Can't Lose What You Never Had

.

.

.

Disclaimer: Harry Potter milik J.K. Rowling

.

.

.

Menyatakan perasaan adalah hal yang berat dan membingungkan. Banyak keraguan di dalamnya. Bagaimana kalau orang yang kau suka ternyata tidak menyukaimu? Bagaimana kalau hubunganmu jadi rusak karena kau menyatakan perasaan pada orang yang kau suka? Hermione si ketua murid putri mengalami keresahan ini. Namun you can't lose what you never had bukan? Jadi tidak ada salahnya mencoba.

.

.

.

Hermione tengah duduk di ruang rekreasi asrama ketua murid dengan pikiran kusut. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah sang pangeran Slytherin, Draco Malfoy. Ia kesal melihat Pansy yang lengket seperti perangko dengan Draco. Yang paling membuatnya kesal adalah ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia bukan siapa-siapa dan tidak punya hak untuk marah atau apapun itu. Yang ia tahu hanya satu, ia cemburu. Iya, seorang Hermione Granger cemburu dengan kedekatan Draco Malfoy dengan gadis lain. Walaupun agak telat, Hermione akhirnya menyadari selama ini ia menyukai, tidak, ralat itu. Hermione mencintai Draco Malfoy, orang yang dianggap musuhnya selama ini. Walaupun tak akrab bukan berarti mereka saling membenci, kata benci terlalu kuat untuk menggambarkan hubungan keduanya. Tanpa disadari Hermione, subjek pikirannya saat ini telah memasuki ruang rekreasi mereka dengan tatapan bingung ketika melihat Hermione melamun.

"Granger? Kau terlihat semakin jelek melamun seperti orang bodoh." Ujar Draco dengan seringai mengejeknya mengejutkan Hermione. Satu bantal sofa melayang mencium manis wajah Draco yang dibalas dengan tatapan mengancam dari Draco. "Apa-apaan itu Granger. Kau ingin melukai wajah tampanku ini?" ujar Draco lagi dengan seringai sombongnya. Sementara si gadis ikal hanya memutar matanya

Hermione kemudian berdiri menuju kamarnya berniat melamun lagi tanpa gangguan sementara Draco hanya menatapnya dalam diam mengikuti pergerakan ketua murid putri tersebut. Sesampainya di kamar, Hermione merebahkan tubuhnya di kasur. Sebenarnya selain pemandangan Pansy yang berdekatan dengan Draco, pembicaraan dengan Blaise tadi juga mengganggu pikirannya.

"Granger, boleh aku duduk di sini?" Blaise menunjuk kursi perpustakaan di hadapan Hermione.

"Sure." Balas Hermione singkat dan kembali menenggelamkan diri dalam buku-buku di depannya walaupun ia heran mengapa pemuda Slytherin yang tak begitu akrab dengannya mau duduk bersamanya di perpustakaan. Beberapa menit keduanya terdiam dengan Blaise yang terlihat tengah berpikir keras.

"Granger, apa kau menyukai Draco" tanya Blaise tiba-tiba yang menyebabkan Hermione batuk karena tersedak salivanya sendiri.

"Apa-apaan pertanyaanmu itu Zabini." Ujar Hermione setelah batuknya selesai. Blaise hanya menahan tawanya mengingat mereka sedang berada di perpustakaan.

"Reaksimu itu seperti mengiyakannya, Granger." Balas Blaise dengan seringai. Sementara Hermione memilih untuk diam dan kembali ke bukunya walaupun otaknya tak bisa fokus lagi dengan jantung berdebar-debar keras. "Ayo jujurlah Granger, aku tahu jawabannya iya." Ujar Blaise yang kembali menarik perhatian Hermione.

"Tidak, itu hanya perasaanmu saja." Ujar Hermione singkat, padat, dan jelas.

"Kalau begitu kenapa kau sering sekali memperhatikan Draco?"

"Aku tidak pernah memperhatikan Malfoy. Untuk apa aku memperhatikannya."

"Come on, stop lying, Granger. Kau sering sekali memperhatikan Draco. Kadang dengan tatapan senang, kadang marah, kadang sambil senyum sendiri, dan kadang… mesum" Blaise menyeringai jahil setelah mengatakan hal terakhir. Hermione hanya merona mendengar ucapan Blaise. "Masih ingin menyangkal, Granger?" tantang Blaise. Hermione hanya diam berpikir sebentar. Sebenarnya dia sendiri juga tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap siswa yang dianggap musuhnya tersebut. Ia akui ia sering memperhatikan Draco dalam diam selama beberapa tahun belakangan dan semakin lama semakin intens. Apakah ia benar-benar menyukai Draco? Sepertinya begitu. Yang jadi masalah apakah pria di hadapannya ini bisa dipercaya untuk tidak menyebarkan percakapan mereka ke semua orang.

"Aku tidak pernah menatap Malfoy dengan tatapan mesum" sangkal Hermione yang dibalas tawa yang sangat pelan dari Blaise.

"Tapi kau tidak menyangkal kalau kau menyukainya." Skak mat dari Blaise. Hermione hanya menghela nafasnya pelan. Setelah dipikirnya sebentar, mungkin pria di depannya ini bisa dipercaya.

"Baiklah, kurasa aku menyukainya. Apa urusanmu?" ujar Hermione menghindari kontak mata dengan Blaise.

"Kurasa lebih dari menyukai, kau mencintainya, Granger. Tidak mungkin hanya rasa suka mampu bertahan bertahun-tahun"

"Mmm… Mungkin?" ujar Hermione tak yakin. Blaise yang mendengarnya hanya tersenyum.

"Kupikir kau gadis yang jenius, Granger. Ternyata kau bodoh sekali untuk masalah ini. Bagaimana mungkin kau tidak menyadari perasaanmu sendiri." Ucap Blaise yang dibalas dengan tatapan tajam dari Hermione. "Well, go get him, Granger." Ujar Blaise lagi memberi semangat kemudian berdiri menepuk bahu Hermione dan berjalan keluar perpustakaan meninggalkan Hermione yang terdiam di kursinya.

Hermione kembali mengingat-ingat percakapannya dengan Blaise tadi. Akhirnya ia menyadari kalo ia mencintai Draco selama ini. Blaise benar, ia bodoh sekali untuk masalah seperti ini. Butuh bertahun-tahun untuk menyadari perasaannya sendiri. Tidak ingin memikirkannya lagi, akhirnya Hermione pun memutuskan untuk tidur saja walaupun jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Akhirnya Hermione pun terbang ke alam mimpinya.

Besoknya sesudah kelas Hermione memutuskan untuk membaca sambil duduk di pinggir danau. Setengah jam membaca, Draco tiba tiba datang dan duduk dekat di sebelahnya yang membuat Hermione mengerutkan keningnya.

"Apa yang kau lakukan, Malfoy?" tanya Hermione dengan bingung.

"Menemanimu." Balas Draco singkat.

"Kau tidak sedang sakit kan?" tanya Hermione sementara Draco hanya menghela nafasnya pelan.

"Aku kasihan saja melihatmu begitu mengenaskan duduk di sini sendiri." Jawab Draco dengan senyum miring. Hermione yang malas berdebat pun hanya diam dan memutar matanya.

"Terserah padamu lah." Hermione mencoba fokus lagi membaca walaupun rasanya sulit karena jantungnya tidak berhenti berdebar-debar dan ia kesulitan bernafas. Setiap kali bernafas ia bisa mencium wangi Draco yang membuatnya semakin grogi. Setelah setengah jam tiba-tiba Hermione merasakan Pundak kanannya berat. Dilihatnya ke samping ternyata kepala Draco sudah bersandar di bahunya dengan mata tertutup dan tangan menyilang di dada.

"Hei Malfoy, apa yang kau lakukan?" tanya Hermione panik. Sementara Draco bergerak mencoba merilekskan tubuhnya.

"Diamlah Granger, aku mencoba bersantai. Menemanimu membaca membosankan"

"Kalau begitu tidak usah temani, aku juga tidak minta ditemani" Protes Hermione namun dianggap angin lalu oleh Draco.

"Shh, lanjutkan saja membacamu, Granger. Asal kau tahu, puluhan gadis rela berduel demi berada di posisimu saat ini, jadi nikmati saja." Ujar Draco dengan nada yang begitu menyebalkan di telinga Hermione. Hermione pun hanya diam dengan perasaan hangat mengalir dalam dirinya. Seperti kata Draco, ia berusaha menikmati keadaan sekarang. Diliriknya lagi Draco yang terlihat menutup kedua matanya dengan tenang. Ini sama sekali tidak adil, pikir Hermione. Draco terlihat santai saja namun ia berdebar-debar seperti baru saja olahraga berat. Namun pemandangan ini langka sekali. Jarang-jarang melihat pria di sampingnya dalam keadaan damai seperti ini. Melupakan bukunya, Hermione malah fokus memperhatikan Draco yang tengah menyenderkan kepala di bahunya.

"Apa yang kau lihat?" tanya Draco tanpa membuka kedua matanya. Hermione tersentak kaget dengan wajah merona.

"Ti-tidak ada." Elak Hermione kembali ke bukunya melewatkan momen Draco tersenyum kecil dengan tulus. Mereka masih mempertahankan posisi tadi dengan Hermione yang perlahan bisa mengendalikan debaran jantungnya hingga normal kembali. Setelah sejam atau mungkin lebih Draco akhirnya bangun dari posisi menyendernya.

"Kau kurus sekali, Granger. Kepalaku sakit bersender di bahumu." Ujar Draco memancing emosi Hermione. Hermione yang marah kemudian memukulkan bukunya ke bahu Draco dan berdiri.

"Stupid Malfoy," Hermione bergumam dengan keras yang dibalas dengan tawa dari Draco. Hermione yang mendengarnya hanya mendengus kemudian mulai berjalan berniat kembali ke asramanya, maksudnya asrama mereka berdua. Draco kemudian berdiri berjalan cepat mengejar Hermione dan kemudian berjalan seiringan dengan Hermione.

"Apalagi maumu?" tanya Hermione malas pada Draco yang kini berjalan santai di sampingnya.

"Kembali ke asrama kita, menurutmu?" balas Draco dengan senyum menyebalkannya. Hermione hanya diam, malas menjawab. Tidak lama mereka jalan tiba-tiba Pansy Parkinson datang dan menarik tangan Draco.

"Draco~ dari tadi aku mencarimu, kau kemana saja?" ujar Pansy manja. Hermione menatap pemandangan di depannya dengan perasaan marah, kesal, dan pastinya cemburu.

"Aku ada urusan sebentar tadi." balas Draco dengan malas dan singkat.

"Kenapa tidak bilang-bilang? Aku kan khawatir. Ayo temani aku ke perpustakaan" Ajak Pansy masih dengan nada manja yang sama. Draco awalnya ingin menolak namun ekspresi cemburu Hermione yang hanya bisa disadari oleh Draco mengubah pemikiran Draco.

"Tentu saja, Pansy." Draco mengiyakan ajakan Pansy dengan senyum jahil kemudian berjalan melewati Hermione yang diam saja namun menyembunyikan kecemburuannya. "Kau ikut, Granger?" tanya Draco menyeringai sementara Pansy menatap Draco dengan pandangan tak percaya. Tak percaya Draco mengajak Hermione untuk ikut bersama mereka. Hermione berpikir sebentar kemudian menggelengkan kepalanya.

"Alright then" balas Draco yang melanjutkan perjalanannya dan Pansy menuju perpustakaan. Sementara Hermione hanya berjalan menuju asrama ketua murid dengan sedikit menghentak kakinya. Sesampainya ia di asrama ketua murid ia duduk di sofa ruang rekreasi dan kembali membaca dengan perasaan kesal, kesal mengapa Draco mengiyakan ajakan Pansy begitu saja. Namun setelah dipikirnya lagi untuk apa dia marah, Draco bukan kekasihnya, hanya temannya, itu pun kalau pria itu juga menganggapnya teman. Jadi akhirnya ia hanya kembali fokus membaca buku. Namun karena lelah, tidak butuh waktu lama Hermione mengantuk dan tertidur di sofa dengan merebahkan tubuhnya dan buku yang dbacanya terbuka menutupi dadanya.

Tidak lama kemudian setelah menyingkirkan Pansy, Draco kembali ke asrama ketua murid dan mendapati Hermione tengah tertidur. Dihampirinya sofa tempat Hermione tertidur dan berjongkok di samping gadis itu memperhatikan wajahnya. Setelah beberapa menit Draco memutuskan untuk membangunkan Hermione. Dicoleknya pipi Hermione berusaha membuat gadis itu bangun namun gagal. Kembali dicoleknya pipi Hermione namun hasilnya masih sama. Akhirnya dengan kedua tangannya ia mecubit kedua pipi Hermione yang terlihat berhasil. Hermione membuka kedua matanya dengan pipi yang masih dicubit Draco

"Ouch" ujar Hermione yang membuat Draco melepaskan cubitannya dan tertawa. Hermione menghadiahkan tatapan tajamnya pada Draco. "Apa yang kau lakukan, Malfoy?" tanya Hermione.

"Membangunkanmu." Jawab Draco singkat tanpa rasa bersalah sama sekali.

"Kan bisa kau bangunkan dengan cara yang normal. Memanggilku atau menepuk pundakku." Ucap Hermione kesal sementara Draco hanya tertawa.

"Cara seperti itu tidak menyenangkan." Balas Draco setelah selesai tertawa.

"Cepat sekali kau kembali, Malfoy," ujar Hermione memperhatikan jam. "Bukankah kau tengah berkencan dengan Parkinson?" tanya Hermione ketus yang mengundang seringai licik Draco.

"Kau cemburu eh Granger?" tanya Malfoy masih mempertahankan seringainya yang bisa membuat gadis-gadis meleleh itu. Yang ditanya hanya diam merona dengan wajah jutek.

"Untuk apa aku cemburu dengan ferret sepertimu." Malfoy kembali tertawa mendengar balasan Hermione yang ia tebak adalah kebohongan.

"Karena kau sudah bangun, pindahlah ke kamarmu kalau mau tidur. Aku juga mau istirahat di kamarku" ujar Draco kemudian berlalu setelah menepuk pelan kepala Hermione. Hermione terdiam dan menyentuh puncak kepalanya dengan perasaan hangat dan kemudian tersenyum kecil. Mengikuti saran Draco ia pun pindah ke kamarnya membawa bukunya. Setelah menyusun bukunya ia merebahkan diri di kasurnya masih dengan senyum senang terpatri di wajahnya.

.

.

.

Besoknya Hermione kembali menghabiskan waktunya di perpustakaan. Kali ini Blaise datang lagi namun langsung duduk di hadapan Hermione tanpa meminta izin seperti sebelumnya. Hermione hanya memperhatikan gerak geriknya dalam diam kemudian lanjut membaca.

"Jadi Granger, bagaimana perkembangan hubunganmu dan Draco?" tanya Blaise. Yang ditanya hanya menghela nafas panjang menutup buku yang dibacanya kemudian menjatuhkan kepalanya di tumpukan buku.

"Jalan di tempat," ujar Hermione singkat dengan frustrasi.

"Jalan di tempat bagaimana?" tanya Blaise heran

"Ya ferret kecil itu masih saja lengket dengan Parkinson, bagaimana mungkin ada perkembangan hubungan kami." Jawab Hermione dengan ketus.

"Kau tidak pernah mencoba menyatakan perasaanmu padanya?" tanya Blaise lagi dengan ekspresi prihatin memperhatikan keputus asaan gadis di depannya yang dibalas dengan gelengan kepala dari Hermione.

"Kenapa tidak mencobanya?" tanya Blaise lagi dengan serius.

"Aku takut."

"Coba saja lah, after all, you can't lose what you never had." Ujar Blaise yang membuat Hermione mengerutkan keningnya.

"Maksudmu Zabini?"

"Seperti yang kubilang. Kau dan Draco dari awal tidak punya hubungan yang terlalu baik, bukan? Apapun balasannya tidak ada pengaruhnya, kalian kan bukan teman. Palingan jika dia menolakmu, kalian hanya akan menjadi canggung beberapa hari, setelah itu kembali seperti keseharian yang biasa, nothing to lose, bukan?"

"Entahlah, aku ragu." Ujar Hermione pelan dengan nada tidak yakin.

"Apa yang membuatmu ragu? Status darahmu?" Tanya Blaise yang dibalas dengan anggukan Hermione.

"Come on Granger. Draco sudah berubah, sikapnya padamu juga sudah lebih baik bukan?"

"Sedikit lebih baik," ralat Hermione. "Ia masih menyebalkan." Sambungnya yang dibalas dengan tawa pelan dari Blaise.

"Daripada kau uring-uringan seperti orang gila. Setidaknya menyatakan perasaan dan mengetahui balasannya, baik atau buruk, bisa mengurangi beban pikiranmu dan kalau kau mendapat hasil terburuk, kau akan move on dengan lebih mudah, dan kalau kau dapat hasil terbaik, selamat untukmu." Jelas Blaise panjang lebar yang sepertinya membuat Hermione tertarik.

"Kau tidak salah juga, Zabini. Sepertinya akan kupikirkan saranmu." Hermione akhirnya mengangkat kepalanya dengan sedikit semangat yang membuat Blaise tersenyum senang. Sementara Hermione mulai membereskan buku buku yang tadi tengah dibacanya.

"Kalau begitu, aku mau kembali ke kamarku, Zabini. Terima kasih atas sarannya." Ujar Hermione tersenyum kemudian pergi meninggalkan Blaise.

'Sepertinya rencanaku sukses,' batin Blaise memperhatikan Hermione yang berjalan keluar perpustakaan. Hermione terus berjalan menuju asrama ketua murid. Setibanya di sana didapatinya ruang rekreasi dengan keadaan kosong.

"Malfoy?" Panggil Hermione yang dijawab dengan keheningan. Setelah menarik kesimpulan Draco sedang tidak di asrama mereka, Hermione melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya. Setelah itu diputuskannya untuk mandi membersihkan dirinya. Selama mandi ia mempertimbangkan saran dari Blaise. Haruskah ia menyatakan perasannya? Otak pintarnya masih kesulitan menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Setelah beberapa menit dihabiskannya untuk membersihkan diri dan berpikir, Hermione menyudahi kegiatan mandinya, berpakaian, kemudian duduk di ruang rekreasi. Setelah berpikir lama ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran Blaise, yaitu menyatakan perasaannya pada Draco.

Jadi di sinilah Hermione sekarang, duduk dengan perasaan tidak menentu menunggu Draco masuk ke asrama mereka. Gugup, takut, bersemangat, semuanya menjadi satu. Jam di ruang rekreasi terus berjalan namun Draco masih belum terlihat batang hidungnya. Tidak sabar, Hermione berdiri dan mondar mandir gugup. Memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Draco.

Hermione gelisah. Ia sedang menimbang-nimbang. Sejak menjadi ketua murid, hubungan ia dan Draco memang membaik. Draco terkadang menunjukkan perhatian kecil padanya seperti membangunkannya jika ia tertidur di sofa ruang rekreasi mereka atau membantunya membereskan buku-bukunya jika ia membaca di ruang rekreasi. Tapi bagaimana kalau itu ternyata hanya berada di batas pertemanan biasa karena Draco pun sering terlihat dekat dengan gadis lain seperti Pansy atau Astoria. Atau bagaimana jika Draco malah menjauhinya jika ia menyatakan perasaannya. Tetapi Blaise ada benarnya juga, can't lose what you never had. Di satu sisi Hermione ingin menikmati hubungan mereka seperti saat ini saja tetapi hatinya menolak, ia ingin lebih. Sepertinya ia katakan saja semuanya secara gambling agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari. Terlalu larut dalam pikirannya, Hermione tidak menyadari pintu asrama yang terbuka memperlihatkan Draco yang memasuki ruang rekreasi mereka.

"Kau kenapa, Granger?" Hermione tersentak kaget dengan kehadiran tiba-tiba Draco. Dalam diam Hermione memperhatikan Draco masuk dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.

"I-itu, ada yang ingin kubicarakan padamu." Ujar Hermione pelan hampir tak terdengar.

"Hm? Katakan saja." Jawab Draco dengan nada heran.

"Itu, aku-"

"Duduklah, aku tidak nyaman bicara dengan orang yang berdiri ketika aku duduk," potong Draco sambil menepuk tempat di sebelahnya. Hermione hanya mengangguk dan berjalan kemudian duduk di samping Draco dengan tidak nyaman. Sementara Draco terlihat santai.

"Itu Malfoy. Sebenarnya aku…" Hermione diam memikirkan lanjutan kalimatnya. Draco hanya menaikkan alisnya. Mendapati Hermione yang masih terdiam, ia menghela nafas.

"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Granger." Ujar Draco malas.

"Aku… Aku menyukaimu, Malfoy. Tidak, aku mencintaimu, Malfoy." Ujar Hermione yang membuat Draco terdiam sebentar karena terkejut. Hermione terengah-engah. Akhirnya tiga kata itu keluar dari mulutnya. Setelah bertahun-tahun dia merasakannya dan setelah sekian lama ia uring-uringan, tiga kata itu akhirnya diucapkannya. Malfoy yang sudah lepas dari keterkejutannya mengerutkan keningnya.

"Kau serius, Granger?" Tanya Draco dengan nada penuh selidik yang dibalas dengan anggukan dari Hermione. "Sejak kapan dan kenapa?" tanya Draco lagi pada Hermione yang wajahnya sudah sepenuhnya memerah.

"Aku… juga tidak yakin. Tanpa kusadari aku sering memperhatikanmu. Pelan-pelan jantungku mulai berdebar hebat setiap kali aku berada di dekatmu. Aku juga kesulitan bernafas. Awalnya kukira ini semacam kutukan atau apa darimu. Akhirnya kusadari ini perasaan cinta." Jelas Hermione panjang lebar dengan wajah memanas. Draco yang awalnya diam akhirnya tertawa. Sebenarnya tawa biasa, bahkan tawa lega. Namun Hermione merasa tawa tersebut adalah tawa mengejek untuknya. Hermione yang merasa marah pun kemudian berdiri.

"Aku tahu kau pasti akan menganggap ini lelucon. Aku hanya seorang muggle-born mana mungkin bisa bersanding dengan pureblood sepertimu. Aku sadar aku tidak pantas untukmu. Anggap saja apa yang kukatakan sebelumnya sebagai angin lalu." Ujar Hermione dengan mata berkaca-kaca. Ia menyesali pilihannya untuk mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Draco dan sekarang ia merasa malu karena cengeng seperti ini. Hermione baru akan melangkahkan kakinya menuju kamarnya namun dihentikan oleh tangan Draco yang menarik dirinya hingga ia terduduk di atas pangkuan Draco.

"Kau bahkan belum mendengar jawabanku tetapi sudah membuat kesimpulan sendiri." Ujar Draco menghapus air mata di kedua mata Hermione menggunakan tangannya dengan lembut kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hermione menahan gadis itu yang mencoba kembali berdiri.

"A-apa yang kau lakukan Malfoy." Hermione dengan panik dan malu mencoba berdiri namun masih tertahan dengan kedua tangan Draco di pinggangnya. Tiba-tiba benda kenyal dan dingin menyentuh bibir Hermione dengan ringan dan lembut. Setelah beberapa detik Draco melepas ciumannya kemudian memegang wajah Hermione dengan satu tangan masih memeluk pinggang Hermione.

"Dengarkan aku dulu, Granger." Ucap Draco pelan. Hermione yang masih terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari Draco hanya diam menatap Draco dan mengangguk.

"Jangan pernah pikirkan lagi soal status darahmu, Granger. Aku tidak peduli lagi dengan semua omong kosong itu. Aku bukan tertawa mengejek atau apa. Aku justru sangat lega mengetahui bahwa cintaku tidak bertepuk sebelah tangan." Draco tersenyum dengan tulus pada Hermione.

"Maksudmu, kau juga-"

"Ya, aku juga mencintaimu, Hermione Granger."

"Kau tidak sedang mengerjaiku, bukan?" tanya Hermione yang dibalas dengan senyuman dan gelengan kepala dari Draco. Draco mencium kedua pipi Hermione kemudian mencium kembali bibirnya dengan perlahan dan lebih lama kali ini. Draco menggigit pelan bibir bawah Hermione kemudian menyapukan lidahnya di sana. Mereka terus berciuman hingga keduanya merasa kehabisan oksigen.

"You have no idea how long I've been waiting for this moment, Granger." Bisik Draco di telinga Hermione dibalas dengan senyum lebar dari Hermione.

"Me too, Malfoy. Me too." Balas Hermione.

.

.

.

Beberapa hari sebelumnya…

"Blaise, ada yang ingin kubicarakan" panggil Draco mengajak Blaise ke tempat yang lebih privat dimana hanya ada mereka berdua.

"Ada apa, mate?" tanya Blaise.

"Tentang Granger, aku butuh bantuan." Jawab Draco singkat.

"Kau akhirnya mau menyatakan perasaanmu padanya?" tanya Blaise semangat. Ya, Blaise adalah satu-satunya orang yang tahu mengenai perasaannya pada Hermione juga hampir semua kisah mereka. Draco menggeleng mendengar pertanyaan Blaise.

"Jadi?" tanya Blaise.

"Aku mau kau membuat Granger menyatakan perasaannya padaku." Pinta Draco yang membuat Blaise mengerutkan keningnya.

"Caranya?" tanya Blaise lagi.

"Terserah padamu, pokoknya dia harus menyatakan perasaannya padaku. Kalau kau berhasil, kubelikan apapun yang kau mau." Rayu Draco yang kembali membuat Blaise berpikir.

"Baiklah, akan kucoba." Balas Blaise.

'Dasar pengecut, padahal kau sudah tau Granger juga menyukaimu' batin Blaise. Seorang Malfoy punya 1001 cara untuk mempertahankan gengsi dan egonya, bahkan dalam hal percintaan.

.

.

.

Fin

.

.

.

Pojok Bacot Author

Halo semuanya, saya author baru di fandom ini dan ini juga fanfic pertama saya di fandom ini, jadi maaf masih terdapat banyak kekurangan di fic ini. Saya memang ga jago nulis aslinya sih, tapi hobi aja nyoba-nyoba, hehe. Well, tinggalkan jejak kalian di kolom review, saya mohon feedback nya agar saya bisa terus berkembang, semua kritikan saya terima dengan lapang dada.

Thanks for reading!
Sorachi Na-Chan