Normal POV
Ketika ingin mengambil kunci dari saku celana, tidak sengaja mata melirik ke sebelah kanan.
Naruto tidak pernah ingat bahwa lantai delapan gedung apartemen ini memiliki penghuni selain dirinya. Namun kini, tepat di sebelah kamar yang ia sewa, telah muncul nama baru yang pertama kali ia lihat. Setelah dua tahun tinggal di tempat yang sama, akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang bisa dijadikan teman bicara.
Meski ini hanya sekadar spekulasi semata, ia tahu bahwa adalah hal yang wajar apabila dirimu menyambut tetangga baru dengan kue sederhana sebagai ucapan selamat datang. Akan lebih baik jika semua terjadi semudah dengan apa yang ia dengar, tetapi pemikiran tetaplah pemikiran; ucapan tetaplah ucapan; hal tersebut tidak akan terjadi apabila yang ia lakukan hanyalah mengunci diri sambil menatapnya diam-diam.
Naruto ingin menyapa, ingin melakukan hal-hal yang dilakukan oleh tetangga pada umumnya. Namun, ia belum bergerak hingga dua bulan kemudian.
.
.
.
CUPID'S ARROW
Naruto by Masashi Kishimoto
Cupid's Arrow by stillewolfie
Naruto U. & Hinata H.
OOC, alternate universe, typos, ringan, etc.
.
.
Dedicated for Uzumaki Naruto's Birthday (October 10th) on 2021
.
.
Perempuan itu bernama Hyuuga Hinata.
Hal pertama yang membuat ia berbeda adalah bentuk mata; berwarna putih pucat, bulat seperti boneka, bergerak-gerak lembut saat mengerling ke segala arah, cantik kala memandang bunga-bunga yang ia rawat di beranda kamar.
Selama tiga puluh tahun semasa hidup, Uzumaki Naruto baru melihat mata indah seperti itu. Seperti sebuah penemuan baru. Seperti sebuah harta karun. Seperti permata langka yang dijadikan titik temu. Aneh, tapi indah. Unik, tapi menjanjikan. Sempurna, tapi hampir tidak pernah ditemukan.
Hal kedua yang membuat ia berbeda adalah warna kulit; seperti matanya, ia berkulit pucat. Ia selalu menggunakan pakaian lengan pendek saat berada di dalam rumah, terutama saat ia melakukan rutinitasnya di beranda kamar. Wanita itu menyukai tanaman. Ada beberapa tanaman obat yang tersusun rapi di sana. Naruto sempat menebak, bahwa tanaman-tanaman tersebut pasti berhubungan dengan pekerjaan dari Hyuuga Hinata.
Naruto belum berani untuk bertegur sapa, tetapi ia selalu penasaran. Dia selalu menebak-nebak. Mengapa Hyuuga Hinata memiliki kulit seputih kapas? Mengapa Hinata memelihara tanaman obat? Mengapa bukan tanaman hias? Mengapa Hinata menyukai warna ungu? Mengapa Hinata selalu identik dengan warna ungu?
Hal ketiga yang membuat ia berbeda adalah warna rambut; berwarna gelap, tapi bukan gelap biasa. Tidak seperti manusia pada umumnya, rambut perempuan itu memiliki warna yang berbeda; bukan hitam, bukan cokelat, bukan pirang—melainkan ungu, ungu gelap.
Naruto tiba-tiba ingat dengan Haruno Sakura, anak magang yang bekerja bersamanya dua minggu yang lalu. Jika Sakura memiliki rambut aneh berwarna merah muda, maka warna rambut Hinata juga termasuk aneh. Namun berbeda dengan rambut Sakura yang terkesan aneh dan sulit diterima akal, rambut Hinata itu aneh tetapi sangat mengesankan.
Hyuuga Hinata akan pergi bekerja di hari-hari biasa, dari pukul delapan pagi hingga delapan malam. Ia memiliki rutinitas yang mudah untuk diingat. Meski memiliki tingkah seperti putri kerajaan, tetapi wanita itu bukanlah tipe wanita yang sulit dipahami. Dari cara bertingkah, berjalan, bahkan saat menyapa petugas kebersihan di lantai bawah, Naruto bisa menyimpulkan bahwa Hinata adalah perempuan yang baik dan sangat sopan.
Naruto selalu menetapkan hati untuk berkunjung di akhir pekan, berniat memberikan senyum paling indah sebagai sapaan. Ia pun rela menyisihkan uang bulanan untuk membeli kue super besar yang akan ia berikan sebagai bentuk selamat datang. Namun, semua hanyalah mimpi belaka. Kue tersebut tidak pernah sampai atau dicicipi oleh Hyuuga Hinata.
Entah mengapa setiap berhadapan dengan perempuan itu, Naruto merasa pesimis. Entah bagaimana bisa, semua rasa percaya diri yang selalu ia banggakan tiba-tiba hilang bagaikan serpih. Kembali, jika dipikirkan, Naruto bukanlah tetangga yang baik. Ia malah terdengar seperti penguntit.
Naruto membuka jendela, melangkah menuju beranda kamar. Ia memandang langit begitu lama, menatap bintang yang bersinar tanpa lelah. Tubuh ia sandarkan pada pembatas, menutup mata; membiarkan angin membawanya menuju angkasa. Ia terlihat lelah akan satu hal, tetapi sulit untuk mengakui bahwa ia 'lelah' karena 'hal bodoh' semacam bertegur sapa dengan seorang tetangga.
Naruto melirik ke sebelah kanan dan menemukan beranda kamar milik tetangganya kosong tanpa manusia. Di sana hanya ada tanaman obat yang mulai berkembang akibat proses fotosintesis dari pagi menuju malam. Kembali, kaki melangkah untuk mendekati; mata mengintip dari celah jendela yang ditutupi tirai putih; di antara celah-celah sempit, ia bisa tahu bahwa Hyuuga Hinata sedang duduk di sofa berwarna gading, menyilangkan kedua kaki, membaca novel misteri, ditemani susu cokelat dengan aroma manis.
Naruto seketika termenung, menatap dengan binar-binar lucu. Pemuda itu seperti terhipnotis, tidak tahu bahwa Hyuuga Hinata bisa secantik ini.
Kala waktu terus bergerak, Hinata mulai beranjak. Ia menutup novel dan melangkah menuju saklar ruang tengah. Saat lampu dimatikan, di sanalah Naruto tersadar. Pemuda itu langsung berlari masuk ke dalam kamar, menutup jendela dengan sedikit bantingan. Ia terengah-engah, memelototi lantai dengan wajah bodoh tak terkira.
Naruto mencengkram kaus yang ia gunakan sampai membekas, mencoba untuk merasakan detak jantung yang terus berdebar-debar. Ia terlihat tidak nyaman. Ia terlihat tidak menyangka. Ia terlihat kesal sekaligus tidak berani menebak. Ia berani menyangkal, tetapi takut untuk bersumpah.
Ada apa dengan dirinya? Ada apa dengan jantungnya? Ada apa dengan hatinya? Ada apa dengan matanya? Ada apa dengan perasaannya? Mengapa reaksi-reaksi aneh terus bermunculan sejak ia mengenal Hyuuga Hinata?
Meski belum pernah bertegur sapa, Naruto selalu penasaran. Namun, kali ini, ia tidak mampu untuk menebak. Ia selalu bertanya-tanya, tetapi kali ini, izinkan ia untuk tidak mencari jawaban yang tidak pasti.
Naruto terbangun satu jam lebih awal karena esoknya, hujan telah datang. Pukul tujuh pagi, ia melakukan rutinitas sebelum bekerja. Ia melangkah menuju dapur, memanaskan air dan menyeduh kopi. Sambil mengunyah selembar roti, ia mengenakan kemeja putih dan dasi hitam. Ia berusaha cukup keras untuk melupakan sensasi aneh yang ia rasakan semalam saat memandangi Hyuuga Hinata secara tak sengaja.
Hingga pukul delapan, hujan belum juga reda. Naruto mengumpat sambil mengambil payung berwarna merah. Ia keluar dari sana, mengunci pintu, dan menuruni tangga dengan cepat. Ia tidak ingin ketinggalan kereta. Setelah menyapa petugas kebersihan dengan semangat, ia segera berlari menuju pintu utama.
— tetapi, langkah itu terhenti di teras gedung apartemen mereka.
Ada seorang perempuan, asing sekaligus cukup familiar. Ia berambut panjang, ungu gelap. Ia berkulit pucat, menggunakan seragam putih khas perawat. Ketika mendengar suara langkah, sosok itu menoleh pelan. Iris putih seperti permata, mengerling begitu indah; bertemu dengan dua mata berwarna lautan, yang terbelalak.
Hinata mengerjapkan kedua mata.
Naruto mematung seperti terkena racun medusa.
Entah karena suara rintikan hujan. Entah karena suhu yang menurun akibat hujan. Entah karena terlalu gugup hingga membuatnya sulit bernapas. Entah karena jantung yang kembali berdegup tidak nyaman. Entah karena tatapan itu yang membuat dirinya kembali jatuh dalam pesona. Entah karena hati yang tiba-tiba yakin oleh satu alasan. Entah karena lagi, lagi, dan lagi, Hyuuga Hinata terlihat cantik sampai waktu pun dibuat berhenti bergerak.
Naruto melanjutkan langkah, mendekati Hinata yang masih terdiam.
Mereka bertatapan.
"Namaku Naruto. Uzumaki Naruto." Ketika berucap, tidak ada perasaan ragu. Kali ini, ia memutuskan untuk maju. "Aku tinggal di sebelahmu. Kebetulan aku bawa payung, jadi—"
Payung terangkat, sebagai bentuk penawaran.
"—mau pergi bersamaku?"
Hinata perlahan mendongak, memberikan senyum tipis dengan wajah menenangkan. Saat melihat reaksinya, Naruto tahu bahwa ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
.
.
.
ended
.
.
A/N: selamat ulang tahun, naruto-kun. terima kasih karena berhasil hidup hingga saat ini, meski kurama sudah tidak ada lagi. :')
mind to review?
