Diamond no Ace © Terajima Yuuji
Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)
Sawamura Eijun, Miyuki Kazuya,
.
Devastated
8th night : You Shunshin
0o0o0o0o0
.
Pagi berikutnya, Eijun langsung pamit pergi dari rumah Kuramochi. Semalaman suntuk dirinya tidak bisa tidur. Mendengarkan semua rancauan tidak jelas Kuramochi yang mabuk dan membiarkan hatinya menangis meratapi hal yang sama sampai pagi, Eijun tidak punya waktu untuk memejamkan mata sampai tiba-tiba matahari terbit lagi.
Sebenarnya ia sedikit canggung dengan apa yang terjadi semalam, tapi selama Kuramochi tidak terganggu, maka tidak ada alasan untuk Eijun terganggu. Dalam hati, Eijun sudah memohon maaf pada dewa dan Haruichi.
"Kau mau kembali ke apartemenmu?" Kuramochi hanya bisa mengantar sampai depan pintu.
Seniornya itu masih sakit kepala karena terlalu banyak minum semalam. Kepala Eijun juga sakit, tapi mungkin karena tidak tidur, selain sakit kepala, Eijun juga merasa linu di seluruh tubuhnya. Hampir dari ujung kepala sampai ujung kaki rasanya kesemutan. Beberapa kali Eijun merasa matanya jadi sedikit buram, dan karena itu juga Eijun tidak yakin untuk tinggal terlalu lama di sana.
Kalau diingat-ingat seminggu terakhir dirinya terlalu liar, pergi dengan banyak orang dan waktu tidurnya terpotong untuk melakukan hal lain, kemudian pagi berikutnya Eijun akan sibuk mencari cara untuk lari dari Kazuya—tepatnya sejak pergi ke Yokohama dengan Mei.
"Tidak. Hari ini aku tidak akan pulang dulu."
"Masih ingin mengulur waktu?" Eijun mengangguk, dan Kuramochi yang terus bersandar pada pintu hanya memberinya usapan di kepalanya. "Mungkin sudah waktunya kau belajar berani untuk mengungkapkan perasaanmu."
Eijun tertawa pelan, sudah tidak memiliki tenaga lebih lagi untuk menanggapi perkataan itu dengan hal lain. "Untuk yang satu itu rasanya aku tidak akan pernah berani."
Setelah pamit Eijun berjalan menjauhi gedung apartemen sederhana tempat Kuramochi tinggal. Harusnya butuh lima menit bagi Eijun untuk sampai di stasiun terdekat, harusnya begitu, tapi sejak meninggalkan tempat Kuramochi langkah kakinya terasa sangat berat, sudah lebih dari lima menit, tapi stasiun yang tidak begitu jauh jadi terasa tak terhingga.
Eijun baru mulai sadar kalau ada yang salah pada dirinya setelah setengah perjalanan. Eijun tidak merasa gerah, justru pagi itu cukup dingin, tapi sekujur tubuhnya banjir keringat. Pening di kepalanya semakin menyiksa, tubuhnya juga jadi kaku karena kesemutan tak berujung yang menyerangnya. Kepalanya sakit dan pandangan mulai berbayang. Eijun hampir jatuh tersungkur kalau saja di sisinya tidak ada tiang listrik.
Buru-buru ia ambil ponselnya, mencari satu nama yang paling bisa ia andalkan disaat seperti ini.
"Ya, Eijun. Ada apa kau meneleponku pagi-pagi?"
"..Shun-nii, bisa tolong jemput—uhuk-uhuk—aku sekarang-uhuk-uhuk-uhuk.." Entah kenapa tiba-tiba saja bayangan Kazuya muncul di kepalanya, Eijun hanya berharap seseorang cepat menemukannya dan membawa dirinya pulang, kemudian membiarkan dirinya bertemu dengan Kazuya sekali lagi. Walau egonya menolak untuk bertemu dan berhadapan dengan Kazuya, tapi hatinya benar-benar merindukan sosok itu. Eijun takut tidak bisa melihat pria itu lagi.
Tangannya yang memegang ponsel tremor mendadak. Dadanya jadi sesak bukan main, dan entah sejak kapan wajahnya terasa panas.
"Eijun, kau baik-baik saja? Sekarang kau di mana biar aku jemput." Dan syukur saja, orang yang ia hubungi cukup peka untuk paham maksud Eijun.
"Di dekat stasiun XX. Maaf merepotkanmu, Shun-nii."
0o0o0o0o0
Tidak butuh waktu lama bagi Eijun untuk menunggu. Sepuluh menit setelah sambungan di tutup, sebuah mobil berhenti tepat di depan dirinya yang terjongkok bersandar pada tiang listrik. Si pengemudi adalah You Shunshin, seorang dokter muda berwargakenegaraan Taiwan. Orang yang tidak sengaja Eijun kenal di masa sulitnya dulu.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Dengan dipapah, Eijun berhasil masuk mobil dokter muda itu.
Tiga tahun lalu Eijun sempat masuk rumah sakit. Akibat stress berkepanjangan dirinya menjadi penderita tetap beberapa penyakit merepotkan, dan Shunshin yang saat itu adalah dokter magang merupakan salah satu dokter yang menangangi Eijun. Tiga minggu Eijun dirawat di rumah sakit, dan sekitar tiga bulan selanjutnya Eijun tetap harus mondar-madir rumah sakit untuk kontrol dan menjalani konsultasi psikologi. Dalam waktu sekitar empat bulan itu mereka menjadi dekat, cukup dekat sampai membuat Eijun berani memanggil dokter yang sudah merawatnya dengan sebutan Nii (kakak).
Setelahnya, walau sudah sehat, tidak berkepentingan, Eijun sesekali datang ke rumah sakit tempat kerja Shunshin untuk mengobrol bersama. Menghabiskan waktu dengan pembicaraan ringan seperti manga, anime dan lagu-lagu yang sedang trend saat itu. Shunshin itu seperti udara segar dikala dunia jadi begitu pengap bagi Eijun yang hidupnya sering kali terbentur dengan macam-macam masalah. Seperti seteguk air di tengah-tengah panas padang pasir—dia menghilangkan sedikit rasa haus Eijun, dan memberi sedikit kekuatan untuk Eijun tetap bertahan.
Tapi Eijun membuat kesalahan besar sekitar satu setengah tahun lalu, karena kebodohannya, sekarang dokter muda yang dengan senang hati selalu menyiapkan telinga dan mendengarkan keluh kesahnya berganti menjadi dokter baik hati yang siap menyiapkan beberapa malam untuk dihabiskan bersama dengannya. Sudah begitu, berkat Eijun, Shunshin tiba-tiba saja mendeklarasikan diri sebagai Gay—sungguh, Eijun tidak ada niat untuk menularkan penyakit yang satu itu.
Eijun tidak ingin kalau suatu saat nanti Shunshin tersiksa karena orientasinya itu. Eijun tidak ingin menjadi sebab dari kesedihan orang-orang di sekitarnya lagi. Cukup dengan ayah, ibu, kakeknya dan Wakana, Eijun tidak ingin menambah nama lain, yah, walau sejauh ini Eijun sudah cukup banyak mematahkan dan menghancurkan hati orang lain, tapi itu dan ini berbeda.
"Shun-nii, aku tidak ingin dirawat di sini." Eijun hanya ingat kalau dirinya sempat berpesan seperti itu sebelum jatuh tidak sadarkan diri saat sampai di rumah sakit. Tapi begitu bangun dirinya benar-benar tidak berada di rumah sakit.
Ruangan luas dengan tempat tidur besar, sebuah lemari kaca mewah, meja kerja sederhana di hadapan tempat tidur, dan rak yang terisi penuh dengan macam-macam jenis buku sasta Jepang dan buku-buku kesehatan. Ini kamar Shunshin.
Bukan sebuah kebetulan kalau apartemen Shunshin letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat kerjanya, tapi hal itu benar-benar sangat membantu disaat seperti ini.
"Oh, akhirnya kau bangun." Shunshin masuk sambil membawa sebuah nampan untuk membawa satu mangkuk keramik, satu gelas air juga beberapa bungkus obat. Saat itu Eijun baru sadar dengan satu selang infus terhubung dengan jarum yang menacap di punggung telapak tangan kanan. "Ayo makan dulu, kau harus minum obatmu."
Shunshin membantunya untuk duduk. Dengan sabar meniupi setiap sendok bubur yang dia suapi untuk Eijun.
"Separah ini?" Eijun yang bertanya, sambil melirik pada jarum infus yang tertancap di tangan kanannya. Eijun tidak berpikir kalau sakitnya akan separah ini.
Kalau diingat-ingat terakhir kali dirinya mendapat tambahan cairan dengan cara ini memang waktu tiga tahun lalu. Tapi waktu itu Eijun benar-benar ada pada kondisi yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Sebelum masuk rumah sakit Eijun tidak bisa keluar kamar selama tiga hari, hampir tidak makan dan minum selama tiga hari itu, beruntung Kazuya menemukannya dan membawanya ke rumah sakit, kalau tidak Eijun sendiri tidak yakin apa dirinya masih bisa bertahan sampai hari ini.
"Kau sendiri bisa menilai rasa sakitnya." Shunshin kembali menyuapinya satu sendok bubur. "Sudah berapa hari kau tidak tidur? Kantung matamu sampai sehitam itu! ... kau selalu mengabaikan waktu istirahatmu dan membiarkan banyak orang bersenang-senang denganmu. Sesekali tolong perhatikan kesehatanmu juga, Eijun."
Bukannya tidak tidur, Eijun hanya kurang tidur. Melayani orang-orang yang menemaninya melewati malam, kemudian ketika pagi datang Eijun akan langsung memikirkan cara untuk lari dari mereka dan lari dari Kazuya juga. Kalau sudah bertemu dengan target baru, Eijun akan menghabiskan hari untuk menyenangkan hati target barunya sampai pagi berikutnya datang. Sudah seminggu ini Eijun mengulangi hal seperti itu terus menerus.
Tapi tidak mungkin dirinya menjawab seperti itu, jadi Eijun putuskan untuk tidak menjawab.
"Dan tolong perhatikan makananmu. Waktunya makan, kau harus makan, jangan biarkan perutmu kosong terlalu lama, oh, juga jangan terlalu banyak minum minuman keras, apa lagi saat perutmu kosong."
Eijun masih memilih diam.
"Kau dengar?"
"Iya, aku dengar."
Satu suapan lain Shunshin berikan padanya. Dengan sabar pria itu menyuapi Eijun sampai sendok terakhir bubur yang dia bawa habis. Tidak lupa Shunshin juga langsung membuat Eijun meminum obatnya.
"Shun-nii, tidak berangkat kerja?"
Sambil membereskan bekas makan Eijun dia menjawab, "Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian disaat seperti ini, jadi aku minta untuk tukar shift sementara dengan dokter lain." Kemudian pergi meninggalkan kamar.
Tiga tahun lalu, Kazuya sedang sibuk dengan klub mereka karena baru saja diangkat menjadi ketua klub. Sangat jarang dia datang menemui Eijun di rumah sakit, padahal Eijun tinggal cukup lama. Kazuya hanya datang untuk membawakan beberapa pakaian ganti, bertemu dengan dokter dan menanyakan keadaan Eijun, kemudian pergi menghilang beberapa hari dan baru datang lagi dengan pakaian ganti lain. Itu sebabnya Eijun lebih banyak menghabiskan waktu dengan Shunshin.
Menjadikan Shunshin pelarian untuk dirinya yang kesepian saat itu.
0o0o0o0o0
Seharian penuh Shunshin tinggal di rumah. Eijun tidak begitu paham dengan jadwal kerjanya, selama ini, setelah mereka menjalin hubungan malam, Eijun selalu menelepon Shunshin dulu sebelum bertemu. Memastikan apakah jadwalnya kosong, dan kebanyakan Shunshin langsung mengiyakan ajakan Eijun. Tapi sekarang Eijun sedikit mengerti bagaimana cara Shunshin bisa selalu meluangkan waktu untuknya.
Padahal Shunshin seorang dokter, tapi karena Eijun pria itu jadi meninggalkan pasien-pasiennya. Ada rasa senang karena diprioritaskan dan ada juga rasa bersalah karena sudah membuat orang lain kesusahan.
"Tinggal lah lebih lama di sini, sampai kau benar-benar membaik." Pucuk kepala Eijun diusap. Jarum infusnya sudah dicabut sore tadi. Eijun menolak untuk dapat tambahan infus. Jadi sekarang dirinya bisa bermanja pada Shunshin di sofa ruang tengah sambil menikmati acara televisi malam. Berbaring dengan pangkuan Shunshin sebagai bantal kepalanya.
"Kalau aku terlalu lama di sini, kasihan pasien-pasienmu, Shun-nii."
"Tenang saja, kau juga pasienku—pasien prioritas nomor satu bagiku." Itu bukan sembarang gombalan. Kalau Eijun menantang Shunshin untuk membuktikan kata-kata itu bisa jadi besok pria itu tidak akan berangkat ke rumah sakit lagi, jadi Eijun menghentikan dirinya untuk memprovokasi Shunshin.
Sebagai ganti kedua tangan Eijun naik meraih wajah Shunshin, membawa pria itu untuk menunduk dan berhadapan langsung dengannya. "Aku tahu, makanya aku ingin cepat-cepat berhenti jadi pasienmu, dan membiarkan pasein lain bertemu dokter mereka ini." Kemudian ia beri satu kecupan singkat di bibir Shunshin.
"Lagi pula besok aku ada jadwal pertemuan dengan dosen pembimbingku." Alisnya mengerut dalam diam. Eijun tahu Shunshin kecewa.
Eijun cukup sering melihat wajah kecewa dari orang-orang yang terlibat hubungan malam dengannya. Mereka selalu menunjukan wajah yang sama setiap kali dirinya memberi tahu bahwa malam itu adalah malam terakhir, besok Eijun akan sibuk dengan hal lain, menjadi milik orang lain—dan mereka tidak tahu kapan Eijun akan mendatangi mereka lagi.
"Shun-nii." Eijun bangun dari posisinya, mengrangkak naik ke atas pangkuan Shunshin dan kembali menyentuh kedua sisi wajah Shunshin saat mendekatkan wajah mereka, cukup dekat sampai kening mereka bersentuhan. "Terima kasih sudah menyelamatkanku hari ini." Kali ini bukan kecupan yang Eijun beri, satu pelukan erat, benar-benar bentuk rasa terima kasih karena sudah menjadi pahlawan bagi Eijun.
Dan Shunshin membalas pelukan itu. Meremas kuat tubuh Eijun dalam pelukannya.
Rasa egois mereka ini juga sering ia temui, dan entah kenapa Eijun merasa semua itu masih kurang. Eijun masih ingin yang lebih. Pelukan yang diberikan mereka masih kurang hangat, ciuman yang mereka bagi masih belum membuat Eijun tenang. Hatinya masih terasa kosong walau sudah ditumpahi oleh banyak cinta dari banyak orang.
Seperti gelas retak. Dirinya tidak pernah penuh seberapapun banyaknya hal yang ia terima saat ini.
"Eijun, tinggal lah di sisiku lebih lama lagi. Aku mohon."
"Maaf, Shun-nii."
"Aku mencintaimu, Eijun."
"Aku tahu." Eijun menciumnya. Cukup dalam dan cukup lama. Membiarkan Shunshin mulai mengambil peran. Sebentar, hanya untuk permainan kecil, Eijun pikir dirinya akan baik-baik saja untuk menemani Shunshin malam ini, asalkan dirinya bisa pamit dengan tenang besok. "Terima kasih atas cintamu, Shun-nii."
0o0o0o0o0
TBC
0o0o0o0o0
.
11/10/2021
Yay! Karena lagi bulannya NTR di FFA, aku mau up langsung beberapa chap sekalian. Bat bayar utang karena libur lama juga sebenernya.
Dan kali ini kita kedatengan megane tamvan. Sejujurnya Shunshin itu salah satu chara kesukaanku secara pribadi. Dia salah satu manusia di DNA yang bisa nebak pikiran Miyuki soalnya. Sejenis sama Eijun dan Mei~
BTW cocok kan dia jadi dokter?
Terima kasih buat yang ninggalin jejaknya di chapter kemarin.
AKOH TJINTA KALIHAN!
TANPA KALIAN AKU TIDAK AKAN SERAJIN INI!
Segitu aja dariku. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
Bye~
(Jangan lupa jaga kesehatan kalian ya~)
