"Ibu, aku akan berangkat sekarang." Ujar Daniel pada ibunya setelah ia meminum segelas air yang telah disediakan di meja bersama sarapannya.
"Sekarang? Bukankah ini masih terlalu pagi Daniel? Kau baru saja memberi makan sapi di kandang, mengapa sangat terburu-buru, nak?." Tanya Vina, Ibu Daniel sambil mencuci piring bekas sarapan.
"Ibu, sekarang adalah musim panen. Ketika kemarin aku ke ladang, aku melihat banyak sayuran dan buah-buahan yang sudah siap dipanen sekarang. Jika aku berangkat terlalu siang, aku dan ayah bisa pulang terlalu malam. Lagipula bu, ibu membutuhkan sayuran dan buah-buahannya untuk sampai ke rumah lebih cepat kan, jangan lupa kalau besok adalah ulang tahun desa kita." Jawab Daniel sambil tesenyum seraya mengambil kukis coklat terakhir di meja makan.
Vina, ibu Daniel hanya tersenyum dan mengangguk pada anak laki-lainya. Ia mengetahui bahwa jika Daniel sudah memiliki suatu keinginan, akan sulit bagi orang lain, termasuk dia sekalipun unuk mengubah keputusannya. Daniel berpendirian teguh, dan jika ia ingat kembali, memang seperti itulah dirinya ketika masih muda dan Daniel mewarisi sifat pendirian teguhnya.
Setelah itu, Daniel mengambil jaket bulunya dan memakainya. Ia lalu keluar dari pintu rumah menuju ke ladang sayur dan buah yang berjarak kurang lebih 800 meter dari rumah. Udara di desanya, desa Bleckingham masih lumayan dingin di pagi hari di musim semi, dan itulah alasan mengapa ia memakai jaket bulunya. Meskipun begitu, ketika telah sampai di ladang, suhu akan berubah menjadi lebih hangat dikarenakan matahari sudah mulai menampakkan cahayanya.
Ladang sayuran dan buah-buahan yang akan Daniel tuju merupakan ladang keluarganya yang terletak di kaki gunung Fleshta, terletak kurang lebih 800 metar di sebelah utara desa Bleckingham. Sebenarnya, terdapat banyak ladang sayuran dan buah-buahan di kaki gunung itu karena tanahnya yang subur, oleh sebab itu, warga desa Bleckingham biasanya akan membangun pagar besi yang mengelilingi ladang mereka serta meletakkan papan kayu kecil dengan nama keluarga mereka di depan ladang mereka masing-masing untuk memudahkan mereka.
Setelah 30 menit berangkat dari rumah dan berjalan melewati hutan Merole yang ditumbuhi oleh tanaman dan bunga di musim semi, akhirnya Daniel telah sampai di ladang keluarganya di kaki gunung Fleshta. Nampak telah ada beberapa orang yang sudah sampai di ladang mereka masing-masing dan sedang memanen hasil perkebunan mereka. Masih belum ada banyak orang di ladang karena memang hari menunjukkan masih sangat pagi dan matahari belum sepenuhnya terlihat.
Kebun keluarga Daniel memang berukuran cukup besar dan tertata rapi jika dibandingkan dengan kebun-kebun warga lainnya yang mayoritas mencampurkan jenis buah-buahan dan sayuran dalam 1 petak tanah. Ia mempunyai 2 petak tanah untuk menanam sayur-sayuran dan 3 petak tanah sebagai ladang buah-buahan. Buah-buahan di ladang keluarga Daniel juga sangat bergam. Mereka membudidayakan Berries liar di ladang mereka, sampai buah-buahan seperti apricot, jeruk, dan apel, begitu pula dengan sayurannya.
"Oh Daniel? Kau sudah disini? Bukankah ini masih terlalu pagi? Biasanya kau baru sampai ke ladang pukul 8 pagi, dan dilihat dari posisi matahari...ini masih pukul setengah 8 pagi." Ujar Jack, Ayah Daniel yang kaget mendengar suara bersin Daniel dan melihatnya sudah ada di ladang.
Daniel hanya tersenyum mendengar ucapan ayahnya sambil ia melepas jaket bulu tebalnya. "Kita memanen banyak hal hari ini yah, selain itu ibu harus memasak ini semua sebelum malam hari untuk diawetkan terlebih dahulu untuk peryaan ulang tahun desa besok. Yahhh, paling tidak jika aku ada disini lebih awal aku bisa membantu ayah lebih awal dan juga pulang lebih awal tentunya." Kata Daniel seraya tersenyum dan mengambil sarung tangannya untuk memulai memanen sayuran dan buah-buahan.
"Ayah rasa kau benar, dan kau juga harus membantu Zion untuk memanen hasil panennya juga kan." Jawab Jake sambil memanen beberapa buah labu dari ladangnya.
"Yep Benar, aku sudah berjanji padanya kemarin." Balas Daniel Singkat seraya ia memanen beberapa buah berry yang terletak di sebelah kanan ladang ayahnya.
Jack hanya mengangguk setelah anak sulungnya itu menjawab pertanyaannya. Ia mengetahui bahwa Zion dan Daniel telah bersahabat sejak mereka masih anak-anak. Ia ingat sewaktu mereka masih kecil, Zion sering mengajak Daniel untuk bermain keluar. Ia juga mengetahui bahwa mereka berdua mempunyai kepribadian yang berlawanan, tetapi kepribadian mereka saling melengkapi.
Tak dirasa, Daniel telah memanen semua buah berry yang ada di ladang. Ia juga melihat bahwa semua buah berry yang dipanennya memenuhi 3 keranjang berry yang ia bawa. Panen musim ini benar-benar yang paling banyak selama hidupnya. Ia juga melihat jika ayahnya hampir memanen semua labu di ladang, meskipun jumlah Labu tidak sebanyak buah berry. Labu cukup berat dan itulah mengapa ayahnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk memanen semuanya.
"Ngomong-ngomong Daniel, bagaimana kemampuan penguasaan elemen tanahmu?." Tanya Jack tiba-tiba saat ia memetik labu terakhir di ladang.
Sontak Daniel sedikit kaget, karena ia biasanya melihat sosok Jack, ayahnya yang tidak terlalu tertarik untuk berbicara tentang hal-hal seperti ini. Bisa dikatakan ia memang dekat dengan ayahnya, bahkan hubungannya dengan ayahnya lebih dekat dibandingkan dengan hubungannya dengan Vina, ibunya, meskipun ibunya lah yang melatihnya cara menguasai elemen tanahnya.
"Uhh...semuanya berjalan baik yah, ibu selalu rutin melatihku, ibu masih melatihku 1 minggu 3 kali di hutan Sarmane. Mengapa tiba-tiba ayah bertanya? Oh ya yah, bagaimana perkembangan penguasaan elemen tumbuhan milik Zinnia?." Jawab Daniel sambil tersenyum pada ayahnya.
"Bagus, ayah senang mendengarnya, dan kelihatannya kau memang menyukai berlatih elemen tanahmu." Jawab Jake dengan nada yang senang setelah melihat anaknya tersenyum.
"Penguasaan elemen tumbuhan Zinnia...bisa dibilang semuanya berjalan sangat baik, adikmu memiliki talenta dalam hal penguasaan elemen tumbuhan dan kelihatannya kau juga seperti itu dengan elemen tanahmu. Sebenarnya, tadi ayah bertanya seperti itu karena besok, sebelum kita berangkat ke ladang, ayah ingin mengajakmu sparring." Sambung Jack.
Daniel sungguh terkejut. Selama ini hanya ibunyalah yang mengetahui perkembangan penguasaan elemennya. Ia selalu memiliki keinginan untuk melakukan sparring dengan ayahnya, tetapi ia tidak enak ketika ingin mengatakannya karena ayahnya tidak pernah mau membahas tentang hal itu. Tiap kali ia berusaha menceritakan tentang penguasaan elemennya, ayahnya memang mendengarkan dan mengangguk, tetapi ia merasa kalau ayahnya tidak mau membahas hal itu.
"Tentu saja Yah, aku akan mengeluarkan semua kemampuanku, jadi jangan pernah lengah." Ucap Daniel dengan nada penuh semangat.
Melihat anaknya berbicara penuh semangat membuat Jack tertawa karena ia jarang sekali melihat Daniel berbicara dengan penuh semangat. Jack berpikir pasti Daniel sangat senang ketika Jack membahas tentang kemajuan pengendalian elemennya. Wajar saja, ia tahu dan sadar kalau ia jarang berbicara mengenai hal itu dan memang ia tidak ingin membicarakan hal itu terlalu awal. Ia merasa karena memang belum adanya waktu yang pas.
"Sebaiknya persiapkan dirimu, ayah tidak akan kasihan padamu hanya karena kau anak ayah." Jawab Jack yang tersenyum pada Daniel.
Daniel mengangguk dan mengacungkan jempolnya pada ayahnya. Ia tidak sabar untuk menunggu hari esok.
Setelah membicarakan tentang rencana sparring mereka esok hari, Daniel dan ayahnya kembali melanjutkan memanen sisa sayuran dan buah-buahan yang ada di ladang sambil berbincang-bincang kecil. Cuaca musim semi yang sejuk hari itu, kupu-kupu yang dan serangga lain yang beterbangan di sekitar ladang, sampai beberapa anak penduduk desa lain yang bermain bersama di sekitar ladang menambah pemandangan indah di ladang hari itu.
Bukan hanya Daniel dan ayahnya yang bersemangat memanen sayuran dan buah-buahan. Penduduk yang lain juga bersemangat dan menikmati memanen hasil panen mereka. Hasil panen tahun ini memang terlihat lebih melimpah dibanding tahun-tahun sebelumnya, baik dari sayuran ataupun buah-buahannya.
Tak terasa ternyata matahari terasa semakin terik meskippun temperatur di daerah ladang masih terbilang sejuk. Daniel melihat jika ia telah memanen setengah dari buah-buahan yang ada diladangnya. Hanya tinggal belimbing, melon, anggur, kiwi, persik, leci, dan cherry. Begitupun dengan Jack, ia telah memanen setengah dari sayuran yang ada di ladang.
Saat melihat keatas, Jack dan Daniel sadar jika matahari sudah terik dan sudah waktunya bagi mereka untuk beristirahat. Setelah memetik selada terakhir, Jack membawa keranjang penuh berisi sayur-mayur dan memutuskan untuk beristirahat di pondok dekat ladangnya, begitu juga dengan Daniel.
Tiba-tiba mereka mendengar suara yang tidak asing berteriak pada mereka.
"Kakak...ayah...maaf aku terlambat, tadi aku melihat banyak kepompong menjadi kupu-kupu di hutan...ohh mereka sangat indah, jadi aku mengejarnya, sebenarnya aku ingin menangkap satu..." Ucap seorang wanita muda berambut coklat pada Daniel dan Jack
"Oh iya...aku lupa...maaf, kalian pasti sudah menunggu makanan kalian." Sambung wanita muda itu lagi sambil tertawa dan meletakkan kotak makan yang berisi beberapa sandwich dan seafood
"Tidak apa Zinnia, aku paham, ayo kita makan bersama." Jawab Daniel dengan nada yang lembut pada wanita muda yang ia panggil 'Zinnia' itu.
"Ehh, makan? Aku tidak ikut memanen, makanan ini bukan..." Jawab Zinnia pada kakaknya Daniel.
"Ibu tidak memasak makanan sebanyak ini hanya untuk aku dan kakakmu makan berdua saja Zinnia, sudahlah ayo makan." Potong Jack yang memulai membuka tutup kotak makan yang dibawa oleh Zinnia, anaknya.
"Baiklah...Jika kalian memaksa, aku akan senang hati ikut menikmati makanannya." Ujar Zinnia dengan senyum khasnya.
Setelah itu Jack dan kedua anaknya memakan bekal makan siang yang dibawakan oleh istrinya, Vina, untuk mereka. Jack, Daniel, dan Zinnia menyantap bekal makan siang itu dengan lahap. Mereka bertiga sangat menikmati makan siang itu.
Setelah beberapa saat, mereka telah usai memakan bekal makan siang mereka dan di depan mereka sekarang hanya tergeletak 3 kotak makan kosong. Daniel yang saat itu sedang duduk berhadapan dengan Zinnia adiknya, melihat jika masih ada 1 kotak makan lagi di samping Zinnia.
"Hei Zinnia, apakah kotak makan disebelahmu itu berisi makanan penutup?." Tanya Daniel pada adiknya sambil menunjuk jari telunjuknya pada kotak makan berwarna hijau di samping Zinnia.
Jack yang saat itu duduk di samping Zinnia juga baru sadar jika anaknya tidak membuka kotak makan keempat itu. Ia mengangkat alisnya sambil memasang raut wajah bingung pada Zinnia.
"Oh ini...ya bisa dibilang jika ini adalah makanan penutup kak, tetapi ini bukan untuk kalian atau aku." Ujar Zinnia dengan tesenyum sambil mengangkat kotak makan berwarna hijau tersebut.
"Lalu untuk siapa?." Tanya Daniel pada Zinnia sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Vans...untuk Vans. Kalau kakak penasaran, isi dari kotak makan ini adalah kukis madu dan beberapa sandwich madu yang dipotong persegi kecil dengan isi selai buah persik ditambah madu, tapi aku jadi teringat, bukankah kakak tidak suka madu?." Tanya Zinnia pada Daniel.
"Oh ya...Vans, seharusnya aku mengetahuinya." Ucap Daniel sambil tertawa kecil.
"Sebenarnya aku alergi terhadap madu, bukan tidak suka." Sambung Daniel.
"Oh iya, ayah, kakak, aku izin pulang agak telat nanti. Aku akan pergi ke desa Sreden untuk membeli alarm baru." Ujar Zinnia sambil mengacungkan jari telunjuknya ke atas.
"Ohh, bukankah ada alarm di toko aksesoris di desa kita Zinnia?." Tanya Jack dengan nada bingung.
"Yepp, memang ada yah, tetapi aku tidak meyukai desain alarmnya, terlalu monoton dan warnanya selalu gelap. Aku ingin membeli sebuah alarm berwarna merah muda yang mempunyai telinga di bagian atasnya, itu sangat lucu dan aku menginginkan serta menyukainya." Jawab Zinnia dengan nada antusisas.
Jack mengangguk dan tertawa kecil. Begitupun dengan Daniel setelah mereka mendengarkan penjelasan dari Zinnia.
"Tenang saja, aku nanti akan mengajak Vans menemaniku ke desa Sreden untuk membeli alarmnya. Aku tidak bisa mengajak kakak atau ayah karena kalian berdua kan harus mempersiapkan pesta ulang tahun desa untuk besok bersama warga yang lain. " Ucap Zinnia lagi seolah-olah dia mengetahui apa yang akan dikatakan oleh ayahnhya selanjutnya.
Jack mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Zinnia dan berpesan agar dia dan Vans harus tetap berhati-hati meskipun jarak desa Sreden dan desa mereka tidak terlalu jauh.
Zinnia mengangguk dengan antusias sambil mengambil kotak makan untuk Vans yang berada di sebelahnya.
"Baiklah, aku pergi dulu yah, kak, semangat memanen sisa sayuran dan buah-buahannya. Aku nanti akan pulang sebelum malam, dadahhhh." Teriak Zinnia dengan penuh antusias sambil dia melambaikan tangannya.
Daniel juga melambaikan tangannya pada adiknya yang sudah pergi cukup jauh sementara ayahnya merapikan kotak makanan sisa makan siang mereka tadi dan meletakkannya di pojok pondok. Setelah itu, Daniel dan Jack melanjutkan pemanenan sayuran dan buah-buahan di ladang.
Zinnia berjalan di sebuah hutan melewati ladang sayuran dan buah-buahan dengan penuh antusias menuju tempat Vans berada sambil membawa bekal makan untuk Vans dan menyanyikan beberapa lagu pop favoritnya.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya ia sampai di sebuah tempat, seperti padang rumput yang sangat luas dengan danau yang indah di tengahnya. Disana Zinnia dapat melihat banyaknya hewan seperti kuda liar, zebra dan lain-lain.
Sambil terus memperlambat jalannya, ia melihat pemandangan di sekitarnya seperti sedang mencari sesuatu. Langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang laki-laki berambut pirang gelap sekitar 500 meter di sebelah kanannya sedang duduk sambil memakan sebuah apel dan membaca sebuah buku. Zinnia langsung tersenyum dan berlari memutar menuju posisi belakang pemuda itu, yang sepertinya tidak mengetahui keberadaanya itu.
"Boom!". Teriak Zinnia dengan suara yang cukup keras sambil memegang pundak pemuda itu yang sontak mengagetkannya dan membuatnya menjatuhkan apel serta buku dan penanya.
"Oh Zinnia, kau mengagetkanku." Kata pemuda itu sambil melihat apelnya yang sudah terjatuh di tanah. Ia terlihat sedikit sedih melihat apel yang sudah tidak bisa dimakan itu dan Zinnia mengetahui hal itu.
Zinnia yang melihat reaksi pemuda di sebelahnya itu merasa sedikit bersalah dan langsung memegang pundaknya.
"Maaf, aku tidak sengaja..." Kata Zinnia pelan yang dibalas dengan senyum dan anggukan pelan dari pemuda itu.
'Ngomong-ngomong, tenang saja Vans, lihat aku membawakanmu apa." Sambung Zinnia dengan nada antusiasnya sambil menunjukkan kotak makan berwarna hijau pada pemuda yang ia panggil 'Vans' tersebut yang sontak membuat perhatian pemuda itu tertuju pada kotak makan itu.
"Tadaaa~~." Seru Zinnia dengan senyum lebarnya sambil membuka tutup kotak makan itu.
Sontak Vans merasa sangat terkejut dengan apa yang ia lihat dan tersenyum sambil merasa heran padada Zinnia.
"Kukis madu dan sandwich...tetapi mengapa kau membawa kukis madu kesini? Bukankah makanan ini sulit didapatkan? Maksudku, tidak semua jenis madu dapat dibuat kukis madu, hanya beberapa spesies lebah tertentu.." Tanya Vans dengn penuh rasa heran.
"Ohhh ya, ibu baru saja kembali kemarin dari desa yang jauh, dan ia membeli banyak kukis madu, karena dia tahu aku menyukainya, tapi tentu saja Vans aku tidak dapat menghabiskan semuanya, terlebih ayah dan kakak tidak terlalu suka. Ibu membeli terlalu banyak." Kata Zinnia menjelaskan.
Vans hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau begitu, boleh aku mencicipinya?." Tanya Vans sambil mengambil salah satu kukis madu itu dan menunjukkannya pada Zinnia.
"Sudah kubilang, aku membawa ini untuk bisa kita makan bersama...hei anak domba, Sejak kapan gembalamu mempunyai anak domba didalamnya?!." Teriak Zinnia ketika pandangannya teralihkan pada 2 anak domba diantara kerumunan domba dewasa.
"Uhh..ya..itu..." Jawab Vans dengan nada yang lirih.
"Mereka sangat lucu!" Teriak Zinnia yang memotong perkataan Vans.
"Aku akan bermain dengan mereka, makan saja kukis dan sandwichnya." Sambung Zinnia seraya ia belari dengan riang menuju kawanan domba yang ada di depannya.
Vans hanya tertawa kecil ketika melihat kelakuan sahabatnya itu. Lalu ia menaruh kotak makan berisi kukis dan sandwich itu di sampingnya dan dia duduk di bawah pohon apel yang rindang.
Zinnia terlihat sangat antusias ketika dia bermain dengan kawanan domba. Beberapa domba terlihat berlari menjauh ketika dia mendatangi mereka, termasuk 2 anak domba itu. Dia berusaha mengejar mereka, tetapi mereka terus menjauh dan terlihat terancam dengan kehadiran Zinnia.
"Ayolah, kemari, aku bukan orang ja-ja-jahat, aku h-h-hanya...ingin...b-b-bermain dengan kalian." Ucap Zinnia dengan nafas yang terngah-engah karena lelah mengejar domba-domba itu.
Sementara itu, Vans yang duduk di bawah pohon menutup buku yang dibacanya. Dia telah selesai membaca seengah halaman bukunya dan memutuskan untuk menghampiri Zinnia yang tengah bermain. Vans melihat bahwa Zinnia tampak terngah-engah.
"Kau tampak lelah sekali, ada apa?." Tanya Vans dengan nada yang penasaran.
"Domba gembalamu, mereka terus lari dariku, aku lelah mengejar mereka." Jawab Zinnia dengan nada sedikit kesal.
Vans tertawa sedikit pada jawaban wanita di sebelahnya itu. Setelah itu, ia membuat bahasa isyarat melalui tangannya yang membuat domba-domba gembalanya berjalan menuju ke arahnya.
"Kau tidak adil, pasti kau berbuat curang..." Jawab Zinnia sedikit kesal ketika ia melihat Vans yang begitu mudahnya membuat domba-domba gembala itu menuju ke arahnya.
Vans hanya tertawa kecil melihat kelakuan Zinnia sambil dia mengelus kepala 2 domba kecil yang ada di kawanannnya.
"Aku penasaran, apakah kau memberi nama 2 domba kecil itu Vans?." Tanya Zinnia yang ikut jongkok disebelah Vans untuk mengelus kepala kedua domba kecil itu.
Vans mengangguk tanda mengiyakan sambil berkata "Yang agak gemuk itu betina, dia bernama Molly, sedangkan yang lebih kurus, tetapi lebih aktif itu, dia Rolly." Jelas Vans pada Zinnia sambil menunjuk kedua domba yang dimaksudnya dengan jari telunjuknya.
Zinnia hanya menatap kedua domba itu dengan mata berbinar-binar, lalu dia memeluk kedua domba itu dan menggosok gosokkan pipinya pada tubuh kedua domba manis itu. Vans yang melihat hal itu hanya bisa tertawa kecil sambil memakan kukis madu yang Zinnia bawakan untuknya.
Tak terasa, hari sudah semakin sore. Matahari masih bersinar terang, tetapi cahayanya tidak semenyengat beberapa jam yang lalu. Banyak anak-anak yang terlihat bermain di padang rumput itu, beberapa dari mereka menangkap serangga seperti kupu-kupu, ngengat, dan belalang. Beberapa lainnya, mereka bermain permainan tradisional bersama-sama.
Zinnia yang saat itu sudah puas bermain dengan domba-domba gembala Vans memutuskan untuk beristirahat dan duduk di sebelah Vans yang sedang membaca buku dibawah pohon apel sambil memakan kukis madu dan sandwich yang jumlahnya hanya tinggal sedikit.
"Novel apalagi yang kau baca? Kau terlihat serius." Tanya Zinnia pada remaja laki-laki disampingna dan memecah keheningan di sekitar .mereka.
"Uhh-huh...novel tragedi." Jawab Vans singkat pada Zinnia tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang dia sudah baca.
Tiba-tiba mata Zinnia berkaca-kaca. Dia terlihat tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang novel yang dibaca oleh Vans. "Aku suka novel tragedi. Bagaimana inti ceritanya?." Tanya Zinnia dengan nada yang penuh antusias.
"Seseorang yang harus kehilangan segalanya karena ia menjual jiwanya pada iblis." Jawab Vans singkat dengan raut muka datar karena ia sedang berkonsentrasi membaca novelnya.
Zinnia yang mendengar hal itu langsung mendeka pada Vans dan membaca beberapa kaa yang ada di novelnya. "Bolehkah aku meminjamna setelah kau selesai membacanya?." Zinnia bertana dengan nada penuh kegirangan yang dibalas dengan anggukan pelan dari Vans.
Setelah itu, tiba-tiba Zinnia ingat jika alarm yang ada di kamarnya rusak dan dia harus pergi ke desa Sreden unuk membeli alarm baru."Oh iya Vans, aku lupa, seelah kau mengembalikan gembalamu bisahkah kau mengantarkanku untuk membeli sebuah alarm? Tadi pagi ketika aku bangun tidur, aku tidak mendengar suara alarm dan ternyata alarm dikamarku rusak." Ucap Zinnia sambil memakan kukis madu terakhir yang dia bawa untuk Vans.
Vans yang saat itu sedang membalik halaman bukunya terdiam sejenak dan langsung mengambil pemisah halaman buku yang ia taruh di akhir halaman buku. Lalu, ia meletakkan pemisah halaman buku itu di halaman terakhir yang dibacanya dan menutup bukunya. "Tentu, kalau begitu aku akan memulangkan gembalaku sekarang." Ucap Vans dengan nadanya yang lirih seperti biasanya. Zinnia langsung tersenyum dan dia langsung membantu Vans untuk mengembalikan gembalanya.
Sebelum mereka pergi ke desa Sreden, mereka berdua harus mengembalikan domba yang digembala oleh Vans kepada majikannya, atau orang yang memilki domba-domba itu di desa mereka, yaitu desa Bleckingham.
Di perjalanan, Zinnia dan Vans terlihat asyik mengobrol tentang berbagai hal dengan Zinni yang mendominasi sebagai orang yang bercerita dan Vans mendominasi sebagai orang yang mendengarkan.
Banyak sekali hal yang mereka bicarakan sampai-sampai tidak terasa jika mereka sudah sampai ke pintu masuk desa Bleckingham. Vans lalu menyuruh Zinnia untuk menunggu di gerbang timur desa karena ia harus mengembalikan domba-dombanya. Zinnia mengangguk dan berjalan sambil menyanyikan beberapa lagu favoritnya menuju gerbang timur desa sedangkan Vans mengembalikan domba-domba gembalanya pada tetangga sebelah rumahnya. Vans juga meminta maaf karena ia tidak bisa menggembala sampai sore karena ia harus pergi ke desa Sreden untuk membeli sesuatu. Tetangganya memakluminya dan memberikan upah harian padanya seperti biasanya.
Setelah selesai mengambil upah hariannya, Vans menyusul Zinnia ke gerbang timur desanya.
"Baik ayo berangkat, sebelum matahari terbenam aku harus sampai di rumah dan membantu ibu untuk memasak makanan untuk ulang tahun desa besok." Ucap Zinnia.
Lalu, Vans mengangguk dan mulai berjalan menuju desa Sreden bersama Zinnia yang terletak tidak terlalu jauh dari desa Bleckingham.
