Diamond no Ace © Terajima Yuuji

Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)

Sawamura Eijun, Miyuki Kazuya,

.

Devastated

10th night : Sanada Shunpei


0o0o0o0o0


.

Pagi berikutnya Eijun bangun cukup pagi berkat panggilan masuk ke ponsel Kanemaru. Si pemilik masih asik tidur walau suara dering ponsel itu sudah memenuhi seluruh ruangan. Eijun heran, kenapa Kanemaru bisa jadi se-kebo ini. "Tojo pasti sangat memanjakanmu," keluhnya sebelum menggoyang tubuh Kanemaru, memaksa sang teman untuk bangun.

"Oi, bangun, Kane! Pacar manismu menelepon, nih." Tidak bergeming. Kepala Eijun tiba-tiba saja sakit karena menahan emosi. "Kalau kau tidak bangun juga, aku yang angkat teleponnya. Akan aku bilang pada Tojo untuk putus saja denganmu. Biar kau mati menjomblo."

Mendengar acaman itu Kanemaru langsung bangun. Merampas balik ponselnya di tangan Eijun dan buru-buru mengangkat telepon masuk dari sang kekasih.

Eijun tidak begitu berminat untuk mendengarkan, jadi dia tinggal temannya sendirian dulu selagi dirinya mencuci muka di kamar mandi.

Kamar hotel ini benar-benar mewah. Sofanya saja bisa membuat Eijun tidur pulas, kamar mandinya juga sangat luas dengan bathub yang besar dan shower mewah. Eijun terbilang cukup sering menginap di kamar mewah seperti ini. Kadang malah kamar yang lebih mewah lagi dari ini. Dirinya punya beberapa orang yang sanggup untuk menyewa kamar seperti ini saat menghabiskan malam bersama, dan salah satu orang itu adalah pewaris dari hotel ini sendiri.

"Oi, Sawamura, aku harus kembali sekarang."

"Tunggu, kita turun bersama."

"Baiklah."

Keluar dari kamar Kanemaru berterima kasih padanya karena sudah membantu membuat Tojo mengerti seberapa besar cinta Kanemaru. Semalam saat Kanemaru mabuk dan salah menyangka dirinya sebagai Tojo, Eijun sempat mengambil video rancauan tidak jelas Kanemaru dan mengirimkannya pada Tojo. Eijun mengatakan dengan jujur kalau saat itu dirinya dan Kanemaru ada di hotel ini, meminta Tojo untuk datang dan bicara, tapi kalau tidak Tojo harus langsung memaafkan Kanemaru.

Kebetulan Tojo sudah tidur dan baru membaca pesan itu pagi ini, itu sebabnya dia menelepon Kanemaru sepagi ini. Eijun tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi melihat seberapa ceria sang teman pagi ini, Eijun pikir dirinya sudah sedikit membantu.

"Tapi hebat juga kau ya. Bisa mendapat kamar mewah seperti tadi secara cuma-cuma."

Saat mengembalikan kunci kamar pada resepsionis seseorang memanggil namanya. Seorang pria dengan stelan jas hitam rapih mendekat pada mereka. Menyapa Eijun dan bertanya tentang seberapa menyenangkannya tinggal di salah satu kamar hotel itu.

"Kenalanmu?" Eijun mengangguk menjawab pertanyaan Kanemaru. "Kalau begitu aku duluan, ya. Terima kasih banyak!" katanya kemudian lari begitu saja. Dia tidak tahu saja yang baru datang ini adalah orang yang membiarkan mereka menginap secara cuma-cuma.

"Oh, Sanada-san. Terima kasih banyak untuk semalam." Jujur, Eijun berniat kabur tadi. Tidak ingin bertemu dengan orang ini, dan akan mencari waktu lain untuk mengatakan terima kasihnya, tapi kalau sudah begini, tidak mungkin Eijun bisa lari.

"Tadi itu temanmu yang mabuk?" Eijun mengiyakan, sedikit bercerita kalau Kanemaru sedang ada masalah dengan kekasihnya, dan kebetulan pagi ini kekasihnya sudah mau diajak berdamai.

Pria ini Sanada Shunpei, orang yang Eijun kenal dari salah satu teman mainnya di Gay Bar—dari Todoroki Raichi. Dia punya sedikit cerita tragis karena perasaannya pada Raichi dulu, dan kini berakhir menjadi salah satu teman malam Eijun yang sedikit terobsesi untuk mendapatkan Eijun. Satu hal yang membuat Eijun suka pada Sanada adalah karena mereka berada di posisi yang sama dan pernah merasa sakit karena hal yang sama, hal itu membuat Eijun merasa punya seseorang yang mengerti betul posisinya. Hanya saja Sanada jauh lebih beruntung, karena keluarganya tidak menolak dia walau sudah mengaku sebagai Gay.

"Hari ini tolong temani aku bertemu dengan Raichi dan Yuta." Sekarang Eijun benar-benar terjebak dengan Sanada. Tidak begitu buruk, tapi lepas dari Sanada jauh lebih sulit ketimbang lepas dari Mima, Furuya atau Mei. Satu hari tidak akan cukup untuk menyenangkan pria ini, butuh setidaknya tiga hari bagi Eijun untuk melepaskan diri dari Sanada.

"Untuk apa?"

Sanada menarik selembar kartu putih yang terselip dislot antara tempat duduk mereka. "Mengantarkan ini." Itu undangan pernikahan Kataoka Tesshin dan Takashima Rei.

Oh iya, Eijun sampai lupa dengan pernikahan dosen pembimbingnya itu. Acaranya lusa, dan Eijun masih enggan untuk kembali ke apartemen. Kazuya pasti mendapatkan undangan yang sama, Eijun tidak mau kalau harus datang ke acara itu dengan Kazuya. Tidak-tidak, sebelum pergi mendatangi undangan itu pasti mereka akan bertengkar lagi, itu sebabnya Eijun tidak ingin. Walau pun sebenarnya Eijun ingin bertemu dengan Kazuya dan mengobati rasa rindu yang menyiksanya ini.

"Sanada-san kenal dengan Kataoka sensei dan Takashima sensei?"

Ada ekspresi kaget yang tersirat sesaat sebelum akhirnya dia menjawab. "Tidak, aku hanya kenal dengan Rei-san. Kebetulan orang tua kami cukup dekat, dia juga pernah menjadi tutorku saat SMA dulu. Raichi dan Yuta juga murid lesnya. Kau sendiri kenal dengan pengantin prianya?"

"Oh, aku kenal mereka berdua. Takashima sensei itu guru SMA-ku, dan Kataoka sensei dosen pembimbingku." Tentu saja Eijun tidak akan menyebutkan kalau Kataoka sama seperti Sanada, sama-sama teman malamnya.

Sanada ber-oh ria, bergumam mengagumi ketidaksengajaan ini. "Dunia benar-benar sempit ternyata."

Yah, dunia ini memang sangat sempit sampai rasanya Eijun ingin mengutuk seberapa sempitnya dunia ini! Kalau saja bisa sedikit lebih luas mungkin lepas dari bayang-bayang Kazuya tidak akan terasa sesulit ini. Kalau saja lebih luas mungkin menemukan cinta baru bukan hal yang sulit baginya.


0o0o0o0o0


Todoroki Raichi dan Mishima Yuta adalah dua orang yang Eijun kenal di sebuah Gay Bar sekitar tiga tahun lalu, diawal-awal kehidupan malam Eijun yang liar. Mereka adalah tipe teman yang asik diajak mengobrol bersama dan yah, Eijun akui kalau Raichi sebenarnya punya bakat seperti dirinya—bisa dengan mudah menarik hati orang lain. Tanpa sadar dia sudah membuat dua orang yang selalu bersama dengannya jatuh hati. Tentu saja maksudnya di sini adalah Mishima Yuta dan Sanada Shunpei.

Sayang saja, Sanada kalah start. Makanya di pertengahan tahun dua tahun lalu Sanada mendatangi Eijun. Menawarkan diri menjadi salah satu teman malam Eijun.

Awalnya Eijun pikir tidak akan ada perasaan apapun yang terlibat dalam hubungan mereka. Sanada hanya membutuhkan Eijun untuk menjadi pengganti Raichi. Hingga akhirnya semua anggapan itu hilang setelah dengan gamblang Sanada menyatakan cinta padanya.

Eijun cukup paham kalau yang Sanada ungkapkan padanya tidak sepenuhnya cinta. Sebagian besar dari perasaan itu hanya obsesi Sanada yang tidak ingin merasa kalah dari Raichi dan Yuta, sebagian yang lain adalah bentuk dari rasa kesepiannya. Tapi lama kelamaan obsesi Sanada jadi sedikit berlebihan. Dia jadi jauh lebih mengikat Eijun saat mereka bersama, jauh lebih posesif dari pada apa yang dia lakukan pada Raichi dulu.

"Nada senpai!" setelah menangkap keberadaan Raichi dan Yuta di dalam kafe tempat mereka janjian, tiba-tiba saja tangan Eijun digandeng. Mereka berjalan bersama menghampiri pasangan Gay yang seperti tidak perduli dengan bagaimana orang-orang di sekitar melihat kelakuan manis mereka. "Oh, Eijun juga datang. Apa kabar?"

Eijun menjawab kemudian sedikit berbasa-basi dengan dua makhluk paling tidak tahu malu itu. Mereka dengan santai main suap-suapan, colak-colek pipi dan bibir, belum lagi semua kalimat gombal penuh dengan pemanis yang mereka lempar satu sama lain, untuk kali ini Eijun mengerti kenapa Sanada membutuhkan dirinya.

Berhadapan dengan mereka benar-benar neraka. Selain menghancurkan hati Sanada, mereka juga menghancurkan harga diri Sanada yang duduk satu meja bersama mereka.

"Oh ya, ini titipan dari Rei-san." Kartu putih yang tadi Sanada tunjukan padanya disodorkan pada pasangan tidak tahu malu itu.

"Terima kasih banyak, Nada senpai. Sampai mau repot-repot menemui kami langsung. Padahal kan bisa mengabari lewat chat saja." Sanada hanya tersenyum menanggapi itu. "Nada senpai ke sana dengan siapa? Mau bareng kami?"

Di bawah meja, tangan Eijun yang masih digenggam Sanada—diremas kuat. Eijun hampir mengaduh kesakitan kalau tidak ingat apa perannya saat ini. "Aku? ... aku tentu saja ke sana dengan Eijun. Kan, Eijun?"

"Hah?"

0o0o0o0o0

Dari sorot matanya saja Eijun tahu pria yang sekarang ada di sampingnya sedang berusaha keras menahan rasa sakit. Sorot mata itu sama seperti yang Eijun lihat setiap kali dirinya bercermin—mata orang-orang bodoh yang tidak bisa berhenti berharap, walau hatinya sudah berulang kali dihancurkan tanpa ampun. Tapi ada keberanian yang mengikuti rasa sakit itu, ada masa depan yang ingin diraih mata itu sekarang, dan Eijun sedikit malu karena keberanian yang sama tidak ada pada dirinya.

"Maaf sudah membuatmu terpaksa datang ke acara itu denganku." Eijun hanya bisa tersenyum kaku. "Kau belum punya janji dengan yang lain, kan?"

"Belum."

"Kalau begitu tidak keberatankan jika pergi denganku?" Eijun tidak bisa membuat dirinya menolak permintaan itu. Entah kenapa hatinya tidak mengijikan Eijun menyakiti Sanada lebih dari ini. Pria itu sudah berusaha keras tadi dan pantas mendapat sedikit hadiah karena sudah bertahan sejauh ini.

"Tapi biarkan aku pulang besok pagi. Aku harus melakukan sesuatu dulu, lusa Sanada-san bisa menjemputku lagi."

Acara resepsi pernikahan Kataoka dan Takashima diadakan jam tiga sore sampai malam di aula hotel milik Sanada yang semalam ia dan Kanemaru inapi. Akan jauh lebih mudah baginya untuk pergi dengan Sanada memang, karena dengan begitu ia tidak perlu bingung mencari tempat dan teman tidur setelah acara selesai. Tapi Eijun sendiri tahu siapa saja yang kiranya akan datang ke acara itu nanti. Sedikit beresiko baginya untuk menghadiri acara itu dengan orang selain Miyuki Kazuya. Hanya saja Sanada bisa jadi pengecualian kali ini, hanya untuk kali ini Eijun akan mempersiapkan diri dengan macam-macam pertanyaan aneh dari semua tamu yang ikut datang ke pernikahan dosen dan gurunya itu.

Sekali lagi, ini hanya karena Eijun tidak bisa menolak permintaan Sanada. Tidak bisa menambah rasa sakit pria itu.

"Baiklah." Satu tangan Sanada yang tadi berpegang pada stir naik ke atas kepalanya, mengusap pelan rambut Eijun sambil menunjukan senyum terbaiknya. "Tapi malam ini kau milikku."

Tangannya Eijun tarik turun pada pipi, membiarkan tangan besar itu menempel pada pipinya sesaat. Rasanya hangat, mirip seperti milik Kazuya. Raichi beruntung ada orang seperti Sanada yang mencintainya. Tapi dibandingkan itu, Eijun lebih iri pada seberapa bodohnya Raichi yang bisa mengabaikan cinta dari orang seperti Sanada. Kalau saja dirinya bisa sebodoh Raichi mungkin sudah sejak dulu ia menjalin hubungan serius dengan salah satu dari teman malamnya dan berhenti mengejar cinta Kazuya. Atau setidaknya, dengan kebodohan yang seperti Raichi dirinya bisa dengan mudah mengungkapkan cinta pada Kazuya.

Tangan Sanada ia mainkan, diusap-usap pada pipinya sebelum ia hadiahi sebuah kecupan dan ia genggam dalam diam. "Sanada-san, kau terlalu baik."

"...hanya kau mengatakan itu padaku, kau tahu?"

Yah, Eijun sedikit banyak mengerti. Perlakuan ini bukan hal yang akan Sanada lakukan pada sembarang orang. Dirinya termasuk beruntung bisa menjadikan Sanada sebagai salah satu dari teman malam karena setelah itu ada banyak kemudahan yang bisa ia dapat hanya dengan meminta sedikit bantuan dari Sanada. Contohnya seperti kamar gratis semalam dan...

"Kau sudah mengirimkan CV-mu pada manajemen hotel, kan?" Eijun mengangguk. "Kau ingin posisi apa? Biar aku siapkan satu tempat untukmu."

"Haha, jangan seperti itu. Aku tidak ingin mencurangi pelamar kerja lainnya. Biarkan aku bersaing adil dengan mereka."

"Tapi—" saat mobil yang Sanada kendarai masuk ke halaman parkir hotelnya itu menghentikan kalimat hanya dengan mengeratkan pegangan tangan mereka. Mobil itu berhenti, Eijun keluar hampir di waktu yang bersamaan dengan Sanada, dan membiarkan mobil diambil alih oleh salah satu bell boy yang berjaga di depan pintu masuk.

Sanada tidak mengatakan apa-apa, dirinya hanya menghampiri meja resepsionis, langsung mendapat satu keycard khusus dari kamar istimewa yang biasa Eijun dan Sanada gunakan untuk menghabiskan malam.

Baru setelah masuk ke dalam kamar, membuka stelan jasnya, dan berbaring di tengah ranjang, Sanada kembali bersuara. "Kau tidak benar-benar ingin bekerja di hotel ini?"

Eijun mendekat dan duduk di salah satu sisi ranjang. Dengan tenang membuka sisa kancing kemeja yang belum Sanada lepaskan. Sambil terkekeh Eijun menjawab. "Aku ingin, tapi aku ingin mendapatkannya dengan usahaku sendiri. Sanada-san, bisa mengerti?"

Hari masih terlalu terang untuk memulai kegiatan ranjang mereka, tapi Eijun ingin cepat-cepat mengakhirinya. Ia ingin segera lepas dari Sanada dan mengobati rindu yang tiba-tiba saja menjadi monster dan menggerogoti hatinya sejak dua hari lalu.

Entah kenapa setelah bertemu dengan Raichi dan Yuta tadi, Eijun jadi sedikit iri pada Sanada yang masih bisa berhubungan baik dengan orang yang dia cintai walau tidak bisa menggapai orang itu. Rasanya Sanada jadi jauh lebih hebat, tangguh, dan Eijun ingin seperti orang ini. Mampu menghadapi rasa sakit dan bangkit untuk mencari cinta baru.

Untuk menyerah dari Kazuya sekarang mungkin masih tidak bisa, dan bisa jadi tidak akan pernah terjadi bagi Eijun. Tapi setidaknya Eijun ingin memiliki keberanian untuk berhadapan langsung dengan sumber rasa sakit hatinya. Eijun ingin mulai menerima kenyataan bahwa dirinya tidak akan pernah bisa lebih dari sekedar seorang junior di mata Miyuki Kazuya yang dia puja. Seperti Sanada sekarang.

"Apa kau masih belum menyerah padanya?"

"Aku tidak seberani Sanada-san. Aku terlalu lemah dan takut kehilangan dia."

"Tidak perlu takut. Kau punya aku yang akan mencintaimu sebagai gantinya."

"Terima kasih, Sanada-san."

Kancing terakhir kemeja Sanada sudah dia buka, pelan sambil membiarkan Sanada menjamah setiap inci bagian lehernya, Eijun tarik turun kemeja itu.

Eijun tidak tahu seberapa baik Yuta pada Raichi, tapi kalau saja Raichi tahu pria yang sekarang sedang bercumbu dengannya ini akan memperlakukannya selembut yang Eijun rasakan, mungkin Raichi bisa berpikir ulang. Sanada Shunpei lebih dari sekedar baik, dia sangat lembut dan pengertian—saat di atas ranjang ataupun disaat lain.

Eijun ingin mengutuk Raichi bodoh karena tidak memilih Sanada, tapi tidak bisa. Kutukan itu berlaku pada dirinya sendiri saat ini, karena walau sudah ditawarkan cinta dan kehidupan mewah juga kebebasan, Eijun masih tidak bisa memilih Sanada.

"Aku harap aku bisa jatuh cinta pada orang lain suatu saat nanti."

"..dan aku harap orang itu adalah aku."

0o0o0o0o0

TBC

0o0o0o0o0

.

12/10/2021 14:12

Akhirnya sampai pada Abang Ganteng dari Yakushi. Hahaha, sejujurnya dari semua yang udah aku bikin, aku mau bikin Sanada itu pasangan yang paling intim. TAPI SUSAH!

Lain kali bakal aku coba untuk lebih greget, deh~

Terima kasih buat yang ninggalin jejaknya di chapter kemarin.

AKOH TJINTA KALIHAN!

TANPA KALIAN AKU TIDAK AKAN SERAJIN INI!

Segitu aja dariku. Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

Bye~

(Jangan lupa jaga kesehatan kalian ya~)