Disclaimer : Haikyuu belongs to Haruichi Furudate
Character : Nishinoya Yuu, Shirabu Kenjirou
Pair : Shirabu x Nishinoya (ShiraNoya)
Rating : T
Genre : Romance
Warning : Boys Love/Shounen-ai, Alternative Universe, OOC, Typo[s, etc.
"Apa?"
Nishinoya berkedip.
"...Apa?" tanyanya kembali, tidak membantu.
"Kau menatap."
"...Dan?"
Shirabu tampak tidak puas. Mulutnya mengerut hendak melontarkan sesuatu namun urung melakukannya. Sebaliknya, setelah memberi Nishinoya beberapa pandangan menusuk, perhatiannya dipaksa fokus pada buku di tangan dan maniknya menjarah barisan kalimat rapi ketikan komputer, berulang-ulang. Mencoba masa bodoh pada tatapan lurus yang sengaja ditembakkan ke arahnya, Shirabu menyerah.
"Ada yang salah dengan wajahku?!" bentaknya cukup keras.
Mata bulat penuh sewarna bumi milik Nishinoya melebar tidak lama untuk segera mengecil ke ukuran semula. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
Shirabu menghela nafas berat. Buku Sejarah diturunkan dan tangan kanan berganti menyisir sekilas surai halus yang menutupi dahi. Nishinoya mengira-ngira pemuda itu tengah menyiapkan umpatan yang belum pernah didemonstrasi, tapi sepertinya tidak juga.
"Karena kau terus-terusan memandangku dan andai kata jika tatapan itu laser, maka mereka akan langsung bisa menghanguskanku di tempat."
Nishinoya berusaha menyeringai sehalus mungkin untuk dapat disadari oleh Shirabu. Jari telunjuk dan tengahnya memainkan pena sepanjang 15 cm di jemari, memutar-mutarkan lambat selagi Nishinoya mengamati pemuda di hadapannya. Nishinoya bisa menangkap kegelisahan yang terpancar. Mulai dari posisi duduk yang kerap berubah setiap beberapa menit sekali atau jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan kekuatan lebih dari seharusnya.
Mereka dihadiahi pelototan dari Pustakawan.
Umpatan Shirabu mencuri atensi Nishinoya. "Damn it!"
Nishinoya tersenyum mengejek. "Kau salah tingkah," cemoohnya.
"Aku tidak!"
Shirabu menggertakkan gigi. Kini kedua tangan rampingnya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih. Nishinoya melirik garisan urat yang menonjol karena gerakan barusan, menelusuri dengan mata sampai di mana otot-otot tersebut menghilang ditelan ujung lengan bajunya.
"Oh."
Hanya itu.
Dan itu sudah cukup membawa Shirabu kepada ambang batas kesabarannya.
Nishinoya disentakkan oleh gerakan tiba-tiba dari pemuda di depannya. Shirabu bangun dari kursi dengan lonjakan. Tempat duduk tak bersalah hampir terjungkal dari tempatnya. Meja yang berderit keras menarik perhatian Pustakawan di sudut lain ruangan untuk yang kedua kalinya. Mereka mendapatkan sshhh-an halus (–tadi itu sudah dua teguran) dan tatapan tajam yang jelas-jelas tidak menyenangkan. Nishinoya mengedik acuh.
Matanya kembali pada entitas yang berdiri menjulang sehingga Nishinoya harus mendongak. Terlepas dari dasar bahwa tingginya yang memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan pemuda di hadapannya kini. Nishinoya mendapati dirinya tiba-tiba tertarik akan bagaimana jauhnya rentang jarak di antara tinggi badan mereka.
Nishinoya jujur acuh tak acuh jika berkaitan perihal pertumbuhan. Dia kesal jika ada orang yang menyinggung soal tinggi badannya tapi itu tidak pernah menjadi masalah besar. Dia sudah berhenti menerapkan berbagai metode untuk dapat setidaknya tumbuh setinggi teman-teman sebayanya. Namun mengetahui itu tidak begitu membuahkan hasil, Nishinoya tidak lagi berharap banyak.
Ini mungkin gen. Semua orang juga tahu kakeknya pendek–kerdil kalau Nishinoya boleh bilang. Tapi sebaiknya tidak katakan itu langsung di hadapan Sang Kakek, dia mungkin tidak marah tapi lebih seperti tersinggung. Lagipula siapa yang senang-senang saja pertumbuhannya dijadikan bahan lelucon. Nishinoya sudah pasti tidak.
Tapi dia di sini sekarang, menengadah hanya untuk menemukan Shirabu yang membayanginya. Tidak ada kata lain yang bisa Nishinoya pikirkan selain, mengemaskan. Anggap Nishinoya gila dan Shirabu yang mengamuk juga bukan satu hal yang bagus. Tapi, sial...
Nishinoya mungkin harus berhenti memikirkan hal-hal konyol seperti perbedaan tinggi badan misalnya.
Dia menggeleng pelan, geli sendiri akan betapa mengerikan jalan pikirannya. Ini bermula seusai jam olahraga. Mereka berganti pakaian ke seragam resmi dan saat itulah Nishinoya tidak bisa menutupi keterkejutannya.
Wristband yang biasa Nishinoya pakai sehari-hari, berwarna hitam dan ujung tepinya berwarna abu-abu, khas. Tentu saja. Hanya satu orang yang pernah memakainya ke sekolah dan itu langka karena ada ukiran abjad NY membentang di atasnya, inisialnya.
itu sudah lama hilang, setidaknya menurut Nishinoya. Dia tidak ingat kapan, tapi yang jelas Nishinoya meninggalkannya di suatu tempat dan setelah itu hilang, lenyap dibawa debu. Siapa sangka Shirabu memilikinya di loker gantinya dan saat benda itu menggelinding jatuh membentur ujung sepatu Nishinoya, itu juga tidak disangka-sangka.
Betapa sialnya untuk Shirabu.
Nishinoya ingat ekspresi tersiksa pemuda itu. Tenggorokannya seolah dicekik oleh tangan tak kasat mata. Sebelum sempat sepatah kata pun meluncur dari bibir Nishinoya, Shirabu sudah melesat pergi. Meninggalkan kata-katanya mati di ujung lidah. Melupakan pintu loker yang dibiarkan menganga dan Nishinoya bingung sebab itu seharusnya dikunci. Nishinoya tentu bukan pemegang kuncinya. Tapi sang pemilik telah menghilang entah ke mana.
Di perpustakaan mereka bertemu lagi. Lucunya harus duduk berhadapan. Sebelummya tidak apa-apa. Ada Ryu dan Hisashi di meja yang sama. Sempat berganti Yahaba dan juga Tora sampai akhirnya tersisa mereka berdua. Yang lain sudah pulang. Tidak mau repot menghabiskan waktu lama-lama di neraka buku dan tambahan monster bermata setajam silet yang duduk tenang tanpa suara di balik meja penunggu pustaka.
Meski Nishinoya tidak mengatakan apa-apa, Shirabu pasti bisa merasakan tatapannya. Karena sesekali pemuda itu akan mengubah arah duduknya dan resah sepanjang saat. Nishinoya tidak tahu apa dia harus memberitahukan fakta bahwa Shirabu sempat membaca terbalik yang sepertinya tidak disadarinya namun mengundang kerutan dalam di dahi Chikara. Chikara untungnya berbaik hati dengan tidak mengatakan apapun dan berlalu begitu saja.
Nishinoya tidak begitu mengenal orang seperti apa Shirabu Kenjirou itu. Dia ketua kelas, punya tatapan intimidasi sekelas pengawas ujian, kadang-kadang bicaranya setajam belati. Namun itu tidak berarti apa-apa karena Nishinoya masih tidak mengenalnya dengan baik. Dia tampan, seisi kelas mengakuinya. Dan dengan kepribadian sedisiplin dan selurus penggaris, Nishinoya tidak bisa meng-ekspetasikan ketertarikan pemuda itu terhadap orang-orang sejenis Nishinoya.
Ya, seperti dirinya.
Nishinoya mengira itu akan seperti Chikara yang mendedikasikan seluruh waktunya pada pelajaran atau Yahaba yang tidak bertingkah aneh-aneh di luar batas nalar. Dan Nishinoya sudah pasti tidak berada di antara keduanya. Dia berantakan, secara harfiah, mulai dari penampilan, pekerjaan, pelajaran juga kebiasaan, semua orang tahu itu.
Bukannya Nishinoya peduli dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Tapi tetap saja...
Nishinoya sadar selama ini Shirabu sering menatapnya dan jika Nishinoya menoleh untuk memastikan, pemuda itu sedikit tergagap tapi tak segera mengalihkan pandangan dan justru berlama-lama dengan mata menusuknya. Nishinoya berpikir itu salah satu trik mengintimidasi Shirabu karena bagaimana pun juga dia adalah seorang ketua kelas dan Nishinoya termasuk satu dari sekian banyak murid bermasalah.
Siapa yang bisa mengira tatapan itu punya makna berbeda. Dan seharusnya jika Nishinoya lebih jeli, dia akan menangkap semburat merah tipis setiap kali dia melakukan seringai kecil main-main pada Sang Ketua Kelas. Itu tidak dimaksudkan untuk menggoda. Nishinoya hanya mencoba bersikap ramah dalam menghadapi amarah Shirabu. Namun rupanya itu menimbulkan reaksi lain, karena berikutnya sudut mulut Shirabu berkedut dan dia akan melayangkan kerlingan sesaat pada Nishinoya.
Jadi sekarang dengan Shirabu yang tampak kesal dan sepertinya salah paham; dia mungkin menyangka Nishinoya akan mencemoohnya atau paling kasar memaki-maki–Ryu lebih ahli di bidang itu, Nishinoya bingung harus melakukan apa. Dia bukan pembicara baik dan sedikit saja kata-katanya terpelintir, semua akan menjadi bumerang. Maka berbekal keberanian yang Nishinoya sering gunakan dalam pertarungan antarsekolah...
"Mau pulang bersama?"
Shirabu terperangah. Tampak keluar dari pikirannya sejenak. "A–Apa...Kau–Apa yang kau–"
"Tidak apa kalau kau menolak."
Itu bukannya tidak apa. Nishinoya mungkin akan sakit hati.
Shirabu tampak berpikir sejenak. Mereka saling memandang tepat di mata masing-masing, mencoba membaca satu sama lain. Mereka sama meraba-raba. Shirabu melepas napasnya yang sedari dibendung dalam paru-paru, tidak sadar telah menahan napas selama itu.
"...Oke."
"Oke?"
Mereka kembali terdiam.
"Oke," ulang Nishinoya.
Kepalanya menggangguk-angguk, kesadaran menghantamnya seketika. Nishinoya tidak bisa menahan senyum yang mengembang.
"Kau tidak berniat bermalam di perpustakaan ini 'kan?"
Shirabu sudah menunggu di pintu dengan tangan menenteng tas dan makalah. Segera Nishinoya juga membereskan peralatan untuk menyimpannya di dalam tas. Dia beralih ke Pustakawan sebentar, menundukkan kepala isyarat kesopanan.
"Kau lama, Yuu," katanya.
Nishinoya terkekeh. Menyampirkan tas dibahu dan menghampiri naksirnya.
Yeah, juga tidak ada yang menduga Nishinoya telah jatuh dalam perangkap pesona Sang Ketua di hari pertama pembagian kelas. Itu cukup adil, 'kan?
"Demi Tuhan, Yuu!" gusarnya karena Nishinoya tak kunjung-kunjung bergerak.
Nishinoya tertawa. Tawanya ringan karena Shirabu tersenyum manis di sana.
I don't even know what is this. So yeah, hope you enjoy it! – Cal.
