Story in sebenarnya udah selasai tapi udah lama banget dibikin (pas masih SMA UwU). Dan story ini ada Wattpad. Bedanya dengan disini adalah sudah dihilangkan beberapa kesalahan yang ada, karena story ini adalah story pertama kali banget, plus waktu itu masih SMA jadi pasti banyak banget kesalahan. So yang belum pernah baca, Selamat datang. Dan bagi yang sudah baca semoga gak bosen buat baca lagi (emangnya ada duh). Anyway, Enjoy~

Happy Reading!


Jam menunjukkan pukul 06.30. Sinar matahari memasuki sebuah kamar melalui jendela milik seorang lelaki berambut pirang. Ya, jendela itu sudah dibuka oleh seseorang yang sama untuk membangunkan makhluk kuning yang sedang tertidur pulas tersebut.

"Oniichan! Bangun dong! Sudah pagi tauu!..." Suara melengking milik sang adik menggema di ruangan itu. Namun sepertinya sang empu belum juga dijemput dari alam mimpinya.

"Ayo bangun Oniichan! Ini kan hari pertama Oniichan sekolah! Atau..." Himawari tak melanjutkan kata-katanya, seringai jahil muncul di wajah manis milik adiknya itu. Sedangkan sang empu tak lain adalah Boruto sedikit demi sedikit menerka apa yang terjadi gerangan pada dirinya itu.

"...atau aku akan memanggil Kaachan untuk membangunkanmu dengan jyuuken nya!" lanjut sang adik sembari meninggalkan kamar kakaknya itu. Boruto masih belum seratus persen sadar apa yang barusan didengarnya, kurang lebih tiga puluh detik kemudian matanya melebar.

"UUUAAAPAAAAA! JANGAN HIMAWARI! IYA AKU AKAN BANGUUUNNN!" Dengan secepat kilat aka Flash dia langsung loncat dari kasur, turun dari tangga lalu mengambil handuk oranye miliknya dan masuk ke kamar mandi. Sekitar lima menit membersihkan diri dia keluar. Tak lupa dia mengenakan baju favorit miliknya untuk sekolah. Ya, Boruto sekarang bersekolah di Konoha Academy yang kebetulan dekat dengan rumahnya.

"Yosh!" Sudah siap. Dia turun dari kamar lalu menuju meja makan. Disana ada ayahnya, Naruto Uzumaki, lagi membaca koran dan sang ibu yaitu Hinata Hyuuga yang masih berkutat di dapur. Namun ujung hidung Boruto sepertinya merasakan masakan ibu-tersayang-tercintanya itu hampir selesai. Tak lupa Himawari juga membantu Hinata dalam menyiapkan makanan untuk keluarga tersebut.

"Ohhh... kau sudah bangun rupanya. Siap sekolah?" Naruto yang menyadari kehadiran sulungnya itu menyapa.

"Nandayo kuso-oyaji. Tentu saja aku siap!" Boruto membalas sapaan ayahnya dengan nada keras. Yah Boruto memang sangat gengsi jika didepan ayah yang bersurai sama itu. Boruto merasa ayahnya selalu bekerja 'tanpa' memperhatikan keluarganya itu. Apalagi jika sudah keluar kota, Boruto akan koar-koar gk jelas dirumahnya sendiri, membuat Hinata bingung sebenarnya. Tapi Hinata merasakan bahwa Boruto sebenarnya hanya ingin diperhatikan saja oleh suami-tercintanya itu.

"Boruto, tidak baik berbicara seperti itu kepada Otouchan mu!" Hinata menasehati anak berambut pirang itu.

"Iya iya Kaachan...tidak akan kuulangi." Boruto meresponnya dengan malas. Kenapa Ibunya itu tidak marah sama sekali jika ayahnya bekerja terus? Masih bingung rupanya si Boruto ini. ck ck ck

"Ha'i, sudah siap!" Himawari datang dengan muka cerah membawa piring yang berisi makanan yang barusan dimasak oleh Hinata.

"Oke..itadakimasu" Boruto makan dengan cukup lahap. Moodnya mungkin tidak sedang buruk hari ini jadi perutnya bisa diisi dengan normal oleh pemiliknya.

"Oh iya Boruto, apa kau sudah tahu dimana sekolah barumu?" Suara milik sang ayah bertanya.

"Bukankah kemarin kita sudah kesana sambil mendaftar? Lagi pula dekat kok." Boruto menjawabnya dengan enteng.

"Benarkah? Oh iya aku lupa hehehehe..." Naruto menjawab garing sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

'makanya jangan kebanyakan kerja!' batin Boruto dengan wajah malas. Namun berkat kerja keras Naruto, keluarga bahagianya bisa hidup sejahtera. Salah satu direktur CEO soalnya.

"Terima kasih atas makanannya. Ya sudah Touchan, Kaachan, aku pergi dulu. Ittekimasu" Boruto sudah siap berangkat sekolah.

"Itterasshai... hati-hati ya.." suara lembut Kaachan nya merespon kepergian sang sulung.

'Oke! Aku akan dapat teman baru! Tidak sabar sampai kesekolah' Laki-laki ini membatin sambil cengar-cengir sendiri tanpa merasakan perhatian orang-orang yang sedang memperhatikannya. 'Jangan dekat dekat! Dia gila!' Aduhhh... ada ada saja.

.

.

.

Dalam sebuah kelas terdapat sedikit keriuhan karena mendengar rumor adanya anak baru.

"Katanya ada anak baru!" salah seorang murid berkata.

"Wah... keren. Laki-laki atau perempuan?" murid yang lain bertanya.

"Aku tidak tahu, tapi katanya rambutnya pirang!" murid yang sebelumnya berkata itu kembali berargumen.

"Jangan-jangan dia bule! Hahaha..." yang ini malah sedikit ngawur. Hadehh.

Diantara keriuhan itu terdapat tiga perempuan memperhatikan apa yang sedang terjadi dikelasnya.

"Hei inchou, apa kau tahu siapa anak baru itu?" tanya perempuan berambut hitam yaitu Sarada sambil melihat keriuhan yang mungkin makin menjadi itu.

"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia murid laki-laki." Sang ketua kelas aka inchou atau nama aslinya adalah Sumire membalas pertanyaan milik temannya.

"Hooo...kau tertarik padanya? Atau sedang memikirkannya?" goda gadis kedua teman sebelumnya yaitu Cho Cho. Dia selalu saja tertarik pada hal yang berbau roman dan lawan jenis. Sedangkan gadis berambut ungu tersebut tiba-tiba merona sambil panik.

"Bu-bu-bukan seperti itu maksudkuu..." Sumire menjawab sambil menggoyangkan tangannya. Cukup manis jika dilihat.

"Sudahlah Cho-Cho. Tapi apakah benar kau tidak tertarik pada laki-laki di sekolah ini inchou? Aku penasaran..." Sarada memperhatikan teman ungunya itu sambil memegang dagunya sendiri. Iyalah masa dagunya si Cho Cho.

"A-aku tidak pernah memikirkan tentang hal seperti itu." Respon yang didengan membuat kedua temannya terkejut. Kenapa sang ketua kelas yang dipandang sebagai salah satu gadis yang cukup bisa dibilang idaman, tidak tertarik pada satu laki-laki pun. Karena dirinya sangat fokus terhadap pelajaran dan terlebih lagi nilainya sangat bagus membuat nilai plus dari gadis surai ungu.

"Kau ini sudah enam belas tahun inchou! Sangat disayangkan apabila kau tidak pernah merasakan yang namanya cinta!" Cho Cho seakan menasehati.

"Aku malas meladeni omongan pemakan kripik ini namun yang dikatakannya itu benar inchou." Sarada mengakui kebenaran perkataan milik teman coklatnya.

"A-aku tidak nyaman berbicara tentang hal semacam ini..." sang ketua kelas tidak tahan namun rona di wajahnya belum hilang.

"Tapi kan..." Sebelum Cho Cho melanjutkan kata-katanya. Ada yang memasuki ruangan kelas itu. Dia adalah Shino-sensei, seorang pria yang menyukai serangga, pikir murid-murid jika melihatnya.

"Ayo semuanya tenang. Dan Sumire tolong siapkan." Shino mengintrupsi pemimpin kelas ini untuk menyiapkan kelasnya dengan wajah datar.

Setelah selesai hormat, Shino-sensei nampaknya belum memulai pelajaran. Dia melanjutkan perkataannya.

"Mungkin kalian sudah dengar jika kita kedangan murid baru. Masuklah..." Shino memanggil seorang pria blonde dengan dua garis di pipinya serta mata biru laut miliknya memandang lurus sambil menuju samping Shino-sensei.

"Jadi dia adalah murid baru di sekolah kita, namamu..." sang guru seperti mempersilahkan murid barunya itu untuk berbicara.

"Namaku Uzumaki Boruto! Aku senang mendapat teman banyak dan...Yoroshikuu!" Boruto dengan lantang memperkenalkan dirinya.

"Wah lihat rambutnya!" celetuk salah satu murid.

"Matanya biru! Keren!" yang lain menyaut.

"Ada garis di pipinya! Lucu sekali!" ini malah ngeliatin tanda lahir milik Boruto

Namun sedari tadi Cho Cho sepertinya memperhatikan gelagat ketua kelasnya dengan intens, karena tempat duduknya tepat dibelakang gadis surai ungu tersebut.

"Nee..bagaimana menurutmu? Cowok itu lumayan loh." Bisik Cho Cho melalui bisikan yang terdengar oleh target. Sumire hanya menoleh sambil kaget, wajah putihnya memerah. Cho Cho hanya terkikik melihat tingkah ketua kelasnya.

"Sudah sudah jangan ribut. Nah Boruto, kau duduk di..." Shino-sensei sambil menyisir pandangan ke semua penjuru.

"Nah itu dia, di sebelah Sumire. Angkat tanganmu Sumire." Perintah Shino sambil menunjuk tempat duduk yang dimaksud.

"...Dan juga ajak Boruto untuk berkeliling sekolah ya. Salah satu tugasmu sebagai inchou." Tambah Shino.

"Ah..H-ha'i sensei" Sumire menjawab dengan patuh.

Boruto yang sudah tahu tempat langsung berjalan dan menatap sekilas teman duduk yang dimaksud senseinya tadi.

Sedikit berpikir dengan penampilan wanita didepannya. Daaaannnn...'Manis' entah langsung terlintas dalam pikiran si kepala kuning, agak tertegun sesaat sampai...

"A-anoo...Uzumaki-kun?" Sumire hanya bingung dengan tingkah orang yang sedang menatapnya. Boruto terkejut. BHUBP! Boruto langsung menutup hidungnya karena merasakan air kental yang keluar dengan mata terbelalak.

'APAAA! KUN? NAMAKU MEMANG ITU TAPI PAKAI...AKH! SUDAHLAH!' dengan secepat kilat dia langsung menduduki kursinya dengan wajah menunduk menempel pada permukaan meja. Gadis ungu masih belum mengerti dengan tingkah Boruto.

"Uzumaki-kun, kau tidak apa-apa?" sepertinya si gadis ungu khawatir dengan gelagat aneh pemuda pirang itu.

"Ah..HAHAHAH, aku tidak apa-apa kok. Selain itu, panggil aku Boruto saja karena aku kurang suka dengan panggilan nama belakang." langsung dijawab cepat oleh pemuda pirang.

Boruto hanya menatap sambil bergeleng cepat tanda dia tidak apa apa. Memalukan jika terungkap kejadian sebenarnya. Namun seseorang daritadi hanya melihat tingkah keduanya hanya menyeringai sambil tertawa pelan.

'Hihihihihi. Lucu sekali! Sepertinya ini akan menarik.' Yg berpikir tak lain adalah Cho Cho. Senyum jahil terlihat diwajah gembulnya.

"Mari kita mulai pelajarannya. Buka halaman..."

Lalu kelas pun dimulai.

.

.

.

Istirahat tiba

"Fuah! Akhirnya selesai...Hmmm..." Boruto masih bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Tadi pagi dia hanya keruang guru lalu disambut oleh Shino-sensei kebetulan memang dia wali kelasnya. Jadi dia cuma tahu jalan kekelas ini saja. Dia lalu memandang ke arah lain...Oh Iya! Dia langsung menengok kearah gadis surai ungu di sebelahnya sambil tersenyum.

"Etto...inchou?" Boruto sedang memanggil memastikan supaya permintaanya didengar. Sepertinya gadis dihadapannya ini masih membereskan buku setelah pelajaran usai. Namun dia mendengar seseorang memanggilnya.

"Ah...ada apa Boruto-kun?" menjawab sambil balas tersenyum. Wah sepertinya isi kepala surai kuning ini lagi-lagi seperti tidak bekerja, senyum sang ketua kelas seperti mencabut saraf otaknya! Masih menatap sang ketua kelas dengan tatapan yang sulit diartikan. Sumire sedikit kebingungan tadi dia manggil kok langsung diem?

"Anoo...Boruto-kun" panggilnya sekali lagi. Kali ini pria dihadapannya sepertinya sudah sadar.

"I-itu, apa kau bisa memberi tahu tata letak sekolah ini?" 'kenapa aku gagap begitu? Bodo amat!' sambil nyengir lima jari. Sumire nampak berpikir dan memutuskan.

"Hmm...sepertinya sekarang bisa" sambil mengangguk. Boruto entah kenapa merasa senang dengan respon yang didapat, tidak sadar tersenyum lembut kepada inchounya. Sumire sedikit merasa pipinya panas dan langsung mengalihkan pandangannya ke luar kelas.

"Le-lebih baik cepat kita selesaikan, Boruto-kun." sambil berjalan cepat agar tidak terlihat wajah malunya itu, dan didalam tubuhnya seperti merasakan getaran yang belum pernah dia alami.

'A-a-aku, k-kok begini?' Dia sedikit melirik kebelakang. Boruto nampaknya mengejarnya.

"Eh? Tunggu aku inchou!" berjalan dengan melambaikan tangannya kedepan, kode agar berhenti supaya berjalan bersama.

Akhirnya mereka berdua keluar kelas. Sarada berjalan menuju Cho Cho untuk mengajak makan bersama.

"Hei Cho Cho, ayo kita makan! Mana inchou?" dia bertanya sambil menengok kanan kiri mencari kepala surai ungu untuk diajak makan dengan mereka.

"Mereka sudah keluar kelas, berkeliling sekolah." Cho Cho menjawab sambil menyeringai.

"Ha? Mereka? Siapa? Dan kenapa mukamu begitu?" perempuan rambut hitam legam ini nampak bingung dengan pernyataan teman gembulnya.

"Tentu saja inchou dan murid baru itu! Dan apa kau tak melihat inchou terlihat sedikit aneh? Aku melihat bahwa mereka berdua nampak cocok jika bersama." Cho Cho hanya mengatakan apa yang ada dalam kepalanya. Sarada sedikit tidak setuju.

"Eh benarkah? Maksudmu seperti apa?" sepertinya Sarada nampak sedikit bingung.

"Ah itu! Masa tidak paham! Inchou yang terlihat salah tingkah itu menurutku sangat adorable! Aku baru pertama kali melihatnya seperti itu. Dan jika dia, si pirang itu, bisa membuka hatinya, maka akan terjadi kehebohan besar!" Cho Cho mengepalkan tangannya dengan semangat masa muda.

"Haduh...kau ini. Membuka hati? Tapi jika seperti itu, kita mau tak mau harus membantunya. Masa kita membiarkan dia jom...maksudku sendiri seumur hidup?" Waduh, Sarada juga semangat kayanya.

"Hihihi...Aku suka yang seperti itu!" Cho Cho tersenyum puas dengan kekompakan diantara keduanya. Yah, teman masa kecil soalnya.

"Jadi, kita makan?"

.

.

.

Beralih ke Boruto ditemani oleh Sumire yang nampak berjalan beriringan.

Keduanya nampak berjalan di lorong kelas yang lumayan panjang, tak ada obrolan. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing, degup jantung juga sepertinya tak normal untuk mereka berdua. Kalau begitu, mari kita dengar apa isi hati masing-masing duo kuning-ungu ini. ^_^

Dalam pikiran Boruto : 'KUSO! Ayolah jantung! Bekerja samalah denganku! Dan...dan juga kenapa aku seperti orang bisu hah! Padahal kita baru bertemu tapi aku seperti...AKH! Aku benar-benar bingung!' dia berpikir sambil menatap lurus dengan mempertahankan langkah kaki.

Dalam pikiran Sumire : 'Padahal baru tadi pagi bertemu kenapa perutku seperti bergemuruh begini? Aku ini kan inchou, aku harus tegas. Tapi saat aku melihat matanya entah kenapa aku merasa seperti...kenapa ya? Aduhhh...aku bingung. Apa perkataan Cho Cho itu...Ah! Itu tidak mungkin!' Tak beda jauh dengan yang dipikirkan Boruto, yah perasaan gugup membuatnya kurang bisa menemukan ide pembicaraan yang berakhir sunyi pada keduanya.

Mereka berdua terlalu fokus dengan pemikiran masing-masing tidak menyadari banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Beberapa murid sedikit kaget karena Sumire yang notabene tidak pernah dekat dengan lawan jenis terlihat berjalan beriringan dengan pemuda pirang. Dan yang membuat mereka bingung siapa pemuda yang disamping gadis ungu paling manis disekolahnya?

"Wah lihat, inchou bejalan dengan laki-laki!"

"Tidak mungkin, mungkin dia anak baru jadi dia menemani berkeliling sekolah."

"Menurutku mereka cocok." Ups. Who said this?

"Siapa laki-laki pirang itu? Aku tidak pernah melihatnya!"

Suara sedikit gaduh tertangkap digendang telinga Sumire. Dia langsung melihat sekeliling, dia heran kenapa mereka semua memperhatikannya. Ralat, keduanya. Dia tidak ambil pusing dan segera memanggil Boruto.

"Boruto-kun, mari kita percepat jalan kita." Panggilan serta ajakan terdengan oleh Boruto.

"Ah...oke, tapi sebelum itu. Pertama kita mengunjungi apa dulu?" Mengeluarkan apa yang mengganjal pikirannya. Sumire nampak berpikir, dan sepertinya jika dimulai dari gerbang sekolah tidak buruk.

"Kita bagian depan sekolah dulu bagaimana? Aku rasa akan lebih mudah." Sumire mengajukan pendapatnya.

"Oke, jika kau berkata begitu. Bagiku tidak masalah." Rambut pirangnya bergoyang karena mengangguk. Sumire melihat itu dan baginya itu lucu, tak sadar dia tertawa pelan. "..hihi"

"Kenapa kau tertawa inchou?" Bingung sambil mengangkat alis sebelah.

"Tidak ada apa-apa, ayo cepat istirahat kita cuma tiga puluh menit." Gadis ungu memperingatkan. Boruto hanya menurut.

.

.

.

Selama dua puluh menit mereka berjalan, ternyata sudah hampir semuanya dikunjungi. Hanya beberapa tempat penting sih, supaya nanti Boruto tidak bingung jika terjadi sesuatu. Sumire berpikir ternyata berjalan dengan laki-laki tidaklah seburuk pemikirannya. Nah, kalo Boruto sendiri ternyata pejalanannya menyenangkan karena mereka juga sempat bercanda gurau, Sumire merupakan teman yang asik untuk ngobrol pikirnya. Mereka berjalan kembali, Boruto belum tahu destinasi selanjutnya apa.

"Kita mau kemana lagi inchou?" Boruto menatap orang disampingnya.

"Terakhir kita akan ke taman sekolah." Sumire menjawab sambil menatap lurus, dengan senyum tipis tidak menghilang diwajahnya. Dan entah kenapa kata 'terakhir' membuat Boruto sedikit kecewa, namun setelah mendengar kata 'taman' dia menjadi sedikit antusias.

"Nah ini dia taman sekolah."

"Wah, bagus sekali. Sangat keren!" Boruto melihat taman itu dengan mata bersinar-sinar. Memang tidak cukup luas namun lapangan hijau disertai bunga dan semak yang dirapikan, ditambah lagi dengan air mancur pertanda sekolah ini memang elit. Sampai dua menit pemuda surai kuning masih memperhatikan taman itu. Sumire juga nampak betah memperhatikan pemuda disampingnya, menunggu rekasi selanjutnya.

"Oh iya, Boruto-kun, istirahat sudah mau habis jadi kita harus kembali sekarang."

"Haah? Sudah mau habis? Kenapa cepat sekali...tapi aku mau ke kantin dulu ingin membeli sesuatu. Bolehkan?" Boruto me-request karena memang ingin. Gadis ungu hanya menggangguk.

"Boleh...harus cepat ya." sambil senyum manis. Boruto yang melihat itu hanya salah tingkah dan langsung melaju ke tujuan daripada ditanya lagi yang tidak-tidak. Sumire yang tinggal sendirian merasa sedikit kesepian. Kepergian pemuda itu membuatnya kecewa.

'Kenapa tidak bareng saja perginya? APA YANG KUPIKIRKAN!' Sumire kaget sendiri dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Aku lebih baik ke kelas saja." Benar, daripada terjadi sesuatu lagi dengan pikirannya.

.

.

.

Setelah terakhir obrolan di taman saat istirahat tadi, tidak lagi ada lagi percakapan antar mereka. Kecamuk perasaaan dalam hati sepertinya lebih menarik untuk dirasakan daripada bercakap diantara mereka. Ini berlangsung sampai pulang.

Dan tidak baik untuk mengacuhkan orang yang kau kenal bahkan jika orang itu baik. Jadi sebelum pulang Boruto memutuskan untuk menyapa sang inchou kelas.

"Inchou! Aku pulang duluan ya, jaa" Boruto melambai sambil tersenyum.

"Iya Boruto-kun, jaa mata ashita" Dibalas senyum oleh Sumire. Boruto hanya mengangguk dan berlalu pulang. Dalam satu hari dia sudah berapa kali dilempar senyum oleh inchou kelasnya itu. Tunggu...tersadar atas pikirannya dia hanya geleng-geleng kuat. Semburat tipis menempel pada wajahnya. Ya, lebih baik fokus berjalan untuk pulang.

Sementara itu, Sumire sedang mengemasi barangnya setelah pelajaran matematika sudah selesai. Sarada dan Cho Cho menghampiri teman ungunya tersebut.

"Inchou, mau pulang bersama kami?" Sarada mengawali percakapan dengan pertanyaan.

"Umm, oke aku pulang bersama kalian." Sumire menjawab dengan anggukan

"Nee nee inchou, bagaimana kau bisa dekat dengan laki-laki itu?" Cho Cho sepertinya ingin menggoda gadis surai ungu ini.

"EEH! Ma..maksudmu de..dekat itu a..apa? siapa?" Sumire hanya tergagap ditanya seperti itu,semburat tipis terlukis diwajahnya. Sarada menutup mulut, nampaknya menahan tawa.

"Tadi waktu istirahat, kalian sepertinya bersenang-senang. Hehehee.."Cho Cho melanjutkan godaannya. Tak lupa seringai juga dia tampilkan, dia memang suka melihat yang namanya pasangan.

"I..itu, Itukan t..tugasku sebagai inchou!" Gadis ungu menjawab cepat. Aduhh..dia memang agak kurang suka dengan hal seperti ini, dia ingin cepat pulang menetralkan pacu jantungnya. Sarada masih menutup mulutnya dan menatap sang inchou. 'Manis sekali' pikirnya.

"Sudahlah ayo kita pulang, haha..." Tawanya belum hilang sepenuhnya dan merekapun mulai bejalan.

"Tapi inchou, kau kan tidak pernah dekat dengan pria. Tapi apa kau mungkin suka dengan laki-laki pirang itu?" Sarada penasaran dengan isi hati temannya.

"I...itu tidak mungkin Sarada, k..kan k..kita baru bertemu hari ini" Masih terbata-bata aka gugup melanda si gadis ungu.

"Tapi inchou, rasa suka itu sebenarnya hanya membutuhkan waktu yang sedikit. Bahkan sangat cepat. Aku pernah membaca itu di internet." Sarada mengatakan sesuatu yang dia tahu di internet dan dibalas anggukan oleh Cho Cho. [Author : sebenarnya jangan terlalu percaya sama informasi dari internet/blog. Sering-sering disaring ya]

"Itu benar! Rasa suka itu tidak mengenal waktu inchou."

"Mou, sudahlah aku malu membicarakan ini..." Sumire hanya memelas dengan sikap kedua temannya. Dia berjalan cepat.

"Eh! Tunggu dong!"

.

.

.

Boruto sudah memasuki pintu depan rumahnya. Dia menuju ke kamar sambil bersenandung.

"Oniichan, kau kenapa? Sepertinya senang sekali." Himawari yang sudah menyadari kedatangan kakaknya lansung bertanya perihal yang sedang terjadi dengan Boruto.

"Ah...tidak usah dipikirkan. Aku mau kekamar." Bocah surai kuning hanya berlalu dan dia menuju ke lantai dua, tempat kamarnya berada.

"Hmm...dasar aneh. Sudahlah." Himawari menempelkan telunjuk di dagu, lalu dia kembali ke aktivitasnya.

Di kamar, Boruto lansung merebahkan dirinya dikasur. Cahaya jingga memasuki jendela kamarnya, nampaknya sudah sore.

"Kenapa aku merasa senang begini ya?" Tanyanya pada diri sendiri. Dia memikirkan kejadian disekolah barunya, teman baru, kelas baru, perempuan baru...'HAH, APA KATA BARUSAN YANG AKU PIKIRKAN!' Boruto kaget terhadap isi kepalanya. Namun perlahan-lahan dia memikirkan perempuan itu.

'Sedang apa ya dia? Aku penasaran.' Dia terlarut dengan pikirannya sendiri.

"Akh! Aku lupa minta email dia!" Tersadar dengan yang belum dilakukannya.

"Email siapa Boruto?" Suara lembut terdengar dari pintu kamar, Hinata, Ibunya.

"HAH! Bukan siapa-siapa kok kaachan! Selain itu ketuk dulu dong! Inikan kamarku!"

"Sudahlah. Tadi kata Himawari kau sedang senang, ada apa disekolah? Apa ada yang menyenangkan?"

"Ohh..itu. Aku mendapat teman baru!" Boruto menunjunkkan jempolnya sambil nyengir.

"Kalau begitu baguslah. Kapan-kapan diajak ke sini ya." Hinata setelah mengatakan itu langsung berbalik turun kebawah.

"OKE!" Dijawab mantap oleh anak sulung kesayangannya.

Boruto merebahkan kembali dirinya ke kasur. Dia memperhatikan lekuk langit-langit kamarnya.

"Sumire...kah" Dia hanya mengatakan itu pelan.

.

.

.

"Tadaima" Gadis ungu sudah memasuki rumahnya.

"Okaeri" Ibunya menjawab dari dapur. Nampaknya dia memasak, karena baunya tercium oleh Sumire.

"Masuklah, makan malam sudah hampir siap." Ibunya menginfokan tentang makan malam kepada anak satu-satunya.

"Iya bu, aku ingin ke kamar." Sumire lanjut jalan menuju tempatnya. Dia ingin menenangkan diri, dirumah memang hanya ada ibunya saja. Ayahnya? Dia tidak ingin memikirkannya pria sialan itu, dia hanya ingin melupakannya.

Blam! Pintu sudah tertutup dan dia menaruh tasnya dengan rapi dan terduduk di meja belajarnya. Prestasinya cukup membanggakan karena meja kecilnya itu. Dia memikirkan sesuatu tentang yang sudah terjadi pada hari ini disekolahnya. Yah, cukup bisa disebut sebagai sanam jantung. Sudah berapa kali organ itu berdetak tidak karuan dan tidak bisa diajak untuk diam. Setelah memikirkan penyebabnya, dia hanya menggumamkan suatu kata.

"Boruto..-kun" Dia sudah terlalu malas untuk kaget. Raganya sedang lelah dan minta untuk diistirahatkan. Perkataan Sarada dan Cho Cho terngiang di kepalanya. Sepertinya dia harus mandi, ya mandi. Pikiraannya akan lebih fresh jika melakukan ritual membersihkan badan itu. Sebelum beranjak dia bergumam lagi.

"Boruto-kun, sedang apa ya?" Manik ungunya melihat ke atas dan dia lalu pergi untuk ke kamar mandi rumahnya.


End of chapter 1 guys. Btw mungkin akan ada 10 chapter, jadi kalian stay tune trus aja yaa. Boleh direview guna memajukan tulisan ini :D