Stupid Brother
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, gaje bangettt, plot hole, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Kunikida Doppo (30/08/2021).
Apa yang kira-kira akan seseorang lakukan, apabila dalam sepuluh tahun ke depan ia tak dapat bersama adiknya? Jika itu terjadi kepadaku, sudah pasti aku marah. Mungkin mengutuk Tuhan juga, karena aku tidak bisa melihat-Nya.
Hantaman dari tangannya itu tahu-tahu pula mengagetkan kibor. Tulisan yang semula terpatri rapi di atas kertas digital, sekarang ini hanya tampak sebarang dengan huruf-huruf acak. Karena aku tidak bisa melihat-Nya, aghlncyirkb tanpa makna, yang tak sengaja dimasukkan oleh amarah Kunikida Doppo. Ujung-ujungnya ia hanya mendengkus, sembari mengabaikan perintah save. Langsung mematikan komputer membuang tulisannya yang sebenarnya percuma, ketika Kunikida sendiri tidak menginginkan yang demikian.
"Jam berapa sekarang?" batinnya dengan nada malas. Ternyata sudah pukul sembilan malam yang bagi Kunikida seorang, artinya ia telah membuang tiga jam secara cuma-cuma.
Sekilas ia menghela napas lelah. Perasaannya bahkan bertanya-tanya, mengenai apa yang seharusnya ia rasakan? Ketika panik bukanlah jawaban. Ketikannya itu tidak berhubungan dengan tugas sekolah mana pun, soalnya, dan jika Kunikida wajib menjabarkannya agar ia sendiri mengerti ... katakanlah Kunikida ingin menulis untuk seseorang. Seseorang yang sayangnya mendadak samar-samar, mungkin sejak minggu lalu.
Minggu lalu sebelum tanggal tiga puluh Agustus, sesuatu yang terjadi memang memberatkannya. Masih memengaruhinya sampai sekarang walaupun untuk tak mengenangnya, itu tetaplah pilihan. Kenapa pula Kunikida harus melakukannya karena saat ini, bahkan ada yang lebih penting lagi. Ia pun meninggalkan kamar guna menghampiri ruang tamu yang masih saja, diisi oleh suara televisi.
"Katai. Sekarang sudah pukul sembilan malam. Waktunya bocah buat tidur. Televisinya enggak akan ke mana-mana juga, atau malahan kabur gegara kau menontoninya terlalu lama."
Inilah hal penting itu, di mana Kunikida harus membujuk adiknya untuk tidur. Kunikida Katai yang tengah rebahan di sofa, memeluk sebungkus keripik kentang yang segelnya masih utuh, sedangkan matanya terfokus pada anime. Remot yang mengganggur di atas meja langsung Kunikida ambil. Televisi pun dimatikan yang spontan saja, mengundang perhatian dari Katai yang cemberut bukan main.
"Kok dimatikan, sih?! Padahal lagi seru-serunya."
"Sudah pukul sembilan, Katai. Waktunya tidur apalagi besok kau harus sekolah." Mata Kunikida memicing tajam. Biar tahu rasa adiknya yang kurang ajar ini, sebab ia baru tak mengabaikan Kunikida dengan tertawa-tawa kala televisinya dimatikan.
"Berikan remotnya padaku. Berikan!" Tangan Katai terulur ke sana kemari berusaha merebut. Ia sampai berdiri di atas sofa, tatkala Kunikida mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas. Namun, Kunikida berhasil menyembunyikannya yang ketika Katai beranjak dari sofa, Kunikida tinggal mengulangi memanfaatkan perbedaan tinggi badan.
"Enak aja. Jadilah tinggi dan rebut sendiri. Karena kau masih pendek, tidur sana. Seenggaknya di mimpi kau jadi tinggi."
Bersama wajah manyun seperti bebek, untuk terakhir kalinya Katai balas dendam dengan menendang tulang kering Kunikida. Tidak terlalu keras, tetapi bukan berarti pelan, menyebabkan Kunikida mengaduh kesakitan. Sebelum benar-benar memasuki kamar, Katai menyempatkan diri mencibir sang kakak. Kunikida yang ogah mengalah turut melakukan hal sejenis, ditambah gestur mengacungkan jempol ke bawah.
"Doppo-nii jelek! Kudoakan kau mimpi buruk."
"Mimpi buruk kayak gimana, tuh? Suruh operasi plastik aja padahal biar cantik."
"Hmm ... hmm ... Doppo-nii ... Doppo-nii jadi belut. Terus dimakan olehku. Terus jadi tai. Reinkarnasi lagi jadi belut, kumakan, terus jadi tai! Pokoknya gitu."
"Tai, mah, kamu. Ngapain aku reinkarnasi jadi–"
Pintu kamar dibanting keras-keras. Kunikida sendiri langsung memposisikan diri se-nyaman mungkin di atas sofa, tanpa memedulikan kelakuan Katai yang marah-marah, menyalakan televisi ataupun bermain gawai. Ia pun menatap sinar lampu tanpa tujuan pasti. Kantuknya belum nyata. Palingan jam segini kotak chat sedang sepi, sehingga tiba-tiba Kunikida teringat lagi pada apa yang barusan dicurahkannya.
Tadi Kunikida bertanya, apa yang kira-kira akan seseorang lakukan, apabila dalam sepuluh tahun ke depan ia tak bersama adiknya, bukan? Jika hal itu terjadi kepada Kunikida, sudah pasti ia sangat marah. Mungkin Tuhan dicercanya karena Kunikida tidak bisa melihat Ia, tetapi seandainya Kunikida mampu bagaimanakah jadinya?
"Diusir adik sendiri begini amat, ya. Jadi melankolis buat hal-hal kagak jelas."
Seumpama manusia sepayah dirinya dapat melihat Tuhan, pasti artinya ia sudah mati (dan itu seperti masa depan yang mengirimkan firasat, makanya Kunikida kembali kepikiran). Lagi pula tadi telah Kunikida bilang, ia enggan menuliskan sesuatu yang demikian, karena menyerupai wasiat. Kunikida saja masih empat belas, dan sepuluh tahun ke depan ia 24. Jalan hidupnya tetap lebih panjang dibandingkan Sungai Sanzu.
Yang ingin Kunikida tulis, sesungguhnya adalah sebuah cerita. Gubahan Kunikida Doppo itu sendiri yang rencananya, akan Kunikida hadiahkan untuk Katai pada tiga puluh Agustus nanti. Sewaktu Kunikida berulang tahun yang ia harap, hubungannya dan Katai membaik.
Walaupun umur musim panas semakin mendekati akhir, tentu bukan berarti udaranya serta-merta sejuk. Ramalan cuaca saja masih memberitakan, bahwa suhu tetap mencapai 37 derajat celsius yang apabila Kunikida memakai masker, makanya Tokuda Shuusei serta Shimazaki Touson bisa tambah kegerahan.
Gilanya lagi, Kunikida menggunakan dobel. Dengar-dengar ia batuk garing ditambah berdahak. Lumayan parah. Shuusei khawatir sedangkan Touson merasa aneh, karena secara bangsat seharusnya Kunikida berniat menularkan penyakitnya. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua belas, ketika Kunikida sekadar bisa menontoni roti yakisoba favoritnya. Begitu pun Shuusei serta Touson yang kebingungan, menilik Kunikida sulit sekali disuruh ke UKS.
"Apa akhir-akhir ini kau makan gorengan terus? Atau mungkin es krim? Jika ogah ke UKS setidaknya pergilah ke dokter." Nasihat khas ibu-ibu Shuusei keluarkan. Punggung Kunikida turut dielus-elusnya agar Kunikida berhenti batuk sebentar saja. Ia takut Kunikida mengeluarkan darah gara-gara jalur pernapasannya terluka.
"Seingatku Kunikida sudah batuk sejak minggu lalu. Apa mungkin aku salah?"
"Benar juga. Artinya kau harus ke dokter. Ini sudah mau dua minggu, dan batukmu tidak berhenti-henti, lho."
"Duh! Aneh banget. Padahal di rumah aku bisa menahannya. Pas sama kalian malah batuk-batuk melulu. Apa jangan-jangan kau dan Touson adalah virus?"
"Menurutku di rumah kau tidak batuk-batuk, karena di situ ada Katai. Ini menyerupai seorang ibu yang meskipun sedang sakit, ia tetap bisa mengurus pekerjaan rumah tangga, dan bermain dengan anaknya, ya? Menarik sekali. Coba kauceritakan lebih lanjut mengenai kekuatan misterius tersebut."
Seperangkat alat tulis berupa notes dan bolpoin, malah Touson persiapkan untuk mewawancarai Kunikida. Mereka pun bermain-main selagi Shuusei pergi ke UKS, dan meminta obat kepada Mori-sensei yang turut mencemaskan Kunikida. Remaja pink itu pernah ke sini beberapa hari lalu, tetapi sepertinya ia kecewa. Habisnya Kunikida tiba-tiba kabur sewaktu Mori-sensei memegangi kelopak lily putih.
"Bilanglah padanya aku tidak menaruh bunga apa pun lagi. Sama, tolong berikan resep obat tradisional ini kepada Kunikida."
Itu adalah campuran madu dengan perasan lemon. Seharusnya efektif yang ketika Shuusei memberitahu resepnya, juga mengenai bunga yang tidak akan meninggali vas lagi–Kunikida bilang ia alergi–Kunikida malah mengabaikan Shuusei saking asyiknya dia menulis. Touson membantu menjelaskan bahwa Kunikida baru memperoleh ide cerita yang keren, sehabis wawancara kurang dari lima menit.
"Benar-benar kau ajak wawancara?"
"Hanya menanyakan, apakah roti yakisobanya boleh untukku? Itu termasuk wawancara bukan?" Shuusei memutar bola matanya malas. Kenapa pula ia bertanya padahal sudah tahu, Touson sekadar bercanda daripada suasana terlalu alot?
"Enggak, dong. Omong-omong ceritanya buat apa? Dikirim ke koran?"
"Ulang tahunku, lah! Mau kuhadiahkan ke Katai, supaya hubungan kami empat sehat lima sempurna." Adik Kunikida itu selalu menyukai cerita-cerita buatan Kunikida. Sejenak Shuusei masih mengangguk-angguk paham sampai akhirnya, ekspresi Shuusei jungkir balik 180 derajat.
"... Hah? Kalian belum baikan dari minggu lalu?!"
"Belum. Setiap mau minta maaf, aku malah kepingin batuk. Diundur terus yang kayaknya, mungkin ini pertanda aku reinkarnasi sebagai undur-undur."
"... Katai tidak meminta maaf padamu?"
"Boro-boro. Pasti kali ini Katai sangat marah kepadaku. Lagi pula kejadian minggu lalu itu memang salahku. Buat apa juga Katai minta maaf?"
Mendengarkan penjelasan itu sebagai fakta, mendadak Shuusei ikut-ikutan letih. Padahal biasanya kakak-beradik tersebut cepat akur, sesering apa pun keduanya bertengkar atau bagaimanapun kerasnya kepala mereka, dan Shuusei rasa ini bukan hanya kesalahan Kunikida, melainkan pula dirinya begitu pun Touson. Tiba-tiba pula Touson mengajak Shuusei berbisik. Masih seru sendiri sampai Kunikida menginterupsi, dengan menunjukkan selembar kertas.
"Ceritamu belum selesai, karena idemu buntu?" Terjemahan dari Touson memperoleh ancungan jempol. Kunikida menulis lagi di kertas yang lain yang intinya, ia ingin membawa Touson serta Shuusei berkeliling Tokyo. Ayo mencari inspirasi bersama-sama.
"Sayangnya tidak bisa, Kunikida. Aku dan Shuusei punya urusan."
Sayang banget kalo begitu. Nanti kabari aku, ya, jika kepikiran sesuatu.
"Daripada mengkhawatirkan ceritamu selesai atau tidak, aku lebih mencemaskanmu dan masa depanmu, Kunikida. Batukmu bukan lagi penyakit sepele. Bagaimana jika kau meninggal gara-gara itu seperti Kyouka? Entah kenapa kepalaku terus memikirkannya."
Tokuda Kyouka adalah kakak lelaki Shuusei. Kini tubuh Shuusei pasti bergetar, setiap kali musim panas dua tahun lalu mengingatkannya pada keanehan itu–tubuh kakaknya yang dibunuh, lalu dicuri oleh ajisai yang tiba-tiba memenuhi ranjang. Melalui isyarat mata, Touson menyuruh Kunikida keluar kelas. Biar ia yang mengurus Shuusei selagi Kunikida ke kamar mandi untuk melepaskan masker, kemudian membuangyang sedari tadi menahan mulutnya.
"Bunganya banyak banget. Musim panas rasa musim semi ini, mah."
Agar tidak mencurigakan Kunikida membuang bekasnya ke kantong plastik hitam. Ditaruhnya begitu saja di dalam tong sampah yang sebelum pergi, Kunikida lebih dahulu mencuci muka. Pada akhirnya ia memutuskan ke UKS, mengikuti anjuran Shuusei diiringi rasa bersalah sebab merahasiakannya. Mori-sensei tentu menyambut dengan ramah. Langsung mempersilakan Kunikida beristirahat yang jika butuh apa-apa, tinggal memanggil Mori-sensei.
Tentu saja Kunikida berterima kasih. Seseorang sesibuk Mori-sensei, bahkan sampai menyisikan waktunya untuk mengurus surat izin ke UKS, agar Kunikida tidak dianggap bolos. Mau tak mau sejenak ia meninggalkan Kunikida yang sebelumnya, Mori-sensei meminta maaf walaupun tidak perlu.
Kata maaf itu, seharusnya dibawakan oleh Kunikida. Sudah sepatutnya ia meminta maaf kepada Shuusei, sebab Kunikida bermain-main dengan topeng, padahal Touson tahu dan semua penyesalan ini menjadi berkali-kali lipat–Kunikida menyembunyikan, begitu pula Touson atas suruhan Kunikida atau mungkin Shuusei frustrasi, meskipun Shuusei adalah sahabat. Walaupun semestinya kepercayaan mereka bertiga saling menemukan, lalu bersatu.
Belum lagi Kunikida pun harus meminta maaf, karena yang menanggung penyesalan ini adalah dia. Seseorang yang mungkin sebentar lagi meninggal, atau dalam enam detik ke depan ia bisa tiba-tiba berhenti melihat perhatian Shuusei, keisengan Touson, maupun cemberutnya Katai usai dimarahi Kunikida. Ia bukanlah sosok yang akan membawa segala penyesalan, serta kesalahan yang telah diperbuatnya sejauh mungkin menuju suatu hari nanti, agar dapat diperbaikinya di masa depan tertentu sehingga Kunikida semakin memanusiakan diri sendiri.
Lalu mengenai Katai, malaikat kecilnya itu tentu harus mendapatkan maaf paling besar. Kunikida Doppo selalu saja gagal, saat menjadi kakak yang ingin diandalkan oleh Katai. Ketika Kunikida pun mau dipercayai bahwa ia sanggup, tetapi Kunikida pasti mengacaukan awal-akhir setiap kali waktunya serius.
Keberhasilannya palingan hanyalah tentang hal-hal yang memerah malu, seperti nilai nol di ulangan matematika, seekor anjing yang malah merobek celana Kunikida, dan ia sengaja konyol demi menghibur Katai. Namun, tampaknya Katai justru kecewa berat, sebab kakaknya jauh dari definisi kesatria. Apalagi Kunikida itu laki-laki yang sewajarnya gagah perkasa.
Namun, segenap perasaan yang sudah terkumpul itu, pasti selalu sulit sekali untuk membukanya. Maaf pada dadanya akan menggeleng, pergi, menghilang entah ke mana meninggalkan Kunikida dalam kekosongan, setiap kali Katai atau Kunikida berada di hadapan. Antara Kunikida memang pengecut merangkap penakut sejati, dan ia tahu semua maaf ini adalah yang terakhir.
Setelah Kunikida meminta maaf, maka segala-galanya berakhir. Namun, Kunikida belum mau sehingga menahan-nahan penyesalan ini. Padahal tidak akan ada yang baik, selain Kunikida kian pahit sebab ia belum menumpahkan seisi dunianya agar orang-orang mengingatnya, kemudian Kunikida lega ketika semuanya tersampaikan.
"Entar aku mau mengunjungi Katai, deh. Sudah lama aku enggak menjemput dia."
Setidaknya sebelum Kunikida meninggal, daripada sekadar menitipkan permintaan maaf yang masam, lebih baik ia turut memberikan teman semanis kenang-kenangan kepada rasa pahit itu, bukan? Mungkin seperti satu kali saja menjadi kakak yang hebat di mata Katai.
Setiap hari Rabu seperti sekarang, biasanya Katai menjalankan piket. Terkadang ia kebagian menyapu, membuang sampah, atau mengelap jendela ditambah meja-meja, tetapi belum sekali pun merasai menghapus papan tulis. Kunikida pasti membanggakan Katai selepas Katai bercerita, bahwa artinya Katai sangat bisa diandalkan.
Pujian itu pasti Katai balas dengan ejekan, ia berbeda dari Kunikida yang payah. Mukanya pun entah kenapa seolah-olah diatur agar setiap Kunikida mengangumi Katai, ia akan melarikan pandangannya dari senyuman Kunikida. Mungkin bermaksud menyembunyikan pipi semerah tomat yang padahal, upaya tersebut sia-sia. Kunikida selalu mengetahuinya yang kemudian, tangannya pasti mencubit gemas Katai.
Kenangan itu berputar di sepanjang jalan yang Kunikida lalui, sebelum ia tiba di sekolah Katai. Napasnya sudah terengah-engah saja, walaupun ia telah mengistirahatkan dua puluh menit usai berjalan kaki sepuluh menit–hampir sampai yang sayangnya, Kunikida nyaris ambruk duluan. Sewaktu Kunikida bertanya kepada guru yang melewati koridor, ternyata pula Katai telah menyelesaikan piket. Selebihnya ia tak tahu Katai pergi ke mana, meski yang pasti Katai bukan mengambil arah pulang.
"Anak nakal itu ...! Sekarang dia mau keluyuran juga, setelah setiap harinya hanya menonton televisi?"
PR-nya diam-diam menumpuk di meja belajar. Kunikida tahu sebab Kenji-sensei–wali kelas Katai–meminta Kunikida menegur Katai. Orang tua mereka sulit dihubungi, soalnya. Bahkan yang mengambil rapor Katai adalah Kunikida.
"Oi, Katai! Ngapain kau di situ? Ayo pu–"
Teriakan Kunikida terputus, saat didapatinya Katai tengah meringkuk akibat dikeroyok. Bak kerasukan Kunikida pun berlari menghampiri Katai. Anak-anak yang lebih besar darinya itu seketika pula berhenti, walaupun Kunikida bukan melakukannya dengan berteriak penuh keberanian. Ia justru batuk-batuk membuatnya mengutuk diri sendiri–tak terlihat memancarkan aura kakak yang dapat diandalkan, padahal Kunikida menginginkannya.
"Apa yang ... apa yang kalian lakukan ... terhadap Katai?" Lalu batuk lagi. Mereka saling berpandangan yang sejurus kemudian, para bengal itu mana takut menatap remeh Kunikida.
"Ohh ... kau pasti kakaknya si maling kotak pensil, kan? Daripada kau mempermalukan diri sendiri dengan batuk-batuk kayak kakek-kakek, lebih baik kau pulang dan minta nenen."
"Begini-begini aku adalah Senpai kalian, lho, dan sudah kubilang bukan Katai yang–"
Selain sedikit-sedikit batuk, kepala Kunikida juga pusing. Matanya pun berat ditimpali perut yang seolah-olah terombang-ambing, mungkin karena Kunikida insomnia, sekaligus sulit makan ditambah minum. Untuk menjitak mereka saja, Kunikida sering meleset atau tenaganya terlampau lemah. Membuat ia dijadikan mainan yang selain dimainkan, bahkan Kunikida turut bermain dengan kepura-puraannya guna menghibur mereka; agar ia tak ditinggalkan atau Kunikida hilang daya.
"Begitu saja enggak kena. Masker yang kaupakai bahkan norak banget." Polkadot putih dengan latar pink–pria semestinya malu apabila menggunakan yang begitu, sebab tak ada jantan-jantannya sama sekali. Tawa mereka mengejeknya bersamaan, menyebabkan dahi Kunikida mengernyit tidak terima.
"Siapa yang peduli sama masker? Asalkan Katai enggak ketularan, se-norak apa pun warna atau coraknya mana penting."
"Heh. Alesan. Ditendang sekali saja kau pasti roboh."
Dalam sekali serang saja Kunikida bertekuk lutut. Sekilas Katai melihat kakaknya diludahi, diinjak-injak seolah-olah pengesat kaki sesungguhnya itu adalah manusia yang lemah, dan Katai juga kena. Lebih parah lagi sampai ia memuntahkan darah akibat tendangan yang sambung-menyambung.
"Kakakmu lemah banget, Katai. Berhadapan dengan semut pun tidak pantas, apalagi sama kakakku."
Kawanan berandal itu tidak lebih dari kutukan alamiah manusia; dikatakan sebagai makhluk paling sempurna yang serta-merta merasa demikian, sehingga dipikirnya menindas adalah boleh sekaligus pantas. Pokoknya Kunikida berpesan, supaya Katai jangan menjadi anak SMP seperti mereka. Hanya begitu saja yang setelah bersusah payah bangkit, Kunikida mengulurkan tangannya kepada Katai. Senyumannya yang selalu idiot tampak dibasuh lembayung meskipun bagi Katai, ia sama sekali tak menemukan gambaran keindahan.
"Mau beli es krim tidak? Atau mungkin kue? Katakan saja kepadaku."
Kunikida masih menunggu, menunggu, dan menunggu, hanya untuk melihat tangannya ditepis oleh Katai. Bocah kelas empat SD itu bahkan meninggalkan Kunikida di belakang. Berjalan cepat-cepat mengakibatkan Kunikida kepayahan dalam mengekori.
"Cepat-cepat amat, Tai. Laper banget, nih? Pertama-tama mandi dulu tapi. Mau air hangat atau dingin?"
Tindak tanduknya makin bodoh saja. Kenapa pula setelah direndahkan seperti tadi, Kunikida malah–
"Mau cerita kagak, kenapa kau dipukul kayak tadi? Katai tidak membuat gara-gara, kan? Atau jangan-jangan kau bertengkar dengan temanmu? Bahaya, tuh."
Kedua tangannya mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Padahal maksud Katai adalah, kenapa Kunikida tidak memilih diam? Buat apa pula takdir menyeret kakaknya ke taman kota? Walaupun sudah Katai bilang ia ingin melakukan sesuatu yang rahasia.
Katai ingin terlihat dapat mengatasinya seorang diri, karena tanpa Touson serta Shuusei beritahu pun, Katai mengerti kakaknya sakit. Kunikida mungkin sedang di ujung tanduk, makanya sekarang ini Katai mengunci rapat-rapat bibirnya. Peran selaku kakak yang bersikap tolol akan Katai lepaskan dari Kunikida.
"Doppo-nii tidak perlu tahu. Lagi pula kau mustahil bisa melakukan sesuatu soal itu."
Kata-kata berpisau itu menusuk hati Kunikida. Ekspresi manyun agar sebalnya lebih lucu, dan kedongkolan yang ditaruh di kernyit kening supaya tidak terkesan menyeramkan, Kunikida pertontonkan mumpung maskernya copot. Katai sempat melihatnya yang sejurus kemudian, sesampainya di rumah ia buru-buru menaiki tangga menuju kamar.
"Kalau begitu Kakak masak dulu, deh. Katai mau makan apa?"
Tidak ada jawaban yang dititipkan. Pasti sekarang ini Katai lebih marah dibandingkan sebelum-sebelumnya.
"Aku mau hamburger steak, Doppo-nii. Sausnya yang banyak. Oke, deh, Katai. Tunggu kakakmu ini selesai memasak, ya."
Candaan garing itu justru menjelekkan suasana. Sesegera mungkin Kunikida pun turun untuk memasak, menyiapkan berbagai peralatan, dan memasak satu-satunya daging yang ada. Namun, karena ia terus batuk-batuk sambil turut mengeluarkan bunga, Kunikida terpaksa membuangnya daripada Katai tertular.
"Pesan saja, deh. Asalkan enak suasana hati Katai pasti membaik, 'kan?"
Tiga hamburger steak untuk Katai, dirinya sendiri, serta ibu yang berada di lantai atas, Kunikida pesan melalui aplikasi. Palingan memakan waktu sekitar dua puluh menit yang sambil menunggu, ia memutuskan melanjutkan cerita yang tertunda. Secara garis besar, Kunikida ingin mengisahkan tokoh yang bercita-cita sebagai pahlawan. Akan tetapi ia selalu gagal, dicemooh, walaupun dirinya tetap pantang menyerah.
Nanti di epilog, tokoh itu akan berhasil. Ia dapat menyelamatkan seekor kucing yang hampir ditabrak, dan meskipun sepele serta telinganya tiada mendengar ucapan terima kasih, kebanggaan adalah kebanggaan. Namanya tetaplah maju meski hanya satu inci.
Rencananya jua Kunikida akan membubuhkan plot twist. Kucing tersebut sebenarnya adalah adiknya di kehidupan lampau, di mana sesudah melewati ratusan takdir yang keji, baru sekarang ini ia berhasil menyelamatkan saudaranya. Benar-benar baru satu kali membuatnya menangis haru, juga meminta maaf sebab ia lama.
"Entah kau menjadi kucing, bunga, bahkan sekalipun kau bereinkarnasi sebagai musuhku, aku pasti menyelamatkanmu. Sebab kau adalah adikku sejak pertama kali aku diajarkan mengingat," ujar Kunikida sambil menuliskannya. Satu per satu air mata lantas berjatuhan yang berapa kali pun Kunikida mengusapnya, itu tidak berhenti bahkan menderas.
Betapa kalimat itu menggambarkan perasaan Kunikida, adalah satu-satunya penjelasan yang ia ketahui. Kehidupan di mana Kunikida terkena sebuah penyakit aneh, mungkin masihlah yang pertama. Nasibnya pasti akan menyerupai tokoh yang Kunikida ciptakan ini, dan wajib demikian, karena Kunikida membayangkan dirinya sendiri selama berkarya.
Salah satu dari mereka sempat meneriaki Kunikida sebagai kakak dari pencuri kotak pensil, bukan? Perkara itulah yang menghias mereka di minggu lalu dengan kekacauan. Katai dituduh sebagai maling oleh salah satu murid, usai seorang anak perempuan melapor kepada bu guru.
Demi membuktikan ketidakbersalahan Katai, jadilah Touson dan Shuusei ikut campur. Mereka diberikan waktu seharian untuk mencari, siapakah pelaku sesungguhnya? Tetapi menuai kegagalan. Informasi-informasi yang sukses dikorek sekadar bisa menyusunkan, Katai sengaja dijebak gegara ia dekat dengan siswi yang kehilangan kotak pensil–sosoknya terkenal, jelita, diam-diam Katai jatuh cinta, mereka dekat, banyak yang jengkel bercampur cemburu.
Semenjak mereka gagal, pasti Katai dimusuhi. Yang tidak Kunikida sangka-sangka adalah, murid-murid kelas enam sampai ikut-ikutan merundung Katai. Bahkan kenaifan Kunikida lebih parah lagi di mana ia yakin, Katai segera dimaafkan. Anak-anak biasanya cepat bertengkar cepat berbaikan, bukan ...?
"Doppo-nii tidak perlu tahu. Lagi pula kau mustahil bisa melakukan sesuatu soal itu."
Secara tidak langsung Katai mengatainya tak dapat diandalkan, bukan? Di mana sekarang ini kakaknya yang memang payah, jadilah menerima pesanan hamburger steak. Ia antarkan kepada Katai yang masih menolak bersuara, sehingga diletakkannya di depan pintu. Kamar ibunya juga Kunikida ketuk-ketuk yang sekalinya muncul, beliau melotot dan samar-samar, Kunikida bisa mengendus asap rokok. Milik selingkuhan ibu yang wajib Kunikida rahasiakan dari ayah.
"Lihat apa kau, Anak Jahanam?! Tonton aja bokep kalau kau penasaran."
Pipi Kunikida ditampar bulak-balik. Sekantong hamburger steak direbutnya hanya untuk dilempar jauh-jauh, hancur, dan terdampar nelangsa mengotori tembok. Tetapi belum sejengkal pun Kunikida beranjak yang sebagai hukumannya, Kunikida dipaksa memakannya dengan rambut yang dijambak, sedangkan kepalanya dihantamkan ke lantai. Berulang-ulang sampai-sampai wajahnya kotor oleh daging yang tinggal serpihan.
"Jangan ganggu Ibu lagi. Aku sudah menyuapimu, dan sekarang kau puas, kan?"
Menyuapi dengan siksaan, maksudnya. Kunikida sekadar membuang muka disusul menggidikkan bahu, agar ibunya segera berselingkuh lagi. Toh, kebetulan sekali ia mau mengangkat telepon dengan hati lega. Setidaknya bukan Katai yang terluka dan yang menghubungi Kunikida, adalah Shimazaki Touson. Rentenir tempat ibu berutang untuk membelikan sepatu bagi selingkuhannya, sebaiknya memang jauh-jauh saja.
"Halo, Touson. Omong-omong aku lagi makan hamburger steak, tetapi asin banget. Ternyata udah ganti nama jadi hamburger salty, pas kucek KTP-nya."
"Ha ... ha ... ha ..." Nun jauh di sana Touson berpura-pura mengapresiasi Kunikida, tetapi sebenarnya mengejek. Sudah garing macam kerupuk, waktunya salah total pula.
"Ketawanya niat sedikit, dong. Kepalaku sakit pula gara-gara menabrak tembok."
"Hamburgernya asin karena garam atau air matamu, nih?" Bisa-bisanya malah kena sindir. Pelipis Kunikida yang mengalirkan sedikit darah, akhirnya ia seka lebih dahulu. Pandangannya lumayan terganggu walaupun Kunikida tahu, kepalanya selalu cenderung pusing akibat bunga itu–sweet pea yang semakin merah dibalut darah.
"Jadi mau membicarakan apa? Tumben banget sampai telepon."
"Ingat, kan, kau batuk-batuk memuntahkan bunga sejak minggu lalu? Aku sudah memperoleh informasi soal itu, termasuk cara menyembuhkannya."
"Beneran?! Serius? Demi apa? Cepet kasih tau. Nanti sebagai hadiahnya, kau boleh menempati posisi ketua klub koran selama lima menit, deh."
"Sayang sekali harus ditunda. Pulsa internetku sudah mau habis, dan sebaiknya kau mempersiapkan dirimu buat kemungkinan terburuk. Omong-omong aku tidak bercanda."
Sambungan dimatikan oleh pihak Touson. Gawai yang semula menongkrong di telinganya, kini turun dengan lambat. Pikiran Kunikida makin tersendat-sendat, ketika ia tak dapat menerka-nerka rupa kebenaran. Terlebih dari nada bicara Touson yang biarpun terkesan datar-datar saja, Kunikida tahu ini melampaui tebakan klise seperti, kemungkinan untuk sembuh sangatlah kecil.
"Aku ... tidak akan melupakanmu, 'kan, Katai?"
Lampu terasa menusuk-nusuk matanya. Jika benar semua ini adalah yang terakhir, berarti tanpa perlu menunggu sepuluh tahun ke depan pun, Kunikida seharusnya telah mengutuk Tuhan sejak minggu lalu. Insiden yang ditimpakan kepadanya itu pada akhirnya melebihi batas kemampuan Kunikida, dan Kunikida sudah tidak bisa "melihat" Katai tanpa memerlukan hari di mana Kunikida mati.
Atap sekolah menjadi tempat mereka berbincang-bincang secara empat mata. Agar Shuusei tidak ikut-ikutan, lalu bisa jadi ia pingsan dan masuk rumah sakit, Touson melibatkan klub cosplay. Salah seorang kenalannya berada di sana yang mana, Touson meminta Kitamura Toukoku mengajak Shuusei untuk menjahit kostum.
Prospek di mana Shuusei menghampiri mereka, setidaknya bisa dikhawatirkan nanti. Sekarang ini Touson tinggal menyusun kata-kata, sekaligus memperlihatkan data yang sudah dicari-carinya bersama Kunikida sejak minggu lalu. Kemudian terserah Kunikida mau menanggapinya bagaimana, asalkan dia berhenti berpura-pura kuat.
"Penyakit ini bernama hanahaki. Sama seperti yang menyerang Kyouka-san dua tahun lalu. Mayatnya akan menjadi seperti bunga yang pernah dimuntahkannya, sebelum meledak tanpa penyebab pasti. Informasinya kuperoleh dari orang tua Shuusei."
"Mereka enggak memberitahu Shuusei, ya?"
"Itu urusan belakangan. Penyebabnya adalah cinta tak berbalas." Jawaban tersebut membuat Kunikida terbengong-bengong. Hal apa pula yang harus diekspresikannya karena maaf saja, asal-mulanya terdengar konyol.
"Cinta tak berbalas katamu? Kau mau bilang aku ini jatuh cinta, tetapi bertepuk sebelah tangan?"
"Tepat sekali. Apabila perasaanmu diterima, kau sembuh. Jika kau ditolak, dapat dipastikan kau mati. Satu-satunya cara hanyalah operasi."
Kasus kematian Kyouka dibahas lagi sedikit. Dari penyelidikan kilat di sekolah Kyouka sekitar pukul setengah tujuh pagi, sulung Tokuda itu diceritakan menyukai Ozaki Kouyou–seorang guru bahasa Jepang kelas satu dan tiga SMA. Namun, perasaan Kyouka ditolak mentah-mentah, menilik Kyouka adalah murid sedangkan Kouyou berstatus pengajar.
Cinta terlarang itu menyebabkan Kyouka terkena hanahaki, makin memburuk gara-gara Kouyou tolak, Kyouka meninggal sewaktu dilarikan ke meja operasi akibat tenggorokannya dipenuhi bunga. Ajisai biru yang dalam hanakotoba bermakna permintaan maaf.
"Bunganya kenapa, deh? Aku lebih takut sama efek pascaoperasi-nya."
"Kurang tahu, sih, tetapi dengar-dengar bisa meramalkan akhir dari hanahaki. Kalau bunga yang kaumuntahkan maknanya baik, bisa jadi cintamu berbalas." Punya Kunikida adalah sweet pea. Hasil pencarian pasti mengatakan, kembang itu bermakna selamat tinggal. Seolah-olah bagaimanapun serangkaian upaya berlangsung, Kunikida pasti meninggalkan Katai.
"Jelaskan saja soal operasinya."
"Seperti operasi pada biasanya, kok. Namun, setelah hanahaki-nya diangkat darimu, kau akan melupakan seseorang yang kaucintai. Bahkan kau tidak bisa merasakan sayang ataupun peduli terhadapnya."
Firasat buruk Kunikida ternyata tepat sasaran. Sekonyong-konyong Touson memegang erat-erat bahu Kunikida, agar kali ini Kunikida jangan mencoba sikap tololnya.
"Kau masih menyukai Toukoku?"
"Masih, sih. Walau jarang mengobrol, setiap berpapasan dengannya aku masih deg-degan."
"Ungkapkan cintamu pada Toukoku sekarang juga. Siapa tahu kau bisa selamat tanpa perlu melupakan Toukoku." Di luar julukannya sebagai primadona sekolah, Toukoku adalah sahabat mereka. Jarang berkumpul akibat perbedaan kelas, klub, dan kesibukan masing-masing di luar pendidikan, seharusnya tak menyumbangkan jarak yang besar. Pasti Kunikida bisa menyatakannya selancar mungkin.
"Gila! Ya kali aku mengungkapkan cintaku padanya. Kau juga menyukai Toukoku, bukan? Nanti jika Toukoku menerimaku, Touson kena hanahaki. Masalahnya aku ini ganteng banget. Toukoku pasti mau."
"Bagus, dong."
"Dikata aku enggak mau kau kena hanahaki. Mendingan operasi, deh."
Dibandingkan Shuusei dan Kunikida, seorang Touson lebih dekat dengan Toukoku. Mereka sudah berkenalan sejak SD. Toukoku bahkan menginspirasi Touson mempelajari puisi, karena Touson menyadari cara terbaik untuk mengenali Toukoku, adalah dengan memahami sebelum mencintai kata-kata yang Toukoku sukai, dan hanya Touson seorang yang mengetahui itu. Yang lain sebatas pada sikap-sikap manis yang cepat dilupakan cepat menghilang.
Hingga detik ini pun, selalu Touson yang mengantar Toukoku sebab ia khawatir, Toukoku kenapa-kenapa di jalan pulangnya yang panjang. Padahal arah rumah mereka berlawanan yang selama Touson mengotot, ia membutuhkan tiga jam untuk tiba di kediamannya sendiri.
Berbeda dengan Kunikida yang menyukai Toukoku, hanya karena Toukoku adalah lelaki cantik. Meskipun kebaikan Toukoku turut menjadi salah satu alasan, tetap saja kalah apabila diadu dengan Touson yang sejak awal, ia sudah mencurahkan segala-galanya demi kenyamanan Toukoku seorang.
"Toukoku akan sedih jika kau melupakannya."
"Biarin. Makanya kau jelaskan dengan benar, dan hati-hati. Ini adalah keputusanku selaku presiden klub koran walaupun, ya ... biaya operasinya masih dipertanyakan. Tabunganku kayaknya kurang gara-gara udah ke berbagai dokter, tapi zonk semua macam gacha."
"Orang tuamu tidak mungkin peduli, ya?" Ibu yang berselingkuh. Ayah yang sibuk 24 jam. Mereka yang bersama-sama mengabaikan Katai, sampai-sampai Kenji-sensei harus merepotkan Kunikida. Belum lagi Kunikida mesti mengurus sekolahnya sendiri ... ternyata memang Touson sukar membayangkannya.
Beban Kunikida itu ... bukankah sebenarnya terlalu banyak? Tidak wajar untuk ditanggung remaja empat belas tahun, walaupun pasti ada saja yang berkomentar, perjuangan seperti Kunikida ada jutaan di dunia ini. Yang lebih berliku-liku pun menggunung sekali sehingga sudah sewajarnya, Kunikida tak seberapa dikasihani agar rasa kasihan tersebut, bisa diberikan kepada yang sungguh-sungguh membutuhkan.
Namun, tanpa mengindahkan kebobrokan seperti di atas, Touson tetap kukuh bahwa beban Kunikida terlampau berat. Ia, Shuusei, begitu pun Toukoku, tentu ingin menguranginya dengan melakukan apa pun. Apa pun itu kendatipun perbuatan siswa SMP sangatlah terbatas. Ketiganya bukan pula keluarga Kunikida yang kian mempersulit tindakan, sehingga mungkin lagi-lagi semua ini larinya kepada Katai. Kunikida Katai selaku satu-satunya adik Kunikida Doppo.
Katai sudah jelas merupakan keluarga. Kepada Katai seoranglah Kunikida akan memperlihatkan bebannya, dan walaupun Kunikida menyimpannya di balik baik-baik saja ataupun semuanya bakalan beres, harusnya Kunikida sadar. Semestinya ia mengerti setebal apa pun kain yang pergi untuk menyelubungi masalahnya, Katai pasti menemukannya berkat satu hal saja; karena Katai menyayangi Kunikida entah dikatakan ataupun tidak.
Beban Kunikida setidaknya sudah terlihat berkali-kali oleh Katai. Masalahnya adalah Kunikida ini enggan memberikannya kepada Katai, sesedikit apa pun itu. Bahkan dengan tololnya Kunikida turut mengambili keresahan yang menyelimuti Katai.
Dahulu di masa-masa SD, Katai pernah memperoleh nilai nol di ulangan matematika. Sementara Kunikida sebenarnya seratus. Kunikida belajar keras demi menjadi kakak kebanggaan Katai, dan Shuusei merupakan saksinya. Shuusei tentu ikut berbahagia tetapi keesokan harinya, teramat kecewa sebab Kunikida malah berbohong, dia pun memperoleh telur kopong dari guru.
Kebohongan yang jelek itu, Kunikida harapkan dapat menghibur Katai. Bahwa dari situlah Touson menyimpulkan, Kunikida lebih suka terjatuh dengan Katai daripada mengizinkan Katai menanggung. Mengemban kesedihannya sendiri yang memperoleh nilai nol agar sekiranya Katai belajar, lalu ia bisa memikul warna biru sang kakak suatu hari nanti.
Bagaimana Katai mau menanggung beban Kunikida, apabila ia tidak dibiarkan membawa miliknya sendiri, bukan? Makanya sesuatu seperti itu terjadi, di mana Katai justru merunyamkan kendatipun ia tahu, Kunikida kenapa-kenapa. Meskipun yang diinginkannya adalah meraih separuh rasa lelah Kunikida.
Kata-katanya masih sedemikian belia, untuk mengucapkan hal-hal baik kepada masalah, sehingga Katai cenderung memilih amarah. Jadilah Katai ketus terhadap Kunikida walaupun niatnya baik, bukan? Yaitu agar Kunikida berhenti bermain-main dengan kebodohan. Katai yang sebenarnya begitu sebal demi keluhan Kunikida yang lebih bebas.
"Kepalaku luka bukan gara-gara menabrak tembok, sebenarnya. Ibu menghantamnya berulang-ulang ke lantai, padahal aku hanya memberikan hamburger steak buat makan malam."
"Kas klub mungkin bisa membantumu. Aku juga akan memberikan seluruh tabunganku." Dedikasi Touson malah merindingkan Kunikida. Hari yang Kunikida kira akan menghadiahkan sebuah kondisi baik secara gratis pun, tahu-tahu mengkhianati ia. Batuk-batuknya kambuh lagi tanpa peringatan.
"Tuh, kan. Karena kau aneh-aneh, batukku kambuh lagi. Berlebihan amat sampai kau harus menguras tabunganmu sendiri."
"Jadi kau menyerah terhadap Katai?"
"... Apaan? Kok jadi bawa-bawa Katai?"
"Kalau kau menuruti kata-kataku, kesempatan seperti apa pun pasti kauambil, karena artinya kau telah mempersiapkan diri. Kita ini membicarakan Katai. Umurnya masih sembilan tahun sekarang ini, dan jika kau meninggal bagaimana jadinya? Ia pasti menderita yang selain gara-gara lingkungannya, Katai kurang mengetahui bebanmu."
Saat Kunikida menyerah, kemudian meninggal akibat hanahaki, usia Katai belum genap sepuluh. Ia masihlah sembilan yang selama-lamanya mungkin seperti sembilan, karena Katai merasa ia hanya hidup ketika bersama Kunikida. Sementara dengan kehidupan sosial bahkan orang tuanya sendiri, Katai hambar sampai mati.
Apakah Kunikida akan melakukan itu, padahal ia mempunyai kesempatan untuk sembuh?
Apakah diam-diam Kunikida menyetujui dirinya sebagai pengecut? Seorang penakut yang takut berutang budi, menyusahkan orang lain, sehingga memilih mengorbankan dirinya bak mesias? Padahal itu tidak keren sama sekali karena Kunikida manusia. Pasti adakalanya ia merepotkan orang-orang tertentu, bukan?
Atau setidaknya Kunikida pikiranlah yang sesederhana, Katai akan memakan es krimnya dengan siapa? Nantinya pula tiada seorang pun yang mengingatkan Katai untuk mengerjakan PR, menasihatinya yang dibalut candaan agar jangan berlama-lama menontoni televisi, ataupun mengajak Katai melarikan diri.
Bukankah Kunikida ingin membawa Katai pergi sejauh mungkin, agar adiknya dapat menyaksikan dunia ketika pemandangan di mana sekeluarga sarapan bersama, terlalu mustahil terwujud? Banyak sekali yang belum mereka lakukan. Kunikida tak perlu memilih, sebab Touson akan membuat Kunikida melakukan semuanya–sesuatu yang dapat diperbuatnya sebagai sahabat, meskipun untuk hal-hal ini semakin banyak yang harus dikorbankan.
"Masa depanmu juga, Kunikida. Bukankah kita sudah berjanji untuk mendaftar ke SMA Imperial? Mau masuk klub koran bareng-bareng kayak di SMP?"
"Iya, iya, aku ngerti. Aku terima bantuanmu, dan suatu hari nanti pasti kulunasi."
Turun dari atap sekolah, Touson mendadak mencurigai sesuatu. Toukoku pun ditanyai mengenai perasaannya terhadap Kunikida, tetapi ia sekadar tersipu malu bercampur gugup. Kesimpulannya sendiri langsung Touson anggap sangat jelas, lalu ia menulis secarik surat di jam pelajaran kimia. Sepulang sekolah, Touson menyerahkannya kepada Kunikida. Pokoknya Touson tekankan jua Kunikida mesti membacanya usai dioperasi–jangan dilanggar atau Kunikida menggila.
"Anggaplah dengan membuka surat ini sesudah operasi, kau sudah membayar utang budimu kepadaku."
"Oke, oke. Meski aku gak ngerti, aku ikuti permainanmu."
Sayup-sayup Touson menghela napas berat. Mungkin sejak hari ini, ia akan selalu mempertanyakan keputusannya. Mustahil pula Touson tenang karena jika ia benar, Katai-lah yang selama-lamanya bermimpi buruk.
Tanggal 29 Agustus akhirnya disepakati sebagai titik terang, sesudah Kunikida berdiskusi dengan dokter selagi Touson menunggui di luar. Sekarang ini, kalender itu sendiri masih menunjuk angka 28. Hari Jumat yang mana Kunikida memutuskan beristirahat, usai Touson dibantu Shuusei mendesak Kunikida supaya jangan keras kepala.
Kegiatannya selama di rumah, palingan tidak jauh dari memainkan gawai. Itu pun Kunikida berhenti sebentar-sebentar akibat sakit kepala, tetapi memejamkan mata pun ia boro-boro terlelap. Untungnya pula cerita untuk Katai sudah selesai. Kunikida sampai mempermanisnya dengan mengarangnya di sebuah buku tulis, lalu menyelipkan pesan bahwa kapan pun Katai mau, tangannya boleh mengopernya lagi kepada Kunikida. Akan Kunikida kisahkan cerita baru.
"Tau begitu buat apa juga aku galau-galauan? Udah panik banget, ternyata bisa sembuh total."
Kasus hanahaki belumlah menjamur, seperti flu atau batuk. Beritanya saja sedikit sekali yang beberapa waktu lalu, makanya Kunikida pusing bukan kepalang. Entahlah bagaimana cara Touson menemukan informasi, ataupun mencukupi biaya operasi buat Kunikida. Namun, setidaknya Kunikida sempat berpesan, Touson jangan mengutang ke lintah darat. Bunganya gila-gilaan, dan kegigihan mereka terlalu luar biasa–sanggup mengejar ujung dunia.
"Tapi tetap aja, ya, meski Touson sudah membantuku, dan besok dioperasi, firasatku enggak enak ..."
Pertanda, kah, bahwa para rentenir itu akan menyerang rumahnya lagi? Atau jangan-jangan Tuhan menakdirkan Kunikida mati sekarang juga? Kunikida jadi memasang posisi duduk untuk memikirkannya lamat-lamat. Penjelasannya masih patah-patah hingga akhirnya, Kunikida sebatas berfokus pada kemarin sore. Mengerucutkannya lagi ke sosok Shimazaki Touson yang jika Kunikida benar, sepulang sekolah Touson sempat menyerahkan sebuah pesan.
Pesan itu tidak boleh dibuka, masalahnya, dan Touson sudah bilang Kunikida harus membacanya selepas operasi–salah satu cara membalas budi kepada Touson yang masa iya, Kunikida melanggarnya dengan mudah?
Namun, di satu sisi Kunikida mati penasaran. Kira-kira apa alasan Touson sampai merahasiakannya segala? Karena jika kurang penting mustahil Touson sembunyi-sembunyi.
"Dia suka iseng, sih. Berani taruhan, deh, yang Touson berikan cuma kertas kosong, atau ucapan selamat karena udah kena prank."
Buktinya menggunung bahkan. Shuusei pasti mau bersaksi selama mungkin, terutama mengenai Touson yang mengirimkan video jumpscare. Berbekal keraguan yang agak sengaja diciptakan itu, Kunikida memutuskan memasuki kamarnya dan Katai. Membuka lagi laci kedua yang merupakan jatah Kunikida, di mana isinya hanyalah secarik kertas ditemani sarang laba-laba.
"Ada isinya, ya, ternyata ... jadi deg-degan."
Isinya cukup panjang sekaligus padat. Membaca sambil batuk-batuk sebenarnya pula tidaklah enak, tetapi mau bagaimana lagi yang tiba-tiba, Kunikida bukan hanya batuk. Bunga yang seharusnya termuntahkan kini tersangkut di kerongkongan, menyebabkan Kunikida terjatuh sambil memegangi leher yang sesak.
Awal-awal memang, Touson sekadar menuliskan kalimat-kalimat rancu. Sesuka hatinya tanpa tujuan yang jelas. Lumayan menyebar membuat Kunikida malas membaca, tetapi ia melompat-lompat. Mengabaikan paragraf yang bejibun yang ketika ia berhasil menemukannya, mungkin Kunikida dibimbing dewi fortuna. Mungkin Kunikida memang harus tahu, sehingga Tuhan mengutus firasat buruk.
"Touson ... bangsat ... tapi aku juga ... gak berhak ... marah-marah .."
Kertas yang berbaring di sampingnya Kunikida raih. Ia robek-robek sekecil mungkin sebelum dengan susah payah, Kunikida beranjak bangkit. Selembar notes kemudian diambilnya yang diisi secara singkat, untuk menggantikan pesan dari Touson. Seperti kemarin sore, ia memasukkannya lagi ke laci barulah keluar kamar. Kali itu berusaha menghubungi sederet nomor yang sayang sekali, kesadaran Kunikida pingsan duluan.
"Selamat siang, Kunikida-san. Operasinya besok pukul sepuluh pagi, dan tidak ada perubahan jadwal. Jika ada sesuatu tanyakan saja lagi nanti."
Dokter yang sibuk melayani pasien lain itu, lantas menutup telepon. Suasana seketika hening tanpa seorang pun yang mengetahui keadaan Kunikida.
Sekitar pukul lima sore Katai baru pulang dari taman kota. Bajunya tampak kotor oleh tanah bercampur debu, begitu pun wajahnya yang ditambah luka-luka, tetapi anak itu tetap tersenyum lebar. Kantong celananya betul-betul menggembung diisi uang yang melimpah, habisnya, dan semua ini nyata berkat kerja keras Katai.
Sekotak kue dengan kardus putih, bentuk persegi kecil yang dibungkus kertas kado, dan boba cokelat tanpa es gara-gara Katai khilaf, ia bawa pulang ke rumah seriang mungkin. Tentu saja semuanya untuk Kunikida apalagi esok, kakaknya berulang tahun. Katai sungguh-sungguh tak sabar mengadakan pesta sampai-sampai, itu membuatnya menekan bel berulang-ulang. Ternyata pula ibu bisa datang membukakan pintu walaupun rasa-rasanya, ekspresinya sangat tak mengenakkan.
"Cepat masuk! BUAT APA KAU MELAMUN SEPERTI ITU, HAH?!"
"I-ibu juga apa-apaan? Kok tiba-tiba berteriak, sih? Serem tau."
"POKOKNYA CEPAT MASUK. IBU MAU MENGADILIMU DAN KAKAKMU SEKARANG INI."
Pergelangan tangan Katai ditarik kencang-kencang. Mulutnya mengadukan sakit sekalipun, ibu mana mau mendengar. Tubuh anaknya saja dengan tega ia hempaskan ke lantai, menyebabkan Katai jatuh terduduk di samping Kunikida yang babak belur.
"Duh, Katai ... tadi kau ke mana? Kenapa teleponku gak diangkat?" Gawai jadul di tasnya Katai ambil. Benar saja terdapat panggilan masuk dari Kunikida sekitar pukul empat sore, di mana saat itu Katai sibuk menyapu taman demi upah.
"I-itu ... Doppo-nii sendiri kenapa babak belur?"
"Awalnya aku tidur-tiduran di lantai buat menyejukkan diri, terus tiba-tiba ibu menamparku bulak-balik. Ibu juga memukulku pakai peralatan dapur." Pukul setengah empat sore sebelum beliau turun dari lantai dua, Kunikida terbangun. Tahu-tahu ia kena siksa yang mumpung ibunya mengambil rotan, Kunikida menghubungi Katai biar Katai jangan pulang, maksudnya.
"Ke-kenapa ...?"
"Kenapa katamu?! Pasti kau dan kakak jahanammu itu bekerja sama, kan, untuk melaporkan kepada ayah bahwa ibu berselingkuh?!'
Napas Katai terhenti sejenak. Perutnya tahu-tahu ditendang sebelum ia dapat membela diri, dan bibirnya kian kelu sewaktu pipinya ditampar. Walaupun kehadiran orang ketiga di kamar ibu adalah rahasia umum, Katai bahkan sejujurnya masa bodoh. Ia lebih suka menonton televisi, lalu selama ini memikirkan hadiah buat kakaknya, sampai-sampai Katai meminta saran kepada Shuusei serta Touson.
"Jawab, Katai. JAWABLAH DAN IBU AKAN MEMUKULMU LEBIH DARI INI, KARENA KAU PASTI MELAKUKANNYA."
"Enggak, Bu ... aku sama Doppo-nii diem doang, kok."
"Sebenernya aku yang kasih tau, dan Katai enggak ada hubungannya sama–"
Lengan kakaknya yang bodoh itu Katai cubit kuat-kuat. Saat hatinya hendak memarahi Kunikida, bahwa Katai tak perlu dilindungi seperti tadi, Kunikida lebih dahulu memeluk Katai. Punggungnya digunakannya untuk menahan pecut dari ibu yang menolak dunia, dan hanya menerima diri sendiri sebagai kebenaran yang satu-satunya. Tiba-tiba pula Katai memekik, ibu ini amat egois. Buat apa bertanya apabila ujung-ujungnya sekadar mengharapkan jawaban, di mana Katai serta Kunikida memang lapor ke ayah?
"Jangan begitu meski kau benar banget Ibu emang egois, Katai."
"Terus aku harus apa? Aku enggak mau hanya menerima perlindungan darimu. Apa Doppo-nii meremehkanku?!"
"Meremehkan bagaimana, deh? Kau ini masih kecil, Katai. Masa iya aku membiarkanmu di–", "Emangnya karena aku masih kecil, jadinya Doppo-nii berhak dipukulin? Mau umurmu lima belas, tujuh belas, atau udah dua puluh sekalipun, tetap aja Ibu atau ayah gak boleh memukul Doppo-nii. Kenapa Doppo-nii harus kesakitan apalagi sekarang, Doppo-nii sedang batuk-batuk?"
Rengkuhan dari Kunikida berusaha Katai lepaskan. Seharusnya ia saja yang dipukuli, karena di sekolah Katai pun sudah diberikan berbagai bogem mentah. Lalu Kunikida membalas justru Katai jangan begitu. Biar Kunikida yang menahannya, sedangkan Katai mengobati luka-lukanya menggunakan P3K. Dengarkan juga Kunikida yang takkan tahu lagi, suara ke berapakah yang akan mengakhiri segalanya.
"Sekarang Doppo-nii mau melantur apa? Cuma batuk-batuk pasti bisa sembuh, kan? Besok ulang tahunmu, lho."
Kuenya bagaimana? Padahal Katai telah membeli lilin, sama pemantik. Shuusei dan Touson juga merekomendasikan hadiah yang bagus, dan Katai sudah membelinya. Kenapa Kunikida tak mau melihatnya yang lebih memilih menyerah, hanya karena bunga-bunga bodoh itu?
Apa yang sebenarnya bunga-bunga itu perbuat terhadap kakaknya, sampai-sampai Kunikida memiliki keputusasaan yang sukar Katai pahami? Kakaknya yang bersikap bodoh demi menghibur Katai saja, tidak dapat Katai mengerti. Untuk apa Kunikida begitu, padahal dari dulu Kunikida Doppo tololnya memang murni. Mengapa dia harus memakai embel-embel berlaku bego?
Belum lagi di luar semua itu, Kunikida pun tidak perlu bisa diandalkan sejak awal.
Kunikida itu sudah luar biasa.
Kunikida sangat hebat.
Kunikida pun tiada perlu menjadi sosok yang pintar, karena bodoh pun Katai suka. Katai mencintainya ketika Kunikida selalu saja ingin menjaga, padahal Kunikida juga perlu dilindungi.
Di mana walaupun terkesan menyeleweng, itulah semua yang ingin Katai ungkapkan kepada Kunikida. Bahwa ia menerima apabila Kunikida senantiasa tolol dengan mengaku-ngaku memperoleh nilai nol, padahal sebenarnya seratus. Katai tidak pernah mempermasalahkan Kunikida yang tak bisa diandalkan, karena sebelumnya Kunikida selalu saja sudah berusaha. Juga Katai percaya suatu hari nanti, kakaknya dapat berhasil melakukan sesuatu bersama dirinya yang sudah bodoh sejak dulu. Tetapi ia belum sanggup.
Katai belum mampu selama ia masih saja marah terhadap Kunikida, yang karena ia bilangnya ia hanya berlaku tolol, Kunikida menjadi tidak bebal seperti biasanya. Berlaku tolol yang membuatnya tahu, kelakuannya ini tolol, jadilah Kunikida ubah biar cerdas; selama ia bodoh tanpa embel-embel perilaku, mana Kunikida sadar dia ini bodoh?
Gara-garanya, ia jadi betul-betul pintar dalam menyembunyikan–meski terlihat sedikit-sedikit– agar Katai tiada khawatir dan begitulah yang Katai rasakan, makanya ia lebih yakin Kunikida besok pasti berulang tahun.
(Padahal jika Kunikida bodoh seperti biasanya, pasti ia akan benar-benar terlihat nelangsa. Katai pun bisa mengambil beban Kunikida tanpa kesusahan. Selama ini Katai tak betul-betul menanggung bebannya sendiri pun, waktu yang dilaluinya bersama Kunikida pasti membimbing Katai, bukan?)
"Karena dalam sepuluh tahun ke depan, Kakak tidak akan bisa melihatmu, tentunya Kakak sedih banget sekaligus marah. Tuhan yang tak dapat kulihat, bakal aku kutuk habis-habisan. Namun, mungkin bagimu itu terdengar seperti omong kosong. Terlebih selama ini Kakak malah lebih suka terlihat bodoh, dibandingkan keren."
"KAPAN KALIAN MAU SELESAI BICARA, HAH?! CEPAT JELASKAN KE IBU, BAHWA KALIANLAH YANG MELAPORKANNYA KE AYAH." Belakang kepala Kunikida dihantam memakai panci. Ia batuk lagi sesakit apa pun tenggorokannya, di mana sekiranya Kunikida tinggal berbangga hati saja, sebab ia sulit sekali mati.
Darah mencemari seragam Katai, dengan bunga yang beterbangan ke sana kemari. Kini selain tersengal-sengal akibat cemas, Katai turut panik mendapati pisau lipat terjatuh dari kantong celana Kunikida. Semua kata Touson ternyata benar. Haruskah pula Katai menyerukannya karena sebenarnya, mana mungkin ia mau mengatakan, "Aku membencimu" kepada Kunikida?
Kemarin sore Touson bilang ke Katai, jika ia mengatakannya Kunikida pasti terselamatkan. Tinggal panggil ambulan supaya sisanya bisa diurus, lalu Kunikida kembali sehat asalkan Katai mau menunggu.
Mereka pun bisa memulainya lagi sebab kakak-adik itu, adalah keabadian yang istimewa. Kekekalan yang tidak dapat dimiliki oleh siapa pun, sehingga pertengkaran yang sering terulang, keinginan untuk saling membuang, sampai terpisah jauh sekalipun, pertalian tersebut pasti tetap utuh. Selama-lamanya terjaga yang ketika tengah sama-sama mengabaikan, status kakak-beradik bukanlah menghilang melainkan selalu menunggu, agar Katai pulang kepada Kunikida begitu pun sebaliknya.
"Jadi, katakan saja walaupun berat. Itu jauh lebih baik daripada kakakmu bunuh diri, kan?"
"Jika semua yang kukatakan hanyalah omong kosong di depanmu, setidaknya aku akan berkata kepada Tuhan agar sepuluh tahun yang tak kuperoleh, bisa diberikan kepadamu. Empat belas tahun yang kujalani juga semoga saja diberikan kepadamu, karena doaku berasal dari sana."
"Nah. Sekarang pergilah ke kamar. Lama-lama Ibu memukulku lagi entar, abis Kakak tepar."
Semua ini tentu saja membingungkan Katai, terutama perintah Kunikida yang dengan seenak dengkulnya, ia menyuruh Katai kembali ke kamar. Perkataan Touson pasti benar. Secepat mungkin Katai harus memutuskan atau selama-lamanya, Katai menyesali yang harus disesali maupun yang tak perlu disesali.
"Tunggu apalagi? Cepat ke kamar dan–", "Aku ... aku benci Doppo-nii ... kau selalu aja mencoba menyembunyikan sesuatu, dan itu membuatku enggak sayang lagi terhadapmu," potong Katai sembari bergetar. Sekilas Kunikida membeliak dengan mulut menganga sebelum akhirnya, ia pingsan sesuai dugaan.
Nomor ambulan Katai hubungi. Kunikida segera dioperasi yang seolah-olah Touson tahu, ia sudah berada di rumah sakit. Tangannya merengkuh Katai yang mana, kata-kata seperti semuanya akan baik-baik saja, tak ketinggalan untuk diucapkan.
Pasti Kunikida seratus persen selamat, walaupun skenario yang Touson takutkan tercapai. Namun, apa yang salah selama Kunikida selamat? Asalkan Kunikida tidak hilang hal apa pun bisa terjadi lagi, bukan?
"Ceritakan apa yang terjadi, Shimazaki. Kuharap kali ini kau berhenti kabur dariku."
Saking takutnya kecolongan, Shuusei sampai mengimpit Touson. Netra obsidian itu menyipit dongkol meminta Touson segera buka mulut.
"Sama seperti yang dokter katakan, Kunikida tidak amnesia. Kunikida terkena hanahaki, dan yang menyebabkannya adalah Katai." Ketenangan Touson menjelaskan dengan apik. Mendengar itu Shuusei menghela napas, sebab sedikit-banyak pemahamannya mulai terbuka.
"Berarti Kunikida meragukan, apakah Katai masih menyayanginya atau tidak, semenjak kita gagal menemukan pencuri kotak pensil?
"Begitulah. Aku pun baru kepikiran, setelah menuruni atap. Jadinya aku menuliskan pesan ke Kunikida yang seharusnya, dia membukanya setelah operasi. Namun, kau juga tahu dia orangnya bagaimana."
"... Tinggal tidak diberitahu, 'kan? Kunikida sampai mau bunuh diri, lho, gara-gara itu." Jika dioperasi Kunikida akan melupakan Katai. Bagi Kunikida yang sepanjang masa menyayangi Katai, dan Katai sebagai satu-satunya yang dapat dianggap keluarga, pasti lebih baik ia mati daripada nanti mempertanyakan, siapakah Katai?
"Wah~ Siapa sangka Shuusei bisa mengatakan hal seperti itu. Aku hanya merasa tidak enak hati, sih, kalau tidak kuberitahu."
"Efeknya ... permanen?"
"Kemungkinan besar, iya. Tetapi asalkan Kunikida dapat bertemu Katai, siapa tahu terjadi keajaiban."
Entahlah. Shuusei belum memiliki ide mengenai apa yang mungkin terjadi, selain Kunikida terus-menerus membantah eksistensi Katai. Tiada menganggapnya sebagai adik, ataupun sesuatu yang ada, ketika Katai tak melebihi seorang anak kecil yang mengganggu dengan panggilan "Doppo-nii". Kunikida yang bahkan tidak merasai apa pun dari suara serak Katai, seolah-olah sewaktu Katai mengeluarkan air mata, Kunikida akan lupa apa itu tangisan. Katai yang menangis pun membuat Kunikida melupakan, apa itu air mata?
Pada sepasang matanya, Katai akan selama-lamanya kosong bagi Kunikida seorang. Apa yang Katai lihat, rasakan, atau perhatikan, tidak lagi Kunikida temukan selain Katai menyerupai makhluk berisi ruang angkasa–bahkan bukan berbentuk manusia yang mana, Katai merasa ngeri dengan segenap perasaan Kunikida kepadanya.
"Ya ampun, Nak, kau juga pulang ke sini? Yakin enggak salah rumah?"
"E-enggak, kok ... ini ... ini memang rumah kita berdua," balas Katai sembari mengusap air mata. Pandangan yang bingung itu lagi-lagi Kunikida layangkan. Katai yang menurutnya sama sekali tidak jelas, baik dari rambut maupun ujung kaki.,
"Sudahlah. Intinya jangan dekat-dekat denganku. Kelakuanmu selalu membuatku bingung, dan rasa-rasanya aku enggak yakin kau ini manusia."
Usai mengatakannya, Kunikida melanglang menuju kamar. Teringat akan pesan yang harus dibacanya, sesudah ia menyobek buatan Touson yang entahlah, sampahnya ke mana sekarang ini. Kunikida membuka laci kedua dengan penuh rasa penasaran. Kertas tanpa amplop ia buka yang lama-kelamaan, matanya melotot mendapati tulisan tangannya sendiri.
JIKA KAU MASIH HIDUP, BUNUH DIRILAH SEKARANG JUGA! JANGAN BERANI-BERANINUA HIDUP KALAU KAU MELUPAKAN KATAI!
"Doppo-nii, karena mulai sekarang kita enggak sekamar, aku seenggaknya mau memberikan ini kepadamu." Sebuah kalung berbentuk jendela Katai perlihatkan. Katai juga menjelaskan Kunikida dapat menyimpan foto, membukanya kapan pun Kunikida mau, asalkan Kunikida bahagia. Lagi-lagi membuat Katai menangis walaupun kali ini, Katai ikut bingung ketika Kunikida diam saja.
"Doppo-nii? Kenapa–?"
Bak kesetanan Kunikida tiba-tiba melewati Katai. Berlari menaiki tangga yang sewaktu Katai menyusul kakaknya, jendela sudah terbuka lebar. Mayat Kunikida berada di bawah sana dengan tangan menggenggam kertas.
"Setelah kupikir-pikir, kenapa pula kau menyuruh Katai mengatakan benci pada Kunikida? Seharusnya Katai mengatakan, 'aku menyayangimu' 'kan? Kunikida bisa langsung sembuh. Bukankah prinsip hanahaki seperti itu?"
Percakapan itu mengalun lirih pada pemakaman Kunikida. Mereka–Touson dan Shuusei–berada di dekat sebuah kolam, sesudah keduanya menaruh doa di dalam lily putih. Turut berbelasungkawa yang disampaikan kepada orang tua Kunikida, terutama Katai yang secara membabi buta tiba-tiba memukul-mukul Touson. Menyumpahinya habis-habisan dengan kebencian, amarah, kutukan-kutukan yang kasar sampai keabadian di neraka untuk Touson, tetapi yang akhirnya benar-benar Katai lakukan hanyalah menangis.
Ia tetaplah bocah sembilan tahun yang hatinya polos. Sumpah serapah seperti itu hanyalah kelemahan pada akhirnya, di mana sebenar-benarnya Katai sekadar membutuhkan pertolongan agar ia dapat melindungi diri sendiri.
"Yakin kau malah menanyakan itu? Tidak langsung mengutukku bersama Katai? Entar menyesal gak karena tetap jadi orang baik? Kesempatan tak datang dua kali, bukan?"
"Menurutmu aku bisa melakukannya?"
"Enggak. Habisnya Shuusei terlalu baik." Jas Touson yang acakadut akibat serangan Katai, sempat-sempatnya Shuusei betulkan. Katanya sebelum Kunikida dikubur, dan menjadi tengkorak seutuhnya, berpakaian rapi merupakan ucapan selamat tinggal yang baik. Bahkan Shuusei turut berdoa, semoga setidaknya Kunikida mau sedikit memaafkan Touson.
"Coba jawab pertanyaanku tadi. Aku tahu kau punya penjelasan, Shimazaki." Perannya sudah begitu besar. Shuusei juga tahu, dan ia yakin pada pengetahuannya yang selalu mengatakan Touson sebagai baik. Pemuda sayu itu mustahil menjerumuskan Kunikida. Suatu hari nanti, mereka pasti menjelaskannya kepada Katai yang dewasa; alasan di balik Touson yang mengotot Kunikida harus operasi.
"Omong-omong, Shuusei punya ingatan mengenai Ozaki-sensei yang datang sebelum Kyouka-san dioperasi?"
"Tidak. Kurasa saat itu aku terlalu terguncang. Ozaki -sensei benar-benar datang?"
"Dia sampai berjanji kepada Kyouka-san, lho. Setelah Kyouka-san lulus mereka bisa berpacaran, tetapi tetap saja Kyouka-san mati. Shuusei tahu kenapa?"
"… Kenapa? Bukankah itu aneh?" Ataukah mereka terlalu meremehkan hanahaki? Secara penyakit tersebut tergolong baru, kejanggalannya meresahkan, sehingga kebanyakan kasus sebisa mungkin ditutup. Penelitiannya pun menjadi kurang maju.
"Sederhananya, Kyouka-san tidak lagi memercayai Ozaki-sensei. Sejak kita gagal membuktikan bukanlah Katai yang mencuri kotak pensil, Kunikida selalu percaya, kan, Katai membenci dia? Jika tiba-tiba Katai berkata sesungguhnya ia menyayangi Kunikida, apa bisa Kunikida langsung mengiyakan? Meyakinkan perasaan Katai terhadap Kunikida pasti terlalu lama, dan mungkin Kunikida pingsan lagi, atau dia mati. Satu-satunya cara hanyalah operasi pada akhirnya."
Operasi di tanggal 29 Agustus sebenarnya terus-menerus Touson bantah. Ia maunya Kunikida diobati detik itu juga. Ia boleh begitu asalkan Touson menghubungi orang tua Kunikida, atau minimal membawakan wali. Ujung-ujungnya mereka melibatkan ayah Kunikida yang tanpa mau mendengarkan kondisi si sulung, uang diberikan cuma-cuma. Tanpa "bantuan" tersebut, bahkan siapa tahu penanganan untuk Kunikida malah ditunda sesuka hati dibandingkan dipercepat, sebenarnya. Duitlah yang pada akhirnya akan tegap di atas kemanusiaan.
"Bisa dibilang aku enggak sabar menunggu 29 Agustus. Makanya kusampaikan kepada Katai, agar ia berkata ia membenci Kunikida, lalu Kunikida dapat memperoleh operasi dadakan. Agak riskan, sih, sebenarnya. Antara Kunikida langsung mati dan pingsan."
"Taruhan dengan nyawa itu tidak baik, Shimazaki. Tetapi aku bisa memahaminya bahwa kau terdesak."
"Ujung-ujungnya pula aku gagal, dan hanya bersikap naif. Yakin, nih, enggak mau menertawakanku?"
"Masa iya setelah semua yang kaulakukan, aku mengejekmu? Karena aku tidak mengetahui apa pun selama kau dan Kunikida berjuang, setidaknya biarkan aku menanggung bebanmu, Shimazaki."
Kepala Touson ia tepuk-tepuk untuk hari itu. Batuk yang mengganggunya sejak ia menanyai Toukoku, tampak mengeluarkan bunga kamelia. Touson sekadar menghela napas yang tepat di hari esok, lagi pula ia akan operasi. Anggap saja ini merupakan karmanya, di mana ia menanggungnya dengan menjadi seperti Kunikida. Agar sekiranya Katai sedikit lega, sebab Touson mau bertanggung jawab.
Cerita ini sudah berakhir sekarang. Entahlah bagaimana nantinya Touson, Katai, serta Shuusei menjalani hidup, tetapi yang pasti mereka akan menjadi dua orang yang selalu mendoakan Katai. Semoga Katai bahagia. Semoga Katai beruntung, bernasib baik, atau apa pun, asalkan nanti ia diizinkan bertemu kakaknya dengan cara yang baik–bukan bunuh diri mengikuti Kunikida.
Tamat.
A/N: aku bikin ini dari tanggal 31. baru selesai pas 2 September karena ada beberapa urusan juga, dan ya puas banget karena akhirny selesai. semoga feel dari family bahkan friendship-nya berasa, karena aku bener2 bikin ini sepenuh hati. bener2 bayangin betapa knkd sayang katai walau ia sering gagal diandalkan, dan katai pun gitu, tetapi katai gak bisa mengungkapkannya.
Sama, special thanks buat nana yang udah saranin buat bikin mereka jadi kakak-adik. Buat ending, aku tau itu gak terlalu memuaskan, karena udah bingung juga dan ya … seenggaknya ini pas lah (menurutku pribadi). Soal hanahaki-nya juga mungkin emang gak terlalu kesorot, karena yh aku mau fokus ke perasaan knkd terhadap katai, perasaan katai terhadap knkd, pandangan toson soal knkd sama katai, dan hanahaki cuma pemanis angst.
Lalu maaf juga, karena gak pake doppo di narasi. Aku bener2 lupa karena kebiasaan. Seenggaknya di sini meski jadi kunikida katai, aku pake katai buat merujuk ke katai, sedangkan knkd itu buat kunikida doppo. Perbedaannya lumayan jelas lah ya.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic lainnya~
