Summary: Perasaan yang ada di antara kita seperti gelembung. Gelembung itu adalah benda yang lembut dan menyenangkan, namun sayang gelembung itu sangat rapuh. Jika kau ingin menyentuhnya, maka bersiaplah untuk menyaksikannya pecah dalam genggamanmu sendiri.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Bubble

Chapter 1: Romantis

Cukup lama aku berdiri di depan pintu apartemen milik seseorang. Kakiku sudah pegal, dan sepertinya berdiri terlalu lama membuat darah yang sekaligus mengangkut oksigen menuju otak mengalami kesulitan untuk sampai ke tempat tujuannya. Itu membuatku sedikit pusing, alhasil aku harus bersandar ke dinding di samping pintu. Ketika aku sentuh kedua pipiku sudah dingin seperti tembok. Aku memang selalu seperti itu jika terlalu lama berdiri. Sesekali aku membungkukkan badanku, bahkan berjongkok sebentar. Inginnya aku duduk saja di lantai, tapi tidak, tunggu sampai penghuni apartemen yang melintasi koridor ini menganggapku seperti orang aneh yang tidak ada kerjaan.

Bukannya aku tak berusaha agar siapapun orang yang aku tunggu di balik pintu apartemennya untuk membukakan pintu. Sejak awal aku datang, aku sudah beberapa kali menekan belnya, tidak ada sedikitpun suara dari interkom yang tersedia di dekat pintu. Jika saja pemilik apartemen itu ada di tempatnya, pasti dia akan menjawab bunyi bel itu melalui interkom. Aku berasumsi bahwa dia sedang tak ada di tempatnya. Tak kehabisan akal, aku mencoba menghubunginya melalui pesan singkat. Jangankan balasan, dibaca pun tidak. Telpon? Jangan! Dia akan marah jika aku menelponnya secara tiba-tiba. Bisa saja dia sedang sibuk. Jadilah aku sekarang ini menunggu dengan pasrah. Aku bisa saja kembali nanti, tapi kotak makan siang di tanganku ini tak mungkin aku antar malam hari.

"Hinata!" Itu dia Si pemilik apartemen. Aku tahu suaranya bahkan tanpa perlu melihat wajahnya.

"S-sasu-" Aku tak dapat melanjutkan ucapanku, aku tak ingat apapun setelah semuanya menjadi gelap, hanya membran di telingaku mangkap suara derap langkah yang mendekat.

Normal POV

Sasuke menempelkan kartu id untuk membuka pintu apartemennya. Dengan tergesa-gesa mengangkat tubuh tergeletak tak berdaya di hadapannya. Dia berdecak kesal saat memasuki kamarnya, rupanya ia lupa menggelar futon. Dia membaringkan Hinata di sofa ruang tamu. Kembali ke kamarnya, dengan cepat ia mengeluarkan futon, bantal, dan selimut dari lemari dan menggelar futon itu. Setelahnya ia pindahkan Hinata ke futonnya. Gadis itu terlihat sangat pucat, tapi suhu tubuhnya dingin terutama di bagian wajah. Sasuke sudah bisa menduga bahwa Hinata bukan pingsan karena demam atau sakit apapun itu. Hinata pasti sudah berdiri terlalu lama sampai darahnya sulit mengalir ke otak.

Bubble

Hinata POV

"Akan aku kembalikan padamu besok." Itu kalimat pertama yang mampu aku dengar dalam keadaan setengah sadar.

"Rasanya enak sekali, terimakasih banyak." Entah bicara dengan siapa Sasuke. Aku pikir dia bicara padaku, dia pasti sudah memakan makanan yang aku bawakan untuknya.

Aku mencoba membuka mataku perlahan, aku kira akan silau mengingat bahwa aku datang ke mari siang hari untuk membawakan makan siang untuk Sasuke. Aku terbiasa melakukan semua itu. Faktor pertama, aku tinggal di gedung apartemen yang sama dengan Sasuke, meskipun berbeda 4 lantai. Dia di lantai 3 sedangkan aku di lantai 7. Faktor kedua, karena Sasuke adalah orang yang spesial untukku. Faktor ke tiga, dia sendiri yang memintaku untuk membuatkannya makan siang setiap hari, tentu saja untuk orang spesial seperti dia, aku akan dengan senang hati melakukannya. Entah itu aku antar ke apartemennya, atau aku bawakan ke kampus. Oh ya, kami juga kuliah di kampus bahkan kelas yang sama.

"Baiklah, bye..." Oh ternyata dia bicara dengan seseorang di telpon.

Kedua mataku sudah terbuka seutuhnya. Tidak silau seperti yang aku perkirakan barusan. Hanya ada cahaya lampu yang redup khas lampu kamar di malam hari. Aku ingat, aku pingsan tadi siang karena terlalu lama berdiri membuat aku pusing. Tapi aku tidak mengira bahwa pingsanku hingga malam seperti ini. Sasuke berjalan menghampiriku, kemudian dia duduk di futon sebelahku.

"Berapa lama kau berdiri di depan pintuku?" Tatapannya datar seperti biasanya.

"Entahlah, mungkin sekitar 2 jam." Aku mencoba mengingat.

"Jika kau tahu aku tidak ada, sebaiknya kau pulang ke tempatmu daripada harus berdiri sampai menunggu pingsan." Ucapnya dengan ketus.

"Aku kira tak lama kau akan datang." Aku menunduk menyesal, jika ditanya tentang hal yang paling aku hindari, salah satunya adalah kemarahan Sasuke. Aku tak ingin dia marah kemudian meninggalkanku.

Bubble

Normal POV

Sasuke menghela nafas berat, dia sama sekali tak berniat membuat gadis Hyuga di hadapannya menjadi sedih atau semacamnya. Tapi Hinata menunjukkan ekspresi seolah ia baru saja dimarahi oleh orangtuanya karena membandel. Dia itu benar-benar terlalu perasa.

"Kau pasti belum makan, makanlah ini!" Sasuke menyodorkan kotak makan siang yang Hinata bawa tadi siang. Terlihat masih utuh terbungkus rapi.

"Tapi itu untukmu, lagi pula itu makanan tadi siang, aku kira-" ucapan Hinata terhenti saat Sasuke memasukkan makanan itu ke mulutnya sendiri untuk mencicipinya. Itu adalah nasi yang dicampur dengan sayuran warna warni, ditambah dengan ayam yang dibumbui dengan saus berwarna cokelat gelap.

"Ini masih layak makan, jadi tak ada alasan lagi untuk tak memakannya." Dia memang tak bisa terbantah. Selalu seperti itu.

"T-tapi Sasuke?" Aneh rasanya jika harus memakan sendiri makanan yang kau bawakan untuk orang lain.

"Aku sudah makan." Jawabnya singkat.

Hinata memakan makanan hasil masakannya sendiri dalam diam, sesekali ia melihat ke arah Sasuke yang tak lepas memandanginya sejak awal Hinata memakan isi kotak makan siang itu. Bukannya apa-apa, siapa yang tak gugup bila terus dipandang seperti itu, terlebih jika orang yang memandangimu itu adalah orang yang memiliki tempat khusus di hatimu. Salah tingkah, bisa dibilang begitu. Pipi gadis berusia 20-an itu sedikit merona, jangan lupakan tangannya yang gemetaran saat mengangkat sumpit untuk mengantar makanannya ke mulut.

Sasuke tersenyum tipis melihat kelakuan Hinata. Baginya itu sangat menghibur. Tak jarang ia menggoda Hinata sampai gadis itu malu bukan kepalang. Hinata selalu menarik untuk digoda, terlebih ekspresinya itu yang paling Sasuke tunggu-tunggu. Seperti saat ini, Hinata meletakan makanannya di dekat futon, lalu menutupi wajahnya yang telah merona sempurna dengan bantal berbalut sprei putih. Dia bahkan berbalik memunggungi Sasuke. Beberapa menit berlalu, ia masih saja bertahan dalam posisinya.

Hinata merasakan sebuah tangan besar menyentuh bahunya. Begitu hangat, menenangkan, sekaligus membuatnya malu sendiri. Sentuhan tangan itu turun sampai ke lipatan sikutnya. Bukan sekali dua kali dia merasakan sentuhan tangan itu, tapi masih saja dia merasa malu dengan semua itu. Tanpa sadar bantal yang di awal ia gunakan untuk menutupi wajah meronanya kini sudah tergeletak di dekat kakinya.

"Tetaplah di sini malam ini." Suara berat itu adalah sebuah permintaan yang tak sanggup ditolak oleh Hinata. Atau bisa dibilang mereka memang saling menginginkan satu sama lain.

Hinata kembali duduk berhadapan dengan Sasuke. Meski dalam keadaan duduk, perbedaan tinggi badan yang sangat mencolok antara Sasuke dan Hinata mau tak mau membuat Hinata harus mendongak untuk menatap mata kelam milik lelaki Uchiha itu. Hinata terlalu terkesima untuk menyadari bahwa kian lama, wajah Sasuke semakin mendekat ke arahnya. Hinata diam-diam mulai meyakini bahwa Sasuke memiliki kemampuan untuk menghipnotis seseorang hanya dengan tatapan matanya. Siapapun tolong ingatkan Hinata untuk selalu berhati-hati pada tatapan Sasuke. Bahkan Hinata tak mampu bergerak saat sentuhan hangat di bibirnya menjadi kian dalam dari detik ke detik. Kapan Sasuke mulai menempelkan bibirnya pun Hinata tak menyadarinya.

Telapak tangan Sasuke bergeser ke belakang kepala Hinata, merengkuh gadis itu dalam pelukan yang selalu ia inginkan. Sasuke dapat merasakan tangan yang lebih kecil dari tangannya membalas pelukan itu, tangan itu mengusap punggungnya dengan lambat dan sangat lembut.

Ciuman itu terlepas, begitupun dengan pelukannya. Sasuke mengusap pucuk kepala Hinata, rambut gelap milik Hyuga Hinata itu terasa lembut di tangannya. Tak lama kemudian, Sasuke menuntun Hinata untuk duduk di pangkuannya. Kini Hinata menjadi lebih tinggi daripada Sasuke. Lelaki berambut biru gelap itu mendekatkan wajahnya ke leher Hinata. Gadis itu hanya bisa mendongak saat merasakan geli di lehernya. Hidung Sasuke menciumi aroma Hinata, sementara bibirnya mengecupi leher itu, nyaris tak terlewat sedikitpun. Hinata akan melenguh kegelian saat Sasuke mengeluarkan lidahnya untuk bergabung dalam kegiatan itu.

"Hahaha..." Hinata sedikit terkejut saat merasakan ciuman di lehernya berhenti begitu saja, terlebih kini Sasuke tertawa lepas. Hinata mengecutkan bibirnya.

"Kena lagi kau!" Ucapnya dengan nada jahil.

"Sasuke..." Hinata merajuk sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan setelah aktivitas mendebarkan barusan.

"Aku selalu senang melihat ekspresimu itu." Sasuke kembali tertawa melihat tingkah gadis yang barusan seolah akan memberikan jiwa dan raga padanya, kini kembali menjadi malu-malu.

"Kau selalu menggodaku." Hinata turun dari pangkuan Sasuke.

"Dan aku selalu tahu bahwa kau tidak akan tahan jika aku menyentuh lehermu." Jawabannya sangat ringan seolah ia hanya menyentuh leher Hinata dengan tangannya, bukan bibir dan lidahnya.

Dulu mereka pertama kali berciuman saat di awal-awal semester mereka kuliah. Saat itu Sasuke bersikeras ingin memberi tahu Hinata bagai mana rasanya berciuman. Sasuke memang sudah pernah merasakannya, tapi dia tahu bahwa Hinata belum pernah, maka dari itu ia bertekad untuk membuat Hinata mencobanya untuk pertama kali. Waktu itu di apartemen Hinata setelah mereka selesai mengerjakan laporan praktikum. Sejak saat itu mereka hampir selalu berciuman jika sedang berdua. Sebatas berciuman dan berpelukan saja, tak pernah lebih dari itu. Tapi entah mengapa hal itu menjadi sesuatu yang selalu mereka inginkan saat sedang bersama. Tak ada yang memaksa maupun terpaksa.

Hinata POV

Aku berbaring di futon yang sejak tadi aku tempati. Sasuke juga mengikuti apa yang aku lakukan. Malam ini aku akan tidur di apartemennya. Kami tidur berhadapan, Sasuke bahkan sudah melingkarkan tangannya untuk memelukku. Romantis bukan? Aku tersenyum meringis. Tunggu dulu, apa aku belum memberi tahu kalian bahwa aku dan Sasuke bukan sepasang kekasih? Akan aku ceritakan padamu nanti.

To be continued