Berisik.
Kelopak matanya terbuka karena suara bising yang bersumber dari arah kanan. Jam digital di atas nakas berbunyi keras karena sudah disetel untuk membangunkan sang pemilik apartemen duplex tepat pada pukul lima pagi. Tangan mungil seorang wanita yang tadinya terlelap mencari-cari tombol untuk mematikan dan menikmati kesunyian lagi, jelas dia masih mengantuk, tetapi, mengingat ada kelas pagi hari ini Hinata harus bangun dan bersiap-siap.
Setelah keluar dari selimut, mahkota berwarna nila yang agak acak-acakan itu terlihat. Iris kecubung pucatnya meneliti kamar miliknya, lalu ke arah pintu yang sedikit terbuka memperlihatkan ruang televisi. Sepertinya buah hatinya masih tertidur, karena jika sudah terbangun biasanya Boruto akan loncat-loncat di atas kasur King-size ibunya.
Hinata Hyuga, seorang wanita berumur dua puluh enam tahun. Tahun ini ia mulai kuliah lagi setelah sempat mengundurkan diri karena fokus mengurus anaknya. Mungkin beberapa orang pikir dia terlalu muda untuk memiliki seorang anak, kadang Hinata juga berpikir begitu.
Dengan kaki yang terseret-seret, Hinata membuka pintu lebih lebar dan berjalan menuju dapur. Dia harus memasak sarapan sebelum Boruto berangkat sekolah.
Hari ini menu sarapannya adalah sesuatu yang sederhana, roti lapis, Hinata terbiasa memasak makanan berat di siang hari sepulang kuliah.
Setelah makanannya siap, Hinata menaruhnya di piring Boruto, sedangkan porsi miliknya disajikan di piring yang lebih besar. Wanita berambut nila itu meninggalkan dapur berjalan ke arah pintu dengan berbagai tempelan, beberapa stiker yang ia belikan untuk Boruto dan sisanya gambaran anak itu. Satu gambaran lama yang selalu ditangkap mata Hinata dan membuat hatinya terenyuh— gambaran tiga orang: Hinata, Boruto, dan ayah Boruto.
Oh, lelaki itu tidak ada di sini. Mungkin juga masih berada di negara orang dengan tujuan melanjutkan S2. Sudah tiga tahun tak melihatnya, Hinata hanya berkomunikasi lewat email; itupun seputar pengiriman uang untuk membantu finansial Hinata dalam mengurus Boruto. Sebenarnya dia tidak butuh, Hinata adalah wanita tangguh; dia bisa mengurus anak umur lima tahun sekaligus kuliah dan ikut membantu di perusahaan ayahnya sebagai pekerjaannya— tetapi, lelaki itu memaksa, mengatakan bahwa itu adalah satu-satunya yang bisa dilakukan. Mungkin dia tidak mau dicap sebagai orang tak bertanggung jawab setelah menghamili Hinata.
Ah, dia memerah memikirkannya.
Hinata duduk pelan di pinggir tempat tidur Boruto. Pipi tembam anaknya dicolek, membuatnya mengerang karena merasa telah diganggu dari tidur nyenyaknya. Apa boleh buat, pukul delapan anak itu harus sudah berada di bangunan sekolah TK.
"Boruto.." panggilnya lembut.
"Hmmmm.."
"Boruto, sudah pagi. Ayo makan."
Kini, Boruto membuka mata, memperlihatkan iris biru persis dengan ayahnya. Dia memang mewarisi manik dan rambut lelaki itu, beserta garis-garis tanda lahir di masing-masing pipinya, tetapi, susunan wajahnya masih mirip Hinata.
Anak lima tahun itu tersenyum begitu melihat ibunya dengan jelas. Boruto senang berada di dekat Hinata, seperti kebanyakan anak pada umumnya.
"Gendong."
Hinata tertawa, menggeleng tetapi tetap melakukan apa yang diminta Boruto. Dia agak kesusahan, karena anak yang sudah tumbuh itu lebih berat daripada dulu saat masih bayi, apalagi Boruto termasuk lumayan gendut dan mempertahankan lemak-lemak saat masih kecil.
"Kaa-chan[1]masak apa?" tanyanya saat mencapai dapur.
"Roti lapis. Boruto-kun[2] suka itu, kan?"
Boruto mengangguk. Menurutnya semua masakan ibunya enak, apalagi burger rumahan yang biasa dibuat setiap dia berhasil mendapatkan nilai bagus di sekolah. Sayangnya, Hinata bilang itu kurang baik jika dimakan terlalu sering, jadi yang menjadi menu sehari-hari adalah nasi, sayur serta beberapa lauk yang bukan burger.
Hinata mendudukkan Boruto di atas kursi bar, anak itu langsung mengambil piring kecil miliknya dan memakan roti lapis. Setelah meletakkan gelas berisi susu coklat, Hinata mengambil tempat di dekat Boruto dan menikmati porsinya.
"Oh ya," Boruto menoleh ke arah Hinata, masih dengan mulut penuh makanan, "Kwata Bhwu Ghuru—"
"Boruto, telan dulu, Sayang."
Boruto menelan makanan yang sudah dikunyah baru menjelaskan apa yang dimaksud, "Kata Bu Guru, kita akan mengadakan pesta minum teh di sekolah! Err, katanya bulan Oktober." ucap bocah kecil itu.
"Oh ya?"
Hinata tahu acara itu. Dua bulan sekali, sekolah Boruto mengundang wali murid sebagai kesempatan melihat perkembangan anak-anak. Beberapa bulan lalu, pesta minum teh itu diselingi penampilan para bocah TK yang memakai kostum, Hinata ingat Boruto saat itu memilih untuk menjadi seekor kodok— dia bahkan merengek minta dibelikan malam itu juga setelah pengumuman tema acara.
Boruto mengangguk, menggigit roti lapisnya, kali ini tidak sebanyak tadi. Sepertinya dia masih ingin menyampaikan sesuatu. "Bu Guru bilang temanya adalah orangtua," katanya, hati Hinata menjadi berat. "Kaa-chan, apakah Tou-chan[3]bisa datang?"
Setiap Boruto mulai membahas ayahnya, Hinata serasa dicabik-cabik. Setelah lelaki itu memutuskan untuk pergi dengan alasan melanjutkan pendidikannya, Hinata tahu semuanya takkan sama lagi. Mungkin saja dia juga tidak akan kembali, dan tanggung jawabnya hanya sebatas mengirimkan uang yang nominalnya memang besar, tapi sekali lagi bukan itu yang paling dibutuhkan.
Dia meninggalkan Hinata di saat Boruto menginjak umur dua tahun. Entah untuk sementara atau selamanya, Hinata sudah berusaha untuk menerima apapun yang akan terjadi. Sebenarnya wanita itu punya banyak alasan untuk marah padanya, tetapi, sebagai pasangan yang tidak terikat hubungan sah alias pernikahan, Hinata merasa dia tak punya hak untuk menuntut kehadirannya dalam hidup Boruto. Lagipula dari awal mereka memang tidak ada tujuan bersama, semua ini terjadi karena satu malam itu, di mana keduanya sudah di bawah pengaruh alkohol dari pesta pertunangan teman mereka, Sasuke dan Sakura.
Hinata memang mencintai pria itu dari SMA, tapi walaupun berakhir di universitas yang sama, dia sudah tahu tak ada harapan untuk mempunyai hubungan dengannya. Malam itu adalah perubah nasib dan hidupnya, entah sesuatu yang baik atau buruk.
Tidak ada yang disesali dari kehadiran Boruto. Hinata mencintai bocah kecil itu lebih dari hidup itu sendiri. Tetapi, jika dia bisa memilih, dia ingin Boruto bisa lahir dari orang tua yang saling mencintai, bukan karena sebuah cinta satu malam. Karena pada akhirnya, apapun yang Hinata lakukan, dia tak pernah merasa cukup karena tidak bisa memberikan kelengkapan orang tua pada Boruto.
"Kaa-chan akan tanyakan pada Tou-chan. Tapi, kalau dia tidak bisa datang, tidak apa kan kalau hanya Kaa-chan yang datang?" Hinata mengelus puncak kepala anaknya.
Boruto sempat berekspresi sedih, tetapi, entah mengapa langsung berubah dan memberikan Hinata senyuman hangat. "Oke!" katanya.
Hinata mencium pipi anaknya, mencolek hidung kecilnya dan berkata, "Bagaimana kalau kita mandi? Setelah itu Boruto-kun berangkat sekolah agar bisa bertemu Shikadai-kun." Dia menyebutkan nama sahabat anaknya untuk menghibur Boruto.
Tentu saja anak itu langsung semangat. Ditinggalkan piring kecilnya yang sudah kosong, berlari ke arah kamar mandi dengan sangat amat enerjik. Dia mewarisi sifat ayahnya, entah baik atau buruk, tetapi, Hinata tahu semua tingkah laku Boruto selalu membuat hatinya merasa penuh.
Selama ini, Hinata adalah wanita kuat yang selalu melewati tiap rintangan yang diberikan oleh hidup. Untuk anaknya, dia memasang senyuman terlebar, seolah-olah dia adalah manusia yang selalu tegar menghadapi tiga kegiatan: kuliah, bekerja, sekaligus mengurus Boruto tanpa pengasuh.
Ya, selama ini dia merasa cukup. Tetapi, tak bisa dipungkiri kadang Hinata menyangkal fakta bahwa Boruto mungkin tak merasakan hal yang sama. Mungkin itu salah satu alasan mengapa dia selalu membandingkan keadaannya dengan teman-temannya, tentang mengapa mereka punya dua orang tua yang menghadiri acara minum teh sekolah.
Tidak ada jawaban pasti untuk menjawab pertanyaan Boruto. Hanya sebuah kalimat penenang seperti yang barusan dikatakan olehnya tadi, dipastikan tidak ada unsur yang membuat Boruto menaruh harapan. Hinata tidak akan menjanjikan apapun mengenai ayahnya, karena di saat janji itu berubah menjadi ingkar, rasa sakit pasti datang. Hinata tahu betul rasanya.
Sebagai anak yang penuh dengan rasa penasaran, Boruto sering menanyakan keberadaan ayahnya atau apapun yang membuatnya sibuk hingga tak pulang. Bahkan penampilan lelaki yang lama tak dijumpai itu mungkin sudah berbeda dari satu-satunya foto yang dia miliki. Dan setiap panggilan 'Tou-chan' disebut, rasanya kepingan hati Hinata yang telah disusun rapi mulai satu persatu berguguran lagi.
[1]Panggilan ibu dalam bahasa Jepang.
[2]Gelar honorifik untuk lelaki muda.
[3]Panggilan ayah dalam bahasa Jepang.
