Foto Angkatan
Boboiboy Animonsta
Starlight
Summary : Semuanya berawal dari Yaya yang salah merangkul orang ketika foto angkatan. Highschool AU, One-shot, HaliYa.
Tidak terasa, tiga tahun sudah terlewati. Rasanya baru kemarin para siswa ini menjalani masa orientasi sekolah. Tapi sekarang mereka semua berkumpul di lapangan sekolah, berkumpul, bercanda, dan bernyanyi untuk merayakan usainya masa sekolah mereka.
Seorang siswi, yang akan menjadi tokoh utama cerita ini, sekarang sedang menuju kamar mandi karena mendengar agenda berikutnya adalah foto angkatan. Tentu saja ia harus berpenampilan bagus dan enak dipandang.
Nametag seragam yang bertulis Yaya Yah itu ia pandang agak lama lewat cermin yang ada di hadapannya. Sebentar lagi ia akan melepas seragam ini, ia tidak akan menyetrika seragam ini lagi tiap malam sebelum esoknya sekolah.
Walaupun seragam ini selalu berubah tiap tubuhnya berkembang, tapi nametag ini tetap ada di sana. Seolah-olah menjadi saksi bisu atas sekian tahun dirinya menjadi seorang pelajar SMA.
"Woi, Yaya! Cepetan! Benerin kerudung aja lama bener dah," panggil sahabatnya yang bernama Ying. Gadis itu sedang berdiri menunggu Yaya bersama seorang pemuda tampan. Pemuda itu bernama Taufan. Mereka dan Yaya adalah sahabat dekat.
"Aduh, bentaran dong. Eh, tapi gapapa, kalian duluan aja!"
"Ya udah, gue sama Taufan duluan ya!"
Yaya menyesal karena ia terlalu lama bercermin, karena semua siswa angkatannya sudah ada di tribun sekolah dan bersiap untuk difoto.
Akhirnya ia berlari sambil berusaha menemukan sosok sahabat-sahabatnya. Ia sangat terburu-buru, dan ketika ia melihat wajah pemuda yang tidak asing, Yaya langsung mengambil tempat di sebelahnya.
"Ayo semuanya, rangkul sahabatnya masing-masing ya. Gaya bebas!"
Suara aba-aba dari fotografer membuat lengan Yaya langsung merangkul pemuda di sampingnya. Tapi Yaya merasakan ada yang berbeda. Taufan ini yang biasanya aktif dan banyak bicara itu sekarang diam, tatapannya juga seperti orang yang bingung. Jaketnya juga berbeda. Tadi Taufan memakai jaket berwarna hitam dan biru, tapi sekarang jadi jaket berwarna hitam dan merah.
Selam tiga tahun bersahabat dengan Taufan, tidak pernah sekalipun Yaya memiliki ketertarikan dalam artian romantis pada sahabatnya ini, tapi sekarang berbeda. Yaya seperti tersihir oleh tatapan pemuda di sampingnya itu.
'Padahal mukanya sama aja dari dulu juga, tapi kenapa ya, kok sekarang rasanya beda?' Batin Yaya.
"Fan, jaket lu kok beda sih?"
"Mm, pengen aja ganti."
"Ohh.."
Hitung mundur sudah mulai. Padahal Yaya sudah sering merangkul Taufan dan tidak merasa canggung, tapi kenapa sekarang rasanya canggung sekali, ya?
Dan apa-apaan reaksi Taufan itu. Tidak seperti biasanya ia membalas sesingkat itu.
Cekrek!Cekrek!Cekrek!
Setelah sesi foto usai, Yaya segera mencari Ying. Ia berlari-lari menuju kantin dan kelas tapi kedua sahabatnya itu tidak ia temukan.
Ternyata Ying sedang bersama fotografer, melihat hasil foto di kamera. Tapi, kok Taufan ada di sana juga?
"Woi! Ying, kenapa tadi lo ga bareng Tau—eh? Lo kok di sini, sih? Bukannya tadi bareng gue?" Tanya Yaya saat melihat Taufan dan Ying yang sedang menahan tawa.
"Apaan anjir orang kita foto di depan. Lo yang ngilang!"
"Hah?"
Ying dan Taufan tertawa keras sampai memegangi perut masing-masing. Yaya hanya kebingungan.
"Kenapa sih, tiba-tiba ketawa gitu?"
"Ih, sumpah ngakak. Masa lo gak nyadar, Ya?"
"Apaan ih, jangan nakut-nakutin!"
Taufan menunjukkan foto tadi, dan memang benar Taufan dan Ying foto di depan sementara dirinya agak di belakang.
"HAH?! Jadi gue foto sama siapa dong? Jin Qorin? Ih, serem ah!"
"Ahahahhahahahahah, ngakak duh. Itu kembaran gue, si Halilintar yang lo rangkul-rangkul," ucap Taufan sambil tertawa puas.
"Ahahahhahahahahahah, mampus. Mana foto angkatan lagi."
"Beneran lo? Ih, kok lo ga pernah cerita punya kembaran sih?"
"Emang ga pernah, ya? Perasaan udah deh."
"Lo cerita pas si Yaya ga ada, Fan."
Dan di saat itu juga, Yaya merasa seperti ada petir yang menyambar di belakangnya.
"Ih! Taufan ngeselin banget! Jahat banget ih, aku malu! Mana ini foto angkatan lagi, bisa take ulang gak sih?" Ucap Yaya kepanikan, rasanya sampai ingin menangis.
"Tapi dia ngomong sesuatu ngga?" Tanya Ying.
"Waktu gue nanya kenapa dia ganti jaket, dia balesnya pengen aja. Ya udah gue kira itu emang si Taufan," jawab Yaya sambil menutupi wajahnya.
Taufan masih tertawa terbahak-bahak.
"Kok si Halilintar mau-mau aja dirangkul sama lo? Modus jangan-jangan, hahahahahaha.!"
"Yaya tukang nyosor, hahahahaha..!" Ledek Ying.
"Diem gak lo! Berisik ah, malu banget gue!"
Hari terakhirnya di sekolah ini tidaklah menjadi kenangan yang indah.
Malamnya, Yaya kembali memikirkan kejadian tadi. Pantas saja rasanya berbeda. Ternyata memang bukan Taufan. Kalau dengan Taufan, tidak mungkin kan rasanya berdebar-debar seperti tadi?
Akhirnya Yaya menghubungi Taufan via chat untuk menanyakan kembarannya itu.
Yaya : Fan
Taufan : Yo
Yaya : Btw kembaran lo ganteng jga ya. Gw kayaknya kena love at first sight.
Taufan : Anjir padahal muka gue sama dia sama aja. Kok lo bisa lgsg suka gtu sih? Jadi ngeri gue.
Yaya : Beda, kembaran lo lebih ganteng.
Taufan : Sama aja perasaan mukanya.
Yaya : Pokoknya dia lebih ganteng.
Taufan : Ya udh terus gimana? Mau nomornya?
Yaya : Boleh banget, hehe.
Pengalaman buruk itu mungkin tidak akan selamanya buruk, kalau cintanya bersambut.
Owari
Ahahahahahahah, aku kalau jadi Yaya malu banget sih. Tapi buat fic ini jadi kangen sekolah lagi, hehehehe..
Omake
Yaya : Assalamualaikum, ini Yaya kelas IPS 3, temennya Taufan. Maaf banget ya, tadi gw kira Taufan.
Halilintar : Oh, gapapa.
Yaya : Beneran gpp kan? Aduh malu banget ini mah.
Halilintar : Iya. Lagian gw juga diem aja.
Yaya : Nah, iya. Knp lo diem aja? Pdhl bisa tepis aj.
Halilintar : Gapapa, pengen aja.
Yaya : Hah?
Halilintar : Pengen aja sesekali dirangkul gebetan.
Yaya otomatis melempar ponselnya.
"MAMAAHHH..!"
Yaya tidak pernah tahu cerita di balik semua itu, tentang seorang pemuda yang selalu mengaguminya dari kejauhan.
Kalau berakhir seperti ini, foto angkatan itu tidak terlihat buruk, bukan?
