Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NarufemSasu
Warning: OOC, AU, OC, alur ngebut
Terinspirasi dari sebuah fanfiction di fandom Naruto, tapi lupa judulnya apa
Perjalanan
chapter 6
Normal POV
Matanya mengedar ke segala arah pada ruangan yang teramat redup dan berantakan, keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya, seketika ia memegangi serta menjambak rambutnya sendiri, sekelumat ingatan melaju, tentang sebuah senyum yang dulu pernah ia miliki. Mimpi buruk akan tetap menjadi mimpi buruk, bahkan bagi seorang Uchiha Itachi, ia masih terengah mengeja napas berusaha melupakan mimpi yang ia alami barusan, ia membuka bajunya dengan tergesa agar tidak basah oleh keringat. Tangannya memegangi kening, pemuda itu masih merasa pusing karena mendadak bangun dari tidurnya, mimpi yang awalnya indah berakhir berantakan, ia masih ketakutan.
"Izumi, Izumi.."
Sebuah nama dari masa lalu mendadak terlintas dan bermuara di mulutnya, ia memanggil seseorang yang tidak ada di ruangan yang ia tempati, kekasihnya dahulu yang kini telah tiada. Kini Itachi menangis perlahan air matanya keluar, menangisi sang kekasih hati, yang dulu menemani hari-harinya, membuatnya kembali menjadi manusia setelah selama hampir dua puluh tahun menjadi robot bagi kedua orang tuanya. Ia memikirkan kembali satu-persatu wajah yang pernah mengisi masa lalunya, kekasihnya, orang tua, terakhir terlintas wajah yang ia bayangkan mirip monster, wajah sesosok monster bertanduk yang masih terikat dengannya, ya, wajah sang adik.
Adiknya adalah monster.
Di lubuk hati paling dalam, Itachi masih belum dapat memafkan sang adik, hampir tidak bisa sepertinya, ia masih ingat jelas buah dari kebaikan hati yang ia berikan kepada sang adik, masih sangat jelas. Itachi sebenarnya kaget ketika hampir setahun yang lalu dihubungi oleh Sasuke dan diminta untuk bertemu dengannya, nadanya sangat melas ketika itu, pemuda itu terpaksa mengiyakan dan akhirnya mereka bertemu di sebuah cafe yang tidak terlalu mahal, request dari Itachi. Pertama kali bertemu setelah sekian lama, ia memperhatikan sang adik yang kebingungan karena hampir sepanjang hidupnya tidak pernah singgah ke restoran yang murah, persis seperti dirinya dulu, ketika pertama kali mengenal Izumi.
Itachi kembali membuka matanya, nama Izumi kembali terlintas, bak lingkaran setan, nama itu terbit tenggelam berulang kali di dalam kepalanya, dirinya hampir-hampir gila selama ini, kalau saja ia tidak mengkonsumsi obat-obatan yang bahkan di luar resep dokter, hanya dirinya saja yang megetahui hal ini, ia menyimpan hal ini rapat-rapat, bahkan ketika bertemu sang adik ia berusaha untuk tampil seperti normalnya orang-orang. Sejujurnya ia juga tidak mau seperti ini, namun ini adalah satu-satunya jalan agar tetap waras setelah semua yang terjadi.
Semua salah Sasuke.
Kini, setiap dirinya bertemu dengan sang adik, wajahnya tampak normal, namun di dalam dirinya, Itachi terus-terusan mengutuk sang adik, ia masih sangat membenci monster itu. Sepersekian persen ia juga menyalahkan dirinya sendiri, kalau saja dirinya tidak menaruh prasangka baik kepada sang adik, mungkin apa yang menimpa dirinya beberapa tahun lalu tidak akan terjadi. Dan kesalahan terbanyak ditujukan kepada orang tuanya yang melahirkan dirinya dan sang monster yang telah mengkhianati kepercayaannya. Semua kata-kata yang telah terucap menjadi terlalu hampa untuk digenggam lagi, Itachi ingin semuanya berjalan normal seperti sedia kala, namun tidak bisa, ia terlalu dipenuhi dengan kebencian yang selalu ia redam setiap saat, namun kali ini, ia tidak bisa.
Ia mencoba merengkuh kesadarannya.
...
Di Sebuah Pusat Perbelanjaan
Terlihat beberapa orang mengantri di dalam toko buku, ada beberapa yang antusias, ada pula yang sedari tadi memperhatikan jam tangan, seolah sedang buru-buru, seluruh orang dalam antrian memegang sebuah novel dan menunggu novel tersebut ditanda tangani, di sisi kiri dan kanan antrian, ada beberapa bangku yang disusuki oleh staf, baik dari toko buku maupun dari pihak penerbit. Sementara di hadapan orang-orang yang mengantri ada Naruto, ya, dia adalah penulis yang akan memberikan tanda tangannya pada novel terbarunya yang baru terbit belum lama ini, sebelumnya Naruto memang sudah menerbitkan beberapa novel, namun tidak selaku novel yang baru terbit sekarang, dalam beberapa hari penjualan, novelnya telah laku hampir 1100 copy dan itu membuat dirinya senang. Sementara itu, di luar dari antrian, di dekat pintu masuk toko buku, ada seorang gadis yang sedari tadi menunggu, ya, Sasuke, dirinya sendiri juga bingung kenapa ia bisa berada di sini, padahal sudah cukup tinggal satu apartemen dengan Naruto, kali ini mereka lagi-lagi berada di satu tempat.
Seorang demi seorang telah mendapatkan tanda tangan Naruto, sekarang pukul dua belas siang dan antrian sudah tersisa sedikit, Naruto tampak sedikit lelah karena harus menandatangani satu demi satu buku sejak pagi, ia menghelakan napas sejenak, matanya sedikit melirik ke arah Sasuke, Naruto sedikit sinis menatapnya. memang betul Naruto yang mengajak gadis itu ke acara penadatanganan novelnya sebagai bentuk terima kasihnya karena telah menolongnya beberapa waktu yang lalu, namun melihat sikapnya yang seperti tidak terlalu peduli membuat Naruto sedikit kesal. Mungkin nanti ia akan sedikit memarahi gadis itu, setelah acara selesai, hanya karena seseorang memiliki kekayaan bukan berarti mereka bisa tidak peduli terhadap rasa terima kasih seseorang, kan?
'Tck, dasar gadis itu!'
Akhirnya acara penandatangan telah selesai, beberapa kru terlihat sedang beberes dan Naruto terlihat kelelahan, ia menggeretakkan jemarinya serta menghela napas, merasa lega. Selang beberapa lama Naruto duduk, kemudian ia berdiri dan menghampiri Sasuke yang mulai bosan menunggu, terlihat gadis itu memperlihatkan tatapan jenuhnya ke seantero ruangan. Kebetulan Naruto telah selesai, dan Sasuke ke sini atas undangan Naruto, sehingga pemuda Namikaze itu buru-buru pamit kepada kepala editor dan seluruh staf-staf yang telah membantu menyelenggarakan acara ini, setelah itu Naruto menghampiri Sasuke dan mulai bicara dengan ketus.
"Teme, kenapa kamu tidak duduk di kursi yang telah disediakan sih?"
"Tidak perlu."
"Tck, sombong sekali."
"Aku ke sini hanya untuk membuang waktu saja, karena ada orang bodoh yang telah mengundangku."
"Apa katamu, Teme?"
"Orang bodoh."
Naruto menghela napas beberapa kali, mencoba sabar kepada gadis yang telah menolongnya beberapa waktu yang lalu, pemuda itu tidak bisa mengelak, memang betul dia yang telah mengundang Sasuke ke acara penandatanganan bukunya sebagai bentuk terima kasih karena telah menolongnya tempo hari, Naruto memutusan untuk mengalah. Dari gerak-geriknya, Naruto tampak mengajak Sasuke keluar dari toko buku, dan gadis itu segera mengikutinya, kini mereka berada di luar dan berjalan entah ke mana.
"Kamu sudah makan siang?" tanya Naruto pada gadis Uchiha di sebelahnya.
"Belum." jawab Sasuke singkat.
"Bagaimana kalau kutraktir makan siang?"
"Tidak perlu."
"Tck, ayolah Teme, sekali saja lunturkan sifat keras kepalamu itu! aku tidak mau berutang kepadamu."
"Hah?
"Iya, karena kamu beberapa kali telah menolongku, dasar Teme!"
"Tidak perlu merasa berutang, Dobe."
Naruto berusaha memutar otak, karena gadis Uchiha lawan debatnya ini sangat keras kepala, ia bersikeras mengajak Sasuke untuk makan siang karena kakaknya pernah mengajarkan untuk membalas budi kepada siapapun yang pernah menolongnya, ajaran itu tertanam di hatinya hingga saat ini, akhirnya Naruto dapat sebuah ide.
"Aaaah, aku tahu kenapa kamu menolak, Teme. Itu karena kamu takut kan? anak manja Uchiha yang biasa dimanjakan dengan mobil mewah dan makanan mahal takut untuk merasakan kenikmatan makanan pinggir jalan, hahaha."
"Baik, kuterima tawaranmu." balas Sasuke lugas.
"Hahahaha, baiklah, ikuti aku." Naruto masih belum berhenti tertawa.
Naruto berjalan di depan Sasuke, hari ini gadis Uchiha itu meminta untuk tidak diantar-jemput oleh sang supir, sama seperti ketika pertama kali ia tinggal sendiri atau ketika ia bertemu dengan sang kakak. Terkadang memang ia ingin menjadi mandiri, tidak dibayang-bayangi oleh marganya, namun terkadang juga ia masih butuh jasa sang supir dan karyawan-karyawan lainnya yang bekerja untuk keluarga Uchiha. Kini ia masih mengikuti Naruto, entah mau kemana pemuda itu membawa dirinya, mereka berdua belum berbicara sejak Naruto menyuruhnya untuk mengikutinya, Sasuke juga tidak mau membuka pembicaraan, sungguh hening.
Tibalah mereka berdua di stasiun terdekat, dan Naruto hendak memasuki stasiun, tetapi langkahnya terhenti melihat Sasuke yang juga berhenti berjalan dan terlihat seperti orang kebingungan. Naruto berbalik ke arah Sasuke, memandanginya heran, namun sedetik kemudian ia kembali teringat, seperti de javu, moment pertamanya ketika menaiki kendaraan publik, ia juga kebingungan seperti ini, Sasuke kini terlihat lucu.
"Hei, hei, jangan bilang kamu belum pernah menaiki shinkansen sebelumnya?"
Sasuke tidak membalas, ia mengaku kalah kali ini, tak mau meladeni Naruto yang dari-kata-katanya berniat mengejek.
"Pffttt, hahahahaha, lucu sekali, masalah hidup orang borjuis."
"Kamu tidak sadar diri, huh, Dobe?"
"Hal seperti itu sudah kulalui dari bertahun-tahun yang lalu, Teme."
Naruto kembali berjalan ke arah stasiun.
"Kali ini pakai kartuku, tenang saja, aku tahu kamu belum memiliki kartu stasiun."
"Tck, sombong sekali, Teme." ucap Sasuke sedikit kesal.
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam stasiun, Sasuke masuk menggunakan kartu milik Naruto, mereka berdua masuk dan menunggu kereta tiba, entah Naruto mau membawa gadis Uchiha itu kemana. Di sela-sela waktu mereka ketika menunggu kereta, Naruto mencoba membuka percakapan, meski hanya basa-basi.
"Jadi, sebelum ini, kalau ingin pergi kemana-mana kamu selalu naik kendaraan pribadi?"
"Hnn."
"Ahh, tapi, kalau tidak salah ingat, saat bersama kakakmu, kamu tidak naik mobilmu?"
"Hnn."
"Tumben sekali, Teme, haha."
"Kamu pikir aku ini hanya seorang tuan putri dan tidak boleh mandiri, hah?" terlihat Sasuke cukup tidak suka dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Naruto.
"Bukan seperti itu maksudku, kamu sensitif sekali sih, Teme..." Naruto menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Menurutku, mandiri bukan tentang kamu naik kendaraan publik atau diantar-jemput dengan kendaran pribadi, menurutku mandiri itu adalah sebuah sikap, bila seseorang dapat menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa menyusahkan orang lain, mungkin itu dapat dikatakan sebagai sebuah sikap mandiri, ah tapi entahlah, kamu tahu, kita lahir dari keluarga yang hampir sama, mungkin aku juga pernah punya masa dimana bingung mencari makna kata mandiri, mungkin sampai sekarang pun..." Naruto terhenti melihat Sasuke yang terlihat tak tertarik dengan apa yang dikatakan dirinya.
Kereta akhirnya tiba sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, sebelum masuk ke gerbong kereta, Naruto menyelesaikan kalimatnya kepada Sasuke.
"Menurutku kamu adalah gadis yang mandiri, Teme, haha."
Mereka berdua pun masuk ke dalam gerbong kereta yang lumayan ramai, berdesak-desakan, mereka memilih untuk berdiri di gerbong kereta yang ramai, Sasuke berdiri mematung di samping Naruto, sambil memikirkan sesuatu.
'Tidak Dobe, kamu salah, aku bukan gadis yang mandiri."
~OoO~
Normal POV
New York
Di salah satu gedung pencakar langit, terdapat sepasang suami istri kaya raya asal Jepang, mereka baru saja keluar dari ruang rapat dan sekarang sedang menuju ke mobil, mereka berdua tampak berjalan tenang nan elegan layaknya kalangan elit lainnya. Kini mereka sudah berada di dalam mobil, sang supir telah menunggu sedari tadi, dengan bahasa inggris sang supir menyapa si pria, lalu mengantarkan mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap.
"Bagaimana Kurama? apakah kita perlu menerima proposal yang ditawarkan Tuan Smith?"
Tidak ada jawaban, tatapan Kurama masih mengawang-awang entah kemana.
"Kurama? apa kamu baik-baik saja?" Kakashi memastikan, ia menyentuh pundak sang istri.
"E-eh? a-ah, maafkan aku Anata, aku tidak fokus." jawab Kurama yang langsung memasang senyum dengan cepat.
"Menurutmu bagaimana hasil dari rapat tadi? apakah kita perlu menerima proposal yang ditawarkan pleh Tuan Smith?" Kakashi mengulang lagi pertanyaannya di awal.
"Mungkin akan kupikirkan terlebih dahulu, lagipula kita juga harus mendiskusikannya juga ke Otou-sama."
"Baiklah, sesampainya kita di Jepang kita akan langsung mendiskusikann dengan Otou-sama, aku ingin mengusulkan kepada Otou-sama agar kita bisa menerima proposal yang ditawarkan, karena nilainya sangat fantastis."
"..."
"Kita masih memiliki waktu di New York sebelum keberangkatan pesawat ke Jepang besok, dua tiket kelas bisnis telah dipesan."
"Apa kamu mau makan malam di luar?" tanya Kakashi.
"Mengingat selama kita berada di sini kita belum kemanapun, aku setuju untuk makan malam di luar, kamu selalu bisa membuatku kagumberkali-kali, Anata." jawab Kurama ia menoleh ke arah Kakashi.
"Lagipula, sejak ada Hikari-chan kita jadi jarang menghabiskan waku berdua, haha."
"Aaaaah, aku merindukan Hikari-chan, dia sedang apa ya saat ini?" Kurama merengek.
"Sayang sekali kita tidak dapat membawanya karena sedang demam."
"Aku sangat tidak sabar untuk kembali menggendongnya." Kurama tersenyum ketika membayangkan bagaimana saat ia telah pulang ke mansion.
"Kamu juga merindukan, Naruto bukan, tadi pasti kamu sedang memikirkannya sehingga tidak fokus." ujar Kakashi dengan nada menggoda.
"Anata, kamu benar-benar bisa membaca pikiran yaa."
"Pikiranmu sangat mudah ditebak, dan aku belum mendengar kabar tentang naruto darimu sejak terakhir kamu bertemu dengannya, apakah dia tidur dengan baik? bagaimana pola makannya?"
"hihihi, kamu ternyata juga sangat mengkhawatirkan Naruto-chan ya, Anata." Kurama tertawa pelan, sementara Kakashi membalas dengan tatapan ya-sudah-jelas-bukan.
"Dia baik-baik saja, tadinya aku khawatir begitu mendengar kabar Naruto-chan masuk rumah sakit, tapi akhirnya ia dapat dibolehkan pulang, dan uniknya lagi, Naruto-chan bertetangga dengan Uchiha Sasuke, calon yang telah dijodohkan Otousan dengannya." ujar Kurama dengan tersenyum namun sendu.
"Kenapa bisa begitu?"
"Entahlah Anata, aku kurang tahu cerita detailnya, namun Naruto masih sama seperti sebelumnya, ia masih membenciku, aku mengira dengan tinggal bersama dengannya selama beberapa hari dapat membuat ia membuka dirinya lagi padaku seperti dulu, namun..." Kurama mulai meneteskan air mata dan kakashi merangkulnya.
"Dia benar-benar membenciku, Anata... Hiks.." Dan kini Kurama mulai sesenggukan mengingat pengalamannya dengan Naruto beberapa waktu lalu.
"Setiap orang memiliki waktu yang berbeda-beda dalam membuka pintu maaf, kamu harus sabar, aku yakin Naruto pada akhirnya akan kembali seperti sediakala. Setidaknya kamu akhirnya dapat melihatnya baik-baik saja bukan?" Kakashi dengan bijak menenangkan sang istri.
Sementara mobil masih melaju, Kurama masih sesenggukan di rangkulan sang suami, hingga beberapa saat dan akhirnya ia dapat bicara kembali.
"Dan kamu tahu Anata? malam sebelum kepulanganku aku sempat bicara empat mata dengan Sasuke-chan, ternyata dia adalah gadis yang baik meskipun apa yang dibicarakannya berbeda, dia adalah gadis yang baik, aku bersyukur."
"Kamu yakin dia tepat untuk Naruto?"
"Entahlah Anata, tapi kalaupun pernikahannya tetap jadi, aku mempercayakan adikku pada Sasuke-chan, perasaan sesama wanita, aku merasa dia benar-benar gadis yang baik dan tepat untuk Naruto-chan."
"Syukurlah, kukira kamu mengidap brother complex, ittaii, kenapa kamu mencubitku?" tanya Kakashi dengan wajah tak bersalah.
Sementara Kurama hanya menatap sang suami dengan tatapan sebal namun imut, ia menggelebungkan pipinya.
"Ada apa dengan wajahmu itu?"
"Diam ya Anata! kamu menyebalkan sekali, sih!" seru Kurama, ia langsung menoleh ke arah lain seraya menyilangkan tangannya, sangat tsundere.
Mobil masih melaju, tampaknya jarak antara gedung tempat mereka rapat dengan hotel tempat mereka menginap cukup jauh, tapi mereka tetap melakoninya demi bisnis mereka, bagi Kurama ada tambahan, agar kedua orang tuanya dapat bangka melihat kesuksesannya. Dulu, dulu sekali, ada masanya ia keras kepala dan tidak peduli bagaimana pandangan orang tuanya kepada dirinya, terutama sang ayah, sama seperti yang Naruto lakukan sekarang, sepertinya sifat Kurama dan sang adik bagai pinang dibelah dua, dulu dia juga pernah berpikir untuk hidup seperti Naruto, memberontak terhadap hegemoni keluarganya, namun semua itu ia urungkan agar sang adik tidak terkena imbasnya. Dan kini Naruto sudah melampaui dirinya, di awal dulu sang adik memutuskan untuk menjalani hidupnya seperti yang ia lakukan saat ini, sang ayah murka, Kurama berusaha mati-matian menahan amarah sang ayah agar tak dilimpahkan kepada Naruto, sesayang itulah Kurama pada sang adik.
"Hei Anata..." Kurama mulai melunak, ia menanggil Kakashi meski tak meliriknya.
"Hnnn?"
"Apa Naruto-chan masih menyayangiku sebagai kakaknya?"
"Kurama, kamu sudah menanyakan hal ini jutaan kali..."
"Aku hanya ingin tahu, Anata.."
"Aku yakin dia masih menyayangimu, karena kalau tidak, tidak mungkin ia menerimamu di apartemennya, bahkan bila kamu memaksa sekalipun."
"Entahlah, aku hanya merasa.."
"Percayalah padanya Kurama, bila kamu menyayangi Naruto, maka kamu harus yakin kepadanya, biarkan waktu yang akan membantumu, aku yakin tidak lama lagi Naruto akan luluh, dia adalah pemuda yang diberkati dengan kasih sayang sang kakak, benar?"
"Hnn, arigatou, Anata." ujar Kurama dengan senyum kecil merekah di wajahnya.
Tak lama Kurama mengenggam lengan Kakashi, suami tersayangnya.
Dan mobil masih melaju.
...
Kedai Ramen Ichiraku
"Oji-san, aku pesan menu ramen seperti biasa!" seru Naruto dengan seraya menggerakan jarinya memanggil pemilik kedai.
"Dan kamu, kamu ingin pesan apa, Teme?" tanya Naruto pada Sasuke, gadis di sebelahnya itu masih bingung, ia hanya memperhatikan papan menu sedari tadi.
"Tck, lama sekali, jadi apa yang akan kamu pesan, Teme?"
"Aku.."
".. belum pernah makan ramen sebelumnya." ujar Sasuke ragu-ragu, ia meletakkan jari telunjuknya di dagu.
"Pffftt hahahaha, Teme, kamu tinggal pilih saja apa yang menurutmu menarik." Naruto tertawa geli.
Namun Sasuke tidak menjawabnya, ia menganggap memilih menu ramennya sebagai hal yang serius, ia masih berpikir untuk menentukan.
"Ah, begini saja, akan kupilihkan untukmu menu ramen terbaik di kedai ini."
"Hnn." Sasuke mengalah.
"Oji-san, aku juga memesan ramen miso untuk gadis ini!" seru Naruto, tangannya menunjuk ke arah Sasuke.
"Baik! pesanan akan segera datang!" jawab sang pemilik kedai, Naruto dan Sasuke segera duduk di kursi mereka.
Suasana kedai ramen ini tidak seramai yang Sasuke bayangkan, jujur saja, ini adalah kali pertama gadis Uchiha itu datang ke kedai ramen, seumur hidup ia tidak pernah menikmati ramen, bahkan mungkin ia lebih sering memakan caviar dibanding ramen. Meski malu mengakuinya namun ia tetap bersikap dingin, mencoba menjaga sikapnya agar tidak out of character, pertama kali sampai di kedai pun ia agak sedikit ragu dengan warung makan ramen ini, kedai sempit dan terbuka, bahkan rumah khusus untuk maid dan butler kelaurga Uchiha jauh lebih luas dari kedai ini.
Kedai ramen Ichiraku adalah kedai ramen langganan Naruto semenjak ia keluar dari kediaman Namikaze, awalnya ia menemukan kedai ini melalui rekomendasi dari kenalannya ketika pertama kali meniti karir sebagai penulis. Saat pertama kali Naruto datang ke kedai ini ia juga bingung, persis seperti yang saat ini sedang dirasakan oleh gadis di sebelahnya, pengalaman makan ramen pertamanya hanya ramen buatan Chiyo Obaa-chan, namun ia tidak pernah memesan makanan secara langsung di kedai bahkan cafe sekalipun, untung saja pemilik kedai sangat baik, bahkan di hari pertamanya makan, Naruto mendapat potongan harga dari pemilik kedai.
Melihat Sasuke, Naruto mengerti rasanya menjadi gadis itu, Naruto pernah mengalaminya dulu, dikekang dalam penjara bernama mansion, tidak tahu-menahu mengenai dunia luar, kalaupun harus keluar pasti selalu dikawal. Sebenarnya ada sedikit perasaan kasihan terhadap gadis Uchiha ini, Naruto jadi mengingat dirinya yang dulu, ia merasa ada persamaan nasib antara dirinya dengan Sasuke, adai saja gadis itu tidak menyebalkan mungkin Naruto dengan suka hati menganggapnya teman, namun karena perjodohan bodoh yang dilakukan orang tua mereka membuat anggapan Naruto terhadap Sasuke tidak bisa berubah, bahkan ia menganggap apa yang ia lakukan bersama Sasuke hari ini hanya sebatas balas budi saja.
"Teme, aku yakin kamu pasti akan suka, percaya padaku, rileks saja." ujar Naruto dengan senyumannya.
"Wajahmu menyebalkan."
"Oy, oy, kenapa aku selalu salah di matamu sih?"
"Entahlah."
"Pokoknya, aku yakin kamu pasti akan suka."
"Aku ragu dengan keyakinanmu."
"Teme!"
Tak lama pesanan mereka datang, Sasuke dengan miso ramennya dan Naruto dengan ramen pedas dengan extra Naruto, panasnya ramen membuat uapnya mengebul di sekitar wajah Naruto dan Sasuke dan membuat gadis Uchiha itu sedikit batuk. Naruto mulai memakan dengan lahap ramen di depannya, sementara Sasuke masih bingung dan menatap keheranan ramen di depannya. Naruto yang tidak sengaja melihat hal itu berhenti menyuap ramen dan mulai bicara pada teman makannya itu.
"Ayolah Teme, makan saja, aku bersumpah itu tak akan membunuhmu!"
merasa kesal dengan ucapan Naruto, Sasuke mulai memakan ramen itu, dan pada suapan pertama, matanya melotot, ternyata ini adalah salah satu makanan terlezat yang pernah ia makan, ia menyuap ramen itu lagi dan lagi, dengan elegan tentunya, begitupun dengan Naruto yang kembali menyuap ramennya dengan lahap.
~OoO~
Normal POV
Hari telah sore menjelang malam, setelah makan ramen tadi siang Naruto dan Sasuke tidak lantas pulang, mereka berdua berjalan-jalan di sekitar kedai ramen itu dan melihat-lihat keramaian, seperti biasa, mereka berdua saling mengejek satu sama lain, namun yang tidak dapat Sasuke lupakan saat itu adalah rasa ramen pertama yang ia makan, serta kesenangan hatinya melihat pemandangan yang jarang ia lihat. Kini mereka berdua telah dalam perjalanan pulang, setelah turun di stasiun yang dekat dengan apartemen mereka, kini mereka berjalan kali dengan santai, dan melewati taman yang tempo lalu pernah ada kejadian kesalahpahaman antara Naruto, Sasuke, dan Itachi. Atas saran dari Naruto, mereka pergi ke taman tersebut dan duduk di bangku taman, mungkin karena pemuda namikaze itu terasa lelah setelah seharian banyak berjalan, ini terasa seperti de javu bagi mereka berdua, Sasuke hanya memperhatikan barang belanjaan yang telah ia beli, sementara Naruto memperhatikan Sasuke.
"Hei Teme..."
"Hnn?" merasa terpanggil, Sasuke menoleh ke asal suara dengan malas.
"Bagaimana keadaan kakakmu, aku ingin meminta maaf padanya karena sudah salah paham kepadanya waktu itu."
"Baru kau pikirkan sekarang, eh?"
"Hei, bukan begitu, hal ini sudah kupikirkan sejak lama, hanya saja aku malas bertanya padamu, tahu!"
"..."
Sasuke memandangi Naruto dengan sinis, sementara yang dipandangi malah sweatdrop.
"Entahlah, aku belum berhubungan dengannya beberapa waktu ini." ujar Sasuke dengan kaku, seperti ada yang sedang ia sembunyikan.
"Barangkali kamu nanti menemuinya, tolong sampaikan permintaan maafku, ya?"
"Sampaikan sendiri." ujar Sasuke dengan ketusnya, dan Naruto pun seperti agak kesal mendengarnya.
"Hei Teme.."
"Hnn?"
"Apa kamu masih menyayangi kakakmu?" tanya Naruto dengan malu-malu.
Mata Sasuke jadi melotot mendenga perntanyaan itu keluar dari mulut Naruto, gadis itu seperti mati kutu, karena ia sangat mengetahui bahwa hal itu benar adanya.
"M-maksudku, m-menyayanginya sebagai seorang wanita, a-ap.."
"Kenapa pula kamu menayanyakan hal itu, Baka Dobe? hal seperti itu bukan urusanmu!"
"T-tidak, h-hanya saja.."
"HANYA SAJA APA?" emosi Sasuke mulai meningkat, dan Naruto memilih menyelesaikan kalimatnya sebelum semuanya semakin gawat.
"Hanya saja, dulu ada masa aku seperti dirimu, tapi aku malu mengakuinya."
Akhirnya Sasuke terenyuh juga, napasnya mulai membaik, darahnya mulai turun, ia jadi sedikit merasa bersalah pada pemuda di sampingnya itu.
"Hal seperti itu memang memalukan, bukan suatu hal yang harus dibanggakan." jawab Sasuke dengan pelan.
"Hahaha, betul, memang memalukan, ya, itu memang memalukan, hahaha..." balas Naruto dengan canggung.
"Terkadang.." Sasuke mulai bicara kembali, sementara Naruto memperhatikan.
"Terkadang, takdir berjalan dengan begitu menyebalkan."
Setelah mengatakan hal tersebut, Sasuke kembali fokus pada lamunannya, begitupun Naruto, mereka berdua merasa tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Atau mungkin tahu, namun tak tahu bagaimana untuk membahasnya. Namun Namikaze Naruto merasa harus menanggapinya.
"Dahulu, hubunganku dengan Onee-san begitu dekat, Otou-san adalah tipe orang tua yang keras kepadaku dan selalu mengekangku, di saat itulah Onee-san selalu membelaku, dulu aku hanyalah bocah yang cengeng."
Sasuke memperhatikan.
"Onee-san begitu perhatian padaku, saat kecil orang tuaku selalu sibuk dan hampir tidak pernah memiliki waktu denganku, Namun Onee-san selalu menggantikan mereka untuk menemaniku, di saat itulah perasaanku tumbuh."
"Menjadi anak dari konglomerat memang tidak selalu menyenangkan.." timpal Sasuke.
"Ya, begitulah."
"Itulah yang Onii-san rasakan dahulu, dia menempuh jalan sepertimu, keluar dari penjara bernama rumah."
Langit mulai menggelap, dan bulan dengan malu-malu naik ke langit, mereka berdua saling merenungi nasib masing-masing, nasib yang tak begitu nikmat dan menyebalkan seperti yang barusan Sasuke katakan. Orang bilang lahir di keluarga kaya sudah pasti menyenangkan, tapi mereka berdua mengingkari hal itu, mereka dua sejoli yang merasa salah rumah, salah keluarga, dan salah dalam semua hal, segalanya terlihat dari tatapan getir mereka, seolah menyiratkan mereka meminta pertolongan, entah pada siapa.
"Bagaimana rasanya melawan kehendak orang tua?"
"Hah?" Naruto merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Sasuke.
"Maaf aku menanyakan pertanyaan bodoh."
"Tidak, tidak apa, aku hanya bingung bagaimana menjawabnya." mencoba pura-pura tersenyum.
"Dulu aku memelihara seekor kucing, namanya Nekomata, kami sering bermain, sampai pada suatu hari ia mencakarku.."
"...Aku tidak marah padanya, namun otou-sama cukup kesal dengan hal itu dan memerintahkan bawahannya untuk membuang Nekomata, pada saat itu, walaupun ingin, namun aku tidak bisa menolaknya, karena itu merupakan perintah Otou-sama."
Sasuke tampak menahan kesal saat menceritakan bagian dari masa lalunya itu, dan Naruto memperhatikan hal tersebut.
"Satu-satunya yang menghiburku adalah Onii-san, pada malam hari tanpa memberitahu orang-orang di mansion, ia membawaku keluar untuk menemui orang yang telah mengadopsi Nekomata, orang itu mengatakan bahwa semua ini berkat onii-san yang memohon kepada dirinya untuk mengadops Nekomata, saat itu adalah sat terakhir aku melihat Nekomata karena tidak lama kemudian kucing itu bersama orang yang mengadopsinya pindah ke luar kota."
"Paling tidak, kakakmu telah berusaha keras, bukan?"
"Hnn."
"Kalian sangat akrab ya." ujar Naruto yang sedikit merasa iri.
"Tidak.."
"Ka bilang apa, aku tidak mendengarmu, suaramu sangat kecil tadi."
"Tidak, lupakan saja."
"Heeh."
"Oy Dobe, mungkin aku sudah bilang hal ini beberapa waktu lalu, kamu harus mulai bicara lagi dengan kakakmu, dia adalah orang yang sangat mengkhawatirkanmu." ujar Sasuke, ia langsung berdiri dan mulai berjalan untuk pulang ke apartemennya.
"Entahlahh..." Naruto juga berdiri, mengikuti langkah gadis di depannya.
"Tapi mungkin akan kucoba." lanjut pemuda Namikaze itu.
Mereka berdua berjalan pulang.
...
Kini Sasuke dan Naruto telah sampai di dekat apartemen mereka, tinggal beberapa belokan lagi, Sasuke berjalan di depan dan Naruto mengekorinya, mereka hanya diam seperti yang sudah-sudah, dalam benaknya, Naruto masih memikirkan obrolannya dengan Sasuke tadi di bangku taman, ternyata mereka berdua sama, benar-benar memiliki kesamaan. Orang tua yang mengekang, kakak yang peduli nasib mereka diliputi pilu dan berakhir dengan perjodohan yang sama sekali tak mereka inginkan. Naruto menatap Sasuke dari belakang, rambut raven, tubuh mungil, dan sifat yang kaku, sepertinya ia bisa menerima gadis itu jika sebagai teman, Naruto berpikir, andai saja situasinya bukan seperti ini.
Tiba-tiba Sasuke menghentikan langkahnya, sontak Naruto pun mengikutinya, ternyata ponsel gadis itu berdering, dan Sasuke pun mengangkatnya, entah siapa yang menelponnya, namun kelihatannya Sasuke serius sekali, dan tak lama kemudian menegang, matanya melotot dan tubuhnya gemetar. Naruto penasaran dengan percakapan gadis di depannya itu, ia mencoba mendekat ke Sasuke dan menanyakan apa yang terjadi, namun baru saja Naruto melangkah...
DUGGHHH
Pertama-tama ponselnya terjatuh, lalu kemudian Sasuke ikut menyusul, ia jatuh berlutut di jalan dengan tubuh gemetar dan wajah memasang ekspresi tidak percaya. Sontak Naruto berlari dan langsung memegang bahu Sasuke seraya menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Teme, kamu tidak apa-apa? apa yang terjadi? ada apa denganmu?" Naruto panik.
"...san, k-k-k...is." jawab Sasuke dengan terbata, gadis itu sangat shock.
"Teme, ada apa? bicara yang jelas!" Naruto sedikit menggoyangkan bahu Sasuke agar gadis itu sadar.
"Hiks.." air mata pertama jatuh dari pelupuk mata Sasuke, ia berusaha menahannya namun ia tetap seorang gadis.
"Teme.." Naruto masih ingin membujuk Sasuke, namun ia tidak tega dengan gadis itu.
"Onii-san.."
"Ada apa dengan kakamu?"
"Onii-san mengalami overdosis, dan saat ini sedang kritis..."
Dengan spontan tangan Naruto bergerak, ia tidak berpikir apapun, namun tangannya bergerak sendiri.
Ya, malam itu Naruto memeluk Sasuke mencoba menenangkannya, meskipun bajunya basah penuh air mata.
Bersambung...
Author Note
Halo Minna-san, kembali lagi bersama Uchiha Azaka, maapin ya lama, bahkan mungkin kalian udah pada gak nungguin fic ini lagi hehehe, tapi walaupun begitu aku nulis fic ini untuk kesenangan pribadiku, pemuas ide liarku, jadi pasti akan tetap kulanjut walaupun enggak ada yang nunggu hehehe.
Chapter kali ini kebanyakan dialog aku rasa, tapi tetap kulakukan karena aku ingin tiap-tiap chara mengungkapkan perasaan mendalamnyaa...
Aku balas review dulu ya readerskuuu
Guest: Makasiihh, arigatou hehehe, wah ada chara yang mati gak yaa?, pantengin terus yaa, jawabannya akan ada di chapter-chapter selanjutnya, tenang ajaa hehehe
L. Risa: Makasiiih, Risa. ini yang kamu tunggu, jangan lupa review yaa hehehe
Sekian semuanyaa, sekali lagi aku minta maaf ya kalo misalkan lama update..
See yaa
