©SYEnt present:
JUST A BIT WRECKED
Cast: Chanyeol x Sehun
Rating: M
Warning: BoyxBoy; Gay-seme x Straight-uke; explicit language
Hujan mulai turun keesokan paginya, seperti yang diperkirakan.
Mereka bersembunyi di tempat berlindung mereka, api berderak riang di sudut saat mereka makan sedikit makanan mereka. Suara hujan yang menghantam tanah, memercik ke genangan air dan lautan, memenuhi udara.
Itu akan terasa nyaman jika saja Sehun tidak begitu sadar akan tubuh Chanyeol di sampingnya.
Tempat berlindung itu kecil. Hnya cukup besar bagi mereka untuk duduk dengan nyaman, dan ruang makan dengan perapian yang diimprovisasi mengambil sebagian besar dari ruang di sana, menyisakan sedikit ruang bagi mereka untuk tidur. Mereka mencoba membuat tempat berlindung yang lebih besar, tetapi strukturnya menjadi tidak seimbang, jadi mereka harus puas dengan sedikit ruang yang hampir tidak cukup besar untuk dua pria dewasa. Akibatnya, mereka harus meletakkan tempat tidur mereka berdampingan, dengan tidak ada jarak di antara mereka.
Setelah memadamkan api, Sehun berbaring miring di paling ujung selimutnya, sejauh mungkin dari Chanyeol, yang tentu saja tidak terlalu jauh. Di atas mereka hujan mengguyur atap, membuat ruang terasa lebih intim dan tertutup, seolah-olah mereka disatukan dengan sebuah tangan yang hangat dan hati-hati.
Sialan. Sehun berharap tidak akan hujan selama berhari-hari lagi.
Dia bisa merasakan Chanyeol di belakangnya.
Sehun selalu menganggap konyol ketika orang mengatakan mereka bisa merasakan kehadiran seseorang tanpa melihat, tapi sekarang dia tahu itu bukan hal yang berlebihan. Dia bisa merasakannya dengan kulitnya sendiri. Chanyeol sepertinya selalu panas, tubuhnya yang besar seperti tungku. Itu menyebalkan. Itu tidak nyaman. Panasnya tak tertahankan seperti sebelumnya. Sehun tidak akan pernah terbiasa dengan iklim mikro pulau itu: di pulau itu terlalu panas meskipun turun hujan di sebagian besar waktu, kelembapannya menahan panas dan kadang-kadang membuatnya sulit bernapas.
Karena mereka biasanya menghindari merusak pakaian-yang-terbatas mereka dengan keringat, mereka berdua hanya mengenakan celana pendek—dan Sehun tidak pernah lebih menyadari hal itu. Dia terbiasa dengan Chanyeol yang berjalan setengah telanjang, tapi ini berbeda.
Dia berada di ruang kecil dengan seorang pria gay, dan mereka berdua hampir telanjang.
Perut Sehun mengencang. Dia telah melihat bentuk penis keras Chanyeol yang tercetak di celananya kemarin. Chanyeol tampak sangat keras akhir-akhir ini. Sehun telah berusaha sekuat tenaga untuk berpura-pura tidak memerhatikan apa pun, tapi dia tahu. Tentu saja dia tahu. Dia memiliki mata yang berfungsi dengan baik, dan tidak ada yang bisa dilihat di pulau ini selain Chanyeol.
Dia berada di tempat perlindungan yang sangat kecil dengan seorang pria gay yang setengah telanjang dan bersemangat.
Bagaimana jika... Bagaimana jika Chanyeol akhirnya menyerang dia? Apakah Chanyeol akan melakukannya saat Sehun tidur?
Sehun menelan ludah saat membayangkan Chanyeol menekankan tubuhnya yang besar itu dan meraba-raba tubuhnya saat tidur. Menganiaya dia. Meraba-raba kemaluan Sehun. Membelai putingnya. Meraba-raba pantatnya. Mendorong penisnya yang keras ke pantat Sehun. Orang mesum itu mungkin akan menarik celana pendek Sehun ke bawah dan menggosok kemaluannya yang kaku di antara pantatnya, mendengus seperti binatang dan menikmati kesenangannya sementara Sehun tidur dengan tenang, tidak menyadari bahwa dia sedang dilecehkan.
Apakah dia akan bangun? Atau apakah dia akan terus tidur? Mungkin jika Chanyeol benar-benar berhati-hati, Sehun bahkan tidak akan mengetahuinya sampai pagi hari ketika dia menemukan sesuatu yang kering di pantatnya. Atau mungkin dia akan bangun, tapi Chanyeol tidak mau berhenti, memaksanya untuk diam saat Chanyeol mendorong kemaluannya di antara paha Sehun.
Chanyeol lebih besar dan lebih kuat darinya. Sehun tidak akan bisa menghentikannya. Chanyeol bisa melakukan apa pun yang diinginkannya, dan Sehun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Chanyeol mungkin memaksanya untuk menghisap miliknya—yang akan menjijikkan—tapi Sehun harus melakukannya—dia tidak punya pilihan.
Sebuah suara kecil membuat Sehun sadar dari pikirannya.
Sehun butuh beberapa saat untuk menyadari bahwa dialah yang membuat suara itu.
"Jika kau ingin masturbasi, lakukan di luar," kata Chanyeol.
Sehun memerah. Apa—
Tunggu, tangannya menggenggam kemaluannya sendiri melalui celana pendeknya.
Sehun mengerutkan kening, tidak yakin kapan itu terjadi. Dia keras, tanpa alasan yang jelas. Yah, sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali dia melakukan itu, dan mungkin masuk akal kalau libidonya kembali. Dia adalah orang yang sehat di puncak hidupnya. Tubuhnya memiliki kebutuhan, dan itu tidak peduli bahwa ini adalah situasi paling tidak seksi yang pernah dia alami dan secara mental dia sedang tidak mood.
"Aku tidak akan pergi keluar saat hujan," katanya dengan nada paling percaya diri dan berlawanan. Serangan adalah pertahanan terbaik. "Aku akan melakukan itu dimanapun aku mau."
Di belakangnya, Chanyeol menghembuskan napas melalui giginya yang terkatup—setidaknya terdengar seperti itu. Sehun secara praktis bisa melihatnya: Chanyeol yang mengatupkan rahang dengan tegas, matanya yang gelap menatap tajam ke belakang kepala Sehun.
"Apakah kau tidak punya rasa malu?"
Wajah Sehun menghangat. Dia tidak benar-benar bermaksud untuk bermasturbasi di hadapan Chanyeol, tapi sepertinya dia tidak bisa mundur sekarang tanpa membuatnya terlihat seperti melakukan seperti apa yang dikatakan Chanyeol.
"Itu adalah kebutuhan fisik yang alami," kata Sehun dengan suaranya yang paling acuh tak acuh saat dia menyentuh kemaluannya. "Tutup matamu dan berhenti menguping, dasar mesum."
Chanyeol tertawa kasar. "Ini tidak menguping ketika itu terjadi di sini."
"Apakah itu benar-benar mengganggumu? Itu ironis jika dikatakan oleh seorang pria yang tidak keberatan orang lain meraba-rabanya di pesawat."
Chanyeol tidak bisa mengatakan apa-apa tentang itu, dan Sehun tersenyum, senang karena dia menang. Dia menarik celana pendeknya ke bawah dan hampir tersentak saat tangannya akhirnya menutup ereksinya. Sial, rasanya enak. Dia sama sekali lupa bahwa dia bisa merasakan hal itu.
Menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara, Sehun mulai membelai miliknya, dengan sangat menyadari tubuh pria lain di belakangnya.
Hujan terdengar sangat deras di luar, dan suara primitif entah bagaimana membuatnya semakin terangsang. Yang mengejutkan, dia sama sekali tidak merasa malu. Mungkin dia hanya terbiasa dengan Chanyeol yang selalu ada belakangan ini. Mungkin dia hanya tidak peduli lagi. Atau mungkin dia ingin mengganggu Chanyeol. Tidak masalah. Rasanya menyenangkan.
Dia berbalik telentang dan mulai membelai dirinya sendiri lebih cepat, cairannya membuatnya lebih mudah, suara licin dari tangannya yang bergerak di atas penis tidak salah lagi terdengar dalam kesunyian. Dia tetap menutup matanya, tapi dia bisa merasakan Chanyeol di sebelah kanannya, bisa mendengar nafasnya yang keras.
"Aku benar-benar bisa mencekikmu sekarang," kata Chanyeol.
Sensasi aneh menembus tubuhnya. Sehun mengerang, mempercepat pergerakannya. "Simpan fantasi sakitmu untuk dirimu sendiri," katanya terengah-engah.
"Dasar brengsek," kata Chanyeol, terdengar kesal. Ada gemerisik, lalu ada suara daging yang bergerak melawan daging.
Mata Sehun seketika terbelalak.
Terlalu gelap di tempat itu untuk melihat sesuatu dengan jelas, tapi dia bisa melihat tangan Chanyeol bergerak...
Sialan.
Sehun memejamkan matanya kembali dengan cepat. Tidak masalah. Dia tidak benar-benar melihat apapun. Dia bisa berpura-pura itu tidak terjadi—bahwa Chanyeol tidak sedang mengelus penisnya dalam jarak beberapa inci dari tubuh Sehun.
Menjijikkan. Pemikiran itu... tentang tangan besar Chanyeol yang mengepal miliknya itu—itu menjijikkan. Benar-benar menjijikkan. Sangat memuakkan.
Erangan lain keluar dari bibir Sehun, tangannya menggerakkan miliknya lebih cepat.
"Diam," kata Chanyeol dengan kasar.
Sehun merengut. Justru sebaliknya, suaranya menjadi lebih keras, membiarkan dirinya membuat keributan. Persetan dengan Chanyeol. Persetan dengannya. Ugh, dia tidak tahan lagi dengannya. Dia sangat membencinya. Benar-benar munafik. Chanyeol memarahinya karena Sehun tidak tahu malu, tapi sekarang Chanyeol melakukan itu juga, mungkin membayangkan membungkam Sehun dengan kemaluannya—memasukkan penis tebal itu ke dalam mulut Sehun dan memaksanya untuk muntah, tersedak cairannya dan—
Orgasme yang tidak disangkanya datang dengan tiba-tiba. Sehun mengerang, membelai dirinya sendiri sampai dia menjadi terlalu sensitif.
Dia terengah-engah, tangannya yang lain menyentuh dada dan lengannya, berusaha menghibur dirinya sendiri dan tidak jatuh terlalu keras. Dia selalu suka dipeluk setelah berhubungan seks. Itu sebenarnya adalah bagian favorit dari kehidupan seksnya dengan Irene. Irene—telah—luar biasa dalam membuatnya merasa nyaman sesudahnya. Tuhan, dia merindukannya. Irene akan memeluknya dan membelai rambutnya, Irene akan mengatakan kepadanya betapa baiknya dia untuknya. Irene akan—
Air mata panas membasahi matanya.
Astaga, Sehun tidak percaya Irene sudah mati. Tidak percaya Irene tidak akan pernah melingkarkan tangan dan memeluknya di dadanya yang lembut.
Erangan pelan menyadarkannya pada keadaan sekarang. Sehun merona dalam ketidaknyamanan, menyadari bahwa Chanyeol pasti telah selesai juga.
Keheningan melanda di penampungan kecil itu, hanya dipecahkan oleh suara hujan di luar.
Apakah itu imajinasinya atau apakah hujan benar-benar reda?
Tuhan, dia hanya bisa berharap.
=== S Y E ===
TBC...
We hope you like this story!
Aku rasa banyak typo dan kesalahan edit, maaf untuk itu karena aku menggunakan ponsel untuk menulis bab ini, hhh badluck sedang menemaniku terus-menerus akhir-akhir ini bahkan untuk hal kecil. Kuharap untuk update berikutnya notebook dan tabletku sudah bisa digunakan kembali. Akan aku edit bab ini saat itu tiba.
Dan, yah, chapter ini sangat singkat, aku tahu... Kuharap kalian tetap menyukainya.
Jika ada kesalahan kami mohon maaf. Jika ada ketidaksukaan, tolong gunakan bahasa yang baik untuk menghubungi kami! Terima kasih! See you again! :D
