Gaim bukan milik saya. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini

Cast :

Mitsuzane Kureshima

Original Character

There is the most beautiful 7 billion smiles and only yours pours life in me.

Your sweetly laugh.

"Hey Micchy, bagaimana kalau kita merayakan Tahun Baru dengan pergi liburan?"

"Memangnya mau kemana?"

"Hmm... tempat yang bagus dimana kita bisa berduaan dengan nyaman."

Dengan senyum diwajah, gadis dalam gandengan tangan Mitsuzane menularkan senyum yang sama. Meski senyum yang ditampilkan oleh Mitsuzane lebih terkesan samar dan bahkan tak terlihat sama sekali.

Mereka hari ini sedang menonton TV. Seperti kebiasaan rutin menikmati film horror yang menjadi favorite mereka. Bergandengan tangan sembari menonton bukan hal buruk.

Dalam genggaman tangan Mitsuzane, kekasihnya itu terasa sangat kecil namun hangat. Tapi separuh jiwanya telah berhasil dirangkul oleh gadis itu. Mitsuzane merasa lega dan amat sangat bersyukur bahwa gadis itulah yang melakukannya.

Entah sudah berapa lama mereka bergandengan tangan yang jelas senyum dan tawa manis yang membingkai lugu pada wajah itu tak luntur sama sekali. Hanya dengan memperhatikan senyum itu saja, kedua belah pipi Mitsuzane sudah merona hebat akibat dari aksi gadis ini.

Dulu ia berusaha menutupi wajah meronanya ketika malu, tapi si gadis pujaannya berkata bahwa hal itu tak perlu disembunyikan, ia tidak ingin ada yang ditutupi. Kemudian atas dasar itu sang gadis memberi hadiah kecupan lembut namun singkat pada bibir Mitsuzane.

Mitsuzane sendiri masih mengingat ciuman itu, rasanya hangat dan manis juga sedikit basah. Ia menjadi hilang akal ketika ciuman pertamanya berasal dari gadis yang sangat dia cintai. Dalam keadaan ragu dan bimbang juga bermilyar-milyar bintang mengitari kepala serta tubuhnya yang memanas, Mitsuzane menawarkan satu ciuman lagi pada gadis itu dan yang kedua kalinya adalah ciuman yang dalam dan hangat hingga mereka kehabisan napas kala ciuman itu usai.

Mitsuzane masih mengingat bagaimana ia mengusap bibir gadis itu dengan jempolnya, terasa hangat menyentuh permukaan kulit jempolnya. Sebenarnya ia ingin melakukannya sekali lagi, tapi hal itu tak terjadi akibat panggilan telepon yang menginterupsi mereka.

Namun bukan karena ciuman itu Mitsuzane menjadi semakin cinta terhadap kekasihnya tersebut. Bukan. Tapi, betapa bagaimana gadis itu menghargai dirinya, mendengarkan ceritanya, tertawa pada setiap leluconnya dan memaafkan kesalahan Mitsuzane yang sangat banyak itu.

Perempuan dalam gandengannya ini adalah impiannya.

"Hey, kau mendengarkan aku 'kan, Micchy? Liburan ke Kabin bagus 'kan?"

"Memangnya kau tidak akan bosan kalau kita berdua pergi kesana? Aku pikir tempat itu agak sedikit membosankan, kau tahu sendiri 'kan, sebuah Kabin diatas gunung. Bagaimana kalau ada hewan buas?"

"Tidak mungkin mereka membiarkan Kabin tersebut dihuni para Beruang sementara mereka mendapat uang dari customer! Tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Paling tidak jika itu dekat penangkaran Beruang mereka akan memberi Papan Pemberitahuan."

"Tapi tetap saja sepi dan membosankan!"

Si gadis malah tersenyum. "Tidak, asalkan aku bersamamu!"

Oh, lagi-lagi dia menunjukan senyum yang seperti itu lagi! Tentu saja itu membuat Mitsuzane semakin dimabuk cinta. Entah sudah berapa lama ia menahan gejolak itu acap kali kekasihnya mengatakan kalimat-kalimat rayuan. Kalau ditempat umum, ia tak bisa melakukan hal-hal ekstrim. Meski ia sangat berhasrat. Lagipula ia bukan anak kecil lagi.

"Tapi entah kenapa aku merasa kalau kita tidak pergi kemana-mana pun bukan masalah besar bagiku." Gadis itu memalingkan wajahnya pada Mitsuzane, ia mengeryit heran kemudian bertatapan sejenak.

"Kau mungkin benar, Micchy. Tapi, aku berpikir kalau kau butuh refreshing. Aku merasa kau membutuhkan sesuatu yang menenangkan dirimu. Makanya, kau harus setuju dengan diriku!"

Mendengar itu Mitsuzane malah tertawa. "Bukan tentang tempatnya. Itu tentang kau."

Tapi gadis itu malah mengalihkan pembicaraan. "Aku senang kalau Micchy tidak galau seperti dulu. Aku memang baru mengenalmu tiga tahun belakangan ini, tapi perubahan yang terjadi padamu amat berarti. Karena kau berhenti menyalahkan dirimu sendiri, itu artinya kau sudah belajar untuk memaafkan dirimu sendiri, bukan?"

Sebenarnya Mitsuzane tidak mau membahas masa lalu yang menyedihkan itu. Tentang bagaimana ia mengambil nyawa banyak orang hanya karena satu kebodohan atas dirinya yang tidak bisa ia hindari. Mengingat itu semua membuatnya frustasi, ingin mati, bosan hidup dan menghilang.

Tapi sejak Mitsuzane memutuskan untuk melakukan sesi terapi kejiwaan, ia bertemu dengan gadis itu, orang yang kini sedang duduk dihadapannya, orang dengan nama yang aneh ketika mereka berkenalan.

Ketika Mitsuzane memikirkannya, ia masih ingat saat dirinya tertawa cukup lama kala mendengar gadis itu menyebutkan namanya. Nama yang aneh, kata Mitsuzane sembari tertawa. Tapi tentu hal itu dianggap maklum, Mitsuzane memang sedang terguncang.

Gadis itu tidak tersinggung sama sekali. Ia hanya terheran-heran mengapa namanya menjadi cemoohan orang yang baru saja ia kenali? Tapi, meskipun ia mendengar namanya menjadi bahan gunjingan individual. Ia tak pernah mengatakan hal-hal buruk kepada Mitsuzane. Selalu mengatakan hal baik dan manis.

"My Love, kau satu-satunya orang yang saat ini mau menerima seorang Kureshima Mitsuzane. Orang yang sudah hancur seperti diriku tidak perlu diperbaiki, aku selalu berpikir begitu. Tapi, kau itu lain. Kau menolak untuk melakukan itu dan membuatku kembali ke masa dimana aku selalu merasa bahagia."

"Terima kasih atas pujiannya. Aku suka membantu orang lain dan itu membuatku bahagia. Aku senang kau mengatakan itu kepadaku, aku juga senang kalau kau berubah menjadi lebih baik dari kemarin, lusa, dulu. Aku akan terus mendukungmu dan menghiburmu, selama aku masih ada di dunia ini selama kita mengenal satu sama lain."

Mitsuzane memanggil dengan nada mengejek. "Sayangku?"

"Apa? Mendengarmu memanggil Sayangku agak membuatku takut. Haha"

"Yang barusan itu bukankah agak berlebihan untuk dikatakan?"

Gadis itu meraih remot Televisi, kemudian bangkit dan menggantinya dengan film lain, kali ini ia ingin menonton komedi. "Tidak. Aku hanya ingin mengatakan apa yang ingin aku katakan."

"Oh..."

"Hanya itu saja reaksimu? Kupikir kau akan mengatakan hal yang lain, Micchy..."

"Aku rasa itu tidak perlu. Tidak ada yang perlu dikomentari tentang dirimu. Kau baik dalam banyak hal dan aku akan selalu mendampingimu!"

Ada senyum mengolok diwajah. Lebih ke mentertawakan Mitsuzane. "Akan selalu mendampingi? Ok, kalau begitu apa Micchy mau menemaniku bermain Outlast 2?"

"Haa?"

END

A/N : Akhirnya selesai juga! Tadinya aku mau post ini tepat di tanggal 04 Juli 2021 tapi karena kesibukan dan FanFict nya belum rampung jadinya aku gak bisa post pada hari itu. Tapi, gapapa yang penting bisa post.

Oh, ya. Aku bikin FanFict ini untuk menyambut ulang tahun Mahiro Takasugi yang ke 25! Karena dia main jadi Ryugen kan. Ya, aku gak tau apakah ini relevan atau enggak. Haha.

Tapi...

Selamat Ulang Tahun, kesayanganku. Semoga dipertambahan usia ini menjadikan kamu individu yang lebih baik dari tahun kemarin~~~