naruto © masashi kishimoto. the writer claims that there is no material profit taken in the making.
.
.
Mereka bilang cinta itu buta.
Pernah, suatu masa, Sakura menyetujuinya. Ujaran itu benar; ia telah menutup matanya dari sekian banyak tatapan mencemooh, menutup telinganya dari kata-kata yang menghardiknya—semua penilaian itu. Kamu mencintai kriminal? Kerutan di kening, tatapan padanya seakan ia pendosa. Kamu pintar, baik, seorang dokter, ninja wanita pewaris ilmu Sannin, masih mencintai pengkhianat desa? Dengkusan, gelengan, seakan Sakura telah membuat keputusan menjijikkan.
Sudahlah, ia buta. Ia tahu rasa terbaik adalah harapan bahwa Sasuke akan kembali dan menemukan jalannya. Ia nyaman bersandar pada harapan itu, ia tahu ia membuat pilihan yang benar.
.
Seiring waktu berjalan, ia mulai mengerti banyak hal.
Cinta itu tidak buta.
.
.
Sakura telah berjalan ke berbagai penjuru desa, kota, negara. Ia melihat banyak hal. Ia menemui banyak orang; pasien-pasien dengan beragam kasus dan cerita. Histori yang tersembunyi di balik banyak lidah. Tsunade memberinya banyak pandangan, pengetahuan, rahasia-rahasia yang selama ini tergulung rapi dan bersembunyi dari dunia.
Ia membuka matanya terhadap banyak hal. Ia membuka matanya terhadap berbagai macam perspektif; berbagai pandangan dari banyak kolega, pasien, teman, dan petinggi-petinggi yang hidup lebih lama darinya.
Perang melukainya, tetapi terus memberinya harapan. Kelahiran dan kematian; pendapat orang-orang tentang mereka, budaya-budaya di berbagai suku dan desa dalam menyambut kedua hal tersebut, memberinya banyak masukan dan pemikiran.
Setelah semua ini: membuka matanya lebar-lebar, menggunakan kacamata orang lain untuk melihat, memandang dari sudut yang berbeda—
—ia masih punya satu hati untuk dituju.
Butakah ia? Butakah cintanya?
.
Hati yang ditujunya punya banyak prioritas.
Hati yang ditujunya jelas juga memikirkan cinta, tetapi dengan cara berbeda.
Hati yang ditujunya pasti akan pulang ke suatu tempat.
Sakura mengerti Sasuke lebih dari yang banyak orang pikirkan. Ia tahu itu. Nalurinya berbisik dengan halus padanya di malam-malam yang dingin dan kesendirian melingkupinya: ini caraku mencintainya.
Sakura membuka matanya lebar-lebar pada segala hal; menerima semua kritik dan hujatan bahwa ia salah mengalamatkan harapan, tetapi ia tetap mencintai Sasuke. Namun seiring waktu berjalan, ia tahu, suatu saat nanti, bisa saja akan ada kemungkinan bahwa Sasuke tidak akan bisa diselamatkan lagi, dan di titik itulah cintanya akan berhenti mengejar.
Sayang sekali,
hatinya tahu itu tidak akan terjadi.
.
.
Hari ketika Sasuke dibebaskan, Sakura bangun begitu pagi. Menunggu matahari terbit dengan secangkir teh hijau yang panas, Sakura mendengarkan kata hatinya: dia akan baik-baik saja.
Namun Sakura tahu, pasti Sasuke telah memutuskan sesuatu.
(Sasuke tidak membawanya pergi. Sasuke akan menebus dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Sakura tahu itu tetapi tetap saja, berat berada di gerbang saat ialah yang tinggal.)
.
.
.
"Aku pulang."
"Selamat datang, Sasuke-kun."
Cintanya melihat banyak hal. Cintanya tidak buta.
Cintanya benar.
Cintanya pulang.
.
.
Shift paginya berakhir pada pukul lima sore. Seharusnya pukul tiga ia sudah diperbolehkan pulang, tetapi ada operasi darurat yang harus ia tangani, membuatnya harus berdiri di ruang operasi dari pukul satu hingga pukul setengah lima.
Niatnya tidak surut untuk mengambil jalan memutar. Letih kakinya karena berdiri selama operasi tidak lagi ia rasakan saat ia mulai berjalan, bahkan untuk rute yang lebih jauh.
Ia pernah mengunjungi tempat ini beberapa kali, terakhir kali mungkin empat tahun yang lalu. Hanya untuk melihat, berdoa, kemudian melangkah pulang sembari berharap.
Kali ini ia datang dengan niat yang serupa. Di dadanya hanya ada harapan; bahwa semua yang tak bersalah akan beristirahat dengan tenang dan sejarah ini semoga tak lagi terulang.
(Komplek Uchiha sudah begitu mati; tetapi dengan seseorang yang mengunjunginya seperti ini, seakan-akan ada nyala kehidupan kembali.)
.
.
"Kau sedang apa di sini?"
Sakura membuka matanya, tersentak dan merasa payah. Jantungnya berdetak kencang lagi seperti gadis usia dua belas. Namun ia sekarang adalah Haruno Sakura yang dewasa dan tenang, mampu mengumpulkan kekuatan untuk menguasai diri.
"Sasuke-kun." Senyumnya terkembang. "Halo. Maaf kalau aku masuk melewati batas—"
"Kata Naruto kau menangani operasi."
Tatapan Sasuke tidak luput dari pengamatan Sakura: lebih teduh dan bijak. Jalanan luar sana; seperti apa mereka membentuk Sasuke dalam petualangan penebusan dosanya? Senyum Sakura tak pudar. "Iya. Dia tahu dari mana?"
Sasuke memadang sekeliling. "Dia mengajak kita makan siang. Dia mencarimu di rumah sakit."
"Oh. Pantas saja tadi ruanganku terbuka. Si bodoh itu rupanya lupa menutup pintu setelah merangsek masuk."
Sasuke menangkap daun kecil yang terbang di depan wajah Sakura. "Kuantar pulang."
"Ah, boleh." Sakura mengangguk. Ia membiarkan Sasuke melangkah lebih dulu. "Sasuke-kun sedang apa di sini?" Sejenak kemudian ia merasa perlu menarik kata-katanya. Untuk apa bertanya? Ini adalah rumah keluarganya. Meski cerita tentang keluarganya penuh darah dan dendam, dia pasti masih merasakan sesuatu dan itu terlalu personal. Sakura tidak ingin melangkah terlalu cepat, melangkah terlalu jauh. Sasuke akan mengatakannya jika dia bersedia.
"Hanya melihat-lihat." Dia menarik napas dengan tenang. "Masih terasa tidak nyaman."
"Tidak perlu memaksakan diri." Sakura mendongak. Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Sasuke. "Lewat sini, Sasuke-kun. Aku tidak tinggal di rumah orangtuaku lagi, kalau kau lupa." Sakura mengedikkan dagu ke arah kanan di persimpangan yang mereka dekati. "Lebih dekat ke rumah sakit, kecil tapi nyaman."
"Begitu."
.
Sakura menawarkan teh, Sasuke menerimanya.
Teh panas sore itu disela kisah-kisah (lebih banyak dari Sakura), hingga matahari tenggelam dan tiba waktunya makan malam. Sakura menawarkan makan malam, dan Sasuke bertahan.
.
Sasuke makan dengan tenang, Sakura berlalu-lalang di dapur, mengambil dan menaruh sesuatu karena ia meninggalkan tempat ini sedikit berantakan tadi pagi. Tidak nyaman baginya untuk makan tetapi matanya tertuju pada banyak barang yang tidak pada tempatnya.
Saat ia menyusun gelas-gelas yang telah kering ke rak, matanya tertuju pada punggung Sasuke.
Dia masih dengan bangga memakai lambang keluarganya. Jika di masa lalu cerita keluarga Uchiha adalah kelam, maka sekarang pewaris tunggal ini adalah sebuah harapan. Sasuke pasti memikirkan hal serupa, Sakura tahu.
Sasuke menoleh dan mata mereka bertemu. Sakura tidak lagi mundur malu-malu saat tertangkap basah; alih-alih ia pun tersenyum. "Bajumu," ucapnya sebelum Sasuke bertanya. "Sudah terlalu lusuh. Kurasa kau perlu mengganti isi lemarimu, Sasuke-kun."
Sasuke tidak langsung menjawab, Sakura buru-buru menambahkan sebelum pria itu sempat mengatakan sesuatu yang berbeda,
"Aku bisa membantumu menjahitkan lambangnya." Ia berjalan ke meja makan. "Kalau kau belum bisa mempercayai orang lain."
"Hm." Sasuke mengangguk satu kali. "Kau tidak sibuk?"
"Membagi waktu tidak susah, tenang saja."
Sasuke mengambil lauk tambahan dari piring di tengah-tengah meja. "Mulai besok."
"Tentu. Aku bisa. Kita ketemu pagi-pagi saja, bagaimana? Jadwalku di rumah sakit mulai pukul tiga."
"Hn."
Sakura pun mulai makan.
"Sakura."
Sakura menelan makanannya terlebih dahulu. "Ya?"
"Terima kasih."
"Ah, tidak perlu berlebihan. Sudah jadi kewajibanku membantumu."
Ada kilatan di mata Sasuke yang susah Sakura gambarkan; ia hanya tahu itu sesuatu yang ia sukai.
"Bukan soal itu."
"Eh, lalu?"
Sasuke kembali pada makanannya, seolah tidak ingin dibaca matanya.
"Sudah menungguku."
.
.
Cintanya tidak buta.
Cintanya melihat cahaya.
(Ia tahu itu saat ia menyentuh karya pertamanya di baju yang akan dipakai Sasuke; lambang Uchiha buatan tangannya yang pertama.)
(Yang kemudian, tak begitu lama setelahnya, juga berada di punggungnya.)
end.
.
.
10/24/2021. written out of a sudden urge; in the middle of the chaotic sunday, juggling the part-time job dan kulon yang nyampe dua kelas hari ini sksksksksks.
ok. it feels like coming home ... to an old, warm cabin. when was the last time i wrote for this fandom, actually? wow. satu dan lain hal mengantarkanku kembali bernostalgia ke fandom ninja, tiga hari baca2 arsip sasusaku mengatakan segalanya. aduh aku udah banyak lupa detail ceritanya (dan aku ga ngikutin boruto btw), sorry for the unintended mistakes ^^;;
senang rasanya bisa nulis buat otp yang sedikit banyak menginspirasi penname-ku. oh god i have to be honest that writing sasusaku sometimes feels like ... curhat wkwkwkwk ya maap. quarter-life crisis sist, dan rasanya bisa balik lagi ke usia 15 dengan nulis kisah cintanya sakura.
thank you for reading! semoga bisa nulis ss lagi dalam waktu dekat. stay safe semuanya! o/
