Prince of Tennis © Konomi Takeshi
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Fuji Shuusuke, Shiraishi Kuranosuke,
Tezuka Kunimitsu,
.
0o0o0o0
querencia
0o0o0o0
.
Fuji meraba sisinya, tidak ada kehangatan yang tertinggal di sana. Pandangannya masih sedikit buram, tapi selang beberapa detik kesadarannya mulai kembali. Warna putih langit-langit kamar membawanya pada rasa rindu akan kehangatan yang dulu pernah dirasa.
Saat dirinya bergerak bangun dari posisi tidur satu lembar memo yang tertinggal di bawah lampu tidur langsung menarik perhatiannya. Yang tertulis di sana sangat singkat dan rasanya Fuji sudah menghapal betul isi memo yang sengaja Tezuka tinggalkan untuknya.
Ini bukan kali pertama!
"...maaf, aku harus segera kembali ke kantor. Sampai jumpa di kantor besok," lirihnya. Senyum kecut tertarik naik ketika tangannya meremas memo tadi.
Fuji lelah dengan sikap Tezuka yang selalu datang hanya untuk sekedar tidur sesaat bersamanya kemudian menghilang, sibuk dengan pekerjaannya. Tapi hatinya tidak bisa berhenti berharap kalau suatu hari akan datang saat di mana Tezuka masih terbaring di sisinya ketika terbangun, tersenyum mengucapkan selamat pagi, mendapat morning kiss yang manis, kemudian mereka sarapan bersama dan disambung dengan menghabiskan waktu bersama seharian.
Harapannya bukan hal yang terlalu muluk, sayangnya mewujudkan harapan itu mungkin hal yang teramat sulit dan hampir mustahil bagi Tezuka yang sekarang.
Hubungan mereka sudah memasuki tahun kelima, bukan waktu yang pendek untuk sebuah hubungan tapi bertahan dengan Tezuka yang terus mengutamakan pekerjaan membuat 'bukan waktu yang pendek' tadi jadi semakin terasa lama. Dan Fuji mulai pasrah dengan semua itu sejak dirinya mengenal orang lain yang mugkin bisa memberinya kehangatan yang Fuji rindukan tadi.
"Oh, pagi, Shiraishi," sapanya setelah sambungan telepon diangakat oleh orang yang dituju.
"Pagi, Fuji-kun!" Fuji diam sejenak, memikirkan kalimat apa yang tepat untuk membuat lawan bicaranya pada sambungan ini bisa mengerti posisinya saat ini, tapi kemudian Shiraishi jusru menambahkan, "Mau aku jemput? Kau ada di hotel kan sekarang?"
Helaan napas mengawali jawabannya, "Iya, tolong jemput aku ya?"
"Siap, tuan!" kemudian disabung tawa renyah yang entah mengapa bisa membuat Fuji ikut terkekeh pelan. "Kirimi aku lokasi hotelnya, aku akan langsung menjemputmu."
"Terima kasih, Shiraishi."
.
0o0o0o0
.
Begitu masuk ke dalam mobil dan menutup kembali pintunya Fuji memberi hadiah kecil untuk teman-bermain-apinya ini. Satu kecupan singkat pada bibir yang kemudian dilanjut dengan ciuman yang lebih intens untuk beberapa saat.
Ini bukan kali pertamanya, ini sudah yang kesekian kali, Fuji sudah lama melupakan hitungan waktu yang dia habiskan dengan teman satu departemennya ini. Shiraishi sendiri tidak buta, tidak tuli, dan jelas memahami tentang hubungannya dengan Tezuka. Tapi dua tahun lalu, tepat setelah Tezuka naik jabatan dan dipindah pada departemen lain, saat Fuji mulai merasa ada jarak yag terlalu jelas dalam hubunganya dengan Tezuka, Shiraishi tiba-tiba saja datang dan menawarkan kehangatan yang hilang terbawa kesibukan Tezuka.
"Ini hari minggu, Tezuka-kun tetap berangkat ke kantor?" Fuji mengangguk, enggan memberi jawaban langsung karena masih tersisa rasa kesal saat mengingat dinginnya tempat disisinya tadi pagi. "Dia terlalu rajin."
Itu benar. Tezuka terlalu rajin. "Aku tahu editor memang sibuk, tapi bukan berarti dia sama-sekali tidak punya waktu untuk sekedar menunggu aku bangun. Atau paling tidak dia bisa membangunkanku dan pamit."
Shiaraishi tertawa, di sela tawa itu dia menjawab, "Setidaknya dia masih menyempatkan diri untuk menemuimu dan tidur denganmu, kan?"
Itu benar. Fuji sangat berterima kasih karena Tezuka masih berusaha untuk menyempatkan diri menemuinya dan berhubungan dengannya, tapi lama kelamaan Fuji mulai merasa dirinya hanya dimanfaatkan sebagai sarana penghilang stress dari tumpukan kerja. Tezuka tidak pernah lagi mengajaknya kencan, tidak ada waktu bersama selain di atas ranjang, dan tidak ada tanda-tanda kalau Tezuka sadar bahwa hubungan mereka semakin merenggang.
"Nah, Fuji-kun."
"Hm?"
"Kenapa kalian masih memilih untuk bersama kalau memang hubungan kalian merenggang?"
Fuji sendiri sering mempertanyakan hal itu pada dirinya sediri. Dan jawabannya selalu sama, "Mungkin karena aku takut kehilangan dia, aku masih mencintainya bagaimnapun dia."
Kali ini helaan napas pasrah datang dari Shiraishi yang sibuk mengendarai mobil sambil sesekali menoleh pada Fuji. Segaris senyum mengejek naik saat Shiraishi mengatakan, "Tidak pernahkah terpikir olehmu kalau mungkin bukan hanya kau yang bermain api di belakangnya?"
Fuji terdiam.
Pikiran itu tidak pernah ada karena Fuji cukup percaya kalau Tezuka masih mencintainya.
"Bisa jadi Tezuka-kun juga melakukan hal yang kita lakukan tanpa sepengetahuanmu." Tidak ada kata yang bisa Fuji suarakan. "Lagian, mana ada karyawan yang terlalu rajin sampai harus berangkat bahkan dihari liburnya, kan?"
Tangan Fuji mengepal kuat. Shiraishi benar!
Bisa jadi Tezuka sama sepertinya.
Itu bukan kemungkinan yang kosong, dua tahun terakhir waktu yang Fuji habiskan dengan Tezuka jauh lebih sedikit dari sebelumnya. Tapi Fuji tahu betul kalau pekerjaan Tezuka memang menyita banyak waktu kekasihnya itu. Dan walaupun hanya sedikit waktu yang bisa mereka habiskan bersama, orang yang selalu meminta bertemu, orang yang selalu menawarkan waktu bersama adalah Tezuka sendiri.
Selagi dirinya mencari kehangatan lain, Tezuka mungkin sibuk mengatur waktu pekerjaannya demi bersama dengan Fuji, jadi kepala menggeleng.
Satu senyuman penuh rasa bangga Fuji pamerkan pada Shiraishi. "Dia terlalu mencintai aku, jadi tidak mungkin dia melakukan hal seperti yang kita lakukan. Lagi pula kalaupun memang benar dia sama dengan kita, aku tidak masalah dengan itu." Itu Karma untukku!
Ada tenggat waktu yang berlalu dalam keterdiaman mereka berdua di dalam mobil sampai akhirnya Shiraishi menepikan mobilnya, mematikan mesin dan tersenyum pada Fuji. Sabuk pengaman yang terpasang langsung mereka lepaskan. Fuji paham betul apa yang Shiraishi inginkan sekarang karena itu juga hal yang dia inginkan.
Shiraishi memundurkan jok duduknya dan menarik pedal untuk menurunkan sandaran sampai pada posisi hampir terlentang. Dari sana Fuji berpindah ke atasnya, satu lagi ciuman singkat mengisi waktu selagi mereka sama-sama menanggalkan pakaian mereka.
"Aku suka memelukmu, Fuji-kun," Shiraishi membisikannya selagi mengecupi pangkal leher Fuji, memberi rasa gelitik yang hangat.
"Kenapa?"
"Karena panas tubuhmu lebih tinggi? Yah, intinya kau hangat saat dipeluk."
Fuji kembali terdiam. Ingatan tentang Tezuka yang juga pernah mengatakan hal serupa memberi sedikit rasa nyeri dan bersalah di dalam dada. Tapi Fuji sendiri menyukai kehangatan yang Shiraishi bagi padanya saat ini.
"Kau juga."
"Hm? Apa?"
"Aku juga suka dipeluk olehmu, karena itu hangat."
Senyum Shiraishi naik semakin tinggi, "Bersiaplah kalau begitu, kita akan semakin panas habis ini."
.
0o0o0o0
.
02/10/21 12:32
Yuhuu~ saya bawa abang ganteng kita jadi tikungan yang mulus~
Dan akhirnya aku kesampean buat biki Fuji rada nackal, wkwkwkwk!
Semoga kalian suka juga.
Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan jejaknya.
Segitu dulu dariku, jangan lupa jaga kesehatan kalian ya.
Bye~
.
0o0o0o0o0
Note:
querencia (n.) a place where one feels safe, a place from which one's strength oh character is drawn.
.
INFO PENTING!
Buat kalian pembaca fanfiksi jangan lupa follow Twitter dan IG dari Fanfiction Addict. Di sana kalian bakal dapet banyak info tentang fanfiksi apik, untuk yang sesama penulis kita juga punya prompt-prompt bagus buat yang mungkin aja bisa jadi hidayah untuk kalian saat bikin fanfiksi dan akan ada banyak event-event seru untuk sesama penulis.
Nah, sebelum ketinggalan, ayo follow kami di IG ffa_id dan Twitter FFA_ID.
Oh, dan bagi yang berminat langsung gabung dengan GC Fanfiction Addict, bisa PM langsung ke sini.
