Bonus Chapter

H A P P I N E S S


note: ilustrasi hanya bisa dilihat di wattpad


"Sarada, sayang. Kau menghalangi kameranya, Nak," Sakura memindahkan putrinya dari hadapan kamera. Menaruh tubuh Sarada di antara dirinya dan Sasuke.

Sarada menatap ibunya dengan pandangan berkaca-kaca. Bocah berumur satu tahun itu menurunkan bibirnya, menangis. "Shh, putri Ibu 'kan kuat. Jadi tidak boleh menangis, ya," Sakura membawa Sarada ke dalam pangkuannya. Sasuke menatap keduanya dengan pandangan lembut.

Sarada menatap ayahnya dengan tangan menggapai-gapai ingin digendong. Sasuke pun mengambil putrinya itu dari pangkuan sang istri ke pangkuannya. Sarada terkekeh lucu dan lengan mungilnya terangkat, ingin memegang dagu ayahnya.

"Baiklah kalau begitu, karena Sarada sudah membaik jadi kita foto sekarang saja," ujar Sakura. Ia kembali mengatur kameranya. Dalam hitungan ketiga, foto keluarga mereka telah berhasil diambil dengan Sarada yang ada dipangkuan Sasuke dan Sakura yang sedang menggelitik putrinya.

o0o

Sarapan pagi hari di rumah keluarga kecil itu terlihat sedikit rusuh. Sarada yang menangis kencang dari arah kamar membuat Sakura yang sedang mencuci piring segera bergegas menghampiri. Dari box tempatnya tidur, Sarada menangis kencang dengan tubuh tengkurap.

Sakura mengangkat putrinya lalu menggedongnya. Menepuk-nepuk pelan pantat putrinya juga dengan beberapa bisikan menenangkan.

Setelah Sarada kembali tenang dan tertidur, Sakura mengembalikan putrinya ke box bayi tempatnya tidur dan kembali melanjutkan pekerjaan.

Sasuke duduk di meja makan dengan pakaian santainya, sebuah koran senantiasa berada di tangannya. Sakura menaruh segelas kopi hitam tanpa gula di hadapannya dan ikut duduk di kursi samping pria itu.

"Um, Sasuke, hari ini kau sedang santai, 'kan?"

Sasuke mengalihkan perhatiannya dari koran, "Kenapa?"

"Aku ada janji untuk pergi bersama Ino, Hinata dan Tenten untuk hari ini. Aku tidak akan membawa Sarada. Jadi aku titip putri kita padamu, ya, Sasuke?"

"Hn, baiklah."

Sakura tersenyum senang. Ia mengecup pipi Sasuke, namun dengan cepat pria itu menarik Sakura kepangkuannya. Mencium bibir merah istrinya, melumat dengan lembut bibir itu.

Morning kiss, huh?

o0o

Mereka kini ada di halaman rumah. Sakura sudah akan pergi. Sarada ada dalam gendongan ayahnya. Gadis kecil itu terlihat sibuk dengan rambut Sasuke. "Aku titip Sarada padamu, semua kebutuhannya sudah ada dalam daftar."

Sakura menghampiri Sarada dan mengecup pipi tembam itu lama, "Ibu pergi dulu, sayang. Jangan membuat repot ayahmu." Ia terkekeh, "Kalau begitu aku pergi dulu."

"Hati-hati."

Sakura tersenyum, "Tentu." Sakura pergi kemudian, ia pergi menggunakan mobilnya ke café miliknya dan Ino. Mereka tidak mengurus tempat itu sendiri sekarang, karena disibukkan dengan tugas menjadi seorang ibu. Jadilah keduanya memperkerjakan beberapa orang tambahan untuk mengurusnya, kemudian mengeceknya secara rutin.

"Jadi Sarada, sekarang tinggal kita berdua," ujar Sasuke pada putrinya. Sarada terkekeh dan kembali memainkan rambut ayahnya.

Kedua orang ayah dan anak itu masuk ke dalam rumah. Sasuke menaruh Sarada di ruang santai dengan mainannya sementara dirinya pergi ke dapur. Melihat apa saja yang ditulis Sakura untuknya.


Sekarang berikan Sarada susu yang ada di lemari pendingin. Hangatkan terlebih dahulu lalu campurkan sedikit madu. Berikan Sarada susu ketika dia mau. Jangan lupa untuk mengganti popoknya!

Berikan juga ia pisang yang sudah di lembutkan. Itu juga hanya ketika dia ingin. Mandikan Sarada dengan air hangat. Ingat, Sasuke, air hangat.

Semoga hari kalian menyenangkan,

Sakura


Sasuke menghela napas, ia kemudian mengambil sebotol susu dan menghangatkannya ke dalam microwave. Setelah dirasa cukup hangat, ia mencampurkan sedikit madu kedalammya lalu membawa botol susu tersebut pada Sarada.

Sarada menggoyang-goyangkan tangannya ketika melihat Sasuke datang dari dapur dengan sebotol susu. "Siapa yang ingin susu?" tanya Sasuke dengan nada jenaka. Um, okay, Sasuke terlihat aneh jika bersikap seperti itu.

"Da-da," bibir mungil itu tersenyum, memperlihatkan gusi merah muda yang baru ditumbuhi dua gigi seri bagian bawah.

Sasuke mendudukan dirinya disamping Sarada. Ia meneteskan sedikit susunya pada pada punggung tangannya. Dirasa susu tersebut sudah tepat suhunya, Sasuke memberikan botol susu itu pada putrinya. Sarada dengan semangat langsung meminum susu tersebut.

Sasuke memperhatikannya dengan senyum. Ia merasa bangga jadi ayah. Meskipun hanya membuat susu. Keduanya bermain bersama, ditemani ocehan lucu dari Sarada. Namun tiba-tiba mata gadis kecil itu berkaca-kaca.

Sasuke panik dibuatnya. Saat ini tidak ada Sakura yang biasa melakukan hal seperti ini ketika putrinya menangis. Jadi ia putuskan untuk menggendong Sarada. Menepuk-nepuk pantatnya pelan seperti apa yang biasa istrinya lakukan.

Tunggu? Ia sepertinya tahu apa yang membuat Sarada menangis. Ya, popoknya sudah harus diganti.

Sasuke menghela nafas. Sepertinya ia harus menonton tutorial cara mengganti popok bayi.

o0o

Botol susu kedua untuk Sarada sedang dibuat. Setelah bekerja keras mengganti popok putri kecilnya, Sasuke memutuskan untuk membuat susu bagi Sarada lagi. Sekarang sudah hampir pukul empat sore dan Sakura masih belum kembali.

Ia membawa Sarada digendongannya dan botol susu di lain tangan ke ruang santai. Sebelum memberikan botol susu itu pada putrinya, ia memastikan bahwa susunya sudah tidak terlalu panas.

Mereka duduk bersama sembari menonton televisi, Sarada duduk dipangkuan Sasuke dengan tangan memegang botol susunya. Mata bulatnya menatap acara kartun yang ada.

Sasuke merasa kantuk menyerangnya. Beberapa menit kemudian, hampir saja ia tertidur jika tidak merasakan tepukan kecil di kedua pipinya.

"Pa-pa."

Sasuke membuka matanya. Melihat sang putri sedang menepuk-nepuk pipinya. "Kau bilang apa tadi, Salad?"

Sarada terkekeh lucu, ia semakin kencang menepuk pipi Sasuke, "Papa!"

Sasuke menatap Sarada dengan pandangan tak percaya. Sarada baru saja memanggilnya papa?

"Ayo, Salad, katakan sekali lagi."

"Papa!" Sarada terus berkata seperti itu dengan tangan yang terus menepuk pipi ayahnya.

Ya ampun, Sasuke merasa sangat bahagia. Sarada baru saja memanggilnya Papa!

Karena rasa bahagia itu, Sasuke mengangkat-angkat kecil tubuh Sarada. Hidung mancungnya ia gesekkan dengan hidung mungil putrinya. Membuat gadis kecil itu tertawa renyah.

Satu jam kemudian.

"Aku pulang," Sakura masuk kedalam setelah menaruh sepatu yang dipakainya ke rak. Ia tidak mendengar suara apapun dari dalam rumah. Apakah suami dan putrinya sedang tidak di rumah?

Sakura melangkah masuk menuju ruang santai karena mendengar bunyi televisi yang masih menyala dengan suara kecil. Dan terkejutnya Sakura ketika melihat ayah dan anak itu sedang tidur. Sasuke tidur dengan posisi menyandar pada sofa dengan Sarada yang tidur dipangkuannya.

Oh, ini adalah pemandangan yang sangat lucu.

.

.

.

.

E N D


author's note:wuh, akhirnya selesai juga. padahal cerita ini udah tamat hampir dua tahun yang lalu di watty, dan aku baru sempat buat nyelesain di sini sekarang, maafkan :( selain karena kesibukkan dan juga kemalasanku hehe, aku juga masih kurang terbiasa pake FFN (untuk menulis, ya). kalau aku ngetik di sini, tuh, kadang suka gak ke save :( tapi, justru itulah tantangannya, betul?terima kasih buat kalian semua yang selalu dukung cerita-ceritaku di FFN. aku bener-bener mengapresiasi segala dukungan kalian. cuma satu yang menggangguku ... GIMANA CARANYA BUAT BALES REVIEW, WEH? empat tahun aku pake FFN masih gak tau caranya bales review /nangis