!Levi and Petra OOC!

Rivetra Oneshot-by. Ruihchanw

Characters Attack on Titan-by. Hajime Isayama

Published on July 20, 2021

•=•

Kalau kebanyakan orang-orang membuat kisah mereka penuh drama dan juga hal-hal yang memuakkan. Kecelakaan atau mati seperti sinetron ala jepunsiar. Disini, ada sedikit cerita bagaimana mereka jika hidup aman dan sejahtera seperti orang normal lainnya.

Terkisahlah sebuah perusahaan besar di salah satu pusat kota Tokyo, yang memiliki karyawan penuh keberagaman. Tak terkecuali dua makhluk yang sedang berdebat hal sepele seperti sekarang ini.

Iya hal sepele...

"Heh! Gue kan udah bilang sama Lo jangan sampai ada debu setitik aja di meja Gue!"pekik laki-laki cebol dengan rambut hitam undercut yang bisa menggoda banyak perempuan itu. Tangannya dilipat di atas dada, menunjukkan wajah penuh dengki kepada salah satu teman divisi yang ada dihadapannya.

Yang ditatap hanya memutar bola matanya malas, lagi-lagi masalah kebersihan yang menurutnya berlebihan. Ia hanya menaruh tangannya sebentar di meja itu, tapi si pemilik sudah misuh-misuh tidak jelas. "Terus? Gue harus apa hah? Bersihkan meja Lo? Ogahh!"

Tangan kecil gadis itu mengambil berkas-berkas yang ada di meja si clean freak, dengan wajah cemberut, ia melangkahkan kakinya menuju mejanya yang berada tepat disebelah laki-laki itu. Dia tidak peduli dengan keributan aneh yang diciptakan temannya itu.

"Oi Gaki! Urusan kita belum kelar!"teriak nya lagi. Laki-laki bermarga Ackerman itu melempar botol air mineral kosong miliknya tepat mengenai wajah temannya itu.

Temannya itu menyentuh pelan wajah cantiknya yang dilempari oleh botol plastik. "Arghhh! Pertama! Nama Gue Petra! Kedua! Lo kira Gue itu apaan sih? Titan kah sampai jijik banget tangan Gue cuma nyentuh meja nggak seberapa itu! Ketiga! Sopan kah Lo ngelempar sampah ke wajah Gue! Gue sleding juga wajah Lo ke dalam mesin cuci!"jawab gadis bernama Petra itu sudah kehabisan kesabaran melayani orang gila disampingnya.

Brak!

Laki-laki yang diketahui bernama Levi Ackerman itu menendang mejanya sangat kuat. Membuat ruangan berisi lima orang itu menjadi sangat ribut. "Lo bilang meja nggak seberapa? Denger yah Petra Ral yang sok pintar, nih meja harus dijaga bersih-bersih supaya tidak menimbulkan kuman dimana-mana! Masih nggak paham hah?!"

"Enggak sih... Gue cuma tau sekarang, meja yang katanya harus dijaga itu rusak karena tendangan sang pemilik,"ujar Petra santai. Levi tersentak, lalu melihat kaki mejanya yang patah karena ulahnya sendiri.

Diam-diam semua orang yang ada di ruangan itu tertawa kecil, ini adalah momen langka, dimana si angkuh cebol itu terpatung dengan kerusuhan yang ia buat sendiri.

Begitulah kisah kecil si Kucing dan Tikus di kantor itu. Mereka berdua sudah tiga tahun bersama menjadi rekan kerja, datang di hari yang sama, dan sampai sekarang masih duduk berseberangan. Lucu memang, semua orang di kantor itu sudah terbiasa dengan keributan yang dibuat oleh mereka. Bahkan tak jarang orang-orang tersebut ngeship pasangan gila itu.

Yah meskipun tidak salah, karena diam-diam mereka saling memendam perasaan yang sengaja dicurahkan lewat pertengkaran kecil diantara mereka.

"Petra, Lo beneran bisa kan pulang nanti temani Gue ke Mall,"kata Eld yang berdiri di depan meja Petra. Iris kelabu milik Levi tak sengaja menangkap pemandangan yang risih itu, telinganya berdengung kala mendengar perkataan Eld yang mengajak Petra jalan ke Mall? Hanya berdua.

Petra tersenyum simpul ke arah Eld, ia mengangguk kecil. "Tentu sa-"

"Oi, Lo lupa hari ini ada kerjaan numpuk? Malah jalan-jalan berdua. Enak banget hidup Lo,"celetuk Levi tiba-tiba. Hal itu membuat Petra dan Elda kebingungan, yang ditanya kan Petra, kok yang yang nyahut orang sebelah?

"Nggak usah sok ngatur deh Lo, Gue bisa kelarin tuh kerjaan dalam semalam,"ujar Petra mengindahkan Levi yang menggeram kesal. Tangannya yang tadi sibuk mengetik kini terhenti. "Oke Eld, Lo tunggu aja di-"

"Jangan ngadi-ngadi Lo jalan sama Eld berdua!"celetuk Levi lagi-lagi membuat Petra kesal. Iris hazelnya menatap tajam ke arah lelaki cebol itu. Seolah-olah saat ini mereka akan mendeklarasikan perang.

"Gue dipanggil Bos Erwin keruangannya,"kata Gunther beralasan untuk pergi darisana sebelum keributan datang. Oluo pun sama, ia tidak mau ikut campur dalam perang dunia kelima itu. "Gue ke divisinya Mbak Hange sebentar, semangat Eld!"

Eld meneguk salivanya, membasahi tenggorokannya yang kering. Tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kedua orang yang ada dihadapannya saling mengibarkan bendera perang, satu yang ia tanamkan agar tidak kaget- Matilah dia.

"Ngadi-ngadi Lo bilang? Heh denger yah cebol! Gue ini bukan virus sampai-sampai orang nggak boleh deketin Gue!"teriak Petra berkacak pinggang.

Levi mengkerutkan keningnya, yah siapa juga yang bilang Petra itu virus kan? "Cebol Lo bilang! Situ aja lebih pendek dari Gue! Lagian yah, Gue nggak pernah bilang kalau Lo itu virus? Kenapa malah ngelunjak bocah?!"

Petra terdiam sejenak, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya pelan. Iya juga yah, siapa sih yang bilang Gue virus??

Petra menghela nafas berat. "Yah intinya kenapa Lo yang sewot?"

"Gue ikut,"kata Levi singkat namun berhasil membuat Petra dan Eld syok panjang.

"Ngapain Lo ikut!? Lo bukan pawang Gue cebol!"bantah Petra tidak terima. Levi membalikkan tubuhnya- kembali fokus pada layar monitor berisi ribuan huruf yang bisa membuat orang bodoh sakit kepala.

"Gue cuma mastikan jalan-jalan Lo itu nggak lama, karena itu bisa berakibat sama kerjaan kita berdua yang dikasih kemarin."

Petra mengepalkan tangan persis di depan wajahnya, aura pembunuh terasa sangat kental, dan lagi-lagi membuat Eld gemetaran di tempat. "Dasar penguntit! Gue nggak mau!"

"Tapi Eld boleh aja, iya nggak?"kata Levi menatap Eld penuh arti. Eld mengangguk cepat, mereka berdua ini sangat mengerikan, tapi Levi lah yang bisa membunuh orang dengan cara menyegel lehernya pada tabung gas. Gimana tuh? Nggak tahu juga sih, pikir aja sendiri.

"I-iya boleh kok."

Petra menoleh kearah Eld, melempar wajah penuh tanda tanya padanya. "Eld? Lo bercanda?"

"Eng-enggak kok. Levi boleh ikut, dah ah nggak papa, makin rame makin bagus."

"Denger tuh!"sahut Levi ternyata masih mendengar percakapan tersebut.

"Bacot Lo!"

.:.

Hari sudah gelap, bahkan jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Namun Ketiga orang tersebut malah menghabiskan waktu bersama di sebuah Mall besar. Langkah mereka beriringan, dengan posisi Petra yang berada di tengah keduanya.

Manik milik Petra berkali-kali berbinar ketika melihat barang-barang indah yang terpajang manis di setiap perjalanan. Hingga kini mereka terhenti, di salah satu butik mewah milik manusia.

"Yup, kita kesini dulu yah,"ajak Eld kepada dua orang temannya. Mereka berdua mengekor, bagai anak ayam yang tak ingin terpisah dari induk ayam.

"Woah, bagus banget dress yang ada disini!"gumam Petra antusias. Levi yang mendengarnya langsung mengikuti arah mata gadis tersebut yang tertuju pada sebuah drees.

"Petra! Coba kesini sebentar!"panggil Eld membuat Petra tersadar. Gadis itu mencoba mendekati Eld yang sedang memilah beberapa dress yang ada di tangannya. "Bagaimana dengan yang ini?"

Petra mengangguk. "Ba-"

"Jelek! Lo nggak pintar banget pilih dress buat cewek,"sahut Levi santai. Entah hari ini sudah yang keberapa kalinya Levi memotong pembicaraan Petra.

Eld tersenyum kaku kepada Levi. Dia itu termasuk yang paling sabar dalam menghadapi dua manusia ini. "O-oke, kalau yang ini gimana menurut Lo?"

Eld menunjukkan dress yang berbeda dari sebelumnya. Petra berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.

"Jelek!"jawab Levi mendahului Petra. Gadis itu menoleh pada lelaki bersurai hitam tersebut, matanya memincing pada sang pemilik irir kelabu itu.

"Lo punya masalah idup apa sih, sampai motong pembicaraan Gue dari TA-DI?

"Yah menurut Gue jelek aja. Nggak salah kan buat berpendapat? Iyakan Eld?" Levi menatap Eld tersenyum. Ah bagi Eld itu adalah senyuman malaikat maut datar.

"I-iya."

Levi tersenyum menang ke arah Petra. "Emang kenyataan, dress tadi nggak ada yang cocok sama Lo."

"Hah?"kata Petra dan Eld bersamaan. Petra menautkan kedua alisnya, masih mencoba untuk mencerna apa yang si cebol itu katakan barusan. "Lo bilang apa Lev?"

Levi berdecih malas. "Tch, Lo tuli? Gue bilang kalau dress tadi nggak ada yang cocok sama Lo."

Tawa Petra seketika pecah, Eld yang mendengar pun berusaha kuat untuk menahan tawanya. Jadi ceritanya Levi ini salah paham kan?

"Lo kira dress ini buat Gue gitu?"tanya Petra tertawa melihat wajah tampan nan polos milik Levi.

"Yah iyalah, Kan Lo berdua jalan bareng. Buat apalagi coba?"kata Levi menginyakan, yakin dengan argumennya.

Petr menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tawanya semakin nyaring, mentertawakan orang bodoh yang ada di depannya. "Hahaha! Lo ogeb sumpah Lev!"

"Hah? Kenapa jadi Gue yang Ogeb?"tanya Levi masih tidak paham dengan situasi yang membodohi dirinya ini.

Tangan Petra menepuk pelan bahu lelaki yang tingginya dua centimeter diatasnya. Bibirnya menunjukkan senyum nakal. "Yah ogeb lah Levvv, Eld ini minta tolong Gue temani dia cari dress buat ceweknya."

Levi terpatung, ia merasa gila karena sudah termakan api cemburu. Melihat kedua orang itu seperti akan memulai pertempuran baru, Eld pura-pura mendekatkan ponsel ke telinganya. "Ah oke Gue OTW beb."

Eld tersenyum, menatap keduanya ragu. "Hehe, Gue udah dipanggil ayang beb. Gue duluan yah, makasih banyak udah nemani Gue dalam perjalanan tidak bermutu ini! Dahhh!"

Ia berlari kegirangan, akhirnya terbebas dari dua makhluk itu, sangatlah melegakan.

Petra melihat Levi yang nampaknya sedang menahan malu, tangan mungilnya menarik tangan kekar milik Levi, memberikan senyuman manisnya ke lelaki tersebut. "Ayo kita lanjut jalan-jalan!"

.:.

Kaki mereka melangkah beriringan, di malam yang penuh dengan lampu-lampu penerang. Petra sesekali bersenandung, entah kenapa suasana hatinya lebih baik dari sebelumnya. Levi yang sedari tadi diam hanya bisa memperhatikan wajah Petra yang tersenyum lebar.

Ini pertama kalinya bagi mereka untuk berjalan berdua di luar urusan pekerjaan, apalagi di malam hari. Mereka sama-sama menikmati kehangatan yang datang dari langkah demi langkah itu.

"Levi Lo nggak sibuk kan?"tanya Petra langsung dijawab cepat oleh anggukan Levi. "Nggak, Gue lagi luang."

"Hee.. kerjaan kita yang Lo bahas tadi gimana?"

"Gue bisa kelarin tuh kerjaan dalam semalam,"jawabnya. Petra mengkerutkan keningnya, bukannya itu kata-katanya? Dasar Levi plagiat.

"Ohh. Kalau gitu Gue boleh nanya?" Suara lembut itu bergema di pendengaran Levi, selain jalan berdua, ini pertama kalinya mereka bisa akur bersama.

"Hn, tanya aja."

"Lo cemburu yah Gue jalan bareng Eld?"

Levi tersedak salivanya sendiri, ia tidak menyangka Petra mengatakan itu tanpa rasa malu sedikitpun. "Kenapa Lo mikir gitu?"

Petra mengendikkan bahunya. "Entah, tapi dari gaya Lo seharian keliatannya sih cemburu."

"Kalau Gue bilang iya gimana?" Levi menoleh, kata-katanya barusan membuat dirinya malu sendiri.

"Gue suka kok."

Deg-

Jantung keduanya sama-sama tidak aman, berdetak kencang hingga menembus lambung yang membuat mereka sedikit mual. Petra menatap lurus ke arah mata Levi, mereka saling beradu pandang. Mencoba untuk memberi tahu kebenaran yang selama ini terpendam.

"Gue suka Lo cemburu gara-gara Gue jalan sama Eld."

Iris kelabu Levi melebar sempurna. Sudut bibirnya sedikit terangkat, menyusun retakan-retakan untuk menjadi satu. "Emh, kalau gitu ini buat Lo."

Levi menyodorkan sebuah paper bag pada Petra. Dan betapa terkejutnya Petra, mendapati dress yang sempat ia taruh atensi kepadanya.

"Dress ini? Buat Gue?"

Levi mengangguk. "Yup, buat perjanjian, kalau perang di antara kita selesai."

•Silent please-End•

•Ruihchanw•