Empty Envy

Disclaimer: all character is belong Masashi Kishimoto sensei, story is belong Fruitarian addict.

Chapter 14: Unravel problems

Gaara mengantarku pulang ke rumah Shikamaru, tapi sebelum itu dia masih sempat menawariku lagi untuk menginap di rumahnya bila merasa tak enak dengan Shikamaru mengingat dia harus merelakan kamarnya untukku sedangkan dia sendiri tidur di ruang keluarga padahal di rumah Gaara masih ada satu kamar kosong yang bisa aku tempati, namun aku menolaknya dengan halus karena Tou-san sudah menyuruhku menginap di rumah Shikamaru dan aku tak ingin menentang perintahnya kali ini.

Gaara menghentikan motornya di salah satu restoran cepat saji saat perjalanan pulang kami. Selama perjalanan kami sama sekali tak mengobrol bahkan saat dia memutuskan berhenti untuk makan di restoran ini pun aku hanya diam mengikutinya tanpa protes meski sebenarnya aku sama sekali tak ingin makan, namun kupikir Gaara mungkin sangat lapar jadi aku harus sedikit pengertian juga padanya yang sudah sangat baik padaku selama keluargaku dalam masalah.

"Apa yang kau pikirkan?" ucap Gaara memecah kebisuan di antara kami.

"Tidak ada" jawabku singkat sambil memainkan makanan yang ada di hadapanku, rasanya sama sekali tak ada selera.

"kalau begitu makanlah meski sedikit" katanya lembut. Gaara benar-benar baik padaku belakangan ini, aku sampai lupa seberapa menyebalkannya dia selama ini. Aku menghela nafas panjang, lalu memaksa diriku untuk memasukkan makanan ke dalam mulutku. Karena nafsu makanku benar-benar sedang hilang rasanya sampai mau muntah saat aku memaksa menelan makanan itu, hingga aku hanya berhasil menelan beberapa suapan saja.

"Maaf, aku tak bisa menghabiskannya, jadi biar kubawa pulang saja sisanya." Ucapku lirih.

"Baiklah, biar kuminta pelayan membungkusnya kau tunggu sebentar di sini" Gaara segera beranjak membawa nampanku ke meja pelayan untuk meminta mereka membungkus makananku.

Aku keluar lebih dulu untuk menunggu Gaara di parkiran. Tak lama, pesan masuk dari Gaara menanyakan keberadaanku yang segera kujawab 'Aku di parkiran'.

.

.

.

.

Saat kami tiba di rumah Shikamaru, Sasuke sudah berada di kamar yang kutempati sedang membicarakan sesuatu yang terlihat sangat serius dengan Shikamaru.

"Kau sudah sampai Ino, kemarilah!" Sasuke langsung menyuruhku duduk di sampingnya.

"Sepi sekali, apa paman dan bibi sudah tidur Shika?" tanyaku pada Shikamaru sambil meletakkan tas selempangku.

"Sepertinya begitu. Ino apa kau sudah tahu dengan siapa kakakmu terlibat masalah?"

Aku menggeleng sambil melihat ke arah Sasuke dan Shikamaru bergantian. Mereka saling berpandangan seolah saling bertanya apa yang harus dikatakan.

"Katakan padaku...!" putusku mengakhiri kebimbangan mereka.

"Ino, kakakmu sedang berurusan dengan para elit negeri ini, aku tak yakin kita bisa melawan mereka. Pasti akan sangat sulit membuktikan kakakmu tidak bersalah" Sasuke akhirnya membuka suara.

"Mendokusai...pasti ada cara untuk membebaskan Deidara, kita hanya perlu berpikir lebih keras untuk menemukan caranya" Shikamaru memberi semangat dengan gaya malasnya, benar-benar terlihat aneh.

"Ck, memangnya kau punya ide?" tanya Sasuke pada Shikamaru.

"Kalaupun kita tak bisa membebaskan Deidara kita harus bisa menjatuhkan orang-orang itu. Tapi sebelum itu kita harus mencari cara bagaimana mengamankan keluarga Ino" jawaban Shikamaru terdengar sangat meyakinkan. Memang benar sebelum kita menyerang kita harus menyiapkan pertahanan yang kuat dan strategi jitu.

"Kau benar Shika, tapi bagaimana caranya, mereka bahkan sudah tahu rumahku." Ucapku sedikit putus asa.

"Kita bisa gunakan data ini, untuk mencari perlindungan" Sasuke melontarkan jawaban sambil memandangi flasdisk Dei-nii yang ada di tangannya.

"Apa kau sudah menemukan caranya?" Giliran Gaara yang bertanya kali ini.

"Pertama-tama kita hubungi orang-orang yang ada dalam data ini" Jawab Sasuke penuh keyakinan.

"Bagaimana caranya, mereka orang-orang besar. Jelas tak akan mudah untuk menemui mereka tanpa adanya kenalan orang dalam" timpal Shikamaru.

"Kalau begitu kita pancing mereka untuk datang pada kita" imbuh Sasuke.

"Dengan cara apa? Kau tidak berpikir untuk membocorkan barang bukti ke publik kan?" Gaara kembali menimpali.

"Itu cara tercepat untuk mendapatkan perhatian" Sasuke terlihat yakin dengan idenya.

"Bukankah itu terlalu beresiko untuk keluarga Ino?" lagi-lagi Gaara terlihat tak yakin.

"kurasa kalian tak perlu melakukan sejauh itu. Maksudku sekarang kaa-san sudah dioperasi dan melewati masa kritis. Meski aku juga sedih dengan keadaan Dei-nii tapi kupikir akan lebih baik kalau aku dan tou-san fokus pada proses pemulihan kaa-san dulu, bukankah tujuan awal Dei-nii juga untuk kaa-san? Lagipula aku takut kalau kita memancing mereka justru akan membahayakan kita semua" kali ini aku yang menyampaikan pendapatku pada mereka.

"Gaara dan Ino benar, bila dibocorkan ke publik akan berbahaya bagi Ino dan keluarganya. Sebaiknya kita kirim langsung saja ke alamat mereka atau ke email kontak mereka, kupikir itu cukup untuk menarik perhatian mereka"

"Aku setuju dengan Shikamaru"

"kalau begitu kita harus memutuskan akan memulainya dari siapa dulu" Sasuke menambahkan sembari menancapkan kembali flashdisk Dei-nii pada komputer Shikamaru.

"Gaara, kuharap kau tidak terkejut setelah melihat yang aku temukan" ucap Sasuke sembari membuka file data flashdisk itu.

"Memangnya apa yang kau temukan Sasuke, apa hubungannya dengan Gaara?" aku sontak bertanya sebelum Gaara merespon kata-kata Sasuke.

"Ini...kalian lihatlah sendiri!" Gaara kemudian mengambil alih komputer itu untuk dilihatnya lebih seksama. Aku melihatnya, ada Nama Sabaku dalam daftar orang-orang yang terkait dengan kasus ini.

"Mungkin itu Sabaku yang lain" cetusku saat kulihat Gaara meremas tangannya yang tak menyentuh komputer dengan erat.

"Di kota kami tak ada orang lain yang menggunakan nama Sabaku selain keluarga Gaara" ucap Sasuke meyakinkan, membuatku bungkam.

"Boleh aku meminta salinannya Sasuke, kita bisa mulai dari dia dulu. Biar aku yang mengurusnya" Gaara lalu meminta Shikamaru sebuah kabel data untuk menyalin data itu ke dalam ponselnya.

.

.

.

.

Beberapa hari setelah Gaara mengatakan akan memulai rencana kami dari keluarganya sendiri dan menghilang dari peredaran tiba-tiba dia mengajak kami semua bertemu di area sekolah. Tanpa diduga Gaara muncul di parkiran dengan motornya sambil membawa tas ransel besar yang mirip seperti orang mau kemping, membuatku sedikit khawatir dan merasa bersalah.

"Apa seburuk ini hasilnya?" Sasuke membuka suara saat menyambut kedatangan Gaara.

"Diam kau!" bentak Gaara membuat Sasuke tersenyum miring, terlihat sedikit meremehkan.

"Apa yang terjadi Gaara?" tanyaku khawatir.

"Bukan apa-apa sayang, bukan masalah besar" jawab Gaara sambil mengalungkan tangannya ke pundakku dengan suara seduktif, membuatku merinding dan seketika ingat siapa yang sedang kukhawatirkan, aku langsung menyesalinya saat itu juga.

"Berhentilah main-main Gaara, ini serius" aku memutar bola mataku jengah dengan tingkahnya.

"Lepaskan tanganmu" Sasuke memisahkan jarak kami dengan paksa, terlihat begitu kesal dengan kelakuan Gaara.

"Kau kenapa Sasuke?" Shikamaru bertanya dengan seringai kecil.

"Iya kau kenapa Sasuke? Kenapa kau marah, seharusnya kan aku yang marah?" ucapku lagi.

"Sudahlah Ino dia memang begitu, suka bertingkah aneh dari dulu" cetus Gaara sambil mendudukkan dirinya di bangku yang ada di dekat kami. Kami bertemu di taman belakang sekolah, ada bangku taman yang sering digunakan tukang kebun sekolah untuk beristirahat.

"Cih, kau berkata seolah kau tidak seperti itu juga" gerutuku pelan.

"Kau bilang apa Ino?" Tanya Shikamaru padaku.

"Oh tidak. Bukan apa-apa, lupakan saja. Sebaiknya kita pikirkan apa yang akan kita lakukan sekarang? Siapa yang akan menampung Gaara kali ini?"

"Aku bisa tinggal denganmu lagi kalau kau mau" jawabnya Jahil.

"Tidak boleh, di rumah Shikamaru sudah tak ada kamar lagi" tolakku tegas.

"Woah, kenapa kau yang memutuskan, itu kan rumah Shikamaru" sungut Gaara. Kelakuan menyebalkannya kambuh lagi.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras.

"Shikamaru jangan diam saja, katakan sesuatu padanya!" kataku meminta dukungan, namun belum sempat Shikamaru bicara Sasuke Langsung memutuskan kalau Gaara akan tinggal bersamanya tanpa menerima penolakan dari Gaara.

Saat perdebatan kami selesai Naruto dan Kiba baru datang untuk bergabung, disusul Chouji beberapa saat kemudian. Dan kami harus mengulang cerita tentang Gaara diiringi sedikit bumbu drama ala Gaara yang menuduhku kejam dan lain-lain hingga petang menjelang.

.

.

.

"Menurutmu apa Sasuke dan Gaara akan baik-baik saja?" tanya Shikamaru saat perjalanan pulang. Kami berpisah ke rumah masing di gerbang sekolah.

"Aku yakin mereka akan baik-baik saja, yang kutahu mereka itu teman baik saat masih di kota" jawabku meyakinkan.

"Tapi mereka tak pernah terlihat rukun tiap kali bersama" ucapnya menambahi.

"itu karena Gaara memang usil" jawabku enteng.

"Hmm... Jadi kau memihak Sasuke sekarang?"

"Ck...bukannya memihak, aku hanya mengatakan fakta"

Di tengah-tengah obrolan santai kami ponselku berdering keras sekali hingga membuat kami berdua terkejut, namun yang lebih membuat kami terkejut adalah siapa yang menelefon, Temari Sensei.

"Kenapa Temari sensei menelefonku?" tanyaku pada Shikamaru.

"Mana kutahu. Sudah, cepat jawab saja, mungkin saja itu penting!"

Mengikuti saran Shikamaru aku segera memencet tombol hijau untuk menerima panggilan Temari Sensei.

"Temari sensei ingin bertemu denganku" ucapku setelah menutup telepon dari Temari sensei.

"Apa itu ada hubungannya dengan Gaara?"

"Pastinya, apa lagi kalau bukan tentang Gaara. Ck kadang aku lupa Gaara itu siapa, aaarrrggh" Aku mengacak rambutku karena kesal.

"Mendokusai... Di mana kau akan bertemu Temari sensei, apa perlu kutemani?" tanya Shikamaru.

"Dia memintaku datang di cafe akatsuki jam 9 malam nanti" ucapku sambil memeriksa jam di ponselku yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.

"Sebaiknya kau ikut pulang dulu dan makan malam di rumah" saran Shikamaru.

"Kurasa sebaiknya aku pergi sekarang saja Shika, aku bisa makan di cafe sekalian menunggu kedatangan Temari sensei" putusku.

"kalau begitu biar kuantar" tawarnya lagi.

"Tak perlu Shika, kau pulang saja dan makan malam bersama paman dan bibi, sampaikan saja pada bibi kalau aku akan pulang terlambat karena harus bertemu dengan Temari sensei"

"Tapi situasimu sedang tidak aman Ino, berbahaya kalau kau pergi sendirian" sergah Shikamaru dengan keras.

"Lalu kau mau mengekoriku dan ikut dalam pembicaraan kami nanti, bukankah itu malah terlihat aneh dan tidak sopan juga Shika?" sanggahku lagi. Aku benar-benar lelah karna sejak minggu lalu aku tak pernah lagi punya privasi bahkan saat di luar ruangan, alih-alih takut pada penjahat yang meneror keluargaku tempo hari aku malah jenuh terus diikuti para anak-anak aneh ini.

"Sebaiknya begini saja, kau akan menemui Temari sensei dan bicara dengannya sendiri nanti di cafe akatsuki, tapi aku tetap akan mengikutimu sampai ke sana dan memastikanmu aman"

"Tap..."

"Aku tak menerima penolakan Yamanaka Ino" tukas Shikamaru bahkan sebelum aku menyanggahnya lagi.

"Haiisshh...kau menyebalkan Shika" sungutku sambil meninggalkannya di belakang.

.

.

.

.

Setibanya di cafe Akatsuki, setengah jam lebih cepat dari waktu janji bertemu dengan Temari sensei, Shikamaru memilih duduk di sudut ruangan yang agak tersembunyi dari pintu masuk, mengawasiku dari jauh, dan tanpa menghiraukannya lagi aku langsung memesan makanan berat yang ada di sana meski tak banyak pilihan yang kusukai, iya maklum saja ini kan cafe bukan restoran jadi pilihan menunya kebanyakan hanya kudapan dan minuman. Harganya pun tak begitu bersahabat dengan kantong pelajar jadi kuputuskan untuk memesan makanan yang paling murah namun terlihat paling mengenyangkan dari daftar menu yang pelayan berikan padaku. Aku harus berhemat, pikirku membenarkan pilihanku.

"Maaf aku terlambat Yamanaka-san" sapa Temari sensei begitu menemukanku sedang makan dengan lahap makanan yang baru disajikan pelayan cafe di mejaku. Aku hampir saja tersedak karna sapaannya. Untung dia guruku kalau tidak aku mungkin sudah menyemprotnya karna mengaketkanku saat sedang makan.

"Tidak apa-apa sensei. Saya pun belum lama di sini, tapi bolehkah saya menghabiskan makanan saya dulu?" sambutku sekaligus meminta ijinnya untuk meneruskan makanku terlebih dulu.

"Tentu saja, silahkan nikmati makananmu. Aku juga akan memesan makananku" ujar Temari sensei dengan ramah.

Untungnya Temari sensei cukup pengertian dengan menungguku sampai selesai makan sambil menikmati hidangan kecilnya baru mengajakku bicara.

"Yamanaka san, aku rasa kau sudah tahu kalau Gaara pergi dari rumah"

"Hmm... Kurasa begitu, sebenarnya kami baru saja bertemu tadi" aku menjawabnya dengan lirih. Sungkan tentu saja, seolah aku penyebab Gaara pergi dari rumah.

"Jadi apa dia meminta menginap di rumahmu lagi?" tanya Temari langsung. Yang benar saja, kenapa Temari sensei bisa seyakin ini kalau Gaara akan menginap di rumahku, ya ampuun apa yang sudah Panda itu katakan pada Temari sensei.

"Oh... tidak sensei, dia menginap di tempat Sasuke kali ini" aku menjawab jujur, tak ada untungnya juga aku berbohong soal Gaara.

"Loh bukankah Sasuke tinggal di rumahmu?"

"Aa...iya, tadinya dia tinggal di rumah saya tapi beberapa minggu lalu dia pindah dan tinggal sendiri"

Percakapan kami berakhir dengan permintaan Temari sensei unt menjaga Gaara selama dia di tempat Sasuke. Dia benar-benar kakak yang baik dan menyayangi Gaara. Meski aku menawarinya untuk mampir ke tempat Sasuke untuk bertemu Gaara dia menolak dengan alasan tak mau membuat Gaara malu di depan temannya, dia hanya ingin memastikan keberadaan Gaara dan memintaku unt mengatakan padanya bila terjadi sesuatu. Dan yang lebih kusyukuri adalah dia tak tahu tentang kondisiku, sebab aku sudah yakin akan ditanya-tanya perihal absenku dari sekolah beberapa hari lalu saat pengumpulan tugas kelompok kami, dia hanya menyampaikan keprihatinannya atas keadaan kaa-san serta mendoakannya agar segera diberi kesembuhan dan berusaha menyemangatiku. Setelah beberapa kali bertemu langsung di luar jam sekolah kesan burukku padanya semakin luntur, yang aku lihat kini justru sebaliknya Temari sensei adalah guru yang baik dan pengertian.

Aku dan Shikamaru pulang cukup larut hari itu.

"Apa yang Temari sensei katakan?" tanya Shikamaru saat perjalanan pulang.

"Dia hanya bertanya tentang keberadaan Gaara dan memintaku memberitahunya kalau sesuatu terjadi pada Gaara."

Shikamaru hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.

"Dia benar-benar kakak yang baik" imbuhku.

.

.

.

.

Hari-hari berlalu tanpa ada kejadian aneh, kondisi kaa san juga sudah mulai membaik, namun tou san masih belum mengijinkanku pulang ke rumah.

.

.

.

Hari ini aku, Shikamaru, Sasuke dan Gaara, kami berempat kembali berkumpul kali ini di tempat Sasuke untuk membahas tentang rencana kami menarik perhatian orang-orang penting yang terlibat dalam kasus yang ditemukan Dei-nii.

"Jadi bagaimana kita akan menggunakan file ini untuk membebaskan Deidara?" Shikamaru membuka percakapan kami setelah Kiba dan Naruto datang, disusul Chouji kemudian.

"Kurasa itu akan sulit" kataku pesimis.

Ruangan ini jadi terasa lebih sempit dari sebelumnya setelah semuanya berkumlul. Ya sebenarnya aku agak keberatan dengan ide Shikamaru melibatkan banyak orang seperti ini untuk membantuku, tapi dia bilang ini lebih baik daripada harus menghadapinya sendiri.

"Apa karena kemarin aku gagal bicara dengan ayahku?" Gaara berucap dengan nada penyesalan yang cukup kentara dalam suaranya, aku sedikit tak enak mendengarnya namun tetap mengangguk mengiyakan.

"Aku berencana akan menemui Sasori, teman Deidara nii yang kupikir cukup dekat dengannya selama berada di Tokyo" cetusku kemudian.

"Sasori kakaknya Sakura?" Tanya Sasuke.

"Yup, kau kenal dia juga?" tanyaku.

"Aku pernah berkenalan dan beberapa kali bertemu dengannya saat dia menjemput Sakura di Gerbang Sekolah" semua orang sedikit terkejut mendengar penuturan Sasuke sehingga dia buru-buru menambahkan. "Maksudku dipaksa Sakura untuk berkenalan dengan kakaknya" semua mata masih memandangi Sasuke dengan heran.

"Apa? Aku hanya lewat untuk pulang namun Sakura menarikku seenaknya untuk berkenalan dengan si Sasori itu" imbuh Sasuke dengan suara yang naik beberapa oktaf dengan nada sedikit gugup.

"Jangan melihatku seperti itu, aku benar-benar tak tahu ada Sakura di sana" kilahnya seolah membela diri padahal kami belum berkomentar apapaun.

"Huaahaha haa ha haaa..." tawa kami pun pecah bersamaan memenuhi ruangan apartemen satu kamar tersebut tentunya minus Sasuke, dia makin terlihat kesal dan kami makin tertawa dibuatnya, sungguh ekspresi yang amat sangat jarang ditunjukkan Sasuke.

"Baiklah baiklah...kami mengerti, kau tak perlu menjelaskannya serinci itu...hahahaa..." Kiba dan yang lain tak henti-hentinya tertawa.

"Astaga kau benar-benar lucu Sasuke. Lagi pula takkan ada yang keberatan juga bila kau pacaran dengan Sakura, jadi tak perlu kau menjelaskannya serinci itu pada kami. Ya ampun hahahaha..." Gaara menambahkan.

'Justru akan lebih baik bila dia pacaran dengan Sakura' batinku dalam hati.

Aku tahu Sasuke melihatku dengan tatapan sendu di balik raut kesalnya pada yang lain, aku dan Shikamaru paham maksud Sasuke menjelaskan serinci itu, namun kami enggan mengomentari dan lebih memilih untuk ikut menertawakannya sebab jarang sekali bisa melihat ekspresi seperti ini dari Sasuke.

"Aku mau keluar dulu membeli minuman dan camilan, ada yang mau titip sesuatu?" aku sudah bersiap dengan dompetku setelah tak menemukan apa pun di kulkas Sasuke.

"Jangan pergi sendiri!" Shikamaru mengingatkan.

"Aku akan mengantarnya" sahut Sasuke tanpa menunggu kalimat Shikamaru selesai.

"Ayolah Shika aku bisa pergi sendiri" Ya Ampun...Shikamaru benar-benar menjengkelkan, padahal aku ingin keluar sendiri karna ingin membeli pembalut, stok terakhirku sudah habis dan aku perlu ganti yang baru sebentar lagi. Tapi bagaimana bisa aku mengatakannya di depan mereka semua secara langsung aaarrrgh...aku mengerang frustrasi dalam hati.

"Tidak Ino, kau tidak boleh berkeliaran sendirian, kita tak tahu siapa yang kita hadapi sekarang. Dan ayahmu sudah menitipkanmu pada keluargaku, jadi sebagai perwakilan ayah dan ibuku selama kita di luar aku bertanggung jawab atas keselamatanmu" tutur Shikamaru penuh penekanan.

"Kalau kau tak ingin pergi dengan Sasuke aku bisa mengantarmu atau kau bisa mengajak salah satu dari kami" imbuhnya lagi.

"Iya, Shikamaru benar Ino, yang terpenting sekarang juga keselamatanmu" sahut Kiba.

"Bagaimana kalau denganku saja, aku bisa mengantarmu dengan motorku" tawar Gaara yang entah sejak kapan sudah memutar-mutar kunci motornya di tangan kanannya.

"Tidak, terimakasih" tolakku reflek, akan sangat tidak nyaman menaiki motor dengan kondisi hari pertama menstruasi seperti sekarang jadi reflek aku menolak tawaran Gaara.

"Maaf Gaara, kondisiku sedang tidak mendukung untuk naik motor" imbuhku kemudian setelah melihat raut kecewa di wajahnya karna penolakanku.

"Memangnya kau kenapa Ino-Chan?" tanya Naruto dengan tampang polosnya.

"Ck...dia sedang datang bulan Naruto" jawab Shikamaru secara gamblang.

"Ooohh..."

Naruto, Kiba dan Gaara ber-ooh ria bersamaan.

Aku memutar bola mataku dan meniup poniku yang jatuh menutupi mata sebelahku dengan kesal.

"Kalian menyebalkan" rutukku sebelum keluar meninggalkan tempat itu. Sasuke mengekoriku keluar dengan tenang, namun aku tak menghiraukannya sama sekali.

Setibanya di minimarket aku segera mengambil beberapa minuman dan camilan serta pembalut dan celana dalam cadangan. Setelah selesai Sasuke mendahuluiku untuk membayar belanjaan, aku sama sekali tak mendebatnya dan mengucapkan terima kasih. Namun sebelum kami keluar, aku menahan lengan Sasuke.

"Sasuke, kau tunggu di sini saja aku perlu ke toilet sebentar" titahku setelah mengambil pembalut dan celana dalam yang baru saja kami beli dan segera beranjak ke toilet minimarket.

.

.

"Ino..."

"Ya"

Setelah keheningan menyelimuti kami sejak keluar dari apartemen tadi, Sasuke akhirnya memulai pembicaraan.

"Aku tahu kau takkan peduli, tapi aku benar-benar tak pernah dekat dengan Sakura" tiba-tiba Sasuke membahasnya lagi, aku benar-benar tak mengerti dengannya.

"kau tak perlu menjelaskannya padaku Sasuke, justru sebenarnya bagus kalau kau dekat dengan Sakura, dia sangat menyukaimu. Lagipula aku bukan kekasihmu" ucapku datar.

"Kalau begitu jadilah kekasihku" kalimat Sasuke mengejutkanku, aku menghentikan langkahku untuk melihat wajahnya, tak ada yang berubah dari raut wajahnya yang selalu serius.

"kupikir ini bukan saatnya membahas itu Sasuke, kau tahu persis sendiri kondisiku seperti apa"

"Ya, aku tahu itu, aku hanya ingin mengambil antrian pertama bila situasinya sudah membaik dan kau menginginkan seseorang di sisimu, aku ingin jadi orang pertama yang kau pikirkan untuk kau pertimbangkan" dia benar-bebar terlihat serius saat mengatakannya, aku hanya mampu membuang nafas lelah.

"Baiklah, terimakasih untuk pengertianmu" ucapku sambil tersenyum simpul. Mungkin ini pertama kalinya aku tersenyum tulus padanya.

Saat kami hendak meneruskan perjalanan tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat kami, tanpa aba-aba seseorang mendorong Sasuke begitu keras hingga jatuh tersungkur tanpa sempat melawan dan seseorang lagi menarikku dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil tersebut dan melaju meninggalkan Sasuke yang berusaha mengejar. Aku berusaha melawan dengan sekuat tenaga ketika pintu mobil belum tertutup secara sempurna namun sebuah saputangan yang aku yakin sudah dilumuri bius membekapku dari belakang, aku pura-pura pingsan sebelum sempat menghirupnya agar selamat.

Aku benar-benar hampir kehabisan nafas sesaat sebelum sapu tangan tersebut benar-benar dilepas dari wajahku, untungnya para penjahat itu tak memperhatikan irama nafasku yang kutahan dan kutarik dalam-dalam begitu sapu tangan itu menjauh dari wajahku.

Mereka tak mengikatku sama sekali pun tak menutup wajahku dengan kain apa pun, aku berpura-pura tidur seperti orang mati untuk menghindari kecurigaan mereka. Aku tak berani membuka mataku sedikit pun, juga tak berani bergerak meski salah satu dari mereka mencoba menggerayangiku, namun untungnya temannya mencegahnya berbuat lebih jauh. Kurasakan mobil melaju cukup kencang di jalanan, aku tahu aku sedang diculik namun kesadaranku yang masih penuh memaksaku untuk tenang dan berpikir taktis seperti di novel-novel thriller yang sering aku baca.

Yang jelas dalam situasi seperti ini aku tak boleh panik dan membuat mereka curiga dengan sandiwaraku.

'Aku tak boleh panik' aku terus mengucapkan kalimat itu dalam hati saat salah satu dari mereka mencoba mengamati wajahku lebih seksama dengan mendongakkan kepalaku.

"Gadis ini cantik juga, tubuhnya juga bagus dan proporsional pantas saja kakak menyukainya" gumam pria di sebelah kiriku.

"Singkirkan tanganmu, jangan macam-macam bodoh!" untunglah Pria di sebelah kananku segera menyingkirkan tangan pria itu sebelum bertindak lebih jauh.

"Cih, dasar pelit. Cuma pegang sedikit saja tak boleh." gerutu pria di sebelah kiriku tadi.

"Dia bisa bangun bodoh!" timpal pria di kananku lagi.

"Kau yang bodoh, dia tidur dibius mana mungkin bangun hanya karna dipegang?!" sahut pria di kiriku lagi.

"Diamlah... kalian berdua berisik sekali, aku mau tidur!" sentak pria di kursi belakang.

Kedua orang di sebelahku langsung terdiam, sepertinya orang di belakangku memiliki status lebih tinggi daripada kedua orang di sebelahku.

Mobil berhenti karna si sopir bilang ingin buang air, pria di sebelah kiriku ikut turun untuk membeli rokok dan minuman, sedangkan pria di sebelah kananku menungguiku di mobil karena pria di kursi belakang sedang tidur.

Kaca mobil terdengar dibuka, pria di sebelah kananku menyalakan rokoknya kemudian. Aku masih memejamkan mata tanpa bergerak sedikit pun seperti orang tidur. Aku mengintip keadaan untuk memastikan kelengahan pria di sebelahku, namun saat aku hendak mengambil ponselku pria di belakangku malah bangun.

"Apa kita sudah sampai?" ucap pria di kursi belakang tiba-tiba, membuatku terkejut setengah mati.

"Oh, belum. Kita berhenti karna si Tenma ingin buang air."

"Lalu di mana Tori?" sepertinya dia menanyakan pria yang tadi duduk di sebelah kiriku.

"Dia bilang ingin membeli rokok dan minuman."

"kalau begitu bangunkan aku kalau sudah sampai" ucapnya kemudian yang langsung disanggupi pria di sebelahku.

Tak lama kemudian, pria di sebelahku menerima telepon lalu keluar dari mobil untuk mengangkatnya. Aku menimbang haruskah aku menggunakan kesempatan ini untuk menghubungi seseorang atau kabur? Aku berpikir cepat dan memutuskan untuk meraih ponselku di tas untuk menyalakan GPS yang jarang kuaktifkan karena cukup menguras baterai ponsel meski sedang tak digunakan lalu mengirim lokasiku saat ini. Setelah selesai melakukan share loc pada Shikamaru yang berada di chatt teratas aku memasukkan ponselku ke saku celanaku alih-alih ke dalam tas lagi.

"Apa yang kau lakukan?" bagai tersambar petir aku lagsung membeku saat laki-laki di belakangku memergokiku sedang mengantongi ponselku, namun belum sempat aku bereaksi lebih banyak dia sudah membekapku, kali ini lebih kencang dan lebih lama hingga aku tak mampu lagi menahan nafasku seperti sebelumnya. Di sisa-sisa kesadaranku aku masih sempat berpikir bagaimana jika tadi aku memutuskan untuk langsung kabur bukannya mengirim share location pada Shikamaru, apakah aku akan berhasil atau tetap ketahuan dan berakhir tertangkap basah seperti ini? Ah sudahlah, aku hanya bisa berharap semoga Shikamaru tadi sempat membuka pesanku dan segera menemukan keberadaanku, batinku sebelum semuanya benar-benar menjadi gelap dalam lelap.

.

.

.

Bersambung lagiii...

Gimennasaaaii...

Setelah sekian lama baru bisa update fanfic ini lagi, insyaAllah akan saya selesaikan sesegera mungkin karna saya sudah menemukan ide untuk membuat plot ceritanya agar lebih ringkas dan menarik hehe...

Komen dan krisannya ya minna saann...

terimakasih untuk yang masih mau mampir di lapak empty envy ini, yang belum tengok² fanfik² saya yang lain, mampir ya dan tinggalakan jejal di sana heheh...

Arigatou gozaimaasu...

Salam sayang

Big hug 😉 🙏