This is how I feel about you
Twilight
It's like twilight, yeah
Oh baby, I just wanna see that twilight
Wanna see that with you
(ATEEZ - Twilight)
.
.
.
.
"Melamun?" sebuah suara datar dari sampingnya bertanya. Mengalihkan perhatiannya dari jalanan.
"Oh? Um, aku hanya sedang mengenang?" Sakura menjawab, lebih terdengar seperti pertanyaan dibanding pernyataan.
"Hn, apa itu?" tanya Sasuke penasaran.
"Entahlah. Aku tidak tahu itu bisa disebut sebuah kenangan atau bukan." Sakura kembali mengalihkan perhatiannya pada jalanan, "itu indah dan menyakitkan disaat yang bersamaan," lanjutnya.
Sasuke memandang sekilas ke arah Sakura. Ia sepertinya tahu apa yang dipikirkan oleh kekasihnya. Jadi ia lebih memilih diam dan kembali fokus menyetir mobilnya.
"Kita akan kemana, Sasuke?"
"Hn."
Hah, sudahlah. Sudah nasib dirinya menyukai orang seperti Sasuke. Untung sudah terbiasa.
o0o
Uchiha's Mansion, Tokyo 5:00 PM.
Sekarang Sakura tahu kemana Sasuke akan membawanya. Kini mobil yang mereka tumpangi sedang memarkirkan diri di depan mansion mewah milik keluarga Uchiha.
Sasuke dan dirinya melangkah bersama setelah mustang Sasuke terparkir di halaman luas mansion ini.
"Aku pulang," suara datar Sasuke mengudara ketika mereka masuk ke dalam. Suara-suara aneh terdengar dari arah dapur. Menampilkan sosok Uchiha Mikoto dengan apron berwarna putih dengan motif merah.
"Selamat dat—oh, Sakura!" Mikoto memekik senang kemudian memeluk Sakura setelah menaruh apronnya terlebih dahulu.
Mereka saling berpelukan, sementara Sasuke memandang pemandangan itu dengan datar. Sasuke kemudian pergi menuju dapur dan mengambil sebuah tomat merah segar dari keranjang buah-buahan. Ia mendudukan dirinya. Sedangkan Sakura bersama ibunya pergi ke dapur untuk memasak bersama.
"Ibu memasak sup ikannya, ya. Sakura bagian membuat kuenya, oke?" Mikoto memberikan sebuah apron pada Sakura dengan warna yang sama namun motifnya berbeda.
Hampir satu jam mereka memasak, akhirnya selesai juga. Para pelayan membawa makanan yang telah jadi itu dan menaruhnya di meja makan. Sang kepala keluarga belum kembali dari perjalanan bisnisnya. Sedangkan sulung Uchiha baru saja sampai di mansion.
"Wah, aroma sedap apa ini?" Itachi datang ke arah ruang makan dengan kemeja putih yang telah terlepas dari jas hitamnya. Ia melihat-lihat makanan apa saja yang tersaji di hadapannya. Kemudian mengambil sebuah apel dan memakannya.
"Kau sudah pulang, Itachi?" Mikoto datang bersama Sakura dari dapur, setelahnya ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sakura menaruh kue yang telah jadi di meja makan.
"Eh, ada Sakura ternyata."
Sakura tersenyum. Sasuke turun dari atas setelah selesai membersihkan diri. Ia kemudian mendekat ke arah Sakura lalu mengecup bibir merah itu pelan. Membuat Sakura membeku dengan pipi yang mulai memerah. Sedangkan Itachi berdecak melihat adegan tersebut, "Ck, dasar."
Sasuke mengangkat bahunya acuh. Ia membawa dirinya duduk di salah satu kursi dan menepuk-nepuk sebuah kursi di samping kanannya, agar Sakura duduk disana.
"Sasuke, aku belum mandi," Sakura menunjuk dirinya sendiri. Rambut lepek juga tubuh yang sudah berkeringat membuatnya tak nyaman. Ia ingin segera mandi.
"Kalau begitu Sakura pakai baju Ibu saja," sahut Mikoto. Sakura memandang canggung padanya, "Boleh 'kah?"
Mikoto tersenyum, "Tentu saja, Sayang. Kau bisa tunggu di kamar Sasuke. Nanti aku antarkan kesana, ya."
Sakura mengangguk. Mikoto kemudian berbalik menuju kamarnya. Mengambil beberapa potong pakaian yang dapat dipakai Sakura. Ia kemudian berjalan menuju undakan tangga, bermaksud ke kamar Sasuke.
Sakura masuk ke dalam kamar bernuansa biru tua dan putih itu. Kamar yang dulu tak jarang dia kunjungi. Terlihat tidak banyak hal yang mengalami perubahan. Ada koper besar di pojok kanan kamar. Dia yakin itu adalah barang yang Sasuke bawa dari Milan.
Dia membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah bathrobe putih yang masih bersih. Lebih terlihat seperti masih baru. Sakura lalu membawanya ke dalam kamar mandi.
Dua puluh menit ia habiskan untuk bersih-bersih. Wanginya kini seperti Sasuke karena ia memakai sabun yang biasa dipakai oleh kekasihnya.
Sakura keluar dari sana dengan rambut basah, ia mengeringkan rambut merah mudanya itu dengan hair dryer yang ada di meja. Terdapat seonggok pakaian di ranjang. Ia sepertinya tahu siapa yang menaruh itu disana. Tentu saja, Mikoto.
Sakura turun dari kamar dengan keadaan lebih segar. Ia memakai piama berwarna biru tua dengan garis putih milik Mikoto. Sakura melihat orang-orang di rumah ini telah berkumpul di meja makan.
Sakura kemudian duduk di samping Sasuke.
"Wah, ternyata piyama itu sangat cocok dipakai Sakura," Mikoto berujar senang. Beberapa saat kemudian mereka makan malam dengan khidmat. Hanya terdengar obrolan kecil antara Sakura dan Mikoto. Sedangkan para pria lebih memilih menyimak kedua wanita tersebut.
Makan malam telah usai dan sekarang mereka semua sedang bersantai sembari menonton televisi. Sakura terus melekat dengan Mikoto. Membuat Sasuke harus berpasrah karena tidak bisa berduaan dengannya.
Sasuke kembali menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Melihat ibunya dan Sakura sedang menggosipkan seorang artis dari sebuah acara gosip yang kini mereka tonton.
"Aduh, lihat itu. Pakaiannya sungguh terbuka. Kalau begitu sekalian saja tidak perlu pakai baju," Mikoto
"Mm-hm, Ibu benar."
Mereka duduk di bawah, menyandar pada sofa dengan sepiring macaroon ditangan Sakura. Ia asik memakan makanan manis itu dengan mata yang tetap fokus pada layar televisi.
Sasuke memandang keduanya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Keduanya ada wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Ibunya dan Sakura.
"Ibu," suara bariton itu memanggil nama sang ibu. Mikoto mengalihkan perhatiannya dari acara gosip yang ia tonton dan membalikan badan kearah putra bungsunya duduk.
"Ada apa, Sasuke?"
Sasuke menarik nafas dalam. Ia menatap sekilas ke arah Sakura. "Aku akan menikah dengan Sakura, Bu," ujar Sasuke dengan mantap. Ia dapat melihat ekspresi terkejut dari ibunya.
Mikoto menutup mulutnya. Matanya terasa berair sekarang.
"Kau serius, Nak?" Mikoto menghampiri Sasuke yang sedang duduk dilain sofa.
"Ya, Ibu. Aku serius akan menikahi, Sakura. Untuk itu juga aku membawanya kemari hari ini," terang Sasuke.
Mikoto memeluk Sasuke, "Tentu, sayang. Tentu. Carilah kebahagiaan kalian. Ibu disini akan selalu mendukung."
Mikoto mengusap kepala putranya. Ia kemudian menatap Sakura. Mengulurkan lengannya agar wanita itu bergabung bersamanya. Sakura bangkit lalu menerima uluran tangan itu. Mikoto juga menarik Itachi agar ikut berpelukan bersama.
Ya, pelukan bahagia.
o0o
"Selamat, ya!
Ucapan selamat terus mengalir sedari tadi. Semua orang turut berbahagia dengan bersatunya kedua insan itu. Sasuke dan Sakura. Pancaran aura kebahagiaan memancar dari keduanya.
Senang.
Tentu mereka merasa senang. Setelah sekian lama berpisah, akhirnya takdir kembali menyatukan keduanya. Kesedihan, tangis, putus asa. Semuanya telah mereka lalui.
Naruto datang bersama Hinata. Keduanya juga telah bersatu. Membentuk suatu ikatan bernama pernikahan, rumah tangga. Sasuke dan Sakura menikah tiga minggu setelah keduanya mengucapkan janji suci.
Naruto menggenggam tangan Hinata. Ia menghampiri kedua pasangan suami istri baru itu dengan sebuah hadiah yang dibawanya.
"Selamat, kawan! Akhirnya gelar 'jomlo' mu hilang juga."
Naruto menepuk-nepuk bahu Sasuke. Sementara orang yang ditepuk pun hanya memasang ekspresi datar.
"Sakura, selamat, ya," Hinata memeluk Sakura. Ia memberikan sebuah hadiah padanya dan diterima Sakura dengan senang hati, "Terima kasih, Hinata."
"Ini dia! Pasutri baru kesayangan kita semua!"
Ino datang bersama Sai. Ia menghampiri Sakura dan menyerahkan sekotak hadiah, "Kau akan membutuhkan ini," bisiknya.
"Memangnya apa yang ada di dalam kotak ini?" tanya Sakura. Ino tersenyum misterius, "Yang pasti itu akan sangat diperlukan."
Sakura menghela nafas. Ia memilih untuk menaruh kotak itu bersama hadiah lainnya.
"Kalian siap untuk malam pertama?" pertanyaan Sai membuat keduanya terdiam. Samar terlihat semburat merah dari keduanya. "A-ah itu ..."
"Sasuke, selamat atas pernikahanmu."
Sebuah suara mengalun memotong perkataan Sakura. Sosok wanita anggun dengan rambut pirangnya dan seorang pria berambut coklat.
"Terima kasih, Shion."
Shion. Wanita itu datang bersama calon suaminya. Nakamoto Utakata, seorang prajurit angkatan laut Jepang. Keduanya datang atas undangan Sasuke dan Sakura.
Shion dan Utakata juga akan segera melangsungkan pernikahannya. Undangan sudah disebar. Tak lupa juga memberikan undangan itu pada Sasuke dan Sakura.
Shion menyalami Sasuke kemudian Sakura. "Selamat, Sakura," ia tersenyum.
"Terima kasih, Shion," balas Sakura.
Utakata pun turut bersalaman dengan keduanya. Sekilas dirinya mirip dengan Sasuke. Kepribadian yang tenang dan selalu memasang ekspresi datar.
"Ayo semuanya! Kita berfoto!" Naruto berteriak dengan seorang fotografer di sampingnya. Ia pun berlari untuk berfoto bersama dengan background altar juga pantai yang indah.
Semuanya berbaris rapih, sementara sang pengantin baru berdiri di tengah-tengah. Sakura memegang sebuket bunga pemberian dari Mikoto.
Sang fotografer memberi aba-aba pada mereka, "Satu ... dua ... tiga, cheese!"
Ckrek!
.
.
.
.
.
.
Cinta adalah untuk bahagia.
Ketika cinta menjadi penyebab air mata, itu adalah jalan menuju bahagia.
.
.
.
.
The end.
