"Gila!"

Hanya kata itu yang sanggup keluar dari mulut Sakura. Betapa terkejutnya ia ketika dihadapi kenyataan bahwa Sasuke dengan begitu lancarnya memilih untuk terlibat dalam misi militer yang berbahaya di tengah kehamilannya yang nyaris menginjak bulan ke delapan.

Di hadapannya, sang suami tidak berkata apa-apa. Sasuke hanya sibuk membolak-balik kertas laporan yang ia bawa dari markas.

"Gak bisa ditunda?" kali ini suara Sakura memelan. Ia menatap sang suami dengan tatapan memohon. Tolong jangan tinggalkan aku. Begitulah kira-kira.

Sasuke mengangkat wajahnya untuk menatap sang istri. Keputusan yang salah. Wajah murung istrinya sekarang jadi terbayang-bayang di kepala. Jika dipikir-pikir, sepertinya ini keputusan yang kurang tepat bagi Sasuke. Istrinya sudah hamil besar. Dia perlu untuk berada di sisi sang istri setidaknya hingga anaknya lahir.

Namun, di lain sisi ini juga kewajiban bagi Sasuke. Sebagai abdi negara, ia harus mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadi. Hal itu jelas ada di sumpah yang ia lakukan sebagai tentara. Hal yang selalu ia pegang sejak awal karir kemiliteran yang ia lakukan hingga kini sukses dipercaya menjadi kapten tim misi penyergapan ke markas para pemberontak.

Sasuke menghela nafas. Entah keputusan apa yang harus dia pilih. Ini menyulitkan.

"Kok enggak dijawab?"

Bukannya tidak mau, hanya saja dia bingung.

"Mikir dulu."

Sakura membuang muka. Cih. Masih saja perlu waktu untuk berpikir. Dengan langkah kaki yang sengaja ia lakukan dengan kasar, Sakura pergi meninggalkan sang suami ke kamar. Membanting dan menguncinya dengan begitu kuat, memastikan sang suami tahu bahwa ia tak mengizinkannya untuk tidur di kamar malam ini. Begitulah cara seorang istri marah.

….

Ketika esok pagi datang, Sakura sama sekali tidak mau bertemu dengan Sasuke. Hari ini Sasuke bangun lebih lambat dari biasanya, karena tidak ada sang istri yang membangunkannya untuk sarapan pagi. Sakura benar-benar mengunci diri di dalam kamar. Nampaknya kali ini dia benar-benar marah dengan keputusan yang Sasuke pilih.

Sasuke mengembuskan nafas. Situasi ini berat bagi dirinya. Sakura yang biasa memahami jika ia harus terlibat dalam perjalanan misi yang jauh, kini secara tiba-tiba tidak setuju dengan rencana tersebut. Sasuke jadi kebingungan mengenai keputusan yang harus dia pilih.

Hari itu, Sasuke menjalani program perencanaan misi dengan tidak fokus. Pikirannya melayang kemana-mana. Sang asisten tim, Rock Lee, sampai kebingungan dengan Sasuke yang baru pertama kalinya bisa tidak fokus dalam rapat.

"Hoi, Sasuke. Are you okay?"

"…"

Sasuke tidak menjawab. Pikirannya melayang entah kemana. Rock Lee mengernyitkan dahi. Wah. Sepertinya ada masalah yang tengah dihadapi pria itu. Baru kali ini ia terlihat melamun bagai pengangguran yang memikirkan nasib masa depan. Benar-benar berbeda dengan apa yang selama ini terjadi.

Rock Lee dengan cepat mengambil ancang-ancang, mengayunkan tangannya. Dengan secepat mungkin, ia melayangkan pukulan ke wajah Sasuke.

GRAB!

Lengannya ditangkap, kemudian diputar. "Ampun, Sasuke!"

….

h-3 misi

"Hoi, brengsek. Kudengar Sakura tengah marah kepadamu?" tanya Naruto iseng sambil menyeruput es capuccinonya. Ia melirik keluar jendela café, membiarkan raut wajah Sasuke yang berantakan itu tidak terlihat di matanya.

"Tau darimana?" Sasuke malah balik bertanya. "Sakura yang bilang?"

Naruto menggeleng. "Tidak. Hinata yang bilang. Katanya Sakura marah kepadamu karena mengambil misi padahal sebentar lagi dia akan melahirkan?"

Sasuke menghela nafas. Ternyata Naruto benar-benar tahu apa yang tengah ia pendam. Baiklah, kali ini dia akan lebih terbuka kepada sahabatnya itu. "Ya. Begitulah. Resiko pekerjaan."

Naruto mengangguk. Meskipun dia bukan seorang tentara seperti Sasuke, dia tahu betul bahwa terkadang pekerjaan yang datang tiba-tiba tidak bisa diabaikan. Ini sudah kewajiban. Hal ini juga sering kali terjadi di pekerjaannya sebagai seorang videografer. Di saat ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarga, ada proyek besar yang tiba-tiba datang. Rezeki seperti itu memang sulit ditolak, toh ini juga akhirnya kembali demi keluarga sendiri.

"Sudah kau bilang kepadanya, teme?"

"Sudah. Dia marah kepadaku. Tidak mau mendengarkan. Aku bingung harus apa."

Naruto menarik nafas panjang. Oke. Rasanya ini benar-benar serius. Tidak pernah sekalipun di belasan tahunnya dalam mengenal Sasuke, ia melihat pria itu benar-benar frustasi dan tidak memiliki jawaban akan permasalahannya. Dari situ Naruto tahu seperti apa makna Sakura bagi Sasuke. Sasuke tidak akan pernah bisa menggampangkan masalah jika itu berkaitan dengan orang-orang penting baginya.

"Memangnya tidak bisa digantikan dengan orang lain? Bilang saja ke atasanmu kalau istrimu sedang hamil besar dan kau tidak bisa pergi."

Sasuke menatap Naruto lekat-lekat. "Kau tahu 'kan seperti apa prinsipku?"

Naruto mendesah kasar. Benar. Sikap Sasuke yang selalu profesional dan mengutamakan kepentingan bersama itu memang mengerikan. Terkadang ia merasa terlalu berlebihan dengan hal itu. Hei, Sasuke. Kau juga berhak saja untuk mengutamakan kepentingan pribadimu sesekali.

"Coba bilang saja lah. Ini kan untuk kelahiran anak pertamamu. Pasti atasanmu ngerti 'kan?"

Sasuke tak bisa menjawab. Entahlah, dia sama sekali tidak pernah memikirkan opsi ini sebelumnya. Tidak pernah terpikirkan karena prinsip yang ada di kepalanya itu benar-benar kuat. Tidak bisa sembarangan ditembus begitu saja meskipun ini tentang keluarganya.

"Coba saja bilang dulu ya. Masalah bisa atau tidak itu kan masalah nanti. Semoga saja kau bisa menemaninya. Bakal jadi momen bersejarah loh itu. Percaya kepadaku, teme. Aku sudah pernah merasakannya, jadi aku bilang begitu."

Ia mengangkat kedua jempolnya dan tersenyum lebar. Sasuke terkekeh pelan. Senyumnya juga mulai ikut naik. Tidak disangkanya Naruto bisa mengeluarkan kata-kata bijak seperti itu. Entah belajar diam-diam dimana saja dia selama ini.

"Terima kasih, dobe."

….

Tok. Tok. Tok.

"Silahkan masuk," kata Jiraiya, mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.

Pintu dibuka, menampilkan sosok Sasuke. Jiraiya menyingkirkan dokumen-dokumen dari tangannya dan beranjak ke sofa di tengah. Tangannya memberi gestur untuk mempersilahkan Sasuke duduk di hadapannya.

"Wah.. ada apa, Sasuke? Tidak biasanya kau ingin bertemu tiba-tiba seperti ini…. Untung aku sedang tidak membaca majalah dewasaku. Hahahaha."

Sasuke diam, tak menjawab. Wajahnya terlihat begitu serius ketika menatap Jiraiya.

Jiraiya menghela nafas. Sial. Ternyata ini serius. "Kenapa? Ada suatu hal serius yang ingin kau bicarakan?"

"Begini… bisakah aku digantikan dalam misi nanti?"

Jiraiya tersentak. Tiba-tiba Sasuke meminta untuk keluar dari misi. Ada apakah gerangan dengan segala keanehan yang tidak biasa ini?

"Hah… kenapa tiba-tiba?"

"Istriku akan segera melahirkan… jadi kurasa… aku perlu untuk menemaninya. Untuk mendukungnya dan agar dia tidak khawatir dengan diriku…"

Jiraiya terdiam sejenak. Baru kali ini dia mendengar nada suara dari Sasuke yang terdengar begitu memohon itu. Entah mengapa rasa iba langsung muncul di dalam hatinya. Tidak tega rasanya ia menolak permintaan pria yang sudah mengabdi di markasnya ini selama beberapa tahun belakangan ini. Selalu bisa diandalkan dan tidak berperilaku macam-macam.

Jadi, sebagai hadiah atas dedikasi yang luar biasa selama ini itu, Jiraiya memutuskan untuk menganggukan kepalanya. "Ya, kau bisa pergi sekarang, Sasuke. Ambillah cuti untuk sebulan ini. Jangan kau pikirkan tentang misi. Aku bisa mengurusnya."

Sasuke tersenyum. "Terima kasih."

"AYO BU! BISA-BISA. SEDIKIT LAGI!"

Sakura mengerang dengan sekuat tenaganya. Ia mulai merasakan kesakitan yang luar biasa di bawah sana. Kepala bayi itu sudah kelihatan, sudah hampir keluar. Rasanya Sakura bisa mati mendadak dengan segala nyeri dan kesakitan yang sekarang ia rasakan.

"Tak apa-apa, Sakura. Lakukan perlahan."

Namun, yang membuatnya bisa melalui semua itu adalah dukungan dari sang suami. Bagaimana Sasuke menatapnya, memegangi tangannya, dan berkata kepadanya dengan begitu lembut membuat Sakura mendapat kekuatan tambahan untuk hal ini. Dengan sekuat tenaga yang ia miliki, Sakura mengerang jauh lebih kuat, mendorong sang bayi keluar.

Tangisan itu pecah kemudian. Bayi menangis dengan begitu keras. Sementara, kedua orang tuanya menangis bahagia mendengar hal tersebut.

Fin.

"Sial, ini begitu bagus." Naruto menatap kesal ke arah layar komputernya. Sebuah kamera terbaru itu menarik perhatiannya. Begitu bagus dan indah, kecuali harganya. Harga yang membuat Naruto memilih untuk menutup aplikasi belanja di komputernya. Terlalu gila baginya untuk menghabiskan uang yang begitu besar itu.

"Naruto-kun!" Hinata tiba-tiba masuk ke kamar. Ia membawa sebuah kotak besar dan sepucuk kertas di atasnya. "Ini ada kiriman dari Sasuke-kun."

Naruto mengerutkan dahi. Hah. Sasuke sama sekali tidak bilang apa-apa tentang paket ini. Kemudian ia mengambilnya dari tangan Hinata, sementara wanita itu kembali ke dapur untuk meneruskan tugas memasaknya. Naruto membuka lipatan pada kertas itu dan membacanya.

Terima kasih dobe atas masukanmu. Semoga kau senang dengan hadiah kecil ini.

Sasuke.

Naruto memutuskan untuk langsung saja membuka paket itu. Ia hanya berharap ini setidaknya bukan bom.

"I-INI?!"

Naruto tidak percaya dengan tatapannya. Berulang kali ia menggosok mata. Berusaha memastikan bahwa yang ada di pandangannya itu memang benar kamera keluaran terbaru itu. Kamera yang berharga puluhan juta itu!

Fin.