Perayaan kecil-kecilan di ruang santai tidak luput dari mata Kan. Grup Buraiha dan beberapa orang yang terlibat dengan mereka sedang mengerubungi seseorang. Isian confetti yang bertebaran di lantai menjadi penanda jika ada yang berulang tahun di hari ini.
Rupanya, Dazai lah yang sedang dirayakan ulang tahunnya. Pemuda berambut merah itu kelewat senang dengan pemberian rekan-rekannya. Kan bisa lihat kebahagiaan dari ekspresi wajahnya yang ditutupi oleh sikap 'narsis'-nya. Kan bukan orang terdekatnya, jadi ia berniat pergi berlalu, tetapi sesuatu yang diucapkan Dazai menghentikan langkahnya sejenak.
"Aku pengen dapetin Akutagawa-sho sebagai hadiah ... becanda, hehe."
.
.
.
You Deserve This Much
Rated : K
Character(s): Dazai O, Kikuchi K
Genre: Friendship, General
Disclaimer: Bungou to Alchemist belongs to DMM Games
Summary: Keinginan Dazai tidak pernah berubah sejak dulu, Kan mempunyai solusinya setelah menyadari usahanya selama ini. [Happy Belated Birthday, Dazai! (19/06/2021)]
Warning(s): based on dzi bday line this year, but this is anime ver, fluff
.
.
.
Makan-makan kue mengenyangkan perut Dazai. Ia pikir pai buah yang dibuatkan Ango sudah cukup, ternyata anggapannya salah, karena dibalik pintu, terdapat Akutagawa menyambutnya. Antara terharu lantaran kue-nya terinspirasi dari puding tapioka buatannya dulu atau Akutagawa yang menyalaminya selamat ulang tahun, Dazai tidak tahu yang mana yang paling memabukkannya. Yang jelas, ia hampir mati karena serangan jantung dadakan.
Sekarang ia sedang berusaha mempertahankan langkahnya agar tak berhenti di tengah jalan. Perutnya nyaris meledak. Kue dan beberapa gelas bir belum juga berhenti mengocok perutnya. Ia ingin ke toilet sebelum ia kembali lagi terjerumus oleh kawan-kawannya yang masih menyap panganan tersebut.
"Ugh, gila banget." Dazai berpegangan pada dinding. Ia tak bisa memaksakan lebih dari ini. "Aku kebablasan."
"Dazai?" panggilan namanya membuat Dazai menengok. Rupanya Kan yang memanggilnya. "Ngapain kamu?"
"Eh, Kikuchi-sensei ..." suara Dazai melemah. "Mau ke toilet ... cuma masih nggak kuat jalannya."
"Pasti kamu kebanyakan makan," tuduh Kan tepat sasaran. Dazai cengengesan. "Jangan kalap jadi orang."
"Habisnya orang-orang udah nyiapin banyak makanan, nggak enak kalau nggak dihabisin."
Kan memerhatikannya dari atas ke bawah. Ia menghela napas, memasukkan buku yang sedang ia pegang ke dalam yukata, kemudian mendekati Dazai. Satu tangan pemuda itu ia letakkan di bahunya agar dapat menyangga tubuhnya.
"Ki-kikuchi-sensei?
"Biasanya kalau ke toilet, justru nggak ada yang keluar." Kan memapahnya. "Cara yang tepat ngatasin perut begah tuh mending banyak jalan biar asam lambung nggak naik ke tenggorokan. Kita jalan pelan-pelan aja. Kubantu."
Rasa sakit yang semakin menggila membisukan Dazai. Ia menurut saja dengan apa yang Kan bilang. Mereka berjalan di lorong perpustakaan yang panjang. Di luar dugaan, Dazai tidak terlalu kesulitan melangkah lantaran dibantu olehnya.
"Maaf merepotkanmu, Kikuchi-sensei."
"Udah biasa." Kan menanggapinya dengan santai. Ia menunjuk suatu tempat. "Nanti kita berhenti dulu di sana."
Destinasi mereka adalah ruang makan. Kan menyuruh Dazai melepaskan gesper yang melingkar di celananya. Setelah melakukannya, Kan menyerahkan segelas air hangat padanya.
"Air hangat bisa lancarin pencernaanmu."
"Kikuchi-sensei sering ngurusin orang begah?"
"Sering," jawab Kan. "Entah sudah berapa orang yang sering kutemuin menggelepar karena kekenyangan. Ryuu salah satunya."
"Akutagawa-sensei juga? Kebetulan yang menarik sekali."
Pembicaraan mereka berakhir saat Dazai menyadari ia belum meminum air hangatnya. Bagai diberi sihir, apa yang diperintahkan membuahkan hasil; perutnya berangsur-angsur tidak sesakit sebelumnya. Dazai ingin berterima kasih pada penolongnya, tapi keinginannya teralihkan ketika Kan mengeluarkan buku berjudul Shayou dari dalam bajunya.
"Eh ... itu buku-ku."
"Hm?" Kan ikut melihat apa yang menjadi fokus Dazai. "Iya, ini buku kamu."
"Kok Sensei baca bukuku?"
"Kamu pandai membuat cerita pasca perang." Dibanding membalas, Kan malah mengubah pembahasan. "Shayou-mu berhasil memberi gambaran tentang masa itu."
Dazai terkenal haus akan pujian, tapi kali ini entah kenapa ia menjadi canggung karena pujian itu sendiri. "Te-terima kasih ... aku senang Sensei menikmatinya."
"Sayang rasanya kamu nggak berhasil mendapatkan Penghargaan Akutagawa." Topik yang dibawa Kan menukik tajam hingga ke sesuatu yang mungkin sensitif bagi pemuda di hadapannya. "Waktu itu bukan yang terbaik, sih, ya."
"Kawabata." Sebuah nama disebut Dazai. Ia tampak kurang senang, tapi ia berhasil menahannya tanpa meledak-ledak seperti dulu. "Pasti Kawabata ada campur tangan dibalik itu."
"Dia adil, kok."
"Sensei bilang gitu karena dia muridmu."
Kan tidak menampik sanggahan Dazai. Mereka kembali larut dalam keheningan. Dazai meneguk airnya lagi dan Kan membaca Shayou yang sempat terhenti karena pertemuan mereka. Karena sudah sembuh, ia ingin segera kembali ke teman-temannya, tapi ia tak enak hati jika seenaknya begitu setelah ditolong Kan, jadi ia tetap duduk di sana. Sekitar lima menit terdiam, Kan kembali berbicara.
"Selama aku belum ada di sini, kamu pasti udah banyak berkontribusi, ya."
"Te-tentu saja." Dazai membanggakan diri. "Aku salah satu yang dibangkitkan awal-awal, lho."
"Ryuu bilang kamu anak yang susah dikasih tahu." Omongan Kan menusuk hati Dazai. "Ceroboh, penuh emosi, dan terlalu menggampangkan sesuatu."
"Kikuchi-Sensei mau muji apa mencela?" Dazai cemberut. "Mana ada pendapat dari Akutagawa-sensei segala ... lain kali kalau ketemu Sensei aku harus apa ..."
"Tapi, kamu banyak nolong Ryuu dan yang lain, 'kan?" Kan menutup buku tersebut. Sampul depannya ia sentuh dengan penuh perhatian. "Melakukan delving, menyelamatkan penulis-penulis yang terjebak di dalamnya, lalu tidak pernah menyerah menyelamatkan Ryuu meski semua orang sudah lenyap."
"Sensei ..."
"Kamu hebat," ucap Kan lembut. "Rasanya aku nggak bisa berterima kasih banyak karena usahamu selama ini. Makanya, saat kebetulan mencuri dengar obrolan kalian tadi di ruang santai, aku kepikiran sesuatu sebagai bentuk terima kasihku."
Jantung Dazai berdebar tak karuan. Ia tak menyangka akan mendapat hadiah dari Kikuchi Kan. "Se-sensei mau ngasih apa?"
"Semula aku nggak ngerti kenapa ada benda ini di kamarku." Kan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari yukata-nya. "Tapi, sekarang aku yakin dia ada untuk diberikan padamu."
"A-aku boleh buka?"
"Boleh, dong."
Dazai meraih kotak tersebut. Perlahan-lahan, ia membuka isinya. Betapa terkejutnya ia saat sebuah jam tangan klasik terpajang rapih di dalamnya. "Ini—"
"Kamu emang nggak menang Penghargaan Akutagawa." Kan tersenyum. "Kamu justru memenangkan hal lain yang lebih baik dari itu. Kamu berhasil membuktikan kalau kamu, Dazai Osamu, orang yang luar biasa hebat dan pantas mendapatkan apresiasi."
Jam tangan identik pada sesuatu. Dazai tidak pernah lupa betapa inginnya ia memenangkan Penghargaan Akutagawa. Selain membuktikan pada keluarganya bahwa ia masih mempunyai 'nilai', ia juga berandai-andai mendapati jam tangan bukti pemenang penghargaan tersebut. Kini, di hadapan orang yang menciptakan Penghargaan Akutagawa, sebuah jam tangan yang persis dengan yang ia lihat di masa lalu diberikan padanya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan semuanya terutama Ryuu." Kan sedikit membungkuk. "Aku harap ini bisa jadi pengganti hadiah Penghargaan Akutagawa yang belum sempat kamu dapatkan dulu."
Dazai tidak pernah menyangka hal seperti ini akan terjadi. Meski ia selalu merengek ingin memenangkan Penghargaan bergengsi itu, ia tahu pada akhirnya hal tersebut tidak akan terkabulkan. Ia puas hanya menjadikannya sebagai candaan (dengan sedikit kekecewaan), tapi saat jam tangan itu nyata di pegangannya, Dazai menyadari sesuatu.
"Sebaiknya Kikuchi-sensei simpan benda ini." Dazai memasukkan benda itu ke dalam kotaknya kembali. "Aku nggak bisa menerimanya ..."
"Kamu kenapa lagi? Aku emang mau ngasih ini ke kamu, kok. Jangan sok jaim, deh."
"Masih sempat." Dazai mengoreksi ucapan Kan sebelumnya. "Aku yang sekarang belum bisa menerimanya. Biar aku sudah mati, bukan berarti aku nggak bisa dapetin Penghargaan Akutagawa tanpa pakai jalur kasihan begini, 'kan?"
"Nggak ada yang ngasihanin kamu, aku murni—"
"Aku sangat senang dihargai sebegitu besarnya sama Sensei," potong Dazai. Kotak tersebut ia majukan ke depan. "Tapi, aku mau mendapatkannya dengan cara yang sama, lewat penilaian yang sah. Tolong maklumi keegoisanku kali ini."
"Semua orang udah keseringan memaklumimu." Kan tidak mengerti pola pikir Dazai yang berbelit-belit. Di sisi lain, ia juga tak bisa memaksakan jika si penerima menolaknya, jadi Kan hanya bisa mengambil kembali hadiahnya. "Yah, terserah, deh. Kamu emang keras kepala. Emangnya gimana caranya kamu bisa menangin Penghargaan Akutagawa seperti dulu?"
"Kita hidup berdampingan dengan penulis-penulis hebat di masanya, 'kan? Sebagai pencipta acaranya, pasti mudah bagi Kikuchi-sensei buat ngumpulin juri dan lain sebagainya."
"Aku mau itu diadakan setelah Kawabata hadir di sini."
"Lho, kok gitu?! Ngapain bawa-bawa dia! Ajak Kume-sensei aja yang jadi juri!"
"Juri nggak bisa satu doang."
"Ya, ajak yang lain, Akutagawa-sensei juga boleh!"
"Nanti dia bias. Ogah."
Adu argumen mereka tidak menemukan akhir. Dazai yang awalnya sakit perut menjadi sakit kepala lantaran stres membayangkan suatu waktu Kawabata datang dan mengacaukan kebahagiaannya. Padahal Shiga saja sudah mengganggu, apalagi ketambahan dia. Bisa-bisa Dazai menyandera Neko dan memaksa Alkemis mengembalikan mereka ke habitatnya (buku).
Sehabis mengobrol dengannya, Kan semakin memahami sosok Dazai. Mereka pernah saling berlawanan, tapi meski memiliki prinsip yang berbeda, mereka sama-sama ingin melindungi Akutagawa. Karena merasakan kepedulian yang amat besar darinya, Kan ingin sekali memberinya ungkapan terima kasih. Sayangnya, ia menolak.
Tapi ... masih ada hari esok, dan selanjutnya lagi. Dan yang paling penting, Kan telah mengatakan apa yang hatinya ingin ucapkan pada Dazai. Rasanya beban melihatnya depresi karena kalah, karena diragukan semua orang, akhirnya terbayarkan.
Padahal, bagi Kan, Dazai sudah lebih dari cukup untuk mendapatkannya. Hanya saja pembahasan ini tidak akan ada akhirnya jika dijelaskan kepada Dazai yang sangat keras kepala. Jadi, Kan akan menyimpan jam tangan ini hingga Dazai merasa dirinya pantas mendapatkan Penghargaan Akutagawa dengan jerih payahnya sendiri.
END
Author's Note: Happy Birthday, Dazai! Sebenernya gak kepikiran bakal nulis fic buat bday dazai, dan sebenernya fic ini seharusnya buat fic multichapter dazai x ssc di masa depan, tapi karena berbekal line bday dazai tahun ini, saya jadi pengen bikin. Telat sih, tapi mayan lah bisa kelar.
Dazai yang masih ngarep aktgw prize ... siapa orang yang paling bisa ngasih itu? Jelas Kan! Dari dulu saya udah kebayang ide fic ini. Kan yang appreciate kerja keras dzi selama ini dan dzi yang ngerasa dia pengen dapetin itu dengan cara yg bener. Ah, salahkan fanartist jp yang promo anthology kandaza yang indah (tentang kan yg tbtb cerita ke orang2 ssc kalo dia mau ngelamar dzi), itu yang bikin saya makin kepincut sama kandaza.
Mungkin di masa depan ini bakal masuk ke 3 shot fic dzi x ssc, tapi sementara biar gini aja. Happy birthday dazai, kamu berhak dapetin apresiasi dari Kan (dan yg lain) kok!
(saya pengin bikin fic buat bsd dazai, tapi mengingat jatahnya udah dulu, mending sekarang dzi bunal aja, itung2 saya jarang bikin fic dazai yg jadi fokusnya)
