Solar diam, memandang nanar pada satu sosok yang dengan sok gagahnya berdiri di atas tumpukan debu dan pasir yang baru saja ia keluarkan dari kedai Tok Aba tercinta. Jubahnya yang berkibar dramatis walau tidak ada angin kencang sama sekali senantiasa menghamburkan hasil sapuan si pemuda serba putih. Sengaja atau bagaimana?

"Cukup sudah dengan semua drama mu, Lampu Jalan. Aku kenyang. Ikut denganku atau temanmu Gopal akan puasa seminggu di balik jeruji besi markas kami," ancam Kaizo, sosok itu. Mendapat decak kagum dari Solar yang kini bersandar pada sapu di tangan.

"Pak Kumar pasti senang anaknya kurus."


a BoBoiBoy Fanfiction :

"Organisasi Pahlawan Penumpas Ancaman Ihiwasekjosh"

sebuah fanfiksi santai yang mengusung tema manusia super, penuh lawakan garing, pace lambat, OOC, dan kawan-kawannya.

Dibuat untuk hiburan semata.

Uhuk, BoBoiBoy punya Animonsta


Semua kembali pada 48 jam yang lalu, masa-masa dimana Solar bin Amato masih bergandengan tangan dengan hari damainya di kedai sang kakek. Tempat penuh bau coklat dan manisan itu selalu menjadi destinasi terakhir Solar sepulangnya dari kampus.

Kakeknya butuh tangan tambahan, mau tidak mau dia harus membantu di sana. Awalnya memang merepotkan, Solar nyaris benci pada kedai itu kalau saja Gopal—sahabatnya dari jaman orok tidak datang dan membantunya berbincang dengan pelanggan.

Tidak payah berterimakasih, dikasih minuman atau sarapan gratisan sudah lebih dari cukup untuk Gopal sebagai tanda balas jasa.

Sekarang Solar malah ketagihan bersarang di kedai, lebih-lebih sejak dia sadar kalau ternyata salah satu meja di sana selalu dijadikan tempat bergosip bapak-bapak di komplek rumahnya. Curi-curi dengar pada topik yang berganti tiap hari.

Bersosialisasi tidak perlu, update masalah tetangga nomor satu. Solar akan dengan senang hati mengumpulkan semua informasi yang bisa dia kumpulkan. Barangkali berguna di masa depan, walau itu nama ayam kontet Pipi Zola sekalipun.

"Solar!"

Hari itu, Gopal datang sambil melambaikan tangan, seperti biasa. Kebetulan kedai sedang sepi, membebaskan pemuda berbadan besar itu membuat kegaduhan.

Solar mengangkat wajah dari buku bacaan di tangan, tidak terniat hati untuk membalas lambaian. "Tumben baru datang jam segini. Sarapan di mana?"

"Ah, sarapanku tidak penting," Solar terbelalak, dia baru saja mendengar satu dari 13-Hal-Yang-Tidak-Akan-Pernah-Gopal-Ucapkan secara langsung.

"Aku bawa tamu untukmu. Kasihan abang ini, dari tadi berdiri dekat tong sampah sambil menatapmu tajam. Ansos sepertimu agaknya," bisik Gopal di akhir kalimat, dihadiahi tatapan tidak terima dari Solar.

Tapi, mana tamunya? Dari awal juga Gopal datang sendiri.

"Mana?"

Gopal berbalik, tampak bingung karena dirinya yakin tadi abang yang dimaksud mengekorinya ke tempat Gopal berdiri saat ini.

"Lah, iya. Kemana perginya?" herannya sambil menggaruk hidung.

"Di sini."

"Astaghfirullah!"

Solar latah alim, satu suara berat nan menggelikan tiba-tiba terdengar dari arah belakang!

Buru-buru pemuda itu memanjat meja konter sambil meraih senjata terdekat di tangan—yang kebetulan hanya ada garpu plastik dan buku kamus satu miliar. Ditodong-todongnya garpu itu pada satu sosok berwajah dingin yang sekarang sudah berdiri di posisi Solar tadi. Sejak kapan dia masuk?!

"Mau apa kau?? Jangan pikir kau bisa merampok uang di sini! Gopal, bantu aku!" Solar masih menodongkan garpu di tangan ke wajah 'rampok' tampan itu, sesekali melirik Gopal berharap dibantu.

Si rampok yang melihat adegan yang tersaji hanya menghela nafas.

"Berapa umur mu, bocah?" tanyanya enggan. Muka Solar seketika tertekuk.

"Kau buta? Badan besar begini dipanggil bocah," sinis Solar, masih menunggu momen rampok itu membuka laci uang agar dia bisa melakukan kekerasan pada mata dengan Cucuk Mautnya pada sosok itu.

Si rampok tampak tersinggung, mukanya tidak kalah masam dari Solar sekarang. Sebelum dia sempat membalas ucapan pemuda itu, sebuah bunyi 'beep' pelan tiba-tiba terdengar. Mata Solar memicing saat si rampok memainkan kacamatanya, seolah ada sesuatu di sana.

"Solar. Heh, namamu konyol seperti yang lain," cemoohnya tiba-tiba.

"Kau—darimana kau tau namaku? Kau pasti bukan rampok biasa."

Selagi Solar dan si rampok 'asik berbincang', Gopal melipir. Dirinya diam-diam mengutuk si rampok karena menyita waktu berharganya memesan segelas Cokelat Panas Spesial pada Solar. Ya sudah, bikin sendiri pun tak apa lah, bisik hati kecilnya.

"Aku bukan rampok, bocah kurang etika. Aku tidak butuh uang tidak seberapamu ini."

Kesabaran Solar tentu ada batasnya.

Orang ini, orang tidak jelas ini. Dengan jubah dan gaya rambut konyolnya yang dari awal kemunculan hanya menjelek-jelekkan Solar. Dan siapa tadi yang dia bilang kurang etika? Yang tiba-tiba masuk ke meja kasir kedai orang seperti si rampok ini butuh cermin besar di depan mata!

"Kau, kau—!"

"Cukup, tutup congormu. Aku tidak suka basa-basi." dengan cepat sebuah chip berwarna kehijauan terlempar ke atas pantat salah satu gelas bersih, yang seketika itu juga menampilkan hologram dengan wajah lucu nan polos seorang anak kecil tampak di sana.

Solar sesaat kagum.

"Salam, Saudara Solar. Namaku Koko Ci."

Kagum berganti kaget dalam kurun waktu tiga detik. Suara berat nan serak keluar bersamaan dengan anak di dalam hologram itu membuka mulut.

"Maafkan aku karena tidak bisa bertemu denganmu secara langsung, ini hanyalah rekaman semata. Dan maafkan salah satu kapten kami yang datang tiba-tiba kepadamu."

Tidak, tidak dimaafkan. Apalagi setelah dia mengetahui fakta bahwa si rampok ternyata seorang kapten entah dari mana.

"Langsung saja ke intinya, kami dari Organisasi Pahlawan Pembasmi Ancaman Ihiwasekjosh memintamu untuk datang ke markas kami.

Saudara Solar pasti tahu soal organisasi ini, bukan? Dan jujur saja, kami sudah dari beberapa tahun belakangan menaruh perhatian padamu. Kau adalah seorang manusia super, tapi kau tidak pernah mendaftarkan ability-mu sama sekali pada pemerintahan. Itu jelas sudah melanggar Undang-Undang.

Ability-mu adalah ability yang kami cari-cari beberapa tahun belakangan. Kami tahu segala hal tentangmu."

'Stalker, sial.'

"Maka dari itu, bergabunglah bersama kami. Kami bisa melindungimu dari Undang-Undang itu, tapi sebagai gantinya, kau harus bersedia untuk bekerja memberantas segala ancaman di muka bumi bersama kami."

Rekaman terhenti setelahnya, menyisakan hening antara Solar dan si rampok—yang sudah naik pangkat jadi kapten, dan suara kunyahan Gopal pada astor di gelas.

"Kau sudah dengar semua, kan?" si kapten mengambil kembali chip itu, menatap rendah pada Solar yang kini tertunduk dalam posisi yang sama.

"Kau tidak punya pilihan lain selain jadi anak baik dan menurut. Cepat tutup kedaimu dan ikut bersamaku," titahnya.

Si kapten mendengus. Berpikir betapa bodohnya pemuda yang lebih muda beberapa tahun darinya ini sampai tidak mendaftarkan ability sendiri pada badan yang bersangkutan. Hanya orang-orang dungu yang mau ambil resiko ditaruh di dalam lab hanya karena tutup mulut dengan kemampuan uniknya sendiri.

Lihat sekarang, Solar pasti sedang memikirkan bagaimana nasibnya kedepan—

"Pfft ..."

Kening si kapten seketika berkerut. Anak di depannya ini ... tertawa?

"Ahahahaha!! 'Tahu segala hal tentangku'? Jangan melawak, badut sirkus!" Tawa geli dari Solar mendapat tatapan tidak suka dari sosok di depannya.

"Apa yang lucu?!" hardiknya, yang mana malah membuat tawa Solar semakin menjadi. Pemuda itu bahkan memukul-mukuli meja konter sekarang saking tidak tahannya, tidak peduli pada protesan Gopal yang gelasnya hampir jatuh karena bergetar hebat.

"Kalian, kalian yakin sekali nama ku tidak tertera di sana." Solar mengusap air di balik kacamata visornya. "Hanya karena aku tidak mencantumkan nama ability ku, bukan berarti aku tidak mendaftarkan diri 'kan?"

Si kapten, yang sedari tadi ditelan kebingungan, lantas terbelalak mendengar tuturan Solar.

"Kau—ability apa yang kau daftarkan?!" Solar lagi-lagi tertawa saat kerah bajunya ditarik kasar, walau dia sempat mengaduh dulu karena kaget.

Sebuah panggilan tiba-tiba masuk kepada si kapten, sekarang Solar dapat melihat dengan jelas satu wajah yang samar-samar muncul di kacamata milik si kapten lantaran wajah mereka yang lumayan dekat.

"Kapten Kaizo, gawat!" sosok di seberang sana berujar panik.

"Ada apa, Fang? Gawat, gawat. Katakan dengan jelas!"

Ada kiranya beberapa detik Fang menunduk, seolah tengah membaca sesuatu.

"Ternyata Solar sudah mendaftarkan ability. Dan sialnya lagi, ability yang dia daftarkan membuatnya tidak diizinkan untuk mengikuti aktifitas berat seperti militer dan sebagainya."

"Aku tau! Cepat katakan apa ability-nya!" titah Kaizo tidak sabar, makin kesal melihat Solar yang kini tersenyum adem di depannya.

"A-ability-nya adalah ... Terlalu Tampan."

Kaizo, 28 tahun, jatuh ke inti bumi—jiwanya.

"Astaga, kalian benar-benar tau segala hal tentangku. Big fans, ya?"

Solar seolah lupa kalau emosi si kapten, Kaizo, sedang tidak bagus. Kaizo yang masih menarik kerah bajunya bisa mencekiknya kapan saja kalau Solar membuatnya lebih kesal dari ini.

"Kapten Kaizo."

Wajah Kaizo yang sebelumnya tertunduk kini terangkat kembali saat suara yang berbeda terdengar. Ternyata panggilan dari markasnya belum mati.

"Siap, Komandan Koko Ci," balasnya sigap.

"Karena rencana awal sepertinya sudah tidak bisa digunakan, karena ternyata dia bebas dari Undang-Undang, saatnya kita menggunakan rencana B."

Solar yang mendengar ucapan Koko Ci, walau samar-samar, langsung saja mengernyit tidak suka. Ada berapa rencana yang mereka siapkan hanya untuk memaksanya bergabung? Mereka perlu disundul kepala keras Solar biar berhenti.

Berbeda dengan Solar yang kini auranya kelam, Kaizo diam-diam malah senang. Setidaknya dengan segala rangkaian rencana yang ada, Kaizo bisa memastikan diri bahwa dia tidak akan kembali dengan kegagalan.

"Kita punya rencana B, Komandan?" tanya Kaizo kalem setelah berdehem, menyembunyikan rasa senangnya.

"Ya. Memohon padanya sampai dia mau bergabung. Kau tidak boleh kembali sebelum berhasil. Sujud sekalian kalau perlu."


I'm obsessed, amsnxksksk.

Engga ingat kapan terakhir kali punya kemauan buat bikin fanfic berchapter begini, efek lapar kayaknya.

Bikin komedi ternyata susah, ya. Aku sendiri engga yakin ini bisa masuk kategori komedi atau engga, dan aku juga ga punya rencana untuk bikin ceritanya jadi serius. Huhu.

Semoga suka, deh.

Adios~