.:.
•Oneshot•
Rivetra - Levi x Petra
Slight
Eretra - Eren x Petra
Levihan- Levi x Hange
"Meninggalkan itu lebih mudah yah daripada menunggu."
. Usia
Petra-Levi-Eren
8-10-8
Angin yang berteman dengan teriknya mentari, menggoyahkan kokohnya dedaunan rindang. Menyusun skala kecil dalam kekalutan yang selalu meneror lautan hampa. Kubangan hujan menyusut mencari akar yang bersemayam di atas serabutan. Kombinasi warna menyusun kisah yang tidak adil dalam membagi rasanya. Kobaran semangat berlari tanpa takut hingga ke ujung perbatasan, mendaki licin yang seharusnya mustahil untuk dicerna. Menampar sorak bergaun bunga tak berirama.
Gadis kecil berusia 8 tahun dengan surai karamel berlari menuju taman bunga yang ada di depan rumahnya. Manik hazel itu menelusuri sekitarnya, mencari seseorang yang sangat suka ia lihat wajah datarnya. Tangannya mengepal erat, menyalurkan kekhawatirannya disana.
"Kak Levi! Kau dimana!?" teriak gadis itu sekeras mungkin. Tak ada tanda-tanda kehadiran seorangpun disana. Membuat gadis tadi menghela nafas panjang. Permainan ini, membuat dirinya muak. Katanya lelaki itu mau mengajaknya untuk bermain bersama, tapi kenapa dia malah menghilang?
Tunggu, ini bukanlah yang pertama kalinya bukan? Lelaki bersurai hitam itu sudah mengerjainya beberapa kali. Mengajak untuk bermain petak umpet, membiarkan dirinya mencari atau bersembunyi sendirian lalu meninggalkannya sendiri. Bodoh memang, karena dia hanyalah gadis kecil yang suka mengekor pada lelaki yang sedari kecil menjadi teman? Sekaligus tetangganya.
"Petra! Apa itu kau?"
Gadis itu menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya. Lagi-lagi seperti ini, bertemu dengan seorang lelaki yang bukan ia cari keberadaannya. Petra menatap lelaki itu penuh dengan tanda tanya, apakah lelaki ini penguntit sampai-sampai ia selalu tahu keberadaan Petra?
"Eren kenapa kau disini? Bukankah Bibi Carla mengajakmu jalan-jalan?" tanya Petra dengan nada lirih.
Anak lelaki seusianya itu mendekat, menyodorkan sebuah coklat kepada Petra. Hanya ada tatapan polos, mengisyaratkan bahwa ia ingin berteman dengan Petra.
"Ambil coklat ini, ayok main petak umpet denganku saja! Aku tidak akan pergi!"
Petra tidak mengambil coklat yang ada di tangan Eren, pikirannya menolak. Tidak- lebih tepatnya semua indranya menolak akan kehadiran Eren.
"Tidak Eren, kau bukan Levi. Aku hanya ingin main petak umpet dengannya saja."
16-18-16
"Petra? Sedang apa kau hujan-hujanan di parkiran sendirian? Bukankah kau tidak ikut kelas tambahan? Kenapa belum pulang?"tanya Eren dengan nada khawatir.
Rinai mentertawakan dirinya, menyadarkan si insan lebih terlena pada keegoisannya. Menyusup paksa bagai lentera tak berpenerang. Ia hanyalah tokoh yang membuat cintanya tidak nyaman, begitupun Eren yang selalu membuatnya risih.
Petra menggelengkan kepalanya, ia juga tidak yakin alasan kenapa ia masih setia menunggu disini. Padahal hujan turun dengan sangat lebat, membuat dirinya basah kuyup tanpa adanya perlindungan apapun.
Petra menatap sendu iris emerald milik Eren dan bertanya balik kepadanya,
"Eren, apa kau melihat Kak Levi?"
Eren mendekati Petra, memberikan teduhan pada payung kecilnya. Ia juga melepaskan jaket tebalnya, memasangkannya ke tubuh Petra yang sedikit menerawang karena tetesan rinai lebat.
"Kau bilang hari ini Kak Levi mengajak mu pulang bersama bukan? Jadi aku tidak tau keberadaannya sekarang."
Petra menunduk, membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Bodoh, dari kecil dia memang sangat-sangat bodoh.
"Tadi Kak Levi menyuruhku untuk menunggunya disini karena ia ingin mengantar Kak Hange sebentar, tapi sampai sekarang ia belum kembali. Eren, apakah Kak Levi benar-benar membenciku sehingga dia selalu meninggalkanku sendirian?"
Eren tidak menjawab, ia hanya memilih untuk diam dan mendengarkan tangisan Petra. Tangisan yang diberikannya pada orang lain, bukan pada dirinya. Andai Petra tahu, Eren juga ingin bertanya apakah dirinya membenci Eren atau tidak? Sebab Petra selalu mengindahkan perasaan tulus dari Eren.
Kau hanya melihat dirinya, bukan aku Petra...
20-22-20
"Petra, apa perlu aku antar? Aku takut kau kenapa-kenapa pulang sendirian di malam hari. Apalagi kau belum makan malam bukan?" tawar Eren memberi tumpangan pada Petra. Petra tersenyum, mungkin ia tidak akan mau- tolong jangan ganggu dia, suasana hatinya saat ini sedang sangat bahagia.
"Terima kasih tawarannya Eren, tapi aku rasa lebih baik aku berjalan kaki saja. Aku akan pergi nonton ke apartemen Kak Levi, jadi kau duluan saja," jawab Petra menolak ajakan Eren.
"Tapi Petr-"
"Tidak apa-apa sungguh. Jangan khawatir padaku," sela Petra kembali tersenyum. Lalu setelah perdebatan kecil, Petra meninggalkan Eren yang mematung sendirian di dalam mobil miliknya.
Dengan senyuman yang mengukir kebahagiaannya, Petra berjalan menuju apartemen teman kecilnya- Levi. Baru saja ia pulang dari Kampusnya, dan demi lelaki itu dia rela melupakan jam makan malamnya. Hari sudah cukup gelap, namun janji yang kemarin ia buat bersama Levi menjadikannya tidak takut apapun selain keingkaran.
Ia dan Levi sudah membuat janji untuk nonton film bersama di apartemen Levi. Mereka pernah melakukannya sebelumnya, meskipun dalam keadaan terpaksa atau Levi membutuhkan seorang yang bisa membantunya untuk bersih-bersih.
Karena katanya, Petra sangat bisa diandalkan untuk melakukan pekerjaan itu. Lebih terlihat seperti budak yah?
Petra sudah sampai di depan apartemen milik Levi. Tangannya sudah penuh dengan plastik belanjaan berisi beragam camilan. Wajah senangnya terus dipamerkannya, membuatnya tanpa sadar menekan bel pintu apartemen Levi.
Ding dong
Berkali-kali Petra menekan bel, tak ada jawaban sedikitpun dari pemilik apartemen. Dia juga berusaha memanggil nama Levi, nihil tetap tidak ada jawaban.
"Apa Levi sibuk yah? Kenapa dia tidak hubungi aku terlebih dahulu," gumam Petra kecil, hampir tidak terdengar.
Tangan Petra iseng memegang gagang pintu, dan tanpa sengaja pintu terbuka. Tidak terkunci, lalu menampilkan pemandangan yang sangat memperkeruh hati.
Sakit dan juga pedih, ia berusaha tidak menunjukkannya setiap kali melihat Levi berdua dengan Kakak kelasnya sewaktu SMA dulu. Ia berusaha untuk menutup mata, karena Petra sudah terlanjur jatuh hati pada laki-laki bermarga Ackerman itu.
Tapi kali ini Petra tidak bisa lagi mengelak kan? Apa yang dilihatnya sudah membuktikan bahwa selama ini dia tidak dipedulikan. Bahwa selama ini dia hanyalah pengekor yang tidak pernah melihat kenyataan yang sebenarnya, selalu membuat Levi tidak nyaman akan kehadirannya.
Ciuman seperti itu, pasti mereka punya hubungan yang spesial kan? batin Petra sedih. Tangannya berusaha menutup kembali pintu, pelan-pelan agar si pemilik apartemen tidak menyadari keberadaannya.
Namun sepertinya kali ini keberuntungan lagi-lagi tidak datang padanya. "Oi Petra!"
Petra tersentak mendengar namanya dipanggil. Semua belanjaan yang dia bawa langsung jatuh berceceran.
Iris kelabu Levi membulat sempurna melihat kehadiran Petra, gadis itu... Menangis? Yah tangisan itu yang membuat Levi sangat terkejut.
"Petra, ada apa dengan-"
"Maaf menganggu kalian berdua Kak Levi dan Kak Hanji. A-ah aku hanya membawa beberapa camilan," sela Petra sambil memunguti barangnya yang terjatuh. Ia cepat-cepat menaruh belanjaan penuh camilan itu ke atas meja, langsung bergegas pergi dari sana tanpa mendengar penjelasan apapun dari Levi dan juga Hanji.
Yah lagian, dia bukan siapa-siapanya Levi sehingga harus mendengar alasan mengapa mereka berciuman bukan?
Petra memaksa kakinya untuk berlari, kemana saja agar ia bisa menuntaskan rasa sakitnya untuk sementara. Jiwanya bagai tersayat berkali-kali, luka yang selalu di sembunyikan sekarang kembali menunjukkan sahut-sahut pertikaian.
Petra egois, ia hanya ingin cintanya diterima. Tapi memang begitulah cinta bukan? Semua orang selalu ingin perasaannya dibalas. Tidak-dia tidak pernah memaksa dan juga cari perhatian yang berlebihan. Ia hanya ingin dianggap, setidaknya sebagai teman.
Di seberang jalan, terlihat seorang pemuda bersurai coklat baru saja keluar dari minimarket. Laki-laki bernama Eren itu menangkap bayangan Petra yang sedang menangis. Sontak ia langsung berlari menuju tempat gadis tersebut, namun langkahnya terhenti kala seseorang yang tidak disangka- yang selama ini menjadi penghalang, datang menghentikan Petra.
Levi- lelaki itu memeluk tubuh Petra yang bergetar hebat. Entah apa yang dipikirkannya, bukankah selama ini Levi menghindar? Kenapa baru sekarang ia datang menemui Petra?
Petra melepaskan pelukan itu, menatap Levi dengan mata yang penuh dengan tangisan. "K-kenapa Kak? Kenapa kau mendatangiku? Bukankah kau hanya menyukai Kak Hange? Bukankah selama ini kau selalu meninggalkanku sendiri? Apa yang kau lakukan sekarang?"
Levi menatap sendu Petra, tangannya yang hangat mencoba menggenggam erat tangan dingin Petra. Laki-laki bermarga Ackerman itu penuh dengan rahasia, ia tidak pernah bisa ditebak. Itulah alasan kenapa Petra selalu berani mendekati Levi.
"Maaf, aku sudah membuatmu menunggu selama ini. Maafkan aku, yang selalu membuatmu menangis. Apa yang kau lihat tadi salah paham, aku tidak punya hubungan dengan Hange. Petra selama ini aku mencintaimu,"jawab Levi lirih.
Petra tertawa pahit mendengar pernyataan itu, setelah melihat mereka berciuman, katanya tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka?
"I need my space, don't follow me Kak Levi."
22-24-22
Levi berjalan sempoyongan, jiwanya retak mendengar kabar yang Eren sampaikan tadi pagi. Nafasnya sesak, seakan iblis mencekik paru-parunya. Komandan hatinya tidak menggelora, menyesuaikan dingin yang masuk ke celah-celah air mata.
Kosong, pikiran tak berarah menunjukkan tempat yang ia benci. Tempat yang membuatnya menjadi merasa bersalah selama ini. Cangkir penampang menyusun retakan dalam tubuhnya, bajunya penuh dengan peluh, yang berasal dari iris kelabunya yang sempit.
Kenapa harus nisan? Kenapa selama ini dia menganggap bahwa gadis itu hanya penganggu yang muncul dalam kehidupannya? Ia kira Petra hanya menganggapnya seorang lelaki yang selalu mengerjai dirinya, ia kira Petra tidak pernah menaruh perasaan padanya.
Sejak kecil Levi sudah menaruh hati pada Petra, namun kepercayaan dirinya selalu hancur saat melihat gadis itu sedang bersama dengan Eren. Ia kira tidak ada celah baginya untuk masuk ke dalam kehidupan Petra.
Levi salah, melampiaskan perasaannya pada sahabatnya Hange. Levi merasa bahwa ia adalah lelaki terburuk sepanjang masa.
Andai waktu bisa diulang, ia ingin berlutut meminta maaf pada Petra. Maaf Petra, aku hanyalah lelaki yang selalu membuatmu menderita...
"Kak Levi.."panggil seseorang membuat Levi menoleh ke sumber suara. Matanya tidak menyiratkan semangat ataupun kehidupan. Saat ini dia terlalu hancur, melihat gadis yang ia cintai sudah pergi dari sisinya.
"Kak Levi, kau sangat beruntung. Selama Petra hidup, hanya kaulah lelaki yang ia cintai. Bahkan ia selalu menolak kehadiranku meski hanya sedetik,"ujar Eren membuat Levi tersenyum miris.
Yah, dia lelaki beruntung. Sayangnya ia selalu menyia-nyiakan kesempatan itu dan merusak segalanya sendiri.
Yow, Oneshot berjudul 'uncomfortable' akhirnya ke publish juga ehe! Sorry kalau alurnya gaje ataupun kurang memuaskan. Sorry ini bukan lapak EreMika, gk tau kenapa tiba-tiba pengen nulis EreTra
Lop yuu all dari Aku
@Ruihchanw 18/7-2021
