p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Ia dapat mendengar semuanya dengan jelas. Bentakan itu. Suara barang-barang yang dilempar dengan sengaja hingga pecah dan rusak. Suara teriakan itu. Semuanya terdengar begitu jelas dengan visualisasi yang tidak kalah menegangkan. Seluruh tubuhnya membeku, bahkan berucap saja ia tidak mampu./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Malam itu Kazutora kembali memimpikan kisah buruk masa kecilnya. Melihat kembali bagaimana orang tuanya bertengkar di hadapannya layaknya Kazutora hanya angin lalu di antara mereka. Ini bukan kali pertama, tetapi bukan berarti Kazutora menyukainya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""emOhayo/em, Kazutora."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Sapaan khas itu membuat pagi Kazutora sedikit membaik. Ia balas tersenyum sambil mendekati pujaan hatinya, memeluk pinggang ramping itu dan menghirup aroma khas tubuhnya. Sekilas ia mengecup pipi pasangannya dan membalas sapaannya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Sarapan yang baru setengah jadi mengeluarkan aroma sedap yang sedikit menggelitik selera makannya—walau sebenarnya ia lebih ingin memakan pasangannya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Chifuyu—yang dipeluk Kazutora—mengusap tangan yang melingkari pinggangnya, kemudian mencubitnya dengan kesal. "Masih pagi gak usah aneh-aneh deh!" serunya begitu merasakan tangan Kazutora yang mulai meraba-raba tubuhnya setelah semalaman bercinta dengannya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kekesalan Chifuyu hanya ditanggapi kekehan oleh Kazutora yang langsung diusir dari dapur untuk segera mandi dan bersiap untuk menyantap sarapan yang hampir siap. Kazutora hanya mengiyakan dan mengacak-acak rambut Chifuyu kemudian melenggang pergi menuju kamar mandi untuk menyiapkan diri./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Begitulah hari-hari Kazutora setelah berhasil menurunkan nama Hanemiya pada Chifuyu—yang akhirnya mau melepaskan nama Matsuno. Keduanya menikah sekitar dua tahun lalu setelah menjalani perjalanan panjang yang tidak mudah, terlebih untuk Kazutora. Banyak hal yang membuatnya ragu untuk berada di samping Chifuyu, tetapi ternyata takdir membiarkan mereka bersama./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Di depan cermin kini Kazutora menatap pantulan dirinya. Kilas balik dari mimpinya semalam belum hilang, meskipun sempat teralihkan karena Chifuyu tadi./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"emspan lang="EN-US""Aku … tidak akan mati karenamu, Kazutora."/span/em/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kazutora tercekat ketika memori lama terputar tanpa disengaja. Pantulan dirinya di cermin pun berubah menjadi sosok yang sempat mengisi hatinya ketika ia masih menjadi remaja dengan emosi yang sangat labil./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Baji …," gumamnya sambil menyentuh cermin. "Baji … maafkan aku …."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Mengapa hari ini Kazutora diserang ingatan pahitnya secara berturut-turut? Jika memang ia pantas mendapatkan maaf dari semuanya, jika memang ia pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua … lantas mengapa ia harus terus-menerus dibebani rasa bersalah seperti ini?/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Oi, kenapa kau lama—Kazu!?"/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""… Chifuyu …?" lirihan Kazutora diiringi raut wajah yang … sangat tidak baik-baik saja membuat Chifuyu terkejut./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Kau kenapa!?" Chifuyu sedikit panik melihat suaminya seperti hendak menangis sambil menyentuh cermin. Pancaran rasa bersalah tergambar jelas dari bagaimana cara Kazutora memandangnya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Segera Kazutora menarik Chifuyu ke dalam dekapannya. "Maafkan aku Chifuyu … semua karena salahku …."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Di dalam dekapan itu Chifuyu mendengar detak jantung Kazutora yang terpacu begitu cepat. Suaminya tengah tidak baik-baik saja. Ia balas memeluk sambil mengusap punggung Kazutora yang bergetar menahan tangis. "Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi?"/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kazutora tidak menjawab. Wajahnya sengaja ia tenggelamkan di perpotongan leher Chifuyu sambil sekuat tenaga menahan tangisnya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Di tengah suasana yang suram ini Chifuyu merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Siapa sangka ternyata Peke J turut datang—mungkin untuk menghibur Kazutora yang tengah bersedih./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Lihat, Peke J saja datang untuk menghiburmu."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kucing itu—Peke J—mengeong seakan mengiyakan ucapan Chifuyu./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Chifuyu tidak tahu—dan mungkin tidak ingin tahu—bagaimana caranya ia dapat jatuh cinta sedalam ini pada Hanemiya Kazutora. Ia juga tidak peduli dengan ucapan orang lain tentang Kazutora. Chifuyu tahu siapa Kazutora, ia juga tahu bagaimana perasaan Kazutora sekalipun yang bersangkutan tidak mengutarakannya secara langsung. Dan Chifuyu tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk menetap serta membangun rumah tangga bersama Kazutora./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kazutora pun tidak pernah berhenti mengucap terima kasih kepada Dewa-Dewi yang sudah memberikan takdir baik, sehingga ia dapat bertemu dan tinggal bersama Chifuyu. Doanya untuk kebahagiaan Chifuyu tidak pernah putus. Dan Kazutora sudah bersumpah untuk terus melindungi Chifuyu hingga akhir napasnya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Fuyu … boleh aku menciummu?"/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kazutora melonggarkan dekapannya dan memandang wajah Chifuyu lekat-lekat. Tangannya berpindah mengusap pipi pasangannya dengan lembut./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Chifuyu terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya. "Kau bertanya seperti tidak pernah menciumku saja." Kedua tangannya kini sudah ia kalungkan di leher Kazutora./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Melihat lampu hijau dari lawan bicara, Kazutora langsung mencium Chifuyu dengan cepat. Cumbuan manis penuh cinta sebagai cara Kazutora mengungkapkan bertapa beruntungnya ia bisa bersama dengan seorang Chifuyu./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Oi! Dimana kau letakkan tanganmu itu, sialan!?"/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Aku hanya meremasnya sedikit."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Tck."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Ayo lanjutkan yang semalam."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""DALAM MIMPIMU!"/span/p
p class="MsoNormal"span lang="EN-US" /span/p
p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"strongspan lang="EN-US"-End-/span/strong/p
p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"strongspan lang="EN-US"-narake-/span/strong/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Malam itu Kazutora kembali memimpikan kisah buruk masa kecilnya. Melihat kembali bagaimana orang tuanya bertengkar di hadapannya layaknya Kazutora hanya angin lalu di antara mereka. Ini bukan kali pertama, tetapi bukan berarti Kazutora menyukainya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""emOhayo/em, Kazutora."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Sapaan khas itu membuat pagi Kazutora sedikit membaik. Ia balas tersenyum sambil mendekati pujaan hatinya, memeluk pinggang ramping itu dan menghirup aroma khas tubuhnya. Sekilas ia mengecup pipi pasangannya dan membalas sapaannya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Sarapan yang baru setengah jadi mengeluarkan aroma sedap yang sedikit menggelitik selera makannya—walau sebenarnya ia lebih ingin memakan pasangannya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Chifuyu—yang dipeluk Kazutora—mengusap tangan yang melingkari pinggangnya, kemudian mencubitnya dengan kesal. "Masih pagi gak usah aneh-aneh deh!" serunya begitu merasakan tangan Kazutora yang mulai meraba-raba tubuhnya setelah semalaman bercinta dengannya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kekesalan Chifuyu hanya ditanggapi kekehan oleh Kazutora yang langsung diusir dari dapur untuk segera mandi dan bersiap untuk menyantap sarapan yang hampir siap. Kazutora hanya mengiyakan dan mengacak-acak rambut Chifuyu kemudian melenggang pergi menuju kamar mandi untuk menyiapkan diri./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Begitulah hari-hari Kazutora setelah berhasil menurunkan nama Hanemiya pada Chifuyu—yang akhirnya mau melepaskan nama Matsuno. Keduanya menikah sekitar dua tahun lalu setelah menjalani perjalanan panjang yang tidak mudah, terlebih untuk Kazutora. Banyak hal yang membuatnya ragu untuk berada di samping Chifuyu, tetapi ternyata takdir membiarkan mereka bersama./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Di depan cermin kini Kazutora menatap pantulan dirinya. Kilas balik dari mimpinya semalam belum hilang, meskipun sempat teralihkan karena Chifuyu tadi./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"emspan lang="EN-US""Aku … tidak akan mati karenamu, Kazutora."/span/em/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kazutora tercekat ketika memori lama terputar tanpa disengaja. Pantulan dirinya di cermin pun berubah menjadi sosok yang sempat mengisi hatinya ketika ia masih menjadi remaja dengan emosi yang sangat labil./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Baji …," gumamnya sambil menyentuh cermin. "Baji … maafkan aku …."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Mengapa hari ini Kazutora diserang ingatan pahitnya secara berturut-turut? Jika memang ia pantas mendapatkan maaf dari semuanya, jika memang ia pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua … lantas mengapa ia harus terus-menerus dibebani rasa bersalah seperti ini?/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Oi, kenapa kau lama—Kazu!?"/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""… Chifuyu …?" lirihan Kazutora diiringi raut wajah yang … sangat tidak baik-baik saja membuat Chifuyu terkejut./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Kau kenapa!?" Chifuyu sedikit panik melihat suaminya seperti hendak menangis sambil menyentuh cermin. Pancaran rasa bersalah tergambar jelas dari bagaimana cara Kazutora memandangnya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Segera Kazutora menarik Chifuyu ke dalam dekapannya. "Maafkan aku Chifuyu … semua karena salahku …."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Di dalam dekapan itu Chifuyu mendengar detak jantung Kazutora yang terpacu begitu cepat. Suaminya tengah tidak baik-baik saja. Ia balas memeluk sambil mengusap punggung Kazutora yang bergetar menahan tangis. "Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal ini lagi?"/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kazutora tidak menjawab. Wajahnya sengaja ia tenggelamkan di perpotongan leher Chifuyu sambil sekuat tenaga menahan tangisnya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Di tengah suasana yang suram ini Chifuyu merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Siapa sangka ternyata Peke J turut datang—mungkin untuk menghibur Kazutora yang tengah bersedih./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Lihat, Peke J saja datang untuk menghiburmu."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kucing itu—Peke J—mengeong seakan mengiyakan ucapan Chifuyu./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Chifuyu tidak tahu—dan mungkin tidak ingin tahu—bagaimana caranya ia dapat jatuh cinta sedalam ini pada Hanemiya Kazutora. Ia juga tidak peduli dengan ucapan orang lain tentang Kazutora. Chifuyu tahu siapa Kazutora, ia juga tahu bagaimana perasaan Kazutora sekalipun yang bersangkutan tidak mengutarakannya secara langsung. Dan Chifuyu tidak akan pernah menyesali keputusannya untuk menetap serta membangun rumah tangga bersama Kazutora./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kazutora pun tidak pernah berhenti mengucap terima kasih kepada Dewa-Dewi yang sudah memberikan takdir baik, sehingga ia dapat bertemu dan tinggal bersama Chifuyu. Doanya untuk kebahagiaan Chifuyu tidak pernah putus. Dan Kazutora sudah bersumpah untuk terus melindungi Chifuyu hingga akhir napasnya./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Fuyu … boleh aku menciummu?"/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Kazutora melonggarkan dekapannya dan memandang wajah Chifuyu lekat-lekat. Tangannya berpindah mengusap pipi pasangannya dengan lembut./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Chifuyu terkekeh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya. "Kau bertanya seperti tidak pernah menciumku saja." Kedua tangannya kini sudah ia kalungkan di leher Kazutora./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"Melihat lampu hijau dari lawan bicara, Kazutora langsung mencium Chifuyu dengan cepat. Cumbuan manis penuh cinta sebagai cara Kazutora mengungkapkan bertapa beruntungnya ia bisa bersama dengan seorang Chifuyu./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US"./span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Oi! Dimana kau letakkan tanganmu itu, sialan!?"/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Aku hanya meremasnya sedikit."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Tck."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""Ayo lanjutkan yang semalam."/span/p
p class="MsoNormal" style="text-indent: 36.0pt;"span lang="EN-US""DALAM MIMPIMU!"/span/p
p class="MsoNormal"span lang="EN-US" /span/p
p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"strongspan lang="EN-US"-End-/span/strong/p
p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"strongspan lang="EN-US"-narake-/span/strong/p
