Katakan padaku, siapa 'kah aku bagimu?
.
.
.
.
Saturday –2013–
Sunrise Bakery, Tokyo 4:35 PM.
Uchiha Sasuke berdiri di depan sebuah toko kue, tempat di mana kekasihnya bekerja. Punggungnya ia sandarkan pada bagian samping mobil. Kepalanya menunduk memperhatikan ponsel yang berada dalam genggamannya.
Sasuke
Aku sudah di depan.
Sakura
Oke. Aku mencuci piring dahulu. Tunggu saja sepuluh menit, Sasuke. Ya?
Sasuke
Hn.
Sasuke menghela nafasnya. Ia memandang ke arah sekeliling. Beberapa perempuan yang sedang duduk di sebuah bangku dekat toko kue itu menatapnya genit. Ia mendengus dan menatap mereka tajam. Yang bukannya membuat mereka takut, justru semakin membuat para perempuan itu histeris.
Sasuke memilih mengabaikan mereka. Ia kembali mengalihkan fokusnya pada ponsel pintarnya dan memainkan sebuah game online.
Beberapa menit ia bermain, dirasanya sebuah tangan memegang bahunya, "Aku sudah selesai, Sasuke."
"Hn, ayo."
Sasuke membukakan pintu untuk Sakura. "Terima kasih," ujarnya dengan senyum manis.
Sasuke menepuk kepala Sakura pelan. Ia melangkahkan kakinya ke arah lain dari mobil hitam kesayangannya.
"Bagaimana pekerjaanmu, hm?" Sakura membuka suara dalam perjalanan mereka.
"Aku hanya membantu Kakak untuk hari ini. Untuk pengenalan saja agar nanti aku bisa memimpin salah satu anak perusahaan," balas Sasuke datar. Tatapannya tetap tertuju pada jalanan Tokyo yang memperlihatkan keadaan sore harinya.
"Kau tahu, tadi ada seorang pelanggan pria. Um, kira-kira berumur empat puluh lima tahun. Ketika di kasir, ia terus menatap ke arah dada Nyonya Tsunade. Membuat Nyonya tidak nyaman dan akhirnya mengusir pria itu. Padahal ia hanya membeli sebuah cup cake. Huu, seram, ya, ditatap seperti itu," Sakura
Perjalanan mereka isi dengan menceritakan pengalaman masing-masing hari ini. Percakapan didominasi oleh celotehan Sakura, dan ditanggapi Sasuke seadanya.
"Kau besok libur, 'kan?" tanya Sasuke.
Sakura mengangguk, "Memangnya kenapa?"
"Mau bermain ke Konoha Park?"
Mata hijau itu menatap kekasihnya senang. Senyum lebar tidak dapat Sakura sembunyikan. "Tentu!" dia membalas dengan semangat.
Sasuke tersenyum melihat kelakuan kekasih merah mudanya. Ia mengacak pelan rambut Sakura.
"Ish, Sasuke, nanti kusut!" Sakura merapihkan rambutnya yang terlihat kusut karena Sasuke dengan bibir mengerucut lucu.
Sasuke terkekeh.
Ia berdehem sebentar lalu kembali berujar, "Pukul delapan?"
"Baiklah."
Beberapa menit mereka mengendara. Akhirnya sepasang kekasih itu sampai di apartemen Sakura.
"Mau mampir sebentar, Sasuke?" tanya Sakura sembari melepaskan seat beltnya.
"Tidak, aku langsung saja," balas Sasuke datar.
"Baiklah," Sakura keluar dari mobil setelah mengecup pipi Sasuke.
"Sampai jumpa, Sasuke. Hati-hati!"
Sakura melambaikan tangannya setelah bunyi klakson mobil Sasuke berbunyi dua kali, dan kembali pergi melenggang ke jalanan Tokyo.
Sakura berbalik pergi dari tempatnya berdiri dan masuk ke dalam apartemennya. Ia menaruh tas yang dibawanya pada sofa kemudian pergi untuk membersihkan diri.
o0o
Sunday -2013-
Sakura's Apartment, Tokyo 7:53 AM.
Sakura mematut dirinya dihadapan cermin. Memastikan bahwa penampilannya hari ini sempurnya sehingga dirinya bisa pergi bersama Sasuke.
Toko kue tempatnya bekerja selalu tutup di hari minggu, jadi ia bisa menghabiskan waktu bersama kekasihnya.
"Sempurna."
Merasa semuanya telah sempurna, ia pergi menunggu Sasuke di sofa. Tangannya sibuk mengetik sesuatu dalam ponsel. Hingga terdengar sebuah bel, pertanda ada seseorang di luar yang sedang menunggunya.
"Itu pasti Sasuke," Sakura bergumam sebentar. Ia pergi melangkah, dan membuka pintunya.
"Hai," sapa Sakura.
Sasuke menatap dirinya dalam-dalam kemudian mengangguk. "Pergi sekarang?" tanyanya.
"Mm-hm, ayo!" Sakura mengangguk. Tak lupa untuk mengunci apartemennya lalu berjalan beriringan bersama Sasuke.
Mustang hitam Sasuke berjalan menuju tempat yang mereka tuju; Konoha Park.
Sepasang kekasih itu terlihat sangat serasi, beberapa orang yang mereka lewati saling berbisik iri. Melihat keduanya yang terlihat sangat sempurna. Tatapan iri tidak mengganggu keduanya yang sedang asik berbicara satu sama lain.
"Sasuke, kita naik itu, ya?" Sakura menunjuk sebuah roller coaster yang sedang berjalan. Memperlihatkan orang-orang yang menjerit ketakutan.
"Kau yakin?" tanya Sasuke.
"Tentu!"
Sakura menatap Sasuke kemudian tersenyum jahil.
"Jangan bilang kau takut naik roller coaster, Sasuke?" tanyanya.
Sasuke mendengus, "Tidak."
"Kalau begitu, ayo!"
Sakura menarik tangan Sasuke menuju tempat antrian wahana yang akan mereka naiki. Sasuke hanya pasrah ditarik seperti itu oleh kekasihnya. Mereka mengantri selama beberapa menit dan akhirnya mendapatkan tiket tersebut.
"Kita harus duduk paling depan," Sakura kembali menarik tangan Sasuke. Mereka duduk paling depan karena keinginan Sakura. Dan sekali lagi, Sasuke hanya pasrah.
Setelah semua orang yang menaiki wahana tersebut memasang pengaman. Permainan yang seperti kereta ini mulai bergerak secara perlahan. Jalur menurun yang akan mereka lewati membuat hormon adrenalin meningkat. Sakura memegang erat lengan Sasuke ketika turunan itu sudah di depan mata.
"AAAA!!"
o0o
"Hoek—"
Sakura duduk disebuah bangku, tangannya memegang sebuah kantong plastik. Menjadikan benda itu wadah tempatnya muntah.
Sasuke membantu memegang rambut Sakura agar tidak kotor, tangan lainnya memijit lembut tengkuk kekasihnya.
"Masih mual?" tanya Sasuke dengan datar, namun tidak dapat ia pungkiri bahwa dirinya khawatir melihat kekasihnya terlihat pucat.
"Um, sedikit," Sakura menjawab dengan sedikit bergetar. Padahal menurutnya Sasuke yang sepertinya terlihat ketakutan tadi. Kenapa jadi dirinya yang muntah?
"Mau kubelikan minuman?"
Sakura mengangguk. Ia masih merasa mual. Lengannya terus memegang kantong plastik itu. Siapa tahu dirinya kembali muntah.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Sasuke pergi meninggalkan Sakura. Mencari tempat yang menjual minuman.
Tujuh menit menit ditinggalkan kekasihnya, akhirnya Sasuke datang dengan sekantong minuman. Sakura merasa lebih baik setelah meminumnya. Mereka beristirahat sebentar di sebuah café. Dan kembali melanjutkan hari mereka.
o0o
Konoha Park, Tokyo 3:35 PM.
Kini mereka duduk di sebuah bangku taman, dengan es krim di tangan masing-masing. Keduanya menikmati es krimnya dalam diam. Sakura dengan es krim strawberry dan topping cokelatnya, juga Sasuke dengan es krim vanilanya.
Sakura menyandarkan kepalanya pada bahu Sasuke setelah es krimnya habis. "Hari ini menyenangkan, ya, Sasuke?"
"Hn."
Sakura tersenyum, "Aku harap kita akan selalu seperti ini."
Sasuke merangkul bahu Sakura. Mengusap lembut kepala merah muda yang bersandar dibahunya. "Tentu. Kita akan selalu bersama."
Sasuke tersentak karena Sakura bangun dan tiba-tiba saja berdiri. "Kau janji tidak akan meninggalkanku, Sasuke?"
Sasuke menatapnya, "Ya, pasti," jawabnya yakin. Sakura mengulurkan jari kelingkingnya pada Sasuke. "Janji?"
Sasuke menatap mata hijau kekasihnya lalu tersenyum, "Janji!"
Sepasang kekasih yang sedang berbahagia itu tertawa bersama, ketika jari kelingking masing-masing saling bertautan. Janji telah mereka buat. Untuk tidak pernah saling meninggalkan.
o0o
Wednesday –2013–
Sakura's Apartment, Tokyo 7:33 PM.
Sakura terus menatap layar ponselnya. Berharap kekasihnya itu akan menghubungi. Memberi kabar pada dirinya. Sedikitnya Sasuke memberi pesan. Namun ini tidak sama sekali.
Sudah tiga hari Sasuke menghilang. Tidak bisa dihubungi. Membuat Sakura khawatir. Saat ia mengunjungi rumah Sasuke, penjaga di sana bilang bahwa kekasihnya itu tidak ada. Sama ketika ia mengunjungi gedung kantor tempat Sasuke bekerja.
Ia kembali menangis.
Tiga hari Sasuke menghilang. Saat itu juga Sakura tidak berhenti menangis. Kantung matanya menghitam. Pola makan dan tidurnya menjadi tidak teratur. Membuat para sahabatnya khawatir akan keadaan dirinya. Sakura juga meminta waktu untuk dirinya istirahat pada Tsunade. Tentunya wanita pemilik toko kue itu mengijinkannya.
Sekarang satu bulan.
Satu bulan sudah Sasuke menghilang. Sakura sekarang terlihat lebih kurus. Para sahabatnya itu khawatir akan keadaannya. Hingga mereka memutuskan untuk terus menemani Sakura di apartemennya.
"Sakura, ayo makan."
Ino datang membuka pintu kamar Sakura. Kini gilirannya untuk menemani Sakura. Nampan yang berisi makan malam ia bawa ke arah Sakura.
Sakura tersenyum melihat Ino. "Aku tidak lapar Ino."
Terus. Selalu kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Ayolah, kau harus makan, sayang. Lihat, tubuhmu jadi semakin kecil karena jarang makan."
"Lalu? Tidak akan ada lagi orang yang peduli dengan tubuh ini. Tak ada gunanya juga aku merawat diri."
Ino menghela nafas lelah, sebuah dering ponsel menginterupsi keduanya. "Halo?"
"..."
"Baiklah, aku akan segera pulang."
Sakura menatap ke arahnya, "Pulanglah, Ino. Orang tuamu sudah menghubungi."
"Kau baik-baik saja jika kutinggal?" tanya Ino.
Sakura tersenyum meyakinkan, "Tenang saja. Aku tidak akan bunuh diri."
Ino menatap malas ke arah Sakura, "Kalau begitu aku pulang, ya. Jangan lupa habiskan makananmu." Ino berpamitan pada Sakura.
"Iya-iya," balasnya.
Sakura kembali melamun ketika Ino pergi. Air mata mengalir dari mata hijaunya.
"Kenapa kau lakukan ini, Sasuke?"
.
.
.
.
tbc.
