「amortentia」
Elsoul59's present
Jujutsu Kaisen diciptakan oleh Gege Akutami dan Harry Potter diciptakan oleh J.K Rownling, saya tidak mengambil keuntungan materiil dari fanfiksi ini.
Main Pair
Gojo Satoru
Itadori Yuuji
Rate
T
Genre
Romance, General, Fantasy
Setting Wizard Universe tanpa kutukan dan pemyihir jujutsu
Warn(!) Bxb, shounen ai, typo(s), humor gagal, minim edit, etc.
Enjoy!
.
.
Siapa bilang sihir itu tidak ada?
Perkenalkan wahai kawan-kawan yang budiman dan budigirl, kini Hogwarts sudah membuka cabang sekolah sihir di salah satu negara di Asia Timur.
Negara dengan julukan negara matahari terbit tersebut menyepakati terbukanya sekolah sihir lantaran populasi penyihir di Jepang mulai meningkat. Menggunakan portkey melintasi benua menuju Inggris di anggap merepotkan sekarang.
Bukan karena memiliki efek samping ketika digunakan melintasi benua, lebih di anggap tidak efisien dengan jumlah penyihir yang sudah meningkat di Jepang, sekali lagi.
Sistemnya masih sama dengan Hogwarts di Inggris. Ada 4 asrama yang menjadi kebanggaannya. Walau replikanya lebih tradisional alih-alih membangun kastil, Hogwarts cabang Jepang ini lebih menggunakan bangunan tradisional yang juga sering bercanda.
Jika kalian lupa betapa absurdnya tangga-tangga bergerak yang ada di Hogwarts Inggris, Maka selera humor bangunan tradisional untuk Hogwarts cabang Jepang ini berada pada koridor-koridornya.
Berhati-hatilah, kalian akan sering lupa arah karena koridor ini.
Ini juga adalah cerita bertahun-tahun setelah perang dunia sihir antara penyihir cilik dan seorang penyihir hitam tanpa hidung.
Dan jika kalian pikir di Jepang tak ada pureblood penyihir, maka kalian salah besar. Hanya saja, populasinya tak sebanyak pureblood Inggris. Menjumpai mereka di Hogwarts cabang Jepang sangat mudah, namun, ada satu keluarga yang agak nyentrik penampilannya. Jika kalian melihat populasi dengan rambut putih, maka mereka adalah Keluarga Gojo.
Kalau-kalau Inggris punya Diagon Alley sebagai pusat pembelajaan penyihir, maka Jepang punya Ginza. Distrik yang terdiri dari beberapa butik mewah, bar hingga teater ini memiliki satu lagi bagian tersembunyi tempat para penyihir membeli perlengkapan. Berbeda dengan Inggris yang masih mempertahankan tradisi pureblood yang tidak ingin tercampur dengan muggle (non penyihir), menteri sihir Jepang justru memilih agar penyihirnya berbaur dengan muggle.
Maka tak mengherankan, daripada jubah hingga setelan resmi sebagai pakaian sehari-hari, rata-rata penyihir apalagi yang dari kalangan muda, lebih sering menggunakan pakaian casual.
Percayalah, kalian tidak akan membayangkan betapa anehnya perpaduan jubah dengan Hakama, Haori, Kimono, hingga Irotomesode. Itu memang aneh. Para penyihir jaman modern lebih suka pakaian casual dan setelan saja jika harus dipadukan dengan jubah untuk acara formal.
Apa tadi sudah disebutkan bahwa Hogwarts cabang Jepang ini punya sistem asrama yang sama dengan Hogwarts Inggris? Jika ya, pikiran kalian pasti berujung pada Slytherin, Gryffindor, Ravenclaw dan Hufflepuff lengkap dengan kebanggannya masing-masing.
Ya, betul sekali. Lalu bagaimanakah cara menentukan asrama para penyihir muda?
Berbeda dengan Hogwarts Inggris yang mewajibkan memasuki sekolah sihir saat usia 11 tahun, Hogwarts Jepang memilih usia 13 tahun (usia legal di Jepang yang di anggap dewasa dan mulai mampu mandiri) dengan sistem pendidikan hingga tingkat ke-7. Dan karena hanya topi seleksi adalah topi yang menemani 4 pejuang Hogwarts hingga mampu menyortir anak-anak berdasarkan asramanya, maka Hogwarts Jepang melalui seleksi ketika cabang di Inggris telah melaluinya.
Artinya, ada jeda satu hari dengan tanggal masuk di tahun ajaran baru.
Masih ingat jika koridor Hogwarts cabang Jepang senang bercanda? Alhasil, kepala sekolah baru Hogwarts cabang Jepang yang di cap memiliki otak miring oleh anaknya sendiri memanfaatkan satu hari jeda di tanggal 1 september itu sebagai hari MPLS alias memperkenalkan lingkungan sekolah oleh sensei-sensei sekalian.
Takut-takut siswa atau siswi baru mentalnya jongkok duluan karena koridor yang selera humornya melebihi selera humor author ayam yang siap di kirim ke giant terdekat.
Kepala sekolah terdahulu justru senang-senang saja dengan koridornya. Kasihan murid-murid terdahulu (termasuk kepala sekolah yang baru, lantaran dengki dengan koridor tersebut akhirnya terjadilah MPLS di 1 September itu sebelum seleksi di tanggal 2 September) yang pastinya kesusahan karena selalu tersesat.
Oke, lalu bagaimana keseharian para penyihir muda yang masih mengenyam pendidikan itu selama di Hogwarts Jepang?
Mungkin, kalian bisa menyimak cerita yang dipenuhi bumbu-bumbu kehidupan di bawah ini.
.
.
Hanya ada beberapa kata yang menggambarkan asrama slytherin dari generasi dahulu hingga sekarang.
Licik, berambisi, kaku, dan jenius walau tidak menyaingi ravenclaw yang seisi asramanya jenius semua, slytherin tetaplah asrama yang mencetak penyihir berbakat.
Namun sepertinya, beberapa kata itu menjadi bergeser sedikit ketika melihat bahwa di Jepang ini, anak-anak asrama slytherin justru ramah dan baik hati walau sikapnya agak dingin dan tetap licik.
Jika menjadikan Ryoumen Sukuna, murid tahun akhir sebagai contoh murid slytherin yang ramah dan baik hati, agaknya itu lebih melenceng lagi. Ya, dia memang ramah, namun untuk baik hati harap tendang saja jauh-jauh kata itu untuk menggambarkan pewaris keluarga Ryoumen.
Jadi, mari mengambil contoh lain.
ㅡseperti, Gojo Satoru contohnya.
Seangkatan dengan Ryoumen Sukuna, perangainya kadang terlihat seperti gryffindor yang jahil. Ketika melihat kilas balik bagaimana rusuhnya penyortiran asrama untuk Satoru, maka ya. Wajar sifatnya seperti gabungan keempat asrama.
Ketika penyortiran, putra tunggal keluarga Gojo ini mengalami beberapa kendala kala topi seleksi sulit menimbang akan menempatkannya di asrama mana. Pribadinya menyenangkan dan baik seperti Hufflepuff, namun tidak dipungkiri ia juga licik dan berambisi seperti slytherin dan berani seperti para gryffindor. Jika mengatakan jenius tidaknya Satoru, sepertinya pertimbangan topi seleksi untuk menempatkannya di ravenclaw patut di ingat dan ya, dia memang jenius seperti para ravenclaw.
Lalu, bagaimana bisa Satoru justru menempati slytherin dengan ekspresi haha-hehe ketika topi seleksi selesai menyortirnya?
Tolong jangan tanyakan pertanyaan di atas atau kalian akan mengalami tekanan mental ketika mendengar tawa aneh yang Satoru keluarkan untuk membalas pertanyaan kalian.
Tahun ajaran baru di tanggal 1 September datang begitu saja. Murid-murid tahun ke 7 apalagi yang memiliki jabatan seperti head boy dan head girl beserta beberapa prefek sudah bersiap membimbing murid-murid, karena laju shinkansen yang diperkuat sihir tidak bisa di anggap remeh maka tidak perlu waktu lama hingga sampai ke stasiun di mana Hogwarts cabang Jepang berada, mereka tiba dalam waktu 2 jam saja.
"GOJO SATORUU!"
Teriakan menggelegar di tambah efek dari mantra sonorus membuat seisi shinkansen rusuh bukan main. Mungkin untuk murid tahun pertama yang akan di seleksi keesokan harinya mereka akan takut alih-alih rusuh. Tapi untuk murid tahun kedua hingga ketujuh paham betul apa yang terjadi.
Gojo Satoru kembali melalaikan tugasnya sebagai Head Boy.
Sudah biasa. Sungguh, anak-anak seangkatan hingga adik tingkat mereka sudah terbiasa. Dan pasti teriakan dari dari Utahime selaku sosok yang memegang jabatan Head Girl.
"Ya tuhan, telingaku" keluh Sukuna. Sosoknya sudah lengkap dengan seragam khusus Hogwarts serta lencana prefek tahun ke tujuh slytherin yang terpampang gagah pada permukaan jubah. Si surai pink dengan tatto di sekujur badan memilih tidak peduli dan membuka pintu kompartemen yang berisi anak-anak tahun pertama. Iris rubynya mengedar sebentar.
"Kalian belum memakai seragam?"
Anak-anak yang berada dalam kompartemen mengangguk. Beberapa ada yang takut untuk sekedar menjawab dan beberapa sisanya malas untuk sekedar mengatakan iya.
Ya wajar saja ada anak yang takut, tampang pewaris Ryoumen ini tak ada bedanya dengan gengster.
Sukuna mengangguk paham, "Tiga puluh menit lagi kita sampai. Cepat gunakan seragam kalian" titahnya, kemudian berjalan cepat melewati tempat anak-anak duduk dan membuka pintu kompartemen selanjutnya.
Selepas Sukuna pergi, anak-anak murid tahun pertama mulai mengganti pakaian mereka. Anak-anak perempuan memilih pergi ke toilet untuk berganti tahu benar bahwa anak laki-laki akan memilih berganti di kompartemen saja.
"Hei Itadori."
Yuuji yang sedang memasang dasinya menatap sosok bersurai hitam yang duduk disampingnya. Belum lama mereka berkenalan, sesama anak tahun pertama sepertinya mereka cukup cepat untuk akrab.
"Apa?" Balas Yuuji. Lepas memasang dasinya dengan benar, ia melipat pakaian yang tadi ia gunakan dan memasukkannya dalam tas.
Anak bernama lengkap Fushiguro Megumi dengan surai hitam serta netra sekelam malam tersebut kembali duduk di sebelah Yuuji lepas dirinya meletakkan pakaiannya di dalam tas. "Prefek tadi mirip denganmu" ungkapnya jujur, matanya memandang malas dan terkesan tidak terlalu peduli.
Yuuji mengerjab sebentar, "mananya yang mirip kecuali warna rambutku? Memangnya kenapa?"
"Tidak. Kau yakin, kau ini kelahiran muggle?" Lagi-lagi Megumi bertanya. Pasalnya karena ia tahu betul siapa sosok prefek tadi, akhirnya Megumi memilih untuk bertanya.
"Selama ini aku tidak pernah melihat sihir. Mendapat undangan sekolah sihir pun aku pusing bukan main. Sudah terlambat untuk april mop, tolong. Nyaris 13 tahun aku hidup aku tidak percaya sihir sama sekali hingga berakhir di sini" keluh Yuuji. Terkena kultur syok apalagi ketika ia pergi membeli tongkat dan nyaris menghancurkan seisi toko.
Ya tuhan, untung dirinya tidak di tuntut ganti rugi.
Akhirnya tawa Megumi mengudara terdengar miris, sudah jadi ketentuan bahwa akan ada beberapa dari pihak Hogwarts yang akan membimbing anak-anak terpilih dari kawasan muggle untuk membeli keperluan sekolah.
Alhasil, karena ayahnya Megumi adalah salah satu staff di Hogwarts maka berakhirlah Megumi dan Yuuji kenal kemudian pergi berbelanja bersama.
Tahu benar bahwa saat memilih tongkat mereka benar-benar menghancurkan toko tersebut.
"Hanya sedikit mencurigakan melihat kemiripanmu dengan Ryoumen-senpai. Keluarga Ryoumen adalah pureblood Jepang, usia keluarganya sama dengan keluarga Gojo, bahkan lebih tua dari keluarga Zenin" Jelas Megumi. Dilihatnya Yuuji yang mengangguk paham.
"Kau sendiri?" Tanya Yuuji.
Tanpa dijelaskan pun Megumi paham maksud pertanyaan Yuuji. "Darah campuran. Ayahku pureblood, ibuku muggle."
Lagi-lagi Yuuji mengangguk paham. Tidak mau terus menerus menggali informasi pribadi Megumi, dia paham betul itu tidak menyenangkan.
"Ah, Itadori?"
Yuuji menoleh, "ya?"
Megumi tersenyum tipis, "Tolong, kalau melihat kepala sekolah nanti jangan terlalu kaget."
Brak!
Baru saja Yuuji akan memblas omongan Megumi, pintu kompartemen kembali terbuka kencang hingga menghasilkan suara keras karena di buka secara kasar.
"AAAAA UTAHIMEEE BERHENTI MENGEJARKU DASAR NENEK LAMPIR!"
"AKU TIDAK AKAN MENGEJARMU JIKA KAU MENJALANKAN TUGASMU DASAR KEPARAT SINTING!"
"AKU MENJALANKAN TUGASKU!"
"KAU KIRA AKU PERCAYA?! KAU PASTI AKAN MENJAHILI ANAK-ANAK TAHUN PERTAMA KALAU AKU TIDAK MENGEJARMU SEPERTI INI! MENGAKU KAU BAJINGAN!"
Megumi menatap datar, tangannya beralih menutup telinga Yuuji. Pertama bertemu pun Megumi tahu Yuuji anak yang lugu. Mana bisa Megumu membiarkan dua seniornya yang sedang perang umpatan terdengar oleh telinga Yuuji?
Tak lama, sosok dengan lencana prefek terlihat. Dasinya berwarna merah, prefek dari asrama gryffindor menghela nafas lelah. Benar-benar, siapa pula yang akan memilih dua manusia yang senang bertengkar ini sebagai head boy dan girl kecuali kepala sekolah yang otaknya tidak jauh dari kata sinting?
"Hei berhenti, kalian menakuti anak tahun pertama!" Serunya.
Satoru yang menangkap suara milik Geto menjerit histeris, "GETOOO TOLONG AKU!"
Geto, si prefek gryffindor menggeram dengki. "Salahmu sendiri yang kabur dari tanggung jawab!" Tandasnya jahat, tidak peduli sama sekali.
Setelah meminta maaf pada murid tahun pertama, Utahime bersama Geto akhirnya menyeret Satoru menuju kompartemen selanjutnya.
"Kenapa kau menutup telingaku?"
Megumi tersenyum miris, "tadi segumpal dosa sedang lewat. Kau tidak boleh mendengar mereka."
.
.
Jika ada satu kata yang menggambarkan pemandangan Hogwarts pada malam hari yaitu, fantastik.
Sudah sebulan berlalu sejak Yuuji menginjakkan kaki pada sekolah sihir yang katanya hasil adaptasi dari sekolah sihir nomor satu di seluruh dunia.
"Ah, murid tahun pertama!"
Lalu, Yuuji menoleh kala bariton bernada riang menyapa rungunya. Ia lantas berdiri dan membungkuk sebentar untuk bentuk hormat formal kepada sang kakak tingkat. Keping hazelnya lagi-lagi menatap takjub sosok didepannya dan berpikir bahwa baru kali ini dirinya mendapati sosok nyentrik dengan surai seputih salju serta iris sebiru langit musim panas selama ia hidup.
Jelas, perumpamaannya pun sama sekali berkebalikan.
"Siapa namamu?" Tanyanya.
"Itadori Yuuji, Gojo-senpai" jawab Yuuji. Ketika hazelnya menangkap sosok ketua murid laki-laki itu memintanya untuk duduk seperti semula dan meminta izin untuk duduk disebelahnya, Yuuji hanya bisa mengiyakan.
Tidak keberatan, untuk apa ia keberatan? Ini tempat umum.
"Hm? Karena kau manis, kau bisa memanggilku Satoru-senpai" celetuk si surai albino yang meminta dirinya di panggil Satoru.
Yuuji di landa geli. "Senpai pikir aku ini makanan?"
Satoru tergelak sebentar. "Jelas bukan, tapi kalau pun kau makanan, aku akan melahap mu dengan senang hati. Kau tahu, aku suka kudapatan manis" kelakarnya sambil mengibaskan tangan tanda bercanda.
"Aku sering melihatmu bersama Megumin, padahal kalian beda asrama. Di kereta juga begitu, tapi aku lupa menanyakan namamu" ujar Satoru. Pemandangan langit dari menara astronomi lengkap dengan angin yang menyapu dirinya cukup membuatnya tenang.
"Senpai lucu sekali saat itu" sahut Yuuji, hazenya berkilat geli kala mengingat pemandangan Satoru yang di seret oleh prefek asramanya dan ketua murid perempuan.
Satoru meringis, "mereka berdua sadis sekali."
Yuuji menggelengkan kepalanya dan berkata, "Itu jelas salah Satoru-senpai. Kalau saja senpai menjalankan tugas pasti mereka berdua tidak akan pusing sama sekali."
Mendengar perkataan sosok yang usianya selisih enam tahun dengannya, Satoru lantas mengedikkan bahu tidak peduli. Ini tahun terakhirnya, apa kalian pikir Satoru tidak akan melakukan banyak hal di tahun terakhirnya?
Tolong lupakan, Satoru jelas tidak mau diikat sebagai ketua murid di saat dirinya ingin bersantai di tahun terakhirnya.
Awalnya, jika yang saat ini duduk disebelahnya adalah orang lain, mungkin Satoru akan langsung menjatuhkan detensi mengingat sekarang sudah melanggar jam malam. Tapi sosok dengan surai pink serta iris hazel memukau ini telah lama meraih atensinya, ya walau jelas dirinya bahkan baru tahu jika nama anak ini Itadori Yuuji.
Ia kira anak ini salah satu anak dari klan Ryoumen, mengingat surainya itu sangat identik dengan klan tersebut.
Saat teriakan topi seleksi terdengar nyaring ditelinganya, meneriakkan gryffindor dengan keras di atas kepala pink milik si Itadori ini, jelas ia bukan dari klan Ryoumen.
Tidak ada sejarahnya keluarga Ryoumen melahirkan anak dengan karakteristik gryffindor sementara mereka terkenal dengan pencetak penyihir berbakat dari asrama slytherin.
"Bagaimana menurutmu dengan dunia sihir?" Tanya Satoru lagi, ketika tahu bahwa sosok yang menarik perhatiannya adalah kelahiran muggle, hanya satu kalimat ini yang ingin ia tanyakan.
Yuuji tertawa meresponnya, "keren! Aku dengar kelas telaah muggle menciptakan robot dengan kendali sihir serta atribut elemen. Aku juga kaget ketika tahu bahwa shinkansen juga memiliki jurusan ke sekolah sihir, semuanya keren kecuali selera berpakaian mereka."
Satoru menganga, "benar!" Serunya histeris. Terlahir dari keluarga pureblood membuatnya mengenal tradisi-tradisi kuno termasuk cara berpakaian yang terlalu formal.
"Bayangkan! Hakama, haori dan jubah, ya tuhan, aku pikir ada yang salah dengan otak fashion mode dunia sihir" keluh Satoru lelah. Mengingat bahwa ketika dikediamannya ia diharuskan menggunakan pakaian tersebut.
Yuuji menatap penuh simpati, "mungkin senpai harus lebih kasihan kepada perempuan yang menggunakan yukata, irotomesode atau mungkin kimono dipadukan dengan jubah."
Membayangkannya Satoru lagi-lagi mengerang geli, ibunya jelas menggunakan kurotomesode dipadukan jubah hitam tiap harinya.
Cukup membuat Satoru gatal untuk berapparate menuju pusat pembelanjaan muggle dan membelikan ibunya beberapa pasang gaun santai untuk di rumah.
"Kau benar, mereka perlu diajari yang namanya fashion" tukas Satoru jahat.
Yuuji mengangguk setuju. "Aku juga berharap Hogwarts membangun tower untuk jaringan ponsel. Apa mereka tidak bisa membuat aplikasi perangkat lunak khusus penyihir? Pasti sangat seru jika ada youtube versi sihir yang isinya bisa dijadikan tutorial belajar mantra atau mungkin aplikasi untuk berkomunikasi. Surat dengan perkamen itu kuno sekali."
Satoru cemberut, ia iri, kenapa muggle sangat praktis?
"Aku pernah dengar ponsel juga bisa digunakan untuk surat-menyurat serta mengirim pesan suara, bahkan melakukan panggilan suara serta video? Apa namanya video?" Tanya Satoru.
"Iya, panggilan video, walau jaraknya jauh, kita bisa saling berbincang sambil melihat rupa masing-masing, bukan hanya suara" jawab Yuuji. Ia sedikit geli melihat Satoru antusias.
"Cool!" Seru Satoru, "kalau seperti itu, tidak perlu lagi menggunakan panggilan flo atau cermin dua arah. Ibuku sering mengirim howler, kalau dunia sihir punya ponsel dan aplikasi untuk bertukar pesan maka tidak perlu lagi howler atau bahkan burung hantu!"
Akhirnya hingga waktu menunjukkan pukul 2 pagi, mereka baru berpisah. Terlalu asik berdiskusi tentang penggabungan teknologi muggle dan sihir. Satoru tak lupa mengantar Yuuji menuju menara asrama gryffindor agar anak kelas satu ini tidak dapat detensi karena melanggar jam malam.
.
.
"Hemmmm."
Sukuna melotot horror kala si pewaris tunggal keluarga Gojo melakukan praktek ilegal di kelas ramuan. Ia sebenarnya sedang melakukan patroli hingga ia menemukan Satoru yang tertawa-tawa di dalam kelas ramuan.
"Hoi, kau mau jadi sejarah satu-satunya ketua murid yang pernah terkena detensi?" Tandas Sukuna kala iris rubynya menangkap Gojo yang nyaris menyelesaikan praktik ilegal ramuannya.
Satoru pamer senyum tampan, namun sayangnya yang ia senyumi tidak kalah tampan. Jadi alih-alih menjerit histeris, Sukuna justru mengerang jijik.
"Asal kau tidak melaporkannya maka tidak ada masalah yang akan terjadi" jawab Satoru enteng. Ketika merasa warna ramuannya mulai benar sesuai intruksi yang ia hafal di luar kepala, ia memasukkannya ke dalam botol ramuan. Tak lupa menjentikkan tongkatnya dan menggunakan mantra non verbal untuk merapikan kekacauan yang ia buat.
Sukuna mengedikkan bahu tidak peduli, "memangnya apa yang kau buat?"
Satoru tersenyum miring, tak lupa memarken botol ramuan yang ia pegang, "bukannya kau sudah tahu dari warnanya?"
"Untuk murid tahun pertama?"
"Tentu, yang mirip dengamu."
Helaan nafas keluar dari Sukuna, "sinting" umpatnya. Memang benar sudah beredar kabar bahwa Satoru menyukai murid tahun pertama gryffindor yang orang sebut seperti carbon copynya. Dan kabar ini masih hangat saja walau sudah 4 bulan berlalu.
"Kau kan bisa tidak menggunakan itu" tandas Sukuna.
Satoru bersiul penuh goda dan berujar, "banyak jalan menuju roma, wahai kawanku!" Kemudian berlalu meninggalkan Sukuna yang menatapnya kesal.
.
.
Keesokan harinya, Satoru benar-benar meneteskan ramuan yang ia buat dalam dosis sedang ke dalam minuman Yuuji menggunakan mantra non verbal.
Jika soal mantra, Satoru memang tiada duanya. Ia bahkan sudah memenangkan beberapa ajang spell creafting. Artinya, Satoru memang sudah banyak menciptakan mantra, apalagi mantra non verbal yang bahkan menggunakannya tidak perlu ayunan tongkat lagi.
Iris birunya menatap lekat Yuuji yang meminum ochanya hikmat sembari membaca buku ramuan tingkat 1. Irisnya terus menatap hingga beberapa menit kemudian Yuuji sudah bangkit dan meninggalkan aula tanpa reaksi sama sekali dari minuman yang sudah Satoru campur dengan ramuan.
Satoru melotot tidak percaya. Apa ia salah membuat ramuannya? Kenapa Yuuji tidak bereaksi?
keping ruby milik Sukuna juga sama terkejutnya dengan Satoru hingga ia beralih menatap Satoru yang duduk disampingnya. Ia berbisik, "kau salah membuat ramuannya?"
Satoru menggeleng cepat, "tidak, warnanya juga sesuai dengan apa yang aku ingat, baunya juga sama seperti bau Yuuji. Aku benar-benar membuat amortentia dan memindahkan ramuannya ke dalam ocha milik Yuuji. Aku juga melihatnya meminumnya!"
Mei yang duduk di depan keduanya melotot horror, "kau membuat amortentia dan mencampurnya ke minuman anak tahun pertama?!" Ujarnya setengah berseru. Untung tidak terdengar orang disekitarnya mengingat sisa anak-anak slytherin yang masih menikmati sarapan duduk agak jauh darinya, Satoru dan Sukuna.
"Ya, memangnya kenapa?"
Sukuna menatap malas, tak lama ia berdiri dan berkata dengan penuh hina, "dasar pedofil sinting, kau bisa mendekatinya pelan-pelan tanpa ramuan aneh itu" kemudian meninggalkan Satoru dan Mei.
"Lalu kenapa ramuannya tidak bekerja?" Tanya Mei heran. Satoru cukup hebat di bidang ramuan, harusnya murid tahun pertama yang ia tahu bernama lengkap Itadori Yuuji kini mengejar-ngejar Satoru dan meminta Satoru menjadi kekasihnya.
Ramuan amortentia berefek pada orang yang meminumnya, ia akan menjadi terobsesi dengan si pembuat ramuan.
Harusnya memang begitu.
LALU KENAPA YUUJI TIDAK BEREAKSI SEPERTI SEHARUSNYA?!
Yah, mungkin ini teriakan benak Satoru.
.
.
"Eh? Ryoumen-senpai" sapa Yuuji kala sosok bersurai pink menghampirinya yang sibuk menulis essai pertahanan terhadap ilmu hitam.
Sukuna mengangguk sebentar, rubynya memperhatikan Yuuji lekat. Tidak salah, anak ini memang mirip dengannya. Lantas irisnya melembut, ia mengangkat tangannya dan menepuk puncak kepala Yuuji lembut. "Kau bisa memanggilku kakak."
Yuuji mengerjab, "Sukuna nii-san?"
Kekehan lirih terdengar, "ya. Ah ngomong-ngomong bisa kau ke menara astronomi sekarang? Gojo mencarimu."
Setelahnya Sukuna meninggalkan Yuuji kala rubynya menangkap senyum lebar di rupa yang mirip dengannya yang bersiap menghampiri sosok yang ia sebutkan tadi di asrama astronomi.
Selesai dengan buku-bukunya, Yuuji lantas melajukan langkahnya dengan cepat menuju menara astronomi. Sesampainya di sana, ia mendapati sosok jangkung yang ia kenal sebagai sosok senior sekaligus orang yang digosipkan menyukainya.
"Senpa?"
Satoru tersenyum lebar, "hai. Sudah menyelesaikan semua tugasmu?"
Yuuji mengangguk semangat. "Sudah. Ada apa senpai memanggilku?" Tanyanya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengamu." Satoru memberi gestur agar si surai pink dengan iris hazel memukau duduk disebelahnya.
"Apa?"
Yuuji mendengar helaan nafas dari sosok disebelahnya. Ia hanya tersenyum tipis meresponnya. Hingga tiba-tiba Satoru menggenggam sebelah tangannya, Yuuji tidak bisa untuk tidak terkejut.
"Eh? Ada apa senpai?" Tanya Yuuji lagi. Nadanya gugup. Jelas, siapa yang tidak gugup kala tangannya digenggam erat? Apalagi oleh sosok seperti Gojo Satoru?
"Maaf" desis Satoru. Yuuji masih mendengarnya dengan jelas.
"Untuk apa?" Lagi-lagi Yuuji di buat bingung.
Satoru makin menggenggam tangan Yuuji erat-erat. Netra birunya menatap Yuuji dalam kemudian berkata, "maaf, aku benar-benar menyukaimu."
Hening.
Yuuji mengerjab, "ahㅡ aku juga menyukai senpai, senpai baik padaku, jadiㅡ"
"BUKAN BEGITU!" Seru Satoru keras. Ia memotong ucapan Yuuji, ia benar-benar tidak asal menyukai Yuuji. Perasaannya serius, baru kali ini ia merasakannya, ia memang bukan manusia yang menganut asas cinta pada pandangan pertama, namun naasnya hanya kepada Yuuji ia merasakan sensasi aneh namun menyenangkan seperti ini.
Bukan waktu sebentar juga hingga Satoru menarik kesimpulan tengang perasaannya pada Yuuji. Butuh waktu lama baginya untuk menerima bahwa dirinya menyukai sosok adik kelasnya. Sosok yang senyumnya sehangat mentari di pagi hari, sosok yang mempunyai banyak harapan di kilau hazelnya.
"Aku mencintaimu. Bukan sekedar menyukaimu. Perasaanku serius" terang Satoru. Tangannya belum melepaskan tangan Yuuji. Kelereng birunya masih menatap hazel Yuuji dalam. Mencari respon apa yang akan Yuuji berikan padanya.
"Ah" Yuuji menyahut canggung, ia tidak bisa menghindari iris biru Satoru yang menatap lurus padannya. Wajahnya memerah, ia kemudian menunduk kala merasa Satoru makin serius menatapnya.
Sekali lagi, ia memang benar pernah mendengar bahwa seniornya ini menyukainya.
Walau begitu, Yuuji tidak mau besar kepala. Siapa yang tidak menyukai Gojo Satoru? Lepas dari betapa sempurnanya sosok ketua murid tahun ke tujuh, Yuuji memang benar menyukai Satoru.
Sifatnya menyenangkan, obrolannya pun selalu tersambung dengannya. Sosok seniornya juga orang yang perhatian padanya walau Megumi berkata jelas padanya bahwa Satoru bukan sosok yang sama dengan yang ia jelaskan.
Yuuji memang menyukainya, dalam konteks romansa yang tidak pernah ia sangka-sangka akan ia alami di usia 13 tahun, pada sosok sesempurna Satoru pula.
"Yuuji?"
Ringisan keluar dari Yuuji, "itu, aku juga menyukai senpaiㅡ" Yuuji bisa melihat kilat kecewa pada netra biru Satoru, "ㅡdalam konteks romantis tentunya. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau senpai juga menyukaiku seperti itu" lanjutnya malu. Jemari lentiknya yang berhasil terlepas dari genggaman tangan Satoru yang sepertinya masih terkejut dengan responnya mengipas wajahnya yang ia rasa sudah berganti warna menjadi merah sempurna.
Memalukan.
Lepas beberapa detik Satoru mampu mencerna apa saja yang baru dikatakan Yuuji padanya, ia lantas meraih Yuuji masuk ke dalam dekapannya. "Terimakasih" bisik Satoru tepat di telinga Yuuji. Wajahnya tenggelam pada perpotongan leher kepemilikan Itadoi bersurai pink.
Yuuji hanya bisa mengangguk dan balas mendekap Satoru. Sebelah tangannya mengelus surai putih Satoru lembut.
Beberapa menit dalam posisi tersebut, akhirnya Satoru melepaskan pelukannya. Ia menunduk sebentar, Yuuji memperhatikannya dan tersenyum lucu.
Yuuji berpikir, baru kali ini dirinya mendapati sosok yang selalu memasang wajah angkuh ini memerah hingga telinga.
Ternyata bukan hanya dirinya yang malu.
Lantas, ketika keduanya sudah bisa mengendalikan diri, Satoru kemudian mengaitkan jarinya dengan jari Yuuji. Seketika ia teringat sesuatu, "Yuuji?" Panggil Satoru.
Sebenarnya ada alasan kuat mengapa ia mengatakan perasaannya pada Yuuji sekarang. Tahu amortentia buatannya gagal total dan tidak bekerja, ia di buat uring-uringan seharian ini. Hingga Geto dan Shoko yang memang sudah menjadi temannya dari tahun pertama walau mereka berbeda asrama mengerang kesal melihat gelagatnya serta Sukuna yang duduk tak jauh dari mereka bersama Uraume menjelaskan mengapa ia uring-uringan, akhirnya kedua sahabatnya itu mendorongnya untuk berkata jujur saja pada Yuuji.
"Hm?"
Satoru menghela nafas sebentar, "aku minta maaf lagi."
Yuuji mengerjab bingung, hazelnya menatap Satoru dan berkata, "untuk apa? Senpai tidak punya salah apapun."
"Ituㅡ" Satoru tersenyum tipis, ia kemudian mengerling jahil, "ㅡsebenarnya aku menuangkan amortentia pada minumanmu pagi tadi" lanjut Satoru.
"Hah?!" Yuuji menganga tidak percaya. "Pantas saja ochaku rasanya jadi aneh!" Keluh Yuuji pada akhirnya.
Meresponnya Satoru tertawa lebar, ia kembali meraih Yuuji dalam dekapannya dan mengecup dahi Yuuji sayang, "aku heran, kenapa ramuanku tidak bekerja sama sekali padamu?" Tanyanya bingung namun juga geli di satu sisi.
Diperlakukan lembut oleh Satoru mau tidak mau Yuuji mengerang kesal. Tidak suka di buat malu seperti ini oleh Satoru, wajahnya memerah lagi. "Bodoh" makinya.
"Aku ini jenius" balas Satoru bercanda.
Yuuji memutar bola matanya, "kau memberikan ramuannya pada orang yang juga suka padamu. Tentu saja tidak ada efeknya. Dikatakan bahwa amortentia tidak akan bekerja ketika diberikan pada orang yang memiliki perasaan khusus dalam konteks romantis pada si pembuat ramuan" jelas Yuuji.
"Memang ada yang seperti itu?"
"Tantu saja! Harusnya senpai membaca ketentuan ramuannya dengan benar."
Lantas tawa Satoru mengembang, sepertinya ia benar-benar lupa tentang ketentuan khusus tentang efek amortentia. Ah, tapi ada bagusnya juga ramuan ini tidak bekerja, ia jadi bisa mendapat balasan penuh cinta dari bocah menggemaskan di dalam dekapannya ini.
.
.
[A/N] hai :D
Ah iya, ini 4k word lebih, semoga kalian tidak bosan :D
Makassar, 23 Agustus 2021
Elsoul59
