Chapter I: Black Order


Seorang anak laki-laki yang terlihat tak lebih tua dari 15 tahun memanjat dinding tanah yang tinggi. Tujuannya adalah markas Black Order tempat yang selalu dianggap rumah oleh (sebagian besar) para exorcist yang berasal dari cabang Eropa.

Disamping anak laki-laki itu melayang sesuatu berbentuk bulat bersayap dan berwarna kuning. Itu adalah golem khusus milik para exorcist. Masing-masing dari mereka memiliki satu golem.

Anak laki-laki itu menggerutu sambil terus memanjat dengan hati-hati. Dengan ketinggian tempatnya berada sekarang, kalau jatuh pastilah tak akan selamat.

.

.

.

Setelah beberapa lama, akhirnya anak laki-laki itu sampai ke puncak dimana terlihat sebuah bangunan yang terlihat seperti menara tinggi. Tempat bangunan itu benar-benar tak masuk akal. Anak laki-laki yang masih berusaha menenangkan nafasnya itu pun agak ragu kalau bangunan di hadapannya itu benar-benar tempat yang ditujunya sesuai arahan gurunya.

"Apa ini benar tempatnya Timcanpy?" Ucap anak laki-laki itu pada golem yang melayang-layang di sampingnya. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan memasuki bangunan itu dan bertanya pada penghuninya.

Dengan itu, Anak-laki-laki itu berjalan menuju gerbang besar dengan ukiran batu berbentuk wajah yang sangat besar di tengahnya.

Anak laki-laki itu menyadari kalau sejak tadi ada golem terbang berwarna hitam yang wujudnya agak mirip dengan Timcanpy sedang mengawasinya. Golem itu mengirimkan video dari apa yang dilihatnya pada monitor yang ada di dalam bangunan itu.

Ada banyak pegawai bagian penelitian yang melihat siaran langsung itu termasuk juga 2 orang exorcist dan kepala cabang Black Order di Eropa.

"Siapa anak ini?" Tanya seorang peneliti.

"Itu tak boleh. Orang luar tak boleh mendekat kemari. Kenapa tak ada yang menghentikannya?" Ucap kepala cabang Eropa dari Black Order bernama Komui Lee sambil memegang gelas bergambar kelinci berisi kopi panas.

"Tapi kelihatannya ada yang berbeda dengan anak itu" Seorang peneliti menanggapi atasannya itu.

"Kak, coba lhat ini. Anak laki-laki ini bersama dengan golem milik jendral Cross" Ucap Lenalee, seorang exorcist yang merupakan adik perempuan Komui.

"Kok bisa Cross masih hilang tapi golemnya pulang? Itu anak kabur kemana lagi!?" Seorang lagi exorcist bernama Luna yang berada di tempat itu berkata sambil memperhatikan anak laki-laki yang datang bersama Timcanpy. wajahnya terlihat agak kesal.

Walaupun secara fisik Cross Marian terlihat lebih tua dari Luna, dari segi umur bagi Luna Jendral Cross jauh dibawahnya. Luna terbiasa menyebut semua orang yang ada di markas cabang Eropa itu dengan julukan yang lebih muda.

"Permisi! Saya dikirim kemari oleh Pendeta Cross Marian. Nama Saya Allen walker" Anak laki-laki itu memperkenalkan dir dengan singkat.

"Temannya Jendral katanya. Rupanya Jendral Cross masih hidup. Katanya Jendral Cross yang mengirimnya kemari. Apa kau mendengar tentang ini Pak kepala cabang?" Ucap Reever, salah satu kepala divisi bagian peneliti.

"Sebelum kulihat mayatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku tak akan percaya pendeta genit itu bisa mati" Ucap Luna tanpa mengalihkan pandangannya pada Allen yang terlihat melalui layar itu.

"Aku tak mendengar kabar apapun tentang itu" Komui menjawab pertanyaan Reever sambil meminum kopi.

Golem hitam yang sejak tadi memberikan gambaran dari Allen dan Timcanpy itu memiliki sifat audio 2 arah. jadi, apa yang sedang dibicarakan di depan layar, Allen juga bisa mendengar mereka. Jadi dia agak terkejut saat mendengar Komui tak tahu menahu mengenai kehadirannya di sana.

Sejenak dia berpikir kalau gurunya itu berbohong padanya. Lagipula Cross Marian selaku gurunya itu memang memiliki kepribadian yang cukup buruk.

Ukiran batu berbentuk wajah yang ada di gerbang itu sebetulnya adalah golem yang disebut Gate Keeper. Golem itu memeriksa setiap orang yang ingin masuk ke dalam markas. Dengan begitu, mereka bisa membedakan mana manusia dan mana Akuma berwujud manusia.

Tetapi, setelah golem itu memindai tubuh Allen, dia berteriak ketakutan.

"ORANG INI BERBAHAYA. DI DAHINYA ADA SIMBOL PENTAGRAM. DIA REKAN DARI SENNEN HAKUSHAKU!" Ucap golem itu sambil menangis.

Allen yang mendengar ucapan golem itu menjadi terkejut bukan main. Bahkan para staff yang mendengar itu juga sangat terkejut sampai-sampai Komui tersedak dan memuntahkan kembali kopi yang sempat diminumnya. Alarm bahaya dibunyikan.

Suara teriakan golem itu terdengar oleh salah satu exorcist yang baru saja kmbali dari tugas. Exorcist itu bernama Yuu Kanda. Dengan segera dia menghampiri Allen yang masih terkejut dengan apa yang sedang terjadi.

Allen berusaha meluruskan kesalahan tapi Kanda tak menghiraukannya dan dengan cepat dia menggunakan senjata innocence miliknya yang berupa sebuah katana bernama mugen dan menyerang Allen. Beruntung Allen juga berhasil mengaktifkan innocence miliknya yang berada di tangan kirinya, membuat tangan kirinya itu berubah menjadi lebih besar dan berubah wujud.

"Anak itu punya innocence. Akuma tak mungkin menggunakan innocence. Hei, Komui!" Luna yang melihat Allen mengaktifkan innocence miliknya mencoba berbicara dengan Komui, tapi Komui tak menjawabnya karena sedang sibuk membersihkan wajahnya yang berlumuran tumpahan kopi.

Saat Kanda tahu kalau Allen memiliki senjata anti akuma, dia meminta penjelasan dari Gate Keeper yang masih menangis.

Rupanya Gate Keeper memutuskan Allen sebagai ancaman karena dia tak bisa memindai tubuh Allen, dan juga karena ada simbol pentagram di dahinya.

"Aku ini manusia! yah... aku memang sedikit dikutuk, tapi aku masih manusia!" Ucap Allen sambil memukul-mukul Gate Keeper yang histeris karena tak mau disentuh Allen.

Kanda dengan pikiran pendeknya berniat membelah Allen dengan mugen miliknya. Tapi sebelum katana itu sempat menebas Allen, Allen mengatakan kalau seharusnya surat rekomendasi yang dikirimkan oleh Cross sudah sampai dan surat itu ditujukan untuk Komui.

Semua orang di dalam ruangan itu yang mendengar ucapan Allen langsung menatap pada Komui dengan penuh curiga.

Komui menyuruh salah satu peneliti yang ada di sana untuk mencarikan surat itu di ruangannya yang... sangat tak layak huni.

Buku dan dokumen bertumpuk bagaikan gunung di atas mejanya. Bahkan sudah ada banyak laba-laba yang membuat sarang disana. Lantainya pun sudah tak terlihat karena tertutup berbagai macam barang.

"Komui. Kau juga harus mencarinya!" Ucap Luna dengan perempatan siku yang muncul di dahinya. Yang lainnya juga menatap Komui dengan tatapan yang memiliki arti yang sama dengan Luna. Berapa kalipun ruangan Komui dirapihkan, hanya dalam waktu kurang dari 3 hari ruangan itu selalu kembali ke keadaannya semula. berantakan layaknya kapal pecah.

.

.

.

Setelah mencari di seluruh ruangan itu, akhirnya surat dari Cross Marian ditemukan. Setelah dibacakan, ternyata memang benar kalau Jendral Cross yang mengirim Allen. AKhirnya, upaya penyerangan pada Allen pun diperintahkan untuk dihentikan.

"Lenalee, Luna. Bersiaplah. Anggota baru kita telah hadir" Ucap Komui pada Luna dan adiknya. Memang sudah tugas Lenalee untuk menyambut anggota baru, dan Luna bertugas untuk sedikit menginterogasinya. Seperti wawancara pegawai baru.

"Aku penasaran seperti apa murid Cross yang satu ini" Ucap Luna dengan suara kecil. Selain Luna, Komui juga sangat tertarik dengan Allen. Anak laki-laki satu ini yang sanggup bertahan dibawah didikan Cross mungkin akan agak sedikit spesial.

Walaupun sudah diberitahukan kalau Allen memang datang ke markas itu karena rujukan Jendral Cross, tetapi Kanda masih saja mengacungkan katananya pada Allen yang masih merinding.

Komui malah memperparah suasana dengan mengatakan kata-kata yang membuat seakan semua kesalahan itu adalah kesalahan Reever.

Komui menarik mike yang digunakan oleh Reever dan mengatakan kalau Timcanpy yang datang bersama Allen itu sudah merupakan bukti yang kuat kalau Allen ada di pihak mereka.

Karena tatapan tajam Kanda pada Allen masih belum reda, Lenalee yang sudah keluar dari gerbang memukul kepala Kanda dengan papan dan menyuruh mereka berdua masuk sebelum gerbangnya ditutup lagi.

TBC