"Kacchan! Shoto-kun!"
Keterkejutan Bakugo dan Todoroki berlangsung dengan cepat saat sebuah lubang hitam berada di dekat mereka. Izuku yang masih sibuk bertarung dengan sebuah monster bernama Nomu ini menggertakkan giginya saat melihat kedua temannya terancam.
Dengan sekali gerakan memutar tubuhnya, Izuku melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah Bakugo dan Todoroki, meninggalkan Nomu yang bisa saja mengejarnya.
Izuku tidak peduli mahkluk sialan tersebut mengejarnya!
Temannya butuh bantuan segera!
"Menjauh dari sana!" Teriak Izuku sekali lagi kepada Bakugo dan Todoroki yang masih belum menjauh dari tempat mereka berada.
Bakugo melompat menjauh ke arah kiri dengan bantuan blar blarnya, sementara Todoroki menggunakan apinya sebagai pendorong untuk menjauh. Kurogiri terus berusaha menarik kedua pemuda tersebut untuk masuk ke dalam lubang hitamnya.
"Kalian tidak akan lolos," ucapnya.
Benar...
Izuku tiba-tiba terkejut dengan kumpulan tangan berwarna hitam yang muncul dari lubang hitam Kurogiri, terlebih Bakugo dan Todoroki Shoto tertangkap oleh tangan-tangan tersebut!
"Aaaghhk!" Erang Bakugo dan Todoroki bersamaan, tubuh mereka tercengkram dengan erat hingga membuat keduanya tidak bisa melepaskan diri. Tapi Bakugo dan Todoroki tetap tidak menyerah begitu saja, kedua tangan mereka terus menspam teknik dari quirk mereka.
"Lepaskan aku tangan bajingan!" Teriak Bakugo saat semua ledakan yang ia arahkan ke tangan tersebut tidak memberikan hasil apapun.
Begitu juga dengan kobaran api dan semua es yang Todoroki keluarkan tidak berefek sama sekali, justru tangan-tangan tersebut semakin kencang meremas tubuh mereka.
"Lepaskan mereka!" Kata Izuku dengan keras.
"D-Deku/M-M-Midoriya," ucap Bakugo dan Todoroki saat mereka melihat teman brokolinya tersebut melesat ke arah mereka.
Izuku semakin dekat dengan keduanya hingga tiba-tiba...
GREP!
"Hwaak!" Bakugo dan Todoroki melebarkan matanya.
"A-Apa?!" Ucap Izuku tidak percaya saat dirinya... ikut tertangkap oleh tangan-tangan hitam tersebut. Izuku segera menggeliat dengan keras agar dirinya bisa lepas, melakukan berbagai smash ke arah tangan hitam yang menangkapnya.
Izuku menyempatkan dirinya untuk melihat kedua temannya yang berada di sisi lain dengan tangan-tangan yang menangkap mereka.
"K-k-kacchan," Izuku berusaha agar ia tidak pingsan, tubuhnya yang gemetar dan berdarah-darah menambah beban berat baginya. Dirinya terus berusahan tanpa henti melakukan semua yang ia bisa.
"S-S-Shoto-kun," Izuku melihat ke arah sang putra dari Number 1 Hero saat ini yang juga bernasib sama dengan Bakugo.
Kedua temannya sama-sama tertangkap, seharusnya dirinya bisa menyelematkan mereka! Tapi bodohnya ia ikut tertangkap!
Tangan-tangan yang menangkap mereka tiba-tiba bergerak kembali masuk ke dalam lubang hitam.
Izuku akhirnya berada di dalam situasi keputusasaan, ia adalah yang ke-sembilan, sang penerus dari sumber harapan dunia, pemilik selanjutnya quirk One for All!
Mungkin menyerah adalah saat yang tepat bagi dirinya saat ini...
Benar, saat melihat kedua temannya sudah masuk menembus lubang hitam tersebut, ia sudah pasrah.
Pasrah saat dirinya dipaksa masuk lubang tersebut yang ia tidak tahu akan berada dimana setelah ini.
"Gomen," hanya sebuah ucapan kecil yang dilakukan Izuku sebelum ia menghilang. Meminta maaf kepada semuanya, karena ia terlalu lemah.
Dan tangan-tangan tersebut berhasil menangkap dan menarik Izuku serta 3 orang lainnya untuk masuk ke dalam lubang hitam milik Kurogiri.
...
..
.
Shinobi Road : Prelude
By SanArya
...
[ Semua Character adalah milik sang Mangaka dan Author nya ]
...
Chapter 1
...
?
Terlihat seorang anak berambut hijau yang berusia kisaran 6 tahun sedang tertidur di sebuah kasur tipis tanpa ranjang yang kondisinya... kurang sedap dipandang. Itu kotor, banyak sobekan, dan parah bagi sebuah kasur untuk tempat tidur.
Sementara disisi lain, di atas ranjang yang sebenarnya kondisi juga sama parahnya dengan kasur mereka. Dua anak seumuran yang sedang tidur dengan saling bertukar... menindih, memukul, menendang, dengan tangan dan kaki mereka.
Terutama untuk anak berambut pirang pudar lancip, sementara anak yang berambut setengah merah dan setengah putih tersebut terlihat sedikit lebih kalem.
Dan tentu saja, sekarang sudah waktunya mereka bangun. Hembusan angin dingin yang masuk melewati jendela rusak di salah satu sisi kamar tersebut membuat ketiganya terusik.
Tidak lama kemudian, anak berambut hijau telah menandakan lanjutan kehidupannya dengan berhasil membuka kedua matanya. "Egghhh," erangnya kecil.
Disisi lain, anak berambut pirang dan merah putih juga ikut membuka lembaran baru untuk kehidupan mereka dengan sama-sama menunjukkan mata mereka.
"...Gghhh," anak berambut pirang tersebut menjauhkan tangan dan kakinya dari anak di sebelahnya, ia kemudian memandang sekitarnya.
Butuh beberapa saat bagi mereka bertiga untuk mengumpulkan kesadaran mereka... ya, sadar tentang semuanya.
"Huwaaaa! Ini dimana?" Teriak Izuku.
"APA YANG TERJADI DENGAN TUBUHKU?!" Teriak Bakugo.
"Hooo?" Kata Todoroki.
Terkejut karena semuanya sangatlah berbeda.
.
Baiklah, disini ada 3 bocah laki-laki berusia 6-7 tahunan. Berambut hijau seperti brokoli dengan pipi chubby berbintiknya... Midoriya Izuku.
Lalu si pemarah dan berisik, memiliki rambut pirang pudar berbentuk runcing... Bakugo Katsuki.
Terakhir dari ketiganya adalah seorang anak laki-laki yang memiliki bekas luka di bagian sekitar salah satu matanya, serta memiliki rambut yang unik dimana terdapat setengah warna merah dan bagian setengah lainnya adalah warna putih... Todoroki Shoto.
Dan mereka baru saja mengalami kepanikan yang luar biasa...
"Ini dimanaaaaaa?" Kata Izuku dengan kedua matanya yang terus mengalirkan air.
"Diamlah kuso Deku! Kau membuatku kesal!" Teriak Bakugo. Terlihat sangat berbeda saat melihat Bakugo marah-marah dalam bentuk kecilnya. Todoroki sendiri tetap diam karena dia sendiri juga tidak mengerti apa yang terjadi.
"Kita dimanaaaaa? Kenapa kita jadi kecil? Huwaaaaaa~, ucap Izuku histeris.
"Diam atau kubunuh kau, kutu buku sialan!" Kata Bakugo keras kemudian ia mengarahkan salah satu tangannya untuk memunculkan sebuah ledakan...
...
...
Hening?
Semua menjadi hening, tidak ada ledakan yang muncul dari tangan Bakugo.
Todoroki dan Izuku mengamati Bakugo yang sedang mematung diam berdiri kebingungan. Suara dari luar jendela terdengar sangat keras yang membuat mereka akhirnya tersadar.
"Haaahh?!" Kata Bakugo kesal sambil melihat tangan yang tadi ia gunakan untuk mengeluarkan ledakannya. Karena ledakannya tidak keluar, bocah tersebut mencobanya sekali lagi...
"Shiinnneeee!" Teriaknya.
...
...
...?
"KENAPA AKU TIDAK BISA MEMBUAT LEDAKAN LAGI?!" Teriak Bakugo. Todoroki yang melihatnya mencoba untuk mengeluarkan masing-masing Quirk nya.
...
...
Sama saja, api dan es yang biasa keluar dengan sangat keren kali ini tidak muncul sama sekali.
"Oh, aku juga tidak bisa menggunakan Quirk ku," ucap Todoroki yang tetap kalem walau diluar situasi yang biasa mereka lalui. Izuku yang sudah selesai dengan menangis khas animenya mencoba melakukan salah satu Quirknya. Ia mengonsentrasikan dirinya.
...
...
...
Dan tidak ada yang terjadi, cambuk hitam yang biasa ia keluarkan tidak muncul sama sekali, itu membuat Izuku semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang.
"Percuma saja, aku juga tidak bisa menggunakan Quirk ku," ucap Izuku sambil menghela nafas lelah, ia mengamati sekitarnya.
"Seingatku, kita bertarung dengan Shigaraki dan lainnya. Kurogiri memunculkan lubang hitam miliknya, setelah itu kita tertangkap oleh tangan-tangan yang keluar dari sana. Apa ini semua ulah Kurogiri?" Kata Todoroki sambil memandang kedua temannya.
"Cih! Kurogiri sialan, berani-beraninya dia melakukan ini semua kepadaku," kata Bakugo kesal. Disisi lain, Izuku yang duduk di bawah menaruh tangannya di dagunya, berpikir tentang semua kemungkinan yang bisa terjadi.
Bakugo dan Todoroki sama-sama memandang anak berambut brokoli hijau tersebut, mereka sepakat jika pengamatan dan analisis milik Izuku adalah yang terbaik di antara mereka bertiga.
"Sebelum itu, apa tangan-tangan waktu itu adalah milik Kurogiri?" Tanya Izuku kepada dua temannya. Bakugo mengangkat kedua bahunya sambil berwajah masam, sementara Todoroki tetap datar dan mendengarkan.
"Aku tidak tahu mengapa, hanya saja tangan-tangan waktu itu... menurutku... bukanlah Quirk Kurogiri," jawab Izuku.
"Apa maksudmu? Jelas-jelas tangan-tangan kemarin muncul dari lubang hitam milik Kurogiri," balas Bakugo.
"Itu hanya menurutku, bisa saja tangan-tangan kemarin karena ulah Kurogiri, itu salah satu kemungkinan. Hanya saja, aku tidak pernah melihat dia mengeluarkan teknik tangan-tangan seperti kemarin," kata Izuku.
"Apa kau tidak berpikir jika mahkluk sialan itu memang punya kekuatan seperti waktu itu? Kau tidak tahu apa saja yang disembunyikan olehnya," ucap Bakugo yang tetap tidak mau kalah. Izuku menghela nafas.
"Sudah sudah, kurasa pendapat Midoriya lebih masuk akal. Jadi, kita gunakan yang itu saja," kata Todoroki.
"Alasan macam apa itu!"
"Kacchan, jika Kurogiri memiliki kekuatan seperti itu? Mengapa dia tidak pernah menggunakannya?" Tanya Izuku. Bakugo tidak menjawab, ia hanya menyipitkan matanya kearah Izuku.
"Kurogiri sudah sering membantu Shigaraki atau bahkan All for One, jika dia menggunakannya sejak dulu, bukankah All Might serta Hero lainnya akan kewalahan dari dulu? Jika dia memiliki tangan-tangan tersebut, seharusnya dia bisa menyelamatkan All for One di pertarungan terakhir waktu itu."
"Sial, kau mengingatkanku dengan kejadian itu lagi," Bakugo mencibir. Kemudian ia memandang Todoroki dan Izuku kembali.
"Terserah kau saja, Kuso Deku. Jadi menurutmu, ini semua adalah perbuatan orang 'ketiga'?" Tanya Bakugo, Izuku mengangguk kemudian.
"Ada yang ikut campurkah? Itu masuk akal. Hanya saja kekuatan macam apa yang dia miliki hingga membuat kira menjadi seperti ini," kata Todoroki dengan memandang tubuh anak-anaknya.
"Kemungkinan pertama selesai, sekarang yang kedua. Kita menjadi kecil lagi," Ucapan dari Todoroki tersebut membuat mereka bertiga memandang diri mereka masing-masing.
Izuku dengan pipi chubby nya, Bakugo yang merasa aneh sekarang karena ia menjadi anak-anak lagi, dan Todoroki yang tampak biasa saja walau sebenarnya ia bingung harus melakukan apa.
"Menurut kalian umur berapa kita sekarang?" Tanya Izuku.
"Aku rasa... 6 tahun?" Jawab Todoroki dengan nada yang terdengar tiidak yakin.
"Aku sependapat dengannya, ini aku umur 6 tahun," tambah Bakugo.
"Lalu, yang menjadi pertanyaan. Bagaimana bisa kita menjadi seperti ini? Pikiran kita dan kejadian yang sudah kita alami selama 16 tahun tidak berubah atau menghilang sama sekali. Apa kita kembali ke 10 tahun yang lalu?" Ucap panjang Bakugo.
"Mungkinkah ini adalah bagian dari Quirk Kurogiri?" Pelipis Bakugo berkedut mendengar perkataan dari anak Endeavor di sampingnya tersebut.
"Apa maksudmu ini Quirk Kurogiri HAHH!? Memangnya orang itu punya kekuatan merubah umur seseorang?" Teriak Bakugo kesal.
"Oh... benar juga, tapi bukankah itu bisa saja?" jawab Shoto polos.
"TIDAK BISA DASAR OTAK LEMOT!"
"Sudah sudah Kacchan, hentikan!" Lerai Izuku. Bakugo melirik Izuku sesaat kemudian kembali duduk dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
Izuku menghela nafas, ia baru sadar ternyata tubuh 6 tahun miliknya hanya memiliki kapasitas tenaga yang sedikit. Sekarang ia lelah, dan juga lapar...
"Bagaimana kalau kita melihat-lihat apa yang ada di sekitar kita sekarang, aku juga penasaran kita sebenarnya ada dimana," ajak Izuku yang langsung dibalas anggukan oleh kedua sahabatnya.
.
Kembali dan sekali lagi, Izuku menghela nafas. Kamar tempat mereka bangun SAMA SEKALI tidak ada apa-apa, bahkan baju satupun. Sebenarnya, tempat yang dirinya sadari sebagai sebuah apartemen kecil dan jelek tersebut SAMA SEKALI tidak ada sandang dan pangannya.
Satu kamar tempat mereka tidur, satu kamar yang telah menjadi gudang dan penuh dengan barang-barangnya, dapur kotor tidak ada kulkas maupun penanak nasi, satu kamar mandi yang... tidak usah disebutkan keadaanya, kemudian ruangan depan yang hanya ada beberapa meja serta sofa yang sudah sobek-sobek sampai beberapa busanya keluar.
"AKU TIDAK MAU TINGGAL DI TEMPAT SEPERTI INI!"
Izuku memandang Bakugo yang sedang marah-marah sambil menendang-nendang sofa dengan kaki kecilnya, Todoroki hanya duduk di sofa lainnya karena kelelahan... dia mengabaikan tempat duduknya yang kotor.
Ya... sebenarnya mereka bangun dengan keadaan kotor sih.
"Apa hujan ini tidak akan berhenti? Sudah 2 jam kita menunggu," kata Izuku melihat air deras yang terus turun dari balik jendelanya.
Bakugo yang lelah marah-marah menuju ke sofa panjang kemudian menjatuhkan dirinya di sofa tersebut, banyak debu berterbangan karena hal itu.
"Aku tidak bisa membedakan sekarang pagi atau siang, cuaca disini sangatlah buruk," kata Izuku memecah keheningan.
Tidak ada balasan dari kedua temannya membuat Izuku mengerutkan dahinya, ia memandang ke arah Bakugo dan Todoroki... dan mereka tidur.
"Mereka kelelahan. Yosh! Karena hujan tidak mau berhenti, mungkin aku harus keluar mencari makanan," kata Izuku.
Setelah mengambil selimut... yang membuatnya terkejut karena masih ada barang berguna di apartemen ini... Izuku menutupi tubuh Bakugo dan Todoroki perlahan. Kemudian melihat sebuah mantel hujan berwarna abu-abu... dan itu membuatnya terkejut lagi... Izuku segera mengenakannya.
Bres!
Sangatlah deras, diluar tampak sangat sepi tanpa ada satu orangpun yang berkeliaran. Izuku menutup pintu apartemennya kemudian mulai menuruni tangga dan mulai menyusuri jalan
Bocah laki-laki berambut hijau tersebut mengamati sekelilingnya, tampak sangat berbeda dengan tempat U.A Academy berada.
Bahkan ia tidak pernah melihat tempat seperti ini sebelumnya...
Tempat ini, terasa aneh...
Bangunannya tinggi menggapai langit, tetapi yang Izuku perhatikan, bangunan tinggi tersebut tidak seperti gedung yang biasa ia lihat.
Tidak ada jendela atau bentuk mengotak seperti gedung pada umumnya, yang ada hanyalah tinggi menjulang dengan tembok rata tanpa ada apapun. Mungkin hanya beberapa pipa atau besi yang mencuat sembarangan.
Mata Izuku menajam melihat sekelilingnya yang tidak ada siapapun, timbul pikiran juga dirinya sekarang berada di sebuah tempat yang sudah ditinggalkan alias 'Kota mati'.
Hanya saja ada firasat aneh dalam dirinya, dirinya merasa... diawasi oleh seseorang. Membuat Izuku yang walau sekarang berada di tubuh anak-anaknya serta tanpa pertahanan apapun, tetap waspada.
Pengalamannya untuk merasakan hawa negatif membuatnya terbiasa agar selalu dalam kondisi tidak lengah, hal tersebut sudah tertanam dalam dirinya hingga membuatnya sudah menjadi kebiasaan.
Tanah basah dan genangan air ia lewati, mencari sebuah kehidupan yang seolah sudah tiada. Izuku kecil terus berjalan ke manapun sambil menghafal setiap sisi dan sudut tempat yang ia lewati.
Bisa gawat seandainya ia tersesat di tempat antah berantah seperti ini...
.
Hari mulau petang, dan hujan belumlah reda. Nafasnya mulai terengah-engah karena kelelahan dan kedinginan, tetapi ia belum bisa kembali ke tempat Bakugo dan Todoroki sebelum mendapatkan sesuatu.
Ada sedikit kemajuan saat Izuku mulai berjalan jauh, beberapa tempat seperti sebuah kedai makanan atau toko-toko ada di tempat seperti ini. Walau semuanya saat ini tutup... *Izuku menangis seperti di anime-anime.
Spekulasi lainnya tentang tempat ini adalah, ada beberapa orang atau penduduk yang tinggal disini. Karena beberapa bangunan apartemen yang memiliki jendela, terlihat terang karena sebuah lampu.
Di beberapa sisi jalan juga terdapat lampu penerang, itu berarti listrik ada di tempat ini... dan itu berarti seharusnya ada orang lain disini!
Ah, cahaya kehidupan mulai menerangi Izuku kecil. Sekarang ia harus terus mencari makanan dengan semangat!
"Plus Ultra!" Ucap Izuku dengan mengepalkan tinjunya ke langit.
Dan akhirnya!
Disana ada sebuah kedai, restoran, warung, warteg atau apalah itu...! Tempat tersebut buka! Disana ada makanan!
Baiklah Izuku, saatnya menuju ke san-
Oh...
Izuku baru ingat sesuatu...
...
...
DIAKAN TIDAK PUNYA UANG?!
SELAIN ITU.
APA DISINI PAKAI YEN?!
Cahaya kehidupan yang menyinari Izuku kembali tertutup mendung, bahkan sekarang lebih tebal dan gelap. Ia tidak mungkin bisa membeli makanan tanpa uang di tangannya.
Huwaaaaaa~ rasanya Izuku ingin menangis lagi sekarang.
"Sedang apa kau disini?" Izuku hampir melompat karena terkejut, sebuah suara seorang laki-laki muncul dari belakang Izuku. Izuku segera berbalik melihat siapa gerangan yang bersuara tersebut.
Orang tersebut mengenakan mantel berwarna cokelat kotor, suaranya seperti seorang laki-laki membuat Izuku langsung membuat kesimpulan jika orang di depannya yang masih tertutup oleh mantel tersebur adalah seorang pemuda yang lebih tua darinya... karena tinggi pemuda tersebut lebih tinggi dari Izuku, walau tingginya sedang seperti seorang pemuda remaja.
Bagian wajahnya yang gelap karena bayangan membuat Izuku sulit melihat seperti apa pemuda di depannya, iapun memberanikan diri untuk berlari mendekat dengan kaki kecilnya.
Setiap langkah Izuku menginjak genangan air membuat sebuah suara, menuju ke seseorang yang mungkin adalah penjawab dari semua keanehan ini.
Oh Kami-sama...
Izuku sampai di hadapan pemuda tersebut, terlihat rambut berwarna seperti oren mencuat dari atas tudung mantelnya. Wajahnya tegas dengan bola mata yang seolah bercahaya membangkitkan kembali api harapan dalam diri Izuku.
"Kau? Si rambut hijau ternyata," ucap pemuda tersebut.
"'Ternyata?' Apa dia mengenalku? Tapi aku tidak mengenalnya," batin Izuku. Pemuda tersebut tertawa kemudian Izuku merasakan sebuah tangan menyentuh tudung mantelnya seakan sedang mengusap rambutnya.
"Sebaiknya kita segera kesana, aku bisa melihat kau sebentar lagi akan mati kelaparan, hahahaha. Ayo! Akan aku jelaskan semuanya," ajak pemuda berambut oren tersebut sambil berjalan mendahului Izuku. Izuku segera memutar kaki kecilnya kemudian memandang punggung sang pemuda.
Tiba-tiba pemuda tersebut berheti sambil menoleh ke arah Izuku dengan senyuman terpampang di wajahnya.
"Ah ya, kau bisa memanggilku..."
Izuku melebarkan telinganya saat wajahnya mendongak dan mendekat untuk mendengar nama yang akan disebutkan oleh sang pemuda...
"... terserah."
Izuku terjungkal ke belakang. Lagi-lagi sang pemuda tertawa melihat kelakuan bocah berambut hijau tersebut.
"Jika kau bertanya tentang namaku," sebelum melanjutkan ucapannya, pemuda tersebut kembali mendekat ke hadapan Izuku, kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan...
"Kurosaki Ichigo."
To Be Continued
Terima kasih sudah membaca dan review nya
Selasa Kliwon, 17 Agustus 2021
By SanArya
