"Aku tidak butuh perubahan dalam hidupku."
"Hah?"
Sambil memikirkan kalimat itu yang kukatakan tiba-tiba pada kakak perempuanku yang sedang sarapan, aku keluar rumah.
"Aku berangkat."
"Ya hati-hati dijalan. Jangan mampir ke konser Kana Hanezawa dulu, langsung ke sekolah!"
"Memangnya ada cukup waktu untuk ke sekolah jika aku mampir ke konser pagi-pagi seperti ini ibu?"
Lagipula siapa Kana Hanezawa itu? Penyanyi? Aku tidak mengenalnya jadi buat apa aku mampir ke konser itu. Lebih baik pergi ke konser Via Vallen atau pergi ke konser penyanyi asli 'Circulation' karena aku suka lagu itu dan mungkin aku bisa mengetahui penyanyi aslinya karena aku penasaran siapa penyanyi lagu itu sejak menonton anime Bakemonogatari.
Ah sudahlah. Aku sampai lupa dengan kalimat kerenku tadi.
Ngomong-ngomong soal kalimat yang kukatakan pada kakak perempuanku yang sedang sarapan tadi. Aku tidak butuh perubahan dalam hidupku. Benar.
Enam belas tahun waktu yang sudah kulewati di dunia, selama itu juga ada banyak penyesalan di tahun-tahun itu.
Penyesalan. memiliki kata induk 'menyesal' dan memiliki hubungan dengan beberapa kalimat, seperti. Hal itu ingin aku ubah, seandainya saja, jika saja tidak begitu, dan sebagainya.
Tipe-tipe protagonis biasanya mengunakan kalimat-kalimat itu untuk memotivasi dirinya sendiri di cerita-cerita yang kubaca. Ah meski ada juga protagonis yang mengatakan kalimat keren seperti 'Aku pasti akan menyelamatkanmu' untuk memotivasi dirinya sendiri. Ada banyak yang seperti itu juga.
Contohnya, cerita tentang protagonis yang masuk ke sebuah rumah dan tiba-tiba di serang dan akibat dari serangan orang tak dikenal itu perutnya terbelah, saat dia sedang meringis kesakitan dia melihat heroinenya, yang mencoba memeriksa apa yang terjadi pada sang protagonis, malah terbunuh di depan matanya. Disela rintihannya, protagonis itu lalu mengatakan "Tunggu aku. Aku pasti akan menyelamatkanmu." setelahnya ia menyadari dia bisa kembali ke waktu sebelumnya dan selanjutnya penderitaannya dimulai,em, maksudku ceritanya.
Tak hanya protagonis itu, aku juga punya beberapa hal yang sangat ingin kuubah di hidupku sebenarnya, hal di masa lalu maupun di masa kini.
Contohnya di masa lalu, ada sesuatu yang sangat ingin kuubah dan jika aku bisa kembali ke masa lalu dan bertemu diriku saat itu, aku ingin meyakinkannya untuk jangan turun dari bus atau angkutan umum menggunakan kaki kanan terlebih dulu. Aku akan sangat bersyukur jika itu bisa terwujud.
Ya.. meskipun banyak sekali yang ingin aku ubah di masa lalu. Namun, kembali pada pernyataanku tadi, aku tidak butuh perubahan dalam hidupku.
Penyesalan membuatku menjadi pribadiku yang sekarang. Penyesalan selalu terjadi di hidupku dan sebaliknya aku selalu belajar untuk tidak mengulanginya di masa depan, karena alasan itulah aku mengatakan kalau aku tidak butuh perubahan dalam hidupku.
Hm.. kalimat itu dan alasanku tentangnya sangat keren bukan?
"Pagi Naruto."
"Oh.. Pagi Hanabi."
Baru saja aku sampai di depan kelasku dan tiba-tiba Hanabi yang baru saja berkenalan denganku kemarin menyapaku sambil dia berjalan pergi, mungkin ke kelasnya.
Disapa dia membuatku sedikit terkejut dan hampir saja aku menjawabnya dengan gugup. Untung saja aku bisa mengendalikan diriku dan stay cool, jika aku menjawabnya dengan gugup citraku sebagai protagonis gagah akan hilang dan heroineku akan menjauh jika itu terjadi.
Hah... Hampir saja.
Disapa seseorang mengapa semenegangkan ini ya? Memangnya pertukaran nama antar manusia seberat ini? Hm...
Tidak. Aku tahu itu tidak seberat itu, saat dulu aku juga pernah disapa seseorang di sekolah baik laki-laki atau perempuan. Tapi itu saat sekolah dasar dan sekarang aku sudah masuk masa pubertas jadi disapa perempuan memang memacu adrenalinku. Meski begitu seharusnya jika disapa laki-laki tidak akan semenegangkan ini meskipun aku sudah masuk masa pubertas.
Sudahlah lebih baik aku masuk kelas dulu.
"Hey kau."
"A... iya?"
Tepat saat aku duduk di kursi yang biasanya, seorang laki-laki yang ku ketahui adalah ketua kelas berbicara padaku. Hampir saja aku terkejut tapi untungnya aku bisa mengendalikan diriku di akhir.
Ternyata meskipun itu laki-laki tetap menegangkan. Mungkin karena aku tidak akrab dengan mereka? Interaksi ternyata benar sangat menakutkan.
"Ada apa dengan jeda itu? Ah... hari ini hari kau piket kelas bukan?"
Apa yang kau tanyakan dengan tanganmu memegang kertas jadwal piket kelas itu?
"Bukannya jawabanmu bisa kau cari di kertas yang kau pegang itu?"
Aku mengusulkanmu sesuatu yang benar.
Kenapa wajahmu terlihat bermasalah setelah mendengar saranku, ketua kelas?
"Namamu siapa ya?"
Oi. Bukannya sudah setengah tahun aku sekelas denganmu? Setiap absen namaku selalu disebut bukan? Ah.. Terserahlah. Aku juga tidak tahu namamu sih.
"Naruto. Naruto Uzumaki."
"Oh.. Naruto Yamazaki Kento ya."
"Uzumaki. Naruto Uzumaki. Tidak ada Kento."
"Oh iya maaf. Aku periksa dulu namamu ya."
Apa itu maksudnya? Sudah jelas aku mengucapkan nama lengkapku kan? Atau kau mengajakku bercanda ya? Tapi kau bukan temanku jadi mendengar candaan itu darimu aku jadi seperti diejek.
Atau memang niat dia mengejekku?
"Ya ampun aku lupa menulis namamu di jadwal piket!"
Benar dia memang sedang mengejekku sekarang.
"Lalu?"
"Ah.. aku akan menulisnya sekarang. Dijadwal hari ini, bisa kan?"
Sialan ini sudah setengah tahun aku sekelas denganmu. Jika kau curiga padaku yang tidak pernah melaksanakan piket kelas, bawa saja kertas absensi kelas di ruang guru dan periksa sendiri! Kau ini memang mau mengejekku ya?
Ah... Tenanglah diriku. Jangan terbawa emosi. Siapa tahu dia tidak bermaksud seperti itu kan.
Lagipula aku merasa selalu mengerjakan piket kelas. Tapi hari apa ya itu biasanya?
Ah sudahlah. Lebih baik mengiyakan saja agar ini cepat berakhir.
"Oke. Aku akan melakukannya."
"Terima kasih. E.. siapa tadi?"
Kau serius? Padahal itu baru kau tulis.
"Naruto."
"Oh iya Naruto. Maafkan aku teman, aku akan mengingatnya kali ini. Naruto Naruto Naruto Naruto Naruto Naruto. Sip aku sudah mengingatmu. Oke terimakasih lagi dan sampai jumpa Nawaki!"
Sialan. Dia memang benar-benar mengejekku. Apa perlu aku sekarang berlari dan memberi dia dropkick?
Tidak tidak. Aku harus tenang.
Si ketua kelas kembali ke tempat duduknya dan mengobrol dengan temannya. Meski agak samar, aku masih mendengar ucapannya.
"Aku tadi sudah bertukar jadwal dengan orang di pojok itu. Jadi aku bisa ikut bermain monopoli sekarang dengan kalian."
Oi.
"Mantap. Jadi dari tadi kau menyalin jadwal piket kelas hanya untuk ini? Apa kau tidak kasihan padanya?"
Oi.
"Ah sudah sudah. Lagipula si Naruto itu tidak keberatan. Ayo main!"
Kau mengingat namaku rupanya! Ah sialan. Aku menyesal tidak menyadari niatnya dari tadi! Ah..
Tapi memang sih. Ini adalah hal yang pantas aku dapatkan sebagai pembully. Sejak saat itu aku belum dihukum siapapun jadi aku akan menganggap ini hukumanku saja kalau begitu.
Hah...
Istirahat. Aku keluar kelas dan menuju ke kantin seperti yang biasanya kulakukan.
Aku tidak mengharapkan bertemu lagi dengan Hanabi. Aku bilang seperti yang biasanya kulakukan bukan? Jadi jangan berpikir kalau aku ingin bertemu heroineku dan berharap perkembangan cerita terjadi dimana dia dan aku semakin bertambah dekat karena plot armor yang ada padaku karena aku protagonisnya.
Aku tidak berharap seperti itu, sungguh.
"Rotinya dua, bibi."
"Iya. Ini."
"Terima kasih."
Percakapan ideal kembali tercipta.
Nah mari cari tempat untuk memakan ini.
"Naruto. Halo."
Sesaat aku menemukan tempat untukku duduk. Hanabi menyapaku lagi dan kini dia sedang menghampiriku.
Akhirnya. Eh tidak. Aku tidak mengharapkannya seperti yang tadi kubilang. Ini hanya plot armorku yang terlalu kuat.
"Halo."
Ada apa dengan sapaan "Halo." yang terasa canggung itu? Namun, dia yang terlebih dahulu mengatakannya padaku jadi aku membalasnya seperti itu juga.
Jika aku membalasnya dengan kata lain seperti "Oh Hanabi. Apa kabar?" atau "Eh elu ternyata anak babi. Kemana aja lu?" atau sapaan lainya juga seperti "Yahalo!"
Abaikan sapaan terakhir yang legendaris itu, kami belum sedekat itu untuk menjawab sapaan secara non-formal. Jadi aku menjawab biasa saja.
Pokoknya mari lihat ada alasan apa dia menghampiriku sekarang.
"Boleh ikut duduk?"
Dia ingin duduk di depanku? Ada orang yang ingin duduk denganku di keramaian seperti ini? Apalagi dia perempuan. Hah.. Seberapa jauh plot armorku akan berlanjut.
"Tentu. Silahkan."
Dia duduk didepanku setelah mendapat balasanku yang cool itu.
"Boleh aku membeli rotimu lagi? Terlalu penuh di sana."
"Ah.. tentu. Ini."
"Terima kasih."
Apa dia pikir aku toko kecil yang ber-induk dari kantin? Ah. Ya lagipula apasih daya tarikku untuknya selain roti yang kubawa.
Sudahlah lebih baik makan.
"Apa kau sudah masuk klub?"
"Klub? Belum. Itu ditentukan besok kan? Ada apa tentang itu?"
Apa ini? Apa dia akan tiba-tiba mengajakku ke sebuah klub bernama SERVICE KLUB yang hanya berisikan satu anggota karena aku anak yang bermasalah? Tapi aku anak baik-baik bukan? Aku tidak mengacaukan essayku dan menulis pernyataan ingin menjadi beruang di kehidupan selanjutnya bukan?
Yah.. Meskipun perkembangan seperti itu bukan hal buruk juga sih.
"Iya itu ditentukan besok. Aku ingin tahu kau ingin masuk klub apa?"
"Klub langsung pulang ke rumah."
"Menjawab dengan tidak ragu sama sekali ya."
Ngomong-ngomong soal itu. Di sekolahku klub memang ditentukan setelah menjelang akhir semester satu, alasannya? Jangan tanya aku, aku bukan staf bagian kurikulum di sekolah ini.
Aku tidak tahu tentunya.
"Kalau kau belum punya klub. Mau tidak jika kuajak untuk bergabung dengan klub temanku?"
"Tergantung klub apa itu."
Jika itu klub Literatur Klasik yang anggotanya suka memecahkan misteri di sekitarnya sudah pasti aku akan ikut. Tapi, jika itu klub biasa dan aku harus berinteraksi dengan orang-orang biasa itu, aku menolak.
"Nama klubnya cukup aneh. Kalau tidak salah... service klub?"
"... Hah?"
Aku hampir saja tersedak ludahku barusan. Tunggu bukan itu.
Memangnya klub seperti itu ada di sekolah ini?
"Aku bercanda. Tidak ada klub seperti itu di sekolah ini kan?"
"Ah ya."
Benar. Itu hanya ada di cerita fiksi. Bodohnya aku sampai mengira itu nyata.
Lagipula jika itu nyata Tag Crossover harus ditambahkan bukan? Hah.. kenapa aku tidak menyadarinya.
Eh. Apa yang kubicarakan?
"Nah. Terima kasih untuk rotinya, aku akan kembali ke kelas. Sampai jumpa."
"Eh? ya... Sampai jumpa."
Apa tujuan pembicaraan kita? Apakah dia hanya membuang waktu karena bosan? Dan juga.
"Aku lupa menanyakan sesuatu padanya."
Kesampingkan tentang pernyataanya kemarin yang menyebutkan dia bersimpati padaku atas video viral itu, aku harusnya menanyakan akan masuk klub apa dia karena itu penting untuk lanjutan cerita ini.
Lagi-lagi apa yang kubicarakan?
Aku terlalu gugup untuk bertanya balik pada dia. Hah... kapan sikap canggung ini bisa berubah? Jika ini dirubah mungkin akan ada sedikit perubahan dalan hidupku.
Aku menantikan perubahan itu di masa depan.
Eh tunggu?
--
tbc
.
Halo halo namaku KanAncur. Terima kasih sudah membaca cerita disini!
Ah queen chan. Apakah kamu seorang gadis muda? Kalau iya panggil aku senpai lagi dong *.*
Dan untuk orang berbahasa inggris itu. Kamu memujiku kan? Ataukah kamu sedang mempromosikan website novel star itu? Kalau memang memuji terima kasih sekali. Ceritaku yang ini memang sangat powerfull karena saat ini ditulis aku baru saja mengganti poto profil facebook ku dengan gambar Mikey.
Terimakasih.
