Danganronpa V3 by Kazutaka Kodaka, Spike Chunsoft

Shinitai-chan / Miss Wanna Die (song) by Vocaloid / JubyPhonic

Songfic: Shinitai [Ouma Kokichi] by Arbiter Rowell


Benda datar itu turun dengan lambat dan aku berbaring di bawahnya. Tubuhku terasa sangat menyakitkan—seolah-olah sesuatu menghancurkanku dari dalam—membuatku tidak bisa bergerak untuk menghindarinya.

Tidak.

Kupikir bukannya aku tidak bisa bergerak karena rasa sakit tubuhku.

Tapi, tubuhku benar-benar tidak bisa bergerak ... secara harfiah.

Benda itu semakin dekat dan dekat. Bahkan aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi padaku jika benda itu benar-benar turun sepenuhnya.

Aku akan ditimpa olehnya ... dan hancur menjadi saus daging.

Aah...

Aku akan mati.

. . . . .

Aku terbangun dengan terkejut, memandang langit-langit ruangan putih. Aroma obat-obatan tercium, membuatku sadar di mana aku berada sekarang.

Dengan kaku aku memandang sekitar, melihat ruangan putih bersih yang sangat berbeda dengan apa yang baru saja aku lihat sebelumnya.


Aku terbangun, membuka mata dan melihat sekitar

sebuah ruangan putih dan bersih


Pikiranku mengingat apa yang terjadi sebelumnya sehingga menyebabkanku berakhir di sini.

Oh, benar.

Aku mencoba untuk bunuh diri.

Tapi, sepertinya gagal?

Aku menghela nafas lemah. Sangat membosankan.

Memikirkan hal itu, aku melihat pergelangan tangan yang kini ditutup oleh perban. Aku ingat memotongnya cukup dalam, namun tampaknya itu belum cukup.

Memandang ke luar jendela, waktu menunjukkan hari sudah sore. Aku duduk perlahan di kasur dan menyadari bahwa jarum infus tertancap di punggung tanganku. Tanpa ragu, aku mencabutnya, tidak peduli dengan darah yang mengalir sebagai gantinya.

Aku bahkan berani memotong pergelangan tanganku, luka seperti ini bukan masalah besar.

"Ouma-kun!"

Mendengar suara itu, tanpa sadar aku menoleh. Tapi, tidak ada siapapun di sana. Aku mengerutkan kening dan reflek mencubit lenganku sendiri.

Tiba-tiba, sebuah tepukan lembut yang menyentuh bahu membuatku tersentak kaget. Tanpa sadar aku berbalik ... dan melihat kamu di sana.

"Ouma-kun."

Tidak ...

Jangan lagi ...

Aku melangkah mundur. Kepalaku berdengung hebat, membuat mual perut dan hendak muntah. Pandanganku mengabur, tapi aku masih bisa melihatmu dengan jelas.

"Ouma-kun ... Ini aku."

"Diam!" aku berseru, "berhenti! Menjauh dariku!"

Tapi, kamu tidak mendengarkanku. Kamu tetap mendekatiku.

Haha, tentu saja. Jika kamu benar-benar berhenti, maka aku akan ragu bahwa kamu adalah orang lain.

"Ouma-kun! Aku—"

"Berisik!"

Aku berlari ke luar ruangan. Tidak peduli ke mana kakiku melangkah, selama aku bisa menjauh darimu ... selama aku tidak melihatmu ... di manapun itu akan baik-baik saja.

Tidak tahu berapa lama aku berlari. Angin bertiup di wajahku, membuatku sadar.

Sekarang ... aku berada di pinggir atap.

Bagaimana aku bisa sampai di sini?

Otakku yang selalu memikirkan beragam ide jenius tiba-tiba kosong. Aku tidak ingat alasannya dan sebaiknya aku segera kembali—


Aku pergi ke atap namun

aku tidak bisa mengingat bagaimana itu terjadi


—tapi secara tidak sengaja melihat ke bawah, otakku yang kosong kembali dengan ide lainnya.

Ah? Bisakah aku mati jika melompat dari sini?

Sebelumnya, aku gagal dengan memotong pergelangan tanganku. Jadi, seharusnya berhasil jika aku jatuh dari ketinggian, 'kan?

Seakan mendukung keputusan batinku, angin meniup tubuhku dengan lembut seiring aku menjatuhkan diri ke depan.

Aku bisa melihat orang-orang yang sekecil semut dari atas sini.

"Tidak!"

Suara itu lagi.

Tanganku menggenggam pagar pembatas, menghentikanku yang hendak jatuh. Aku menoleh, melihatmu ada di sana, mengulurkan tanganmu yang terlambat.

Mulutku terbuka dan hendak memanggil namamu, namun aku urungkan niat itu.


Aku mengulurkan tangan karena kau di sana


Aku tidak punya hak untuk sekedar menyebut namamu.

"Sudah kubilang, berhenti!"

Tetap saja, kamu tidak mendengarkanku.

... Kamu benar-benar orang yang membosankan.

Tanganmu yang terulur meraih tanganku yang menahan pagar. Aku tahu, kamu mencoba untuk membuatku menjauh dari tepi atap. Tapi, aku tidak bisa.

Aku tidak ingin hidup lagi.

Aku tidak ingin diselamatkan olehmu lagi.

Dunia ini sangat membosankan.

Jadi, tolong, lepaskan aku ...

"Aku di sini, Ouma-kun."

Tidak. Kamu tidak ada di sini.

Kamu hanyalah sebuah kebohongan yang aku buat.

Kamu sama sekali tidak nyata!

Aku mendorongmu menjauh, melepas tanganmu, namun itu juga membuatku jatuh ke belakang.

Dan di belakangku adalah jurang kematian setinggi tiga puluh lantai.

"Ah!"

Mata emasmu menunjukkan keputusasaan.

Mengapa?

Mengapa terasa sangat menyebalkan melihatmu seperti ini?


Tapi aku tidak bisa meraihmu


Namun sangat mengejutkan.

Kamu meraih tanganku.

Aku mendongak, melihatmu berdiri di sana, menyunggingkan senyum penuh kepuasan.

"Ouma-kun! Kali ini, aku berhasil meraihmu!"

Aku tersentak mendengarnya. Entah mengapa kalimat ini membuat dadaku terasa sesak.

Sangat menyebalkan.

Semua ini terasa sangat menyebalkan.


Bahkan dengan tangan yang terus terulur


Jadi, aku menarikmu.

Kamu jatuh bersamaku. Angin bertiup sangat kencang sehingga rambutku berantakan, namun aku masih bisa melihat senyummu terukir di sana.

Kamu seorang detektif, tapi tingkahmu seperti orang idiot.

Seorang idiot yang selalu membuatku tertarik padamu.

Seperti sekarang ini.

Bahkan ketika aku dan kamu jatuh, kamu dengan santainya meraihku dan menenggelamkanku dalam pelukanmu.


"Aku tetap mencoba meraihmu."


Aku melihatmu, menatap langsung pada mata emasmu yang sangat indah.

Tiba-tiba, sekelebat bayangan melintas di benakku ... seperti film yang rusak.

Aku melihat seseorang.

Orang itu adalah aku.

Tapi juga bukan aku.

Tidak sepertiku, aku terlihat sangat berani. Berdiri di depan mereka, mengatakan kebohongan-kebohongan yang membuat mereka kesal, bahkan membuat lelucon yang membuat mereka marah.

"Nishishi~ Itu bohong!"

Itu bukan aku.

Karena ... aku penuh keinginan untuk hidup.

Sementara aku sangat ingin mati.


Ah, aku ingin mati, aku ingin mati


Apa-apaan ini?

Halusinasiku lagi?

Agar membuatku tetap hidup?

"Bisakah kamu menggunakan cara lain yang membuatku tetap ingin hidup?" kataku dengan sarkastik. Apakah yang bisa kamu lakukan hanyalah terus menghantui pikiranku?

"Kalau begitu, tetaplah hidup ... hanya untukku."

Aku menatapmu dengan pandangan lucu, seolah-olah kamu mengatakan hal terkonyol yang pernah ada. "Mengapa aku harus hidup hanya untuk makhluk fiksi sepertimu?"

"Bukan 'mengapa', tapi 'karena'."

Karena aku harus hidup hanya untuk makhluk fiksi sepertimu.

Lagi. Sekelebat bayangan melintas di benakku.

Aku melihat sosokmu tersenyum ke arahku.

Ah ...


Tapi ... aku tidak benar-benar ingin mati


Ketika aku dengan sengaja berbohong, kamu datang menghentikanku.

Ketika aku diabaikan, kamu pergi memelukku.

Ketika aku terluka, kamu segera menangis untukku.


Karena kamu akan menghentikanku


Karena itulah, aku bertekad untuk hidup.

Hanya untukmu.

Aku memutar otak, berpikir bagaimana cara untuk menghentikan semua ini. Dari membuat banyak rencana, memikirkan kemungkinan masa depan, dan yang paling pasti ... memastikan kamu tetap hidup.

Akhirnya, sebuah ide muncul di benakku.

Keberadaan dalang; orang di balik semua hal gila ini.

Selama dalang menghilang, maka permainan gila ini juga akan menghilang, 'kan?

Maka kamu akan hidup, 'kan?


Karena aku tidak ingin membuatmu menangis


Tapi, aku tidak tahu siapa dalang itu.

Jadi, aku berpura-pura menjadi dalang itu sendiri, ingin memancingnya keluar dari lubang tikus ... namun pada akhirnya aku berakhir di sana.

Yah, setiap tindakan ada risikonya. Dan aku harus menanggungnya.

Perlahan, benda itu jatuh menimpaku.

Rasanya sangat menyakitkan di awal, namun berubah menjadi hampa di akhir.


Tidak peduli berapa banyak luka yang aku dapatkan


Dan begitu aku membuka mata ...

... kita kembali dari awal.


Masih belum cukup, masih belum cukup


Bertemu kembali, saling melukai, tersenyum palsu.

Mengubah rencana, bersikap kekanak-kanakan, berbohong lagi.

Membunuh dalang, menyelamatkanmu.

Namun tetap saja ... kita kembali dari awal.

Aku sendirian.

Dan akan selalu sendirian.

Aku mati berkali-kali dan hidup berkali-kali.

Dan kamu hidup berkali-kali juga mati berkali-kali.

Seperti roda yang berputar tanpa henti.


Aku sendirian tanpa tempat untuk pergi


Tiba-tiba, kamu menembus kegelapan yang aku ciptakan.

Mengulurkan tangan dengan senyum hangat.

"Ouma-kun! Kali ini, aku berhasil meraihmu!"

Tapi aku tidak menerima tanganmu.

Bukannya karena aku berpura-pura bersikap tidak terjadi apapun, melainkan aku takut.

Aku takut jika aku akan terlena dengan cahaya yang kamu berikan. Itu sangat hangat dan nyaman, membuatku sangat ingin bersandar pada bahumu, mengeluarkan semua air mataku, berkeluh kesah atas semua yang aku alami kepadamu.

... Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya.

Karena permainan belum berakhir.


Pertunjukan ini telah berlangsung cukup jauh


Aku berkedip, kembali pada kenyataan bahwa aku masih jatuh dari ketinggian, dengan kamu yang masih memelukku.

Aneh, mengapa kita belum mencapai tanah?

Pertanyaan itu tiba-tiba membuatku sadar. Kamu di depanku tidaklah nyata. Apa yang aku lihat sebelumnya juga adalah halusinasiku. Jadi ... apakah dunia ini adalah kenyataan? Apakah keinginanku untuk mati, melompat dari gedung, bahkan ... diriku adalah fiksi?

Pandanganku bergetar karena memikirkan kemungkinan ini.


Dan yang ada di cermin


Tanpa sadar, aku melihat pantulan bayanganku pada kaca jendela gedung dari balik bahumu. Di sana, tidak ada langit biru berawan, pemandangan gedung-gedung tinggi, burung-burung terbang, serta kamu dan aku.

Hanya sosok tersenyum ... dengan mata merah.


sosok tersenyum dengan mata merah


Itu adalah dalang.

"Akhirnya, kamu menyadarinya."

Aku mengangkat kepala, menatapmu yang tersenyum sedih.

"Ayo akhiri ini, Ouma-kun."

Ya, aku menyadarinya. Aku telah mengingat semuanya. Antara kebohongan dan kebenaran, serta kenyataan dan fiksi.

Aku tersenyum membalasmu.

"Tentu saja."


Aku ingin hidup, aku ingin hidup

Itulah yang sungguh aku rasakan


Retakan muncul di sekitarku, seperti bola kaca yang pecah. Itu runtuh perlahan-lahan, menghilang ke dalam kegelapan.

Kamu melepas pelukan, tetapi tetap mempertahankan genggaman tanganmu padaku. Kita jatuh ke lubang gelap yang menganga, seakan membuka mulutnya untuk memakan kita.

Tapi aku tidak takut lagi dengan kegelapan.

Karena kali ini, aku menerima tanganmu.


Mengulurkan tangan, jadi jangan biarkan ini menjadi akhir


Aku terbangun dengan terkejut, memandang lampu yang bersinar di langit-langit ruangan. Aroma yang tidak lagi asing tercium, membuatku sadar di mana aku berada sekarang.

Dengan kaku aku memandang sekitar, melihat ruangan luas penuh dengan orang-orang yang telah aku lihat berkali-kali sebelumnya.

Ini membuatku merasa tidak nyaman.


Jamur tumbuh di kepalaku, membuatku teringat


Aku mencari ke sekitar.

Tetapi tidak terlihat sosokmu.


Di mana kamu berada?


Perasaan cemas merasukiku. Apakah sesuatu terjadi?

Meninggalkan orang-orang di belakang, aku berlari di lorong yang telah aku hafal di luar kepala.

Aku telah melewati tempat ini tak terhitung jumlahnya, menghabiskan banyak waktu dengan mereka, membuatku tahu satu tempat di mana kemungkinan kamu berada.

Karena selama ini, kamu selalu menungguku di sana.


Setiap kali aku lupa

kamu tetap dalam pikiranku


Itu adalah tempat di mana aku menahan Kaito, kemudian aku ditembak panah oleh Maki, dan membuat rencana untuk menciptakan 'pembunuhan tak bisa dipecahkan'.

Itu adalah tempat di mana aku mati berkali-kali.

Aku menambah kecepatanku tanpa sadar.

Dan benar saja, aku melihat sosokmu di sana.

Kamu berdiri di sana, mengulurkan tanganmu dengan senyum hangat.

"Ouma-kun! Kali ini, aku berhasil meraihmu!"


Aku tidak bisa mati sekarang


Merasakan basah di pipiku membuatku sadar kalau aku mengeluarkan air mata.

Apa? Menangis?

Tidak mungkin. Ini pasti karena kena debu.

Tapi, aku tetap melangkah untuk menerima tanganmu.

"Nishishi~ Kamu menangkapku, Tuan Detektif~"


Karena kamu di sini bersamaku


Kamu memasang wajah tak berdaya, masih dengan senyum hangat di wajahmu. Kemudian memelukku dengan lembut.

Ini dia. Cahaya hangat dan nyaman darimu yang selama ini aku inginkan.

Aku membalas pelukanmu.


Aku tidak sendirian lagi


Suaramu yang menenangkan terdengar di telingaku.

"Ayo akhiri ini, Ouma-kun."

Aku menyandarkan kepalaku pada bahumu, tersenyum di balik pakaianmu dan mengangguk.

"Tentu saja."


Rasa sakit dan ingatan berulang


Ah, aku ingin mati.

Tapi aku tidak benar-benar ingin mati.

Karena kamu bersamaku.

Jadi, mari kita akhiri permainan ini, Saihara-chan.


Siklus ini akan terus berputar


.

.

.

END