Bunuh aku selagi sempat. Bawa aku mati bersamamu.
.
Bawa Aku Bersamamu
.
Naruto dkk punya Om Kishi
Sasori A. Sakura H.
Sekadar mengingatkan bahwa AU SasoSaku ini sangat ngawur dan amburadul.
Kalo gasuka, skip aja MaFren.
oke, selamat membaca!
.
.
.
Bekas-bekas pertarungan masih terasa, asap yang mengepul masih belum menghilang, dan tiga sosok itu masih tetap pada tempatnya. Akasuna Sasori tangah berhadapan dengan nenek Chiyo, neneknya sendiri. Dan, seorang kunoichi dari Konoha, Haruno Sakura. Sakura menghadap nenek Chiyo, menanyakan keadaannya. Dan Nenek mengatakan jika dia baik-baik saja. Sakura lantas mendekat pada nenek Chiyo, dan memintanya untuk pergi menyusul Gaara. Gaara pasti sangat membutuhkannya saat ini. Namun, nenek Chiyo menolak, dan tetap ingin bertarung melawan Sasori, apalagi melihat kondisi Sakura yang semakin lemah. Sakura menggeleng keras, "Aku bisa menghadapinya. Nenek pergilah, sebelum semuanya terlambat. Gaara tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Mendengarnya membuat nenek Chiyo terdiam. "Aku akan menahannya disini, sampai salah satu, atau mungkin kami berdua mati. Jika dia mati, aku akan segera menyusul nenek," Sakura terdiam sejenak "jika aku yang mati, aku yakin sudah terlambat baginya untuk mengganggu nenek menyembuhkan Gaara." Nenek Chiyo terkejut. Begitu juga pria Akasuna yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan mereka.
.
Setelah perdebatan yang sedikit alot, akhirnya nenek Chiyo menyerah, dan melanjutkan perjalanannya menyusul Gaara. Dan disinilah Sakura, berdiri terdiam di hadapan salah satu anggota akatsuki, Akasuna Sasori. Pria Akasuna itu berjalan mendekat kearahnya, tapi Sakura tetap diam ditempatnya. Sampai akhirnya tak ada lagi jarak diantara mereka. Akasuna Sasori mengangkat kedua tangannya, mengarahkannya kepada kunoichi di hadapannya, dan kemudian, memeluknya dengan erat.
"Bunuhlah aku," lirih Sasori.
Sakura menggeleng sebelum membalas pelukan Sasori. "Sasori-kun tidak boleh mati", ucapnya bersamaan dengan air yang mengalir dari matanya.
"Aku sudah meracunimu, waktumu tidak banyak lagi. Bunuh aku selagi sempat. Bawa aku mati bersamamu", Sasori melepaskan pelukannya, membawa Sakura untuk duduk di pangkuannya.
"Kenapa kita harus mati? Tidak bisakah kita hidup bersama lebih lama." Sakura mendongak menatap wajah awet muda pria Suna itu.
"Kau tahu kan, aku adalah buronan, semua orang mengincar nyawaku. Bagaimana aku bisa hidup lebih lama lagi?" Sasori mengusap lembut rambut merah muda wanita di pangkuannya. "salah satu dari kita harus mati disini, tapi aku tak mau kau hidup sendiri didunia yang kejam ini, dan aku juga tak mau hidup sendiri tanpamu. Aku tau kau tidak akan mau membunuhku, dan aku juga tidak akan sanggup membunuhmu. Jadi, mari kita mati bersama." Sasori meraih sebuah kunai di dekat mereka, memberikannya pada Sakura.
Sakura melemparkan kunai yang baru diterimannya dari Sasori. "Aku mau mati, tapi tidak sekarang. Ada beberapa hal yang harus ku lakukan, dan aku tak bisa melakukannya sekarang," Sakura meringis sakit saaat menyuntikkan penawar racun pada pahanya. "Dan kalau suatu saat nanti aku mati, Sasori-kun harus tetap hidup." Sakura membelai lembut pipi Sasori. Dan mengalirkan cakra ke perutnya menggunakan sebelah tangannya.
"Untuk apa aku hidup jika kau tidak ada bersamaku?" Sasori kembali memeluknya, lebih erat dari sebelumnya.
Sakura meraih sebelah tangan Sasori, membawanya bergabung dengan sebelah tangan Sakura yang sedang mengalirkan cakra. "Sasori-kun harus hidup," dunia Sakura mulai berputar-putar, "untuk anak kita." sebelum segalanya berubah menjadi gelap.
.
.
Naruto adalah orang pertama yang dilihat oleh Gaara ketika matanya mulai terbuka lagi. Bukankah seharusnya Gaara sudah mati sekarang? Mengingat shukaku sudah diambil dari tubuhnya. Naruto membantu Gaara untuk duduk, kelegaan terlihat jelas diwajahnya. Gaara bertanya tentang bagaimana bisa dia hidup kembali, dan Naruto tampak ragu unutuk menjawabnya. Gaara menatapnya bingung. Raut wajah Naruto berubah total, Naruto tampak murung sekarang. Naruto menunjuk kearah nenek Chiyo yang terbaring didekat Gaara, "Sebenarnya nenek Chiyo yang men-"
"TOLONG AKU!"
Naruto, Gaara dan semua orang yang ada di tempat itu menoleh ke asal suara, dan di sanalah Akasuna Sasori berdiri dengan penampilan yang kacau, ekspresi wajahnya tak lagi datar, melainkan sangat terpukul. Naruto menurunkan pandangannya, dan tersentak saat melihat seseorang yang sedang Sasori bawa dalam gendongannya, Haruno Sakura, rekan se-timnya. Beberapa orang Jounin segera menghampiri Sasori dan menodongkan senjata mereka. Namun, Sasori tak melawan sedikitpun, dia terus saja menggumamkan tolong tolong dan tolong. Naruto merasakan sesuatu yang janggal, ada apa dengan anggota akatsuki ini? Kenapa dia membawa Sakura bersamanya? Jika dia berhasil membunuhnya, kenapa sekarang dia harus membawanya kemari dan meminta pertolongan? Apa ini hanya tipuan? Dan Kalaupun Sakura masih hidup, untuk apa pula Sasori membawanya kemari, bukankah Sakura adalah musuhnya? Apa pria Akasuna itu ingin mengantarkan nyawanya sendiri secara Cuma-Cuma? Mengingat dirinya adalah seorang buronan, dan tempat mereka berada sekarang dikelilingi banyak shinobi dan kunoichi dari Konoha dan Suna. Naruto memutuskan untuk mendekat kearah mereka, dan merasakan cakra Sakura yang hampir menghilang.
"Apa kalian benar-benar tak akan menolong kami?" tanpa sadar, Sasori menitikkan air matanya. "Jika dia mati disini, Aku juga akan membunuh kalian semua,"
'dan akan kubiarkan kalian mebunuhku juga,'
"aku akan menyerahkan diriku, jika kalian berhasil menyelamatkannya." Sasori mengusap air matanya. "Lakukan apapun kepadaku, tapi kumohon jangan ambil nyawaku", lirihnya kemudian.
Gaara mendekat kearah Sasori, "Kenapa kami tak boleh membunuhmu?" tanyanya begitu sampai di hadapan Sasori. Naruto menoleh sejenak kearah kazekage Suna itu, sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Sasori yang kini sedikit tertunduk, menatap wajah wanita dalam gendongannya. "Karena aku tak mau, anakku hidup tanpa Seorang Ayah."
.
Beberapa ninja medis mengelilingi Sakura yang terbaring ditanah dengan paha Sasori sebagai bantalnya, berusaha menyelamatkannya. Beberapa shinobi lainnya berdiri di belakang Sasori, bersiaga dan menodongkan senjata mereka. Sasori tak terusik sama sekali, dia terus membelai lembut kepala Sakura dipangkuannya, dan terus membisikkan kata-kata cinta untuk Sakura. Beberapa kali juga meminta Sakura untuk segera bangun, dan tetap kuat. Air mata Sasori bahkan tak lagi dia usap. Rasa bersalah terus mengganggunya. Dia pikir akan lebih mudah jika mereka mati bersama. Dia meracuni Sakura diam-diam, dan bermaksud memancing nenek Chiyo untuk membunuhnya. Tapi, ini semua di luar perkiraannya. Andai saja dia tahu jika Sakura sedang mengandung anak mereka, Sasori pasti akan memikirkan cara lain untuk bisa terus bersama dengan Sakura dan anak mereka. Tapi, semua sudah terlanjur. Sasori hanya bisa berharap, semoga Tuhan menyelamatkan Sakura dan anak mereka. Semoga tuhan bersedia mengampuni kesalahannya. Dan semoga semoga yang lainnya. Sasori masih terlarut dalam pikirannya, sampai akhirnya tersadar oleh usapan lembut dipipinya.
"Sasori-kun",
Sasori terdiam,
"kenapa menangis?" ,
dan terpejam merasakan jemari Sakura yang tengah mengusap air matanya .
"apa ada yang mati?"
Sakura tersenyum lemah, Sasori segera memeluk Sakura. menyampaikan segala rasa sesalnya, dan juga betapa bahagiannya dia melihat Sakura tersadar.
"Jangan begini lagi," Sakura mengangguk dalam pelukan Sasori "Kau membuat ku khawatir." Sasori mencium kening Sakura dengan lembut, dan Sakura semakin mengeratkan pelukannya.
.
.
.
Tsunade menusuk Sasori dengan tatapannya, sebelum bergegas meninggalkan ruang rawat Sakura. Jika tatapan bisa membunuh, saat ini Sasori pasti sudah terkapar berdarah-darah. Sakura terkekeh geli, membuat Sasori mendengus sebal. "Kau dengar yang dikatakan nenek sihir itu, kau harus beristirahat penuh beberapa hari kedepan." Sakura terbahak mendengarnya. Sasori mau tak mau ikut tersenyum simpul. Naruto dan Gaara masuk ke ruang rawat Sakura. Mereka mengangguk singkat sebelum berjalan mendekat.
"Aku sudah memutuskan hukuman untukmu, Sasori-san" Sakura terdiam, menatap Gaara dengan takut. Sasori segera menghampiri dan memeluk pundaknya. "katakan!" seru Sasori.
Melihat Sakura yang masih tampak lemah, Gaara jadi ragu untuk mengatakan apa yang harus dia katakan. Sasori menunggu dengan tenang, ekspresinya datar seperti biasa.
"Mereka menunggumu, Gaara.." Naruto menepuk bahu Gaara, membawa Gaara kembali ke dunia nyata. Gaara mengangguk singkat, "begini, Sasori-san. Aku tidak akan membiarkan Suna membunuhmu, dan aku pikir, Suna masih belum bisa menerima kehadiranmu. Jadi, tolong menjauhlah dari Suna, sebelum aku yakin Suna bisa menerima mu kembali, atau setidaknya sampai aku berhasil meyakinkan mereka untuk menerimamu."
Sasori terdiam, dia teringat saat Sakura berhasil diselamatkan, Sakura minta dibawa kembali ke Konoha. Dan Gaara yang juga baru saja terselamatkan, bukannya kembali ke Suna untuk perawatan, justru mengawalnya ke Konoha bersama Naruto dan shinobi lainnya. Di perjalanan, Sasori menceritakan, betapa inginnya dia kembali ke Suna dan hidup bahagia bersama Sakura, istrinya. Namun, dia sadar jika kembali ke Suna itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya secara percuma. Jadi, dia memilih bertahan di akatsuki dan sesekali menemui istrinya secara diam-diam. Jujur saja, Sakura sudah membuatnya lupa akan semua dendamnya. Membuatnya ingin meninggalkan kegelapan, dan hidup berdua saja dengan bahagia. Tapi, seperti yang mereka tau, kenyataan tidak mengijinkannya.
Sasori tersadar saat Sakura mengusap pipinya dengan lembut, Sakura tersenyum kearahnya. "Mungkin, kita bisa tinggal di Konoha." Ujar Sakura seraya mengalihkan pandanganya pada Naruto yang berdiri diam disamping Gaara, namun Naruto menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Aku percaya padamu, Sasori. Tapi kurasa Konoha tidak begitu", sesal Naruto.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" lirih Sasori.
.
.
.
Hari sudah menjelang sore saat seorang pria berambut merah berjalan memasuki gerbang Konoha. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Sudah 6 bulan sejak terakhir kali dia menginjakkan kakinya di sini. Pria itu berhenti sejenak, merasakan angin sore berembus membelai wajah awet mudanya. Senyum di wajahnya makin lebar kala dia mencium bau jajanan kesukaan istri merah mudanya, kemudian menghampiri penjualnya, membeli beberapa untuk dibawa pulang.
"Baru kembali dari perjalanan, Sasori-san?" tanya sang penjual seraya menyerahkan sebungkus jajanan yang dia jual.
Sasori mengangguk, tersenyum tipis. Setelah kejadian di rumah sakit, Naruto dan Gaara menyarankan Sasori untuk pergi ke desa-desa lain yang tidak menolak kehadirannya. Gaara mengatakan bahwa para kage sudah sepakat untuk mengawasi Sasori selama berada di desa mereka, memintanya untuk menjaga sikapnya sampai nanti status buronannya dicabut dan Suna atau Konoha mau menerimanya kembali. Sasori setuju dengan ide mereka, namun meminta keringanan untuk bisa tetap menemui istrinya sesekali, dan menemaninya saat melahirkan nanti. Maka Sasori pergi ke berkelana, membantu orang-orang kesusahan yang ditemuinya dalam perjalanan. Warga Konoha sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya. Mereka merasa sangat bersyukur atas kehadiran Sasori yang sering membantu mereka saat Sasori sedang mengunjungi istrinya di Konoha.
"Apa setelah ini Sasori-san masih harus pergi lagi?" tanya sang penjual kemudian dan dibalas gelengan kepala dari Sasori.
Sang penjual tersenyum senang, "syukurlah Sasori-san"
Sasori baru akan membayar jajanan yang dia beli saat merasakan tubuh kecil yang memeluk kakinya. Sasori terkejut, melihat anak kecil yang tiba-tiba saja memeluknya. Meletakkan bungkusan yang dia pegang, Sasori berjongkok di depan si anak kecil dan bertanya-tanya di mana orang tuanya. Sasori meraih si anak kecil kedalam gendongannya. Sasori membayar jajanan yang dia beli dan menyanyakan apakah anak kecil ini memang sering berkeliaran sendirian. Sang penjual mengatakan bahwa anak itu sering pergi bersama ibunya. Namun si anak kecil sering berlarian sendiri, meninggalkan ibunya yang berjalan di belakangnya. Sasori mengangguk paham, kemudian berpamitan pada sang penjual, berkata bahwa dia harus membantu si anak kecil ini mencari ibunya.
Si anak kecil melambaikan tangannya pada penjual jajanan yang dibeli Sasori. Sasori baru berjalan beberapa langkah saat si anak kecil memberontak di gendongannya. Si anak kecil melihat ibunya dan memaksa ingin turun. Sasori hanya tersenyum, kemudian membiarkan anak itu berlari memeluk kaki ibunya. Sasori dan ibu si anak kecil saling melempar senyum. Si anak kecil kemudian menarik tangan ibunya ke arah Sasori. Sasori terkekeh melihat sang ibu yang memutar kedua bola matanya. Merasa ibunya terlalu lambat, si anak kecil melepaskan tangan ibunya, dan berlari ke arah Sasori. Sasori berjongkok, bersiap menangkap si anak kecil yang berlari ke arahnya sambil tertawa riang.
"Apa kau senang Papa sudah pulang?"
Anak kecil itu memeluk leher Sasori, mencium pipinya dan meneriakkan "Selamat datang papa!" dengan sekuat tenaga. Haruno Sakura tertawa melihat betapa senangnya sang putra melihat papa nya telah kembali. Sasori merentangkan sebelah tangannya, tersenyum ke arah sang istri. Sakura dengan senang hati memeluk suaminya yang sudah berbulan-bulan berkelana itu. Sasori mengecup kening istrinya, penuh kerinduan. Tangan kanannya menggendong putranya yang saat ini sudah berumur 5 tahun, sedang tangan kirinya memeluk pinggang istrinya, sesekali mengelus perut buncitnya yang berisi anak kedua mereka.
"Kalian mau kemana?" tanya Sasori kemudian.
Sakura mengatakan bahwa dia ingin membeli jajanan kesukaannya karena sudah mengidam dari pagi tadi saat baru membuka mata. Sasori tertawa, mengatakan bahwa dia baru saja membelinya saat menemukan putranya tiba-tiba memeluk kakinya.
"Kebetulan sekali", Sakura terkekeh senang, meraih jajanan kesukaannya di tangan kanan suaminya.
Sasori tersenyum, memandang wajah cantik istrinya, "Mari kita pulang"
