Shigure nyaris memanifestasikan rasa geli dan terhiburnya dalam bentuk kekehan sederhana dan polos. Namun, ia paham bila ia melaksanakan itu—yang akan diterima dari wanita di hadapannya pastilah delikan kasar dan alis yang bertaut dalam.

Ah, namun—Shigure tidak takut.

Tidak pernah. Tidak dulu, tidak sekarang.

Akito tampaknya sadar akan perubahan ekspresi sang lawan bicara. Perempuan itu—toh, pada akhirnya menggulirkan iris mata violet ke ekor mata. Selanjutnya belah bibir terbuka dan ia bertanya, rendah dan defensif, "Apa?"

"Aa, tidak," respon Shigure. Lelaki itu mengangkat jemarinya, menyentuh helaian gelap Akito. Disampirkannya poni itu ke balik telinga. Akito mengerjap, masih melihat Shigure yang mengulas senyum tipis. Shigure melanjutkan penjelasan, bagaimana pun, "Aku hanya … kaget. Biasanya, kamu tidak akan peduli dengan ulang tahun orang lain. Namun kau memastikan bahwa lusa adalah hari kelahiran Tohru-kun?"

Mendengar itu, Akito mendengus. Ia menyingkirkan lengan Shigure dan menyahut tenang, "Itu karena yang lain beberapa hari ini ribut mengenai itu. Kalau kamu tidak mau menjawabnya, tak perlu, Shigure."

Shigure kali ini tak bisa menahan tawa kecilnya. Ia meraih kepala Akito, lalu menyandarkannya pada paha miliknya. Akito hanya mengikuti, menghela napas pendek.

"Benar," jawab Shigure. "Itu juga mengapa Kyo-kun dan Tohru-kun akan kembali ke sini. Yah, sekaligus libur musim dingin. Kudengar yang lain akan memberi kejutan, apa kamu ingin ikut, Akito?"

Lagi-lagi—dengkusan kasar. Akito menutup pelupuknya. Udara perlahan semakin membeku dan ciptakan uap dari respirasinya. Shigure meraih selimut yang terdiam di sebelahnya, lalu memakaikannya pada Akito. Ada keheningan yang membalut seperti biasa sebelum Akito menjawab tenang, "Tak perlu. Lagipula, aku …"

… tidak disukai.

Kurva tipis belum lesap dari bibir Shigure.

Hanya Honda Tohru-kun, hm?


Fruit Basket © Natsuki Takaya

Warnings! After story, canon, contains spoiler ofc, AkiGure, Akito centric, friendship Akito-Tohru, drama, general, romance, Kyoru, typo(s), possibly OOC, semoga sesuai PUEBI, etc.

Canggung by Saaraa


From: Honda Tohru

Subject: Pulang! ^^

Akito-san, aku akan pulang pada tanggal 15 Desember. Kyo-kun sedang mencari tiketnya. Kuharap aku bisa segera bertemu dengan kalian semua!

Akito mengerjapkan pelupuk beberapa kali. Ia memiringkan kepala, memikirkan balasan. Kemudian Akito menutup mata untuk sesaat—sepenuhnya mengalihkan perhatian dari makan malam hangat di hadapan.

Yah, semakin hari ekspresinya semakin unik kalau berhadapan dengan Tohru-kun, pikir Shigure.

Ketika pada akhirnya jemarinya mengetik, hanya oke yang terkirim. Ia tidak paham apa yang harus ia katakan. Sebab rasa-rasanya, menulis terlalu panjang dan penuh kegirangan bukan tabiatnya. Selain itu, ia tidak girang—ia hanya … lega akhirnya dapat bertemu lagi setelah sekian lama.

"Dari Tohru-kun?"

"Hm? Iya," jawab Akito, lalu lanjut dengan sumpit dan salmonnya.

"Hehh."

Akito kini kembali mengangkat kepalanya, telak menatap Shigure.

Betul juga—ada yang bisa ia lakukan. Meski barangkali, ia tak bisa bersama yang lain, terlarut dalam pertemanan mereka, terbuai dalam gelak tawa bersama, atau menyiapkan pesta sembari tukar argumen, ada beberapa hal sederhana yang bisa ia lakukan.

Sebab, setelah selama ini, setelah semua ini—Akito paham, ada berbagai hal yang ia tak bisa ia paksakan, dan apa boleh buat soal itu.

Dan itu pun tak masalah, sebab Honda Tohru menerimanya. Sebab Soma Shigure ada di sisinya. Itu cukup.

"Kenapa?" Shigure bertanya, sedikit khawatir akan gemingnya Akito. Sisanya adalah rasa tertarik yang luar biasa, melihat bola mata violet berbinar dalam diam.

"Shigure … kau tahu cara memesan tiket pesawat … lewat internet?"

.

Saat Akito melihat Hatsuharu dan Rin tengah melangkah bersisian di jalan, ada sedikit keraguan untuk menyapa. Yah—bukan berarti segala hal akan selalu seindah mekarnya sekar pada saat ia berubah, pada saat ia meretas ikatan abadi itu. Namun, Akito sadar bahwa Hatsuharu dan Rin kini melihat ke arahnya.

"Ah … halo," Akito menyapa. Rin dan Hatsuharu hanya terdiam nihil suara. Sang perempuan bersurai ungu gelap mengusap tengkuk. Basa-basi tidak pernah jadi keahliannya dan aneh kalau dia malah melangkah pergi setelah ini. Jadi dia hanya berujar pelan, "Kalau kalian belanja makan malam … biasa di mana?"

Rin membolakan mata. Ia terkesiap dan tak menyangka itu hingga ia bertanya cepat, "Kamu … mau belanja makan malam? Sendiri?"

"Yah … kurasa?"

"Di supermarket dekat rumah Shigure. Dagingnya segar. Ah, tapi kalau kamu mau makanan instan, bisa ke konbini," jawab Haru.

Akito mengangguk-angguk. Kalau begitu, nanti aku cek di sana. "Terima kasih Haru, Rin," ujar Akito. Ia tersenyum tipis, mengangguk, lalu menggerakkan tungkainya. Sebelum ia lupa, Akito berbalik, kembali mengejutkan sepasang insan itu. Ucapan sederhana mengudara tulus, "Oh, iya. Selamat atas pertunangan kalian."

Rin mengedip-ngedipkan matanya untuk ke sekian kali. Ia menjatuhkan rahang, menatap Haru. "Aku … jadi ngeri dengan perubahan sikapnya."

Hatsuharu tertawa ringan.

Seseorang yang tadinya mustahil untuk dipahami, seseorang yang menaruh trauma serta luka, yang menjadi sasaran murka serta amarah seluruh manusia—kini, perlahan berubah. Perbuatan yang dulu tak akan pernah terhapuskan, namun ada gerakan kecil ke arah yang lebih baik. Terasa janggal dan mengacaukan hati—tapi tak buruk.

"Jadi lebih baik, kan. Honda-san … dia memang hebat."

"…. Kau benar." Rin tersenyum tipis.

Ya—meski masa lalu tak akan terhapus seperih apa pun, meski seluruhnya sempat terasa ingin luluh-lantak dan lebih baik lesap dari buana … bukankah hari ini, ialah hari yang baik?

.

Setelah mendengar informasi dari Shigure, perempuan bersurai gelap itu masuk ke dalam department store yang dimaksud. Ia membiarkan langkah kaki menuntunnya sesuai nalar sebelum pada satu titik mendengar sahut-sahutan yang familiar.

"Hmnn … tidak ada di sini."

"Tidak apa-apa, Hiro-kun. Mungkin ada di toko lain?"

Ah. Hiro dan Kisa. Akito kemudian memutar haluan dan menghapus jarak antara dirinya dengan mereka. Akito bertanya, "Kalian sedang apa?"

Hiro dan Kisa yang mendengar suara tak asing sedikit menengadah. Terkejut—tentu. Tak menyangka akan melihat kepala keluarga Soma di sini. Kisa gugup secara otomatis dan Hiro menyelipkan jemarinya di antara jemari Kisa.

"Mencari kertas kado," jawab Hiro. "Untuk membungkus hadiah Tohru. Tapi, kami tidak menemukannya di sini."

Akito termenung sesaat. Ia menunduk, menaruh kepalan tangan di hadapan bibirnya. Seingatku, kekasih Hatori … siapa namanya—Mayu? Bekerja di toko buku.

"Kalian kenal kekasih Hatori?"

"Ah! Mayuko-sensei?" sahut Kisa, tersenyum senang. Ia pernah bertemu sang guru, ketika mengunjungi bunkasai terakhir kala Tohru dan yang lain menduduki kelas tiga SMA.

Akito mengangguk. Akan kuhubungi Hatori nanti. "Kudengar dia memiliki toko buku, coba ke sana. Bisa jadi mereka menjual kertas kado juga. Kalian sudah menemukan hadiah?"

"Ayame ojii-san bilang ingin menjahitkan baju untuk Tohru sebagai hadiah."

Oh. Ayame, hm. Ada anggukan paham dari Akito sebelum akhirnya ia memutar tubuhnya dan bermaksud untuk menuju arah yang berbeda.

Hiro tak paham apa yang merasuki—bila bisa diungkapkan secara hiperbolis. Sebab ia mengeluarkan suara serak yang khas dari pangkal tenggorokan, memanggil, "Akito—"

Akito menoleh. Kepalanya dimiringkan sesaat. "Ya?"

"Uh." Hiro kali ini terdiam, seolah tubuhnya dipaku pada buana. Kisa menatapnya hati-hati, paham betul apa yang ingin ditanyakan oleh Hiro. Sang pemuda beranjak dewasa menarik napas, lalu menghelanya lembut. "Apa kamu akan datang? Saat Tohru ulang tahun."

Akito menarik senyum—begitu tipis. "Tidak. Kalian bersenang-senanglah," sahutnya, sebelum akhirnya ia betul-betul menjauh dan membiarkan sosoknya menghilang direbut oleh jarak.

Kisa menarik ujung lengan dari seragam Hiro. Suaranya manis dan halus seperti biasa—yang juga mengucapkan kata-kata yang begitu lembut, "Akito sangat canggung."

Hiro mengangkat tangannya, mengusap pucuk kepala Kisa. "Iya."

.

"Oh, A-chan!"

Akito tersentak hingga ia merasa bahunya melonjak. Menggerakkan kepala ke samping, ia lihat Arisa dan Saki berjalan santai ke arahnya. Akito menggeleng-geleng—setengah pasrah dan berujar, "Aku berharap kamu berhenti memanggilku begitu."

"Eh~ kenapa? A-chan, ya, A-chan," kali ini, Arisa menyahut dengan senyum lebar.

Akito mau tak mau ikut menendang sudut bibir. Apa boleh buat. Sang surya telah bersembunyi ke balik horizon yang lain. Angkasa gelap merengkuh bumi, serpihan bercahaya menerangi lembut. Arisa membeli minuman kaleng dari vending machine yang ada, seusai itu mengulurkan teh pada kedua kawannya.

"Jadi, apa yang kamu lakukan malam-malam begini, A-chan?"

"Ah …." Akito mendongak sesaat. "Hanya berjalan dan mengecek beberapa hal. Kalian?"

"Kami mencari hadiah untuk Tohru." Saki membuka tutup teh kaleng itu dan menegaknya sebelum melanjutkan, "Meski kakaknya Yuki-kun telah membuatkan baju, tetap saja, kami ingin memberinya hadiah yang spesial."

Akito tersenyum tipis mendengarnya. Ibu jari mengusap kaleng, menghangatkan ujung-ujung jemarinya. Saki dan Arisa bertukar pandang sebelum sang perempuan bersurai pirang bertanya, "Oh, iya. A-chan, mau ikut patungan?"

Akito melihat mereka untuk sesaat. Senyum tipis yang ditampilkan terasa sendu bagi Arisa. Namun, ucapan yang selanjutnya keluar, lagi-lagi—tulus, "Tentu. Kita beli apa?"

Lalu di sana—konversasi mengalir lancar. Yah, lebih banyak Arisa berceloteh soal ini dan itu dan betapa ia bersemangat menyambut ulang tahun Tohru yang ke-19. Bagaimana pun, ini ialah perayaan hari kelahiran pertama sejak mereka lulus SMA di bulan Maret lalu.

Dalam percakapan yang heboh, serta hangat, Akito tersenyum tipis.

Bahkan, meski kamu jauh … kamu meninggalkan sesuatu yang baik untukku.

.

"Selamat datang kembali, Tuan Putri. Sudah puas berpetualang?"

Akito menatap Shigure dalam diam. Dengusan tercipta. Ia melepas sepatunya dan melangkah ke dalam kediamannya. "Aku pulang," ujarnya.

Shigure terkikik-kikik. Ia bantu menanggalkan jaket Akito, menyampirkannya pada gantungan kayu. Seusai itu, langkahnya menuntun Akito ke arah kamar mandi, di mana air panas telah disiapkan. Shigure menggerakkan tangannya, menanggalkan kancing, melucuti busana yang melekat pada tubuh si perempuan itu.

Saat Akito pada akhirnya berendam di air panas, helaan napasnya mengudara. Shigure mengulas senyum. Ia mengambil gayung kayu, menuang lembut air pada bahu Akito dan mengusap sisi wajah wanitanya.

"Shigure …."

"Hmmn?"

"Apa kamu mau mendengarkan pintaanku?"

Shigure mendekatkan wajahnya. Ia merengkuh bahu yang mungil itu, lalu mengecup bibir Akito. Dingin. Duh, seberapa lama Akito telah mengeksplorasi, sih? Saat kecupan sederhana itu lepas, Shigure menyahut di balik napasnya yang hangat, "Segalanya untukmu, kan?"

.

.

.

"Selamat ulang tahun, Tohru!"

Di hari yang dingin itu, serta serasa menyelipkan hawa membeku hingga ke syaraf, sambutan disuarakan meriah dan kerusuhan yang hangat terdengar dari dalam rumah Shigure yang lama. Tohru tersenyum begitu senang dan menyengir sepanjang kepulangannya.

Kyo yang melihat ikut menarik sudut bibir. Sementara Tohru diseret oleh Momiji untuk mencoba makanan yang telah mereka buat, Kyo mengambil tempat di meja kayu itu. Menoleh ke samping, Yuki menatapnya datar.

Sang pemuda tanggung bersurai jingga mengangkat sebelah alis, bertanya cepat, "Apa?"

Gelengan diberikan oleh si iris abu-abu. "Menyenangkan, eh, Kucing Bodoh. Apa kau membantu pekerjaan rumah, atau hanya Tohru yang melakukannya?"

Kyo mendecak. "Tikus Sialan. Aku membantu, kok."

Ayame segera menepuk punggung Yuki keras, menyebabkan pemuda tanggung itu menjengit. "AHAHA! Kalau Yuki sekarang sudah lihai memasak, ya?"

"Berisik, Nii-san …."

Tawa Kyo tercipta. Lalu pada satu titik ketika mereka menikmati keik es krim, Uotani merangkul Tohru, kirimkan satu pertanyaan sederhana dan begitu inosen, "Tohru. Bahagia?"

Tohru menatapnya. Kemudian bola mata secerah kastanya mengedar ke seluruh ruangan, lalu lagi-lagi senyum dan sedikit bulir kristal menyelip dari pelupuknya. "Um! Sangat."

Kyo mengulurkan tangan, mengusap pipi Tohru.

Tapi tetap saja … Akito-san tidak datang, ya.

"Nee-chan, aku ambil buah, ya?" ujar Kisa, tersenyum senang. Tohru mengangguk. Bersamaan dengan itu, yang lain dengan heboh menyusul ke dapur dan memotong buah dingin. Baru saja Tohru ingin mengikuti, Shigure menepuk pundak gadis itu lembut.

"Tohru-kun, Tohru-kun," panggil sang lelaki, sedikit berbisik.

"Ya, Shigure-san?"

"Bisa keluar sebentar? Ada yang ingin bertemu dengan kamu, nih."

Pada awalnya—gadis itu tak paham. Namun ketika ia perlahan singkirkan diri dari keriuhan yang menyenangkan, lalu menggeser pintu depan, tampaklah Akito di sana. Dengan senyum tipis, surai gelap sepundak, serta one piece dress dan jaket hangat.

Senyum Tohru merekah cepat. "A—"

Baru saja ia hendak berseru, Akito buru-buru menaruh telunjuknya di depan bibir, menyatakan untuk jangan laksanakan itu. Tohru mengedip tidak paham. Namun alih-alih menjelaskan, sang perempuan hanya meraih kedua tangan Tohru, menutup pelupuknya, lalu suara lembut itu mengudara, "Selamat ulang tahun, Tohru."

Saat Akito sadar ia tak mendapat balasan, Akito akhirnya sedikit mendongak. Ia dapati sang gadis bersurai kastanya sudah berkaca-kaca, lalu mendekapnya untuk satu sekon ke depan.

Ah—sangat Tohru sekali, ya. Akito terkekeh tipis atas pelukan itu.

Hangat.

"Terima kasih, Akito-san. Aa, ayo masuk ke dalam! Di dalam ada banyak makanan, Hatsuharu-kun memasak, lalu kado yang diberikan Ayame-san cantik sekali!"

Akito menggeleng. "Tidak usah. Aku hanya datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kamu kembalilah, yang lain nanti akan bertanya-tanya."

Mendengar itu, Tohru menatap Akito. Gadis itu kembali menggenggam tangan Akito, erat dan hangat. Hati-hati, ia bertanya, "Apa Akito-san … masih canggung dengan yang lain?"

"Bisa dibilang begitu. Tidak apa."

"Ta—tapi, yang lain …," Tohru meretas ucapannya. Ah—ia tidak seluruhnya yakin, bahwa semua orang akan menerima Akito dengan sukarela, serta senyum tulus di wajah. Meski ia tahu bahwa sama sepertinya, Arisa dan Saki juga menyayangi Akito—tidak begitu kasusnya dengan yang lain. Namun gadis itu tetap menarik napas, menghelanya pelan, tersenyum lalu melanjutkan, "… aku, ingin Akito-san bersama di dalam."

"Tohru memang anak baik, ya," Akito menyahut. Ia sadar Shigure meliriknya, maka ia kembali berujar, "Aku akan segera pulang bersama Shigure."

"Eh? Aku tidak bilang aku ingin pulang, sayang," Shigure membalas dengan penuhi keusilan. Ada rotasi bola mata dari Akito yang akhirnya membuat sang pemilik juntaian sepekat jelaga kembali tertawa.

Baru saja Akito ingin pergi, mendadak, pintu geser yang membatasi antara ruang tengah dan bagian luar terbuka dengan hentakan keras. Baik Tohru maupun Akito tersentak kaget.

"Ah, Akito~!" Ayame yang kali pertama menghampiri, lalu merangkul dengan akrabnya. "Kamu ke sini, toh. Untuk melihat wajahku yang manis ini, kan?"

"Eh, bukan, tunggu—"

"Aaya, aku akan sangat menghargai kalau kau tidak menggoda calon istriku."

"Aduh, Gure-san! Aku hanya akrab, kok!"

Selanjutnya, Momiji mendatangi dengan mengulurkan sepiring kecil es krim kue. "Akito, di dalam masih banyak. Masuk, yuk."

Akito mengerjap tak paham. Tapi lalu, meski sarat akan keraguan, serta detak jantung yang berdetak heboh sebab keterlaluan gugup, ia melangkah mengikuti gerak kaki Momiji. Yuki mendekatinya, tersenyum. "Akito-san, lama tidak berjumpa."

"Eh … ya." Senyuman. Kali ini—tulus. Bukan bingung, lebih-lebih sendu. "Halo, Yuki."

"A-chan, kamu telat. Padahal sudah ingin kuberi tumpangan."

Di percakapan yang perlahan mengalir lancar itu, Tohru tak bisa menahan rasa senangnya. Kyo yang kini berdiri di sebelahnya pun memberi dekapan pada pinggangnya. Ada kecup kecil dilabuhkan pada dahi bagian samping sang gadis.

"Ulang tahun yang ramai, ya."

"Um!"

Ya—betul. Ulang tahun yang menyenangkan. Dikelilingi mereka yang terkasih, kawan terdekat, serta setiap insan yang peduli padanya. Namun lebih dari pada itu, rasa-rasanya …

… melihat Akito yang kini dapat tergelak tipis dan ringan itu adalah hadiah terbaik.

END


A/N: Ini fanfiksi ngebut sekali. Saya habis divaksin, jadi berasa efek samping beberapa hari dan tepar. Lalu di saat tepar itu, kerjaan saya hanya maraton Fruit Basket karena tiba-tiba penasaran. Dan saya tak menyesal. Sambil tepar sambil nangis terharu.

One of the greatest shoujo manga I've ever read. Enjoy.

I think Akito is such a really interesting character. Sure, she was a bad person. She was an abuser, crazy, and there is nothing that can justify those actions. But slowly but surely, she's trying her best to change. I think that's … really nice. And what I love more is; she's okay with everyone hating her and possibly not forgive her. She knows she deserves it but she's still trying to change. She's okay even if Tohru is the only one who wants to stay by her side.

I hope, along with Shigure, those two finally find happiness, just like how Kyo and Tohru find theirs.


Epilog 1

"Eh, Tohru-chan ke mana?" Momiji bertanya dengan sepotong semangka di tangannya.

"Ah, tadi dipanggil Shigure ke depan," sahut Kyo cepat. "Kurasa Akito ingin bertemu dengannya sebentar."

Lalu untuk sesaat, ruangan dibalut hening. Kureno merasa ini sangat, amat—kaku. Jauh di dalam sanubari, ia merasa bahwa ia perlu mengatakan sesuatu. Tetapi, belum sempat suaranya berkumandang jelas, Arisa yang ada di sebelahnya langsung berujar, "Kalau begitu, apakah kita perlu mengundangnya masuk?"

"Tidak pun tak apa," Saki menjawab. "Kita tidak ingin membuat pesta ini serasa kaku, bukan?"

Yuki mengedip. Semakin dikatakan begitu, semakin bersalah rasanya … Uotani-san memang, ya ….

"Aku tidak ada masalah, kok." Kali ini, ada respon dari Momiji. Pemuda di tahun terakhirnya SMA itu menyengir. "Lagipula, bukankah lucu? Siang ini saat aku hendak membeli bahan makanan bersama Haru dan Rin-chan, supermarket begitu sepi dan ada diskon mendadak."

Hatori mengingat-ingat sesuatu, lalu akhirnya menyatukan kepingan memori dan poin sebelum berujar, "Oh. Pantas saja … Akito memintaku untuk membelikan kertas kado dan menaruhnya di toko buku Mayu."

Hiro yang mendengarnya menjatuhkan rahang. "Sebentar—jadi sebetulnya di toko buku itu tidak ada kertas kado?"

"Yah, sebetulnya ada. Tapi yang Akito beli adalah impor."

Ayame tergelak keras. Tidak ada yang kaget soal itu—suara lelaki yang satu ini memang menggelegar. Yang berikutnya membuat insan dalam ruangan itu lagi-lagi termenung adalah kala si surai perak memberi pernyataan sederhana, "Oh. Jadi itu juga alasannya mengapa tiba-tiba ada kiriman material kain dalam jumlah banyak ke tokoku? Sekali lihat, aku tahu itu adalah bahan bagus."

Yuki terkekeh. Atensi kini berpusat ke arahnya. "Yah … Akito masih merasa tidak enak. Ia begitu menarik diri," ujarnya. "Caranya untuk menunjukkan kepeduliannya sangat berputar-putar."

Caranya untuk menebus segalanya.

Hatsuharu kini menatap ke arah Rin. Ia mengulurkan jemarinya, mengusap pipi Rin. Rin menengadah, mengembungkan pipinya. Rona merah muda tergurat pada pipinya. Ekspresi yang selalu Hatsuharu sukai, yang bertanda bahwa perempuan itu sebetulnya memiliki sifat yang lembut namun terlampau tak sering ditampilkan. Kalau sudah begini, bagaimana bilang tidak, kan?

Kyo menggaruk belakang kepala. "Kalau kalian ingin memanggilnya, cepatlah. Kurasa dia akan pulang dengan Shigure sehabis ini."

Dalam satu kalimat itu, Momiji menggeser pintu cepat dan Ayame melonjak keterlaluan heboh.

Kyo menarik sebelah sudut bibir. Didengarnya panggilan, kerusuhan, serta hiruk-pikuk sebelum akhirnya ia sendiri berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Tohru. Menyelipkan lengannya pada pinggang sang gadis dan mengecup pelipisnya.

Hutangku lunas, ya, Akito.


Epilog 2

Saat ponsel Kyo berkedip dan menyatakan ada notifikasi e-mail, sang empunya ponsel pintar mengerutkan dahi. Diraihnya ponsel itu dan jemarinya memberikan gerakan menyeret. Tiket pesawat. Sepasang.

"Tohru," Kyo memanggil sang kekasih yang tengah mencuci piring.

"Ya, Kyo-kun?"

"Kamu sudah membeli tiket?"

"Eh? Belum, kok. Kenapa, Kyo-kun?"

Kyo tidak menjawab. Ia semakin memiringkan kepala, tidak mengerti. Berikutnya, ketika sampai pada bagian penghujung surel, ia menarik sebelah sudut bibir tipis.

Kyo, pakailah tiket ini untuk kembali. Simpan uangmu. Jangan beri tahu Tohru aku yang membelinya.

Dengusan.

"Dasar wanita canggung."