Attack on Titan belongs to Hajime Isayama, I owned this story you're about to read. Aruani. M-rated for 21 plus please be wise. Unprotected sex.
Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya percakapan-percakapan ringan terjadi setelah makan malam mereka sebelumnya. Rebusan sup racikan Hange terasa hambar di mulut, tetapi cukup memuaskan perut. Mengingat kejadian saat makan malam tadi, terasa menegangkan. Yelena--ketua relawan anti-Marley itu pada akhirnya membuka aib, dosa, dan motivasi gelap yang mereka pendam masing-masing, satu persatu. Sebagai tentara, fisik mereka mungkin sempurna—kecuali kapten Levi yang baru saja kehilangan dua jari dan satu penglihatannya setelah terpojokkan oleh Zeke dan faksi Yeager—tetapi sesungguhnya, manusia itu penuh cacat. Kecacatan internal yang tidak semua orang bisa melihat dan mengidentifikasikannya secara eksplisit. Pada akhirnya, semua yang ada pada malam itu—Mikasa, Armin, Jean, Connie, Hange, Levi, Reiner, Annie, Gabi, Falco, Pieck—dalam wujud titannya, Yelena, Onyankopon, dan Magath, mengetahui kecacatan rekan-rekan seperjuangan mereka. Mereka jauh dari kata sempurna, tapi untuk saat itu, mereka mengemban tugas yang berat. Beban yang mereka pikul sama rata, karena sekarang, tujuan mereka satu; menghentikan Eren. Saat fajar menyingsing, mereka harus bergegas keluar dari hutan gelap tak berpenghuni tersebut, siap untuk menyaksikan bahkan melakukan dosa-dosa baru yang berpotensi mereka perbuat nanti.
Karena tidak ada yang tahu kedalaman potensi manusia dalam berbuat dosa yang sesungguhnya.
"Annie," gadis muda berambut pirang itu terbangun, "giliranmu," iapun terduduk dari posisi tidurnya, mengusap kedua matanya. Gadis yang menepuknya tadi—Mikasa—tampak melepaskan syal merah tipis kusam yang selalu ia lingkarkan di lehernya, menggumalkannya diatas tanah berumput sebelum ia membaringkan tubuhnya di daratan hijau itu. Membalikkan badannya memunggungi api unggun yang berkobar ditengah prajurit-prajut yang terlelap, tak berapa lama gadis keturunan setengah Hizuru itu nyenyak. Yup, terlatih memiliki pola hidup tentara membuat mereka mampu dan terbiasa beristirahat dalam kondisi darurat apapun, dengan kualitas tidur memadai walau akhir-akhir ini, semua kekurangan waktu istirahat. Waktu satu detikpun berharga bagi para pejuang itu untuk merehatkan segenap fisik mereka yang hampir selalu terasa letih.
Annie berjalan menuju dataran dengan kontur agak lebih tinggi sedikit dari tempat mereka beristirahat di dekat api unggun, dimana ia dan regu jaga kedua akan berjaga sampai matahari menjemput. Nampak Jean, Hange, dan Onyankopon sudah bersiap, postur mereka santai namun sigap dan pistol laras panjang mereka masing-masing. Magath berjalan lambat dari jauh, hampir sempoyongan, ke arah mereka. Hange tampak bercanda dan menertawakan rambut Jean yang terlihat berantakan, mengingat Jean selalu memerhatikan dan peduli akan penampilannya walau tentu sebagai prajurit, mereka nyaris tidak mungkin berpenampilan anggun, kecuali di saat-saat tertentu seperti acara formal kemiliteran ataupun perjamuan bersama pihak kerajaan.
"Pieck sudah tertidur?"
"Ya. Jangan khawatir, sensitivitasnya akan hal asing sangat baik," Magath membalas pertanyaan Hange, mengetahui bahwa Pieck sudah melakukan tugas berjaganya dan sekarang tertidur dengan badan Levi yang disenderkan ke wujud titannya. Semalaman, Pieck memang tidak pindah dari tempatnya, ia bertugas menjaga bagian dekat pepohonan rindang di hutan belakang mereka.
"Aku dan Onyankopon akan berjaga di sisi kanan dan kiri. Salah satu dari kalian berjagalah di belakang dekat Pieck,".
"Aku akan berjaga di belakang," Hange menawarkan dirinya. Merekapun bergerak ke tempat masing-masing, meninggalkan Jean dan Annie berdua di tempat mereka semula. Jean memakai mantel jas berwarna rumput laut dengan logo sayap kebebasan ala Pasukan Pengintai, tanpa mengancingnya. Nampaknya, musim panas mulai memasuki lebih cepat di bulan ini, melahirkan malam sunyi yang terasa lebih sejuk, terpaan angin berkekuatan sedang dari langit ditambah desiran dedaunan pepohonan sekitar mereka, menambah suasana sejuk yang semula, perlahan mendingin, hampir seperti hembusan angin sore di musim gugur. Mengarahkan laras panjangnya dengan posisi siap senyamannya, seakan ia sedang membidik sesuatu dari jauh.
"Jadi," panggilnya, "bagaimana tidurmu?"
"Kurang. Kau tahu itu,"
"Ya, tapi punyaku cukup berkualitas,"
"Baguslah," kata Annie, "setidaknya, tubuhku sudah lebih bugar,"
"Baguslah," Jean menurunkan pistolnya, berlindung dibawah dataran yang lebih rendah.
"Apa yang kau lihat disana?"
"Tidak ada," jawab Annie, "tidak ada orang yang bangun sepagi ini," perkiraan mereka, mungkin ini pukul dua lewat di pagi hari.
"Tidak kecuali musuh yang bersiap-siap menerjang kita kapanpun. Tidak ada yang tahu itu," gadis itu menatap Jean, yang sedang menatapnya tajam—bukan seperti tatapannya biasa, walau tatapannya nampak tidak jauh berbeda dari sekarang—tapi, kilatan matanya seakan menyiarkan sorot dengan makna yang berbeda dari biasanya.
"Mata-mata faksi Yeager itu?"
"Siapapun,"
Annie mengembuskan nafasnya, "hal terakhir yang aku harapkan terjadi adalah seseorang tahu keberadaan kita saat ini disini dan menyergap kita,"
"Aku juga berharap yang sama denganmu; tidak hanya sergapan dari luar saja yang tidak kuharapkan terjadi, begitupun dengan sergapan dan pengkhianatan dari dalam, diantara kita semua,"
"Ayolah, Jean," gadis bertubuh kecil itu menurunkan senjatanya, "kau bahkan hampir mematahkan hidung Reiner saat makan malam tadi. Tidakkah itu cukup bagimu?" Jean terdiam, hening seribu bahasa, mengalihkan pandangannya daripada perempuan seangkatannya.
"Maaf. Sungguh, pertanyaanku terdengar bodoh," Annie ikut mengalihkan pandangannya, "tentu saja, bahkan meremukkan tulang wajahkupun tidak akan pernah cukup untuk membalas kematian Marco,"
"Sejujurnya, iya," balas rekannya, "aku sudah melupakan banyak kematian rekan-rekanku di masa lalu. Bukan—maksudnya, aku sudah lupa akan perasaan pilu kesedihannya. Tetapi, mengetahui kalianlah dalang dibalik kematian salah satu sahabat terbaikku di akademi—yang selama ini kutahu adalah karena ia mati terhormat melawan raksasa-raksasa tidak berakal itu—demi menjaga rahasia kalian aman selama bertahun-tahun yang memilukanku," ya. Jean tidak lupa bagaimana suaranya tertahan di tenggorokannya saat Yelena melanjutkan pembicaraan mengenai hal tersebut. Ia tidak percaya dengan Yelena sepenuhnya walau ia sudah bertahun-tahun dibantu dan hidup berdampingan dengannya, tetapi setelah mendengar semua pengakuan dosa rekan-rekannya, ia jadi berpikir berkali-kali bahwa di dunia ini, memang nyata faktanya bahwa tidak ada seorangpun yang bisa ia percaya sepenuhnya, mungkin termasuk rekan-rekannya sendiri. Percaya, tetapi ia tidak bisa lengah seakan semua akan berjalan baik. Dan karena inilah, ia bersumpah tidak akan berekspektasi berlebih.
Tetapi, tidak ada yang bisa ia lakukan lebih jauh lagi, ketimbang memercayai semua orang yang sudah bersama-sama dengannya saat ini; termasuk komplotan yang ternyata membunuh salah satu sahabat karibnya di akademi dulu.
"Aku dan Reiner meminta maaf, sangat meminta maaf. Melihat reaksi pasca Marco dimakan titan, dan bagaimana aku menolak untuk mengikuti perintahnya, sejujurnya, kamipun sangat tidak ingin melakukannya," Jean kembali meliriknya tajam, "tetapi, kami tidak akan berkilah dari kesalahan kami. Kami tetap pendosa, terutama bagi kalian, teman-temannya yang ditinggalkan. Aku tidak sedang berusaha menjustifikasi diriku sendiri untuk memperoleh belas kasihmu. Terserah kau akan memaafkan kami atau tidak, aku tidak akan mengemis untuk itu," Annie menurunkan bidikannya dari balik senapannya, menatap Jean, "aku minta maaf. Dan aku turut berduka,".
Jean mengalihkan pandangannya sekali lagi, mendengus, "aku tahu. Tidak ada pilihan lain,".
"Kau tahu apa? Kau terdengar masih sangat kesal, sebaiknya aku bertukar tempat dengan Komandan Hange agar kau tidak semakin kesal dengan melihat wajahku,".
"Perhatian juga kau," Annie berjalan dari tempatnya, bergegas pergi dari situ.
"Annie! Aku butuh waktu untuk menerima semua informasi ini,"
"Terserah," desis perempuan muda itu pelan, setelah mendengar teriakan Jean dari balik punggungnya. Ia mempercepat langkahnya, menjauh dari lokasinya semula. Ia melewati teman-temannya yang sedang tertidur, menuju ke arah cart titan yang sedang pulas. Beberapa kaki sebelum ia melintasi Pieck, wujud raksasa itu membuka kedua kelopak matanya. Menatap Annie yang dari jarak delapan kaki sebelum ia berpapasan dengannya.
"Bertukar posisi dengan Komandan," sambil memelankan suaranya, membalas tatapan Pieck, pula agar Kapten Levi tidak terbangun. Pieck kembali menutup matanya, melanjutkan tidurnya.
Beberapa kaki di depan matanya, ia melihat terang lentera yang bergerak-gerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia yakin itu pasti Hange. Cukup jauh juga ia berjalan memantau situasi, pikirnya.
———
"Jangan berkeliling lebih jauh. Ini batas maksimal terjauhmu,"
"Siap, Komandan,"
"Hah. Mataku benar-benar sulit bekerja maksimal di tempat gelap seperti ini. Terima kasih, Leonhardt,"
"Saya yang berterima kasih, Komandan,"
Annie berjalan dari satu titik ke titik lainnya. Hutan ini sepertinya benar-benar tidak berpenghuni. Biasanya, Annie menjumpai satu atau beberapa kabin kecil dengan jarak berjauhan di tengah hutan, tetapi sejauh matanya memandang, ia tidak melihat apapun. Atau mungkin karena hutan ini terlalu rimbun dan gelap, ia tidak mampu melihat secara keseluruhan dengan mantap.
Demi penyamaran terbaik, Annie menyembunyikan lenteranya dibalik sebuah ceruk dekat akar dari pohon-pohon pendek berdaunan rimbun sampai tanah. Ia memanjat ke atas sebuah pohon tinggi dan memutuskan untuk berjaga-jaga dari atas, sambil mengistirahatkan kaki dan tulang punggungnya. Ia duduk di sebuah dahan berukuran besar yang kokoh menahan berat badannya, memeluk senapannya erat.
Annie hampir tertidur, setelah bersender hanya satu atau dua menit di dahan pohon yang ia tempati, "sialan," ia mengumpati kebodohannya, menyesuaikan posisinya, siap siaga dengan senapannya yang membidik ke sumber suara yang ia dengar dari kejauhan. Sialan, sekarang mata kepalanya memicing, harus berusaha keras mencari sumber suara tersebut dari atas. Sumber suaranya datang dari arah utara, dan semakin jelas mendekat kemari, ke arahnya. Seketika, seluruh kantuknya hilang, hatinya berdegup cepat. Matanya berusaha mencari, mulai memasang kuda-kuda sambil bersiap menembaki ancaman musuh yang datang dari dalam hutan. Hentakan kaki. Annie menajamkan fungsi pendengarannya, mulai membidik sumber suara yang semakin mendekat. Seseorang. Ia berjalan santai. Dedaunan terlalu rindang untuk ia bebas mengakses penglihatan akan sosok siapa yang berjalan ke arah 'markas sementara' mereka, ditambah bulan tidak menyinari bagian hutan, menambah suasana gulita tanpa lenteranya di atas pohon. Sungguh, ia tidak tahu apakah ia harus mengumpat akan itu atau bersyukur karena ia bisa berkamuflase dengan baik di tempat ia duduk sekarang.
Langkah kaki itu semakin dekat, dibalik celah dedaunan sekitarannya, ia berhasil melihat siapa yang sedang berjalan. Ia mengenakan jubah gelap dan tudung menutupi kepalanya. Orang itu tidak sadar akan keberadaan Annie di atas pohon, sehingga ia tetap meneruskan perjalanannya ke arah teman-temannya yang sedang tertidur. Berhati-hati, kaki kecil tetapi tangguh gadis ini bertumpu pada dahan-dahan dibawahnya, kemudian loncat dari ketinggian tertentu yang sudah ia perkirakan diluar nalarnya kemudian berlari, meringkus orang itu dari belakang. Sebelum orang itu kaget membalikkan wajahnya, Annie sudah membanting sekujur tubuhnya ke tanah, handal menguncinya dengan teknik bela dirinya yang biasa, sembari memeluk senapan panjangnya di depan manusia tersebut, membatasi pergerakan musuh sepenuhnya.
"Berhenti atau kucekik kau hingga kehabisan nafas," ancam gadis pemberani tersebut, dengan setengah suara tepat di sebelah tudung orang tersebut.
"A-A—"
"Siapa kau? Apa niatmu?"
Berusaha melawan, Annie tidak menyerah meringkus orang sepertinya adalah seorang laki-laki dengan tubuh lebih besar daripadanya, "A-Annie? Lepaskan! Ini aku—Armin,"
Annie terdiam, tetapi tidak lengah. Ia menarik tudung pria yang teringkus diatas badannya tersebut. Helaian rambut pirang dengan variasi lebih gelap daripadanya terlihat, "li-lihat?"
"Maaf," Annie melepaskan Armin dengan buru-buru. Ia terduduk di belakang Armin, yang sedang memegangi tubuh dan lehernya yang nyaris rontok oleh gadis yang tubuhnya lebih kecil daripada dirinya sambil mengaduh pelan, kesakitan, "kupikir, kau mata-mata. Bukankah waktu jagamu sudah selesai bersama Mikasa?"
"Aku buang air kecil," Armin meregangkan otot-ototnya, "astaga. Sudah lama sekali rasanya badanku hampir remuk seperti ini,"
"Maaf. Komandan tidak memberitahuku kau izin sebentar ketika kami bertukar posisi," Annie menerangkan.
"Aduh. Tidak apa. Setidaknya tulang rusukku tidak patah," Armin menatapnya, "dimana kau bersembunyi? Aku benar-benar tidak menyadari keberadaanmu dimanapun,".
"Atas pohon. Aku menyembunyikan lenteraku di suatu ceruk,"
Armin mengangguk, ia berdiri, menghadap figur Annie yang pun sudah berdiri duluan di hadapannya, "apakah aku melukaimu?"
"Kurasa tidak," jawab si pria, "mengapa kau bertukar posisi dengan Hange? Ada apa di arah selatan?"
"Hanya Jean yang masih kesal melihat wajahku akibat insiden semalam, kurasa,"
"Oh..." Armin mengangguk pelan, memalingkan penglihatannya daripada gadis itu, "dia pasti sangat terkejut dan merasa terkhianati. Tenanglah, ia akan membaik di pagi hari nanti,".
"Mengapa kau yakin akan hal itu?"
"Lebih dari tujuh tahun kami semua berteman bersama, bagaimana aku tidak kenal seorang Jean Kirschtein?"
"Persahabatan yang indah," jawab lawan bicaranya, bernada datar, "kalian teman yang sungguh setia kawan. Aku hampir lupa kalian sahabat karib dan sudah menghabiskan waktu bersama semenjak di akademi, bahkan sampai saat-saat seperti ini,".
Armin tersenyum, "terima kasih, tapi mungkin ini terjadi karena kami tidak memiliki siapapun lagi selain sesama," si pria berambut pirang melanjutkan, "dan aku penasaran apa maksudmu dengan 'saat-saat seperti ini',".
"Kau tahu," sorotan mata gadis itu menajam ke arah laki-laki itu, "gemuruh. Kiamat," sorot mata tajamnya tidak menyeramkan, tetapi terkesan kelam.
"Kita masih bisa menghentikannya. Percayalah,"
"Dan aku penasaran, apa maksudmu dengan 'bisa menghentikannya' disaat bahkan kita semua tidak punya rencana akan kita apakan bocah Yeager itu agar berhenti,".
Armin memerhatikan caranya memandang. Ia menengadah ke bawah. Semua terasa hampir ribuan kali lebih berat. Nasib mereka benar-benar ditentukan pagi hari ini. Siap tidak siap, kemungkinan mereka akan mati besok sangatlah besar; mati kalah melawan titan pendiri, atau mati berjuang dengan terhormat. Kecil kemungkinan mereka untuk kembali hidup-hidup, mungkin hampir tidak ada. Apapun akhirnya, mereka harus berjuang mati-matian menghentikan Eren. Dan semua akan dimulai dalam kurun waktu beberapa jam saja.
"Tidak ada yang tahu pilihan terbaik yang akan kita lakukan nanti pagi, Annie," jawabnya, lembut, "antara membunuhnya atau membicarakannya—berkomunikasi dengannya, itu semua hanya rancangan yang bisa kita rencanakan saat ini. Selebihnya, mungkin bisa dipertimbangkan melihat bagaimana kondisi yang akan terjadi. Eren adalah teman yang sangat berharga bagiku dan Mikasa, mungkin bagi kami semua. Tapi, tidak berarti kami tidak mempertimbangkan untuk membunuhnya bila memang situasi semakin tidak terkendali," ia tetap melanjutkan, "semua ada di tangan Hange. Sejauh ini, keputusan dialah yang bisa kita percaya. Aku yakin, bersama Magath dan Yelena, mereka mungkin bisa menyatukan keputusan terbaik. Aku percaya pada Hange,".
Annie melirik wajah pria tersebut. Kulit pucat dan rambut emasnya bersinar, seakan pertanda suatu perpaduan yang cocok untuk seorang Armin yang sekarang, jauh berpenampilan lebih dewasa. Badannya terlihat lebih bidang, bahunya nampak lebih lebar, dan proposi tubuhnya sudah lebih tinggi daripada gadis itu, walau ia nampak 'mungil' dibanding seluruh anggota Aliansi. Bila Annie tidak menetap dalam kristalnya selama empat tahun lamanya, ia yakin jarak tinggi tubuh mereka tidak akan beda jauh dari yang ia sadari saat itu karena ia akan mengalami pertumbuhan yang sama. Faktanya, Annie secara tidak langsung ikut menyaksikan remaja yang nampak lemah lembut dan manis ini bertumbuh menjadi sosok pria yang dewasa yang jauh lebih kokoh, tegas, lebih maskulin, dan lebih bijaksana dari sebelum-sebelumnya.
"Kau benar-benar teman yang setia, ya,"
"Hm?"
"Kau tetap mempertimbangkan sahabat kecilmu yang bahkan sudah meninggalkan kalian dan berniat meratakan kalian bersama satu dunia ini," balasnya, "tapi di lain sisi, kau juga setia akan pandangan globalismemu itu. Kau tetap memilih jalan yang kau anggap benar, tanpa peduli kau akan bersama Eren atau tidak. Padahal dia itu, teman sekaligus sahabat pertamamu, kan?"
"Iya," Armin menundukkan wajahnya, tersenyum simpul, "aku yakin ada alasan di balik rencananya. Aku masih percaya ia adalah seseorang yang rasional, hanya saja, mungkin... caranya jauh dari kata benar,".
"Menurutmu, apa rasionalisasinya?"
Lagi-lagi, Armin tersenyum tipis, "aku tidak tahu, Annie. Aku benci rencana dan tindakannya, tapi aku percaya kalau ia punya tujuan yang ia simpan untuk dirinya sendiri, dan aku harap, aku dapat memeroleh alasan dari mulutnya sendiri nanti," ia menatap wajah cerah pucat gadis itu, tersenyum, "ini gila. Tapi, aku sempat berpikiran kalau... mungkin ada alasan baik dibalik rencananya yang keji,"
"Katakan itu depan semua teman-temanmu dan kau akan berakhir babak belur, Ar,"
Armin tertawa kikuk, "aku serius!"
"Ekstrim. Sesetia kawankah itu kau?"
"Tidak juga," Annie ingin memulainya. Ia ingin sekali menanyakan hal itu. Hal yang menyangkut kesetiaan Armin, yang sekaligus dapat memvalidasikan dugaan bahwa memang, Armin adalah sosok yang setia kawan. Tetapi, menatap kedua mata sebiru samuderanya saja, Annie tidak mampu. Tetapi, ia khawatir ia salah paham. Ia tidak ingin mencampuri perasaan pribadinya yang subjektif, dengan salah satu sifat menonjol Armin yang setia kawan tersebut. Setiap kali ia mengingat apa yang pria ini lakukan kepadanya—terutama di empat tahun kehidupannya yang 'mati' di dalam kristal—membuatnya selalu bertanya, apa niat dan motivasinya? Apa rencananya? Apa tujuan spesifiknya mengunjungi dan berbicara kepada Annie setiap harinya selama empat tahun berturut-turut, padahal ia bahkan tidak menanggapinya bagai patung atau benda mati lainnya. Orang-orang sekitar Armin, pasti menganggap ia kehilangan kewarasannya. Bahkan, Hitch yang dekat dengannya saja tidak mengunjunginya setiap hari. Ia ingin sekali tahu, setidaknya untuk menerangkan perasaannya sendiri agar ia tidak salah menilainya.
"Kau mengantuk," kata Armin, "mau gantian berjaga? Aku bisa menggantikan posisimu,"
"Tidak perlu," Annie menolaknya, defensif, "terimakasih. Aku... hanya sedang berpikir,"
"Mengenai?"
Perlahan, Annie menengadahkan wajahnya, mulai menatap pria di hadapannya—belajar menatap matanya. Demi Ymir Fritz, tidak pernah ia merasakan dadanya sakit karena getaran jantungnya sendiri. Tidak pernah rasanya ia seragu ini menatap mata seseorang, dan tidak pernah rasanya kakinya selemas ini menopang tubuh mungilnya sendiri. Bahkan perutnya, rasanya seperti isi jeroan perutnya berjatuhan—menggelitik—dan walau dadanya sedikit sesak, setitikpun ia sama sekali tidak merasakan adanya perasaan memilukan dan menyakitkan hatinya.
Sebaliknya, ia bersyukur sudah menabrak, mengunci, dan nyaris mencekik orang ini dari belakang.
"Menurutmu... apakah aku dapat berjumpa lagi dengan ayahku?"
