Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Story written by Angelichoco.


'Kasus pembunuhan tengah malam telah menemukan sebuah bukti baru—'

Remote ditekan, belum sempat siaran mencapai menit, Sakura dahulu mematikan televisi dengan raut setengah risau. Napas menghembus berat, apa yang baru saja memasuki gendang seolah mutlak membuat bulu kuduk berdiri tegak. Tentu saja, bagaimana tidak, selama sepekan belakangan, nyaris berita-berita yang menyeruak melalui liputan langsung maupun cetakan koran selalu saja mengabari hal-hal mengerikan.

Atensi teralih bosan, di luar sana lampu-lampu berkedip suram, ada banyak hiasan menempeli tembok ala hantu seram. Padahal, sebentar lagi akan mencapai puncak perayaan Halloween, semestinya kota tengah dalam kegembiraan yang menyelimuti, tanpa justru terbalut rasa takut merayapi tiap sel nadi, bukan?

Sesaat menyeruput teh selagi bersandar, bahu ditepuk pelan—sontak menoleh. Sasuke menghampiri, atasan masih polos serta helaian menurun basah. Aroma musk setelah mandi menguar seiring mendaratkan bokong di sisi sofa kosong. Netra bergulir, tertarik menatap televisi yang bergeming sunyi. "Kenapa dimatikan?"

Satu tarikan napas—lagi—sembari meletakkan cangkir di atas meja, Sakura mengangkat bahu. "Malas, beritanya menyeramkan."

Sasuke cukup bergumam rendah, tak mampu sekadar melontar sangkalan. Memang benar, belakangan, sekitaran kota tengah dalam keadaan tegang. Tentu sebagai pekerja yang pulang hampir mencapai tengah malam, risau selalu saja mengganjal tak tenang. Hari pertama, anak sekolahan, ditemukan tewas mengambang di permukaan danau kota. Tiga hari menyusul, seorang ibu paruh baya tergantung di taman anggur, bukankah mengerikan? Terlebih, bukti mengenai pelaku masih teramat minim, sama sekali belum menemukan titik terang.

"Lebih baik tidur, aku takut." Menoleh sebab nyaris saja tenggelam bersama pikiran sengkarut, bahu menghangat tatkala Sakura menyandar nyaman, kelopak mata menutup rapat—mengundang senyuman tipis tersungging. Ah, mungkin Sasuke sesaat melupa, padahal, sekalipun bahaya mengincar nyawa, ada sosok yang jauh lebih berharga, yang tak peduli apa tengah terjadi, harus dilindungi sehidup semati—serupa ikrar menggema dalam jiwa.

"Tak perlu takut, aku di sini." Kalimat yang terucap lantas menuntun saling terbungkus hening, usapan sayang mendarat di atas helai merah muda—berbagi kasih selagi samar-samar suara sirine berlalu lalang terus menginterupsi. Tanpa sadar netra berkilat antusias, Sakura cepat mengalihkan tatap, seolah akan membahas topik serius. "Kata penyiar tadi, ada bukti baru dari si pembunuh."

Lama membatu, Sasuke menghembuskan napas amat berat, ada diam-diam rasa was-was menyelimuti raut selagi jemari bergetar. "Eh? Sudah ketemu?"

Menatap lamat, jarum jam seolah berdetak lambat, apa yang selanjutnya terucap mengundang kecewa selagi gelengan Sakura mengiringi ujaran pelan, "Belum, hanya ada bukti kancing baju tertinggal di TKP, tapi katanya punya seorang ibu yang sempat lewat."

Satu gumaman rendah lagi-lagi terlontar. Televisi kembali dinyalakan sembari menyeruput teh chamomile. Di luar sana acara tahunan tengah ramai digelar, meski mungkin sebagian lain bahkan enggan untuk sekadar keluar rumah lewat jam delapan. Halloween dengan kasus pembunuhan nyata—ah, benar-benar sensasi seram yang amat mencekam. Sakura sempat mengalihkan atensi menuju keluar jendela yang mana lampu jalan tengah menyala terang, ada pula ramai terdengar canda tawa anak-anak. Menoleh pelan, sebelah alis terangkat mendapati Sasuke yang entah sejak kapan menahan gelak tawa.

"Mereka benar-benar payah," jeda sejenak, perut geli sebab terkekeh kencang. Sesaat membisu, senyuman Sakura sama-sama terbentuk implisit seraya menyandar di atas bahu—kembali menutup netra amat nyaman, menikmati usapan penuh sayang membelai rambut, mengabaikan jeritan meminta tolong dari bawah basemen. "Jangan khawatir, para polisi itu tak akan menemukan kita dengan mudah."


a/n : halooo, telat banget buat ngerayain halloween but at least selesai juga huhu. hope you guys like the story, see ya soon and HAPPY HALLOWEEN!!!