Halo. Kembali lagi bersama karya saya dengan pairing KuroPika. Saya harap Anda tidak keberatan dengan karya AU. Seperti biasa, saya mengharapkan kalian semua yang berkunjung menyukai karya-karya yang saya suguhkan.
Ada yang menyukai figure skating? Musik Short Program yang dibawakan oleh Yuna Kim pada tahun 2013 sangat menginspirasikan saya untuk membuat karya ini! Lantunan pianonya sangat mencekam, lagi Yuna Kim sukses memenangkan World Championship 2013 dengan membawakan lagu ini. Yah, terima kasih kepada Yuna Kim karena lagu yang memotivasi.
A Kiss Of The Vampire
Chapter 0
Hunter x Hunter (c) Yoshihiro Togashi
Selamat menikmati!
Kawanan kelelawar tergesa-gesa mengepakkan sayap menghiasi langit malam yang sepi. Angin bertiup, tak sekencang kemarin. Namun agaknya masih cukup untuk merontokkan dedaunan kering yang bersisa di dahan. Sementara gemerisik masih saja terdengar jelas di antara semak-semak yang diusik oleh binatang malam.
Lolongan serigala menggema, burung hantu bernyanyi sebentar sebagai pelengkap. Tatkala ia memutar kepalanya secara utuh tepat ketika mendapati suara langkah sepatu. Beberapa binatang agaknya ikut penasaran kepada sosok empunya.
Rambut pirangnya melambai dibantu angin. Ya, tangan si wanita tampak enggan untuk repot-repot melambaikan tangan kepada penghuni hutan. Ia memiliki kulit yang nyaris sepadan dengan warna porselen. Sementara manik safirnya seolah menyala di dalam gelap. Jernih, lagi terang.
Sinar yang memancar dari bulan purnama mengusir halus awan gelap yang menutupi. Masih saja ia tak dipedulikan oleh sesosok makhluk abadi itu. Justru yang bermanik safir ini segera mempercepat langkah menuju katedral yang sepi.
Sayup-sayup sepasang telinga mulai peka kepada alunan organ. Nyaris suaranya utuh memenuhi lorong gelap. Bahkan suara sepatu si wanita mampu mereka redam.
Namun tidak kepada suara pintu yang berderik seram. Tatkala sesosok pria tengah menikmati lantunan melodi segera menolehkan pandangan kepada pintu kembar yang menyambut kedatangan si wanita bermanik safir. Suara organ terhenti. Lantas si pria segera mengarahkan benang-benang kepada si wanita.
Sayangnya tak satu pun benang berhasil menjerat tubuh langsing itu. Benang-benang justru terpental balik. Sama sekali tidak ada rasa kesal di hati si pria. Malah, seringai semakin ia perlebar di kala manik obsidiannya mendapati aura yang menguar dari tubuh si wanita. Kontan ia pula mendapatkan tatapan menyalang dari manik rubin yang sudah melahap habis warna si safir.
"Sudah lama aku menunggumu datang kembali," Akhirnya si pria membuka suara. "Lihat siapa yang sudah berani kepada tuannya."
Si wanita masih bergeming. Ia menatap lurus kepada pria yang mulai berdiri dari singgasana. Langkah sebisa mungkin ia turunkan ke anak tangga, sedikit pun tak menciptakan bunyi.
Secepat kilat si pria melompat menjauhi singgasana. Perlahan-lahan ia mendarat di hadapan wanita, kali ini bersama senyum lembut yang ia punya.
"Kupikir kau tidak akan datang menghadiri undanganku."
Meski ibu jari dari tangan kekar itu sudah hinggap di dagunya, tak sedikit pun di dalam hati si wanita terbesit hasrat ingin menepis. Ia mempertemukan maniknya kepada obsidian yang tak berdasar. Entah biru langit yang harus tenggelam di antara langit malam atau justru yang bermanik arang tenggelam di dalam lautan. Benar-benar warna yang kontras, saling merefleksi.
"Tampaknya dia tak ingin lagi dikendalikan …."
Lagipula siapa yang ingin dikendalikan oleh siapa pun?
Kening si wanita mengernyit sakit. Senyum getir terpatri di wajah yang semula datar.
"Sayang sekali." Begitu ia berujar. "Kali ini bonekamu justru datang untuk membawakanmu mimpi yang sangat panjang."
Tatapan datar kontan menurunkan tangan yang menahan dagu. Tidak, sama sekali ia tidak marah. Malah, si pria terkekeh. Hatinya menganggap ucapan itu terlalu naif untuk dilontarkan. Terutama kepada vampir terkuat seperti dirinya.
"Kalau begitu, apakah dia sudi berdansa bersamaku …." Sebentar dia menjeda selagi tangan dinginnya berusaha menggenggam tangan si wanita. "… Untuk yang terakhir kalinya?"
Pandangan manik rubin melembut, bersamaan dengan warnanya yang mulai surut kembali ke warna safir yang menenangkan. Ia menundukkan kepala, menghindar dari tatapan obsidian yang tengah menunggu jawaban.
Namun si wanita mengangguk.
To be Continued
Bagaimana? Silahkan tuturkan pendapat Anda di kolom komentar. :D
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
