Season 3 Chapter 2: Pencarian Bukti
DISCLAIMER: ... oh, masih mau Naya, eh, maksudnya nanya... ok. 'DISCLAIMERexe has been deleted'
Setelah kami masuk, ternyata ruangannya sangat besar. Ada ribuan layar disini.
Arka: Wow. Ruangan CCTV apa pak yang sebesar ini.
Inspektur: Ini adalah CCTV di hutan induk Palelo.
Arka: Apa?! Disana ada CCTV juga?
Inspektur: Ya, tapi karena terlalu banyak yang dijaga, maka kami tak pernah mencek ini lagi.
Arka: Oh, jadi ini tertinggalkan juga ya, pak?
Inspektur: Ya, begitu lah. Tapi kejadianmu itu perlu diselidiki. Ini mungkin bisa menjadi bukti jelas kejahatan Genta.
Inspektur itu menekan suatu tombol lalu menyalalah ribuan layar itu.
Kami mulai menyelidiki kejadian anehku sore tadi.
Sepertinya bapak ini hafal sekali dengan titik-titik lokasinya.
Setelah 6 jam mencari bukti, tepatnya sampai waktu subuh, kami akhirnya selesai.
Inspektur: Akhirnya, semuanya telah tersimpan dalam cip ini.
Arka: Iya, pak. Sekarang kita tau betul bagaimana si Genta ini. Tapi bagaimana kalau cip itu hilang, pak?
Inspektur: Tenang saja, aku sudah menyiapkan 1000 cip backup, jadi dia tak akan bisa berkutik.
Arka: Wow, mantap sekali niatnya pak.
Inspektur: Kami tidak ingin kecolongan dia lagi. Tidak lagi, sudah cukup, pencarian ini harus segera berakhir. Kami tidak bisa membiarkan warga waswas karena Genta.
Inspektur: Tapi, kenapa kebetulan sekali kamu bisa ingin BAK disana? Kamu ada makan sesuatu sebelum itu?
Arka: Ada pak. Sebelum itu kami ditraktir di kafe dia.
Inspektur: Nah, itu jawabannya.
Arka: Kenapa, pak?
Inspektur: Dia pasti menambahkan obat BAK di minumanmu. Jadi saat dicerna, kau akan merasa ingin BAK. Dan dihutan itulah waktunya.
Arka: Ooh. Jadi itu ulah Genta juga ya pak?
Inspektur: Pasti.
Dasar penjahat berantai tak beradab! Tunggu saja pembalasanku nanti!
Inspektur: Sekarang, ayo pulang, sudah jam 5 subuh ini.
Arka: Baik, pak.
Kami berdua keluar dari ruangan CCTV itu. Semoga ada ojol bangun jam segini. Entahlah.
Setelah keluar kantor polisi aku berniat berpisah dengan pak Inspektur.
Inspektur: Hey, mau kemana kau, Arka?
Arka: Cari ojol, pak.
Inspektur: Tak perlu, kau ikut aku saja, Arka.
Arka: Bapak mau mengantarkan saya kerumah, pak?
Inspektur: Ya nggaklah bodoh. Ikut bapak kerumah bapak, biarlah kau menginap disitu dulu.
Arka: Apakah itu tidak merepotkan bapak?
Inspektur: Tentu saja tidak. Malah bapak harus lebih banyak tau tentangmu.
(Terima/Tolak)
Arka: Baiklah, pak. Terimakasih banyak.
Inspektur: Ya sudah, ayo masuk.
Aku masuk mobil pak Inspektur. Tak lama kemudian kami jalan.
Rasanya ada yang ingin kutanyakan. Apa ya?
(Geografis/Penduduk/Rumah Inspektur)
Arka: Oh ya, pak. Apa benar penduduk dipulau ini bertambah 40%?
Inspektur: Ya, itu benar. Memangnya kenapa?
Arka: Kenapa jadi begitu, pak.
Inspektur: Saya dengar ada kompetisi mural yang akan dilaksanakan di pulau ini sabtu ini.
Arka: Oh ya? Saya ikut lomba melukisnya, pak. Makanya saya datang kesini.
Inspektur: Apa? Kau bisa melukis?
Arka: Ya bisa lah, pak.
Inspektur: Apakah kau sudah tau apa yang mau digambar?
Arka: Belum pasti, pak.
Inspektur: Bagaimana kalau kau latihan melukis dirumahku. Lagian bapak mau dekorasi baru dirumah bapak.
Arka: Memang alat dan bahannya ada, pak?
Inspektur: Ada. Tempat melukisnya di salah satu tembok kosong dirumah bapak. Alat dan bahannya juga ada. Ya, itu memang tersimpan lama di gudang. Jadi bagaimana, Arka?
(Terima/Tolak/Capek)
Arka: Baguslah, pak. Sekalian saya menentukan temanya buat lomba nanti apa.
Inspektur: Baguslah.
Arka: Tapi kenapa Genta tak mau menjelaskan alasannya ya?
Inspektur: Apa katamu?
Arka: Genta juga telah memberitahu kami penduduk disini bertambah 40%. Tapi tanpa keterangan.
Inspektur: Kalau benar feeling bapak, dia juga ikut lomba disana. Tapi dia tak mau memberitahu kalian. Mungkin agar kau tidak ikut itu.
Arka: Bisa jadi sih.
Inspektur: Kalau benar dia ikut, nanti kau harus awasi dia. Kita akan mencek hal-hal disana. Dia mungkin melakukan kejahatan lagi.
Arka: Baik, pak.
Inspektur: Dan diantara waktu itu, kau usahakan dapatkan hp Linka. Cari memori masa lalunya disana. Itu akan membantu mengembalikan ingatan Linka.
Arka: Ide yang bagus, pak. Baiklah.
Inspektur: Semua ini bergantung kepadamu, Arka.
Aku akan menumbangkan si pengkhianat itu!
Inspektur: Oh ya, kau tinggal dimana, Arka? Setau bapak tempat nginap disini sudah penuh.
Arka: Oh ya? Kami tinggal di penginapan kecil di Jalan Pulang Pasrah pak.
Inspektur: Oh, pantesan.
Arka: Kenapa, pak? Ada yang aneh di penginapan itu?
Inspektur: Rata-rata penginapan di pulau ini sangat nyaman. Hanya itu yang masih kurang fasilitas. Makanya kurang laku.
Arka: Kami merasa betah aja kok disitu.
Inspektur: Mungkin iya bagi kalian. Tapi bagi penduduk disini tidak. Kau tahu lah pasti kenapa.
Arka: Pasti karena mayoritas orang kaya.
Inspektur: 100 Poin.
Kami tertawa.
Sekitar 20 menit perjalanan, kami sampai di suatu rumah yang tak terlalu besar.
Inspektur: Ini rumah bapak, Arka. Memang tidak terlalu besar.
Arka: Tapi ini cukup besar untuk bapak seorang.
Inspektur: Ini memang rumah khusus apabila ada tamu.
Arka: Apa? Jadi rumah bapak yang asli bukan ini?
Inspektur: Ya bukan lah. Gimana keluarga bapak bisa tahan disini.
Kaya juga lifestyle bapak ini. Kalo nggak pasti cukuplah rumah ini.
Inspektur: Ya sudah, ayo masuk!
Kami berdua masuk.
Inspektur: Jadi kamu nanti lukis disini ya.
Pak Inspektur menunjuk ke salah satu tembok kosong di ruang tamu.
Arka: Yakin di ruang tamu, pak?
Inspektur: Ya, jadi kalau ada tamu yang masuk langsung melihat lukisan indah itu.
Arka: Tapi bagaimana kalau gak bagus, pak?
Inspektur: Saya yakin akan kemampuanmu, Arka. Tidak mungkin kamu mau jauh-jauh kesini kalau tidak dengan persiapan matang.
Arka: Baiklah, pak.
Inspektur: Bahan dan alat ada digudang sana. Ruang tidurmu ada disana.
Pak Inspektur menunjuk ke 2 arah yang berbeda.
Arka: Baiklah, pak.
Inspektur: Sekarang ayo kamu tidur dulu, bapak mau balik ke kantor.
Arka: Loh, bapak nggak tidur dulu?
Inspektur: Ya nggak lah. Bapak sebagai Inspektur harus bekerja tiap hari. Kamu sebagai anak muda harus bersyukur masih belum ada banyak beban seperti saya.
Inspektur: Kalau kamu sudah besar nanti, kamu pasti tahu bagaimana susahnya berkeluarga.
Aku jadi terpikir hubunganku dengan Naya. Bagaimana nanti ya?
Inspektur: Ya sudah, jaga rumah ini. Bapak tinggal dulu ya.
Arka: Baik, pak.
Pak Inspektur keluar rumah dan aku masuk kamarku. Lalu aku langsung tidur. Rasanya lelah sekali kemarin.
FLASHBACK START
Dia jauh lebih cepat daripadaku, aku juga tidak mungkin bisa mengalahkannya. Maka aku memutuskan sembunyi dibalik pohon besar yang kebetulan berada didepanku.
Lalu pindah dari pohon ke pohon, hingga dia kehilangan jejakku. Aku pikir aku selamat sekarang. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara dari belakangku.
?: Kau tak akan selamat, Arka!
Aku langsung melihat kebelakang. Terlihat sosok hitam yang tidak terlalu jelas tampangnya.
?: Hahaha!
Orang itu langsung meraihku.
Arka: Tidaak!
Sekarang aku tau persis siapa orang itu. Dia bukan sekedar khayalan. Semua mimpi itu bukan sekedar mimpi biasa. Itu adalah pesan spesial dari Tuhan. Hal-hal yang terjadi di mimpi itu sebenarnya semuanya terjadi di dunia nyataku, namun pada bagian akhir dalam wujub berbeda. Tapi bagian terakhir itu yang merupakan pesan terpentingnya. Bahwa setelah tragedi harimau itu... masih ada tragedi yang jauh lebih besar yang harus kuhadapi.
Ini bukan suatu hal, bukan tumbuhan maupun hewan, tapi seseorang. Seseorang yang sangat aku kenal, yang ternyata memasang karakter orang bermuka dua. Tragedi itu sekarang persis berada di depanku. Cengkaraman orang misterius itu berupa segala hal sial yang terjadi kepadaku. Dan orang itu yang melakukannya. Orang misterius itu adalah...
...Genta, si Pengkhianat sebenarnya.
FLASHBACK END
Aku terbangun, sekarang aku sudah merasa segar sekali. Berarti aku sudah lama tidur. Jam berapa ini?
(Ruang tamu/Gudang/Tidur/TV)
Lebih baik aku langsung mengambil alat dan bahan melukis. Akupun ke gudang yang sudah ditunjuk pak Inspektur.
Sambil jalan, aku melihat hari sudah menunjukkan pukul 2 siang. Lama banget aku tidur berarti. Mungkin pak Inspektur sebentar lagi pulang, aku harus cepat.
Tak lama kucari, aku mendapatkan sebuah kotak kotor berisikan peralatan melukis.
Arka: Sepertinya sudah lama sekali dibiarkan. Kotor pula. Daripada kulitku nanti hitam, lebih baik kubersihkan dulu.
Setelah kubersihkan dengan tisu, aku langsung pergi ke ruang tamu.
Hmm.. kira-kira apa yang akan kugambar?
(Lingkungan/Sosial/Fantasi)
Aku sudah menentukan aku akan memilih diantara 2 lukisan kemarin. Lingkungan atau Sosial ya?
Hmm.. Sepertinya lebih bagus tentang sosial deh. Apalagi sekarang aku memang terlibat masalah sosial.
Baiklah, aku akan melukis dengan tema orang bermuka dua. Disisi satu dia bersikap baik. Tapi disisi lain dia bersikap jahat. Seperti Genta. Mungkin kalau menang aku bisa menunjukkan keorang-orang tentang kejahatan Genta seperti apa lewat gambar ini.
Ini juga bermakna bahwa jangan melihat orang hanya dari luarnya saja, lihat sampai keinti nadi paling dalam.
Sekitar 5 jam melukis, akhirnya lukisanku jadi sempurna seperti yang kuharapkan. Aku sempat menambahkan berbagai detail serinci mungkin.
Tapi bukannya lombanya cuman ada 4 jam ya? Aku harus bisa lebih cepat tapi tetap santai nanti. Mungkin ini karena aku masih terlalu santai.
Intinya dari sini aku tahu apa yang akan ku lukis nanti, lengkap dengan bagaimana bentuknya.
Tak lama setelah beres-beres alat, kudengar suara pintu terbuka. Ternyata pak Inspektur datang.
Pak Inspektur langsung melihat lukisanku.
Arka: Bagaimana, pak? Apakah bagus?
Inspektur: Tidak.
Apa? Tidak bagus? Aku sudah 5 jam melukis, dan masih tidak bagus?
Arka: Maaf pak.
Inspektur: Maaf apa? Maksudku ini bukan bagus lagi, ini sudah terlalu mantap bagiku. Apa kau membuatnya dengan print, Arka?
Arka: Apa? Jadi bagus sekali, pak?
Inspektur: Ya. Aku tak menyangka bisa sebagus ini kamu menggambar. Kamu pasti menang saat lomba nanti. Aku yakin akan itu.
Arka: Amin.
Inspektur: Terimakasih sudah melukiskan ini untuk bapak. Ambil ini.
Pak Inspektur memberikanku lembaran uang merah.
Arka: Ah, tidak usah pak. Saya ikhlas saja.
Inspektur: Yakin tidak mau?
Arka: Tidak usah repot-repot pak. Harusnya saya yang bayar karena bapak sudah mau meminjamkan segalanya.
Inspektur: Tidak usah.
Inspektur: Baiklah, sekarang ayo aku antarkan kamu pulang.
Arka: Baiklah, pak.
Aku beres-beres, lalu kami keluar dari rumah itu.
Sekitar 1 jam setengah perjalanan, kami sampai dipenginapanku.
Inspektur: Ingat rencana kita. Jangan terlihat seperti penyidik, bersikaplah seperti tidak ada apa-apa. Dapatkan hp Linka, dan awasi Genta. Apabila ada sesuatu, hubungi bapak.
Arka: Tapi saya nggak punya nomor bapak.
Inspektur: Oh iya, ini nomornya.
Aku memasukkan nomor telpon pak Inspektur ke kontak hpku.
Inspektur: Jaga dirimu, Arka.
Arka: Baik, pak.
Aku langsung pergi kedepan penginapan. Sepertinya tak ada kehidupan didalam. Apakah mereka sudah tidur?
(Buka/Ketuk/Diam)
Tidak. Aku harus tetap bersikap sopan. Aku harus mengetuk dulu. Walaupun aku punya kuncinya.
Beberapa kali aku mengetuk, tak ada respon. Langsung saja kubuka pintunya. Ternyata tak terkunci. Ada apa ini?
Kulihat-lihat sekitar, tak ada kehidupan sama sekali disini. Mungkin mereka tertidur.
Arka: Tunggu dulu, apa itu?
Kulihat ada beberapa benda di lantai. Kulihat lebih jelas ternyata pisau, karung, dan hp Naya.
Arka: Apa ini? Pisau? Karung?
Aku langsung lari mengecek semua kamar. Ternyata teman-temanku semua tak ada. Aku mulai panik.
Kubuka hp Naya. Ternyata sedang membuka Google Maps. Terlihat menunjuk suatu koordinat, yang bernama, Lereng Ekstrem Palelo.
CHAPTER SELESAI
Author's Note: Pas teman-temannya Arka di penginapan, Arka nya gak ada. Eh, sekarang pas Arka nya ada, teman-temannya yang gak ada. Haduh haduh. Btw, masih nerima saran-saran ya. Jangan malu Private Message aku. Oh ya, ada yang baca chapter April Fools dari fanfic ini gak? Kalau iya, kamu tau gak sih kalau tanggal rilis chapter ini, which is 5 Juli 2021, sudah ada dibilangin di chapter itu? Gak sadar ya... letaknya ada di kode-kode yang banyak itu hihihi...
Published on July 5, 2020... Last updated on July 5, 2021... Gak kerasa udah 1 tahun fanfic ini berjalan... Kalau sesuai rencana, Season 3 Chapter 3 bakal rilis tanggal 15 Agustus 2021. Ya, memang agak lama sih... tapi ada alasannya kok! Supaya pas selesai nanti tanggal rilisnya bertepatan dengan... eits, rahasia. Stay safe semuanya!
