia akan bertarung dengan Female Titan, disatu sisi ia ingin menyelamatkan setidaknya satu nyawa.

"Kita tidak punya waktu untuk it-"

"Lakukan, ini perintah..."

Tidak, aku pasti bisa menyelamatkannya. Ini hanya sebentar... Tenanglah...

"Baiklah, Erwin."

"Eren! Jangan berhenti!"teriak Oluo sambil menarik jubah pasukan pengintai milik Eren. Semua regu spesial Levi terkejut dengan Gunther yang tiba-tiba diserang oleh seseorang yang menyamar menjadi Kapten mereka.

Bahkan Petra pun tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya barusan. Sesama manusia menyerang? Di luar dinding? "Siapa yang melakukan hal itu?!"

"Lindungi Eren!"tegas Eld yang memimpin regu itu. Mereka memilih untuk meninggalkan kuda-kuda mereka dan memprioritaskan untuk kabur ke tempat Kapten dan teman-teman lainnya.

Kecepatan mereka beradu dengan rata-rata, sial apa sebenarnya yang terjadi?!

"Dia datang! Female Titan itu kembali!"

Orang yang tadi menyamar menjadi Levi kini menampakkan wujud aslinya. Orang itu, berubah menjadi Female Titan, mengejar mereka dengan penuh nafsu membabi buta.

"Sial! Sudah cukup! Kali ini aku akan melakukannya!"ujar Eren tidak terima dengan semua kematian rekan-rekannya. Tubuhnya memaksa untuk segera bertindak, namun yang lain terus-terusan melarangnya untuk berubah menjadi Titan.

"Tidak jangan lakukan itu!"larang Eld melotot ke arah Eren. "Kami bertiga akan menghadapinya!"

"Eren! Kau cepatlah pergi ke tempat Komandan!"titah Petra dengan nada penuh paksaan. Eren tidak mau mengambil resiko yang sama, ia tidak ingin hal buruk terjadi pada teman-temannya.

"Aku juga akan bertarung!"

"Jangan!!! Melakukan kekuatanmu akan terlalu beresiko!"teriak Eld untuk yang kesekian kalinya.

Oluo menimpali perkataan Eld. "Hey pecundang! Apa kau meremehkan kekuatan pemimpin kita!?"

"Dia benar Eren!"sahut Petra tak mau kalah. "Apa kau benar-benar... Tidak percaya pada kami?!"

Eren merenung sekilas, dia mencoba untuk percaya, meski hatinya berat untuk melakukannya. "Aku akan percaya pasukanku menang! Semoga berhasil!"

.:.

Levi baru saja selesai mengisi gas dan mengganti pedangnya. Ia mempercepat gerakannya untuk pergi ke tempat dimana semua pasukannya berkumpul. Pikirannya terus-menerus mencoba untuk lebih tenang. Ia pasti sempat, ia sudah tahu lokasinya, dan ia sudah siap untuk kembali bertarung dengan Female Titan demi membalaskan dendamnya.

Kakinya sekarang baik-baik saja, hanya waktu yang menentukan jawabannya. Juga yang paling terakhir, Levi pasrah kepada keberuntungannya.

Dugh, dugh, dugh!

Suara hentakan kaki terdengar sangat nyaring di telinga Levi, suara langkah dari sang pembunuh- Female Titan, langkah yang membuat bumi sedikit bergetar.

Levi lebih melajukan tarikannya, mengitari pohon-pohon besar yang pernah membuatnya gila. Tangannya berkeringat dingin, saat ini adalah penentuan baginya.

Yap, sedikit lagi. Ia akan sampai.

.:.

"Petra! Percepat tarikannya"teriak Oluo was-was melihat Petra tidak fokus sedang dikejar oleh Female Titan.

Petra tidak mendengar, ia terlalu fokus pada pikirannya sendiri. Bagaimana Titan kali ini bisa beregenerasi sangat cepat? Kenapa begini dan kenapa begitu.

Ia tidak sadar, bahwa nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Oluo yang melihat setengah mati berteriak agar temannya itu sadar dari lamunannya. "Petra! Lakukan!"

"Arghhh!!!"

Srett

Tubuh Petra yang ringan melayang, membuat dirinya terkesiap memejamkan mata. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang, ia tidak peduli ini sedang berada di pertempuran. Ia hanya terkejut saat ini, dirinya diselamatkan oleh Levi-

Yang menjatuhkan setitik air matanya.

Mereka berdua pergi sedikit menepi. Levi memojokkan Petra di sebuah pohon, ia mengambil tengkuk gadis itu, lalu melahap bibir manis milik Petra. Ia mencium gadis itu ditengah isakannya, ia benar-benar sangat takut saat ini. Nafas mereka saling beradu, keduanya berusaha untuk saling memberikan kehangatan. Tangan Petra menarik rambut hitam itu pelan, dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika kaptennya itu tidak datang menyelamatkannya.

Berbeda dengan Levi, laki-laki itu mencoba untuk melepas rindu akan kepergian Petra dalam angannya. Ia takkan pernah memaafkan dirinya sendiri, jika sedikit saja terlambat menyelamatkan gadis ini.

Ciuman panas itu hanya terjadi sebentar, namun berhasil membuat keadaan menjadi canggung. Petra menatap Levi dengan penuh kebingungan, ia masih mencerna dengan apa yang terjadi barusan. Levi mencium dirinya?

"Petra jangan tinggalkan aku lagi,"kata Levi masih dengan nada datar meskipun terdengar sedikit isakan. Ia memeluk gadis itu erat, seakan-akan tidak ingin melepaskan tubuh itu kapanpun. Tubuh mereka berdua sama-sama bergetar hebat, maut yang Petra hadapi, berhasil Levi hentikan.

Meskipun Gunther dan Eld tidak berhasil ia selamatkan, setidaknya gadis ini masih bisa ia raih. Levi tidak ingin merasakan penyesalan untuk yang kedua kalinya.

"Kapten! Eren berubah menjadi Titan!"teriak Oluo membuat keduanya tersadar. Levi melepaskan pelukannya, menyentuh pipi Petra pelan.

Ia tersenyum sangat kecil, namun ketajaman mata Petra berhasil menangkap momen langka itu. "Kalian berdua pergilah ke tempat Erwin, aku akan mengurus sisanya."

.:.

Seluruh pasukan pengintai kembali dalam keadaan lusuh. Sorak-sorakan tidak terima bersahutan dari mulut-mulut warga. Seperti apa yang terlihat, rencana kali ini pun gagal.

Levi berjalan tertatih-tatih membawa kuda hitamnya. Diikuti Petra yang juga berjalan membawa kuda abu-abu disamping kirinya. Keduanya sama-sama diam, masih merasa canggung dengan kejadian di hutan tadi.

Perasaan mereka masih sedih akibat kematian dua orang di regu Levi, namun hal ini ditepis pelan oleh tindakan Levi yang secara terang-terangan menunjukkan sifat hangatnya pada Petra.

Oh iya mengenai ekspedisi mereka kali ini, Levi kembali gagal untuk merebut sang Female Titan di akibatkan kakinya yang lagi-lagi merasakan sakit. Sungguh kesialan, yang membuat Levi sedikit frustasi.

"Kapten Levi!"teriak seseorang dengan suara yang pernah terngiang di benak Levi. Ah dia ingat kejadian ini, namun kali ini berbeda bukan?

"Terima kasih sudah menjaga Putriku,"kata orang tersebut, Tuan Ral.

Belum sempat lelaki itu melanjutkan kata-katanya, Petra menghalangi keduanya berbicara. "Ayah! Jangan bicara aneh-aneh kepada Kapten Levi!"

"Hey Petra! Ayah hanya ingin bicara dengan calon menantu Ayah,"tepis Tuan Ral membuat Petra menggembungkan pipinya. "Ayah, jangan bilang seperti itu! Aku malu!"

Perdebatan kecil itu membuat Levi tertarik. Sudut bibirnya sedikit terangkat, kali ini dia berhasil mempertemukan Ayah dan anak itu. Tinggal satu, ia ingin mewujudkan keinginan yang awalnya itu adalah sebuah hal yang mustahil.

Dengan langkah kecil, Levi menengahi keduanya. Petra sedikit terkejut dengan kehadiran kaptennya yang tiba-tiba berada di sampingnya.

"Tuan Ral, kali ini izinkan saya untuk menjaga Putrimu hingga akhir hayat ini."

•Once Again-End•

•Ruihchanw•

•Rivetra'their story will never end•