Eren Jaeger. Laki-laki tulen 17 tahun, alias masih brondong. Punya hobi gegulingan ga jelas di lantai. Tampang imut ngalahin dedek-dedek emes manapun. Mata emerald cerah kayak di efek padahal engga. Rambut Brunette halus bak iklan sampo. Motto hidup "seberat apapun hidupmu, tatakae-in aja". Punya pengalaman buruk dengan kecoa terbang yang membuatnya jejeritan sampe se-RT kebangun semua gara-gara suara 10 oktaf miliknya.

Cita-cita masuk polwan, tapi ga jadi karena dia cowok. Otomatis langsung gagal di kriteria pertama (Lol). Dia Eren Jaeger, inilah kisahnya.

ps: saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini kecuali hanya untuk memuaskan imajinasi semata.

Happy reading (^^)

Sprei kasur yang berjelimet (?), Gorden yang belum tersibak sepenuhnya, pakaian kotor yang tercecer di lantai. Bekas bungkus cemilan sisa perang semalam teronggok sembarangan. Hanya ada satu kata yang dapat mendeskripsikan keadaan kamar yang bagai kapal pecah satu ini. Kacau.

Melihat keadaan kamar yang rariweh bin rarungsing seketika kepala Eren Jaeger pening. Eh, jangan salah ini semua bukan perbuatan dirinya kok. Eren sendiri mah mana mau ngeberantakin kamarnya. Kecuali tadi malam, ada makhluk sejenis mamalia darat yang nginep (baca: Jean kristein), seenak jidat menjadikan kamar Eren sebagai markas perkumpulan dadakan dengan alibi mengerjakan tugas kelompok, padahal sih mau main game gratisan di rumah Eren. Dan tadi pagi dia pergi tanpa ada niatan sedikitpun membereskan kamarnya terlebih dahulu, katanya sih mau balik lagi tapi kapan Eren ga tahu. Sungguh tamu yang tak patut di contoh.

Untungnya ini hari Sabtu, waktunya malas-malasan #yha.

Eh ngomong ngomong si tokoh utama Fik ini mana sih kok ga keliatan? Oh ternyata dia lagi dipojokan noh.

Eren bangkit dan menyeka keringat di dahi. Fyuh selesai juga misi dari ibunya, alias Carla yang menyuruhnya untuk menutup lubang tikus yang ada di kamar Eren.

Emang dasar, lubang itu sebenarnya udah ada sejak Eren pindah ke rumahnya yang sekarang. Dikarenakan rasa cintanya terhadap hewan begitu besar, ia membiarkan lubang itu terbengkalai. Bisa di dengar tiap malam tikus-tikus di sana hidup dengan makmur karena Eren juga memberi mereka makan keju sisa di dapur. Tentu saja dia memberinya dengan diam-diam tidak ingin ketahuan sang ibu. Dan bisa di tebak, makin makmur tikus di sana, makin banyak pula penghuni lainnya untuk berdatangan secara bergelombol membuat geli bulu kuduk melihat tikus itu mencicit ke arah mu.

Bayangkan, dengan pandangan menginvasi isi kamar tikus-tikus itu meneror kehidupan damai sentosa Eren Jaeger. Eren kapok, dan akhirnya mendengarkan perkataan sang ibu ketimbang hidup dengan teror hewan pengerat yang mengganggu hidup, tidak terima kasih, Eren masih ingin hidup normal.

Satu masalah selesai, masalah lain menunggu. Kini ia memandangi kamarnya dan rasanya ingin mewek saat itu juga. Eren harus mengingatkan dirinya agar menjitak kepala Jean kristein jika mereka bertemu. Karena dirinyalah Eren harus kerja rodi di pagi hari macam sekarang di hari libur pula. Dengan langkah tersaruk, Eren mulai membersihkan kamarnya.

Pertama dia mengambil sapu, kemoceng beserta kawan-kawanya yang lain. Tidak lupa wipol dan pengharum ruangan juga dia borong. Sekarang sudah lengkap. Eren Jaeger sudah siap bertempur melawan kuman yang membandel.

Satu jam berlalu, kamar yang semula bak kandang ayam sekarang sudah bersih nan kinclong, tak lupa sebagai sentuhan akhir, Eren menyemprotkan pengharum ruangan yang tadi diambil sebagai pewangi agar lebih segar. Eren tersenyum sambil mengusap hidung bangirnya, ia puas akan kerja kerasnya, tidak sia-sia ia ikut kursus bersih-bersih bersama Armin di komplek sebelah kalau hasilnya se-emejing ini muehehee.

Dengan rasa bangga yang kelewat tinggi, Eren berniat untuk melaporkannya pada sang ibu. Namun naas saat dirinya berbalik, Eren menginjak kain pel yang masih basah di lantai dengan jidat sukses bercumbu mesra dengan lantai bau wipol wangi Cemara. Sial.

Di dapur, mama Carla lagi asyik membuat sarapan, papa Grisha udah berangkat satu jam yang lalu ada urusan mendadak di kantor makannya hari libur begini dia berangkat. Mendengar suara kursi yang di geser ke belakang, Carla tau anak semata wayangnya pasti udah turun minta jatah sarapan.

"Bersih-bersih nya udah selesai? Loh jidat kamu kenapa sayang?" Carla sedikit terkejut melihat lebam kebiruan yang menghiasi kepala anaknya itu.

"Cuma kecelakaan kecil kok."

Jawab Eren sekenanya.

"Coba sini mama periksa."

Carla memegang wajah Eren, dan mulai memelototi lebam itu seolah dengan sekali tatap lebam nya bakal ilang.

"Sakit tidak?"

"Enggak terlalu sih.. WADAWW ga usah di pencet ma."

"Eh, maaf maaf, katanya ga sakit."

'Ya kali di pencet pake kekuatan super ga sakit?'

gedek sih tapi emak sendiri, takut durhaka jadilah ia cuma cemberut.

"Ya udah, mama ambil p3k dulu ya, dan oh itu makanannya udah siap, kalau kamu udah laper makan aja."

Carla beranjak mengambil kotak itu.

Eren melirik sebentar ke arah makanan di atas meja, semua hidangan yang ada di sana berhasil membuat air liurnya menetes sebab aromanya yang menggoda iman. Masakan mama Carla emang the best. Tanpa ba-bi-bu Eren mulai menyerbu makanan di atas meja dan memindah tempatkan makanan tersebut ke dalam perutnya yang meraung minta jatah.

Tak berapa lama, mama Carla datang sambil membawa plester dan memasangkannya di jidat lebar Eren membentuk tanda silang.

"Jidat-jidat cepat sembuh." Rapal mama Carla menangkupkan kedua tangannya di pipi Eren dan mengusapkan keningnya sendiri ke kening Eren.

"Ih, mama aku bukan anak kecil lagi." Eren protes.

"Biarin, bagi mama kamu tetap bayi besar yang manja. Rasanya baru kemarin mama mengganti popok dan memandikanmu, sekarang tiba-tiba kamu udah gede aja."

Eren bisa melihat mata mamanya yang berkaca-kaca, Eren maklum karena dirinya anak tunggal wajar saja kalau mamanya merasa seperti itu.

Ting..

Sebuah ide muncul di kepala Eren.

"Ma, kenapa ga buat adek lagi aja sih sama papa?"

Blushh

Wajah mama Carla memerah mendengar perkataan yang sedikit frontal dari anaknya itu.

"Hus, kamu ini emangnya bikin adek segampang bikin adonan kue apa?"

"Ya kan dari pada mama terus nganggep aku kaya anak kecil, lebih baik buat aja yang baru." Cerocos Eren seenak jidat, dia kira bikin bayi sama kaya bikin panekuk, sekali di cetak langsung jadi? Polos boleh, tapi ga goblok juga Ren *author digiles*

"Memangnya kamu pengen punya adik?" Ujar mama Carla spontan, memang dirinya dan sang suami kan menjalankan keluarga berencana, dua anak lebih baik, itu kata program pemerintah yang berencana mengendalikan perkembangan penduduk yang membludak, lagi pula kan sekarang baru dapet satu bikin satu lagi bolehlah. Pikir mama Carla.

"Kalau adiknya unyu-unyu kaya aku sih boleh.." Eren kepedean. Otomatis Carla mencubit pipi gembul anaknya itu.

"Nanti kamu bakal ga bisa manja-manja lagi sama mama mau?"

"Eh, emang boleh gitu pilih kasih? Setau ku pasti mama nanti bakal lebih sayang sama Eren dari pada adik bayi nanti"

Carla tersenyum, dan mencium Eren.

"Adik bayinya aja belum lahir, kamu udah iri aja."

"Hehehe."

Kringg...

Tiba-tiba suara telpon rumah berbunyi mengganggu adegan lovey dovey anak dan mama kita satu ini. Carla segera menghampiri telpon tersebut dan mengangkatnya. Sementara itu, di meja makan Eren kembali melanjutkan kegiatan mengisi perutnya hingga kenyang. Ia mencomot bakwan yang ada di ujung meja,

nyam enak.

Suara tawa cekikikan terdengar sesekali saat Carla menjawab telpon yang entah dari siapa. Dari gelagatnya sih sepertinya dari sahabat dekatnya. Dasar emak-emak emang. Batin Eren maklum. Kalau dipikir pikir mama Carla itu emang masih muda sih, dia menikah dengan papa Grisha umur 20 dan sekarang umur Eren 17, jadi mama Carla masih 37 tahun an, masih muda lah jadi wajar kalau tingkahnya masih kaya ABG baru puber, eh emangnya wajar ya? Ga tau juga (lol).

"Eren sayang, kayaknya hari ini mama bakal ga di rumah deh."

"Hmph? Mamha mahu perhi ke manha?" (Mama mau pergi ke mana)

Ujar Eren dengan mulut penuh makanan.

"Jalan-jalan dong kamu nanti jaga rumah ya."

"Ahsiaapp." Jawab Eren tidak terlalu memperhatikan karena masih terbuai dengan makanan yang ada di meja.

"Eh tapi nanti teman mama mau nitipin anaknya yang kecil ke kamu mau ya?"

Eren memuntahkan makanannya secara otomatis.

"Heeehh, masa aku? Ga mau, ga mau emangnya aku baby sitter apa?" Eren tidak terima kalau masa mudanya akan ia habiskan dengan mengasuh anak? No way. Di dalam kepalanya sudah menari-nari bayangan kalau ia sedang mengganti popok dan menggendong anak yang tak mau berhenti menangis, belum apa-apa Eren sudah merasa stres. Padahal mah cuma sehari apanya yang masa muda habis?

Mulut Eren sudah bersiap mengucapkan protesan yang lain namun bungkam setelah melihat mama Carla yang sedang mengasah pisau dapur. Hiiyy ngeri coy.

"Mau protes?"

Eren menggelengkan kepala coklatnya.

"Eng-enggak ma, elah kan aku cuma nanya.." Eren terpaksa.

"Baguslah, sekalian juga kamu latihan jadi kakak yang baik, supaya nanti kalau punya adik kamu udah ada pengalaman."

"Iya iya." Eren setengah hati menerima.

"Gitu dong, kan mama jadi seneng."

Carla melenggang ke kamarnya meninggalkan Eren yang dalam mode gundah gulana.

.

.

.

Ting tong..

Bel rumah berbunyi, Eren yang lagi rebahan di sofa sambil nonton tv langsung bangun setelah mendengar mamanya menyuruh dirinya untuk membukakan pintu.

"Hai, eh, kamu pasti Eren ya?"

Setelah membuka pintu Eren memperhatikan baik-baik seorang wanita cantik berambut hitam panjang yang sedang menggendong anak yang berusia 4 /5 tahunan. Masih balita. Memakai kemeja kotak-kotak dan celana kodok. Terlihat lucu. Tapi saat Eren melihat wajahnya. Err ada yang aneh?

"Loh, kok Tante tau?"

Tanya Eren. Setelah memalingkan wajahnya pada Kuchel kembali dan mencoba menghiraukan si bocah.

"Tau lah, kamu mirip banget sama ibumu.." ucap wanita itu.

"Hahaha.." Eren hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Loh Kuchel? Sudah datang?"

Mama Carla keluar dari kamarnya dan dandanannya astaga? Eren cuma bisa melongo melihat ibunya yang berdandan seperti ABG baru puber.

"Mama ngapain pake baju norak kayak begini sih?"

Ingin rasanya dia melaporkan itu ke papanya, kalau saja Eren tak sayang nyawa sih.

"Kamu bilang baju ini norak?" Aura gelap seketika muncul di belakang mama Carla. Nah loh salah ngomong kan? Selamat kepada Eren Jaeger kau telah menggali lubang kubur untuk dirimu sendiri.

"Eh engga-enggak salah, maksudnya itu cocok banget sama mama gitu."

Keringat sebiji jangung sudah muncul di kepala Brunette Eren.

"Jadi maksud kamu baju norak ini cocok sama mama yang juga norak?"

Gusti..

Salah ngomong ...

"Duh, ma maksudnya begini loh.. "

"Fix, malam ini kamu ga dapet jatah makan malam dan uang saku dipotong setengah!"

Mampus

"Ekhem, Carla sepetinya ini sudah semakin siang, ayo berangkat sebelum kesiangan." Ujar sahabat mama Carla yang sempat terlupakan eksistensinya akibat perdebatan unfaedah yang merugikan Eren.

Masih cemberut, mama Carla keluar dari rumahnya dan mempersiapkan mobil yang akan di tumpangi.

"Oh, dan ini Levi, Carla pasti sudah memberi tahu mu kan? Titip dia ya nak Eren. Hei sayang say helo sama kakak."

Pandangan Eren bergulir pada si bocah yang Kuchel gendong. Err perasaannya saja atau memang si bocah ini memiliki pandangan yang menusuk?

"Hai om.." ujarnya tak niat.

CTAK..

Perempatan siku-siku muncul di dahi Eren.

Dia di panggil om?

OM?

OM!

Serius? Eren yang unyu kek begini di panggil om? Sumpah, kalau bukan masih bocah Eren pasti sudah menjitak kepalanya.

Kuchel menurunkan Levi dan menyerahkannya pada Eren. Dengan tersenyum (baca: terpaksa) Eren menggandeng tangan Levi. Kuchel memberi sedikit wejangan sebelum pergi dan naik mobil bersama Carla.

Sebelum berangkat Eren masih bisa merasakan aura-aura membunuh dari mamanya yang masih berkuar sangat kuat, Eren membatin nelangsa.

Akhirnya mobil mamanya dan Tante Kuchel sudah tidak terlihat. Setelah memberi lambaian singkat Eren mensejajarkan tingginya dengan Levi.

"Nah, Levi hal pertama yang harus kau ingat. Jangan panggil aku om ok? Panggil aku kakak, mengerti?"

Dengan tersenyum sejuta Watt dan Levi tidak membalas ataupun mengangguk.

"Hei, kau dengar tidak?"

"Iya.

Akubawa teman.

Semuanya ayo masuk.."

Levi agak berteriak memanggil seseorang. Eh ni bocah kenapa dah?

Tiba-tiba dari balik gerbang depan muncul anak-anak lain sepantaran Levi dan menghampirinya.

"Tunggu-tunggu, kau bawa teman? Mama mu bilang kau cuma sendiri?"

"Memang, aku yang mengajak mereka, aku sudah jaji akan main bersama hari ini." Levi menatap Eren dengan mata bosan nya.

"Hee.. kau tidak bisa sembarangan dong, ini bukan tempat bermain anak-anak."

Bukannya Eren tidak suka anak-anak, tapi dirinya cukup pusing memikirkan kemungkinan mengasuh seorang bocah, dan sekarang bocah itu membawa temannya pula?

"Tidak peduli."

Levi berujar.

Eren bungkam. Bocah ini!

"LEVIIIIII..."

Teriak salah satu dari mereka, seorang bocah err, perempuan sepertinya yang memakai kacamata.

"Jadi dia om yang akan mengasuhmu?" Bocah berpakaian rapih dengan rambut pirang klimis bertanya.

Jiiittt

Dua kali..

"Iya." Levi menjawab.

Snif..

Snif

Eh apaan ini. Bocah tinggi dengan poni pirang yang hampir menutupi matanya tiba-tiba mengendusnya.

"Bau om ini enak, aku suka."ujarnya.

NANI..

"Ayo semuanya, kita main di dalam."

Levi menggiring semua temannya masuk ke dalam, melupakan Eren si pemilik rumah.

"YEEEYY..."

Eren yang berdiri di depan pintu di dorong hingga terjerembab ke dalam karena menghalangi jalan. Mereka bertiga masuk dan langsung menyerbu sofa ruang tamu.

Levi yang terakhir masuk dan sebelum itu ia sempat berbicara pada Eren.

"Mohon bantuannya kak."

Neraka dunia Eren pun resmi dimulai.

To be continued..

A.n

ini cuma twoshoot kok. Gomen ga jelas begini. at least thanks for reading