Season 3 Chapter 3: Penculikan
HJgsgAGJsj- hdsajhDIhdhsfsdhhSCLadshgsdhAIMhdshddshERshdasd has been restored'
Jangan-jangan temanku diculik. Aku harus pergi kesana sekarang. Semoga saja ada ojek mangkal sekarang.
Diluar kulihat ada seseorang sedang duduk di tempat "Pangkalan Ojek".
Arka: Bang, anterin aku dong.
Ojek: Siap, mas.
Ojek: Mau kemana, mas?
Arka: Lereng Ekstrem Palelo, bang.
Ojek: Apa? Jangan bercanda, mas. Mau kemana?
Arka: Aku gak canda bang, ayo.
Ojek: Mau ngapain kesitu? Mau bunuh diri yah? Gak mau.
Arka: Ya bukan lah.
Ojek: Terus ngapain? Bunuh orang?
(Jelaskan/Bohong/Diam)
Arka: Ada misi rahasia.
Ojek: Misi rahasia?
Arka: Udah cepet, penting ini. Mau dibayar nggak?
Ojek: Oke oke.
Kami mulai jalan.
Ojek: Abang tau kan, Lereng Ekstrem Palelo itu tempat apa.
Arka: Memangnya tempat apa?
Ojek: Abang gak tau? Itu tempat pembunuhan paling terkenal di pulau ini.
Arka: Apa?
Ojek: Ya. Orang-orang yang biasanya kesana berarti lagi mau bunuh diri.
Arka: Kenapa tempatnya disana?
Ojek: Karena disana kalau mau mati mudah banget. Namanya aja lereng ekstrem, jadi kepeleset sedikit kelar.
Hmm... kenapa feelingku tidak baik ya?
Arka: Tapi tenang aja, aku kesitu bukan untuk bunuh diri. Aku masih mau hidup.
Ojek: Tapi kenapa kesana? Bahaya banget lho. Salah sedikit bisa wafat.
Arka: Tenang aja, aku bakal jaga diri disana.
Sekitar 30 menit perjalanan, diujung kota tiba-tiba macet sekali.
(Tunggu/Tinggal/Telpon Inspektur)
Arka: Kayanya ini terlalu panjang, bang. Aku turun disini aja.
Ojek: Eh, jangan. Sebentar lagi jalannya lenggang lagi kok.
Arka: Sebentar lagi apa? Kendaraannya sudah jadi kaya ular infinite aja.
Ojek: Tapi bang...
Arka: Tenang aja, ambil nih.
Aku memberikan bayaran penuh.
Ojek: Wah, serius nih bang.
Arka: Iya, udah aku turun disini aja.
Ojek: Kalau begini nanti pulangnya aku jemput lagi kah bang? Sampai setengah jalan bayar full.
Arka: Matamu. Ini karena aku buru-buru. Udah pergi sana.
Ojek: Hehehe. Makasih bang.
Kalau bukan karena darurat, lebih baik aku tunggu daripada bayar rugi. Tapi ini darurat, mereka mungkin dalam bahaya. Ditambah tempatnya di lereng pembunuhan lagi. Jangan bilang temanku mau di... ah, jangan mikir yang aneh-aneh dulu.
Aku langsung lari menuju lereng.
Aha! Sebentar lagi sampai.
(Masuk/Cek/Pulang)
Lebih baik aku cek dulu sebelum maju, siapa tau..
5 menit kucek, ternyata benar perkiraanku. Ini juga pasti jebakan. Kulihat ada beberapa pengintai yang kelihatannya sedang menunggu kedatanganku disana. Apakah ini ulah Genta?
(Masuk/Bawa barang/Telpon Inspektur)
Tidak akan kubiarkan mereka menang 1 langkahpun. Pak Inspektur sudah mempersiapkan menang 100%. Aku juga harus begitu, tidak ada lagi kekalahan. Apiku sudah membara. Otakku sudah berkembang sejak kejadian itu.
Aku langsung bersembunyi dan menelpon pak Inspektur, dengan suara agak pelan agar para pengintai itu tidak mendengarku.
Arka: Halo, pak.
Inspektur: Ada apa, Arka?
Arka: Saya baru saja pulang, tapi ternyata teman-teman saya diculik sekelompok orang.
Inspektur: Apa? Diculik? Kemana?
Arka: Penculiknya membiarkan bukti, mereka memberitahu tempatnya di Lereng Ekstrem Palelo.
Inspektur: Apa? Lereng Ekstrem Palelo?! Jangan masuk! Tunggu kami. Disana sangat berbahaya.
Arka: Baiklah, pak.
Telpon terputus.
(Masuk/Sembunyi/Balik)
Aku tidak boleh sampai ketahuan, aku akan tetap sembunyi sampai para polisi datang. Bisa gawat kalau mereka tahu aku sudah datang tapi tidak masuk-masuk.
Beberapa saat aku bersembunyi, aku melihat seseorang di atas lereng. Aku tidak bisa melihatnya secara jelas karena ini malam dan sepertinya jaraknya terlalu jauh untuk bisa dilihat jelas.
Aku sedikit menjauhkan diri, mengantisipasi kalau saja itu juga salah satu penjahat mata-matanya.
Sekitar 30 menit menunggu, cahaya terang terlihat dari kejauhan. Ternyata itu rombongan mobil polisi.
Banyak banget polisinya. Bisa terkepung satu wilayah lereng nih. Baguslah.
Inspektur: Halo lagi, Arka.
Arka: Wow, pak. Banyak banget.
Inspektur: Jangan tanggung-tanggung kita pukul mundur telak mereka. Ayo semuanya!
Polisi-polisi itu membentang memngepung area.
Kami semua memasuki lereng itu. Sepertinya orang-orang tadi semakin lari dari kami. Makanya mereka tak terlihat.
Inspektur: Ini tanda-tanda kita semakin dekat dengan kemenangan. Ayo!
Sekitar 20 menit berjalan, mulai terlihat ujung dari Lereng Ekstrem Palelo. Terlihat rombongan beserta sandera yang sangat kukenal disana.
Mereka adalah Gofar, Drogba, Naya, Raras, dan Linka. Genta dimana?
Inspektur: Hey kalian! Lepaskan mereka!
Penculik 1: Hey polisi! Jangan mendekat. Atau akan kubunuh orang ini!
Penculik itu menarik Naya. Oh # ?!
Kami semua terdiam. Aku tidak bisa membiarkan Naya seperti itu.
(Diam/Serbu diam-diam/Tembak)
Jangan kira aku bodoh seperti kejadian itu. Kepintaranku bertambah 100x lipat setelah tragedi itu.
Langsung saja aku mundur dari pasukan. Aku pergi ke samping ujung lereng yang lain dengan sangat hati-hati sampai para polisi pun tidak sadar.
Setelah aku sampai disana, pak Inspektur sepertinya menyadari usahaku.
Inspektur: Lepaskan dia, kami akan menurunkan senjata.
Akhirnya mereka mengembalikan Naya ke perangkap. Bagus pak.
Aku mengambil pisau milik salah satu penculik yang tergeletak di tanah. Aku diam-diam membuka perangkap itu.
Aku lalu memberikan kode kepada mereka untuk keluar.
Drogba: Arka!
Arka: Diam, jangan keras-keras. Ayo semuanya keluar!
Satu persatu, diam-diam mereka semua akhirnya keluar.
Lalu kami langsung pergi dari situ.
Penculik 2: Hey! Kemana kalian!
Para penculik itu melihat kami. Kami langsung lari. Mereka mengejar kami.
Inspektur: Tembak!
Tiba-tiba semua polisi menembak kaki-kaki penculik itu sampai mereka terjatuh.
Penculik 3: Ah, sialan!
Kami langsung lari kearah Inspektur.
Inspektur: Kalian semua cepat masuk mobilku. Kami akan mengurus mereka.
Kami semua langsung masuk mobil pak Inspektur.
Tak lama setelah itu, terlihat rombongan penculik itu dibawa masuk ke mobil yang lain. Sepertinya kami sudah selamat. Akhirnya.
Setelah semua selesai, pak Inspektur masuk mobil. Semua mobil mulai jalan.
Inspektur: Apakah kalian semua baik-baik saja?
Gofar: Ya, kami hanya luka kecil.
Raras: Terimakasih telah menolong kami, pak.
Inspektur: Jangan berterimakasih kepadaku. Berterimakasihlah kepada Arka. Tanpa bantuannya, kalian tak akan selamat.
Naya: Heh... terimakasih, Arka.
Arka: Ya, sama-sama.
Drogba: Sepertinya kau berhasil kembali, Arka.
Raras: Sepertinya kami harus menerimamu lagi.
Naya: Lagian kita sudah tak ada hubungan lagi.
Linka: Dan aku sudah tak akan ada hubungan lagi denganmu.
Aku dan pak Inspektur saling menatap. Aku harus bisa sabar menghadapi ini. Sampai nanti datang waktunya untuk menunjukkan segalanya.
Inspektur: Bagaimana kalian ditangkap tadi?
Gofar: Awalnya kami baik-baik saja, tapi tiba-tiba ada sekelompok orang menerobos penginapan kami.
Drogba: Aku dan Gofar sudah mencoba melawan mereka, tapi jumlah mereka terlalu banyak untuk kami.
Raras: Kami akhirnya dimasukkan kedalam sebuah karung dan dibawa pergi.
Naya: Dan hpku diambil oleh mereka. Oh ya! Bagaimana dengan hpku?
Arka: Oh, ini aku temukan di penginapan tadi.
Naya langsung mengambil hpnya.
Gofar: Di penginapan?
Arka: Mereka sengaja meninggalkan bukti berupa pisau, karung, dan koordinat di hp Naya untuk memancingku.
Arka: Tapi aku lebih pintar, aku langsung menelpon polisi.
Drogba: Jarang-jarang kau pintar, Arka. Biasanya kau langsung main barbar.
Arka: Siapa dulu.
Inspektur: Bagaimana denganmu?
Linka: Aku baru mau tidur, tapi tiba-tiba ada yang menyekapku dari belakang.
Linka: Aku langsung pingsan dan dibawa entah kemana.
Arka: Kau tak bersama Genta?
Linka: Ya gak lah. Memangnya kami tidur satu rumah? Kami akrab bukan berarti seperti itu, Arka.
Inspektur: Terus bagaimana kejadiannya setelah kalian dibawa?
Naya: Kami semua dijatuhkan ke sebuah perangkap, lalu bebas dibawa mereka.
Raras: Kami sempat bersyukur sekaligus bingung mendengar mereka panik mengatakan ada polisi.
Drogba: Apalagi ternyata polisinya ratusan gitu. Belum lagi ternyata kau ada disana, Arka.
Arka: Terus Genta dimana?
Linka: Mana kami tau, mungkin penjahat itu tidak tau dimana rumah Genta.
Drogba: Atau mereka kalah kuat dengan Genta.
Apakah ini semua ulahnya si Genta?
Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami semua akhirnya sampai di penginapan. Teman-temanku kecuali Linka duluan masuk.
Aku bersama pak Inspektur bicara diluar. Kami berusaha bersuara pelan agar tidak terdengar Linka.
Inspektur: Ingat Arka. Jangan sampai mereka tau kau sedang dalam misi.
Arka: Baik, pak.
Inspektur: Dan satu lagi, kalau bisa jangan sampai mereka tau kau ikut lomba itu.
Arka: Kenapa, pak?
Inspektur: Mungkin Genta akan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu kalau kau memberitahunya. Cukup dengan alasan jalan-jalan agar kau bisa kesana.
Arka: Hmm.. baik, pak. Serahkan semuanya kepadaku.
Pak Inspektur kembali masuk kedalam mobil. Lalu mengantar Linka kembali kerumahnya. Aku juga masuk kedalam penginapan.
Drogba: Kenapa lama banget diluar? Bicara apa?
Arka: Ga ada apa-apa. Polisinya cuman mau bilang makasih tadi.
Gofar: Ooh. Ya sudah, ayo siap-siap bobo kita. Sudah larut ini.
Raras: Ayo.
Kami langsung beres-beres, lalu tidur.
FLASHBACK START
Naya's POV
Kenapa jadi aku merasa bersalah? Padahal kan memang anak itu yang tidak tahu malu dengan aksinya. Dan kalau dibiarkan mungkin akan menjadi-jadi. Tapi... kenapa ada sesuatu yang masih mengganjal dipikiranku. Kenapa aku tiba-tiba tertidur ya di hutan?
FLASHBACK END
CHAPTER SELESAI
Author's Note: Hmm... ulah siapa ya penculikan ini? Jangan-jangan... (it's you!) Ssshhh... aku lagi buat Author's Note ini, kata-kata kamu masuk loh... (Oh no, I'm sorry) Ya sudah gpp, mereka juga gak bakal tau kamu siapa... kayanya. Anyways, S3 C4 bakalan rilis tanggal 5 September 2021. Stay tune and stay safe!
