Menjadi figur abang bagi anak bungsu tentu bukan hal yang mudah. Sasuke, umur 19 tahun, mahasiswa kedokteran gigi semester 3, diharuskan oleh ayahnya untuk mengurus Sakura. Orang tuanya menjadi korban dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan anak malang yang masih membutuhkan kasih sayang.

Ayahnya sibuk dengan pekerjaan, ibunya sudah meninggal empat tahun yang lalu, sedangkan kakaknya sedang merantau menjalani pendidikan militer. Jadilah Sasuke, si bungsu jutek dari keluarga Uchiha yang akan mengurus Sakura.

Bocah nakal yang pernah tanpa sengaja memeloroti celananya gara-gara dikejar anjing saat perjamuan keluarga dua tahun yang lalu sehingga menyisakan boxer biru dengan gambar anak ayam yang menjadi bahan tontonan. Membekas rasa malu menembus sampai DNA dan membuatnya bertanya-tanya bagaimana cara meng-uninstall hidupnya pada saat itu bersama si bocah.

Usai pemakaman, Sakura berlari ke dalam mobil Sasuke dan murung menekuk lututnya, tapi dia sama sekali tidak menangis. "Kalau engga suka ya udah, ga usah sok-sokan mau ngurus," ketusnya tak masuk akal begitu Sasuke sudah menduduki kursi kemudi.

"Abang ngelakuin ini buat nambah jajan ya, mon maap," balas Sasuke tak kalah ketusnya dan menjalankan mobil menuju tempat tinggalnya.

#Satu

"Sakura! Buruan bangun nanti telat ke sekolah!"

"Ngga mau!"

Dan aksi perang bantal dimulai diikuti banyak bulu yang beterbangan.

#Dua

"Yakin mau naik?" Sasuke memandangi Sakura yang sedang menatapnya dengan pandangan berbinar. Anggukan mantap membalas perkataan Sasuke.

"Ih aku kan udah tinggi!"

"Dih! Pendek ngaku-ngaku segala." Sakura langsung mencibir dengan mengejek gaya bicara Sasuke.

Sasuke kemudian membiarkan Sakura menaiki tangga dan mengganti lampu, sementara dia yang menahan tangganya agar tidak goyang-goyang. Suara ketel berbunyi nyaring menandakan air sudah mendidih. "Matiin kompor sana, Saku bisa turun sendiri."

"Lah, ngatur."

"Bicik! Sana matiin!"

Sasuke memincingkan matanya. Tinggal nyaris sebulan dengan dirinya membuat bocah itu bisa seenaknya saja, heh?

Akhirnya, Sasuke memilih mengalah dan pergi ke dapur mematikan kompor.

Krak jledag

Sudah kudugong ...

Anak itu mungkin (baca: pasti) akan jatuh.

"Ada apa nich?" Tanya Sasuke pura-pura tidak tahu.

"Sakit ..." ringis Sakura pelan menatap lututnya yang memerah. "Kena meja."

Sasuke berlutut mendekatinya lalu menatap meja. "Selamat sore, Bapak Meja, Anda baik-baik saja?"

Dan hari itu membuat Sasuke harus merelakan sebagian kecil rambutnya rontok terkena korban jambakan.

#Tiga

Troli belanjaan didorong pelan Sasuke di bagian lorong makanan. Sesekali berhenti untuk mengambil yang dibutuhkan dan menandainya di catatan. Melihat Sakura yang sibuk menggendong banyak camilan dan meleng ke sana kemari membuat Sasuke gemas langsung menarik tangannya.

"Sakura, sini aelah, permennya jangan banyak-banyak!"

"Om jangan Om!"

#Empat

Suara telepon berdering. Sakura dengan urakan melempar controller PS-nya dan mengangkat telepon.

"Halo?"

"Ya?"

"Ini bener telepon rumah Sasuke?"

"Siapa?"

"Ah ... mm aku, ehm ehehe, kamu siapanya?"

"Apa si nelpon-nelpon ke papah!"

#Lima

"Anjingnya udah pergi! Ngapain si anjir pake narik-narik celana."

"Saku laporin Bang Tachi nih ngomongnya kasar mulu!"

"Berisik!"

#Enam

"Kok diem?"

Padahal kemarin si bocil merengek di jalan minta dibikinin ramen ala Paman Teuchi. Sekarang saat sudah dimasak, dia terlihat sama sekali tidak tertarik.

"Gigi Saku sakit."

Sasuke memutar matanya bosan. "Terus?"

"Abang kan dokter gigi! Saku jadi pasien dong."

"Sok tau, Abang belum lulus."

"Oh, di DO yaaa?"

"Gelut kuy."

"Gas."

#Tujuh

"Kenapa bajunya bisa sobek-sobek gini?"

"Habis berantem."

"Oh, lu yang menang, 'kan?"

#Delapan

Sasuke menatap datar sepasang bocah yang sedang bergandengan tangan dihadapanya.

"Naruto, Saku pulang duluan ya."

"Hati-hati yaa, Sakura-channn!"

Manik arang pemuda itu membulat ketika melihat pipi Sakuranya dicium.

"Goblok! Sembarangan nyium anak orang!"

"Heh!" Naruto memberikannya tatapan mengejek.

"Anak anj-"

#Sembilan

"Bang ..."

"Apa."

"Bercinta tu apaan?"

Crack

"Heh nyebut, tau dari mana?"

"Kemarin Saku engga sengaja baca itu dari komiknya Naruto."

"Komik ... apaan?"

"Engga tau, pokoknya gambarnya begini." Sakura langsung mempraktekkan apa yang dia lihat kemarin dengan menduduki bagian bawah perut Sasuke.

Wajah Sasuke merah padam.

"DIBILANGIN JANGAN DEKET-DEKET DIA LAGI!"

#Sepuluh

Sakura menatap Sasuke terus-terusan yang sedang mencuci piring.

"Apa liat-liat? Iya tau Abang ganteng."

"Pede gila."

"Ngomong sama tembok. Apaan si buruan?"

"Besok ada praktek seni budaya."

"Terus?"

"Saku belum ngumpulin barang-barangnya."

"Dikasih tugasnya pas kapan?"

"..."

"Halo?"

"Janji jangan marah."

"Hah? Mong ah."

"..."

"Oke-oke, janji."

"Minggu kemarin."

"..."

"..."

"Yeeee bocah! Bisa-bisanya lu baru bilang sekarang kalau besok udah harus dikerjain. Abang bilangin yah, kalau dikasih PR kayak gitu dari guru lu tuh pas pulangnya langsung bilang Abang, ngerti gak? Coba liat jam! Sekarang udah jam berapa, hah? Lu pikir masih ada toko yang buka?! Abang gak mau tau, salah lu sendiri! Jangan minta Abang buat ngumpulin. Lu gak tau kalau abang lagi cape terus –blablablabla ..."

Sakura menutup kedua telinganya. "Iya iya ihhh! Ntar Saku minta Naruto aja!"

Dan besok paginya, semua barang yang dibutuhkan Sakura sudah tertata rapi di meja tamu.

#Sebelas

"Shion tuh pacar Abang?"

"Kak Shion, enak aja langsung manggil nama." Sakura hanya mengendikkan bahunya saat Sasuke mengoreksi, sama sekali tidak peduli.

"Saku ramal besok Abang putus sama dia."

"..."

"Harus sih."

"..."

"Putusin aja, Bang."

Maksa.

"Dia selingkuh loh, Bang"

"..."

"Sama Babeh Aiya, Bang. Suer, Saku ga boong."

Eh besoknya beneran kejadian.

#Dua belas

Sambil mengayun-ayunkan permennya, Sakura berlari menuju tempat Sasuke menunggunya. Di sana, dia melihat laki-laki tua renta, osteoporosis, dan nolep (menurut Sakura) itu sedang dikerubungi para gadis.

"Eh, lu ganteng banget."

"Iya tau."

"Udah punya pacar?"

"Sapa lu."

"Aww dingin banget. Persis tipe aqoeh."

"Berisik!"

"Mending ngedate sama gua."

"Ga."

"BAPAQQQQQ ..."

Kerumunan gadis itu langsung menyingkir begitu ada seorang bocah yang mendorong-dorong mereka sambil berteriak.

"Beri ruang beri ruang! Woy minggir! Uchiha Sakura mau lewat!"

#Tiga belas

"Naruto-Naruto-Naruto! Isi otak lu cuma dia doang?! Lu pikir Abang di sini buat siapa?!"

#Empat belas

"Bang, dapet berapa?" Tanya Sakura sambil memainkan gagang pancingnya.

"Tujuh."

"..."

"SAKURA! BALIKIN IKAN ABANG WOY!"

#Lima Belas

Sepanjang menuju rumahnya, Sasuke terus mengumpat. Jam menunjukkan pukul setengah satu malam dan dia baru pulang gara-gara seniornya menjejali semua tugas organisasi padanya.

Dasar senior laknat!

Usai memarkirkan mobilnya, dia kemudian menjeblak pintu rumah minimalisnya dengan kasar. Namun, teringat ada anak yang tinggal bersamanya, dia menutup pintu dengan pelan.

Sasuke kemudian melihat lampu dapur yang menyala. Dia mengambil napasnya dalam-dalam mencoba memadamkan emosi. Malah ditinggal tidur, pikirnya sebal.

Saat hendak mematikan lampu, dia melihat Sakura tertidur sambil menenggelamkan wajah dengan kedua lengannya di atas meja makan. Di depannya, ada sepiring nasi putih, telur dadar goreng, dan ikan goreng gosong yang sudah mendingin.

Sasuke terdiam. Dia mengambil sendok dan menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. Dingin dan nasinya sudah agak keras. Tangan kanannya menyendok suapan, sementara tangan kirinya sesekali mengusap kepala Sakura dengan lembut.

Sasuke dengan cepat menghabisi makan malam dadakannya dan menggendong Sakura menuju kamar si gadis. Saat hendak mandi, lehernya dipeluk erat sampai membuatnya nyaris tidak bisa bernapas. Tidak tega melepas paksa tangan kecil itu, akhirnya dia tetap membiarkannya seperti itu. Kemudian dia ikut terlelap sambil memeluk Sakura, mengikutinya ke alam mimpi.

Hubungan selanjutnya kuserahkan pada kalian.

...End...

Yak, pokoknya gitu dah muehehe