Setiap manusia pasti memiliki prinsip, itulah yang Uchiha Sasuke percayai. Pribadi yang berbeda, tentu saja prinsipnya pun pasti berbeda. Dan dia masih tidak mengerti mengapa Haruno Sakura memaksakan prinsipnya pada orang lain. Ini bukanlah tuduhan, tetapi kenyataannya.
Kenyataan yang bukan hanya dilihat olehnya, namun seluruh masyarakat sekolah. Sasuke benci mengatakan kalau Haruno Sakura sekarang tak lebih dari gadis yang dimusuhi satu angkatan kendati namanya selalu berada di atas yang lain. Nilai-nilai sempurna, paras cantik, keluarga bermartabat, hanya saja kurang rasa kemanusiaan dan sedikit brutal.
Sasuke telah berulangkali menghadapi pribadi keras Sakura, dan mereka selalu berakhir dengan saling tarik jika tidak sengaja bertemu di luar kelas. Adu mulut kalau Sakura tidak sengaja memergokinya membaca manga, atau menggenggam Nintendo switch-nya. Gadis itu akan menarik kerahnya menuju ke ruang komisi kedisplinan sementara dia tak akan berhenti melontarkan sumpah serapah.
Semua terjadi layaknya siklus, tidak ada perbedaan signifikan meskipun mereka memasuki jenjang sekolah menengah atas, bukan hanya karena mereka tetap berada di Akademi yang sama tetapi juga karena Sakura yang tak kunjung berubah.
Hanya beberapa hal saja. Gadis itu pada akhirnya memutuskan memakai lensa kontak, tidak menjepit poninya, dan menggunakan kaos kaki hitam (atau haruskah dia sebut stocking meskipun tampak seperti celana?) yang sangat panjang hingga menutup keseluruhan kaki dan mengenakan rok pas di lutut.
"Selamat pagi, Buntut Ayam."
Masih beruntung disapa, karena di hari-hari biasa Sakura hanya akan melewatinya. Kesempatan seperti ini hadir karena suasana hati keduanya sedang baik. Mengapa keduanya? Karena Sakura tidak akan menyapa kalau dia melihat Sasuke melakukan hal-hal yang tidak dapat ditoleransi (termasuk menatapnya dengan dagu yang tinggi) dan Sasuke tidak akan hanya mengangguk kalau disebut Buntut Ayam melainkan akan melempar buku ke arah Sakura.
Dan sekarang dia mengangguk, melanjutkan aktivitasnya sementara Sakura mengalungkan tanda pengenal pada lehernya sebelum beranjak keluar kelas. Patroli pagi? Nah, Sasuke tidak peduli.
Tetapi mata hitamnya perlahan mengekori. Melihat kondisi mental sang gadis yang nampak stabil membuat kepalanya mulai memikirkan hal tidak masuk akal mengenai alasan kewarasan Sakura hari ini. Karena suasana hatinya terlalu bagus sampai dia mengabaikan Rock Lee yang melakukan handstand di koridor. Biasanya pemuda maniak hijau itu setidaknya akan kena satu kali jewer atau satu alinea ceramah dari Sakura. Apa kiranya yang membuat Sang Ketua Komisi Disiplin ini begitu tenang?
Kemudian ingatannya melayang pada kejadian sebulan lalu, tepatnya hari kedua liburan musim panas.
Ah, tidak mungkin, tidak mungkin sama sekali, batin si Buntut Ayam. Peristiwa itu berputar di kepala, tetapi Sang Empunya menggeleng kuat. Tak mampu menerima kenyataan hingga berlari ke luar kelas di saat bel sudah berbunyi.
"Kau harus berjanji padaku, oke?"
Hahahaha, Sasuke berharap tawa mirisnya tak menyebar ke luar batin. Tidak, tidak mungkin.
.
.
.
.
.
.
janji jari tengah.
Naruto © Masashi Kishimoto.
Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura adalah musuh. Setidaknya begitu yang mereka pikir sebelum malam dahsyat yang membuat Sasuke meminta Sakura untuk mengikrar janji dengan jari tengahnya. / "… iya, aku janji …" / Respons malu-malu itu membuat Sakura ingin tenggelam ke palung laut terdalam.
I don't take any profit by writing this.
PERINGATAN! Ada beberapa bahasa kasar yang terselip, jadi dimohon kebijaksanaannya dalam membaca. Majas hiperbola di mana-mana, sedikit out of character, dan PANJANG—bertele-tele, POKOKNYA HIPERBOLA BANGET. alur maju-mundur gk jelas, lebih gk jelas dari hubunganmu dengannya. HUMORNYA BOHONG BESAR, saya sangat tidak menyarankan untuk berekspetasi bisa tertawa karena fanfik ini. Anda sudah diperingatkan.
Selamat membaca!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
janji jari tengah
bagian satu: sebatas tendensi
.
.
.
.
.
.
.
.
.
YAMANAKA Ino, teman sehidup Sakura (karena belum mati, tidak sopan menyebutnya kawan sehidup-semati), merasa ruang komisi disiplin akhir-akhir ini sepi pengunjung. Terlalu sepi karena sekarang masih masuk periode rawan; berakhirnya liburan musim panas akan memantik beberapa tindakan kriminal; membolos, mengenakan aksesoris berlebih, memeluk manga sepanjang jalan adalah pelanggaran paling dasar. Seharusnya Sakura setidaknya menangkap tiga orang setiap harinya.
"Sakura, kau oke?"
Mau dibilang oke juga … iya, dia oke. Tapi dibilang tidak oke juga … iya, dia sangat tidak oke. Sakura menyingkirkan tetes air mata keputusasaan di ujung kelopak matanya. Haruskah dia menceritakan segalanya pada Ino? Gadis paling ember sedunia?
"Ngomong-ngomong, aku dengar dari Naruto, katanya kau akhir-akhir ini tidak bertengkar dengan Sasuke, ya?"
Hahahaha. Jleb. Hahaha. Lurus, menusuk tepat di ulu hati. Perempuan berambut merah muda itu mengangguk tidak ikhlas. "Bisa dibilang begitu."
"Eh? Serius?" Ino menopang dagu. Kelihatannya akan jadi sangat menarik! "Padahal aku lihat dia main Nintendo di bawah tangga tadi. Kau tidak mau menyeretnya ke mari?"
"Kau lihat? Kenapa tidak kau yang seret?"
"Duh, aku kan sekretaris! Bukan anggota komisi disiplin!"
"Tetap saja, komisi disiplin berada di bawah komando kalian para anggota OSIS. Menegur satu dua orang tidak akan melukai reputasi kalian." Nadanya sarat akan dendam.
Ino mencebik. "Kau sangat ingin mengalihkan topik tapi tidak apa, akan kujawab pernyataanmu. Pertama, reputasi itu tidak penting. Kedua, Naruto juga menegur anak-anak bandel sekolah dan bahkan menariknya kembali ke jalan kebenaran. Ketiga, semua orang tahu kalau Uchiha Sasuke itu mangsamu, siapa yang berani mengambil alih?"
Memangnya aku preman?! Sakura mendecih tidak terima. "Aku hanya tidak nafsu bertengkar dengannya."
"Jadi nafsunya ngapain? Berciuman?"
"B-berengsek! Apa yang kaukatakan?!"
Ino hanya mengujar iseng, namun melihat wajah kawannya yang merona hebat membuatnya semakin yakin ada hal-hal yang tidak patut telah terjadi di antara Sasuke dan Sakura. Entah mereka terlibat sindikat perdagangan gelap atau apa, tapi yang jelas Ino tahu kalau itu hal yang besar. Cukup besar untuk membuat Sakura kacau seperti ini.
"Hei. Ceritakanlah pada Nona ini. Semua masa lalu problematikmu akan terpecahkan dalam lima menit," ujar Ino, menepuk dadanya bangga.
"Walau aku cerita sepuluh menit?"
"… Lima menit setelah kau selesai bercerita. Nona ini butuh waktu untuk berpikir."
Sakura menimang-nimang. Sudah tiga puluh hari penuh dia memendam ini, rasanya nuraninya akan sakit kalau berlangsung lebih lama lagi. Menghela napas, dia bersiap menceritakannya.
"Aku …"
"Sebentar! Sebentar! Aku menuang teh dulu."
Ino, kau akan menyesali ini, Sakura membatin dongkol, tetapi tangannya mengangkat cangkir dan menyesap tehnya. Enak, sasuga sang Sekretaris, membuat teh adalah kemampuan dasar.
"Jadiii?"
"Ini sebenarnya juga gara-gara kau, Ino."
"Aku?"
"Ingat tidak? Di hari kau bilang tentang aku yang tidak bisa bersenang-senang …"
Nyaris menyemburkan tehnya, Ino bertanya kaget, "H-hari itu?!"
"Iya, tiga hari sebelum liburan musim panas …"
"Sepertinya kau tidak perlu lagi, deh," ungkap Uzumaki Naruto, tidak menatap langsung orang yang dikomentarinya. "Inspeksi atau patrol itu, bisa kita hentikan sekarang. Liburan sebentar lagi, tidak apa kalau bersenang-senang sedikit."
Haruno Sakura meletakkan penanya dengan tenaga dan emosi penuh. Bunyinya membuat seisi ruangan terpaku pada mereka berdua. Huh, mentang-mentang bocah ini jadi Ketua OSIS, dia pikir Sakura berada di genggamannya?
"Dengar, ya, Naruto. Hal-hal seperti inilah yang membuat orang-orang menyebut kita tidak kompeten dan tidak konsisten. Menghentikan inspeksi atau patrol itu sama saja seperti membuat proyek mangkrak. Tidak ada efek yang bagus dari hal itu."
"Aku mengatakan ini bukannya tanpa pertimbangan," Naruto melempar argumen lagi, akan tetapi matanya masih menatap kertas kosong dengan pandangan layaknya tengah mengevaluasi anggaran tahunan. Bocah ini … Dia hanya takut dibogem Sakura. "bersenang-senang sedikit dengan teman di sekolah karena kebanyakan dari kita akan pulang di libur panjang ini? Apakah alasanku tidak cukup, Ketua Komisi Disiplin?"
"Bersenang-senang itu … tidak harus melibatkan tindakan yang melanggar aturan," cicitnya. Seisi ruangan spontan memutar mata. Tidak ada yang mengalahkan Sakura dalam urusan keras kepala.
"Selama ini kita selalu melakukannya," Hyuga Neji berbicara. Lensa putihnya menyorot gadis itu tajam. Sakura akui, Wakil Ketua OSIS-nya ini punya nyali. "kita selalu bersenang-senang, di tengah aturan ketat Akademi ini. Jika sekolah lain tahu kita tidak diizinkan bawa ponsel kecuali di hari Jumat dan Sabtu, mereka pasti terbahak-bahak."
"T-tapi kan kita sudah izinkan bawa sejak selesai ujian!"
"Itu cuma analogi. Contoh lainnya masih banyak lagi," Neji bersedekap. Angkuhnya menguar sampai ujung bumi. "Aku mau sebutkan tapi coba kau pikir baik-baik. Kau yang ada di bidangnya, Sakura."
"Benar, Sakura-chan. Coba pikirkan sekali lagi …"
"Ah-ah, itu mustahil banget, Kaichou," Yamanaka Ino memotong, setengah wajahnya sengaja ditutupnya oleh kertas. Mata melirik Haruno Sakura yang sedang merengut. "Sejak kapan Sakura-chan-mu ini mau mendengarkan kita? Memikirkan sekali lagi? Kepalanya terlalu batu untuk itu."
Semua komentar pedasnya beralasan. Sebenarnya kekesalan Ino sedang di puncak, karena dua hari lalu tas make-up miliknya kena inspeksi dadakan Sakura. Katanya akan ditahan selama dua minggu. Si Merah Muda itu membuat Ino harus menampilkan wajah tanpa riasan, yang berarti mati dalam kamusnya. Sejak saat itu, dia sudah mengibarkan bendera perang pada Sakura.
"Diam, Babi. Aku tidak sedang bicara denganmu."
"Tuh 'kan. Apa kubilang. Selama ini juga Komisi Disiplin selalu menjalankan agendanya sendiri. Laporan sih iya, tapi kritik dan saran tak pernah mau didengar. Lihat saja anggotamu, dua diantara tiga sudah mengajukan surat pindah ke komisi lain—"
"Oi, Ino! Itu belum saatnya—"
"Apa? Kau mau sembunyikan terus-menerus? Cewek egois ini mana bisa diberi tahu baik-baik. Harus begini dulu baru dia mau dengar," Ino mendengus remeh dibalik kertasnya. "biarkan saja begitu, nanti juga collapse sendiri."
"Ino, aku rasa kau sudah keterlaluan," kata Neji serius. Ditanggapi Ino dengan memutar mata.
"Serius, deh. Bukannya kau tadi yang minta keringanan juga?" Ino menyalak. "kalian semua jangan ketakutan begitu di depan Sakura. Dia cuma anak dungu yang tidak tahu caranya bersenang-senang."
"Eh?"
Gasp! Naruto menutup mulut dengan tangan, sebelum menggunakannya untuk menutup mata. Duh, tamat sudah riwayatku, pemuda pirang itu meringis pedih dalam hati, padahal belum tulis wasiat. Ayah, Ibu, maaf sudah membuat kalian membesarkan putra yang tidak berguna ini.
Neji memijat pelipis, matanya juga terpejam. Sebentar lagi tragedi berdarah akan terjadi. Oksigen di sini sudah lebih tipis dari di puncak gunung. Haruskah dia membuka mata? Tidak. Tidak. Dia tidak mau jadi saksi dan digiring ke kantor polisi. Neji akan diam saja di sini dan pura-pura mati terduduk.
Semenit, dua menit. Bahkan Ino pun menggigit lidah dan merutuk kenapa dia mengatakan hal sekejam tadi. Tetapi ajaibnya Haruno Sakura malah duduk, tangannya bergerak di atas kertas. Menuliskan sesuatu. Apa itu? Pesan kematian rekaan supaya kematian mereka dianggap bunuh diri? Ino beralih menggigit jari. Dia harus minta maaf! Minta maaf!
"Anu, Sakura—"
"Terima kasih atas kritik dan sarannya," Sakura berdiri. Suaranya sedingin es. Naruto megap-megap saat perempuan itu ke mejanya, meletakkan beberapa lembar kertas. "hanya ini yang bisa kulaporkan minggu ini. Maaf selama ini mengecewakanmu, Kaichou."
"T-tidak masalah," Mau bilang kalau Sakura sama sekali tidak mengecewakannya agak sulit, jadi Naruto menarik kertas itu takut-takut dengan ujung jari. "maaf sudah mengacaukan siangmu. Terima kasih atas kerja kerasnya."
Membungkuk sembilan puluh derajat, Sakura membalas, "Terima kasih atas kerja kerasnya."
Naruto kira sudah selesai di situ, tetapi langkah kaki Sakura membawanya mendekati Ino yang wajahnya sudah seputih kertas yang dipakai menutupi muka tanpa riasannya. Neji yang duduk di sebelah Sang Sekretaris sudah mengambil ancang-ancang untuk mencekik diri sendiri ketika jarak mereka tak kurang dari lima puluh senti.
"Aku hanya ingin mengatakan kalau si Dungu seperti diriku pun masih punya cara untuk bersenang-senang. Tentu saja tidak sebodoh kau yang bersenang-senang dengan menggaet banyak pria lewat wajah riasan badut dan kepala kosongmu itu."
"H-hah—"
"Ah, kau pasti frustrasi karena tidak bisa bersenang-senang belakangan ini, secara semua alat rias badutmu ada di tanganku sekarang," Sakura menginjak kaki Ino, namun sayangnya gadis itu salah sasaran. Itu adalah kaki Neji tanpa sepatu, hak dari pantofelnya seperti menghancurkan sisa-sisa harapan hidup si Pria Malang. "tapi jangan khawatir, akan segera kukembalikan. Berkunjunglah ke kamarku kapan-kapan."
Cewek gila ini … Ino mengempaskan kertas di tangannya ke wajah Sakura. "Kau merasa hebat? Mengancamku seperti ini, hah?!"
"Mengancammu? Ara, kurasa kau hanya salah paham," Sakura tersenyum. Terlihat mengerikan hingga Neji ingin menusuk kedua matanya sekarang. Pemuda ini terlalu suicidal untuk ukuran anak tujuh belas tahun. "ini ajakan hangout. Aku juga ingin tahu bagaimana kau bersenang-senang selama ini. Datang ke kamarku dan aku akan jadi boneka yang bisa kaurias. Dan tentu saja, aku akan siapkan cemilan yang kausukai."
Lalu Sakura pergi, menyisakan atmosfer kematian yang kental. Seisi ruangan langsung mengembuskan napas mereka yang tertahan.
"… Lalu mood-ku hancur berantakan. Kalau bisa sih ingin menjambakmu, tapi aku ingat kau kan malas keramas. Muka saja yang bagus."
Ino tertawa kering. Mengingat bagaimana dirinya yang datang ke kamar Sakura dan bersujud minta nyawa diampuni. Beruntung saat itu mental Sakura sedang beres, dia bisa kembali tanpa goresan atau kehilangan satu apa pun.
"Terus apa hubungannya Sasuke dengan semua ini?" tanya si Pirang kecewa.
"Ada alasan kenapa kau bisa selamat hari itu, Sahabatku Ino," Sakura mengindikasikan tentang Ino yang mendapat tas make-up-nya lagi dengan mudah. "ini terjadi setelah perang kita hari itu."
"Tapi sebelum itu, aku sudah minta maaf 'kan?" Ino bertanya, takut-takut dijambak.
"Sudah. Tapi parfait-nya belum ada sampai hari ini."
"Iya-iya! Akan kubelikan hari ini. Sambung dulu ceritamu."
"Oke, masih di tiga hari sebelum libur musim panas …."
Dongkol dan penuh kekesalan karena sebagian besar perkataan Ino benar, Sakura berjalan menyusuri koridor dengan ekspresi paling sangar yang dia punya. Beberapa langsung menyingkir, beberapa menghapuskan hawa keberadaan sebelum terbang bersama angin musim panas.
Sayangnya wajah sangar itu tidak terlalu berdampak di kelasnya. Alasannya satu, meski Sakura tidak dekat dengan siapapun, semua tahu bagaimana Sakura itu. Anger issues-nya akan kambuh kalau terlalu diperhatikan. Jadi, abaikan saja.
Sakura pun bersyukur diabaikan. Dia duduk lalu menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan tangan, pipi menyentuh meja yang sejuk tak membantunya mendinginkan kepala. Darahnya masih terpompa deras menuju kepalan tangan, ingin rasanya memukul tembok ini sampai berlubang.
"… SMA Swasta yang itu? Seberapa terkenal kau?"
"Yang segini sih kecil. Aku punya reputasi bagus waktu SMP, kenalan cewekku banyak."
"Aku sampai lupa kau baru masuk ke sini saat SMA, Dude. Terima kasih atas kerja kerasnya!"
"Kencan buta, yaaa? Aku tidak pernah ikut yang semacam itu. Hidup di sini agak menyulitkan kita bersosialisasi ke luar."
"Apa yang harus kulakukan nanti? Apa harus bawa bingkisan?"
"Gila, kaukira mau ke acara ulang tahun? Datang saja. Tapi penampilan kalian harus stylish dan keren supaya tidak kehilangan muka nanti—"
BRAK
"H-hiiiiiih!"
Sakura mendaratkan kedua tangannya di meja dengan penuh tenaga. Keempat pemuda itu langsung bergidik, mau kabur tetapi celah nol. Pemimpinnya yang menyimpan dendam kesumat pun bicara takut-takut, "A-apa? Sekarang mau kencan buta pun melanggar aturan, ya?"
"Ajak aku, Akamaru."
"…"
"HAHHHHH?!"
Ungkap kekagetan itu bahkan membangunkan Uchiha Sasuke yang terlelap di bangku dekat jendela. Pemuda itu punya riwayat susah tidur kalau malam, jadi kalau tidur di siang hari sebenarnya dia akan sulit untuk dibangunkan.
Mata hitamnya menyorot ke arah keributan. Sakura, dan empat kawan laki-laki sekelasnya yang gemetaran. Perundungan gaya baru? Sasuke membatin sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Nona Ketua, apakah Anda membenturkan kepala di suatu tempat?" Pemuda dengan tato mainan merah di kanan-kiri pipinya itu bertanya (pura-pura) tidak berdosa. Padahal kata-katanya extremely kasar untuk ukuran laki-laki kasta terbawah pada perempuan yang menduduki posisi tertinggi rantai makanan sekolah.
Tetapi jujur, dia merasa ini di luar batas wajar. Yang akan pergi kencan buta adalah mereka para laki-laki, yang jelas akan bertemu para perempuan kawan lamanya. Masa orang ini minta ikut? Mau diletakkan di mana nanti?
"Tidak boleh?" Sakura menarik kursi, duduk dengan menyilangkan kaki. "Padahal aku juga stylish dan keren, loh."
"Ini bukan masalah stylish dan keren …" Pemuda itu menggosok tato pipinya dengan telunjuk. Bagaimana cara menjelaskan ini ke orang dungu yang tidak pernah bersenang-senang? Bingung juga.
"Eh? Kencan buta? Ikut dong."
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Kalau tidak salah itu Karin, dan temannya. Mereka berdiri di sisi kanan dan kiri Sakura. Situasi kini terlihat layaknya perundungan yang ekstra serius. Setelah sat-sit-sut dan beberapa kekerasan verbal, mereka kemudian tampak sepakat untuk pergi ke kencan buta. Empat laki-laki dan tiga perempuan. Jumlah yang aneh, persis seperti orang-orang yang ikut.
"Heiii, katanya mereka bakal bawa sepuluh orang!"
"Apa?" Karin berkacak pinggang. "Bisa-bisanya mengumpulkan massa secepat ini? Kau pengedar, ya?"
"Mana ada, Bodoh. Jangan berburuk sangka pada Inuzuka Kiba. Dia pahlawan bagi kami, para jomblo yang terjebak kekolotan orang tua dan lingkungan sekolah ini," jawab pemuda rambut putih, gigi-giginya yang tajam membuat senyumnya nampak menjijikan. Segera saja Karin tampar.
"Empat perempuan dan enam laki-laki?"
Apa-apaan jumlah yang mengerikan itu? Sasuke terperanjat dari rebahnya. Enam laki-laki untuk tiga perempuan? Bukankah itu terlalu berlebihan untuk newbie seperti Sakura? Karin juga tak terlihat berpengalaman.
Dan, memangnya massa kencan buta selalu sebanyak itu?
"Aku tidak ikut, deh." Kawan Karin itu berujar sambil tersenyum polos. Membuat sekitarnya takjub dan kehilangan kesempatan untuk menolak.
"Kita harus cari orang lagi, sih, setidaknya tambah lagi satu," kata pelopor acara. "Aku bisa lakukan itu, tapi Nona Ketua, apa imbalan karena mengajakmu?"
Bocah gila, ketiga temannya berpegangan di bawah meja. Bisa-bisanya dia minta imbalan? Tidak kena tendang saja harusnya sujud syukur!
"Apa, ya?" Sakura membuat lingkaran dengan ujung jarinya. "Akan kupikirkan nanti."
"Baiklahhhh! Sudah janji, ya!"
"Terima kasih, Akamaru."
"Namaku Kiba! Inuzuka Kiba! Akamaru itu anjingku yang sering kau amankan!"
Sesaat setelah janji kencan buta itu dibuat, Uchiha Sasuke masih mengamati musuh bebuyutannya dari jarak aman. Karin dan Sakura terlihat melakukan konversasi serius, kawannya kemudian bergabung sambil membawa jus kotak. Jadi cewek yang kerap bersama Karin itu budak atau kawan? Sasuke kemudian merasakan dorongan-ingin-ikut-campur yang begitu tinggi ketika Sakura tergelak beberapa detik akibat lelucon sampah Karin. Oi, oi, yang benar saja? Cewek yang tidak pernah menurunkan kewaspadaannya ini … tertawa di depan orang asing?
"Sakura-san, kau punya baju yang cocok untuk kencan buta?"
"Baju yang cocok? Aku tidak tahu bagaimana kriteria baju sehingga dianggap cocok …." Sakura terlihat berpikir keras, Karin mengangguk maklum.
"Kau foto saja baju-baju bagus lalu kirimkan ke aku, ya? Nanti akan kunilai, mana yang kelihatan cocok dipakai olehmu," sarannya antusias.
"Bukannya agak merepotkan? Mau datang ke kamarku saja?"
"Eh? Boleh, nih?"
"Tentu saja."
ASDFGHJKLQWEFRU! ##^ —demi mangashoujo yang diam-diam disembunyikannya di bawah tempat tidur, Sasuke merasa dunia akan kiamat sebentar lagi. Senyum dan keramahan Sakura terhadap sesama jenisnya mengakibatkan mual dan ngeri bercampur menjadi satu, Sasuke mendadak lemas.
Di Akademi yang dilengkapi asrama siswa ini, memang bukan hal yang tabu untuk membawa kawan ke kamar. Tapi Haruno Sakura? Hahaha, dia itu Haruno Sakura loh! Sasuke jadi semakin yakin kalau kepala gadis itu terbentur sesuatu tadi, atau jangan-jangan makan siangnya tercampur obat pencahar? Ah, tidak, obat pencahar tidak sampai menyebabkan kerusakan otak.
"Ya sudah, sampai jumpa nanti malam, ya!"
Sakura melambai dengan senyum formal. Merasa kepala terlubangi dari tadi, segera saja dialihkannya pandangan pada pojok kelas. Gadis itu mendapati Uchiha Sasuke menyipit menatapnya. Dih, ngajak berantem? Padahal baru saja suasana hatinya membaik.
Ah, Nintendo switch-nya, ya? Sakura tersadar lalu memanggil orang itu dengan ogah-ogahan, "Sasuke."
"Ha?" timpalnya tidak ikhlas.
"Ikut aku."
"Buat apa?"
"Ya sudah kalau tidak mau. Jangan menyesal, ya."
GREEEK. Suara kursi ditarik. Tiba-tiba saja Sasuke sudah berdiri di sisi bangkunya. Sakura lalu beranjak dari posisi. Keduanya berjalan ditemani sunyi istirahat siang, mengundang beberapa pasang mata yang keheranan melihat keduanya tidak cekcok seperti biasa.
"Nih."
Sasuke mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Barang kesayangan sudah ada di tangan, tapi terasa sangat ganjil sampai dia bertambah mual. "Kenapa? Bukannya seminggu lagi?"
Sakura turut mengangkat sebelah alisnya. "Eh? Kukira kau mau ini?"
Pemuda dengan helai hitam itu mundur selangkah. Kenapa ini? "Memang masih ada lima hari lagi sampai barang ini seharusnya kembali padaku, di mana pada saat itu sudah liburan. Mengembalikannya akan jadi agak merepotkan," Sasuke berusaha melogikakan tindakan Sakura. "tapi kau tinggal mendobrak kamarku 'kan? Seperti yang kaulakukan tahun-tahun sebelumnya."
"Aku tidak tahu kau adalah orang yang suka pintunya didobrak di hari libur?" Sakura menelengkan kepala.
"Nah, bukan begitu maksudku. Aku senang-senang saja benda ini kembali tapi …"
Sakura tersenyum, menutup dan mengunci pintu markasnya. "Anggap saja itu kebaikan hatiku."
Gadis itu tahu dia bertindak aneh. Lagipula ini Sasuke, keanehan Sakura akan jadi bahannya mencari masalah di kemudian hari. Ya, di kemudian hari, yang artinya Sakura bisa pulang dan menyiapkan camilan untuk Karin.
"Sebentar, Sakura."
"Hm?"
Langkah mereka berhenti tepat di depan toilet pria. Sasuke berdeham sebelum melanjutkan, "Kau tidak perlu ikut tren aneh-aneh. Tidak cocok untukmu."
"Tren aneh-aneh?" Sakura menyisir poni dengan jemarinya. Buntut Ayam ini menguping, ya? "maksudmu kencan buta?"
"Ya. Lagipula kau ini tipe-tipe orang yang gampang diculik."
"Apa katamu?!"
"Aku berbicara yang sebenarnya," Sasuke melipat tangan di dada. "siapa yang berlari mengejar truk es krim palsu dua tahun yang lalu?"
"Itu sih karena truknya dicat dan didekor persis seperti truk es krim yang di taman kota tiap hari minggu! Wajar saja aku tertipu sedikit!"
"Sedikit?" tanyanya sebelum mendengus menyebalkan. "Sampai terjatuh dan hilang gara-gara truk es krim? Aku bertanya-tanya di mana otakmu saat itu."
"Di mana, ya? Jelas-jelas tidak di telapak kaki seperti otaku menyedihkan yang ada di hadapanku saat ini."
Sakura mengangkat dagunya sombong. Anak ini pasti akan diam setelah diejek otaku. Seluruh masyarakat di sekolah juga tahu kalau alasan Sasuke terus-terusan bentrok dengan Sakura bukan karena pemuda itu adalah bad boy kelas kakap yang memakai piercing dan bermain wanita, melainkan seorang laki-laki menyedihkan yang menumpukan otaknya pada imajinasi terhadap objek 2D.
Meskipun menjadi otaku game, atau otaku anime dan manga adalah salah satu jalan terbaik menghindari pergaulan bebas atau sekte sesat, otaku itu sendiri dipandang sedikit rendah di lingkungan masyarakat. Menjadikan hal ini sebagai tombak untuk menyerang Sasuke selalu menjadi andalan Sakura.
"Otaku, ya?" Sasuke memutar mata kendati hati sudah tercabik-cabik karena (lagi-lagi) dimaki di depan umum. "Selama ini aku selalu menahan diri untuk mengatakan ini, tetapi Sakura, kau sebenarnya juga otaku."
"Pernyataan sampah macam apa itu?"
"Kau adalah otaku kedisiplinan! Dan kastamu lebih buruk dariku. Jika otaku biasa melakukan hobi untuk bersenang-senang, kau malah melakukannya hanya untuk mendapat stres," Sasuke terpejam, pura-pura menggeleng prihatin. Sedikit mengintip karena agak-agaknya bogem akan segera mendarat di pipinya. "lalu setelah semua stres itu kau malah melampiaskannya pada kencan buta. Betapa bodohnya."
Hening menyelimuti koridor. Beberapa laki-laki yang gagal untuk melarikan diri dari toilet berkat adu mulut mereka bergidik ngeri, karena merasakan atmosfer yang lain dari semua bentrok Sasuke dan Sakura selama ini. Gadis itu menyorot Sasuke pandangan yang sulit diartikan. Antara marah, jijik, dan ingin melenyapkan semua orang di dunia ini—memang tidak ada yang positif dari semua ini.
Sakura menghela napas. Dadanya bergemuruh menahan amarah. Tetapi memukul atau menjambak Sasuke akan membuatnya nampak semakin menyedihkan. Memang apa salahnya? Aku hanya ingin mencoba bersenang-senang seperti orang pada umumnya. Kenapa semua orang seperti ini padanya? Dan kenapa si Buntut Ayam ini berani-beraninya menghancurkan semua susunan emosi positif yang berusaha dia rangkai sepulang dari ruang OSIS?!
"Sakura-san!"
Sepasang mata hijaunya melebar ketika gadis berhelai merah darah itu menghampiri. Lalu, PLAK, langsung melakukan kekerasan pada pipi insan berjenis kelamin laki-laki yang mematung setelahnya. Seolah tak percaya habis kena tampar perempuan selain Haruno Sakura.
"Yang tadi itu jahat sekali, Uchiha." Karin kemudian melirik Sasuke seolah orang itu adalah sampah B5 yang paling merepotkan. Meninggalkan perih dan kebas karena pemuda itu baru sadar ketika Sakura ditarik dari scene itu, kalau si Merah Muda nampak sangat terluka hingga nyaris berderai air mata.
"Terima kasih, Karin."
Karin melepaskan genggamannya dari Sakura ketika mereka sampai di depan mesin minuman otomatis. Mengulurkannya sekotak susu stroberi, Karin lalu berdeham malu. "Maaf karena seenaknya menginterupsi. Tetapi Uchiha Sasuke terlalu keterlaluan."
Merek kesukaannya? Sakura mengambil susu itu. "Terima kasih. Sasuke memang selalu begitu. Hari ini lebih parah dari biasanya entah kenapa. Padahal Nintendo-nya sudah kukembalikan."
"Dari penglihatanku, dia terlihat seperti tsundere akut. Dan aku benci orang-orang seperti itu," Orang-orang yang mementingkan gengsi padahal hubungannya dengan yang bersangkutan sebentar lagi akan jatuh berantakan. Karin benci sekali. "kalau Uchiha itu khawatir padamu, dia seharusnya bisa menyampaikannya dengan lebih baik."
"Haha. Dia memang seperti itu. Tidak ada khawatir atau semacamnya. Dia cuma senang melihatku kesusahan karenanya, baik fisik ataupun batin."
Kok sepertinya hubungan kalian sudah tidak tertolong lagi? Karin menatap Sakura penuh simpati. "Semangatlah. Aku yakin Sasuke tidak seburuk itu, dan kau juga tidak seburuk itu di matanya, Sakura."
"Karin baik, ya."
"Ya?!"
"Sampai repot-repot mengatakan hal-hal manis untuk menghiburku," Sakura memainkan sedotannya. Sedangkan tadi dia memasang senyum palsu dan keramahan basa-basi saat menghadapi Karin, demi kesuksesan kencan butanya. Tidak pernah disangkanya kalau Karin sepengertian ini meski mereka baru dekat hari ini. "terima kasih, ya."
Karin tersenyum. Tidak tahu harus berbuat apa karena Sakura belum bisa melihat fakta itu. Dia harus menyadarinya sendiri lewat Sasuke. "Aku sebenarnya mengamatimu dari lama, loh. Sakura-san adalah orang yang sangat independen, kau seperti tidak butuh orang lain dalam hidupmu. Makanya bagiku, orang yang berkali-kali patah hati karena laki-laki, kau otomatis menjadi role model-ku,
"Tetapi pada akhirnya aku sadar. Semandiri apapun manusia, mereka selalu butuh tempat bersandar meski sebentar. Tidak ada pengecualian untuk itu," Karin menyedot susu vanilanya. "entah kenapa terasa menyedihkan."
"Mau bagaimana lagi. Kita makhluk sosial," timpal Sakura.
"Bahkan Sakura-san pun punya sandaran. Hanya saja aku terlambat melihatnya."
"Iya, rekan OSIS dan beberapa langganan inspeksi adalah orang-orang yang kuanggap bisa diajak bicara bebas. Di hadapan mereka aku bisa sedikit lebih leluasa dalam bertindak. Yah, walaupun kata Ino sama saja brutalnya."
Karin terkekeh. "Sudah kuduga, kau orang yang menyenangkan, Sakura."
"Kau juga. Seharusnya kita berteman lebih awal."
"Kita teman?" Gadis berambut merah itu menyeringai jahil.
"Loh? Jadi bukan?"
"Hahahahaha. Tentu sajaa!"
Esok paginya, dua hari sebelum liburan musim panas, Sakura mendapati ada sticky notes kuning di bangkunya, nyaris sekali pant*atnya berciuman dengan benda itu. Siapa lagi yang iseng begini? Perempuan itu mencabutnya, memandang beberapa detik sebelum mengernyit jijik.
Temui aku di taman belakang saat pulang nanti. Ini penting / !
From your (beloved) fans ^3^
Dih, idih. Pengecut mana yang berani merusak pagi harinya dengan kertas kuning tidak bermodal ini? Sungguh tidak bisa dimaafkan. Sakura mengambil ancang-ancang untuk meremasnya, akan tetapi terhenti karena ada desakan nurani. Itu hanya akan menyakiti si Pengirim, hargailah keberanian dan perasaan tulusnya. Alhasil, kertas itu masuk ke kantong rok seragamnya.
Namun dipikir-pikir agak tidak mungkin.
Seumur-umur, Haruno Sakura tak pernah punya penggemar. Tidak ada tindakannya yang bisa menarik simpati hingga menghasilkan fans. Haha. Yang menulis ini pasti kena dare, seratus persen. Dia akan datang seolah tidak tahu apa-apa demi menciduk oknum-oknum tidak bertanggung jawab ini—
Duh, aduh. Memijit pelipisnya, Sakura menghela napas. Buat apa, sih? Kadang dia berpikir kenapa dia mau meladeni hal-hal tidak bermutu semacam ini. Liburan musim panas sebentar lagi, nikmatilah minggu tenang sepenuh hati. Lagipula dia juga sedang mempersiapkan diri untuk hari besarnya!
Yap! Kencan buta!
Menurut saran dari Karin, ada baiknya Sakura menghindari aktivitas yang membuat stresnya menumpuk agar saat kencan buta nanti dia bisa sepenuhnya bersenang-senang. Inspeksi dan patrol sudah dihentikan, barang-barang yang disita juga sudah dikembalikan oleh anak buahnya (Sakura memberi perintah kemarin sore). Pokoknya semua sudah beres, kini dia tinggal duduk manis dan membaca novel untuk meringankan suasana hati.
Walau masih ada dua hari lagi.
"Sakura! Mau beli sesuatu sebelum bel?"
"Boleh!" jawab Sakura antusias, sebelum mengekor mengikuti Karin yang mulai membuka topik.
Di sisi lain, si Pengirim menggigit jari, merasakan firasat buruk karena melihat tindak-tanduk Sakura yang sepertinya tidak akan datang.
"Hah? Surat penggemar? Apaan, tuh. Lucu banget!"
"Aku sih tidak percaya. Tidak usah datang kali, ya?"
"Demi apa?! Kau tidak datang?!" Ino mengekspresikan kegemasan lewat menggoyangkan meja. Untung teh dicangkir sudah habis. "Ini tuh kesempatan sekali seumur hidup! Walau kau itu cantik, attitude-mu agak tidak memungkinkan untuk mencari pacar di usia dini!"
"Dengar, ya, Ino," Perempatan siku-siku muncul di jidatnya. Berbicara sama Ino memang tidak pernah berakhir damai. "surat penggemar itu tidak sama dengan surat cinta. Mengagumi tidak sama dengan mencintai. Masa segitu saja kau tidak paham?"
"Tetapi mengagumi bisa berkembang menjadi mencintai!"
"Bisa itu hanya kemungkinan kecil. Dan, tolong, ceritaku belum selesai," Sakura mengisi kembali cangkir tehnya, menatap sejenak teko yang kelihatan fancy itu. Ino ternyata serius tentang hobinya. "penggemar itu datang menemuiku kemudian, memperjelas maksudnya sebab aku sengaja tidak datang."
"YANG BENAR?!"
"Iya. Di sini titik baliknya."
"Akhirnya setelah semua flashback panjang yang terlalu detail …." Ino mengelap ingus haru, sebelum akhirnya terbelalak karena menyadari sesuatu.
Sakura tersenyum pasrah, mengafirmasi dugaan.
"J-jangan-jangan?!"
[][][][][][][][]
Puncak kilas baliknya ada di sini. Berawal dari bagaimana Sakura membereskan semua alat tulis, dan memasukkannya ke dalam tas sebelum menggendongnya sebelah, sesuai saran Karin. Itu model ransel, ketika dikaitkan ke sebelah bahu saja, kita (konon) akan tampak lebih keren. Apalagi jika mengenakan hoodie atau rompi yang melenceng dari aturan sekolah. Cih, jadi ini alasannya melanggar aturan jadi menggiurkan bagi siswa?
Mengingat kembali isi kertas kuning itu, Sakura mengembuskan napas lelah. Repot juga kalau nuraninya sedang beres seperti ini, rasa tidak enak berkumpul di sudut hati. Namun demi kenyamanan sementara, Sakura harus menguatkan diri. Kalau aku tidak datang bakal kepikiran? Akan tetapi jikalau aku datang pun ujungnya kepikiran 'kan? Lebih baik tidak usah saja kalau begitu.
Gadis itu pulang dengan beban tak seberat yang dia kira. Karin hanya mengedikkan bahu pada keputusannya. Tidak ada salahnya, sih. Kalau dia memang niat, besok pasti surat itu datang lagi, spekulasi Karin sedikit ada benarnya.
Ngomong-ngomong gedung asrama Sakura dan Karin ternyata berseberangan, karenanya kini mereka memutuskan untuk pulang-pergi bersama. Di tengah sesal karena baru menyadari mereka secocok itu, Sakura akan memastikan kalau sisa satu setengah tahun di SMA-nya akan ditemani oleh Karin juga. Ya, mereka kelas sebelas!
"Sampai jumpa besok, Sakura!"
"Iya, sampai jumpa!"
Usai menaiki tangga ke lantai dua, Sakura membuka resleting paling depan di tasnya. Eh, kuncinya dia letakkan di mana? Baru saja akan membuka tempat pensil, Sakura merasakan tepukan di bahu yang menyebabkan benda itu jatuh ke lantai. Pulpen dan klip kertas warna-warni berserakan di bawah kakinya.
"Sasuke?!"
Pemuda itu terengah, rambutnya lepek oleh keringat. Sakura refleks menepis tangan itu karena melihat sorot mata hitam Sasuke yang berbeda dari biasanya. Sakura kemudian membenarkan posisi mereka jadi berhadapan sedang lawan bicaranya masih menunduk.
"Apa?" ketus Sakura. Cih, padahal dia sudah berusaha untuk meminimalisir ketus dalam suaranya karena merasa Sasuke akan menyampaikan hal penting.
"Sakura," Kedua tangan Sasuke kemudian mendarat di bahunya. "dengarkan aku baik-baik."
"Tidak usah pegang-pegang juga akan kudengar kok," jawabnya kalem namun menusuk Sasuke, hingga pemuda itu menyembunyikan kedua tangannya di belakang. Layaknya posisi istirahat di tempat.
"Pikirkan lagi soal kencan buta?"
"Hahh?"
"Aku serius!" Sasuke nampak frustrasi. "Aku kenal kau sejak SMP dan aku tahu kau tidak cocok berada di sana. Kau itu—"
"Masih di topik itu?!" bentak Sakura tak habis pikir. "Sasuke, aku marah, lho."
"Ini saranku sebagai orang yang memusuhimu selama sekian tahun. Tidakkah kau tahu? Penilaian seorang musuh itu lebih akurat karena tidak bias akibat perasaan lain seperti rasa sayang layaknya seorang teman …"
"Kalau kau berpikir seperti itu, penilaian musuh juga memungkinkan untuk bias karena perasaan benci yang meletup-letup," bantahnya tajam.
"…" Sasuke menggigit pipi dalamnya gelisah. Sial, mau bicara bagaimana pun kalau orang ini sudah bertekad, tidak ada yang bisa membawanya kembali.
Gadis itu berkacak pinggang. Masih bingung karena musuhnya ini sangat out of character. Bisa-bisanya mengejar sampai lantai tiga belum lagi masuk asrama perempuan gara-gara perihal kencan buta?! Sakura penasaran kenapa si Buntut Ayam ini tidak dicegat pihak sekuriti.
"Sasuke, jangan berputar-putar. Katakan apa maumu. Kau iri karena tidak bisa ikut kencan buta? Kalau iya, aku akan bicarakan dengan Akama—maksudku, Kiba, supaya kau bisa ikut."
"Tidak. Tidak mungkin aku ikut acara normies yang paling menggelikan itu," jawab Sasuke cepat, bahkan memberi gestur menolak dengan menyodorkan telapak tangannya ke wajah Sakura.
"Kalau aku ikut acara normies menggelikan itu seharusnya tidak masalah bagimu karena dengan ikut acara menggelikan aku pun menjelma sebagai spesies menggelikan. Dengan begitu, kau punya banyak alasan untuk mengejekku kalau-kalau kita cekcok soal manga atau Nintendo-mu lagi," terang Sakura, berusaha mengarahkan pembicaraan mereka ke sisi yang logis. Karena situasi mereka jadi semakin gila gara-gara Sasuke yang nampak gelisah dan tertekan, selayaknya orang yang akan menyampaikan berita duka.
"Sakura, kau terlalu gampang percaya orang lain."
"Apa?"
"Kau itu tipe-tipe yang gampang diculik," Sasuke berusaha menjelaskan. "seperti sekarang tiba-tiba dekat dengan Karin, kau yakin dia tidak ada maksud tersembunyi? Pikirkanlah baik-baik, apa yang selama ini kaulakukan, apakah masih ada orang yang mendekatimu dengan tujuan mulia selain Naruto dan orang-orang OSIS?"
"Aku—"
"Tunggu, dulu," Sasuke menghela napas. "aku tahu aku melampaui batas kemarin, jadi aku akan minta maaf. Dan sepertinya melarangmu pergi ke kencan buta juga mustahil. Kau pasti bilang Karin akan menjagamu atau semacamnya. Tapi siapa yang tahu 'kan? Di sana kau akan dikelilingi orang-orang baru, larut dalam suasana baru. Meski di matamu Karin tampak berpengalaman, dia juga bisa jadi terbawa suasana. Kita tidak tahu orang macam apa yang ada di sana, kita tidak bisa menebak apa yang mereka pikirkan,
"Aku memberitahumu ini supaya kau tahu kalau bersenang-senang semacam itu ada risikonya. Walau kalian semua yang ikut itu seumuran, tidak ada yang menjamin keamanan kalian, terutama di sisi perempuan karena laki-lakinya lebih banyak. Karena itulah, aku sarankan kau mengajak teman perempuanmu yang lain."
"Maksudmu Ino?" celetuknya. Sasuke juga tahu kalau Ino adalah satu-satunya teman perempuan Sakura. Tapi masalahnya Ino dan dia sedang bertengkar dan si B*abi itu belum minta maaf! Dan tujuannya dari awal juga adalah menunjukan kepada Ino kalau dia bisa bersenang-senang sendiri!
"Itu tidak mungkin."
"Tidak mungkin? Kenapa?"
"Aku … tidak bisa bilang alasannya."
Alis Sasuke tertaut, bisa membayangkan apa yang terjadi sebelum Sakura mendadak ikut kencan buta itu. Hah, aku sampai lupa dia juga mudah terprovokasi, batin Sasuke seraya menggeleng lelah.
"Itu saja?" Sakura sudah membelakanginya, pintu kamarnya pun sudah terbuka. "Apapun yang kaukatakan tidak akan membuatku mundur."
Pemuda itu memandangi Sakura penuh simpati. Belum bisa memikirkan solusi lain. "Bagaimana, ya …"
"Apanya yang bagaimana? Aku mau masuk, nih!"
"Apapun yang kukatakan, itu semua karena aku mengkhawatirkanmu," Sasuke berkata santai sembari melangkah menjauh. "Good luck saja untukmu. Jangan sampai diculik."
"…"
ASDFGHJKKL* ) ?! Sakura menggebrak pintu, dan merosot ke lantai. Apa-apaan yang barusan dia dengar?! Apapun yang kukatakan, itu semua karena aku mengkhawatirkanmu? Semua karena aku mengkhawatirkanmu? Aku mengkhawatirkanmu?!
"B-bocah itu habis makan apa, sih?!"
Di tengah kekalutannya, pintu pun mendadak diketuk. Sakura tersentak, merayap ke pintu secara tidak ikhlas. Aduh, jangan-jangan Sasuke?! Pura-pura pingsan sajalah, ya?!
"Sakura-san! Kunci pintumu masih menggantung di sisi luar!"
ASDFGHJKL.
"BUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA …."
Yamanaka Ino tertawa puas, menepuk-nepuk paha sampai air matanya menetes. "K-kau … kau … HAHAHAHAHAHAHHA …."
"Tertawalah sesukamu," Sakura berujar pasrah. "Aku pantas mendapatkannya."
"Jadi semua kekacauan ini terjadi karena 'aku mengkhawatirkanmu'? Tidak elit banget!"
"Tentu saja tidak, Ino Sayang. Klimaks yang sesungguhnya akan terjadi setelah ini …"
"MAKSUDMU?! Ini namanya penipuan! Di awal kau tidak bilang begitu."
"Ck, ini kejadiannya serangkai. Tapi kau menginterupsi dengan tertawa heboh. Aku mana bisa lanjut," cerca Sakura.
"Habisnya kau sampai bilang mau pura-pura pingsan … HAHAHAHA, duh, semalu apa, sih?!"
"Lebih malu daripada kepergok tidur di kelas Pak Orochi. Bayangkan musuhmu mengatakan itu padamu?! Mengkhawatirkanmu?! Setelah perang panjang yang tidak pernah berakhir?!"
"L-lanjut saja …." pinta Ino yang masih berusaha menyelesaikan tawanya.
"Akan kulanjutkan besok, deh. Sudah sore."
"Ehhhh? Jahat! Klimaksnya dikit lagi, 'kan? Ayolahhh. Apa susahnya bercerita tiga paragraf lagi?"
Masalahnya ini lebih dari tiga paragraf … Sakura memasang pose berpikir, mengelus dagu ala detektif. "Setelah ini di kafe? Parfaitku?"
Kedua netra birunya mendadak berkelip. "Deal!"
.
.
.
bersambung
ke bagian dua : seperdelapan narasi
